KALPATARU: Jurnal Sejarah dan Pembelajaran Sejarah
Jurnal ini berfokus tentang penelitian dalam pendidikan sejarah, bidang sejarah, sejarah lokal, sejarah nasional dan sejarah global, budaya Indonesia, kearifan lokal dan pendidikan sejarah.
Articles
200 Documents
KONSEP KOSMOLOGI MASYARAKAT PRASEJARAH TANJUNG SIRIH KABUPATEN LAHAT SEBAGAI SUMBER PEMBELAJARAN SEJARAH
Ida Suryani;
Widring Tri Sandi
Kalpataru: Jurnal Sejarah dan Pembelajaran Sejarah Vol 4, No 1 (2018): Kalpataru: Jurnal Sejarah dan Pembelajaran Sejarah
Publisher : Universitas PGRI Palembang
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.31851/kalpataru.v4i1.2455
Konsep kosmologi masyarakat prasejarah Tanjung Sirih kabupaten Lahat sangat penting baik itu untuk pelajar khususnya maupun untuk masyarakat pada umumnya. Adapun rumusan masalah dalam penelitian ini adalah bagaimanakah konsep kosmologi masyarakat prasejarah Tanjung Sirih kabupaten Lahat yang dapat dijadikan sebagai sumber pembelajaran sejarah di SMA PGRI Tanah Abang?. Sedangkan tujuan dari penelitian ini adalah: untuk mengetahui konsep kosmologi masyarakat prasejarah Tanjung Sirih kabupaten Lahat yang dapat dijadikan sumber pembelajaran sejarah. Metode yang digunakan yaitu metode penelitian deskriptif kualitatif. Berdasarkan hasil penelitian dan wawancara yang didapat selama penelitian, yang didapat selama proses penelitian maka dapat disimpulkan bahwa konsep kosmologi masyarakat prasejarah Tanjung Sirih kabupaten Lahat merupakan ilmu sejarah yang mempelajari alam semesta yang berupa peninggalan situs megalit Tanjung Sirih kabupaten Lahat yang dapat dijadikan sumber pembelajaran sejarah di kelas X SMA PGRI Tanah Abang. Peninggalan-peninggalan situs Tanjung Sirih yang ada di kabupaten Lahat merupan situs peninggalan prasejarah yang penting karena di sana ditemukan sebuah arca harimau pada situs 4, dari tempat-tempat yang terdapat peninggalan situs prasejarah di Sumatera Selatan hanya di situs Tanjung Sirih terdapat arca harimau.
PERANCANGAN VIDEO INFORMASI CANDI KALASAN
Kevin Ronald Pattipawae;
Anthony Y.M. Tumimomor
Kalpataru: Jurnal Sejarah dan Pembelajaran Sejarah Vol 5, No 2 (2019): Kalpataru: Jurnal Sejarah dan Pembelajaran Sejarah
Publisher : Universitas PGRI Palembang
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.31851/kalpataru.v5i2.3554
Candi Kalasan yang terletak di Daerah Istimewa Yogyakarta memiliki keunikan tersendiri yang tidak dimiliki oleh candi-candi yang berada di sekitarnya. Candi ini didirikan dan bercirikan Hindu dan Budha, agama yang berkembang saat itu. Candi ini sangat indah dan memiliki ukiran Kala yang paling detail dan indah yang tidak dimiliki oleh candi lain. Berdasarkan pengamatan yang dilakukan masih banyak masyarakat kurang mengetahui detail candi Kalasan, dan hal ini disebabkan karena minimnya media informasi mengenai candi Kalasan, oleh sebab itu perlu adanya media informasi berbentuk audio visual untuk menceritakan detail dan keunikan dari candi Kalasan kepada masyarakat. Pada proses perancangan video informasi ini menggunakan metode penelitian kualitatif dan strategi linier sehingga diharapkan melalui metode penelitian ini didapat hasil berupa video informasi yang mampu memberikan informasi yang lengkap dan detail mengenai keunikan candi Kalasan kepada masyarakat dengan baik. Hasil dari perancangan ini dapat dimanfaatkan oleh Balai Pelestarian Cagar Budaya Yogyakarta dalam menginformasikan atau mensosialisasikan candi Kalasan kepada masyarakat.
