cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kab. aceh besar,
Aceh
INDONESIA
Jurnal Ilmiah Mahasiswa Veteriner
ISSN : 25409492     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Health,
Jurnal Ilmiah Mahasiswa Veteriner merupakan media elektronik yang digunakan sebagai wadah penyebaran hasil-hasil penelitian dari skripsi/tugas akhir mahasiswa Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Syiah Kuala yang ditulis bersama dengan dosen pembimbingnya. Naskah/artikel yang diterbitkan telah melewati proses review oleh 2 orang reviewer dan penyunting JIMVET. Jurnal Ilmiah Mahasiswa Veteriner untuk saat ini menerbitkan naskah ilmiah mahasiswa dari Program Studi Pendidikan Dokter Hewan. Jurnal Ilmiah Mahasiswa Veteriner terbit dengan satu volume dan empat nomor dalam setahun (Fabruari, Mei, Agustus, dan November).
Arjuna Subject : -
Articles 296 Documents
HISTOPATOLOGI KULIT MENCIT (Mus musculus) FASE REMODELING PADA PENYEMBUHAN LUKA SAYAT DENGAN SALEP GETAH JARAK PAGAR (Jatropha curcas Linn) Yunita Nanda; M. Nur Salim; Cut Dahlia Iskandar
JURNAL ILMIAH MAHASISWA VETERINER Vol 1, No 4 (2017): AGUSTUS-OKTOBER
Publisher : JURNAL ILMIAH MAHASISWA VETERINER

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (377.35 KB) | DOI: 10.21157/jim vet..v1i4.5476

Abstract

ABSTRAK            Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektivitas salep getah jarak pagar pada fase remodeling penyembuhan luka sayat kulit mencit. Hewan coba yang digunakan adalah mencit jantan sebanyak 9 ekor, berat 25-40 gram dan berumur 2-3 bulan, dibagi ke dalam 3 kelompok perlakuan, masing-masing perlakuan terdiri atas 3 ekor mencit. Setiap kelompok sampel dilakukan perawatan luka terbuka dengan intensitas yang sama yaitu dua kali sehari selama 10 hari. Pada kelompok P1 diberi Vaselin kuning, kelompok P2 diberi getah jarak pagar 10%, dan P3 diberi Gentamicin 0,1%. Parameter yang diukur adalah skor kolagen pada setiap kelompok perlakuan. Data kuantitatif diuji menggunakan analisis varian (ANAVA) dan dilanjutkan dengan uji beda nyata terkecil (LSD). Dari hasil ANAVA dapat diketahui bahwa perlakuan berpengaruh nyata (P0,05) terhadap distribusi kolagen. Hasil uji LSD, pada kelompok P1 dengan P2 dan P2 dengan P3 berbeda nyata (P0,05) sedangkan P1 dengan P3 tidak berbeda nyata (P0,05). Hasil pengamatan histopatologi menunjukkan bahwa pemberian getah jarak pagar (Jatropha curcas Linn) 10% dalam sediaan salep selama 10 hari dapat meningkatkan pembentukan distribusi jaringan kolagen pada daerah luka sehingga mempercepat proses penyembuhan luka sayat kulit mencit (Mus musculus) fase remodeling.ABSTRACKThis study aimed to find out the effectiveness of jatropha remover ointment in the remodeling phase of wound healing in mice. The experimental animals used were 9 male mice, 25-40 gram weight and 2-3 months sample group was treated with the same intensity of twice daily for 10 days. P1 groupwas given yellow Vaseline, P2 was given a jatropha gene of 10%, and P3 was given 0.1% of Gentamicin. The parameters measured were collagen scores in each treatment group. Quantitative data were analysed using variance analisys (ANAVA) and followed by with the smallest real difference test (LSD). The results of ANAVA showed that treatment was significantly effect (P0,05) to collagen distribution. The result of LSD test, in group P1 with P2 and P2 with P3 was significantly different (P0,05) while P1 with P3 was not significantly (P0,05). Histophatological observations showed that 10% of Jatropha curcas Linn in ointment for 10 days increase the formation of collagen tissue distribution in the wound area, thus accelerating the healing process of mice remodeling rats (Mus musculus).
JUMLAH ERITROSIT KADAR HEMOGLOBIN DAN NILAI HEMATOKRIT KAMBING KACANG BETINA DI KECAMATAN KOTO XI TARUSAN KABUPATEN PESISIR SELATAN (Total Number of Erythrochyte, Haemoglobin Concentration and Haematocrit Level In Female Kacang Goats of Reared Semi Intensive in Koto XI Tarusan Sub-Distric Pesisir Selatan Regency) hesty rahayu
JURNAL ILMIAH MAHASISWA VETERINER Vol 1, No 2 (2017): FEBRUARI - APRIL
Publisher : JURNAL ILMIAH MAHASISWA VETERINER

