cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota surakarta,
Jawa tengah
INDONESIA
Biomedika
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Health, Science,
Arjuna Subject : -
Articles 399 Documents
ANALISIS KROMATOGRAFI LAPIS TIPIS (KLT) DAN AKTIVITAS PENANGKAPAN RADIKAL BEBAS (PRB) EKSTRAK ETANOL LEMPUYANG EMPRIT (Zingiber americans) HASIL MASERASI SEKALI DAN MASERASI BERULANG Lestari, Susi Indah; Santoso, Broto
Biomedika Vol 13, No 1 (2021): Biomedika Februari 2021
Publisher : Universitas Muhamadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23917/biomedika.v13i1.11439

Abstract

ABSTRAKMetode ekstraksi menjadi penting dan dapat mempengaruhi ekstrak yang diperoleh. Rendemen hasil metode maserasi berulang didapatkan lebih tinggi dibandingkan maserasi. Penelitian ini ditujukan untuk membandingkan hasil analisis kromatografi lapis tipis (KLT) dan aktivitas penangkapan radikal bebas (PRB) ekstrak etanol rimpang lempuyang emprit (Zingiber americans) hasil maserasi sekali dan maserasi berulang. Simplisia diekstraksi dengan pelarut etanol 96% (rasio 10:75) menggunakan metode maserasi dan maserasi berulang masing-masing sebanyak empat kali replikasi. Setiap ekstrak dilakukan analisis kromatografi lapis tipis silika gel GF254 menggunakan eluen heksana:etil asetat (9:1), dan dilanjutkan dengan uji penangkapan radikal bebas DPPH. Rendemen hasil maserasi dan maserasi berulang adalah 4,37% dan 6,83% (p 0,05) berturut-turut, sedangkan persen PRB-nya 21,63% dan 32,68% (p 0,05) secara berturut-turut. Hasil kromatogram menampakkan perbedaan intensitas bercak dan nilai Rf.  Bercak yang tidak terelusi menunjukkan kemampuan dalam menangkap radikal bebas, dimana sebagian bercak menunjukkan bahwa ekstrak mengandung golongan senyawa terpenoid, flavonoid, dan alkaloid, namun tidak fenolik. Kesimpulan penelitian ini bahwa maserasi dan masersi berulang memiliki aktivitas PRB yang tidak berbeda, dengan kandungan terpenoid, flavonoid, dan alkaloid yang lebih tinggi pada maserasi berulang.Kata Kunci: Lempuyang Emprit, Maserasi, Maserasi Berulang, Aktivitas Penangkapan Radikal Bebas, Kromatografi Lapis Tipis ABSTRACTExtraction method is important because has high impact to the final result of extract.  The repeated maceration yield (rMAC) is higher than maceration (MAC) method. The aim of the research was to compare the results of chromatogram profile and free radical scavenging activity of ethanol extracts of lempuyang emprit (Zingiber americans) between both of methods. Crude material was extracted using 96% ethanol (ratio 10:75) four times for each method. Extracts were analyzed using TLC plate of silica gel GF254 as stationary phase and hexane-ethyl acetate (9:1) as mobile phase. Their radical scavenging activity were done using DPPH method. The yield of maceration repeated maceration results was 4.37% and 21.63% (p 0.05), respectively, while the percentage of PRB was 6.83% and 32.68% (p 0.05), respectively. The chromatogram results showed the difference in spot intensity and the Rf value. The uneluted spots showed the activity of radical scavenging. The spots reveal that terpenoid, flavonoid, and alkaloid groups but not phenolic were found in both of extract. Further purification needed to be done to confirm the% PRB value that did not differ from the two extractsKeywords: Lempuyang Emprit, Maceration, Repeated Maceration, Radical Scavenging Activity, Thin Layer Chromatography
EFEK FARMAKOLOGI DAN TOKSIK SIRSAK (Annona muricata): A MINI-REVIEW Cahyawati, Putu Nita
Biomedika Vol 12, No 2 (2020): Biomedika Agustus 2020
Publisher : Universitas Muhamadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23917/biomedika.v12i2.10691

