cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kab. serang,
Banten
INDONESIA
Jurnal Candrasangkala Pendidikan Sejarah
ISSN : 24772771     EISSN : 24778214     DOI : -
Core Subject : Economy,
Journal of History Education Department in Faculty of Teacher Training and Education named Candrasangkala. In Indonesia Candrasangkala is the year of Saka as one of the influence of Hinduism. As a journal name, Candrasangkala is unique and closely related to history in terms of temporal aspects. Thus, Candrasangkala is a scientific journal of education and history as a place for critical thinking.
Arjuna Subject : -
Articles 138 Documents
PENGEMBANGAN MATERI AJAR NILAI-NILAI BUDAYA LOKAL “GREEN BEHAVIOUR” DI BANTEN Ana Nurhasanah; Yuni Maryuni; Arif Permana Putra; Rikza Fauzan; Nashar Nashar; Eko Ribawati
Candrasangkala: Jurnal Pendidikan dan Sejarah Vol 2, No 2 (2016)
Publisher : Universitas Sultan Ageng Tirtayasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (610.045 KB) | DOI: 10.30870/candrasangkala.v2i2.3735

Abstract

Penelitian ini bertolak dari keresahan terhadap rendahnya pembelajaran sejarah lokal sebagai sebuah identitas yang semakin tidak menyentuh generasi muda saat ini dan nilai tradisi masyarakat adat Baduy sebagai salah satu etnis lokal Banten yang terabaikan sebagai salah satu karakter bangsa. Rumusan masalah Nilai-nilai budaya apa saja yang dikembangkan dari masyarakat adat Baduy dalam pembelajaran sejarah di SMAN 3 Rangkasbitung? dan Bagaimana aktualisasi pendidikan nilai budaya adat suku Baduy dalam pembelajaran sejarah di SMAN 3 Rangkasbitung? serta Bagaimana internalisasi pendidikan nilai budaya adat suku Baduy melalui pembelajaran sejarah bagi peserta didik di SMAN 3 Rangkasbitung. Metodologi penelitian yang dilakukan dengan menggunakan pendekatan Etnografi dan Naturalistik Inkuiri.Dari hasil penelitian pembelajaran sejarah lokal dalam pengembangan materi nilai tradisi masyarakat adat Baduy dimulai dengan melakukan (1) Observasi dan wawancara terhadap narasumber (2) analisis hasil wawancara dan studi literatur (3) Internalisasi nilai-nilai tradisi masyarakat adat baduy dala pembelajaran di SMAN 3 Rangkasbitung, memanfaatkan sejarah lokal masyarakat adat Baduy (Selanjutnya guru yang kesulitan diupayakan untuk mampu meningkatkan aktivitas, kreativitas, dan kegairahan siswa maupun guru mengenai nilai-nilai tradisi masyarakat adat baduy dan penanaman nilai pelestarian lingkungan. Kegiatan pembelajaran disesuaikan dengan tujuan pembelajaran diantaranya kemampuan kerja sama, tanggung jawab, mencari dan menemukan sumber belajar, mandiri, sikap berani, menghargai waktu, pantang menyerah, dan toleransi serta menghubungkan peristiwa sejarah dengan kehidupan seharihari dalam upaya mempersiapkan warga negara yang berjiwa multikultural dan memiliki rasa cinta dan bangga terhadap Indonesia.
PERKEMBANGAN BUDAYA ETNIS TIONGHOA DI INDONESIA TAHUN 1998-2008 Maryuni, Yuni
Jurnal Candrasangkala Pendidikan Sejarah Vol 2, No 2 (2016)
Publisher : Jurnal Candrasangkala Pendidikan Sejarah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Aktivitas etnis Tionghoa dalam menjalankan ritual agama dan adat istiadat leluhur di Indonesia bergantung pada aturan pemerintah yang mengaturnya secara holistik. Baik itu dalam menjalankan kegiatan keagamaan, adat istiadat leluhur dan hak-hak sebagai warga negara yang sejajar dengan etnis lain di Indonesia.  Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan perkembangan budaya Etnis Tionghoa di Indonesia tahun 1998-2008. Pemilihan kurun waktu tersebut berdasarkan pada perubahan peraturan pemerintah yang menjadi awal bagiterbukanya pintu kebebasan Etnis Tionghoa sebagai WNI dengan penghapusan istilah pri dan non pri dan kebebasan dalam pengekspresian budaya Tionghoa. Pengakuan identitas bagi Etnis Tionghoa sangatlah penting untuk metode yang digunakan dalam penelitian ini yaitu historis factual dengan tahapan: heuristic, verifikasi, interpretasi dan historiografi. Pendekatan yang digunakan adalah pendekatan sosiologi dan politik dengan model penulisan bersifat deskriptif analisis. Hasil penelitian menunjukan bahwa setelah dikeluarkannya aturan pemerintah mengenai penyelesaian masalah etnis Tionghoa yang dimulai dari Presiden Habibie mengeluarkan Inpres No. 26/ 1998 sampai dengan tahun 2008, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono …..etnis Tionghoa memiliki kedudukan yang sejajar dengan etnis lain sebagai masyarakat Indonesia. Menghapus istilah “pri” dan “non-pri”, agar tidak mempertajam perbedaan antara kedua golongan tersebut.Kemudian, Presiden Abdurachman Wahid menerbitkan Keppres No. 6 tahun 2000 yang mencabut Inpres No. 14 tahun 1967 tentang Agama, Kepercayaan, dan Adat Istiadat Cina. Dengan terbitnya Keppres ini, perayaan Konghuchu ataupun aktivitas kebudayaan warga Cina lainnya tidak perlu lagi ijin khusus. Ditambah lagi dengan dijadikannya Tahun Baru Imlek sebagai Hari Libur Nasional pada era pemerintahan Presiden Megawati sejak 2002.
PERKEMBANGAN BUDAYA ETNIS TIONGHOA DI INDONESIA TAHUN 1998-2008 Maryuni, Yuni
Jurnal Candrasangkala Pendidikan Sejarah Vol 2, No 2 (2016)
Publisher : Jurnal Candrasangkala Pendidikan Sejarah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Aktivitas etnis Tionghoa dalam menjalankan ritual agama dan adat istiadat leluhur di Indonesia bergantung pada aturan pemerintah yang mengaturnya secara holistik. Baik itu dalam menjalankan kegiatan keagamaan, adat istiadat leluhur dan hak-hak sebagai warga negara yang sejajar dengan etnis lain di Indonesia.  Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan perkembangan budaya Etnis Tionghoa di Indonesia tahun 1998-2008. Pemilihan kurun waktu tersebut berdasarkan pada perubahan peraturan pemerintah yang menjadi awal bagiterbukanya pintu kebebasan Etnis Tionghoa sebagai WNI dengan penghapusan istilah pri dan non pri dan kebebasan dalam pengekspresian budaya Tionghoa. Pengakuan identitas bagi Etnis Tionghoa sangatlah penting untuk metode yang digunakan dalam penelitian ini yaitu historis factual dengan tahapan: heuristic, verifikasi, interpretasi dan historiografi. Pendekatan yang digunakan adalah pendekatan sosiologi dan politik dengan model penulisan bersifat deskriptif analisis. Hasil penelitian menunjukan bahwa setelah dikeluarkannya aturan pemerintah mengenai penyelesaian masalah etnis Tionghoa yang dimulai dari Presiden Habibie mengeluarkan Inpres No. 26/ 1998 sampai dengan tahun 2008, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono …..etnis Tionghoa memiliki kedudukan yang sejajar dengan etnis lain sebagai masyarakat Indonesia. Menghapus istilah “pri” dan “non-pri”, agar tidak mempertajam perbedaan antara kedua golongan tersebut.Kemudian, Presiden Abdurachman Wahid menerbitkan Keppres No. 6 tahun 2000 yang mencabut Inpres No. 14 tahun 1967 tentang Agama, Kepercayaan, dan Adat Istiadat Cina. Dengan terbitnya Keppres ini, perayaan Konghuchu ataupun aktivitas kebudayaan warga Cina lainnya tidak perlu lagi ijin khusus. Ditambah lagi dengan dijadikannya Tahun Baru Imlek sebagai Hari Libur Nasional pada era pemerintahan Presiden Megawati sejak 2002.
PENGARUH MODEL LEARNING CYCLE 5E TERHADAP KEMAMPUAN BERPIKIR HISTORIS Sabar Wiraguna; Yuni Maryuni; Eko Ribawati
Candrasangkala: Jurnal Pendidikan dan Sejarah Vol 4, No 2 (2018)
Publisher : Universitas Sultan Ageng Tirtayasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30870/candrasangkala.v4i2.4530