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (160.975 KB) | DOI: 10.21157/jim vet..v1i2.2626

Abstract

 ABSTRAKPenelitian ini bertujuan mengetahui jumlah eritrosit, kadar hemoglobin, dan nilai hematokrit kambing kacang betina yang dipelihara secara semi intensif di Kecamatan Koto XI Tarusan, Kabupaten Pesisir Selatan. Sampel penelitian ini terdiri dari 15 ekor kambing kacang betina dengan kisaran umur 1-2 tahun. Pengambilan sampel dilakukan pada pagi hari sekitar pukul 07.00-10.00 wib darah diambil dengan spuit 3 ml pada vena jugularis. Darah dimasukkan melalui dinding tabung vacutainer tube yang berisi anti koagulan EDTA. Pemeriksaan dilakukan di Laboratorium Parasitologi, Balai Veteriner Bukittinggi, Sumatera Barat menggunakan hematology analyzer (exigoeos vet Boule Medical, Swedia). Data yang diperoleh ditabulasikan dan kemudian dianalisis secara deskriptif. Berdasarkan hasil pemeriksaan rata-rata jumlah eritrosit, kadar hemoglobin, dan nilai hematokrit pada kambing kacang betina yang dipelihara secara semi intensif diperoleh sebesar 10,3±3,1 x 106/µL darah, 8,4±1,8 g/dL, dan 22,3±3,5%. Dari hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa jumlah eritrosit, kadar hemoglobin, dan nilai hematokrit pada kambing kacang betina yang dipelihara secara semi intensif di Kecamatan Koto XI Tarusan Kabupaten Pesisir Selatan masih berada pada kisaran nilai normal meskipun sudah mendekati batas nilai minimal.Kata kunci: Kambing kacang betina, semi intensif, eritrosit, hemoglobin, hematokritABSTRACTThis study aims to determine the total number of erythrocyte, haemoglobin concentration, and haematocrit level in female kacang goats of reared semi intensive in Koto XI Tarusan Sub-Distric Pesisir Selatan Regency. In the research used 15 female kacang goats with 1-2 years old. Sample were takes in the morning on 07.00-10.00 wib. Blood was obtained from the jugular vein of all the animals into sample bottles containing ethylene diamine tetraacetic acid (EDTA) as anticoagulant. The blood examination was done in Parasitology Laboratorium, Balai Veteriner Bukittinggi, West Sumatera with used hematology analyzer (exigoeos vet Boule Medical, Swedia). The data was analyzed using descriptively. Based on the examination results, the total number of erythrocytes, hemoglobin concentration, and haematocrit level which were 10,3±3,1 x 106/µL, 8,4±1,8 g/dL, and 22,3±3,5%. The results of this study concluded that the total number of erythrocyte, haemoglobin concentration, and haematocrit value in female kacang goats of reared semi intensive in Koto XI Tarusan Sub-Distric Pesisir Selatan Regency, as a normal although close to the limit value of at least.Keywords: Female kacang goats, semi intensive, erythrocyte, haemoglobin, haematocrit
DETEKSI CEMARAN Staphylococcus aureus PADA DAGING AYAM YANG DIJUAL DI PASAR TRADISIONAL ULEE KARENG The Detection of Staphylococcus aureus on The Chicken Who are Sold in The Traditional Market of Ulee Kareng Verly Jefanni; Rastina Rastina; Teuku Reza Ferasyi
JURNAL ILMIAH MAHASISWA VETERINER Vol 1, No 4 (2017): AGUSTUS-OKTOBER
Publisher : JURNAL ILMIAH MAHASISWA VETERINER

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (236.417 KB) | DOI: 10.21157/jim vet..v1i4.4919

