cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
Kantor LP3M Unismuh Makassar Jl. Sultan Alauddin No. 259 Makassar, Indonesia
Location
Kota makassar,
Sulawesi selatan
INDONESIA
OCTOPUS : Jurnal Ilmu Perikanan
ISSN : 23020670     EISSN : 27464822     DOI : https://doi.org/10.26618/octopus
Core Subject : Science, Education,
Jurnal Octopus Ilmu Perikanan terbit dua kali setahun yakni Januari dan Juli berisi artikel ilmiah dalam bentuk hasil penelitian dan non penelitian berupa kajian. Jurnal Octopus Ilmu Perikanan bertujuan untuk menyebarluaskan ilmu dan pengetahuan perikanan dari para akademisi, peneliti, praktisi, mahasiswa, dan pemerhati perikanan.
Arjuna Subject : -
Articles 270 Documents
OPTIMASI DOSIS YANG BERBEDA TERHADAP DAYA TETAS (HATCHING RATE) DAN SINTASAN PADA TELUR IKAN LELE DUMBO (CLARIAS GARIEPINUS) YANG DIBERI EKSTRAK MENIRAN (PHILLANTHUS NIRURI ) Murni Murni; Nur Insana; Abdul Haris
OCTOPUS : JURNAL ILMU PERIKANAN Vol 4, No 2 (2015): Octopus
Publisher : Universitas Muhammadiyah Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (387.143 KB) | DOI: 10.26618/octopus.v4i2.601

Abstract

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui optimasi dosis yang berbeda terhadap daya tetas (hatching rate) dan sintasan pada telur ikan lele dumbo yang diberi larutan ekstrak meniran. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Juni sampai dengan Juli 2015 di Balai Benih Ikan (BBI) Bontomanai. Rancangan percobaan yang digunakan adalah Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 3 perlakuan dan 3 ulangan dan kontrol. Perlakuan A (2500 ppm), perlakuan B (3000 ppm), perlakuan C (3500 ppm). Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada perbedaan pada setiap perlakuan kecuali perlakuan A dan C. Sehingga penggunaan larutan Ekstrak Meniran dengan dosis 3000 ppm dapat meningkatkan persentase penetasan daya tetas telur ikan lele dumbo.
Identifikasi Penyakit Karang pada Karang Keras (Scleractinia) di Pulau Barrang Lompo Rahmi Rahmi
OCTOPUS : JURNAL ILMU PERIKANAN Vol 2, No 2 (2013): Octopus
Publisher : Universitas Muhammadiyah Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (338.179 KB) | DOI: 10.26618/octopus.v2i2.533

Abstract

Penelitian ini bertitik tolak dari banyaknya masalah penyakit pada karang keras sehingga dapat menjadi pemicu keberadaan penyakit dengan perkembangan lebih cepat.  Berdasarkan hal tersebut maka penelitian tentang identifikasi penyakit karang  pada karang keras (Scleractinia)  penting untuk dilakukan di pulau Barang Lompo. Tahap awal penelitian dilakukan melalui Penentuan posisi koordinat karang yang terinfeksi penyakit, Penentuan penyakit dilakukan dengan pemasangan Belt Transek (Sabuk transek) berukuran 20 X 2 meter. Pemasangan sabuk transek dilakukan pada sisi pulau bagian barat laut yang terdapat penyakit. Identifikasi karang dan penyakit berdasarkan Veron (1990), Suharsono (2008), Beeden et al.,(2008) coral disease handbook oleh Raymundo tahun 2008 dan Ernesto Weil dan Anthony J. Hooten tahun 2008. Penggunaan kamera bawah air akan membantu untuk mengidentifikasi dan mendokumentasikan penyakit karang yang didapatkan. Berdasarkan hasil survey yang dilakukan di Pulau barrang Lompo, dapat disimpulkan bahwa penyakit yang menginfeksi pada karang keras di pulau tersebut adalah White Syndrome (WS), Black Band Disease (BBD) dan Brown Band Disease (BrBD), dimana penyakit WS lebih dominan menginfeksi pada karang Porites sp dan penyakit BBD menginfeksi pada Pachyseris sp serta penyakit BrBD ditemukan menginfeksi pada jenis karang Acropora branching.Kata Kunci: Penyakit, Karang Keras dan Pulau Barrang LompoThis study starts from a number of problems in hard coral disease that can be triggered by the presence of disease progress more quickly. Under these conditions, research on the identification of coral disease in hard corals (Scleractinia) important to do on the island Lompo Goods. The initial stage of research conducted through positioning coordinates infected coral disease, determination of disease carried by mounting Belt Transect (belt transect) measuring 20 X 2 meters. Installation of belt transects conducted on the northwestern part of the island contained the disease. Identification of coral and disease by Veron (1990), Suharsono (2008), Beeden et al., (2008) handbook by Raymundo coral disease in 2008 and Ernesto Weil and Anthony J. Hooten 2008. The use of underwater cameras will help to identify and documenting coral disease were obtained. Based on the results of a survey conducted on the island Barrang Lompo, it can be concluded that the disease that infects the hard coral islands are White Syndrome (WS), Black Band Disease (BBD) and Brown Band Disease (BrBD), where the disease WS more dominant infect Porites sp and BBD disease infects Pachyseris sp and BrBD disease found infecting the branching Acropora corals.Keywords: Disease, Hard Coral and Island Barrang Lompo
FREKUENSI PERENDAMAN TIRISAN RUMPUT LAUT SEBAGAI PUPUK CAIR TERHADAP LAJU PERTUMBUHAN DAN PRODUKSI RUMPUT LAUT (KAPPAPHYCUS ALVAREZII) PADA WADAH TERKONTROL Akmal Akmal; Darmawati Darmawati; Agus Satriyono
OCTOPUS : JURNAL ILMU PERIKANAN Vol 5, No 1 (2016): Octopus
Publisher : Universitas Muhammadiyah Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (482.138 KB) | DOI: 10.26618/octopus.v5i1.679