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh model Learning Cycle 5E terhadap kemampuan berpikir historis untuk materi Indonesia Merdeka pada siswa kelas XI di SMA Negeri 4 Pandeglang. Penelitian ini dilaksanakan pada semester genap tahun pelajaran 2017/2018. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode Quasy Experiment dengan desain penelitian Pretest Posttest  Control Design. Populasi dalam penelitian ini berjumlah 325 terbagi dalam sepuluh kelas. Pengambilan sampel dengan menggunakan teknik purposive sampling, diperoleh dua kelompok penelitian, yaitu kelas XI MIPA 2 sebagai kelas eksperimen dan kelas XI MIPA 1 sebagai kelas kontrol. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah 5 butir soal tes uraian dengan 5 indikator. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai rata-rata pretest kemampuan berpikir historis kelas kontrol sebesar 51,31 sedangkan pada kelas eksperimen 58,83, posttest kemampuan berpikir historis kelas kontrol memperoleh nilai 62,33 sedangkan kelas eksperimen 70,16. Uji hipotesis preetest menggunakan uji-t pada taraf signifikan α = 5% diperoleh t(hitung) = 1,70 > t(tabel) = 1,67, sedangkan uji hipotesis posttest diperoleh t(hitung) = 2,44 > t(tabel) = 1,67 yang berarti H0 ditolak. Terdapat perbedaan pengaruh pada kedua kelas. Model learning cycle 5E bisa menjadi variasi model belajar. Model learning cycle 5E meningkatkan kemampuan  analisis serta mengidentifikasi kronologis peristiwa sejarah, sehingga membantu  mengembangkan tingkat ilmiah siswa dan proses pembelajaran lebih terarah dan bermakna.
Analisis Strukturalisme Lévi-Strauss dalam Cerita Rakyat Tundung Mediyun: Sebagai Alternatif Baru Sumber Sejarah Afiyanto, Hendra; Nurullita, Hervina
Jurnal Candrasangkala Pendidikan Sejarah Vol 4, No 2 (2018)
Publisher : FKIP Universitas Sultan Ageng Tirtayasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30870/candrasangkala.v4i2.4525

