cover
Contact Name
Fuad Mustafid
Contact Email
fuad.mustafid@uin-suka.ac.id
Phone
+6281328769779
Journal Mail Official
asy.syirah@uin-suka.ac.id
Editorial Address
-
Location
Kab. sleman,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Asy-Syir'ah: Jurnal Ilmu Syari'ah dan Hukum
ISSN : 08548722     EISSN : 24430757     DOI : 10.14421/ajish
Core Subject : Religion, Social,
2nd Floor Room 205 Faculty of Sharia and Law, State Islamic University (UIN) Sunan Kalijaga, Marsda Adisucipto St., Yogyakarta 55281
Arjuna Subject : -
Articles 8 Documents
Search results for , issue "Vol 58 No 2 (2024)" : 8 Documents clear
Contesting Sacred Gifts: The Erosion of Waqif’s Rights in a Waqf Dispute in Prabumulih, South Sumatra Kencana, Ulya; Astina, Ria; Erniwati, Erniwati; Antasari, Rina; Sagita, Diniaria
Asy-Syir'ah: Jurnal Ilmu Syari'ah dan Hukum Vol 58 No 2 (2024)
Publisher : UIN Sunan Kalijaga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/ajish.v58i2.1355

Abstract

The practice of waqf in South Sumatra society has been going on for a long time and is regulated both in Islamic law and in applicable legislation. However, disputes related to waqf land still occur, such as the case in Prabumulih, South Sumatra, where heirs tried to reclaim property that had been donated as waqf. This article discusses waqf from a legal perspective and analyzes disputes over the withdrawal of waqf assets by heirs within the framework of human rights (HAM). The theory used is the human rights theory, which asserts that the rights of every individual are protected by law, including the rights of the deceased waqif. This study employs a normative-empirical approach: the normative approach is used to examine waqf regulations, while the empirical approach is applied in analyzing the waqf dispute case in Prabumulih. The results of the study show that in Islamic law, differences in the definition of waqf among schools of thought lead to variations in practice in society. Regulations in Indonesia require the registration of waqf land at the Office of Religious Affairs to prevent disputes. From a human rights perspective, the heirs' efforts to withdraw waqf assets are illegal and violate the waqif's human rights, which should remain protected. Praktik wakaf di masyarakat Sumatera Selatan telah berlangsung sejak lama dan telah diatur baik dalam hukum Islam maupun dalam peraturan perundang-undangan yang berlaku. Namun, sengketa terkait tanah wakaf masih terjadi, seperti kasus di Prabumulih, Sumatera Selatan, di mana ahli waris mencoba menarik kembali harta yang telah diwakafkan. Artikel ini membahas wakaf dari sudut pandang hukum serta menganalisis sengketa penarikan harta wakaf oleh ahli waris dalam kerangka hak asasi manusia (HAM). Teori yang digunakan adalah teori HAM, yang menegaskan bahwa hak setiap individu dilindungi oleh hukum, termasuk hak waqif yang telah wafat. Penelitian ini menggunakan pendekatan normatif-empiris: pendekatan normatif digunakan untuk mengkaji regulasi wakaf, sementara pendekatan empiris diterapkan dalam menganalisis kasus sengketa wakaf di Prabumulih. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dalam hukum Islam, perbedaan definisi wakaf di antara mazhab menyebabkan variasi dalam praktik di masyarakat. Regulasi di Indonesia mengharuskan pencatatan tanah wakaf di Kantor Urusan Agama guna mencegah terjadinya sengketa. Dari perspektif HAM, upaya ahli waris untuk menarik kembali harta wakaf merupakan tindakan yang melanggar hukum dan mencederai hak asasi waqif yang seharusnya tetap dilindungi.
An Artificial Intelligence ChatGPT-Based Approach for Qibla Identification: Implementation and Analysis Aziz, Saiful
Asy-Syir'ah: Jurnal Ilmu Syari'ah dan Hukum Vol 58 No 2 (2024)
Publisher : UIN Sunan Kalijaga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/ajish.v58i1.1443

