cover
Contact Name
Very Julianto
Contact Email
jpsi@uin-suka.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
very_psi07@yahoo.com
Editorial Address
-
Location
Kab. sleman,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Jurnal Psikologi Integratif
ISSN : 23562145     EISSN : 25807331     DOI : -
Core Subject : Social,
This journal is focusing on providing the public with understandings of integrated psychological studies and presenting researches and developments in psychology by articles and reviews. Psikologi Integratif scopes in particular psychological studies in general studies and integrated studies. This journal intends to bring up current issues in psychology subject by contributing to public with researches from psychology and related disciplines.
Arjuna Subject : -
Articles 186 Documents
Relaksasi dan Katarsis Singkat Daring bagi Peningkatan Kebersyukuran dan Penurunan Stres Pengasuhan Amalia Rahmandani; Yohanis Franz La Kahija
Jurnal Psikologi Integratif Vol 10, No 1 (2022): Psikologi Integratif
Publisher : UIN Sunan Kalijaga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/jpsi.v10i1.2258

Abstract

Parenting stress risks causing traumatic events, even complex, in the child which further hinder their development. The psychological burdens that cause parenting stress can be released with gratitude and through relaxation and catharsis techniques. This study aims to examine the effect of online brief interventions of relaxation and catharsis on gratitude and parenting stress. The research was conducted with a quasi-experimental one-group pretest-posttest design and instruments of the Gratitude (α=0,765; D= 0,455-0,620) and the Parenting Stress Scale (α=0,800; D= 0,283-0,693). Participants were 7 parents of elementary school students obtained by convenience sampling (MAge=41,14; SDAge= 4,95; Female=85,71%). The results of the Wilcoxon Signed Rank Test inferential statistical test showed no significant increase in gratitude as well as decrease in parenting stress. However, further data analysis found an outlier among participants. Reexamination by removing an outlier showed a significant effect of the intervention on reducing parenting stress.Abstrak. Stres pengasuhan berisiko mengakibatkan peristiwa traumatik, bahkan kompleks, pada anak yang selanjutnya menghambat tumbuh kembangnya. Beban psikologis penyebab stres pengasuhan dapat dilepaskan dengan kebersyukuran dan melalui teknik relaksasi dan katarsis. Penelitian ini bertujuan menguji pengaruh intervensi relaksasi dan katarsis singkat daring terhadap kebersyukuran dan stres pengasuhan. Penelitian dilakukan dengan eksperimen kuasi one-group pretest-posttest design serta instrumen Skala Kebersyukuran (α=0,765; D= 0,455-0,620) dan Skala Stres Pengasuhan (α=0,800; D= 0,283-0,693). Partisipan adalah 7 orangtua dari siswa sekolah dasar yang diperoleh secara convenience sampling (MUsia=41,14; SDUsia= 4,95; Perempuan=85,71%). Hasil pengujian statistik inferensial Wilcoxon Signed Rank Test menunjukkan tidak adanya peningkatan kebersyukuran dan penurunan stres pengasuhan secara signifikan. Meski demikian, analisis data lebih lanjut menemukan pencilan di antara partisipan. Pengujian ulang dengan menghilangkan data pencilan menunjukkan pengaruh signifikan intervensi terhadap penurunan stres pengasuhan.
Peran Kognisi Sosial dan Schadenfreude Terhadap Empati Pada Mahasiswa Universitas Negeri Malang Hanum Putryani Widayati; Ika Andrini Farida
Jurnal Psikologi Integratif Vol 10, No 1 (2022): Psikologi Integratif
Publisher : UIN Sunan Kalijaga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/jpsi.v10i1.2261