Abstract

ABSTRAKPenelitian bertujuan mengetahui keberadaan dan tingkat pencemaran Staphylococcus aureus pada daging ayam yang dijual di pasar tradisional Ulee Kareng. Penelitian ini menggunakan 8 sampel daging pada bagian dada ayam yang diperoleh dari 8 pedagang daging ayam di pasar tradisional Ulee Kareng. 8 sampel dibagi menjadi 2 bagian, 4 sampel diperoleh pada pagi hari dan 4 sampel berikutnya diperoleh pada siang hari. Pengkoleksian sampel dilakukan selama 2 hari berturut-turut. Seluruh sampel yang telah diperoleh diidentifikasi untuk mengetahui keberadaan bakteri S. aureus dengan cara dibiakan dalam media spesifik Mannitol Salt Agar (MSA) dan dilakukan pemeriksaan tingkat cemaran bakteri menggunakan metode Total Plate Count (TPC). Hasil penghitungan bakteri S. aureus pada daging ayam di hari pertama menunjukkan angka dengan rata-rata 15,2x104 cfu/g (pagi hari) dan 13,9x104 cfu/g (siang hari), sedangkan pada hari kedua menunjukkan tingkat cemaran dengan rata-rata 17,7x104 cfu/g (pagi hari) dan 7,1x104 cfu/g (siang hari). Dapat disimpulkan bahwa tingkat cemaran bakteri S. aureuspada daging ayam yang dijual di pasar tradisional Ulee Kareng digolongkan tidak higienis dikarenakan melebihi nilai standar SNI-2897-2008. ABSTRACT This study aims to know the existence and level of Staphylococcus aureus contamination in chicken meat sold in Ulee Kareng traditional market. This study used 8 samples of chicken breast meat obtained from 8 chicken meat traders in  Ulee Kareng traditional markets. 8 samples were divided into 2 parts, 4 samples were obtained in the morning and 4 subsequent samples were obtained during the afternoon. The sample collecting is done for 2 consecutive days. All samples obtained were identified to determine the presence of S. aureus bacteria by culturing in a specific medium of Mannitol Salt Agar (MSA) and the level of bacterial contamination were counted using Total Plate Count (TPC) method. The results of TPC calculation of S. aureus bacteria on chicken meat on the first day showed a number with an average of 15.2x104 cfu/g (morning) and 13.9x104 cfu/g (afternoon). Followed by TPC counting on the second day showed a number with an average of 17.7x104 cfu/g (morning) and 7.1x104 cfu/g (daytime). Can be concluded that the level contamination of S. aureus bacteria in chicken meat sold by traders in the Ulee Kareng traditional market exceed the SNI-2897-2008 standard value.
GAMBARAN HISTOLOGIS TIMUS AYAM KAMPUNG (Gallus gallus domesticus) PADA UMUR BERBEDA Mardhiah Abdian; Hamdani Budiman; Cut Dahlia Iskandar
JURNAL ILMIAH MAHASISWA VETERINER Vol 1, No 3 (2017): MEI - JULI
Publisher : JURNAL ILMIAH MAHASISWA VETERINER

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (984.716 KB) | DOI: 10.21157/jim vet..v1i3.4147

