cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kab. serang,
Banten
INDONESIA
Jurnal Candrasangkala Pendidikan Sejarah
ISSN : 24772771     EISSN : 24778214     DOI : -
Core Subject : Economy,
Journal of History Education Department in Faculty of Teacher Training and Education named Candrasangkala. In Indonesia Candrasangkala is the year of Saka as one of the influence of Hinduism. As a journal name, Candrasangkala is unique and closely related to history in terms of temporal aspects. Thus, Candrasangkala is a scientific journal of education and history as a place for critical thinking.
Arjuna Subject : -
Articles 138 Documents
Pengembangan Model Mobile Learning Berbasis Aplikasi Android pada Mata Kuliah Sejarah ASEAN Adhitya Rol Asmi; Aulia Novemy Dhita Surbhakti; Y. Yunani; S. Syarifuddin
Candrasangkala: Jurnal Pendidikan dan Sejarah Vol 5, No 1 (2019)
Publisher : Universitas Sultan Ageng Tirtayasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30870/candrasangkala.v5i1.4370

Abstract

This research is entitled "Development of an Android Application-Based Mobile Learning Model in the History of ASEAN Countries" in the Sriwijaya University Historical Education Study Program. This research is a type of development research that uses the development model of Dick and Carey. The purpose of this study is to develop a Mobile Learning model based on Android applications in lectures on Southeast Asian history that are valid and have an effect on effectiveness. Observation and questionnaire data show the use of the SEA-Hole Mobile Learning application (South East Asian Historic Mobile Learning) has a good impact in supporting the Southeast Asian History lecture process, such as making it easier to understand Southeast Asian History lecture material because it is supported by images and videos. Some entries from Experts and small groups are used to produce a valid application prototype. Overall the SEA-Hole Mobile Learning application has a good effect to be used as a support for mobile lectures.
Maria Walanda Maramis Sang Pelita Pendidikan Perempuan di Minahasa ( 1917-1924 ) Khairul Tri Anjani
Candrasangkala: Jurnal Pendidikan dan Sejarah Vol 5, No 2 (2019)
Publisher : Universitas Sultan Ageng Tirtayasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30870/candrasangkala.v5i2.5952

Abstract

Maria Yosephine Catharina Maramis, seorang putri keluarga Maramis Rotin Sulu, dilahirkan di Kema, kota pelabuhan kecil di Sulawesi Utara pada tanggal 1 Desember 1872. Ketika berumur enam tahun, Maria Josephine Chaterine Maramis menjadi yatim piatu karena kedua orang tuanya jatuh sakit dan meninggal. Maria Josephine Chaterine Maramis dan kakak-kakaknya diasuh oleh pamannya, Mayor Ezan Rotinsulu di Airmadidi dan disekolahkan di sekolah Melayu saat itu.Menurut pandangan Maria seorang ibu adalah inti dari suatu rumah tangga yang juga menjadi inti masyarakat, mengenai hal mendidik anak untuk melakukan pekerjaan rumah itu adalah tanggungjawab seorang ibu dan hal tersebut membutuhkan kepandaian dan keterampilan seorang ibu. Hal-hal tersebut biasanya tidak dimiliki oleh anak gadis Minahasa pada waktu itu dan apabila dilalaikan oleh masyarakat maka akan terjadi ketimpangan, maka perlu diberikan pelajaran bagi anak gadis yang kelak akan menjadi seorang ibu. Melalui pemahaman Maria yang sangat kritis dalam memandang ketimpangan sosial tersebut maka Maria berusaha untuk mencari solusi agar dapat menolong masyarakat Minahasa, khususnya kaum perempuan. Langkah-langkah yang ditempuh untuk mewujudkan ide Maria Walanda Maramis adalah sebagai berikut:   Maria mulai menulis berbagai artikel di surat kabar yang mengkampanyekan tentang pentingnya pendidikan bagi anak-anak, Maria juga mengadakan rapat yang beranggotakan kaum perempuan dengan Maria sebagai pembicara utamanya. Dengan semangatnya, Maria memberikan pengertian mengenai gagasan-gagasannya dan menyakinkan agar gagasannya dapat diterima dan Maria kemudian mengusulkan agar membentuk sebuah organisasi yang diberi nama Perserikatan Ibu Kepada Anak Temurunnya (PIKAT).PIKAT (Percintaan Ibu Kepada Anak Temurunnya), perkumpulan perempuan yang pertama di Minahasa yang berdiri pada tanggal 8 Juli 1917.  Pada tanggal 22 April 1924, Maria meninggal dunia. 45 tahun kemudian, Maria dianugerahi gelar Pahlawan Kemerdekaan Nasional.
Model Two Stay Two Stray dan Rokir (Roda Berfikir) Untuk Meningkatkan Keterampilan Efikasi Diri Dan Hasil Belajar IPS Yayan Inriyani
Candrasangkala: Jurnal Pendidikan dan Sejarah Vol 5, No 1 (2019)
Publisher : Universitas Sultan Ageng Tirtayasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30870/candrasangkala.v5i1.6096

