cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota kendari,
Sulawesi tenggara
INDONESIA
Jurnal Pembelajaran Berpikir Matematika
Published by Universitas Halu Oleo
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject :
Arjuna Subject : -
Articles 126 Documents
EFEKTIVITAS PENDEKATAN SCIENTIFIC PROBLEM POSING DAN PENDEKATAN SCIENTIFIC TERHADAP KEMAMPUAN PENALARAN DAN LITERASI MATEMATIS SISWA SMP Dangga, Sriwati; Sudia, Muhammad Sudia; Samparadja, Hafiludin
Jurnal Pembelajaran Berpikir Matematika (Journal of Mathematics Thinking Learning) Vol 2, No 2 (2017)
Publisher : Universitas Halu Oleo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (597.966 KB) | DOI: 10.33772/jpbm.v2i2.7666

Abstract

Abstrak: Penelitian ini didasarkan pada rendahnya penalaran dan literasi matematis yang menekankan pada kemampuan siswa untuk dapat menggunakan nalarnya dan kemampuan matematisnya dalam kehidupan sehari-hari. Sehingga tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui efektivitas pendekatan scientific problem posing dan pendekatan scientific terhadap kemampuan penalaran dan literasi matematis siswa. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh siswa kelas VIII SMP Negeri 5 Kendari yang terdiri dari 10 kelas paralel. Teknik pengambilan sampel dalam penelitian menggunakan teknik purposive random class. Penentuan kelas eksperimen dan kontrol dilakukan secara random dan diperoleh siswa kelas VIII-C yang terdiri dari 36 orang sebagai kelas eksperimen dan siswa kelas VIII-A  yang terdiri dari 36 orang sebagai kelas kontrol.Desain penelitian ini adalah posttest only control design. Instrumen penelitian meliputi tes kemampuan penalaran dan literasi matematis serta lembar observasi. Berdasarkan hasil analisis diperoleh informasi bahwa  (1) Kemampuan penalaran matematis siswa yang memperoleh pembelajaran menggunakan pendekatan scientific problem posing lebih baik daripada siswa yang memperoleh pembelajaran menggunakan pendekatan scientific; (2) Kemampuan literasi matematis siswa yang memperoleh pembelajaran menggunakan pendekatan scientific problem posing lebih baik daripada siswa yang memperoleh pembelajaran menggunakan pendekatan scientific, dan (3) Pendekatan scientific problem posing lebih efektif daripada pendekatan scientific terhadap kemampuan penalaran dan literasi matematis.Kata kunci: penalaran matematis, literasi matematis, scientifik problem posing, efektif. Abstract: This research is based on the low level of mathematical reasoning and literacy which emphasizes the ability of students to be able to use their reasoning and mathematical abilities in everyday life. So the purpose of this study was to determine the effectiveness of the scientific approach to problem posing and the scientific approach to students' mathematical reasoning and literacy abilities. The population in this study were all eighth grade students of SMP Negeri 5 Kendari of 10 parallel classes. The sampling technique in the study used a purposive random class technique. The determination of the experimental and control classes was done randomly and was obtained by students of class VIII-C consisting of 36 people as the experimental class and students of class VIII-A consisting of 36 people as a control class. The design of this study was posttest only control design. The research instruments included tests of mathematical reasoning and literacy abilities and observation sheets. Based on the analysis results obtained information that (1) Mathematical reasoning abilities of students who get learning using the scientific approach to problem posing is better than students who get learning using the scientific approach; (2) Mathematical literacy skills of students who have learned using the scientific approach to problem posing are better than students who have learned using the scientific approach, and (3) The problem posing scientific approach is more effective than the scientific approach to mathematical reasoning and literacy skills. Keywords: mathematical reasoning, mathematical literacy, scientific problem posing, effective.
Keefektifan Model Pembelajaran Berbasis Masalah Terstruktur Dan Tidak Terstruktur Terhadap Kemampuan Penalaran Matematika Siswa SMP Muli, La; Kodirun, Kodirun; Ruslan, Ruslan
Jurnal Pembelajaran Berpikir Matematika (Journal of Mathematics Thinking Learning) Vol 1, No 2 (2016)
Publisher : Universitas Halu Oleo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (436.409 KB) | DOI: 10.33772/jpbm.v1i2.8143

