cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota makassar,
Sulawesi selatan
INDONESIA
JURNAL KONFIKS
ISSN : 23552638     EISSN : 27461866     DOI : -
Core Subject : Education,
Arjuna Subject : -
Articles 337 Documents
ANALISIS STILISTIKA LIRIK LAGU IWAN FALS DALAM MENGUNGKAP NILAI SOSIAL DAN KEMANUSIAAN Ai Roprop Uluwiah; Asep Nurjamin
JURNAL KONFIKS Vol 12 No 4 (2025): KONFIKS
Publisher : LEMBAGA PENELITIAN DAN PENGABDIAN PADA MASYARAKAT

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26618/qn9z2x87

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis stilistika lirik lagu Iwan Fals dalam mengungkap nilai sosial dan kemanusiaan. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan pendekatan stilistika, di mana data dianalisis dari kata, kalimat, dan ungkapan dalam setiap bait lirik lagu. Sumber data penelitian ini adalah lirik lagu-lagu Iwan Fals dari berbagai album dan single. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui studi dokumenter dengan membaca, mengidentifikasi, dan mengklasifikasikan kata, kalimat, dan ungkapan berdasarkan aspek stilistika. Data dianalisis menggunakan pendekatan stilistika yang mencakup bahasa figuratif dan citraan, kemudian dikategorikan berdasarkan jenis dan fungsinya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa lirik-lirik Iwan Fals mengandung berbagai bentuk bahasa figuratif, seperti metafora, simile, personifikasi, metonimia, sinekdoki, epitet, perumpamaan epos, dan allegori. Selain itu, lirik-lirik tersebut juga mengandung citraan yang meliputi citraan penglihatan, pendengaran, perabaan, pencecapan, penciuman, dan gerakan. Bahasa figuratif dan citraan tersebut memperkuat pesan sosial dan kemanusiaan, menekankan kritik terhadap ketidakadilan, kesenjangan sosial, serta menggambarkan kondisi dan perjuangan hidup masyarakat. Contohnya, penggunaan metafora dan simile pada lirik-lirik tertentu mengungkapkan penderitaan masyarakat atau kasih sayang terhadap sesama, sedangkan citraan penglihatan dan pendengaran memperkuat imaji bagi pendengar. Penelitian ini menunjukkan bahwa Iwan Fals tidak hanya menghasilkan karya musik yang indah secara estetika, tetapi juga sarat makna sosial dan moral yang relevan dengan kehidupan masyarakat. Analisis stilistika membantu memahami bagaimana bahasa figuratif dan citraan digunakan untuk menyampaikan pesan sosial dan nilai kemanusiaan secara efektif dalam lirik lagu-lagu Iwan Fals. Kata Kunci: Stilistika, Bahasa Figuratif, Citraan, Lirik Lagu, Iwan Fals, Nilai Sosial, Nilai Kemanusiaan
Konstruksi Makna Kiasan dalam Dialog Film Populer Home Sweet Loan Widyaruli Anggraeni, Astri; Merdeka Citraningrum, Dina; Fauzia, Jasmin
JURNAL KONFIKS Vol 12 No 4 (2025): KONFIKS
Publisher : LEMBAGA PENELITIAN DAN PENGABDIAN PADA MASYARAKAT