Abstract

ABSTRAKAnnona muricata (sirsak) telah digunakan secara tradisional sejak lama untuk mengatasi demam, nyeri, gangguan pernapasan dan kulit, sebagai antiparasit, mengatasi infeksi bakteri, menurunkan tekanan darah, mengatasi peradangan, mengatasi diabetes dan kanker. Oleh karenanya, banyak studi baik in vitro maupun in vivo ditujukan untuk membuktikan manfaat tersebut. Senyawa kimia telah berhasil diisolasi dari tanaman ini diantaranya: alkaloid, fenol, dan asetogenin. Senyawa-senyawa tersebut diyakini berperan terhadap efek farmakologi pada berbagai kondisi penyakit. Walaupun demikian, keamanan atau toksisitas tanaman ini masih dipertanyakan baik untuk pemakaian jangka pendek maupun jangka panjang. Dosis efektif tanaman ini juga belum diketahui secara pasti. Melalui tulisan ini, penulis hendak merangkum berbagai efek farmakologi serta efek toksik yang dapat ditimbulkan oleh Annona muricata berdasarkan hasil penelitian terdahulu.Kata Kunci: Annona Muricata, Sirsak, Efek Farmakologi, Efek ToksikABSTRACTAnnona muricata (sirsak) has been used traditionally for a long time to treated fever, pain, respiratory and skin disorders, as an antiparasitic, to treat bacterial infections, reduce blood pressure, to treat inflammation, diabetes and cancer. Therefore, many studies both in vitro and in vivo were aimed to prove these benefits. Various chemical compounds have been successfully isolated from these plants. These compounds were believed to play a vital role in pharmacological effects in various diseases. Nevertheless, the safety or toxicity of this plant was still questionable for both short and long term use. The effective dose of this plant was also not known with certainty. Through this paper, the author wishes to summarize the various pharmacological and toxic effects that can be caused by Annona muricata based on the results of previous studies.Keywords: Annona Muricata, Soursop, Pharmacological Effects, Toxic Effects
FAKTOR RESIKO INFEKSI SALURAN KEMIH PADA PASIEN DENGAN BATU SALURAN KEMIH Ruckle, Alharsya Franklyn; Maulana, Akhada; Ghinowara, Tanaya
Biomedika Vol 12, No 2 (2020): Biomedika Agustus 2020
Publisher : Universitas Muhamadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23917/biomedika.v12i2.10812

Abstract

ABSTRAKInfeksi saluran kemih (ISK) dan batu saluran kemih (BSK) saling terkait. Pada sekitar 10-15% pasien ISK terbentuk BSK. Infeksi yang disebabkan bakteri yang memproduksi urease akan membentuk batu infeksi. Sebaliknya ISK juga sering ditemukan pada pasien dengan BSK. Komplikasi dari BSK antara lain bakteriuri asimptomatik, ISK, dan sepsis. Beberapa faktor resiko dilaporkan dapat menimbulkan ISK pada BSK. Penelitian ini bertujuan mengetahui faktor-faktor risiko yang berpengaruh terhadap kejadian ISK pada pasien BSK. Penelitian ini merupakan penelitian observasional analitik prospektif, menggunakan metode potong lintang, dengan 20 sampel penelitian. Hasil penelitian ini adalah jumlah batu berisiko secara signifikan terhadap kejadian ISK, sedangkan faktor risiko usia, jenis kelamin, letak batu, dan adanya obstruksi tidak berpengaruh secara sigifikan terhadap munculnya ISK pada pasien BSK. Secara keseluruhan, frekuensi kejadian ISK pada pasien BSK sebesar 45%. Kesimpulan penelitian ini adalah jumlah batu merupakan faktor risiko ISK pada pasien BSK.Kata Kunci: Infeksi Saluran Kemih, Batu Saluran Kemih, Faktor Resiko, Jumlah Batu  ABSTRACTUrinary tract infections (UTI) and urinary stones disease are interrelated. In about 10-15% of UTI patients have developed to BSK. In Urinary track Infections, bacteria will produce urease that form infection stones. But UTI is also often found in patients with urinary stone. Several risk factors in urinary tract stones cause UTI, have been reported. This study aimed to determine the risk factors that influence the incidence of UTI in urinary stone disease patients. This study w a prospective analytic observational study, using a cross-sectional method, with 20 samples. The results of this study were the number of stones had a significant risk of UTI, while the risk factors for age, gender, location of stones, and the presence of obstruction had no significant effect on the appearance of UTI in urinary stone disease patients. Overall, the incidence of UTI in urinary stone disease patients was 45%. We concluded that the number of stones was a risk factor for UTI in urinary stone disease patients.Keyword: Urinary Track Infection, Urinary Stone Disease, Risk Factor, Number Of Stone
AKTIVITAS ANTIBAKTERI Lactobacillus paracasei ASAL AIR SUSU IBU (ASI) TERHADAP BAKTERI PATOGEN Anindita, Nosa Septiana
Biomedika Vol 13, No 1 (2021): Biomedika Februari 2021
Publisher : Universitas Muhamadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23917/biomedika.v13i1.10830