Abstract

Abstrak: Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji keefektifan model pembelajaran berbasis  masalah terstruktur dan tidak terstruktur terhadap kemampuan penalaran matematika siswa SMP. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh siswa kelas IX SMP Negeri 5 Kendari. Pengambilan sampel dalam penelitian ini menggunakan teknik random class. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan pemberian tes kemampuan penalaran matematik siswa berbentuk tes uraian dan lembar observasi. Data dianalisis  dengan menggunakan  statistik deskriptif  dan statistik inferensial  dengan uji hipotesis  menggunakan Uji F (One  Way  Anova)  dari  data  kemampuan penalaran matematik siswa. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) kemampuan penalaran matematik siswa yang diajar dengan model PBM terstruktur sebesar 71,05, siswa yang diajar dengan model PBM tidak terstruktur sebesar 58,08, dan siswa yang diajar dengan kombinasi  model PBM terstruktur dan PBM tidak terstruktur sebesar 60,16; (2) Ada perbedaan   kemampuan penalaran matematik antara siswa yang diajar dengan menggunakan model PBM terstruktur, PBM tidak terstruktur, dan kombinasi PBM terstruktur dan PBM tidak terstruktur; (3) Kemampuan penalaran matematik siswa yang diajar dengan  menggunakan  model  PBM terstruktur  lebih baik dari siswa  yang yang diajar dengan menggunakan  model PBM tidak terstruktur;  (4) Kemampuan  penalaran matematik  siswa yang diajar dengan menggunakan  model PBM terstruktur  lebih baik dari siswa  yang yang diajar dengan  menggunakan  kombinasi  model PBM terstruktur dan  PBM  tidak  terstruktur;  dan (5) Tidak  terdapat  perbedaan  kemampuan  penalaran matematik antara siswa yang diajar dengan menggunakan model PBM tidak terstruktur dan  siswa  yang  diajar  dengan  menggunakan  kombinasi  model  PBM  terstruktur  dan PBM tidak terstrukturKata kunci: penalaran matematik, pembelajaran terstruktur dan pembelajaran terstruktur tidak terstruktur.    Abstract: This study aims to examine the effectiveness of structured and unstructured problem-based learning models on mathematical reasoning abilities of junior high school students. The population in this study were all IX grade students of SMP Negeri 5 Kendari. Sampling in this study uses a random class technique. Data collection techniques were carried out by giving the students a mathematical reasoning ability test in the form of a description test and observation sheet. Data were analyzed using descriptive statistics and inferential statistics by testing hypotheses using the F (One Way Anova) test from the data of students' mathematical reasoning abilities. The results showed that: (1) mathematical reasoning abilities of students taught with a structured PBM model amounted to 71.05, students taught with an unstructured PBM model amounted to 58.08, and students taught with a combination of structured PBM models and PBMs were not structured as large as 60,16; (2) There are differences in mathematical reasoning abilities between students taught using a structured PBM model, unstructured PBM, and a combination of structured PBM and unstructured PBM; (3) Mathematical reasoning abilities of students taught using a structured PBM model are better than students who are taught using an unstructured PBM model; (4) Mathematical reasoning abilities of students taught using structured PBM models are better than students who are taught using a combination of structured PBM models and unstructured PBMs; and (5) There is no difference in mathematical reasoning abilities between students taught using unstructured PBM models and students taught using a combination of structured PBM models and unstructured PBM Keywords: mathematical reasoning, structured learning and structured structured learning.
Eksplorasi Konsep Etnomatematika Geometri dalam Permainan Tradisional Anak Masyarakat Poogalampa Buton Selatan Nurbianti K, Nining; Fahinu, Fahinu; Kadir, Kadir
Jurnal Pembelajaran Berpikir Matematika (Journal of Mathematics Thinking Learning) Vol 4, No 2 (2019)
Publisher : Universitas Halu Oleo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (418.152 KB) | DOI: 10.33772/jpbm.v4i2.8788