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26618/qyntj031

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis konstruksi makna kiasan dalam dialog film Home Sweet Loan melalui pendekatan stilistika. Film ini tidak hanya menjadi media hiburan, tetapi juga ruang artikulasi sosial dan ideologi yang ditransmisikan melalui dialog para tokohnya. Fokus utama kajian ini adalah gaya bahasa kiasan yang digunakan oleh tokoh utama Kaluna dan tokoh pendukung lainnya, dengan mengkaji bentuk, makna, dan fungsi dari setiap gaya bahasa yang ditemukan. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif deskriptif dengan teknik observasi simak dan catat, serta triangulasi sumber untuk menjaga validitas data. Hasil analisis menunjukkan bahwa gaya bahasa kiasan yang digunakan mencakup ironi, sinisme, simile, metafora, dan satire. Penggunaan gaya bahasa ini tidak hanya memperkuat karakterisasi tokoh, tetapi juga menyampaikan kritik sosial yang relevan terhadap fenomena masyarakat urban, seperti tekanan finansial generasi sandwich. Penelitian ini memberikan kontribusi dalam pemahaman terhadap kekuatan retorika dalam karya film sebagai sarana penyampaian pesan yang mendalam dan emosional.
Penggunaan Eponim pada Penamaan Jalan Wilayah Kota Jember, Jawa Timur: Kajian Lanskap Linguistik Fatwa, Yuniar; Firjinia Fatwa, Yuniar; Widyaruli Anggraeni, Astri; Merdeka Citraningrum, Dina
JURNAL KONFIKS Vol 12 No 4 (2025): KONFIKS
Publisher : LEMBAGA PENELITIAN DAN PENGABDIAN PADA MASYARAKAT

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26618/kqdpra34

Abstract

Street naming, as a part of the linguistic landscape, serves not only as a spatial identifier but also conveys historical, cultural, and local identity values. In Jember City, many streets are named after eponyms or influential figures, yet public awareness of the historical and symbolic meanings behind these names remains low. This phenomenon is significant to study because the naming of streets reflects social and historical dynamics within society. The purpose of this research is to identify the categories of eponyms used in Jember’s street naming and to describe their contextual meanings, which include the origin of the figures, historical background, contributions, and their relation to Jember’s local culture. This study uses a descriptive qualitative approach with data collected through Google Maps observation and literature reviews from government websites, local media such as Radar Jember, village portals, Wikipedia, academic articles, and historical records. The collected data, consisting of eponymous street names, were analyzed to classify categories and interpret the historical and cultural values reflected in them. Eight categories were identified: Kings (8), Religious Figures (7), Wali Songo (3), National Heroes (14), Revolutionary Heroes (4), Educational Figures (2), Health Figures (1), and Community Leaders (2). The National Heroes category dominates, symbolizing the strengthening of nationalism, struggle, and dedication. The contextual meanings highlight respect for figures, reinforcement of local identity, religious values, and appreciation of contributions to education and health. Overall, eponym-based street naming in Jember functions as a symbolic medium connecting public space with history, moral values, and collective pride.
PERIPHRASTIC CAUSATIVE CONSTRUCTIONS IN THE PUNAN DAYAK LANGUAGE Muhammad Thobroni; Romadhan, Achmad Dicky; Alien Kurnia Warya Selia
JURNAL KONFIKS Vol 12 No 4 (2025): KONFIKS
Publisher : LEMBAGA PENELITIAN DAN PENGABDIAN PADA MASYARAKAT

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26618/wny14671

Abstract

The Punan Dayak language is one of the regional languages in the province of North Kalimantan. The Punan Dayak language is widely used by the Punan Dayak tribe in Malinau Regency. The Punan Dayak language is part of the Austronesian language family. This study discusses analytical or periphrastic causatives in the Punan Dayak language. This study attempts to reveal the form of analytical causatives in the Dayak Punan language, including the verbs that mark these constructions. The data collection methods used in this study were observation and interviews. The research data were taken from direct speech by Dayak Punan speakers. The informants in this study were from the Dayak Punan tribe, aged between 25 and 55 years. The data analysis method used in this study was the distribution technique. Based on the results of this study, there are two types of verbs that are the main predicates in analytical causative constructions in the Dayak Punan language. These verbs are nucuh and menah. The distribution of these two verbs is different. The verb nucuh can appear in analytical or periphrastic causative constructions that have embedded clauses with transitive and intransitive verbs as predicates. On the other hand, the verb menah can only appear in analytical or periphrastic causative constructions that have an embedded clause with an intransitive verb predicate. The implications of this research are expected to become a means of preserving the Dayak Punan language and a basis for compiling Dayak Punan grammar.
ANALISIS WACANA KRITIS SARA MILLS TERHADAP REPRESENTASI NIKITA MIRZANI DALAM PEMBERITAAN MEDIA ONLINE INDONESIA Sumiati Agphyra S; Asep Nurjamin; Ari Kartini
JURNAL KONFIKS Vol 12 No 4 (2025): KONFIKS
Publisher : LEMBAGA PENELITIAN DAN PENGABDIAN PADA MASYARAKAT