Abstract

The purpose of this study was to determine the frequency of seaweed soaking liquid seepage towards daily growth rate and production of seaweed Kappaphycus alvarezii. The usefulness of this research is the data and information with seepage benefits of seaweed with a test frequency of immersion. This study was conducted in February to the month of March 2014 in BBAP Takalar, Takalar, South Sulawesi Province, tools and materials used jars, aeration, wearing a green, plastic bag crop thermometer, pH-meter, hand refractometer, Scales, autoclave, sliding bar, knife Kutter, Kappaphycus alvarezii seaweed, seawater, detergent and distilled water. The experimental design used was completely randomized design (CRD) with treatments and 3 replications and 1 control. Treatment A (1 time), treatment B (2 times), the carrying out of the C (3 times), the carrying out of D (control). Testing frequency leakage liquid immersion using seaweed as liquid fertilizer correlated to the growth and production of seaweed daily. The average daily relative growth rate and production are considered to be effective is the treatment C with a frequency of immersion 3 times each (0.0357% / day and 1,5000gr / m2) and lowest in D without soaking treatment (control) respectively (0.0094% / day and 0,3967gr / m2).
Kondisi Sumberdaya Alam dan Masyarakat Pulau di Kota Makassar: Studi Kasus Pulau Kodingareng dan Pulau Barrangcaddi Hartati Tamti; Ratnawati Ratnawati; Asni Anwar
OCTOPUS : JURNAL ILMU PERIKANAN Vol 3, No 1 (2014): Octopus
Publisher : Universitas Muhammadiyah Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (444.663 KB) | DOI: 10.26618/octopus.v3i1.544