Abstract

Abstrak: Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis konsep etnomatematika geometri yang terkandung pada permainan tradisional anak masyarakat Poogalampa Buton Selatan. Teknik pengumpulan data penelitian ini adalah wawancara semi terstruktur. Pemeriksaan keabsahan data dilakukan dengan triangulasi sumber. Hasil penelitian menunjukkan bahwa di dalam permainan tradisional anak masyarakat Poogalampa Buton Selatan terdapat beberapa bentuk geometri yang memuat konsep-konsep: (a) Bola; (b) Trapesium; (c) Persegi panjang; (d) Segitiga. Permainan tradisional anak yang dimaksud adalah kasede-sede, ase, pekatende, kabawa-bawa, dan baguli. Konsep geometri yang digunakan dalam permainan tradisional anak masyarakat Poogalampa Buton Selatan tersebut mempunyai kesamaan dengan konsep matematika formal di Sekolah Dasar.Kata kunci: Etnomatematika, Permainan Tradisional Anak Abstract: This study aims to analyze the concept of geometrical ethnomatematics contained in the traditional games of the children of the South Poogalampa community of Buton. The data collection technique of this study was a semi-structured interview. Checking the validity of the data is done by triangulating the source. The results of the study showed that in the traditional games of children of the South Poogalampa community of Buton, there are several geometric shapes containing concepts: (a) Ball; (b) Trapezoid; (c) Rectangle; (d) Triangles. The concept of geometry used in traditional games of the children of South Poogalampa community of Buton has similarities with the concept of formal mathematics in elementary schools. Keywords: Ethnomatematics, Traditional Games of Children
Efektivitas Pendekatan Pembelajaran Matematika Realistik (PMR) Terhadap Hasil Belajar Matematika Siswa Sekolah Dasar R, Rasmiati; Anggo, Mustamin; Kodirun, Kodirun
Jurnal Pembelajaran Berpikir Matematika (Journal of Mathematics Thinking Learning) Vol 3, No 2 (2018): Terbitan tahun ketiga
Publisher : Universitas Halu Oleo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1159.113 KB) | DOI: 10.33772/jpbm.v3i2.5731

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menguji efektivitas pendekatan pembelajaran matematika realistik terhadap hasil belajar matematika siswa. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh siswa kelas V di SD Negeri 48 Eemokolo dan SD Negeri 18 Tedubara dengan jumlah siswa 104 orang. Pengambilan sampel kelas dilakukan dengan menggunakan dua teknik, yaitu purposive sampling dan random sampling. Teknik analisis data menggunakan statistik deskriptif dan statistik inferensial pada . Hasil penelitian menunjukkan bahwa rata-rata hasil belajar matematika siswa kelas V di SD Negeri 48 Eemokolo dan SD Negeri 18 Tedubara mengalami peningkatan setelah diberikan perlakuan. Proses pembelajaran dengan pendekatan matematika realistik dan pembelajaran langsung terlaksana dengan baik, siswa terlibat dalam menyelesaikan masalah yang diberikan. Secara signifikan, siswa yang diajar dengan pendekatan pembelajaran matematika realistik memperoleh hasil belajar yang lebih tinggi dibandingkan dengan siswa yang diajar dengan pembelajara langsung. Jadi, penerapan pendekatan pembelajaran matematka realistik lebih efektif daripada penerapan pembelajaran langsung terhadap hasil belajar matematika.
Pengaruh Pembelajaran Problem Posing terhadap Kemampuan Pemecahan Masalah Matematis Siswa Rasmin, Rasmin; Sudia, Muhammad; Kadir, Kadir
Jurnal Pembelajaran Berpikir Matematika (Journal of Mathematics Thinking Learning) Vol 3, No 2 (2018): Terbitan tahun ketiga
Publisher : Universitas Halu Oleo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (101.982 KB) | DOI: 10.33772/jpbm.v3i2.5736