Abstract

Tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan pelaksanaan model pembelajaran kooperatif two stay two stray dan rokir (roda berfikir) dalam meningkatkan efikasi diri dan hasil belajar siswa pada pelajaran IPS. Subjek penelitian adalah siswa kelas VIIIb SMP Negeri 17 Kota Serang Provinsi Banten Tahun Pelajaran 2016/2017 yang berjumlah 32 siswa. Jenis penelitian adalah penelitian tindakan kelas. Instrumen pengumpulan data terdiri dari kegiatan lembar observasi guru, siswa, tes, wawancara, dan dokumentasi. Penelitian ini dilaksanakan dalam dua siklus dan masing-masing siklus terdiri dari empat kali pertemuan. Setiap siklus terdiri dari perencanaan, tindakan bersama observasi, dan refleksi. Hasil penelitian yaitu persentase pelaksanaan model pembelajaran kooperatif two stay two stray dan rokir (roda berfikir) oleh guru menunjukan bahwa 1) rata-rata skor efikasi diri pada siklus I adalah 29,8 dan meningkat menjadi 34,7 disiklus II; 2) persentase hasil belajar pada siklus I mencapai 70,83% dan meningkat menjadi 87,5% di siklus II. Berdasarkan kesimpulan dari hasil penelitian ini menunjukkan bahwa melalui penerapan model pembelajaran kooperatif two stay two stray dan rokir (roda berfikir)mampu meningkatkan pelaksanaan proses pembelajaran guru dan siswa serta dapat meningkatkan efikasi diri dan hasil belajar siswa pada pelajaran IPS di SMP Negeri 17 Kota Serang.
Menjejak Keseharian Etnis Tionghoa Madiun 1966’an-2000’an Hendra Afiyanto
Candrasangkala: Jurnal Pendidikan dan Sejarah Vol 5, No 2 (2019)
Publisher : Universitas Sultan Ageng Tirtayasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30870/candrasangkala.v5i2.6378