Abstract

Empathy is very important not only in social life but also to create communication in counseling in the field of psychology and counseling guidance. The emergence of empathy in an individual can be influenced by social cognition and schadenfreude. For this reason, the objective of this study was to clarify the role of social cognition and schadenfreude in empathy in State University of Malang undergraduate students majoring in psychology and counseling guidance. This study was quantitative with a correlational approach. This study also uses several measuring instruments such as The Edinburgh Social Cognition Test (ESCoT) to measure social cognition, the Schadenfreude measuring instrument created by Alison Baren to measure Schadenfreude, and the Interpersonal Reactivity Index (IRI) to measure empathy. Hypothesis testing was conducted using multiple regression analysis. The results found that there was a role for social cognition and Schadenfreude on empathy which shows that the greater the social cognition ability, the better the empathy ability. However, increases in Schadenfreude behavior can reduce the ability to empathize. This study can be used as a reference for creating modules for psychology majors, guidance and counseling majors, and other parties to increase empathy in individuals by training social cognition skills. Abstrak. Empati merupakan hal yang penting dalam kehidupan sosial. Empati sangat dibutuhkan dalam proses konseling psikologi. Munculnya empati pada seseorang dapat dipengaruhi oleh kognisi sosial dan schadenfreude. Penelitian ini bertujuan untuk mengklarifikasi peran kognisi sosial dan schadenfreude dengan empati pada mahasiswa program sarjana jurusan Psikologi dan Bimbingan Konseling Universitas Negeri Malang. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan metode korelasi. Alat ukur yang digunakan yaitu The Edinburgh Social Cognition Test (ESCoT) untuk mengukur kognisi sosial, alat ukur Schadenfreude yang dibuat oleh Alison Baren untuk mengukur schadenfreude, dan Interpersonal Reactivity Index (IRI) untuk mengukur empati. Pengujian hipotesis dilakukan dengan analisis regresi berganda. Hasil penelitian menunjukkan terdapat peran kognisi sosial dan schadenfreude terhadap empati. Dimana hal tersebut menunjukkan bahwa semakin baik kemampuan kognisi sosial, maka akan semakin baik pula kemampuan empati yang dimiliki. Namun, apabila perilaku schadenfreude yang dimiliki tinggi, maka hal tersebut dapat menurunkan kemampuan empati yang dimiliki. Penelitian ini dapat menjadi referensi pembuatan modul bagi jurusan psikologi, jurusan bimbingan dan konseling, serta pihak lainnya untuk meningkatkan empati pada seseorang dengan cara melatih kemampuan kognisi sosial.
The Quality of Lecturer-Student Interaction as Predictors of Academic Achievement and Percieved Learning with Emotional Engagement as Mediator Maya Fitria; Koentjoro Koentjoro; Wenty Marina Minza
Jurnal Psikologi Integratif Vol 10, No 1 (2022): Psikologi Integratif
Publisher : UIN Sunan Kalijaga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/jpsi.v10i1.2456