Abstract

The integration of Artificial Intelligence (AI) into religious practices, particularly in determining the qibla direction, offers both opportunities and challenges. While AI tools such as ChatGPT provide high accuracy and efficiency, their acceptance among religious adherents remains uncertain due to concerns over tradition and religious principles. This study aims to evaluate the feasibility and accuracy of ChatGPT-4 in determining the qibla direction compared to traditional methods. A mixed-methods approach was employed, utilizing the principles of Spherical Trigonometry as the primary approach for qibla determination. The accuracy of AI-predicted qibla directions was verified through two different validation techniques: direct measurement using Mizwala for mosques located in Java and Google Earth for indirect validation in mosques outside Java. Statistical analysis, including mean error calculation and standard deviation, demonstrated ChatGPT-4’s exceptionally low average deviation of 0°0’0.026”, confirming its potential as an effective and efficient alternative. However, qualitative insights from mosque administrators highlight concerns about AI’s alignment with religious values and community trust. The study emphasizes that successful AI integration in religious practices requires a balance between preserving tradition and embracing innovation. These findings contribute to ongoing discussions on AI's role in religious contexts, advocating collaboration among religious scholars, technologists, and community leaders. Ultimately, this research successfully bridges the gap between traditional qibla determination methods and AI-based technology, ensuring that technological advancements remain aligned with religious principles. Integrasi Artificial Intelligence (AI) dalam praktik keagamaan, khususnya dalam penentuan arah kiblat, menghadirkan peluang sekaligus tantangan. Meskipun AI seperti ChatGPT menawarkan akurasi dan efisiensi yang tinggi, penerimaannya di kalangan penganut agama masih menghadapi kendala karena pertimbangan tradisi dan prinsip keagamaan. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi kelayakan dan akurasi ChatGPT-4 dalam menentukan arah kiblat dibandingkan dengan metode tradisional. Pendekatan metode campuran diterapkan dengan menggunakan prinsip Spherical Trigonometry sebagai pendekatan utama dalam menentukan arah kiblat. Akurasi prediksi arah kiblat yang dihasilkan oleh AI diverifikasi melalui dua teknik validasi yang berbeda: pengukuran langsung menggunakan Mizwala untuk masjid yang berlokasi di Jawa, serta validasi tidak langsung menggunakan Google Earth untuk masjid di luar Jawa. Analisis statistik, termasuk perhitungan rata-rata kesalahan dan deviasi standar, menunjukkan bahwa ChatGPT-4 memiliki deviasi rata-rata sangat rendah sebesar 0°0’0.026”, yang menunjukkan potensinya sebagai alternatif yang efektif dan efisien. Namun, wawasan kualitatif dari pengelola masjid mengungkapkan kekhawatiran terkait kesesuaian AI dengan nilai-nilai keagamaan dan kepercayaan masyarakat. Penelitian ini menegaskan bahwa keberhasilan integrasi AI dalam praktik keagamaan memerlukan keseimbangan antara pelestarian tradisi dan inovasi. Temuan ini berkontribusi pada diskusi yang sedang berlangsung mengenai peran AI dalam praktik keagamaan, mendorong kolaborasi antara ulama, ahli teknologi, dan tokoh masyarakat. Pada akhirnya, penelitian ini berhasil menjembatani kesenjangan antara metode tradisional dalam penentuan arah kiblat dengan teknologi berbasis AI, memastikan bahwa kemajuan teknologi tetap selaras dengan prinsip keagamaan.
The Gendered Politics of Maslahah: Patriarchal Tendencies in the Legal and Judicial Justification of Polygamy Amilia, Fatma; Tobroni, Faiq; Burhanuddin, Hamam; Salwa, Hana Zaida
Asy-Syir'ah: Jurnal Ilmu Syari'ah dan Hukum Vol 58 No 2 (2024)
Publisher : UIN Sunan Kalijaga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/ajish.v58i2.1519