Abstract

Hasil tes awal di SMP Negeri 1 Kulisusu Utara menunjukkan bahwa kemampuan pemecahan masalah matematis siswa sangat rendah. Dari hasil observasi dan wawancara, diketahui penyebab rendahnya kemampuan pemecahan masalah matematis siswa adalah dalam pembelajaran siswa tidak dibiasakan dengan soal-soal pemecahan masalah matematis, siswa tidak dibiasakan belajar dan bekerjasama kelompok, serta siswa tidak dilatih untuk membuat permasalahan dari materi yang dipelajarinya. Berdasarkan penyebab rendahnya kemampuan pemecahan masalah matematis siswa tersebut, maka dilakukan penelitian ini dengan tujuan untuk melihat pengaruh pembelajaran problem posing terhadap kemampuan pemecahan masalah matematis siswa. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimen, dengan membandingkan kelas eksperimen yang diajar dengan pembelajaran problem posing dan kelas kontrol yang diajar dengan pembelajaran langsung. Populasi penelitian ini adalah siswa kelas VIII SMP Negeri 1 Kulisusu Utara. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat pengaruh signifikan kemampuan pemecahan masalah matematis siswa yang diajar dengan pembelajaran problem posing dibandingkan dengan siswa yang diajar dengan pembelajaran langsung.
Kemampuan Calon Guru Dalam Mengajukan Soal Cerita Kontekstual Tentang Penjumlahan Pecahan La Hadi, Amanda; Cahyono, Edi; Kadir, Kadir
Jurnal Pembelajaran Berpikir Matematika (Journal of Mathematics Thinking Learning) Vol 2, No 2 (2017)
Publisher : Universitas Halu Oleo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (658.684 KB) | DOI: 10.33772/jpbm.v2i2.6858

Abstract

Abstrak: Kelemahan siswa dalam memahami soal cerita khususnya pada materi pecahan, telah menjadi salah satu penghambat terbesar dalam perkembangan pembelajaran matematika di Indonesia. Berdasarkan hal ini, diperlukan adanya investigasi mendalam terhadap bagaimana guru dan calon guru dalam mengajarkan konsep pecahan dengan menggunakan soal cerita. Tigapuluh empat calon guru matematika diminta mengajukan soal cerita kontekstual yang solusinya dapat diperoleh dari menghitung  dtambah dengan . Data terdiri dari protokol verbal bersama dengan catatan tertulis yang dibuat oleh subjek.  Analisis kualitatif dari data yg diperoleh fokus pada mengidentifikasi struktur dari soal yang dihasilkan dan jenis konteks yang umumnya digunakan oleh subjek. Hasil penelitian menunjukkan bahwa konteks yang paling banyak digunakan dalam soal cerita yang diajukan adalah pembagian kue, berat benda, dan pengukuran panjang. Struktur soal cerita kontekstual yang dihasilkan oleh calon guru matematika memiliki kelemahan dalam dua komponen yaitu: 1) dalam mengajukan konteks yang sesuai; dan 2) dalam memberikan informasi yang cukup sehingga solusi dari masalah yang diajukan dapat diperoleh dengan menerapkan konsep aritmatika  dtambah dengan . Hasil ini menunjukkan temuan baru tentang kesulitan calon guru dalam konseptualasasi pecahan.Kata kunci: Calon Guru Matematika, Pengajuan Masalah, Kontekstual, Soal Cerita, Penjumlahan Pecahan Abstract: Students’ weakness in understanding story problem especially abaout fraction, has become one of the greatest obstacle on development of mathematics education in Indonesia. Based on this information, be required a deep investigations towards how a teacher or prospective teacher in teaching concepts of fractions used story problems. Thirty-four mathematics prospective teachers were asked to posing a contextual word problem whose solution could be found by computing  added by . The data consisted of verbal protocols along with the written notes made by the subjects. The qualitative analysis of the data was focused on identifying the structures of the problems produced and the type context commonly used by the subjects. The results suggest that the most frequent context used in soal cerita kontekstual proposed were cake division, weight of object, area measurement, and length measurement. The structure of soal cerita kontekstual produced by candidate teachers of mathematics were found to be weak in two components, namely: in proposing appropriate contexts; and 2) in give sufficient information so that solution of the problems could be obtained using arithmetic concepts of   added by . The study sheds new light on the teachers’ difficulties with conceptualization of fractions. Keywords: Prospective Teacher, Probem Posing, Contextual, Story Problem, Addition of Fractions.
Proses Berpikir Siswa SMA Dalam Memecahkan Masalah Matematik Dengan Scaffolding Ditinjau Dari Perbedaan Gaya Kognitif dan Gender Daya, La; Lambertus, Lambertus; Sudia, Muhammad
Jurnal Pembelajaran Berpikir Matematika (Journal of Mathematics Thinking Learning) Vol 2, No 1 (2017): Terbitan tahun kedua
Publisher : Universitas Halu Oleo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (344.45 KB) | DOI: 10.33772/jpbm.v2i1.7017