Abstract

This study aimed to examine the fitness of a model that proposes the relationship between the quality of student-teacher interaction as predictors of academic achievement and perceived learning with emotional engagement as a mediator. Lecture-student interactions as the exogenous variable were measured with the Lecturer-student Interaction (LSI) questionnaire that contains four aspects: autonomy support, emotional support, academic support, and the framework used to measure the quality of lecturer-student interaction. The emotional involvements of students during lectures as the endogenous variable are the emotions (pleasure, boredom, despair, anger, hope, anxiety) that are often expressed in the lecture process. Emotional engagement is considered as the mediator variable. Perceived learning as the dependent variable is related to the ability of lecturers to arouse students' curiosity about the lecture material. The second dependent variable is academic achievement which is determined by the cumulative index report (GPA) from the previous semester. 270 students from many universities in Indonesia filled out the questionnaire. The conceptual model proposed in this study is incompatible with empirical data in the field. In the first model, lecturer-student interaction influences perceived learning mediated by emotional engagement because lecturer-student interaction will only significantly influence perceived learning through emotional engagement (full mediation). Directly and through mediation of emotional involvement, the influence of lecturer-student interaction variables is not significant on academic achievement. In the modified model, lecturer-student interaction influences perceived learning with emotional engagement and also significantly influences perceived learning without emotional involvement variables (partial mediation). The dynamics of the lecturer-student interaction relationship, emotional engagement, and academic achievement in this modified model remain the same as the first model. Abstrak. Penelitian ini bertujuan untuk menguji kesesuaian model yang mengusulkan hubungan antara kualitas interaksi siswa-guru sebagai prediktor prestasi akademik dan pembelajaran yang dirasakan dengan keterlibatan emosional sebagai mediator. Interaksi dosen-mahasiswa sebagai variabel eksogen diukur dengan kuesioner Interaksi Dosen-Mahasiswa (LSI) yang memuat empat aspek: dukungan otonomi, dukungan emosional, dukungan akademik, dan kerangka yang digunakan untuk mengukur kualitas interaksi dosen-mahasiswa. Keterlibatan emosional mahasiswa selama perkuliahan sebagai variabel endogen adalah emosi (senang, bosan, putus asa, marah, harap, cemas) yang sering diungkapkan dalam proses perkuliahan. Keterlibatan emosional dianggap sebagai variabel mediator. Persepsi pembelajaran sebagai variabel terikat berkaitan dengan kemampuan dosen membangkitkan rasa ingin tahu mahasiswa terhadap materi perkuliahan. Variabel terikat kedua adalah prestasi akademik yang ditentukan oleh Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) semester sebelumnya. 270 mahasiswa dari berbagai universitas di Indonesia mengisi kuesioner. Model konseptual yang diajukan dalam penelitian ini tidak sesuai dengan data empiris di lapangan. Pada model pertama, interaksi dosen-mahasiswa mempengaruhi persepsi pembelajaran yang dimediasi oleh emotional engagement karena interaksi dosen-mahasiswa hanya akan berpengaruh signifikan terhadap persepsi pembelajaran melalui emotional engagement (full mediation). Secara langsung dan melalui mediasi keterlibatan emosional, pengaruh variabel interaksi dosen-mahasiswa tidak signifikan terhadap prestasi belajar. Pada model yang dimodifikasi, interaksi dosen-mahasiswa mempengaruhi pembelajaran yang dirasakan dengan keterlibatan emosional dan juga secara signifikan mempengaruhi variabel pembelajaran yang dirasakan tanpa keterlibatan emosional (mediasi parsial). Dinamika hubungan interaksi dosen-mahasiswa, emosional engagement, dan prestasi akademik pada model modifikasi ini tetap sama dengan model pertama.
Family Resilience of The Aspiring Middleclass Facing Covid-19: A Mixed Method Study Ade Iva Murty; Charyna Ayu Rizkyanti; Andita Putri Ramadhania; Safira Binar Anjani; Dienia Airlia
Jurnal Psikologi Integratif Vol 10, No 1 (2022): Psikologi Integratif
Publisher : UIN Sunan Kalijaga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/jpsi.v10i1.2279

Abstract

The study aimed to develop an explanation of family resilience processes among the aspiring middle-class in Jakarta Greater Area or JABODETABEK during the Covid-19 pandemic. The aspiring middle-class refers to a social class that is not yet a middle-class but will eventually achieve the middle-class status. How do the aspiring middle-class families bounce back from the crisis and become strong and healthy families and it could contribute to comprehending the commonly described social unit that is labeled for its vulnerabilities to any major shocks. This is a mixed-method study with a quantitative approach and enriched with qualitative data. The results showed that most participants come from an aspiring middle-class with a high value on the Family Resilience Assessment Scale (Sixbey, 2005). Furthermore, themes found are family belief system, family organizational pattern, problem-solving communication, health protocol adherence, and family economic condition. The study concluded that multidimensional factors enable the development process of family resilience. Governmental programs for developing family well-being and resilience can take advantage of this research, especially about the multidimensional factors that will be a noteworthy entry point for the intervention of family program enhancement. Abstrak. Studi ini bertujuan untuk menjelaskan proses terbentuknya ketangguhan keluarga dari kelas menengah aspiratif (the aspiring middleclass) di Jabodetabek, pada masa berjangkitnya wabah Covid-19. Studi ini bermanfaat untuk menjelaskan bagaimana keluarga-keluarga yang sedang menuju kelas menengah ini menghadapi krisis dan kemudian bangkit kembali sebagai sebuah keluarga yang sehat fisik dan mental. Metode penelitian studi ini adalah metode campuran, dengan penekanan utama pada metode kuantitatif dan pengayaan data melalui pendekatan penelitian kualitatif. Alat ukur yang dipakai bersumber dari pemikiran Walsh (2003), yakni alat ukur Sixbey (2005) The Family Resilience Assessment Scale (Skala Ketangguhan Keluarga). Hasil penelitian dengan metode kuantitatif memperlihatkan sebagian besar responden berasal dari keluarga kelas menengah aspiratif (the aspiring middleclass) dengan level of resilience atau tingkat ketangguhan tinggi. Tema-tema yang muncul dari data kualitatif adalah sistem keyakinan keluarga, pola-pola pengorganisasian keluarga, komunikasi berorientasi pemecahan masalah, kepatuhan terhadap protokol kesehatan dan kondisi perekonomian keluarga. Dapat disimpulkan, studi ini memperlihatkan bagaimana proses ketangguhan keluarga terbentuk melalui pengaruh variabel-variabel mutidimensional. Program-program pemerintah untuk kesejahteraan dan ketangguhan keluarga dapat memanfaatkan hasil penelitian ini, khususnya dengan memanfaatkan temuan-temuan mengenai faktor-faktor yang mesti mendapatkan intervensi meningkatkan ketangguhan keluarga.
Adversity Quotient pada Siswa Tunanetra dalam Meningkatkan Literasi Rory Ramayanti; Agung Iranda
Jurnal Psikologi Integratif Vol 10, No 1 (2022): Psikologi Integratif
Publisher : UIN Sunan Kalijaga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/jpsi.v10i1.2432