Abstract

Kondisi sumberdaya alam di wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil Kota Makassar telah banyak mengalami kerusakan. Walaupun masyarakat kepulauan khususnya di Pulau Kodingareng dan Pulau Barrangcaddi pada umumnya menyadari pentingnya menjaga kelestarian sumberdaya alam tersebut, namun mereka belum sepenuhnya mampu menyelesaikan berbagai kendala yang ada. Salah satu kendala yang sering dijumpai adalah lemahnya penegakan hukum terhadap para nelayan yang menggunakan bahan-bahan terlarang seperti bom dan bius. Hal ini tidak hanya menyebabkan masyarakat menjadi apatis, tapi kondisi terumbu karang di wilayah tersebut juga semakin mengalami kerusakan. Kendala lain yang masih mereka jumpai adalah kondisi fisik pulau mereka yang kemungkinan terancam oleh abrasi. Disamping berbagai mengatasi masalah tersebut, juga masih diperlukan banyak upaya strategis untuk membantu mereka dalam pengembangan mata pencaharian alternatif dan atau mengembangkan berbagai jenis usaha yang mereka telah lakukan selama ini.Kata Kunci: Sumberdaya alam, Pulau Kodingareng, Pulau Barrangcaddi, masyarakat pesisir, pemberdayaanThe condition of natural resources in coastal areas and small islands of Makassar has a lot of damage. Although the island communities, especially in Kodingareng and Barrangcaddi Island generally aware of the importance of conserving the natural resources, but they are not yet fully capable of completing various constraints. One of the obstacles often encountered is the lack of enforcement against fishermen using controlled substances such as bombs and pushers. This not only causes people to become apathetic, but the condition of coral reefs in the region are also getting damaged. Another obstacle they encounter is still the physical condition of the island, who may be threatened by erosion. Besides the variety of the problem, too many strategic efforts are still needed to assist them in the development of alternative livelihoods and or develop various types of businesses that they have done so far.Keywords: Natural resources, Kodingareng, Barrangcaddi Island, coastal communities, empowerment
Analisis Pemasaran dan Tingkat Pendapatan Nelayan pada Agribisnis Pengasapan Ikan Cakalang (Katsuwonus Pelamis) (Studi Kasus di Kecamatan Bontotiro Kabupaten Bulukumba) Jumiati Jumiati
OCTOPUS : JURNAL ILMU PERIKANAN Vol 1, No 1 (2012): Octopus
Publisher : Universitas Muhammadiyah Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (440.039 KB) | DOI: 10.26618/octopus.v1i1.441

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui saluran pemasaran ikan asap, marjin dan efisiensi pemasa-ran ikan asap dan untuk mengetahui pendapatan yang diperoleh nelayan dari usaha pengasapan ikan caka-lang di Kecamatan Bontotiro Kabupaten Bulukumba Sulawesi Selatan. Penentuan lokasi dilakukan secara sengaja dan pemilihan responden nelayan dilakukan dengan metode sensus, pedagang. Selain dari responden, data diambil pula dari instansi pemerintah dan sumber kepustakaan. Data tersebut dianalisis dengan menggunakan analisis deskriptif, marjin dan efisiensi pemasaran dan analisis pendapatan. Hasil penelitian menunjukkan, bawa sistem pemasaran ikan asap di Kecamatan Bontotiro Kabupaten Bulukumba melalui dua pola saluran pemasaran yaitu; Pola saluran pemasaran I yaitu produsen langsung ke kon-sumen, kemudian pola pemasaran II yaitu produsen, pedagang pengumpul, pedagang pengecer, konsumen. Total marjin terbesar berada pada saluran II, Rp.48.000 kemudian saluran I Rp. 36.000 sedangkan saluran pemasaran yang paling efisien berada pada saluran I yaitu 1,5% kemudian saluran II yaitu 2.22%. berdasar-kan hasil yang diperoleh nampak bahwa semakin panjang saluran pemasaran semakin besar marjin pemasarannya dan semakin kurang efisien saluran tersebut. Usaha pengasapan ikan cakalang menguntungkan dengan nilai keuntungan sebesar Rp.3.981.611,11,- per periode sedangkan rata – rata ke-untungan perbulan selama setahun yaitu sebesar Rp.995.402.77Kata Kunci: Marjin, efisiensi pemasaran, pendapatan dan  ikan asapThis study aims to determine the marketing channels of smoked fish, margins and efficiency Timer-ran smoked fish and to determine the income of fishermen from fish fumigation effort Caka-lang in District Bontotiro Bulukumba South Sulawesi. The location determination is done deliberately and selecting respondents fishermen using census method, merchants. Aside from respondents, the data is taken also from government and other sources of literature. The data were analyzed using descriptive analysis, margin and efficiency of marketing and revenue analysis. The results showed, bring smoked fish marketing systems in Sub Bontotiro Bulukumba through two marketing channels that pattern; Marketing channel pattern I is the manufacturer directly to the con-sumen, then the marketing pattern II namely producers, traders, retailers, consumers. The total margin is at the second channel, then channel I Rp.48.000 Rp. 36,000 while the most efficient marketing channels that are in line I of 1.5% and channel II is 2:22%. international based on the results obtained it appears that the longer the greater the marketing channel marketing margin and the less efficient the channel. Fumigation effort tuna favorable, with the profit of Rp.3.981.611,11, - per period, while the average - average all profits per month for a year is equal Rp.995.402.77Keywords: Margin, marketing efficiency, revenue and smoked fish
Pengaruh Perbedaan Dosis Pakan terhadap Laju Pertumbuhan dan Sintasan Lobster Air Tawar Capit Merah (Cherax Quadricarinatus) St. Hadijah
OCTOPUS : JURNAL ILMU PERIKANAN Vol 4, No 1 (2015): Octopus
Publisher : Universitas Muhammadiyah Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (638.072 KB) | DOI: 10.26618/octopus.v4i1.574