Abstract

ABSTRAKTulisan ini dibuat untuk mengetahui bagaimana konstruksi ulang identitas yang ditampilkan komunitas Tionghoa Madiun setelah pergantian rezim dari Orde Lama ke Orde Baru. Rentang waktu yang digunakan adalah 1966’an hingga 2000’an. Tahun 1966’an sebagai penanda secara kultural adanya pemaksaan untuk unifikasi orang-orang Tionghoa ke dalam masyarakat Indonesia. Sementara tahun 2000’an adalah masa reformasi yang diyakini sebagai penanda kebebasan orang-orang Tionghoa dalam berbagai aktivitas di masyarakat, yang ditandai dengan simbolisasi K.H. Abdurrahman Wahid sebagai bapak Tionghoa.Tulisan ini menggunakan metode sejarah ex-post factum sehingga sumber sejarah bisa ditelusi melalui wawancara dari para pelaku sejarah. Penulis juga menggunakan konsepsi dari Piere Nora terkait pengalaman dan memori mereka untuk melihat identitas yang digunakan dalam keseharian didua masa rezim. Bagaimana aktivitas ekonomi, bagaimana kultur yang harus dipaksa untuk sama dengan kultur masyarakat setempat, dan bentuk kebebasan setelah runtuhnya rezim orde baru. Dari sini nantinya bisa diliat tiap babak keseharian komunitas Tionghoa di Madiun yang membedakan dengan komunitas lainnya di Indonesia.Temuan tulisan ini secara garis besar adalah upaya negosiasi yang dilakukan komunitas Tionghoa Madiun untuk mempertahankan eksistensinya dari rezim. Negosiasi ini teraktualisasi menjadi simbol-simbol, baik secara ekonomi, kultural, dan sosial. Kata kunci: Komunitas Tionghoa; Madiun; Eksistensi; Rezim ABSTRACTThis article was create to reconstruct the identity of appereance Tionghoa ethnic of Madiun after a regime change. The year 1966’s was a cultural marker for Thionghoa ethnic unification into Indonesian society. And 2000’s was Reformation regime, marker for Tionghoa ethnic freedom on daily life, with KH. Abdurrahman Wahid as a Tionghoa’ father symbolism.This article use ex-post factum historical method, so historical evidence can be search with interview by historical actors. The author also use Piere Nora conception about experience and memories to see identity used of daily life into two regime. How about economic activities, how about culture coercion, and freedom forms after Orde Baru regime. From here we can see each parts in Tionghoa Ethnic Madiun daily life that distinguishes others.This conclusion of this article is negotiate efforts by ethnic Tionghoa Madiun to defend its existence from regime. This existence it actualized became symbols, such as economic, culture, and social.Keyword: Tionghoa Community; Madiun; Existence; Regime
Pengembangan Aplikasi Multimedia Interaktif Ekopedagogik Untuk Menumbuhkan Green Behaviour Bagi Mahasiswa Pada Mata Kuliah Sejarah Nasional Indonesia III Alian Sair; A. Asmaniar; E. Ermanovida; S. Syarifuddin
Candrasangkala: Jurnal Pendidikan dan Sejarah Vol 5, No 1 (2019)
Publisher : Universitas Sultan Ageng Tirtayasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30870/candrasangkala.v5i1.6086

Abstract

Penelitian ini berjudul “Pengembangan Aplikasi Multimedia Interaktif Ekopedagogik Untuk Menumbuhkan Green Behaviour bagi Mahasiswa Pada Mata Kuliah Sejarah Nasional Indonesia III” pada Program Studi Pendidikan Sejarah Universitas Sriwijaya. Penelitian ini merupakan jenis penelitian pengembangan yang menggunakan model pengembangan Akker. Adapun yang menjadi tujuan dalam penelitian ini adalah mengembangkan aplikasi multimedia interaktif menggunakan sistem Android untuk menumbuhkan Green Behaviour pada perkuliahan Sejarah Nasional Indonesia III. Berdasarkan respon dari para responden menunjukan aplikasi ECO-H mempermudah pemahaman akan keterkaitan ekopedagogi dan Green Behaviour dilihat dari sudut pandang kesejarahan karena didukung oleh gambar dan video. Secara keseluruhan aplikasi multimedia Eco-H memiliki efektifitas yang tinggi dan baik untuk digunakan sebagai penunjang pembelajaran/ perkuliahan untuk menerapkan Green Behaviour.
Republik Indonesia Serikat:Tinjauan Historis Hubungan Kausalitas Peristiwa-Peristiwa Pasca Kemerdekaan Terhadap Pembentukan Negara RIS (1945-1949) Irvan Tasnur; Muhammad Rijal Fadli
Candrasangkala: Jurnal Pendidikan dan Sejarah Vol 5, No 2 (2019)
Publisher : Universitas Sultan Ageng Tirtayasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30870/candrasangkala.v5i2.6599