Abstract

Obstacles in visionary function in blind student impacts on limitedlearning process, mainly in literacy activities such as reading, writing, andcounting. In preventing such obstacles, they need adversity quotient forenhancing literacy skill at school. Adversity quotient is very important sothat they could get through the difficulties in the process, not depend ontheir parent and teacher to counter society’s stigma on the issues, likesnormal student. The objective of research is to explore the meaning ofadversity quotient on blind student in improving their literacy.This studyused a qualitative method with phenomenological approach. Four blindstudents who study in Special Needs School of Prof. Sri Soedewi Jambibecame the subject of this study. Data collecting was carried out throughin-depth semi-structured interviews. An interpretative phenomenologicalanalysis was used as the data analysis technique. Study results indicate thatthe adversity quotients of blind students in improving literacy skillsencompass origin and ownership, motivation, perseverance, independence,and control. Factors affecting adversity quotients include parentalencouragement, social support, facilities, and future orientation.Abstrak. Hambatan fungsi penglihatan pada siswa tunanetra berdampakpada keterbatasan dalam proses pembelajaran, terutama pada aktivitasliterasi seperti membaca, menulis, dan berhitung. Dalam mengatasihambatan tersebut mereka membutuhkan kecerdasan daya juang (adversityquotinet) untuk meningkatkan kemampuan literasi di sekolah. Daya juangsangat penting agar mereka mampu mengatasi berbagai kesulitan dalammembaca, tidak bergantung pada orang tua dan guru, serta mengubahstigma masyarakat bahwa mereka tidak mampu belajar di sekolah sepertisiswa normal. Tujuan penelitian ini untuk menggali makna adversityquotient pada siswa tunantera dalam meningkatkan kemampuan literasi.Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatanfenomenologi, subjek penelitian ini adalah siswa tunanetra yang menuntutilmu di Sekolah Luar Biasa (SLB) Prof. Sri Soedewi Jambi sebanyakempat orang, pengumpulan data dilakukan dengan wawancara semistruktursecara mendalam. Teknik analisis data menggunakan interpretativephenomenological analysis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa adversityquotient siswa tunanetra dalam meningkatkan kemampuan literasi berupamengatasi kesulitan, motivasi, ketekunan, kemandirian, dan kontrol.Adapun faktor yang memengaruhi adversity quetiont yaitu dorongan orangtua, dukungan sosial, fasilitas, dan orientasi masa depan.
Peran Professional Commitment terhadap Subjective Career Success pada Guru Muhammad Taufik Kautsar; Tri Muji Ingarianti; Devina Andriany
Jurnal Psikologi Integratif Vol 10, No 1 (2022): Psikologi Integratif
Publisher : UIN Sunan Kalijaga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/jpsi.v10i1.2446