RAGAM MOTIF FLORA PADA CANDI BUMIAYU SEBAGAI SUMBER PEMBELAJARAN IPS TERPADU (SEJARAH) DI SEKOLAH MENENGAH PERTAMA SRIGUNA PALEMBANG
Herianto Herianto
Kalpataru: Jurnal Sejarah dan Pembelajaran Sejarah Vol 2, No 1 (2016): Kalpataru: Jurnal Sejarah dan Pembelajaran Sejarah
Publisher : Universitas PGRI Palembang
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.31851/kalpataru.v2i1.1317
Candi Bumiayu merupakan candi peninggalan sejarah masa lampau yang memiliki nilai-nilai sejarah dan budaya yang baik untuk dipelajari dan sekaligus dapat dijadikan sumber pemeblajaran sejarah yang bermanfaat bagi generasi sekarang dan yang akan datang. Masalah pada penelitian ini adalah nilai sejarah apakah pada motif ragam flora candi Bumiayu yang dapat dimanfaatkan sebagai sumber pembelajaran sejarah di sekolah. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui nilai sejarah dan budaya keragaman motif flora pada candi Bumiayu yang dapat dimanfaatkan sebagai sumber pembelajaran sejarah di sekolah Menegah Pertama. Manfaat penelitian ini adalah tersedianya sumber pembelajaran sejarahi mata pelajaran IPS Terpadu. Jenis penelitian ini adalah penelitian diskriptif kualitatif. Kesimpulan dalam penelitian ini candi Bumiayu mempunyai ragam motif flora yang beragam. Motif flora itu menggambarkan kehidupan dan kesenian pada masa itu, kerukunan antara umat beragama Hindu-Budha. Di dalam relief candi Bumiayu terdapat berbagai ragam motif flora atau tumbuhan. Motif itu antara lain adalah bunga teratai, bunga pucuk rebung, motif patra, daun dan lung, motif ikal.
PENGARUH MODEL PEMBELAJARAN GENERATIF (GENERATIVE LEARNING) TERHADAP HASIL BELAJAR SISWA PADA MATA PELAJARAN IPS TERPADU (SEJARAH) KELAS VII DI SMP NEGERI 15 PALEMBANG
Sundari Sundari;
Eva Dina Chairunisa
Kalpataru: Jurnal Sejarah dan Pembelajaran Sejarah Vol 4, No 1 (2018): Kalpataru: Jurnal Sejarah dan Pembelajaran Sejarah
Publisher : Universitas PGRI Palembang
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.31851/kalpataru.v4i1.2443
Model pembelajaran generatif (Generative Learning) adalah suatu proses yang mendapatkan pengetahuan. Dalam pembelajaran dengan menggunakan model generative learning siswa dituntut mengkonstruksi pengetahuannya sendiri berdasarkan pengalaman baru atau peristiwa yang dikaitkan dengan pengetahuan yang sudah dimilikinya. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui ada tidaknya pengaruh model pembelajaran generative learning terhadap hasil belajar siswa pada mata pelajaran IPS Terpadu (Sejarah) kelas VII di SMP Negeri 15 Palembang. Peneliti menggunakan metode Quasi Exsperiment Design dengan design penelitian Nonequevalent Control Group Design. Berdasarkan hasil penelitian dan analisis data, bahwa kelas eksperimen yang diberi perlakuan dengan model pembelajaran Generative Learning memiliki rata-rata sebesar 75,38 lebih tinggi dibandingkan dengan rata-rata kelas kontrol yang diberi perlakuan dengan model ceramah yaitu 65,50 dan hasil perhitungan pada Uji-T Independent Sample T-Test yang menggunakan SPSS 22 menunjukkan bahwa nilai signifikan sebesar 0,024. Karena 0,024 < 0,005 maka ditolak, dapat disimpulkan bahwa: “Terdapat perbedaan hasil belajar yang signifikan antara siswa yang memperoleh pembelajaran dengan model pembelajaran Generative Learning dan siswa yang memperoleh pembelajaran dengan model ceramah di kelas VII SMP Negeri 15 Palembang”.