Abstract

Penelitian ini bertujuan mengetahui gambaran histologis timus pada ayam kampung (Gallus gallus domesticus). Hewan yang digunakan adalah ayam kampung (Gallus gallus domesticus) berumur 1 bulan, 2 bulan dan 3 bulan masing-masing tiga ekor. Jaringan timus masing-masing hewan diambil dan diproses secara mikroteknik dengan pewarnaan hemaktosilin-eosin (HE), kemudian diamati di bawah mikroskop elektrik. Hasil penelitian menunjukkan adanya perbedaan struktur timus dari ketiga umur tersebut. Bagian korteks pada umur 2 bulan tampak lebih tebal dibandingkan dengan ayam kampung umur 1 bulan dan 3 bulan. Diameter medula paling panjang pada ayam kampung umur 3 bulan dibandingkan dengan umur 1 bulan dan 2 bulan. Sebaran badan Hassal’s mengalami peningkatan pada setiap tingkatan umur. Kesimpulan dari penelitian ini adalah semakin bertambahnya umur maka ketebalan korteks semakin mengalami penurunan dan diameter medula semakin panjang pada umur 3 bulan.The aim of this research was to determine about histology finding of local chicken (Gallus gallusdomesticus) thymus at different age. Animal used were local chicken (Gallus gallusdomesticus) age 1 month, 2 months, and 3 months, each were three chicken hematoxylin-eosin (HE) stain, then observed under electric microscope. This result showed there were differences in thymus histology structure among three age. Cortex thickness has increased at age 2 months and then has decreased at age 3 months. Diameter of the medulla has longest on local chicken age 3 month then followed age 2 month and 1 month. Distribusion of Hassal’s bodies has increased every levels age. The conclusion of this study is the increasing age of then the cortex thickness has decreased at 3 months meanwhile  diameter of the medulla getting longer.
PENGARUH WAKTU PENYIMPANAN SUSU SAPI PASTEURISASI PADA SUHU KAMAR TERHADAP JUMLAH KOLONI Staphylococcus aureus (THE EFFECT OF PASTEURIZED COW’S MILK STORAGE TIME IN ROOM TEMPERATURE TO THE NUMBER OF Staphylococcus Aureus COLONIES) Ario Ridho Gelagar; Fakhrurrazi Fakhrurrazi; Ismail Ismail
JURNAL ILMIAH MAHASISWA VETERINER Vol 1, No 3 (2017): MEI - JULI
Publisher : JURNAL ILMIAH MAHASISWA VETERINER

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (497.952 KB) | DOI: 10.21157/jim vet..v1i3.3346

Abstract

ABSTRAKPenelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh waktu penyimpanan susu sapi pasteurisasi pada suhu kamar terhadap jumlah koloni Staphylococcus aureus. Sampel pada penelitian ini adalah susu segar yang diambil dari peternakan sapi perah lokal di wilayah Banda Aceh yang diambil waktu pemerahan pagi hari. Susu segar dipasteurisasi dengan metode Low Temperature Long Time (LTLT) dengan suhu 62ºC selama 30 menit dan dilakukan penyimpanan pada suhu kamar 26°C selama 4 jam, 8 jam dan 12 jam. Parameter yang diukur pada penelitian ini adalah jumlah koloni Staphylococcus aureus yang ditanam pada media Manitol Salt Agar (MSA). Analisis data penelitian ini adalah analisis deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa jumlah bakteri Staphylococcus aureus paling banyak pada penyimpanan selama 12 jam sebanyak 1x103 CFU/ml. Selanjutnya penyimpanan selama 8 jam dan 4 jam berturut-turut sebanyak 1x101 CFU/ml dan 1x101 CFU/ml. Kesimpulan dari penelitian adalah semakin lama waktu penyimpanan susu sapi pasteurisasi pada suhu kamar maka cemaran bakteri Staphylococcus aureus pada susu akan semakin meningkat.ABSTRACTThe purpose of this study is to know the effect of storage time of pasteurized milk in room temperature to the number of Staphylococcus aureus bacteria. The samples for this study were fresh milk from local dairy farm in Banda Aceh, taken directly from the cow in morning milking hour. Fresh milk then pasteurized with LTLT method, 62°C for 30 minutes. Then, the samples were divided into groups which stored in 26°c for 4 hours, 8 hours and 12 hours. Parameters in this study is the number of SA cultured in MSA. The data obtained then analyzed descriptively. The result shows that 12 hours storage performed the most colonies of Staphylococcus aureus bacteria with the number 1x103 CFU/ml.  Below it, was 8 hours and 4 hours storage with the number consecutively 1x101 cfu/ml and less than 1x101 cfu/ml. This, the author can conclude that, the longer storage time of pasteurized cow’s milk in the room temperature is, contamination of  SA number in milk will be increased.
(The role of breeders to the success of artificial insemination in cattle in Asahan Districts) PERAN PETERNAK TERHADAP KEBERHASILAN INSEMINASI BUATAN PADA SAPI DI KABUPATEN ASAHAN nurul nazmi annisa; Roslizawaty Roslizawaty; hamdan hamdan; cut dahlia iskandar; ismail ismail; tongku N siregar
JURNAL ILMIAH MAHASISWA VETERINER Vol 2, No 2 (2018): FEBRUARI - APRIL
Publisher : JURNAL ILMIAH MAHASISWA VETERINER