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh perbedaan dosis pakan yang terhadap laju pertumbuhan dan sintasan lobster air tawar capit merah (Cherax quadricarinatus). Penelitian ini dilaksanakan di laboratorium Biologi Terpadu, Jurusan Budidaya Perikanan, Universitas Muslim Indonesia. Hewan uji yang digunakan adalah lobster air tawar jenis capit merah yang berumur 1-2 bulan, dengan panjang 2.5 – 4.0 cm dan berat 2 – 3 gr. Lobster tersebut dipelihara dalam akuarium berukuran 50 x 45 x 35 cm. Rancangan percobaan yang digunakan adalah rancangan acak lengkap (RAL) dengan empat perlakuan dan tiga ulangan. Ke empat perlakuan tersebut adalah Pemberian pakan dengan dosis 20 %, 40 %, 60 % dan 80 % dari bobot hewan uji, yang masing-masing memiliki kandungan protein ± 40% sesuai dengan kebutuhan lobster air tawar. Hasil penelitian menunjukkan nilai rata-rata sintasannya masing-masing untuk perlakuan A (86.66%), B (93.33%), C (83.33%) dan D (80.00%), sedangkan laju pertumbuhan individu spesifik harian yang dihasilkan masing-masing perlakuan yaitu perlakuan A (4.05%), B (4.45%), C (4.19%) dan D (4.11%). Hasil analisis ragam pertumbuhan dan sintasan lobster air tawar capit merah  menunjukkan bahwa pengaruh dosis pemberian pakan buatan terhadap pertumbuhan dan sintasan lobster air tawar capit merah  memberikan pengaruh yang tidak nyata.Kata Kunci: Lobster air tawar, dosis pakan, pertumbuhan dan sintasan
Kajian Ekonomi Manfaat Hutan Mangrove di Kabupaten Barru Andi Nur Apung Massiseng
OCTOPUS : JURNAL ILMU PERIKANAN Vol 2, No 1 (2013): Octopus
Publisher : Universitas Muhammadiyah Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (433.063 KB) | DOI: 10.26618/octopus.v2i1.527

Abstract

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menyelidiki potensi hutan mangrove, untuk mengetahui nilai ekonomi total hutan mangrove, dan untuk mengetahui alokasi alternatif yang paling efisien penggunaan hutan mangrove. Penelitian ini menggunakan analisis deskriptif kuantitatif. Data diperoleh dengan menggunakan teknik survei dan wawancara langsung kepada responden. Analisis yang digunakan adalah analisis biaya manfaat dengan nilai sekarang bersih dan rasio biaya manfaat. Hasil penelitian mengungkapkan bahwa nilai ekonomi total hutan mangrove per tahun di Kabupaten Barru adalah Rp. 26.406.030.836. Mereka terdiri dari nilai manfaat langsung menangkap ikan, udang, kepiting, kerang, kelelawar, penggunaan hutan dan bibit bakau sebanyak Rp. 7.424.768.156. Manfaat tidak langsung adalah manfaat hutan mangrove sebagai pemecah gelombang dan nursery ground sebesar Rp. 18.697.233.200. Manfaat opsional konservasi dan farmasi adalah Rp. 368.580.223, dan manfaat eksistensial adalah Rp. 284.029.480. Hasil analisis alternatif penggunaan hutan mangrove menggunakan analisis biaya manfaat dengan tingkat diskon dari 12% dan 20% menunjukkan bahwa alternatif yang paling efisien secara sosial, ekonomi, dan ekologis adalah penggunaan alternatif III, yaitu tetap kondisi luas monokultur, sedangkan tambak polikultur dikonversi ke daerah yang luas hutan mangrove, sehingga menjadi 1.576,12 ha. Manfaat dari nilai sekarang (NPV) sebesar Rp. 41973889970 dengan BCR 9,58% (tingkat diskonto 12%), dan NPV adalah Rp. 39308673421 dengan BCR 7,01% (tingkat diskonto 20%).Kata kunci: Mangrove Forest, Total Nilai Ekonomi, penggunaan Alternatif.The aims of the research are to investigate the potency of mangrove forest, to find out the total economic value of mangrove forest, and to find out the most efficient alternative allocation of the use of mangrove forest. The research use descriptive quantitative analysis.  The data were obtained by using survey technique and direct interview to respondents.  The analysis used was cost benefit analysis with net present value and benefit cost ratio. The results of the research reveal that total economic value of mangrove forest per year in Barru Regency is Rp. 26.406.030.836.  They consist of the value of direct benefit catching fish, shrimps, crabs, shells, bats, the use of woods and mangrove seedling as much as Rp. 7.424.768.156.  The indirect benefit is the benefit of mangrove forest as wave breaker and nursery ground as much as Rp. 18.697.233.200.  The optional benefit of conservation and pharmacy is Rp. 368.580.223, and existential benefit is Rp. 284.029.480.  The results of alternative analysis of the use of mangrove forest using cost benefit analysis with a discount rate of 12% and 20% indicates that the most efficient alternative socially, economically, and ecologically is the use of alternative III, i.e. the remain condition of widespread monoculture, while pond polyculture is converted to a vast area of mangrove forest, so it becomes  1.576,12 ha.  The benefit of the present value (NPV) is Rp. 41,973,889,970 with BCR 9,58% (discount rate 12%), and NPV is Rp. 39,308,673,421 with BCR 7,01% (discount rate 20%).Keywords : Mangrove Forest, Total Economic Value,  Alternative use.
Optimasi Kedalaman Perairan terhadap Pertumbuhan dan Keraginan Rumput Laut (Kappaphycus Alvarezii) Darmawati Darmawati; Rahmi Rahim
OCTOPUS : JURNAL ILMU PERIKANAN Vol 3, No 1 (2014): Octopus
Publisher : Universitas Muhammadiyah Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (655.818 KB) | DOI: 10.26618/octopus.v3i1.539