Abstract

Artikel bertujuan untuk mengetahui hubungan kausalitas peristiwa-peristiwa pasca kemerdekaan dalam proses pembentukan negara RIS (Republik Indonesia Serikat). Berawal dari peristiwa proklamasi kemerdekaan pada tanggal 17 Agustus 1945 merupakan titik awal perjuangan untuk menjadi negara yang seutuhnya. Kedatangan Belanda pada tanggal 16 September 1945 dalam rangka untuk menanamkan kekuasaannya kembali ditentang oleh semua lapisan-lapisan masyarakat. Perlawanan-perlawananpun terjadi diberbagai daerah, perang dan diplomasi adalah dua jalan yang terus beriringan dalam proses penyelesaian sengketa. Propaganda sebagai alat yang mujarab digunakan oleh Belanda untuk memecah belah negara Indonesia, usaha tersebut kemudian berhasil dengan terbentuknya negara - negara federal (negara boneka bentukan Belanda). Diplomasi yang tidak kunjung mencapai kata sepakat, menjadi alasan pembenaran aksi agresi militer I dan II. Aksi tersebut menjadi sorotan dunia internasional yang kemudian mendesak pihak Belanda untuk mengakhiri konflik dengan menyelenggarakan KMB pada tanggal 23 Agustus 1949 di Den Hag, Belanda. Konsensuspun tercapai, 27 Desember 1949 Republik Indonesia Serikat Resmi dinyatakan berdiri. 
Sejarah Konflik Partai Persatuan Pembangunan di Masa Orde Baru Munawir Ariffin
Candrasangkala: Jurnal Pendidikan dan Sejarah Vol 5, No 1 (2019)
Publisher : Universitas Sultan Ageng Tirtayasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30870/candrasangkala.v5i1.6084

Abstract

Sejak kelahiran, Partai Persatuan Pembangunan sering dilanda konflik, baik berbentuk perorangan ataupun melahirkan faksi-faksi dalam konflik internal partai. Masa Orde Baru, konflik dan fragmentasi elit PPP dikarenakan perbedaan pendapat para elitnya. Selain dikarenakan perbedaan pendapat di pihak internal elit, konflik juga disebabkan oleh pelembagaan partai yang cenderung bersifat formal dalam menyelesaikan masalah konflik, termasuk juga ketika PPP seringkali sulit menyelesaikan masalah internal, sehingga memberi peluang pihak ekternal (pemerintah) melakukan campur tangan atau intervensi terhadap konflik PPP.
NILAI-NILAI SEJARAH SEBARAN SITUS PENINGGALAN MASA ISLAM DI PALEMBANG SEBAGAI SUMBER PEMBELAJARAN SEJARAH Kabib Sholeh; Aan Suriadi; Mariadi Mariadi
Candrasangkala: Jurnal Pendidikan dan Sejarah Vol 7, No 2 (2021)
Publisher : Universitas Sultan Ageng Tirtayasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30870/candrasangkala.v7i2.12083

Abstract

Tujuan penelitian ini adalah (1) mengidentifikasi sebaran situs-situs peninggalan masa Islam di Palembang, (2) mengidentifikasi nilai-nilai sejarah yang terkandung pada situs sejarah masa Islam di Palembang yang dapat dijadikan sebagai sumber pembelajaran sejarah. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode sejarah (metode historis): (1) Heuristik, berupa data lapangan dan data pustaka seperti jurnal, laporan hasil penelitian dan lain-lain, (2) Verifikasi data atau pemilahan data yang valid dan tidak valid sehingga data yang akan digunakan benar-benar dapat dipertanggungjawabkan. Setelah Verifikasi data sudah dilakukan maka dilaksanakannya (3) Interpretasi sejarah atau penafsiran sejarah secara integrasi dari data-data yang sudah didapat, maka langkah terakhir yaitu melakukan (4) Historiografi atau penyusunan dan penulisan sejarah. Palembang merupakan salah satu wilayah yang memiliki sejarah panjang terutama pada masa perkembangan Islam yaitu terdapat peninggalan situs-situs sejarah yang sangat penting. Sebaran situs-situs bersejarah masa Islam tersebut mengandung nilai-nilai sejarah seperti nilai keuletan dan perjuangan, nilai religious, nilai sosial dan budaya. Nilai-nilai sejarah tersebut tentu dapat dijadikan sebagai sumber pemeblajaran sejarah yang menarik dan penting untuk masa kini dan masa yang akan datang.
PENGUATAN PENDIDIKAN KARAKTER BERBASIS KEPEMIMPINAN KHARISMATIK SULTAN AGENG TIRTAYASA BAGI PESERTA DIDIK DI WILAYAH BANTEN Rochani Rochani; Achmad Hufad; Aan Hendrayana; Suroso Mukti Leksono
Candrasangkala: Jurnal Pendidikan dan Sejarah Vol 7, No 2 (2021)
Publisher : Universitas Sultan Ageng Tirtayasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30870/candrasangkala.v7i2.11634