POLA TATA RUANG DESA TEGUR WANGI SEBAGAI SUMBER PEMBELAJARAN IPS TERPADU (SEJARAH) DI SEKOLAH MENENGAH PERTAMA NEGERI 1 MUARA ENIM
Safitri Wulan Dari
Kalpataru: Jurnal Sejarah dan Pembelajaran Sejarah Vol 5, No 1 (2019): Kalpataru: Jurnal Sejarah dan Pembelajaran Sejarah
Publisher : Universitas PGRI Palembang
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.31851/kalpataru.v5i1.2937
Latar belakang dari penelitian ini ialah belum dimanfaatkannya pola tata ruang desa Tegur Wangi sebagai sumber pembelajaran sejarah di Sekoah Menengah Pertama Negeri 1 Muara Enim. Rumusan masalah dari penelitian ini adalah bagaimanakah pola tata ruang desa Tegur Wangi sebagai sumber pembelajaran IPS Terpadu (Sejarah) di Sekolah Menengah Pertama Negeri 1 Muara Enim. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui latar belakang pola tata ruang desa Tegur Wangi, untuk meningkatkan pengetahuan pelaksanaan pola tata ruang yang ada pada desa Tegur Wangi dan hasil penelitian ini dijadikan sebagai sumber pembelajaran IPS Terpadu (Sejarah) di Sekolah Menengah Pertama Negeri 1 Muara Enim. Metode yang digunakan pada penelitian ini adalah metode deskriftif kualitatif. Keabsahan data dari penelitian ini adalah triangulasi sumber dan triangulasi metode. Pola tata ruang desa Tegur Wangi pusat desa berada pada tengah-tengah desa dan sekililing desa di kelilingi oleh sistem perekonomian. Terdapat berbagai macam komunitas perekonomian di desa Tegur Wangi. Sedangkan sistem pemerintahannya mereka menggunakan sistem pemerintahan modern dan tradisional, serta di desa Tegur Wangi terdapat jalan raya dan ganggang serta jembatan.
SITUS PUYANG MULIA SAKTI DI DESA PENANGGIRAN SEBAGAI MATERI PENGAYAAN PEMBELAJARAN SEJARAH LOKAL DI KELAS VII SMP NEGERI 2 UJAN MAS KABUPATEN MUARA ENIM
Yenda Fera Mesta Putri;
Aan Suriadi
Kalpataru: Jurnal Sejarah dan Pembelajaran Sejarah Vol 1, No 2 (2015): Kalpataru: Jurnal Sejarah dan Pembelajaran Sejarah
Publisher : Universitas PGRI Palembang
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.31851/kalpataru.v1i2.543
ABSTRAKPermasalahan dalam penelitian ini adalah “Nilai-nilai sejarah apa saja yang dimiliki situs Puyang Mulia Sakti di Desa Penanggiran yang dapat dijadikan sebagai materi pengayaan pembelajaran sejarah lokal di kelas VII SMP Negeri 2 Ujan Mas?”. Adapun tujuan dari penelitian ini adalah: (1) Untuk mengetahui nilai-nilai sejarah yang dimiliki situs Puyang Mulia Sakti di Desa Penanggiran.(2) Untuk mengetahui pemahaman guru terhadap nilai-nilai sejarah situs Puyang Mulia Sakti di Desa Penaggiran sebagai materi penggayaan pembelajaran sejarah lokal di SMP Negeri 2 Ujan Mas Kabupaten Muara Enim. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif kualitatif. Teknik pengumpulan data yaitu melalui pengamatan langsung atau observasi, wawancara dan dokumentasi. Teknik analisis data yang digunakan yaitu model analisis data kualitatif yang analisis datanya dilakukan secara induktif, yaitu suatu analisis berdasarkan data yang diperoleh, selanjutnya dikembangkan pola hubungan tertentu atau menjadi hipotesis. Dari hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa: (1) Situs Puyang Mulia Sakti adalah salah satu situs leluhur masyarakat desa Penanggiran, situs ini terletak di tebing Tapus kurang lebih 2 km dari pemukiman warga Desa Penanggiran Kecamatan Gunung Megang Kabupaten Muara Enim yang sangat penting dalam sejarah daerah. Adapun Nilai sejarah yang dimiliki situs Puyang Mulia Sakti dapat diketahui dari cerita rakyat dan dokumen tentang situs Puyang Mulia Sakti. (2) Pemahaman guru IPS SMP Negeri 2 Ujan Mas Kabupaten Muara Enim terhadap nilai sejarah yang dimiliki situs