Abstract

Penelitian ini dilatarbelakangi oleh sebuah pertanyaan, mengapa mitos, cerita rakyat, karya sastra, legenda selalu ditempatkan pada ranah fiksi, sehingga tidak bisa digunakan sebagai sumber sejarah? Sutherland mengatakan esensinya historiografi yang dibutuhkan adalah historicizing history. Demikianlah, artinya sebuah historiografi saat ini haruslah memahamkan sejarah itu sendiri. Untuk memahamkan sejarah yang diperlukan adalah semangat dekonstruksi. Ketika dekonstruksi menyisip dalam sebuah peristiwa sejarah akan terjadi kecenderungan historiografi mulai meninggalkan narasi besarnya. Historiografi akan bergeser dari makro ke mikro dengan bantuan sumber-sumber alternatif. Salah satu sumber alternatif yang bisa digunakan adalah mitos, cerita rakyat, karya sastra, atau legenda. Ketika sumber-sumber sejarah tersebut masih dianggap penuh unsur fiksinya, maka diperlukan alat bantu untuk membuatnya memiliki unsur fakta. Untuk menjawab permasalahan tersebut, maka digunakanlah cerita rakyat Keris Tundung Mediyun yang akan dianalis menggunakan Strukturalisme Lévi-Strauss sehingga nantinya dapat ditemukan unsur-unsur faktanya sebagai sumber alternatif historiografi.
PERKEMBANGAN INDUSTRI TAUCO CAP BIRUANG DI KABUPATEN CIANJUR TAHUN 1960-1980 Julfa Mutiara; Ana Nurhasanah; Nashar Nashar
Candrasangkala: Jurnal Pendidikan dan Sejarah Vol 4, No 2 (2018)
Publisher : Universitas Sultan Ageng Tirtayasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30870/candrasangkala.v4i2.4531

Abstract

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui latar belakang berdirinya Industri Tauco Cap Biruang di Kabupaten Cianjur, perkembangan Industri Tauco Cap Biruang di Kabupaten Cianjur Tahun 1960-1980, dampak sosial-ekonomi Industri Tauco Cap Biruang di Kabupaten Cianjur. Penelitian ini menggunakan metode historis, dengan langkah-langkah; heuristik, kritik, interpretasi dan historiografi. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah studi kepustakaan, wawancara dan dokumentasi. Industri Tauco Cap Biruang muncul tahun 1960 mengalami perkembangan tahun 1970-an dan kemajuan tahun 1980. Berdasarkan hasil penelitian, Industri Tauco Cap Biruang berdiri karena memanfaatkan hasil pertanian dan permintaan pasar yang cukup tinggi mengenai tauco. Kehadiran Industri Tauco Cap Biruang memiliki dampak bagi kehidupan sosial-ekonomi. Dampak sosial adanya Industi Tauco Cap Biruang yaitu adanya perubahan sosial terhadap pengusaha, pekerja dan masyarakat sekitar industri, dimana terjadi proses pergeseran di masyarakat yang tadinya sebagai konsumen menjadi produsen, selain itu ada perubahan pemanfaatan sektor pertanian ke arah sektor industri. Adapun dampak ekonomi yang dirasakan masyarakat sekitar industri yaitu mengenai lapangan pekerjaan, dimana Industri Tauco Cap Biruang mempekerjakan masyarakat tanpa melihat status pendidikan. Tauco merupakan makanan tradisional Cianjur yang menjadi bukti toleransi dari keberagaman masyarakat Cianjur yang heterogen. Apabila dikembangkan tauco di Cianjur akan menambah pendapatan masyarakat dan daerah.
KECAMUK REVOLUSI KEMERDEKAAN DI KUNINGAN (1947-1950) Rinaldo Adi Pratama
Candrasangkala: Jurnal Pendidikan dan Sejarah Vol 4, No 2 (2018)
Publisher : Universitas Sultan Ageng Tirtayasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30870/candrasangkala.v4i2.4526