Abstract

ABSTRAKAktivitas antibakteri merupakan salah satu kriteria bagi isolat kandidat probiotik untuk dapat diaplikasikan dalam pangan fungsional. Pemanfaatan Air Susu Ibu (ASI) sebagai sumber probiotik didasari bahwa ASI merupakan bahan pangan kaya nutrisi yang mengandung human milk oligosaccharide (HMOs) sehingga menghasilkan efek bifidogenik berupa pertumbuhan bakteri menguntungkan, diantaranya adalah kelompok Bakteri Asam Laktat (BAL). Keunggulan BAL asal ASI yaitu memiliki potensi sebagai probiotik sehingga akan diperoleh isolat lokal probiotik terseleksi. Probiotik yang berasal dari manusia seperti ASI, berpeluang besar memiliki viabilitas tinggi dan adaptif pada saluran pencernaan ketika dimanfaatkan sebagai pangan fungsional. Penelitian ini diharapkan memperoleh kultur lokal probiotik asal ASI yang potensial dalam melawan bakteri patogen. Parameter pengujian yang diamati adalah aktivitas antibakteri yang dimiliki oleh 3 strain Lactobacillus paracasei (L. paracasei) asal ASI yaitu L. paracasei strain AS9, L. paracasei strain AS10 dan L. paracasei strain AS12. Sebanyak 4 bakteri patogen digunakan dalam pengujian ini, meliputi Enterococcus faecalis (Entr. faecalis) 99 EF, Staphylococcus aureus (Stph. aureus) FNCC 0047, Escherichia coli (E. coli) FNCC 0091 dan Shigella flexneri (S. flexnerii) ATCC 12022. Aktivitas penghambatan diperoleh dengan mengukur luasan zona bening yang dihasilkan selama proses inkubasi pada suhu 37ºC, 48 jam dengan metode sumuran. Berdasarkan hasil pengujian, menunjukkan bahwa Lactobacillus paracasei strain AS12 memiliki aktivitas penghambatan tertinggi dengan golongan daya hambat kuat berdasarkan luasan zona bening terhadap 4 bakteri pathogen uji. Sehingga Lactobacillus paracasei strain AS12 berpotensi dalam penghambatan bakteri patogen.  Kata Kunci: Bakteri Asam Laktat (BAL), Air Susu Ibu (ASI), L. paracasei, Antibakteri ABSTRACT                   Antibacterial activity is one of the criteria for probiotic candidate isolates to be applied in functional foods. The utilization of human milk as a probiotics source is due to nutrient-rich food containing human milk oligosaccharides (HMOs) to produce a bifidogenic factor growth of beneficial bacteria, including Lactic Acid Bacteria (LAB). The beneficial role LAB isolated from human milk is that it has the potential as a source of local probiotic isolates. Probiotics derived from humans, such as breast milk, are likely to have high viability and adaptability to the digestive tract when used as a functional food. This research is observed local cultures of probiotics from breast milk that have the potential against pathogenic bacteria. The parameters observed were the antibacterial activity of three strains of Lactobacillus paracasei (L. paracasei) asal ASI yaitu L. paracasei strain AS9, L. paracasei strain AS10 and L. paracasei strain AS12. A total of four pathogenic bacterias were used, including Enterococcus faecalis (Entr. faecalis) 99 EF, Staphylococcus aureus (Stph. aureus) FNCC 0047, Escherichia coli (E. coli) FNCC 0091 and Shigella flexneri (S. flexnerii) ATCC 12022Inhibition zone was obtained by measuring the clear zone area produced during incubation at 37ºC for 48 h with the well diffusion method. The results showed that Lactobacillus paracasei strain AS12 had the highest inhibitory activity with the strong inhibition category based on the clear zone area against the four pathogenic bacterias. So that L. paracasei strain AS12 has the potential to inhibit pathogenic bacteria. Keywords: Lactic Acid Bacteria (LAB), Human milk, L. paracasei, antibacterial
CORRELATIONS OF CADMIUM EXPOSURE WITH THE UREUM AND CREATININE SERUM LEVELS IN BATURADEN ORNAMENTAL PLANT FARMERS Nafiisah, Nafiisah; Laksana, Agung Saprasetya Dwi; Mulyanto, Joko
Biomedika Vol 12, No 2 (2020): Biomedika Agustus 2020
Publisher : Universitas Muhamadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23917/biomedika.v12i2.10416