Abstract

Polygamy is a controversial issue. Its existence is justified on the grounds of welfare (maslahah). However, the concept of maslahah is often interpreted in a biased manner that favors men. This article poses two questions. Firstly, why does the interpretation of public welfare that disadvantages women occur in polygamy law? Second, what are the ideal conditions for polygamy based on the interpretation of public welfare in the Qur’an? The research employs qualitative methods, a critical discourse analysis approach, and theories of patriarchy and power relations. Data collection includes a literature review of scientific articles, books, and legal documents related to polygamy in Indonesia. The findings reveal that patriarchal discourse on polygamy has shaped the meaning of maslahah. The spirit of maslahah is overshadowed by patriarchal power relations. State power, culture, and discourse have shaped these relations. State legal products in the form of regulations and judicial decisions demonstrate that the state acts as an agent of patriarchy, legalizing the concept of maslahah to benefit men. Culture further reinforces the discourse of maslahah that harms women. This article proposes a reinterpretation of the concept of maslahah as a consideration for polygamy, in line with the objectives of the Qur'an. The consideration of public welfare must shift from individual and biological interests to social ones. The conditions for polygamy must change, not based on the wife's infertility or physical disabilities. Instead, they should be based on the woman to be married, with the condition that she must be a widow with children as paternal orphans. Poligami merupakan isu yang kontroversial. Keberadaannya mendapat legitimasi dengan alasan kemaslahatan. Namun, konsep kemaslahatan sering mendapat tafsir bias yang menguntungkan laki-laki. Artikel ini mengajukan dua pertanyaan. Pertama, mengapa pemaknaan kemaslahatan yang merugikan perempuan terjadi dalam hukum poligami? Kedua, bagaimana syarat poligami yang ideal berdasarkan pemaknaan kemaslahatan dalam Al-Qur’an? Penelitian menggunakan metode kualitatif, pendekatan analisis wacana kritis, dan teori patriarki serta relasi kuasa. Pengumpulan data berasal dari literatur review seperti artikel ilmiah, buku, dan dokumen hukum yang berkaitan dengan poligami. Hasilnya  menemukan bahwa diskursus yang bias patriarki pada poligami telah membentuk makna kemaslahatan. Spirit kemaslahatan berada di bawah bayang relasi kuasa patriarki. Kekuasaan negara, budaya dan wacana telah membentuk relasi tersebut. Produk hukum negara dalam bentuk regulasi maupun judikasi memperlihatkan negara menjadi agen patriarki yang melegalkan konsep kemaslahatan untuk menguntungkan laki-laki. Budaya turut memperkuat wacana kemaslahatan yang merugikan perempuan. Artikel ini mengusulkan pemaknaan ulang atas konsep kemaslahatan sebagai pertimbangan poligami, yang sesuai dengan tujuan Al-Quran. Pertimbangan kemaslahatan harus berubah dari kepentingan individual dan biologis menjadi sosial. Syarat poligami harus berubah, bukan berada pada kondisi istri yang tidak subur atau cacat fisik. Tetapi pada perempuan yang akan dinikahi, dengan syarat harus janda yang mempunyai anak yatim.
Kritik Nalar Ushuli Perspektif Maqashid dalam Hukum Jinayah Pencurian Zainudin, Zainudin; Mutawali, Mutawali
Asy-Syir'ah: Jurnal Ilmu Syari'ah dan Hukum Vol 58 No 2 (2024)
Publisher : UIN Sunan Kalijaga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/ajish.v58i2.1521