Puyang Mulia Sakti cukup baik. Nilai sejarah situs Puyang Mulia Sakti di desa Penanggiran dapat di jadikan materi pengayaan pembelajaran sejarah lokal di kelas VII pada Standar Kompetisi: 5. Memahami perkembangan masyarakat sejak masa Hindu-Budha sampai masa kolonial Eropa. Kompetensi Dasar: 5.2 Mendeskripsikan perkembangan masyarakat, kebudayaan dan pemerintahan pada masa Islam di Indonesia serta peninggalan-peninggalannya. (3) Dengan dijadikannya Situs Puyang Mulia Sakti sebagai materi pengayaan pembelajaran sejarah lokal di kelas VII SMP Negeri 2 Ujan Mas, maka akan membantu siswa mengetahui sejarah lokal yang ada di daerahnya, sehingga dapat menumbuhkan rasa nasionalisme dalam diri siswa. Kata kunci: Situs Puyang Mulia Sakti, sejarah lokal, candi
PERISTIWA MALAPETAKA LIMA BELAS JANUARI (MALARI) TAHUN 1974 SEBAGAI PEMBELAJARAN SEJARAN KELAS XII SEKOLAH MENENGAH ATAS SRIGUNA PALEMBANG
Agi Distrianto;
Sukardi Sukardi
Kalpataru: Jurnal Sejarah dan Pembelajaran Sejarah Vol 3, No 2 (2017): Kalpataru: Jurnal Sejarah dan Pembelajaran Sejarah
Publisher : Universitas PGRI Palembang
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.31851/kalpataru.v3i2.1620
Malapetaka lima belas Januari atau yang dikenal masyarakat sebagai peristiwa malari tidak bisa dilihat dari satu sudut pandang. Sebagai sebuah peristiwa politik yang mengkonfrontasikan negara antara Orde Baru dengan masyarakat, malari tentu saja tidak dapat berdiri sendiri. Masalah dalam penelitian ini yaitu bagaimanakah latar belakang, jalannya dan dampaknya peristiwa malari tahun1974 yang dapat dijadikan sebagai sumber pembelajaran sejarah kelas XII Sekolah Menengah Atas Sriguna Palembang. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui latar belakang peristiwa malari, untuk mengungkapkan jalannya peristiwa malari, untuk mendeskripsikan dampak adanya malari, dan untuk meneruskan peristiwa malari sebagai sumber pembelajaran sejarah kelas XII Sekolah Menengah Atas Sriguna Palembang. Metode yang digunakan adalah deskriptif kualitatif. Teknik analisis datanya dengan menggunakan data di lapangan. Sumber data studi pustaka, wawancara dan observasi. Hasil penelitian membahas tentang gambaran umum tempat penelitian dan kronologi dan dampak yang ditimbulkan malari.
LEGENDA DAMPU AWANG SEBAGAI SUMBER PEMBELAJARAN SEJARAH MARITIM DI SMA NEGERI 1 TALANG KELAPA
Putri Bella Aprilia;
Dina Sri Nindiati
Kalpataru: Jurnal Sejarah dan Pembelajaran Sejarah Vol 6, No 1 (2020): Kalpataru: Jurnal Sejarah dan Pembelajaran Sejarah
Publisher : Universitas PGRI Palembang
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.31851/kalpataru.v6i1.4652
Legenda Dampu Awang merupakan cerita legenda yang tersebar di pesisir nusantara dengan nama sebutan yang berbeda-beda yang mengambarkan nilai-nilai kemaritiman masyarakat pesisir. Permasalahan dalam penelitian ini adalah nilai sejarah apa yang ada pada legenda Dampu Awang yang dapat dijadikan sumber pembelajaran sejarah maritimdi SMA Negeri 1 Talang Kelapa? Tujuandalam penelitian ini untuk menyediakan sumber belajar sejarah maritim bermuatan lokal. Metode penelitian yang digunakan metode deskriptif kualitatif. Teknik pengumpulan data yaitu dokumentasi, wawancara, dan observasi. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa legenda Dampu Awang hidup dalam budaya pesisir nusantara yang memiliki nilai budaya perdagangan Internasional, Regional, dan Nasional, yang menyimpan data periode klasik Hindu/Budha dan klasik Islam. Terdapat nilai-nilai kemaritiman dalam legenda Dampu Awang yaitu: perdagangan, pelayaran, religius, jujur, disiplin, kerja keras, rasa ingin tahu, semangat kebangsaan, cinta tanah air.