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (356.631 KB) | DOI: 10.21157/jim vet..v2i2.6945

Abstract

ABSTRAKPenelitian ini bertujuan mengetahui peran peternak terhadap keberhasilan inseminasi buatan pada sapi di Kabupaten Asahan. Data pada penlitian ini diperoleh dari lembar kuisioner dan wawancara langsung kepada 52 orang peternak pengguna IB serta data hasil IB dari dinas terkait. Hasil uji regresi stepwise, di dapat bahwa peran peternak yang paling berpengaruh nilai service per conception (S/C) adalah pekerjaan utama PNS dan pekerjaan utama peternak dengan nilai R square 0,220 dengan persamaan regresi Y = 1.408 – 0.203 X1 + 0.312 X2, sedangkan faktor yang berpengaruh terhadap nilai conception rate (CR) adalah pengalaman beternak dengan nilai R square 0,131 dengan persamaan regresi Y = 59.183 + 2.419X. Dari hasil uji regresi stepwise dapat disimpulkan bahwa karakteristik peternak yang mempengaruhi hasil IB adalah pekerjaan utama dan lama beternak.Kata kunci: Peran peternak, Inseminasi buatan. ABSTRACTThe aims of this study was to determine the role of  farmers on the success of artificial insemination in cattle in Asahan districts. The data on this study were obtained from questionnaire and interview directly to 52 ranchers of artificial insemination service users as well as artificial insemination results data from related offices. From the stepwise regression test, it was found that the role of the most influential breeder of service value per conception (S / C) was the work of the civil servant and the work of breeder with the value of R square 0,220 with regression equation Y = 1.408 – 0.203 X1 + 0.312 X2, while the factor that influence the value of conception rate (CR ) was breeding experience with value of R square 0,131 with regression equation Y = 59.183 + 2.419X. From result of stepwise regression test can be concluded that breeder characteristic influencing result of artificial insemination was work and breeding experience.Keywords: The role of farmers, Artificial insemination.
PENGARUH PEMBERIAN PAKAN FERMENTASI LIMBAH NANAS (Ananas comosus L. Merr) TERHADAP BOBOT BADAN DAN PERSENTASE POTONGAN KARKAS BROILER prima nittha
JURNAL ILMIAH MAHASISWA VETERINER Vol 1, No 3 (2017): MEI - JULI
Publisher : JURNAL ILMIAH MAHASISWA VETERINER

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (615.829 KB) | DOI: 10.21157/jim vet..v1i3.3814

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efek pemberian pakan fermentasi  limbah nanas (Ananas comosus L. Merr) terhadap bobot badan dan persentase potongan karkas pada ayam broiler. Penelitian ini menggunakan 100  ekor broiler ditempatkan secara acak ke dalam 4 kelompok perlakuan dengan 5 pengulangan. Perlakuan A sebagai kontrol terdiri atas 25 ekor ayam yang diberikan pakan komersil 100%, perlakuan B terdiri atas 25 ekor ayam yang diberikan 92,5% pakan komersil dan 7,5% fermentasi limbah nanas, perlakuan C terdiri atas 25 ekor ayam yang  diberikan 85% pakan komersil dan 15% fermentasi limbah nanas serta perlakuan D terdiri atas 25 ekor ayam yang diberikan 77,5% pakan komersil dan 22,5% fermentasi limbah nanas. Perlakuan pakan diberikan selama 35 hari. Data bobot badan dan persentase potongan kakas broiler dianalisis menggunakan uji analisis of variance (ANOVA) dan dilanjutkan dengan uji Duncan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa bobot badan broiler pada perlakuan A, B, C, D terdapat perbedaan yang nyata (P0,05). Hasil penelitian pada persentase potongan karkas  broiler tidak terdapat perbedaan yang nyata (P0,05
ISOLASI DAN IDENTIFIKASI BAKTERI Staphylococcus aureus PADA VAGINA SAPI ACEH (Isolation and Identification of Staphylococcus aureus Bacteria in Vagina of Aceh Cattle) siti hajar; Teuku Zahrial Helmi; Darmawi Darmawi; Al Azhar; Fakhrurrazi Fakhrurrarzi; Azhar Azhar
JURNAL ILMIAH MAHASISWA VETERINER Vol 2, No 3 (2018): MEI - JULI
Publisher : JURNAL ILMIAH MAHASISWA VETERINER