Abstract

The development of the era demands adaptability and flexibility in Islamic legal responses. Unfortunately, the old paradigm of “ushul fiqh,” which is very literal, has not been able to resolve these various problems. Furthermore, this old approach often leads to debates due to differences in the methods and theories of ushul fiqh used. Therefore, criticism of the old methods and approaches is necessary, particularly through the maqashid asy-syariah approach based on maslahat. This article will elaborate on the criticism of ushul fiqh reasoning using maqashidi reasoning. This article is a literature review, with data sourced from literature and analyzed using inductive, deductive, and comparative methods. Based on Muqsith's theory of naskh al-nushush bi al-mashlahat, this article argues that the maqashid approach based on maslahah can change the law, even those already stated in the text. This article finds that the classical Islamic legal reasoning method, ushul fiqh, needs to be critiqued using the maqashid approach through contextualization, decontextualization, and recontextualization. As a result, the resulting laws will yield broader benefits. This article contributes to contemporary Islamic legal thought through the maqashid approach. Perkembangan zaman menuntut adanya adaptabilitas dan fleksibilitas respon hukum islam. Sayangnya, pendekatan paradigma lama “ushul fiqh” yang sangat literal belum mampu menyelesaikan berbagai problem tersebut. Lebih jauh, pendekatan lama tersebut kerap menimbulkan perdebatan karena perbedaan metode dan teori ushul fiqh yang digunakan. Oleh sebab itu, kritik atas metode dan pendekatan lama perlu dilakukan, khususnya dengan pendekatan maqashid asy-syariah yang berbasis maslahat. Artikel ini akan mengelaborasi kritik nalar ushul fiqh dengan menggunakan nalar maqashidi. Artikel ini merupakan penelitian pustaka, yang datanya bersumber dari literatur, dan dianalisis dengan metode induktif, deduktif, serta komparatif. Berdasarkan teori naskh al-nushush bi al-mashlahat yang diusung Muqsith, artikel ini berargumentasi bahwa pendekatan maqashid yang berbasis maslahah dapat mengubah hukum, bahkan yang sudah tertera dalam teks. Artikel ini menemukan bahwa metode istinbat hukum islam klasik, ushul fiqh, perlu dikritik menggunakan pendekatan maqashid dengan cara kontekstualisasi, diskontekstualisasi, dan rekontekstualisasi. Dengan begitu, hukum yang dihasilkan akan lebih menimbulkan manfaat yang lebih luas. Artikel ini berkontribusi pada pemikiran hukum islam kontemporer dengan pendekatan maqashid.
Beyond Marxist Materialism: H.O.S Tjokroaminoto’s Islamic Socialism and Its Maqāṣidī Foundations Al-Amin, Muhammad Nur Kholis; Santoso, Fattah Setiawan; Murtadho, Ibnu; Wahuri, Salahuding Daman
Asy-Syir'ah: Jurnal Ilmu Syari'ah dan Hukum Vol 58 No 2 (2024)
Publisher : UIN Sunan Kalijaga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/ajish.v58i2.1596