Abstract

ABSTRACT  Baturaden ornamental plant farmers use pesticides and fertilizers containing cadmium to increase growth and plant diseases control. Cadmium is a very toxic heavy metal. Small doses of cadmium exposure in over a long time through respiratory tract, digestion, and skin penetration causes a workload on the kidneys. It resulting kidney damage that characterized by increased ureum and creatinine serum levels. The aimed of this study was determine the correlation of cadmium exposure to kidney function in terms of urea and creatinine serum levels. The research design was an observational analytic approach with cross sectional method. The respondents were 43 farmers. Research data were collected by interviews, measured the  urea and creatinine serum levels, also the cadmium urine levels. Data were analyzed by Spearman test. The results showed that there was a weak significant correlation between cadmium urine to ureum (r= 0.399 and p= 0.008) and creatinine serum levels (r= 0.331 and p= 0.03). We concluded that cadmium exposured correlated with increased ureum and creatinine serum levels.Keywords: Cadmium, Urea Serum Level, Creatinine Serum Level, Ornamental Plant Farmers                                                                                                       ABSTRAK Petani tanaman hias di Baturaden menggunakan pestisida dan pupuk yang mengandung kadmium untuk meningkatkan pertumbuhan dan pengendalian penyakit tanaman. Kadmium adalah logam berat yang sangat beracun. Paparan kadmium dosis kecil dalam jangka waktu yang lama melalui saluran pernafasan, pencernaan, dan penetrasi kulit menyebabkan beban kerja pada ginjal. Hal tersebut mengakibatkan kerusakan ginjal yang ditandai dengan peningkatan kadar ureum dan kreatinin serum. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan paparan kadmium terhadap fungsi ginjal ditinjau dari kadar ureum dan kreatinin serum. Desain penelitian adalah observasional analitik dengan metode cross sectional. Respondennya sebanyak 43 petani. Pengumpulan data penelitian dilakukan dengan wawancara, pengukuran kadar urea dan kreatinin serum, serta kadar kadmium urin. Data dianalisis dengan uji Spearman. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat hubungan bermakna yang lemah antara kadar kadmium urin dengan kadar serum ureum (r= 0,399 dan p= 0,008) dan kreatinin (r= 0,331 dan p= 0,03). Kami menyimpulkan bahwa paparan kadmium berkorelasi dengan peningkatan kadar ureum dan kreatinin serum.Kata Kunci: Kadmium, Kadar Ureum Serum, Kadar Kreatini Serum, Petani Tanaman Hias
DIABETES MELITUS SEBAGAI FAKTOR RISIKO KEPARAHAN DAN KEMATIAN PASIEN COVID-19: META-ANALISIS Lestari, Nining; Ichsan, Burhannudin
Biomedika Vol 13, No 1 (2021): Biomedika Februari 2021
Publisher : Universitas Muhamadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23917/biomedika.v13i1.13544