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (365.04 KB) | DOI: 10.21157/jim vet..v2i3.8197

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengisolasi dan mengidentifikasi bakteri Staphylococcus aureus pada vagina sapi aceh. Penelitian menggunakan sampel berupa 10 swab vagina sapi aceh. Penelitian ini adalah penelitian deskriptif dengan menggunakan metode Carter, spesimen untuk pemeriksaan bakteri berupa hasil swab vagina sapi aceh yang di ambil dengan menggunakan swab steril. Spesimen yang diperoleh dimasukkan ke dalam tabung reaksi yang berisi nutrient broth (NB) sebagai media perkembangbiakan bakteri. Selanjutnya dilakukan isolasi pada media manitol salt agar (MSA) sebagai media selektif, identifikasi bakteri menggunakan pewarnaan Gram, uji katalase, uji hemolisa dan uji biokimia (manitol dan glukosa). Hasil penelitian melalui isolasi pada media manitol salt agar (MSA) adalah pertumbuhan koloni bakteri berwarna kuning keemasan, berwarna ungu pada pewarnaan Gram yang menandakan bakteri Gram positif, berbentuk kokus, uji katalase positif, uji hemolisa menghasilkan beta (β) hemolisis, dan mampu memfermentasi pada uji glukosa dan manitol. Kesimpulan dari penelitian ini bahwa dari 10 sampel swab vagina sapi aceh positif diisolasi dan diidentifikasi bakteri Staphylococcus aureus.This study was conducted to isolate and identify the Staphylococcus aureus bacteria in vagina of Aceh Cattle. This study used 10 swab vaginal samples from 10 female Aceh Cattle. Data obtained were analyzed descriptively using Carter method, the specimen of bacteria had taken by using sterile swab. The result of specimens were fed into a test tube containing nutrient broth (NB) as a bacterial growth media. Furthermore, the isolation was done on manitol salt agar (MSA) media as selective media, bacterial identification were used Gram staining, catalase test, and biokimia test (mannitol and glucose). The results of research through isolation on manitol salt agar (MSA) media was a golden yellow colony, had purple color in Gram stain that signified Gram positive bacteria, coccus-shaped, catalase test positive, produced beta (β) hemolysis in hemolysis test and able to ferment on glucose and mannitol tests. This research conclude that Staphylococcus aureus bacteria were positively identified from vaginal swabs of aceh cattle.
STRUKTUR HISTOLOGI KULIT IKAN GABUS (Channa striata) (The Histology Of Skin’s Snakehead Fish (Channa striata)) Desi Andriani; Dian Masyitha; Zainuddin Zainuddin
JURNAL ILMIAH MAHASISWA VETERINER Vol 1, No 3 (2017): MEI - JULI
Publisher : JURNAL ILMIAH MAHASISWA VETERINER

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1146.538 KB) | DOI: 10.21157/jim vet..v1i3.3309

Abstract

ABSTRAK Penelitian ini bertujuan mengetahui struktur histologi kulit ikan gabus. Sampel yang diambil adalah kulit bagian dorsal dan bagian abdomen diamati dengan metode histologi eksplorasi. Pengamatan dilakukan setelah pembuatan preparat histologi yang diwarnai dengan Hematoksilin-eosin (HE) dan Masson trichrome. Hasil penelitian menunjukkan struktur histologi kulit ikan gabus terdiri atas tiga lapisan. Lapisan epidermis yang tersusun atas sel-sel epitel pipih, sel mukus, club cell, dan sel pigmen. Lapisan dermis terdiri dari stratum spongiosum dengan serabut kolagen longgar dan stratum compactum dengan serabut kolagen rapat. Lapisan hipodermis terdiri dari sel lemak, serabut kolagen, dan pembuluh darah. Pada lapisan dermis terdapat banyak serabut kolagen yang berwarna biru dengan pewarnaan Masson trichrome.ABSTRACT  This research aimed was to know the histology skin of snakehead fish. The samples was came form dorsal and abdomen of snakehead fish. The method used Haematoksilin-Eosin (HE) and Masson trichrome method. The result showed that structure of skin snakehead fish consist tree stratums. The first was epidermis stratums which are composed of squamous cells, mucus cell, club cell, and pigment cell. The second was dermis stratums which are composed stratum spongiosum and stratum compactum. The third was hypodermis stratums which are composed of fat cell, collagen, and blood vessel. Mainly collagen was located in dermis which stained by Masson tricrome.
PENGARUH EKSTRAK KUNYIT (Curcuma domestica) KONSENTRASI 75 % TERHADAP MOTILITAS DAN MORTILITAS CACING Ascaridia galli SECARA IN VITRO (Effect of turmeric extract (Curcuma domestica) 75% concentration against motility and mortality of Ascaridia galli in vitro) zena fisdiora; ummu balqis; muhammad hambal
JURNAL ILMIAH MAHASISWA VETERINER Vol 2, No 2 (2018): FEBRUARI - APRIL
Publisher : JURNAL ILMIAH MAHASISWA VETERINER