Abstract

Kondisi masyarakat Indonesia khususnya di wilayah Banten saat ini mulai terjadi banyak perubahan, salah satu perubahan yang dirasakan yaitu lunturnya nilai karakter. Kondisi yang paling menyedihkan adalah masyarakat yang melupakan pahlawan dan ciri karakter pahlawan yang mewakili ciri masyarakat Indonesia. Peneletian ini bertujuan untuk menggali kembali karakter pahlawan lokal dalam hal ini Sultan Ageng Tirtayasa untuk ditanamkan kembali dalam dunia pendidikan. Metode penelitian yang digunakan adalah studi pustaka. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Sultan Ageng Tirtayasa memiliki banyak karakter positif yang menonjol diantaranya jujur, amanah, wibawa, adil, dan religius. Karakter tersebut sangat relevan dan penting untuk ditanamkan kembali dalam pendidikan.konsisi tersebut sejalan dengan program pemerintah untuk menjalankan Program Penguatan  Karakter dalam dunia pendidikan.
KOTA MULTIETNIS SUROSOWAN SEBAGAI LIVING MUSEUM: UPAYA PENDIDIKAN MULTIKULTURAL MELALUI PEMBELAJARAN SEJARAH KREATIF Nuhiyah Nuhiyah; Wawan Darmawan
Candrasangkala: Jurnal Pendidikan dan Sejarah Vol 7, No 2 (2021)
Publisher : Universitas Sultan Ageng Tirtayasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30870/candrasangkala.v7i2.11647

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pemanfaatan Living Museum Kota Multietnis Surosowan sebagai upaya pendidikan multikultural melalui pembelajaran sejarah. Implementasi pendidikan multikultural dalam pembelajaran sejarah membutuhkan kreatifitas guru untuk menginternalisasikan nilai-nilai multikulturalisme kepada siswa. Pemanfaatan Living Museum dapat menjadi salah satu alternatif pembelajaran sejarah kreatif. Salah satu situs sejarah yang dapat dimanfaatkan sebagai Living Museum guna mewujudkan pendidikan multikultural melalui pembelajaran sejarah kreatif adalah situs Kota Multietnis Surosowan. Situs Kota Multietnis Surosowan merupakan sebuah kota yang dibangun sejak masa Kesultanan Banten, terdiri dari pemukiman berbagai etnis dan agama yang sarat akan nilai harmonisasi antar etnis yang masih bisa kita jumpai hingga saat ini. Melalui Living Museum Kota Multietnis Surosowan, peserta didik dapat belajar tentang nilai-nilai kerukunan, toleransi dan harmonisasi antar etnis dan agama yang telah dirawat sejak masa Kesultanan Banten. Kegiatan ini membidik siswa untuk menjadi warga negara yang demokratis, pluralis, inklusif, menghargai HAM dan keadilan tanpa harus mengorbankan pembinaan sikap dan perilaku keberagamannya. Pelaksanaan pembelajaran berbasis Living Museum dapat dilakukan guru sejarah melalui metode karyawisata. Adapun model pembelajaran yang dapat diterapkan yaitu model pembelajaran berbasis proyek (project based learning) dan model pembelajaran kooperatif (cooperative learning). Artikel ini menyarankan penelitian lanjutan mengenai pembelajaran berbasis living museum lainnya.  

Page 9 of 14 | Total Record : 138