Abstract

ABSTRAKCOVID-19 merupakan penyakit infeksi saluran nafas akut yang disebabkan oleh Coronavirus tipe SARS-Cov-2. COVID-19 masih menjadi ancaman seluruh dunia karena morbiditas dan mortalitasnya yang tinggi. Tingkat keparahan dan kematian pasien COVID-19 dipengaruhi oleh diabetes melitus, hipertensi, usia dan obesitas. Namun saat ini masih terdapat kontroversi dalam hasil penelitian mengenai faktor komorbid diabetes ellitus tipe 2 (DM tipe 2) pada COVID-19. Penelitian ini bertujuan mengetahui pengaruh antara DM tipe 2 terhadap keparahan dan kematian COVID-19. Artikel diambil dari PubMed, ScienceDirect, Google Scholar, ProQuest, dan Springer Link. Artikel yang dianalisis adalah artikel yang diterbitkan Desember 2019- Agustus 2020, fulltext dengan desain studi observasional, analisis multivariat, dan mencantumkan adjusted odds ratio (aOR). Kata kunci yang dipakai untuk pencarian artikel adalah (Type 2 diabetes mellitus OR diabetic) AND (mortality OR severity) AND (COVID-19 OR Coronavirus OR SARS-CoV-2) AND ("adjusted odds ratio" OR "aOR"). Artikel dikumpulkan dengan diagram PRISMA dan dianalisis dengan Review Manager application 5.4 dengan model analisis random effect. Penelitian ini menganalisis10 artikel dan mendapati bahwa DM tipe 2 meningkatkan keparahan COVID-19 (aOR = 1,15; 95% CI= 1,11-2,15; p= 0,004) meningkatkan kematian COVID-19 (aOR = 1,65; 95% CI = 1,27-2,16; p 0,001). Kesimpulannya bahwa diabetes melitus tipe 2 meningkatkan risiko keparahan dan kematian pasien COVID-19.Kata kunci: Diabetes Melitus, Keparahan, Kematian, COVID-19 ABSTRACTCOVID-19 is an acute airway infection caused by Coronavirus (SARS-Cov-2). COVID-19 remains a worldwide threat due to its high morbidity and mortality. The severity and mortality of COVID-19 patients are mainly affected by diabetes mellitus, hypertension, age, and obesity. This study aims to determine the influence of type 2 diabetes mellitus on the severity and mortality of COVID-19. This was a systematic review and meta-analysis. The articles were obtained from PubMed, ScienceDirect, Google Scholar, ProQuest, and Springer Link. The articles were published from December 2019- August 2020, full-text articles with observational study design, multivariate analysis, and (adjusted odds ratio/aOR). Keywords to search for articles were (Type 2 diabetes mellitus OR diabetic) AND (mortality OR severity) AND (COVID-19 OR Coronavirus OR SARS-CoV-2) AND ("adjusted odds ratio" OR "aOR"). Articles collected using the PRISMA diagram and analyzed using Review Manager application 5.4 with a random effect model. Ten studies were included in the meta-analysis. The results showed that Type 2 DM increased the severity of COVID-19 (aOR = 1.15; 95% CI= 1,11-2,15; p = 0,04) and the mortality of COVID-19 (aOR = 1,65; 95% CI = 1,27-2,16; p 0,001). Conclusion: Type 2 diabetes mellitus increased the severity and mortality of COVID-19.Keywords: Diabetes Mellitus, Severity, Mortality, COVID-19 
PENGARUH KOMBINASI VITAMIN ORAL B1, B6 DAN B12 TERHADAP WAKTU REAKSI PADA SUBJEK DEWASA MUDA YANG SEHAT: STUDI ACAK TERKENDALI Ranti, Imaniar; Jenie, Ikhlas Muhammad
Biomedika Vol 13, No 1 (2021): Biomedika Februari 2021
Publisher : Universitas Muhamadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23917/biomedika.v13i1.9883

Abstract

ABSTRAKWaktu reaksi adalah waktu yang diperlukan oleh mahluk hidup untuk berespon secara sengaja terhadap stimulus yang diberikan. Waktu reaksi ini mampu menunjukkan kemampuan koordinasi sistem saraf motorik dan sensorik.  Waktu reaksi akan menurun saat terjadi penurunan fungsi sistem saraf. Salah satu vitamin yang dapat menjaga fungsi saraf adalah  kombinasi vitamin oral B1, B6 dan B12. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji efek pemberian vitamin oral B1, B6, dan B12 terhadap waktu reaksi. Desain penelitian menggunakan uji acak terkendali double blind.  Subyek sebanyak 20 orang laki-laki dan perempuan usia 18-20 tahun, yang terbagi secara acak 10 orang sebagai kelompok intervensi dan 10 orang sebagai kelompok kontrol.  Kombinasi vitamin oral B1 100 mg, B6 200 mg dan B12 200 mcg diberikan dalam bentuk kapsul dan diminum satu kali sehari selama 14 hari.  Subyek kelompok kontrol diberi kapsul yang berisi amylum lactose sebagai plasebo.  Pada hari ke-14, dilakukan pengukuran waktu reaksi sederhana dan waktu reaksi pilihan menggunakan alat pengukur kecepatan respon.  Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa tidak ada perbedaan bermakna waktu reaksi sederhana dan waktu reaksi pilihan antara kelompok intervensi dan kelompok kontrol.  Akan tetapi, pada sub analisis berdasarkan gender, subyek perempuan kelompok intervensi mempunyai waktu reaksi pilihan yang lebih cepat dibandingkan kontrol. Kata Kunci: Waktu Reaksi, Kombinasi Vitamin Oral B1, B6, B12, Uji Acak TerkendaliABSTRACTReaction time is the time it takes for organisme to respond the given stimulus voluntarily. This reaction time is a good indicator of sensorimotor nervous system coordination. The reaction time will decrease when there is a decrease in nervous system function. One of the vitamins that can maintain nerve function is an combination of oral vitamins B1, B6 and B12. This study aimed to examine the effect of oral vitamins B1, B6, and B12 on reaction time. The study design used a double blind randomized controlled trial. Subjects were 20 men and women aged 18-20 years, which were randomly divided 10 people as the intervention group and 10 people as the control group. The combination of oral vitamins B1 100 mg, B6 200 mg and B12 200 mcg were given in capsule form and taken once a day for 14 days. The control group subjects were given a capsule containing amylum lactose as a placebo. On day 14th, a simple and selected reaction time was measured using a response velocity measuring device. The results of this study indicate that there were no significant difference in simple and selected reaction time between the intervention group and the control group. In a further analysis stratified by gender, female subjects in the intervention group had a faster selected reaction time than controls.   Keywords: Reaction Time, Oral Vitamin B1, B6, B12, Randomized Controlled Trial
HUBUNGAN ADIKSI GAME ONLINE DAN MEROKOK DENGAN STRES PADA REMAJA Gewab, Bima Tirta Pradana Ajie; Risanti, Erika Diana; Herawati, Erna; Mahmudah, Nur
Biomedika Vol 12, No 2 (2020): Biomedika Agustus 2020
Publisher : Universitas Muhamadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23917/biomedika.v12i2.10737