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26618/5aj3dh08

Abstract

This study is grounded in the tendency of online media to represent female public figures in ways that often contain gender bias and specific moral constructions. News coverage of Nikita Mirzani serves as a relevant case for examining how women are positioned within legal and social discourse through media framing. The purpose of this research is to analyze the representation of women by exploring the construction of subject, object, writer, and reader positions in news texts using Sara Mills' critical discourse analysis approach. This research employs a qualitative descriptive method, with data collected through documentary study of news articles published by Detik.com, Mind of the People, Kompas.com, and CNN Indonesia. The analysis was conducted by identifying patterns in the placement of female actors within the texts and comparing the narrative strategies used by each media outlet. Data validity was ensured through source triangulation and repeated readings to maintain consistency in interpretation. The findings reveal significant differences in representational construction. Detik.com and CNN Indonesia tend to portray Nikita Mirzani as an active, assertive, and rational subject in responding to legal issues, while Pikiran Rakyat and Kompas.com emphasize her emotional dimension and moral positioning as a public woman. These findings indicate that women's representation in the media remains influenced by patriarchal values that shape power relations within news narratives. This study highlights the importance of critical media awareness in fostering fairer and more gender-sensitive representations, while also contributing to the development of critical discourse analysis in the context of Indonesian digital media.
Anjing sebagai Umpatan Kajian Sosiokultural Nadia, Khoirun; Amilia, Fitri; Mijianti, Yerry
JURNAL KONFIKS Vol 12 No 4 (2025): KONFIKS
Publisher : LEMBAGA PENELITIAN DAN PENGABDIAN PADA MASYARAKAT

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26618/h6ngmk52

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis penggunaan kata anjing dan variasinya sebagai bentuk kegunaan dalam konteks sosiokultural masyarakat Indonesia. Kajian ini menggunakan teori sosiokultural Vygotsky (1978) yang menekankan bahwa bahasa berfungsi sebagai alat budaya menengahi hubungan antara individu dan masyarakat. Penelitian ini menerapkan metode kualitatif dengan pengumpulan data melalui kuesioner kepada 102 responden dari berbagai kelompok usia. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai, norma, dan kebiasaan memainkan peran penting dalam menentukan makna dan fungsi kata umpatan. Bagi generasi muda, kata anjing dan variasinya seperti anjir atau anjay tidak selalu dianggap sebagai penghinaan, melainkan sebagai ekspresi spontanan keakraban sosial. Sebaliknya, generasi tua menilai bahwa penggunaan kata tersebut bertentangan dengan norma kesopanan dan nilai moral budaya. Fenomena ini menegaskan adanya pergeseran makna dan makna norma bahasa yang dipengaruhi oleh konteks sosial, media digital, serta perkembangan budaya populer. Secara sosiokultural, penggunaan umpatan mencerminkan proses internalisasi nilai-nilai budaya dan dinamika sosial yang terus berubah dalam masyarakat Indonesia. Kata Kunci: kata anjing, umpatan, kajian sosiokultural
ANALISIS PELANGGARAN KESANTUNAN BERBAHASADI INSTAGRAM SEBAGAI MATERI AJAR DIGITAL PRAGMATIK UNTUK PENINGKATAN LITERASI KRITIS Putra, Listya Buana; Markhamah, Markhamah; Sabardila, Atiqa
JURNAL KONFIKS Vol 12 No 4 (2025): KONFIKS
Publisher : LEMBAGA PENELITIAN DAN PENGABDIAN PADA MASYARAKAT