Abstract

The development of Islamic legal-political thought in Indonesia has been focused on post-independence Islamic thinkers, leaving a significant academic gap in exploring pre-independence intellectual figures such as Haji Oemar Said (H.O.S) Tjokroaminoto. His perspective on socialism—distinct from Western Marxist materialism—provides an early model of Islamic socialism rooted in maqāṣid syarī‘ah principles. Tjokro also introduced three aphorisms as a private effort to encourage Muslim be perfect, namely: setinggi-tinggi ilmu, semurni-murni tauhid, dan sepintar-pintar siasat. This article aims to critically revisit Tjokroaminoto’s thoughts on socialism through a legal-historical method, focusing on his seminal work Islam dan Sosialism, supported by Tafsir Program dan Tandhim Syarikat Islam and Reglement Ummat Islam. Primary sources are analyzed using historical, conceptual, and comparative approaches framed within maqāṣid syarī‘ah theory. The findings reveal that Tjokroaminoto conceptualized socialism as inherently Islamic, emphasizing justice, equality, fraternity, and moral responsibility—not through class struggle but through collective ethical obligation grounded in tawḥīd and communal welfare. He redefined socialism as spiritual-ethical governance aligned with prophetic values, such as zakat, ukhuwah (brotherhood), and strategic intelligence (siyasah). These views form what may be considered a proto-model of Islamic governance in response to colonial capitalism. The study implies that contemporary Islamic legal-political thought in Indonesia must not neglect foundational nationalist-Islamic ideas that anticipated maqāṣid-based governance and social justice long before postcolonial discourses. Perkembangan pemikiran hukum-politik Islam di Indonesia seringkali berfokus pada para pemikir Islam pasca-kemerdekaan, sehingga menyisakan kesenjangan akademis yang signifikan dalam mengeksplorasi tokoh-tokoh intelektual pra-kemerdekaan seperti Haji Oemar Said (H.O.S) Tjokroaminoto. Perspektifnya tentang sosialisme—yang berbeda dari materialisme Marxis Barat—memberikan model awal sosialisme Islam yang berakar pada prinsip-prinsip maqāṣid syarī‘ah. Tjokro juga memperkenalkan tiga kata mutiara sebagai upaya pribadi untuk mendorong umat Islam menjadi sempurna, yaitu: ilmu setinggi-tinggi, semurni-murni tauhid, dan sepintar-pintar siasat.  Artikel ini bertujuan untuk meninjau kembali secara kritis pemikiran Tjokroaminoto tentang sosialisme melalui metode sejarah hukum, dengan fokus pada karya pemikirannya, Islam dan Sosialisme, yang didukung oleh Tafsir Program dan Tandhim Syarikat Islam dan Reglement Ummat Islam. Sumber-sumber primer dianalisis menggunakan pendekatan historis, konseptual, dan komparatif yang dibingkai dalam teori maqāṣid syarī‘ah. Temuan penelitian ini mengungkapkan bahwa Tjokroaminoto mengonseptualisasikan sosialisme sebagai sesuatu yang inheren Islami, menekankan keadilan, kesetaraan, persaudaraan, dan tanggung jawab moral—bukan melalui perjuangan kelas, melainkan melalui kewajiban etis kolektif yang berlandaskan tauhid dan kesejahteraan komunal. Ia mendefinisikan ulang sosialisme sebagai tata kelola spiritual-etika yang selaras dengan nilai-nilai profetik, seperti zakat, ukhuwah (persaudaraan), dan kecerdasan strategis (siyasah). Pandangan-pandangan ini membentuk apa yang dapat dianggap sebagai proto-model tata kelola Islam dalam menanggapi kapitalisme kolonial. Studi ini menyiratkan bahwa pemikiran hukum-politik Islam kontemporer di Indonesia tidak boleh mengabaikan gagasan-gagasan nasionalis-Islam fundamentalis yang mengantisipasi tata kelola berbasis maqāṣid dan keadilan sosial jauh sebelum wacana pascakolonial muncul.
Zakat of Business Unions: Towards the Improvement of Concepts and Regulations Bafadhal, Husin; Rahman, Fuad; Martaliah, Nurfitri
Asy-Syir'ah: Jurnal Ilmu Syari'ah dan Hukum Vol 58 No 2 (2024)
Publisher : UIN Sunan Kalijaga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/ajish.v58i2.941