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (302.948 KB) | DOI: 10.21157/jim vet..v2i2.6860

Abstract

Penelitian ini bertujuan memberikan informasi tentang pengaruh ekstrak kunyit (Curcuma domestica) dengan konsentrasi 75% terhadap motilitas dan mortalitas cacing Ascaridia galli secara In vitro. Sampel yang digunakan adalah cacing Ascaridia galli betina dewasa yang aktif bergerak, sehat serta memiliki panjang 7-11 cm sebanyak 6 ekor. Ascaridia galli dibagi menjadi 2 kelompok perlakuan, masing-masing perlakuan terdiri atas 3 ekor. Untuk kelompok I Ascaridia galli direndam dalam larutan NaCl 0,9% sebagai kontrol , sedangkan untuk kelompok II Ascaridia galli direndam dalam ekstrak kunyit (Curcuma domestica) konsentrasi 75%. Parameter penelitian di ukur berdasakan nilai skor dengan kriteria, untuk nilai skor 3 diberikan apabila seluruh tubuh cacing bergerak, nilai skor 2 diberikan apabila hanya sebagian tubuh cacing yang bergerak, nilai skor 1 diberikan apabila cacing tidak bergerak (diam) tetapi masih hidup, skor 0 diberikan apabila cacing tidak bergerak (mati). Hasil penelitian menunjukkan bahwa cacing Ascaridia galli yang direndam dalam ekstrak kunyit (Curcuma domestica) konsentrasi 75% menunjukkan kematian pada jam ke-3, sedangkan cacing Ascaridia galli yang direndam dalam larutan NaCl 0,9% mati pada jam ke-8. Ekstrak kunyit (Curcuma domestica) dengan konsentrasi 75% menyebabkan kematian cacing Ascaridia galli 5 jam lebih cepat dibandingkan dengan NaCl 0,9% secara In vitro. Hasil Penelitian ini dapat disimpulkan bahwa ekstrak kunyit (Curcuma domestica) konsentrasi 75% memiliki potensi sebagai anthelmentik untuk cacing Ascaridia galli. (This study provides information on the use of turmeric extract (Curcuma domestica) with a concentration of 75% agains Ascaridia galli in vitro. Sample that was used were 6 female adult of Ascaridia galli that are still active, healthy and have a length of 7-11 cm, Ascaridia galli was divided into 2 groups of treatment, each consists of 3 Ascaridia galli. In group I Ascaridia galli was rinsed in 0.9% NaCl solution as control, while in group II Ascaridia galli was rinsed in turmeric extract (Curcuma domestica) with concentration of 75%. The parameters in this study were measured based on criteria, for score 3 given the chance of the whole body of the worm moves, the score of 2 was given while only part of the body moving,  score 1 was given when the worms were not moving but still shows living signs, the score 0 was given when worms were not moving at all (dead). The results showed that Ascaridia galli rinsed in turmeric extract (Curcuma domestica) with concentration 75% died with in 3 hours, while Ascaridia galli rinsed in 0.9% NaCl solution having the time of death after 8 hours. This research concluded that turmeric extract (Curcuma domestica) concentration of 75% had effect on motility and mortality of Ascaridia galli in vitro and has anthelmintic potentiates for Ascaridia galli)

Page 9 of 30 | Total Record : 296