Abstract

ABSTRAK Remaja merupakan individu labil yang mudah stres akibat modernisasi. Pemilihan manajemen stres pada remaja yang tidak efektif seperti merokok dan bermain game online menimbulkan adaptasi tubuh yang buruk sehingga berakhir dengan maladaptif atau kegagalan adaptasi masalah yang dihadapi. Penelitian ini bertujuan untuk untuk menganalisis adiksi game online dan merokok dengan tingkat stres pada remaja. Penelitian ini merupakan observasional analitik dengan menggunakan pendekatan cross sectional. Populasi penelitian adalah semua remaja yang bermain game online di Surakarta, sedangkan sampel penelitian sebanyak 56 remaja. Pengumpulan data penelitian menggunakan kuesioner, sedangkan analisis data menggunakan uji Chi square dan Regresi Logistik. Hasil penelitian menunjukkan terdapat hubungan adiksi game online dengan stres remaja (p= 0,001; OR= 5,312) dan terdapat hubungan merokok dengan stres remaja (p= 0,000; OR= 5,455), sedangkan besarnya hubungan adiksi game online dan merokok terhadap tingkat stres sebesar 39,0%. Kesimpulan penelitian adalah adiksi game online dan merokok termasuk mekanisme pengalihan tingkat stres pada remaja.Kata Kunci: Stres Remaja, Adiksi Game Online, Merokok ABSTRACT Adolescents are labile individuals who are easily stress by modernization. Ineffective adolescent stress management choices, such as smoking and playing online games, caused in poor body adaptation, resulting in maladaptive or failure to adapt the problems. This study aimed to analyze online game addiction and smoking with stress levels in adolescents. This study was an analytic observational study used a cross sectional approach. The population was all adolescents who played online games in Surakarta, while the study sample was 56 adolescents. The research data was collected using a questionnaire, while the data analysis used the Chi square test and Logistic Regression. The results showed that there was a relationship between online game addiction and adolescent stress (p= 0.001; OR= 5.312) and there was a relationship between smoking behavior and teen stress levels (p= 0.000; OR= 5.455), while the magnitude of the relationship between online game addiction and smoking behavior was stress level of 39.0%. We concluded that online game addiction and smoking behavior included in the mechanism of transferring stress levels in teenagers. Keywords: Adolescent Stres, Online Game Addiction, Smoking
AKTIVITAS ANTIBAKTERI DARI BAKTERI ENDOFIT ASAL AKAR CIPLUKAN (Physalis angulata L.) TERHADAP Staphylococcus aureus DAN Escherichia coli Nugraheni, Ika Afifah; Setianah, Heni; Wibowo, Doddy Sulistiawan
Biomedika Vol 13, No 1 (2021): Biomedika Februari 2021
Publisher : Universitas Muhamadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23917/biomedika.v13i1.11009