Abstract

Abstrak: Penelitian ini bertujuan untuk mengungkap proses berpikir siswa SMA dalam memecahkan masalah matematik dengan Scaffolding ditinjau dari perbedaan gaya kognitif dan gender. Jenis penelitian ini adalah penelitian deskriptif ? kualitatif. Teknik analisis data dalam penelitian ini ada tiga tahap: (1) reduksi data, (2) penyajian data (3) penafsiran dan penarikan kesimpulan. Berdasarkan hasil analisis data dan pengamatan dalam penelitian diketahui bahwa: 1) pada tahap memehami masalah empat subjek cenderung tipe berpikirnya konseptual, hanya subjek reflektif perempuan yang diberikan scaffolding sampai masalah benar-benar dipahami. 2) pada tahap merencanakan penyelesaian keempat subjek cenderung tipe berpikirnya konseptual, 3) pada tahap melaksanakan rencana 2 subjek impulsif terburu-buru menyelesaikan masalah, sehingga penyelesaiannya cenderung salah, namun dengan scaffolding impulsif perempuan mampu menyelesaikan rencana dengan benar sedangkan impulsif laki-laki penyelesaiannya cenderung salah, pada tahap ini tiga subjek cenderung tipe berpikirnya konseptual dan subjek impulsif laki-laki cenderung semikonseptual,4) tahap memeriksa kembali, tiga subjek cenderung tipe berpikirnya konseptual sedangkan subjek impulsif laki-laki tipe berpikirnya cenderung komputasional. Dalam penelitian ini tidak dapat didefenisikan perbedaan proses berpikir ditinjau dari gender. Scaffolding dapat dianggap penting dalam pemecahan masalah matematik.Kata Kunci: Proses berpikir matematik, gaya kognitif, scaffolding, pemecahan masalah matematik, genderAbstract: This study aims to uncover the process of thinking of senior-high school students in solving mathematic problem with scaffolding, viewed in the perspective of different cognitive style and gender. This study is descriptive qualitative. Data analysis technique used in this study consists of three stages: (1) data reduction; (2) data presentation; and (3) the interpretation and concluding. Based on the result of data analysis and observation during the research, it can be justified that (1) a conceptual thinking occurred within the effort to understand the problem and scaffolding only was given to female reflective students in the purpose of understanding the problem clearly; (2) conceptual thinking tended to be used by all subjects in the phase of planned solving problem; (3) with regard to the completeness of the problem, two impulsive subjects are frequently doing mistakes. The implementation of scaffolding, however, makes female impulsive learners capable of solving the problem, while the reverse was seen in male impulsive students. Whereas three subjects tended to show a conceptual thought, semi-conceptual thought showed in male impulsive students; and (4) when it comes revision phase, a conceptual thought was indicated in three subjects while a computational witnessed in male impulsive subjects. The distinction of thinking process according to gender cannot be defined and scaffolding has been proven to help students solve any problem faced.       Keyword: Mathematic thinking process, cognitive form, scaffolding, mathematic problem solving, gender
Analisis Kemampuan Pemecahan Masalah Matematis Ditinjau dari Gaya Belajar Siswa Umrana, Umrana; Cahyono, Edi; Sudia, Muhammad
Jurnal Pembelajaran Berpikir Matematika (Journal of Mathematics Thinking Learning) Vol 4, No 1 (2019)
Publisher : Universitas Halu Oleo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (192.977 KB) | DOI: 10.33772/jpbm.v4i1.7102