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis laju pertumbuhan rumput laut Kappaphycus alvarezii yang dibudidayakan pada kedalaman berbeda serta menganalisis kadar karaginan K. alvarezii yang dibudidayakan pada kedalaman berbeda. Tahap awal penelitian ini menggunakan metode penanaman dengan sistem long line yang dilakukan untuk mengikuti naik turunnya permukaan air. Berat awal bibit dalam satu rumpun 50 gram kemudian dibudidayakan. Pengambilan sampel dilakukan setiap minggu selama masa pemeliharaan 54 hari. Pengukuran parameter pertumbuhan rumput laut dan kadar karaginan serta dilakukan  pengukuran kualitas air secara bersamaan setiap minggu. Penelitian ini dirancang dengan desain Rancangan Acak Lengkap.  Perlakuan kedalaman terdiri dari A = 20 cm, B = 50 cm dan C = 100 cm.  Masing-masing perlakuan dilakukan pengulangan sebanyak 3 kali sehingga terdapat 9 satuan unit percobaan. Untuk mengetahui pengaruh perlakuan terhadap pertumbuhan dan kadar karaginan rumput laut K. alvarezii dilakukan analisis ragam, apabila pengaruh perlakuan berbeda nyata maka dilanjutkan dengan uji Tukey. Hasil penelitian merekomendasikan budidaya rumput laut yang terbaik dapat dilakukan dengan menggunakan kedalaman 50 cm sehingga dapat meningkatkan pertumbuhan bagi organisme budidaya khususnya rumput laut K. alvareziiKata Kunci :  Kappaphycus alvarezii, kedalaman dan keragenan  This study aimed to analyze the rate of growth of seaweed Kappaphycus alvarezii cultivated at different depths and analyze the levels of carrageenan K. alvarezii cultivated at different depths. The initial stage of this study using the method of planting with a long line system which is made to follow the rise and fall of the water level. Initial weight of seeds in one clump of 50 grams and then cultivated. Sampling was done every week for 54-day maintenance period. Measurement parameters of growth of seaweed and carrageenan levels and water quality measurements performed simultaneously each week. This study was designed with a completely randomized design. Depth treatment consists of A = 20 cm, 50 cm and B = C = 100 cm. Each treatment be repeated 3 times so that there are 9 experimental unit. To determine the effect of treatment on the growth and concentration of carrageenan seaweed K. alvarezii do analysis of variance, if the effect of treatment was significantly different then followed by Tukey's test. The results of the study recommend the best seaweed cultivation can be done using a depth of 50 cm so as to enhance the growth of the organism, especially the cultivation of seaweed K. alvareziiKeywords: Kappaphycus alvarezii, depth and keragenan
PREVALENSI DAN INTENSITAS PARASIT PADA BENIH IKAN MAS (Cyprinus carpio) PADA TIGA LOKASI LOKASI BALAI BENIH IKAN SULAWESI SELATAN Rahmi Rahmi; Nur Insana Salam
OCTOPUS : JURNAL ILMU PERIKANAN Vol 6, No 2 (2017): OCTOPUS
Publisher : Universitas Muhammadiyah Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26618/octopus.v6i2.1301