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk melihat peranan daerah atau lokalitas dalam kancah revolusi kemerdekaan Indonesia. Hal ini dikarenakan masa revolusi kemerdekaan Indonesia merupakan suatu masa yang cukup penting bagi perjalanan sejarah bangsa karena suasana revolusi tidak hanya dirasakan di lingkup nasional saja melainkan banyak pula daerah yang melibatkan diri dalam peristiwa penting ini. Metode penelitian yang digunakan yaitu metode historis yang mencakup, heuristik, kritik, interpretasi, dan historiografi. Berdasarkan penelitian yang dilakukan bahwasanya selama periode revolusi kemerdekaan Indonesia, Kabupaten Kuningan memiliki peranan yang cukup sentral dalam perjuangan mempertahankan kedaulatan negara di wilayah timur Jawa Barat khususnya Keresidenan Cirebon. Kabupaten Kuningan khususnya Ciwaru memiliki andil dalam perjuangan kemerdekaan yakni menjadi ibu kota pengungsian dari pemerintahan Keresidenan Cirebon pasca dibombardirnya pusat pemerintahan di Cirebon oleh peristiwa Agresi Militer Belanda I. Selain itu pula di Kuningan terjadi peperangan yang melibatkan rayat sipil dengan dibentuknya laskar dan kesatuan-kesatuan khusus yang ada di Kuningan. Sebagai tempat pengungsian pemerintahan sipil Keresidenan Cirebon tentu saja membuat Kuningan sebagai medan pertempuran yang cukup dahsyat di wilayah timur Jawa Barat
PENGARUH PENDEKATAN SAINTIFIK TERHADAP KEMAMPUAN BERPIKIR KRITIS DAN PEMAHAMAN SEJARAH SISWA PADA MATA PELAJARAN SEJARAH Galun Eka Gemini; Nurhata Nurhata
Candrasangkala: Jurnal Pendidikan dan Sejarah Vol 4, No 2 (2018)
Publisher : Universitas Sultan Ageng Tirtayasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30870/candrasangkala.v4i2.4532

Abstract

Sekarang ini pembelajaran dengan menggunakan pendekatan saintifik merupakan isu yang masih ramai digaungkan (aktual) di tiap-tiap sekolah di Indonesia. Ini merupakan bagian dari implementasi penerapan Kurikulum 2013 atau Kurtilas – yang diperuntukkan pada setiap mata pelajaran (termasuk mata pelajaran sejarah), juga pada tiap jenjang sekolah. Fenomena pembelajaran melalui pendekatan saintifik ini menjadi latar belakang yang diambil. Tujuannya adalah guna mengetahui sejauh mana pengaruh pendekatan saintifik terhadap kemampuan berpikir kritis dan pemahaman sejarah pada siswa. Adapun rumusan masalah penelitian ini: (1) pengaruh pendekatan saintifik terhadap kemampuan berpikir kritis siswa; (2) pengaruh pendekatan saintifik terhadap pemahaman sejarah siswa; dan (3) manakah yang lebih besar mendapatkan pengaruh dari penggunaan pendekatan saintifik terhadap keduanya, kemampuan berpikir kritis atau pemahaman sejarah? Objek penelitian yang dipilih adalah SMA Negeri di Kabupaten Indramayu dengan mengambil sampel terdiri dari lima sekolah yang dianggap mewakili dan dibagi berdasar zona timur (SMAN 1 Sliyeg), selatan (SMAN 1 Tukdana), tengah (SMAN 1 Jatibarang), utara (SMAN 1 Indramayu) dan barat (SMAN 1 Haurgeulis). Sementara itu, sampel responden berjumlah 360 orang. Model penelitian yang diterapkan adalah metode survai dengan desain penelitian cross sectional desaign. Teknik pengumpulan data melalui angket atau kuesioner dan observasi. Hasil penelitian menunjukkan penggunaan pendekatan saintifik berpengaruh terhadap berpikir kritis siswa SMA Negeri di Kabupaten Indramayu (t hitung (11,103) > t tabel (1,657)). Adapun besarnya pengaruh pendekatan saintifik terhadap berpikir kritis sebesar 33,3% dan sisanya dipengaruhi oleh faktor lainnya. Sementara penggunaan pendekatan saintifik berpengaruh terhadap pemahaman sejarah siswa SMA Negeri di Kabupaten Indramayu (t hitung (8,875) > t tabel (1,657)) dan besarnya pengaruh pendekatan saintifik terhadap pemahanan sejarah sebesar 42,5% dan sisanya dipengaruhi oleh faktor lainnya. Oleh sebab itu, untuk meningkatkan kemampuan berpikir kritis dan pemahaman sejarah dalam pembelajaran sejarah siswa, hendaklah menggunakan pendekatan saintifik dalam proses pembelajarannya.
TRADISI MA’NENE SEBAGAI WARISAN BUDAYA ETNIS TORAJA Rudy Gunawan; Merina Merina
Candrasangkala: Jurnal Pendidikan dan Sejarah Vol 4, No 2 (2018)
Publisher : Universitas Sultan Ageng Tirtayasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30870/candrasangkala.v4i2.4527