Abstract

Abstrak: Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh deskripsi tentang kemampuan pemecahan masalah matematis ditinjau dari gaya belajar siwa. Untuk mempermudah pendeskripsian pemecahan masalah menggunakan pentahapan Polya yaitu (1) memahami masalah, (2) membuat rencana pemecahan maslah, (3) melaksanakan rencana pemecahan masalah, dan (4) memeriksa kemabali hasil pemecahan masalah. Subjek penelitian terdiri dari 3 orang siswa yang masing-masing 1 siswa bergaya belajar visual, 1 siswa bergaya belajar auditorial dan 1 siswa bergaya belajar kinestetik. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah angket gaya belajar, tes tertulis dan wawancara. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa: 1) Kemampuan pemecahan masalah matematis siswa yang bergaya belajar visual menurut pentahapan Polya mampu dengan baik dalam memahami masalah, merencanakan pemecahan masalah, melaksanakan rencana pemecahan masalah dan memeriksa kembali hasil jawaban, 2) Kemampuan pemecahan masalah matematis siswa yang bergaya belajar auditori menurut pentahapan Polya mampu dengan baik dalam memahami masalah, membuat rencana pemecahan masalah, melaksanakan rencana pemecahan masalah dan memeriksa kembali hasil pemecahan masalah, 3) Kemampuan pemecahan masalah matematis siswa yang bergaya belajar kinestetik menurut pentahapan Polya mampu dengan baik dalam memahami masalah, dan membuat rencana pemecahan masalah, kurang mampu  melaksanakan rencana pemecahan masalah pada indikator kemampuan melakukan perhitungan sesuai dengan rumus yang diguanaka utamanya pada perkalian dan pembagian, serta kurang  mampu memeriksa kembali hasil pemecahan masalahKata kunci: Pemecahan Masalah Matematis Dan Gaya Belajar Abstract: This study aims to obtain data description of the ability to solve mathematical problems in terms of student learning styles. To simplify the description of problem solving using Polya's phasing, (1) understanding the problem, (2) devising a plan, (3) carrying out the plan, and (4) looking back. Sample of the study are 3 students, each of whom had 1 student in visual learning style, 1 student in auditory learning style and 1 student in kinesthetic learning style. Data were obtain by learning style questionnaires, written tests and interviews. The results of the study it can be concluded that: 1) Mathematical problem solving abilities of students who is in visual learning style according to Polya's phasing are able to understanding the  problem well, can devise a plan, can devising a plan, can carrying out the plan and can looking back, 2) The mathematical problem solving abilities of students who is auditory learning style according to Polya's phasing are able to understand problem, can devising a plan even though there is a wrong formula, can carrying out the plan and can looking back, 3) Mathematical problem solving abilities of students who is kinesthetik learning according to Polya's phasing are able to understand problem, can devising a plan even though there is a wrong formula, less able to implement carrying out the plan that are indicator calculation according to the formula which is particularly suitable for multiplication and divison, have not been able to re-examine the looking back. Keywords: Mathematical Problem Solving And Learning Style
Analisis Proses Berpikir Siswa SMP Dalam Memecahkan Masalah Matematik Ditinjau Dari Gaya Kognitif Dan Gender Wahyuningsih, Sri; Sani, Asrul; Sudia, Muhammad
Jurnal Pembelajaran Berpikir Matematika (Journal of Mathematics Thinking Learning) Vol 4, No 1 (2019)
Publisher : Universitas Halu Oleo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (262.252 KB) | DOI: 10.33772/jpbm.v4i1.7171