KERAJAAN SANGGAU PADA MASA GUSTI TOGOK (1798-1812)
Eka Jaya PU;
Evi Nurviana
Kalpataru: Jurnal Sejarah dan Pembelajaran Sejarah Vol 1, No 2 (2015): Kalpataru: Jurnal Sejarah dan Pembelajaran Sejarah
Publisher : Universitas PGRI Palembang
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.31851/kalpataru.v1i2.534
ABSTRAK Penelitian yang berjudul “Kerajaan Sanggau Pada Masa Gusti Togok (1798-1812)”, bertujuan untuk mendeskripsikan latar belakang Gusti Togok dan pemerintahan pada masa Gusti Togok (1798-1812). Metode penelitian ini menggunakan metode sejarah dengan pendekatan multideminsional dan sejarah lisan yang ditulis secara deskriptif analitis dengan tahapan; Heuristik, Verifikasi, Interpretasi dan Historiografi. Gusti Togok menduduki tahta sebagai Raja berganti nama menjadi Gusti Muhammad Thahir I. Pada masa pemerintahannya kerajaan Sanggau semakin berkembang, yakni menjalin hubungan bilateral dengan kerajaan luar Kalimantan seperti Jawa, Riau, Brunai dan wilayah lainnya dengan melalui dibukanya jalur perdagangan. Jalur perdangangan yang sering dilalui untuk membuka wilayah adalah sungai Sekayam dan sungai Kapuas. Penghapusan perbudakan yang dilakukannya merupakan bentuk dari kepedulian atas hak asasi manusia dan mengembalikan adat budaya kerajaan yang lama hilang kemudian dilestarikan seperti Bedil Kerajak. Gusti Togok diberi gelar “Surya Negara”, yang mencerminkan kemegahan atau kemewahan, sehingga dikenal Kerajaan Sanggau dengan “Keraton Surya Negara”. Berakhirnya pemerintahan Gusti Togok karena terjadi perang antara kerajaan Sanggau dengan kerajaan Pontianak, yang disebabkan oleh persoalan upeti dan tanah kekuasaan. Kata kunci: kerajaan Sanggau, Gusti Togok.
KONSEP KOSMOLOGI CANDI GEDONG I MUARA JAMBI SEBAGAI SUMBER PEMBELAJARAN SEJARAH DI SMA AZHARYAH PALEMBANG
Desi Efrili Yani;
Sukardi Sukardi
Kalpataru: Jurnal Sejarah dan Pembelajaran Sejarah Vol 3, No 1 (2017): Kalpataru: Jurnal Sejarah dan Pembelajaran Sejarah
Publisher : Universitas PGRI Palembang
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.31851/kalpataru.v3i1.1609
Candi Gedong I Muara Jambi yang kaya akan peninggalannya memiliki nilai sejarah yang tinggi makna konsep kosmologi pada tata letak candinya. Belum semua data sejarah tersebut dapat dimanfaatkan dalam pembelajaran sejarah. Permasalahan dalam penelitian ini adalah nilai sejarah apakah yang terdapat pada konsep kosmologi candi Gedong I Muara Jambi yang dapat dimanfaatkan sebagai sumber pembelajaran sejarah?. Tujuan penelitian mengetahui nilai sejarah apakah yang terdapat pada konsep kosmologi candi Gedong I Muara Jambi yang dapat dimanfaatkan sebagai sumber pembelajaran sejarah. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif kualitatif dengan menggunakan cara pengumpulan sumber-sumber secara sistematis dan menggunakan sumber data secara mendalam. Berusaha memahami dan menafsirkan makna suatu peristiwa interaksi tingkah laku manusia dalam situasi tertentu menurut perspektif peneliti sendiri. Teknik pengumpulan data melalui observasi, wawancara dan dokumentasi. Hasil penelitian: makna nilai sejarah konsep kosmologi candi Gedong I digambarkan dalam bentuk arsitektur candi yang merupakan replika dari jagad raya. Bangunan candi diumpamakan sebagai gunung Meru, pagar keliling candi Gedong I diumpamakan sebagai rangkaian pegununga yang mengelilingi pusat jagad raya dan parit atau kanal yang mengelilingi candi Gedong I diumpamakan sebagai samudera