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui prevalensi dan intensitas pada benih ikan Mas (Cyprinus carpio.L) pada beberapa lokasi BBI(Balai Benih Ikan) di sulawesi selatan.  Penelitian telah dilaksanakan pada bulan Mei-juni 2017 pengambilan sampel ikan di tiga lokasi  Balai Benih Ikan (BBI) yaitu, BBI Limbung, BBI Bontomanai, BBI Maros. dan pengamatan parasit di lakukan di Fakultas Pertanian Universitas Muhammadiyah Makassar. Jenis parasit yang ditemukan pada bagian ektoparasit ikan mas (Cyprinus carpio) selama penelitian adalah, Dactylogyrus sp. dan Trichodina sp, dan Chilodonella sp. Prevalensi ektoparasit pada ikan mas (Cyprinus carpio) yaitu yang terendah pada BBI Maros yaitu Dactylogyrus sp 30%, Trichodina sp 25%,dan Chilodonella sp 15 %. Sedangkan yang tertinggi pada BBI Bonto Manai yaitu Dactylogirus sp 40%, Trichodina sp 45%, dan Chilodonella sp 30%.  Sedangkan intensitas serangan parasit tertinggi d BBI Bonto manai masing-masing, Dactylogyrus sp 4 ind/ekor, Trichodina sp 4 ind/ekor, dan Chilodonella sp 4 ind/ekor. Diperlukan penelitian lanjutan untuk mengukur parameter lingkungan seara detail pada penelitian ini.
Produksi Serasah Mangrove dan Kontribusinya terhadap Perairan Pesisir Kabupaten Sinjai Abdul Haris; Ario Damar; Dietiech G. Bengen; Ferdinan Yulianda
OCTOPUS : JURNAL ILMU PERIKANAN Vol 1, No 1 (2012): Octopus
Publisher : Universitas Muhammadiyah Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (373.953 KB) | DOI: 10.26618/octopus.v1i1.436

Abstract

Hasil analisis produksi serasah, laju dekomposisi dan unsur hara yang terdapat pada serasah mangrove yang meliputi: daun, buah, bunga, dan ranting. Penelitian ini dilaksanakan di Desa Tongke Tongke dan Kelurahan Samataring Kecamatan Sinjai Timur Kabupaten Sinjai pada bulan Juli sampai Desember 2011. Metode yang digunakan untuk menghitung produksi serasah dipasang penampung serasah (litter trap) pada tiga lokasi yaitu ekosistem mangrove Tongke Tongke, Samatring dan tambak silvofishery sebanyak 15 buah yang berukuran 1x1x0,5 m yang terbuat dari waring hitam. Laju dekomposisi dilakukan pengamatan pada lima lokasi yang terbagi 15 stasiun yaitu: rasio 100 mangrove 3 stasiun, rasio 60% mangrove: 40% tambak 3 stasiun, rasio 30% mangrove: 70% tambak 3 stasiun, rasio 20% mangrove: 80% tambak 3 stasiun, dan rasio 10% mangrove : 90% tambak 3 stasiun. Kandungan unsur hara diambil sampel serasah mangrove dari daun, buah, bunga dan ranting sebanyak 30 gram, kemudian dianalisis di Laboratorium gizi Balai sereal Maros. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) produksi serasah kering pada tiga lokasi pengamtan diperoleh nilai rata rata sebesar 26.270 kg ha-1 th-1 , (2) laju dekomposisi pada lima lokasi pengamtan diperoleh nilai rata rata sebesar 0,24% hari-1, sehingga untuk sampel 30 gram diperlukan waktu terurai 124 hari, dan (3) kandungan unsure hara yang terdapat pada serasah berdasarkan jenis diperoleh masing masing; bahan organik sebesar 1.741.2 kg ha-1 th-1 , nitrogen 552.0 kg ha-1 th-1 , posfor 12.6 kg ha-1 th-1 , dan kalium 122.6 kg ha-1 th-1..Kata kunci: produksi serasah, laju dekomposisi dan kandungan unsur hara.

Page 2 of 27 | Total Record : 270