Abstract

Abstrak: Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji proses berpikir siswa SMP dalam memecahkan masalah matematika ditinjau dari gaya kognitif dan gender. Jenis penelitian ini adalah penelitian eksploratif dengan pendekatan kualitatif. Berdasarkan hasil analisis data dan pengamatan dalam penelitian diketahui bahwa: 1) pada tahap memahami masalah ketiga subjek penelitian cenderung proses berpikir konseptual, dan untuk subjek impulsif laki-laki cenderung proses berpikir semikonseptual. 2) pada tahap merencanakan penyelesaian, keempat subjek penelitian cenderung proses berpikirnya konseptual. 3) pada tahap melaksanakan rencana, subjek reflektif laki-laki dan perempuan cenderung proses berpikirnya konseptual, hanya subjek reflektif perempuan diberi pertanyaan tambahan hingga menyadari kekeliruannya. Sedangkan subjek impulsif laki-laki dan perempuan cenderung proses berpikirnya semikonseptual karena kurang mampu dalam menyelesaikan permasalahan dengan menggunakan konsep yang telah dipelajari. 4) pada tahap memeriksa kembali, ketiga subjek penelitian cenderung proses berpikir konseptual sedangkan impulsif laki-laki cenderung proses berpikirnya semikonseptual. Sehingga dapat disimpulkan bahwa proses berpikir siswa dalam memecahkan suatu masalah memiliki karakteristik yang berbeda dilihat dari gaya kognitif dan gender.Kata kunci: Proses berpikir matematik, Gaya Kognitif, Pemecahan Masalah Matematik, GenderAbstract: This study aims to examine the thinking process of junior high school students in solving mathematical problems in terms of cognitive style and gender. This type of research is exploratory research with a qualitative approach. The data analysis technique in this study consisted of three stages: (1) data reduction, (2) data presentation (3) interpretation and conclusion. Based on the results of data analysis and observations in the study, it was found that: 1) at the stage of understanding the problems, the three research subjects tended to involve conceptual thinking processes, and male impulsive subjects tended to involve semiconseptual thinking processes. 2) at the stage of planning completion, the four research subjects tended to involve conceptual thinking processes. 3) at the stage of carrying out the plan, male and female reflective subjects tended to involve conceptual thinking processes, only the reflective subjects women were given additional questions to realize their mistakes. In addition, impulsive subjects of men and women tended to involve semiconseptual thinking processes because they were less able to solve problems using concepts that had been learned. 4) at the re-examination stage, the three research subjects tended to involve conceptual thinking processes while impulsive men tended to involve semiconseptual thinking processes. Therefore, it can be concluded that the students thinking process in solving mathematical problems can vary depending on cognitive style and gender. Keywords: Mathematical Thingking Process, Cognitive Style, Mathematical Problem Solving, Gender
Analisis Kemampuan Berpikir Aljabar Siswa SMP yang Bergaya Kognitif Impulsif – Reflektif Ditinjau dari Gender Faranita, Sitti; Kadir, Kadir; Sudia, Muhammad
Jurnal Pembelajaran Berpikir Matematika (Journal of Mathematics Thinking Learning) Vol 3, No 1 (2018)
Publisher : Universitas Halu Oleo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (512.399 KB) | DOI: 10.33772/jpbm.v3i1.7241