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26618/5re20m68

Abstract

Abstract: This study aims to describe the forms of language politeness violations that appear in the Instagram comment column as pragmatic digital teaching materials to improve critical literacy. The background of this research departs from the phenomenon of public communication on social media which tends to be free and minimally controlled. Instagram, as the dominant social media among teenagers and young adults, is a representative space to examine polite and polite language practices in the digital realm. With a qualitative descriptive approach, data was obtained through documentation of comments on public posts on Instagram and analyzed using Leech's theory of politeness. The results of the analysis show that the dominant forms of offense include violations of the maxim of praise, sympathy, approval and discretion, as well as the context of use closely related to political topics. These findings provide an idea that even though it takes place in a free online space, the practice of politeness is still present and can be studied scientifically to enrich pragmatic understanding, as well as become a reference in the development of digital media-based language learning to improve critical literacy.   Keywords: instagram; politeness; critical literacy; teaching materials; pragmatics
REPRESENTASI TEKANAN SOSIAL TERHADAP PERMISIFITAS BERPACARAN DALAM FILM PANTASKAH AKU BERHIJAB : KAJIAN PSIKOLOGI SASTRA Sholihah, Mar'atus; Mar'atus Sholihah; Ali Vardani, Nova; Dzarna, Dzarna
JURNAL KONFIKS Vol 12 No 4 (2025): KONFIKS
Publisher : LEMBAGA PENELITIAN DAN PENGABDIAN PADA MASYARAKAT

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26618/vbsr0r71

Abstract

Penelitian ini membahas representasi tekanan sosial terhadap permisivitas berpacaran dalam film Pantaskah Aku Berhijab melalui kajian psikologi sastra. Tujuan penelitian untuk mengungkap bentuk-bentuk tekanan sosial yang dialami tokoh utama, Sofi, serta dampaknya terhadap perilaku permisif dalam berpacaran. Metode yang digunakan adalah deskriptif kualitatif pendekatan psikologi sastra, khususnya klasifikasi emosi menurut Krech (Albertine Minderop). Data diperoleh melalui observasi film, analisis dialog, serta interpretasi adegan yang relevan dengan fokus penelitian. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Sofi mengalami tekanan sosial yang berasal dari keluarga, masyarakat, dan lingkungan sosial yang menimbulkan berbagai konflik batin. Tekanan tersebut memicu emosi negatif berupa rasa bersalah, menghukum diri, rasa malu, dan kesedihan yang mendalam. Kondisi ini mendorong tokoh untuk terlibat dalam perilaku permisif sebagai bentuk pelarian dari beban sosial dan psikologis yang dialaminya. Penelitian ini menegaskan bahwa hijab dalam film tidak hanya berfungsi sebagai simbol religius, tetapi menjadi titik konflik antara nilai kesalehan dengan realitas sosial dan kebutuhan emosional tokoh. Kajian ini memberikan kontribusi teoritis bagi pengembangan psikologi sastra, khususnya dalam mengkaji keterkaitan antara aspek kejiwaan, simbol budaya, dan media populer. Secara praktis, hasil penelitian dapat menjadi refleksi bagi remaja, pendidik, dan masyarakat untuk memahami dampak tekanan sosial terhadap pengambilan keputusan pribadi yang berkaitan dengan moralitas dan identitas diri. This study explores the representation of social pressure on dating permissiveness in the film Pantaskah Aku Berhijab through a literary psychology approach. The research aims to identify forms of social pressure experienced by the main character, Sofi, and their influence on permissive dating behavior. The method used  descriptive qualitative with a literary psychology perspective, particularly the classification of emotions by Krech (as interpreted by Albertine Minderop). Data were obtained through observation of the film, analysis of dialogues, and interpretation of key selected scenes. The findings reveal that Sofi faces pressure from her family, society, and environment, creating inner conflict and emotional instability. These pressures trigger guilt, self-punishment, shame, and deep sadness, which eventually lead her to permissive behavior as an escape from psychological and social burdens. The study shows that the hijab in the film is not only a religious symbol but also a point of conflict between piety, social expectation, and emotional needs. This research contributes significantly to literary psychology by examining the link between psychological aspects, cultural symbols, and popular media. Practically, the findings provide useful reflection  youth, educators, and society to better understand the complex impact of social pressure on personal decision making related to morality and identity.
IMPLEMENTASI PENDEKATAN DEEP LEARNING DALAM PEMBELAJARAN BAHASA INGGRIS DI TINGKAT SMP Aisya Agustina; Hepy Adityarini
JURNAL KONFIKS Vol 12 No 4 (2025): KONFIKS
Publisher : LEMBAGA PENELITIAN DAN PENGABDIAN PADA MASYARAKAT