Abstract

Every teacher dreams of a successful and sustainable career to achieve satisfaction in their career. Even though teachers' career is guaranteed, teachers are still worried about their career success, especially about their subjective success. Subjective career success is defined as an individual's subjective perspective, assessment, and satisfaction with his/her career achievement. Professional commitment is loyalty to their profession, and positive evaluation of the profession, so that it is considered to have a role in achieving subjective career success. The objective of this research was to examine the role of professional commitment on subjective career success in teachers. Using a non-experimental correlational quantitative approach this research has 320 teachers as the subject. The measuring instrument used was Professional Commitment Scale and Subjective Career Success Inventory, with the sampling technique used was accidental sampling. The data analysis method used a simple regression test to determine the correlation between variables and a multiple regression test to determine the per dimension role. The research results indicated the role of professional commitment on subjective career success. It is hoped that the results of this study can be considered in increasing teacher commitment to their profession to increase subjective career success. Abstrak. Setiap guru memimpikan karier yang sukses dan berkelanjutan agar mendapatkan kepuasan dalam kariernya. Meskipun berkarier menjadi seorang guru begitu terjamin, namun seorang guru tetap merasakan kekhawatiran akan kesuksesan kariernya, terkhusus pada kesuksesan subjektifnya. Subjective career success didefinisikan sebagai perspektif subjektif individu, penilaian, dan kepuasan terhadap pencapaian kariernya. Professional commitment merupakan loyalitas terhadap profesi, dan evaluasi positif pada profesi, sehingga dianggap mampu berperan dalam mencapai subjective career success. Tujuan dari penelitian ini yaitu untuk mengetahui peran professional commitment terhadap subjective career success pada guru. Menggunakan pendekatan kuantitatif korelasional non-eksperimen dengan subjek penelitian yaitu 320 guru. Alat ukur yang digunakan yaitu Professional Commitment Scale dan Subjective Career Success Inventory, dengan teknik sampling yang digunakan yaitu accidental sampling. Metode analisis data menggunakan uji regresi sederhana untuk mengetahui peran antar variabel dan uji regresi berganda untuk mengetahui peran per dimensi. Hasil penelitian ini menunjukan adanya peran professional commitment terhadap subjective
Psychological Well-Being pada Mahasiswa Santri Ditinjau dari Dukungan Sosial & Stress Akademik Zahrah, Ninda Alza Nur; sukirno, Rita Setyani Hadi
Jurnal Psikologi Integratif Vol. 10 No. 2 (2022): Psikologi Integratif
Publisher : UIN Sunan Kalijaga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/jpsi.v10i2.2526

Abstract

Santri students are individuals who simultaneously study at universities and Islamic boarding schools. Students are vulnerable to experiencing academic stress caused by the burden of responsibility to carry out knowledge in two places and demands for academic achievement. The purpose of this study is to ascertain how social support and academic stress relate to the psychological well-being of santri students. Three research instruments and a quantitative methodology were employed in this study. In this study, 200 santri students from Special Region of Yogyakarta served as the sample. Employing Pearson product moment correlation analysis approaches for quantitative analysis. According to the study's findings, social support and academic stress significantly influence psychological well-being, with a combined effective contribution of 47,4%. Academic stress was negatively connected with psychological well-being (p=0,001) and favorably correlated with social support (p=0,001), with an effective contribution of 25,7% for each independent variable, according to an analysis of each independent variable. Mahasiswa santri adalah individu yang secara sekaligus menuntut ilmu di perguruan tinggi dan pondok pesantren. Mahasiswa rentan mengalami stres akademik yang disebabkan oleh beban tanggung jawab untuk mengemban ilmu di dua tempat dan tuntutan prestasi akademik. Ketersediaan dukungan sosial yang dimiliki juga dapat mempengaruhi tinggi-rendahnya tingkat psychological well-being mahasiswa santri. Tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui hubungan psychological well-being mahasiswa santri ditinjau dari dukungan sosial dan stress akademik. Metode kuantitatif digunakan sebagai metode penelitian. Terdapat 200 mahasiswa santri di Daerah Istimewa Yogyakarta yang menjadi sampel sampel penelitian. Instrument yang digunakan ada 3 skala. Kemudian teknik analisis korelasi pearson product moment digunakan sebagai analasis data penelitian. Menurut output penelitian, dukungan sosial dan stres akademik memiliki dampak yang cukup besar terhadap psychological well-being, dengan sumbangan efektif sebesar 47,4%. Analisis masing-masing variabel independen menunjukkan bahwa stres akademik berhubungan negatif dengan kesejahteraan psikologis (p=0,001), dengan sumbangan efektif sebesar 25,7%. Sedangkan dukungan sosial berkorelasi positif dengannya (p=0,001), dengan kontribusi efektif sebesar 22,2%, menurut analisis masing-masing variabel independen.
Emotional exhaustion sebagai Mediator antara Emotional labor dan Job satisfaction Pada Karyawan Sales Ritel Dewi, Renita; Parahyanti, Endang
Jurnal Psikologi Integratif Vol. 10 No. 2 (2022): Psikologi Integratif
Publisher : UIN Sunan Kalijaga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/jpsi.v10i2.2262