Abstract

The purpose of this research is to know: (1) Ma'nene Tradition process (2) Efforts made to maintain Ma'nene Tradition (3) Ma'nene tradition becomes a cultural value of Toraja society. The research was conducted in Kete'kesu Village, Londa, Bori Parinding. The study population is Tana Toraja society which is considered to be the Toraja customs. Informants are determined by non-probability sampling. Type of research is descriptive-qualitative. The results of this study reveal that tradition has a long series of ritual processes and requires a very large cost. Nevertheless, the Toraja people still think that this tradition should continue to be done because it has a purpose and a positive meaning. The Ma'Nene ritual begins with family members coming to Patane to retrieve dead bodies of corpses and then be cleansed and cleaned by replacing new clothes. After that the body was re-entered to Patane. The procession closes with the gathering of family members at the Tongkonan traditional house to worship together. Ma'nene tradition has a uniqueness and deep meaning, that is reflects the importance of the relationship between family members uninterrupted despite being separated by death. In addition, this ritual is also used to introduce young family members with their ancestors.
PENERAPAN MEDIA PEMBELAJARAN MULTI MEDIA POWER POINT DALAM MENINGKATKAN AKTIVITAS BELAJAR CALON GURU SEJARAH M. Iyus Jayusman; Oka Agus Kurniawan Shavab
Candrasangkala: Jurnal Pendidikan dan Sejarah Vol 4, No 2 (2018)
Publisher : Universitas Sultan Ageng Tirtayasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30870/candrasangkala.v4i2.4528

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh gambaran penerapan media pembelajaran multi media power point dalam meningkatkan aktivitas belajar calon guru sejarah. Penelitian ini dilatarbelakangi oleh media pembelajaran masih jarang digunakan dan hal ini berimbas dengan kurangnya aktifitas belajar  mahasiswa terhadap kegiatan pembelajaran dan respon yang ditunjukan oleh mahasiswa pendidikan sejarah sebagian besar kurang memperhatikan jalannya kegiatan pembelajaran dan mengacuhkannya, seperti mengobrol dan main handphone. Metode penelitian yang akan digunakan dalam penelitian ini adalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK), yaitu cara   melakukan   penelitian   dan   berupaya   bekerja   untuk memecahkan  masalah  pada  saat  yang  bersamaan. Berdasarkan hasil pengamatan pada siklus I, terlihat bahwa 76 % dari jumlah mahasiswa telah melakukan aktivitas visual, 69% dari jumlah mahasiswa telah melakukan aktivitas lisan, 69% dari jumlah siswa telah melakukan aktivitas mendengarkan, 77% dari jumlah siswa telah melakukan aktivitas menulis,  77% dari jumlah mahasiswa telah melakukan aktivitas mental, dan 77 % dari jumlah siswa telah melakukan aktivitas emosional. Berdasarkan hasil pengamatan pada siklus II, terlihat bahwa 85 % dari jumlah mahasiswa telah melakukan aktivitas visual, 82% dari jumlah mahasiswa telah melakukan aktivitas lisan, 86% dari jumlah siswa telah melakukan aktivitas mendengarkan, 87% dari jumlah siswa telah melakukan aktivitas menulis,  82% dari jumlah mahasiswa telah melakukan aktivitas mental, dan 80 % dari jumlah siswa telah melakukan aktivitas emosional.

Page 5 of 14 | Total Record : 138