Abstract

This article discusses zakat for business associations, which requires refinement of the concept and regulations if it is to be implemented in Indonesia. Although it has been discussed by scholars, how it becomes obligatory, what criteria must be met, and how the provisions of nisab,  ḥaul, the obligatory rate, and its implementation are still not receiving significant attention. Furthermore, the lack of clear and comprehensive regulations on zakat for business associations in Indonesia makes this discussion important. Focusing on zakat for business associations, this article will outline the Islamic legal review of zakat for business associations, the provisions of nisab,  ḥaul, the obligatory rate, and its implementation. This article is a literature study whose data is processed qualitatively using a normative-comparative approach. After reviewing relevant literature sources, this paper shows that assets in a business association are subject to zakat if they meet the nisab and haul requirements and are paid on behalf of the owners of the associated assets, not on behalf of the business association. Scholars differ in their opinions regarding the nisab requirements for zakat on business partnerships. Some argue that the nisab and haul should be determined based on the business partnership, while others argue that the nisab should be calculated based on the assets of each participant in the business partnership, not the partnership itself. Artikel ini mendiskusikan zakat untuk serikat usaha yang memerlukan penyempurnaan konsep dan regulasi jika diterapkan di Indonesia. Meskipun sudah dibahas oleh para ulama, namun bagaimana ia menjadi wajib, apa kriteria yang harus dipenuhi, serta bagaimana ketentuan nisab,  ḥaul, kadar wajib, dan pelaksanaannya, belum mendapatkan perhatian yang berarti. Ditambahkan lagi belum jelas dan tegasnya regulasi zakat serikat usaha di Indonesia yang komprehensif, menjadikan diskusi ini penting untuk dilakukan. Berfokus pada zakat untuk serikat usaha, artikel ini akan menguraikan tinjauan hukum Islam terhadap zakat serikat usaha, ketentuan nisab,  ḥaul, kadar wajib, dan pelaksanaannya. Artikel ini merupakan penelitian pustaka yang datanya diolah secara kualitatif menggunakan pendekatan normatif-komparatif. Setelah menelaah sumber-sumber pustaka yang relevan, tulisan ini menunjukkan bahwa harta yang terdapat dalam serikat usaha wajib dikeluarkan zakatnya bila telah memenuhi ketentuan nisab dan hawl dan ditunaikan atas nama pemilik harta yang berserikat, bukan atas nama serikat usaha. Para ulama berbeda pendapat tentang ketentuan nisab zakat serikat usaha. Mereka berpandangan bahwa nisab dan haul dilihat dari serikat usaha dan sebagian berpandangan bahwa perhitungan nisab atas harta masing-masing peserta serikat usaha, bukan pada serikat usaha.
The Significance of Ushul al-Fiqh and Maqashid Syari'ah Approaches in Reforming Islamic Law in Indonesia: A Critical Study of the Penal Code or Another Topic Yusuf, Nasruddin; Jamal, Ridwan; Makka, Misbahul Munir
Asy-Syir'ah: Jurnal Ilmu Syari'ah dan Hukum Vol 58 No 2 (2024)
Publisher : UIN Sunan Kalijaga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/ajish.v58i2.1450

Abstract

The integration between Tasyri's Philosophy and Sharia Philosophy in the context of Islamic law reform in Indonesia is the main focus of this study, especially in understanding how Islamic legal values can be applied effectively in the modern legislation system. The urgency of reforming Islamic law to answer the challenges of the times and the importance of understanding the relationship between the principles of tasyri' – as the basis for the formation of law – and sharia as the entire Islamic legal system that governs the lives of Muslims, are emphasized in the introduction. This research uses a qualitative approach with normative analysis, combining literature studies, the study of classical legal texts, and the interpretation of the views of contemporary scholars in Indonesia. The data obtained were critically analyzed to identify how Tasyri and Sharia Philosophy principles can be adapted into legislation responsive to social changes and the Indonesian context. The study results show that integrating Tasyri' and Sharia Philosophy in the reform of Islamic law in Indonesia allows the application of Islamic law that is more relevant to the needs of the times and enriches the legislation process with a strong ethical and moral basis. The main challenge in this integration is ensuring harmony between classical texts and modern social realities in Indonesia so that Islamic law continues to function as a dynamic and adaptive system, as a representation of religious law. Integrasi antara Filsafat Tasyri' dan Filsafat Syariah dalam konteks reformasi hukum Islam di Indonesia menjadi fokus utama penelitian ini, terutama dalam memahami bagaimana nilai-nilai hukum Islam dapat diterapkan secara efektif dalam sistem legislasi modern. Urgensi reformasi hukum Islam untuk menjawab tantangan zaman dan pentingnya memahami hubungan antara prinsip-prinsip tasyri' – sebagai dasar pembentukan hukum – dan syariah sebagai sistem hukum Islam secara keseluruhan yang mengatur kehidupan umat Muslim, ditekankan dalam pengantar. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan analisis normatif, menggabungkan studi literatur, studi teks hukum klasik, dan interpretasi pandangan ulama kontemporer di Indonesia. Data yang diperoleh dianalisis secara kritis untuk mengidentifikasi bagaimana prinsip-prinsip Tasyri' dan Filsafat Syariah dapat diadaptasi ke dalam legislasi yang responsif terhadap perubahan sosial dan konteks Indonesia. Hasil studi menunjukkan bahwa integrasi Tasyri' dan Filsafat Syariah dalam reformasi hukum Islam di Indonesia memungkinkan penerapan hukum Islam yang lebih relevan dengan kebutuhan zaman dan memperkaya proses legislasi dengan dasar etika dan moral yang kuat. Tantangan utama dalam integrasi ini adalah memastikan keselarasan antara teks-teks klasik dan realitas sosial modern di Indonesia sehingga hukum Islam tetap berfungsi sebagai sistem yang dinamis dan adaptif, sebagai representasi dari hukum agama.
Certainty and Doubt in Mamatuik: A Phenomenological and Fiqh-Based Analysis of Cattle Trading Kasmidin, Kasmidin; Arianti, Farida; Mughits, Abdul; Hidayat, Taufik; Rahmatullah, Rezki; M, Pauzi
Asy-Syir'ah: Jurnal Ilmu Syari'ah dan Hukum Vol 58 No 2 (2024)
Publisher : UIN Sunan Kalijaga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/ajish.v58i2.1456