Abstract

ABSTRAKCiplukan (Physalis angulata L.) merupakan tanaman herbal yang mengandung berbagai manfaat bagi kesehatan manusia, termasuk bagian akar. Manfaat lain yang dimiliki akar tanaman ciplukan masih perlu dieksplorasi, termasuk dengan kemampuan bakteri endofit yang hidup di dalam jaringan tanaman. Hubungan simbiosis mutualisme antara bakteri endofit dengan tanaman memungkinkan bakteri dapat menghasilkan senyawa bioaktif yang sama dengan tanaman inangnya. Penelitian ini bertujuan untuk mengisolasi dan menguji potensi aktivitas antibakteri dari bakteri endofit asal akar tanaman ciplukan terhadap bakteri patogen, yaitu Staphylococcus aureus dan Escherichia coli. Total enam isolat bakteri endofit yang digunakan merupakan hasil isolasi dari akar tanaman ciplukan pada penelitian sebelumnya. Uji aktivitas antibakteri dilakukan menggunakan metode difusi cakram atau Kirby Bauer, yaitu dengan menghitung diameter zona hambat koloni terhadap bakteri patogen. Sebanyak empat isolat menunjukkan aktivitas penghambatan terhadap S. aureus. Nilai hambat terbesar dimiliki oleh isolat AR21 yaitu sebesar 1,6±0,5 mm. Meskipun demikian, semua isolat tidak membentuk zona penghambatan terhadap E. coli. Hasil ini mengindikasikan bahwa bakteri endofit dari akar tanaman ciplukan memiliki potensi dalam menghasilkan senyawa antibakteri terhadap bakteri patogen dari kelompok gram positif, yang diwakili oleh S. aureus. Bakteri endofit tidak menunjukkan aktivitas antibakteri terhadap bakteri patogen gram negatif, E. coli. Kata Kunci: Akar Ciplukan; Bakteri Endofit; Aktivitas Antibakteri; Staphylococcus aureus; Escherichia coli ABSTRACT               Ciplukan (Physalis angulata L.) is herbal plant that contains various benefits for human health, including the roots. The other benefits of ciplukan roots still need to be explored, including the ability of endophytic bacteria that live in plant tissues. The symbiotic relationship of mutualism between endophytic bacteria and plants allows bacteria to produce the same bioactive compounds as their host plants. This study aims to isolate and test the potential antibacterial activity of endophytic bacteria from ciplukan roots against pathogenic bacteria, i.e. Staphylococcus aureus and Escherichia coli. Total of six endophytic bacterial isolates used were the result of ciplukan roots isolation in the previous studies. Antibacterial activity was carried out using the disc diffusion or Kirby Bauer method, by calculating the diameter of inhibitory zone against pathogenic bacteria. A total of four isolates showed inhibitory activity against S. aureus. The largest inhibitory zone was AR21 isolate with value 1.6 ± 0.5 mm. However, all isolates did not form inhibition zone against E. coli. These results indicated that endophytic bacteria from ciplukan roots have potential to produce antibacterial compounds against pathogenic bacteria from gram-positive group, represented by S. aureus. Endophytic bacteria did not show antibacterial activity against gram-negative pathogenic bacteria, E. coli. Keywords: Ciplukan Roots, Endophytic Bacteria, Antibacterial Activity, Staphylococcus aureus; Escherichia coli
ANEURYSMAL BONE CYST (ABC) IN FIFTH METACARPAL RIGHT HAND OF A MALE CHILD WITH HEMOPHILIA TREATED BY STEROID INJECTION: A CASE REPORT Wahyudi, Agus; Idulhaq, Mujaddid; Saputra, Rhyan Darma; Utomo, Pamudji
Biomedika Vol 12, No 2 (2020): Biomedika Agustus 2020
Publisher : Universitas Muhamadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23917/biomedika.v12i2.10541