Abstract

Abstrak: Kemampuan berpikir aljabar (KBA) merupakan kemampuan menggeneralisasi pengalaman tentang bilangan dan perhitungan, menemukan konsep dari pola dan fungsi serta membentuk ide dengan menggunakan simbol. Berpikir aljabar menjadi salah satu cara istimewa dalam menginterpretasikan dunia. Penelitian ini bertujuan untuk mengungkap kemampuan berpikir aljabar siswa SMP Negeri 9 Kendari yang bergaya kognitif impulsif-reflektif yang ditinjau dari gender. Jenis penelitian ini adalah penelitian deskriptif – kualitatif. Subjek penelitian diperoleh melalui Matching Familiar Figure Test (MFFT) yang dikembangkan Warli. Hasil MFFT mengelompokkan siswa menjadi kelompok siswa bergaya kognitif impulsif dan kelompok siswa yang bergaya kognitif reflektif. Instrumen utama penelitian ini adalah peneliti, dan instrumen bantunya adalah tes gaya kognitif MFFT, tugas KBA, dan pedoman wawancara. Kemampuan berpikir aljabar siswa dalam penelitian ini diidentifikasi melalui 4 indikator KBA oleh Manly dan Ginsburg. Teknik analisis data dilakukan dalam tiga tahap: (1) reduksi data, (2) penyajian data, dan (3) penafsiran dan penarikan kesimpulan. Berdasarkan hasil analisis data disimpulkan bahwa indikator KBA yang hanya dicapai oleh satu subjek oleh RP adalah indikator 2 (generalisasi dengan menggunakan simbol untuk variabel kuantitas) dan oleh satu subjek oleh RL adalah indikator 3 (menyatakan kembali hubungan sistematis dengan tabel, grafik atau persamaan). Sedangkan indikator yang dapat dicapai oleh tiga subjek adalah indikator 1 (menemukan pola dan keteraturan untuk menyatakan suatu situasi) untuk subjek IL, RL, dan RP serta indikator 4 (penalaran logis untuk menyelesaikan suatu masalah) untuk subjek IP, RL, dan RP.Kata kunci: Kemampuan berpikir aljabar, gaya kognitif, gender. Abstract: Algebraic thinking ability (ATA) is an ability to generalize experiences in number and computation, to find a concept out of a pattern and function, as well as to form ideas by using symbol. This study aimed to reveal the algebraic thinking ability of junior high school students at SMP Negeri 9 Kendari who possess impulsive-reflective cognitive ability as viewed from gender. The type of the study was a descriptive qualitative research. Subjects of the study were acquired through Matching Familiar Figure Test (MFFT) which was developed by Warli. Result of the MFFT grouped students into impulsive cognitive style and reflective cognitive style. The main instrument of the study was the researcher, and the aiding instruments were a test of MFFT cognitive style, assignment for ATA, and interview guideline. The students’ ability of algebraic thinking in this study was identified trough four indicators of ATA by Manly and Ginsburg. Data analysis was run in three stages: (1) data reduction, (2) data presentation, and (3) interpretation and conclusion drawing. Based on the results of data analysis, it was concluded that two indicators of ATA were met by only one subject, i.e. RP,which was indicator 2 (generalization using symbol of quantitative variable) and by one subject, RL, which was indicator 3 (restate systematic relationship using table, graph, or equation). Indicator that could be achieved by three subjects were indicator 1 (find a pattern and order to state a situation) by subject IL, RL, and RP as well as indicator 4 (logical deduction to solve a problem) by subject IP, RL, and RP. Keywords: Algebraic thinking ability, cognitive style, gender.

Page 3 of 13 | Total Record : 126