Abstract

Many studies have discussed the relationship between emotional labor and job satisfaction, but only few have discussed the role of emotional exhaustion as a mediator in this relationship, especially among retail sales person. This study aims to examine the relationship of emotional labor and job satisfaction through the mediation role of emotional exhaustion. Data for this study was collected from 86 retail sales person from Jabodetabek, recruited through convenience sampling technique. The measurement tools were Job in General, Emotional labor Scale, and Maslach Burnout Inventory. The mediation analysis showed that emotional exhaustion is able to mediate the relationship between surface acting and job satisfaction. However, there was no mediating role of emotional exhaustion in the relationship between deep acting and job satisfaction. These explain that the more retail sales people use surface acting, the more they feel emotional exhaustion which will result in low level of job satisfaction. But those deep acting strategies are not proven to have an influence on emotional exhaustion, so this factor cannot be the mediator in relationship between emotional labor and job satisfaction. Banyak studi sebelumnya yang meneliti hubungan antara emotional labor dan job satisfaction, namun masih sedikit yang membahas terkait peran emotional exhaustion sebagai mediator dalam hubungan tersebut, terutama pada karyawan sales ritel. Penelitian ini bertujuan untuk melihat hubungan emotional labor dan job satisfaction melalui peran mediasi emotional exhaustion. Partisipan penelitian merupakan karyawan sales ritel Jabodetabek yang berjumlah 86 orang, direkrut dengan teknik convenience sampling. Alat ukur yang digunakan dalam penelitian adalah Job in General, Emotional labor Scale, dan Maslach Burnout Inventory. Hasil analisis mediasi menunjukkan bahwa emotional exhaustion mampu memediasi hubungan antara surface acting dan job satisfaction, namun tidak menemukan adanya peran mediasi emotional exhaustion dalam hubungan antara deep acting dan job satisfaction. Ini menjelaskan semakin sering karyawan sales ritel menggunakan surface acting maka semakin karyawan akan merasakan emotional exhaustion yang berdampak pada rendahnya tingkat job satisfaction. Tetapi strategi deep acting yang digunakan karyawan, tidak terbukti memiliki pengaruh terhadap emotional exhaustion, sehingga faktor tersebut tidak dapat berperan sebagai mediator dalam hubungan antara emotional labor dan job satisfaction.
The Role of Professional Quality of Life in Physical and Psychological Health of Textile Employees Rasheed, Ayesha
Jurnal Psikologi Integratif Vol. 10 No. 2 (2022): Psikologi Integratif
Publisher : UIN Sunan Kalijaga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/jpsi.v10i2.2447