Abstract

ABSTRACTAneurysma bone cyst (ABC) is a rare case, rapidly growing, and destructive benign bone tumor that rarely involves the bones of the hand. Pathogenesis of these tumors remains controversial and may be vascular, traumatic, or genetic disorders.  This study aimed to evaluate patient’s out come after steroid injection. A male child presented with a history of pain and local swelling over his fifth metacarpal right hand of two months duration with hemofilia condition. Physical and radiographic examination of the hand was consistent with aneurysmal bone cyst. The patient the VIII factor 2 hours before doing steroid injection on his lump over fifth metacarpal right hand. A month evaluation after injection for this patient, we had a good result clinically and radiologically. Radiological evaluation obtained appearance of cortex thickening on the bone affected. We concluded that steroid injection should be considered as one of ABC’s treatment with hemophilia, but the outcome still needed more evaluation.  Keywords: Aneurysmal Bone Cyst, Hemophilia, Steroid Injection ABSTRAK Kista tulang aneurisma adalah kasus yang jarang terjadi, tumbuh dengan cepat, dan tumor tulang jinak destruktif yang jarang melibatkan tulang-tulang tangan. Patogenesis tumor ini masih kontroversial dan mungkin bersifat kelainan vaskular, traumatis, atau genetik. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi pasien setelah injeksi steroid. Seorang anak laki-laki dengan riwayat nyeri dan pembengkakan lokal pada metacarpal kelima tangan kanannya selama dua bulan dengan kondisi hemofilia. Pemeriksaan fisik dan radiografi tangan menegakkan adanya kista tulang aneurisma. Pasien diberi faktor VIII 2 jam sebelum injeksi steroid pada benjolan di atas metacarpal kelima tangan kanannya. Evaluasi sebulan setelah injeksi untuk pasien ini, kami memiliki hasil yang baik secara klinis dan radiologis. Evaluasi radiologis diperoleh penampilan penebalan korteks pada tulang yang terkena. Kami menyimpulkan bahwa injeksi steroid harus dipertimbangkan sebagai salah satu pengobatan kista tulang aneurisma dengan hemofilia, namun hasilnya masih perlu evaluasi lebih lanjut.Kata kunci: Kista Tulang Aneurisma, Hemofilia, Injeksi steroid

Filter by Year

2009 2022


Filter By Issues
All Issue Vol 14, No 2 (2022): Biomedika Agustus 2022 Vol 14, No 1 (2022): Biomedika Februari 2022 Vol 13, No 2 (2021): Biomedika Agustus 2021 Vol 13, No 1 (2021): Biomedika Februari 2021 Vol 12, No 2 (2020): Biomedika Agustus 2020 Vol 12, No 1 (2020): Biomedika Februari 2020 Vol 11, No 2 (2019): Biomedika Agustus 2019 Vol 11, No 1 (2019): Biomedika Februari 2019 Vol 11, No 1 (2019): Biomedika Februari 2019 Vol 10, No 2 (2018): Biomedika Agustus 2018 Vol 10, No 2 (2018): Biomedika Agustus 2018 Vol 10, No 1 (2018): Biomedika Februari 2018 Vol 10, No 1 (2018): Biomedika Februari 2018 Vol 9, No 2 (2017): Biomedika Agustus 2017 Vol 9, No 2 (2017): Biomedika Agustus 2017 Vol 9, No 1 (2017): Biomedika Februari 2017 Vol 9, No 1 (2017): Biomedika Februari 2017 Vol 8, No 2 (2016): Biomedika Agustus 2016 Vol 8, No 2 (2016): Biomedika Agustus 2016 Vol 8, No 1 (2016): Biomedika Februari 2016 Vol 8, No 1 (2016): Biomedika Februari 2016 Vol 7, No 2 (2015): Biomedika Agustus 2015 Vol 7, No 2 (2015): Biomedika Agustus 2015 Vol 7, No 1 (2015): Biomedika Februari 2015 Vol 7, No 1 (2015): Biomedika Februari 2015 Vol 6, No 2 (2014): Biomedika Agustus 2014 Vol 6, No 2 (2014): Biomedika Agustus 2014 Vol 6, No 1 (2014): Biomedika Februari 2014 Vol 6, No 1 (2014): Biomedika Februari 2014 Vol 5, No 2 (2013): Biomedika Agustus 2013 Vol 5, No 2 (2013): Biomedika Agustus 2013 Vol 5, No 1 (2013): Biomedika Februari 2013 Vol 5, No 1 (2013): Biomedika Februari 2013 Vol 4, No 2 (2012): Biomedika Agustus 2012 Vol 4, No 2 (2012): Biomedika Agustus 2012 Vol 4, No 1 (2012): Biomedika Februari 2012 Vol 4, No 1 (2012): Biomedika Februari 2012 Vol 3, No 2 (2011): Biomedika Agustus 2011 Vol 3, No 2 (2011): Biomedika Agustus 2011 Vol 1, No 1 (2009): Biomedika Februari 2009 Vol 1, No 1 (2009): Biomedika Februari 2009 Online First More Issue