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26618/hzzqfa97

Abstract

This study aims to analyze teachers’ perceptions, implementation strategies, and challenges in applying the Deep Learning approach in English language teaching at the junior high school level. Using a qualitative descriptive design, data were collected through semi structured interviews with six English teachers who are members of the Muhammadiyah MGMP in Surakarta. The study focuses on how teachers understand the concept of Deep Learning, how they translate this understanding into daily instructional practices, and how they respond to the obstacles that arise during implementation. The findings indicate that teachers perceive Deep Learning as a meaningful, mindful, and joyful learning process that encourages students to think critically, build conceptual connections, and relate learning materials to real life experiences. In practice, teachers employ various strategies such as contextual tasks, collaborative discussions, problem solving activities, simple project work, and engaging learning activities designed to promote student motivation and participation. However, teachers also encounter several challenges, including limited instructional time, inflexible classroom conditions, and difficulties in designing activities that accommodate students’ diverse needs and proficiency levels. To address these issues, teachers develop more structured lesson plans, adjust activities based on classroom realities, and utilize the MGMP forum as a collaborative space to share experiences and refine instructional strategies. These findings emphasize the importance of teacher training programs that focus on designing adaptable and practical Deep Learning based instructional activities suitable for diverse school contexts.
TRANSFORMASI NAMA DESA DI KABUPATEN KEPAHIANG: ANALISIS BENTUK KEBAHASAAN Putra, Libra Dui; Libra Dui Putra; Daru Winarti
JURNAL KONFIKS Vol 12 No 4 (2025): KONFIKS
Publisher : LEMBAGA PENELITIAN DAN PENGABDIAN PADA MASYARAKAT

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26618/7xtz6080

Abstract

Abstrak Penelitian ini mengkaji transformasi linguistik nama-nama desa di Kabupaten Kepahiang, Provinsi Bengkulu, yang telah mengalami pergeseran dari bahasa Rejang ke bahasa Indonesia. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif untuk menganalisis 18 nama desa berdasarkan struktur morfologisnya, dengan fokus pada proses pergeseran bahasa serta dampaknya terhadap nilai-nilai budaya dan linguistik lokal. Hasil penelitian menunjukkan bahwa toponim yang dianalisis tergolong monomorfemik dan polimorfemik. Transformasi ini sering kali menyebabkan hilangnya unsur budaya dan historis yang melekat dalam toponim asli, mencerminkan ketegangan antara pelestarian tradisi linguistik dan pemenuhan kebutuhan administratif modern. Analisis menunjukkan bahwa bahasa Rejang menggunakan pola morfologis aglutinatif untuk menyampaikan makna geografis sekaligus mencerminkan hubungan sosial, historis, dan kultural masyarakat setempat.Kata kunci: Transformasi, Morfologi, Rejang, Budaya, Toponimi. Abstract This study examines the linguistic transformation of village names in Kepahiang Regency, Bengkulu Province, which have shifted from the Rejang language to Indonesian. The study employs a qualitative descriptive method to analyze 18 village names based on their morphological structures, focusing on the language shift process and its impact on local cultural and linguistic values. The findings indicate that all analyzed toponyms are classified as monomorphemic and polymorphemic. This transformation often results in the loss of cultural and historical elements embedded in the original toponyms, reflecting the tension between preserving linguistic traditions and meeting modern administrative needs. The analysis reveals that the Rejang language employs an agglutinative morphological pattern to convey geographic meaning while reflecting the social, historical, and cultural relationships of the local community. Keywords: Transformation, Morphology, Rejang, Culture, Toponymy