Abstract

The quality of life in employees is an issue that must be examined as it is a crucial point for organization or industry growth. This study aims to investigate the correlation between professional quality of life with physical and psychological health in textile sector employees. Study was conducted on (N=150, male and female employees) employees from 19 textile companies in Lahore city, Pakistan. A correlational research design was used, and sample was selected by using stratified sampling technique. A series of questionnaire (Professional Quality of life and (SF-12) Short Form-12 Health survey) was administered to employees after taking consent from the them. The results indicate that quality of life has relationship with physical and psychological health. Specifically, compassion satisfaction aspect has positive significant relationship with physical and mental health component while inverse relationship with burnout and compassion fatigue. When compassion satisfaction increases, the physical and psychological health of the workers improved and vice versa. Similarly, when burnout and compassion fatigue increase, it affected the physical and psychological health of the workers. It is recommended to the organization to make plans and policies to boost up employees mental and physical health. Kualitas hidup karyawan merupakan masalah yang harus diperhatikan terutama dalam dunia kerja. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara kualitas hidup professional dengan kesehatan fisik dan psikologis pada karyawan sektor tekstil. Studi dilakukan pada (N=150, karyawan pria dan wanita) karyawan dari 19 perusahaan tekstil di kota Lahore, Pakistan. Rancangan penelitian yang digunakan adalah korelasional, dan sampel dipilih dengan menggunakan teknik stratified sampling. Serangkaian kuesioner (Professional Quality of life dan (SF-12) Short Form-12 Health survey) diberikan kepada karyawan setelah mendapat persetujuan dari mereka. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kualitas hidup memiliki hubungan dengan kesehatan fisik dan psikologis. Secara khusus, aspek compassion satisfaction memiliki hubungan positif yang signifikan dengan komponen kesehatan fisik dan mental, sedangkan hubungan terbalik dengan burnout dan compassion fatigue. Ketika compassion satisfacion meningkat, kesehatan fisik dan psikologis pekerja meningkat dan sebaliknya. Demikian pula ketika burnout dan compasison fatigue meningkat, hal itu mempengaruhi kesehatan fisik dan psikologis para pekerja. Disarankan kepada organisasi untuk membuat rencana dan kebijakan untuk meningkatkan kesehatan mental dan fisik karyawan.
Optimism and Problem-Focused Coping on Students during The COVID-19 Pandemic Safrilsyah, Safrilsyah; Zuhra, Fatimah; Barmawi, Barmawi; Fatmawati, Fatmawati; Mohd Yusoff, Mohd; Ibrahim, Ibrahim
Jurnal Psikologi Integratif Vol. 10 No. 2 (2022): Psikologi Integratif
Publisher : UIN Sunan Kalijaga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/jpsi.v10i2.2465

Abstract

The purpose of this research is to explore the influence of optimism on the problem-focused coping of students at Ar-Raniry State Islamic University and to find out the difference in optimism and problem-focused coping between male and female students. Data were collected from 320 students (81 male and 239 female) using a proportional stratified sampling. Data were collected by using two questionnaires, (1) Optimism by using the scale of optimism (Seligman, 2008) and (2) Problem-focused coping by using the Coping scale (Lazarus, 1984). Data were analyzed descriptively, and statistical analysis (hypothesis testing) was done using a simple regression procedure under SPSS/PC Ver.23.00. This study's results indicated a significant positive correlation between optimism and problem-focused coping among students. The respective R-square is 0.166, a result of the coefficient is 0.407. There are no significant differences in problem-focused coping and optimism among students. However, there are significant gender differences, male students are more problem-focused with coping and optimism than female students. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh optimisme terhadap problem focused coping mahasiswa Universitas Islam Negeri Ar-Raniry Banda Aceh dan mengtahui perbedaan optimisme dan problem focused coping diantara mahasiswa laki-laki dan perempuan.  Sampel penelitian ini berjumlah 320 mahasiswa (81 laki-laki dan 239 perempuan) dengan menggunakan proporsional stratified sampling. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan dua kuesioner, (1) Optimisme dengan menggunakan skala optimisme (Seligman, 2008) dan (2) Problem focused coping dengan menggunakan skala Coping Data dianalisis secara deskriptif dan analisis statistik (pengujian hipotesis) dilakukan dengan prosedur simple Regression. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa terdapat hubungan positif yang signifikan antara optimisme dengan problem focused coping pada siswa. R-square adalah 0,166, hasil koefisien adalah 0,407. Tidak ada perbedaan yang signifikan dari problem focused coping di kalangan mahasiswa, tetapi ada perbedaan yang signifikan dari jenis kelamin, bahwa laki-laki lebih tinggi problem focused coping dan sikap optimisme daripada mahasiswa perempuan.