Abstract

This study explores traders’ understanding of mamatuik—the traditional skill of estimating the meat weight of live cattle—in buying and selling transactions at the Palangki livestock market. Using a qualitative phenomenological approach with in-depth interviews and observation, the research reveals three levels of trader competence: al-yaqīn, those certain and accurate in estimation (appraisers); al-syak, those partially knowledgeable but doubtful (amateurs); and wahm, those lacking the skill entirely (non-appraisers). This categorization reflects the fiqh maxim اليقين لا يزال بالشك (“certainty is not removed by doubt”), emphasizing that conviction determines trading confidence and continuity. In practice, mamatuik assesses potential meat weight and anchors price bargaining to that estimate, directly influencing a trader’s decision to purchase and the final cattle price. While mutual understanding between buyer and seller supports fair transactions, it cannot fully eliminate defects such as gharar (uncertainty) stemming from ignorance of the goods. External factors also shape the process: the Livestock Service Office provides official weighing facilities that limit reliance on mamatuik, enabling buyers without this skill to use objective measurements instead. Overall, mamatuik represents both a localized non-verbal knowledge system and a practical economic strategy, where the interplay of skill, belief, and regulatory oversight determines market dynamics and the distribution of risk. Penelitian ini mengkaji pemahaman para pedagang terhadap mamatuik—keahlian tradisional dalam memperkirakan berat daging sapi hidup—dalam transaksi jual beli di Pasar Ternak Palangki. Menggunakan pendekatan fenomenologis kualitatif dengan wawancara mendalam dan observasi, penelitian ini mengidentifikasi tiga tingkatan kompetensi pedagang: al-yaqīn, yaitu mereka yang yakin dan akurat dalam perkiraan (penilai); al-syak, yaitu mereka yang memiliki pengetahuan sebagian tetapi ragu-ragu (pemula); dan wahm, yaitu mereka yang sama sekali tidak memiliki keterampilan tersebut (bukan penilai). Klasifikasi ini mencerminkan prinsip fiqh اليقين لا يزال بالشك (“keyakinan tidak hilang karena keraguan”), menekankan bahwa keyakinan menentukan kepercayaan dan kelangsungan transaksi. Dalam praktiknya, mamatuik menilai berat daging potensial dan menetapkan tawar-menawar harga berdasarkan perkiraan tersebut, yang secara langsung mempengaruhi keputusan pedagang untuk membeli dan harga akhir ternak. Meskipun pemahaman mutual antara pembeli dan penjual mendukung transaksi yang adil, hal ini tidak dapat sepenuhnya menghilangkan cacat seperti gharar (ketidakpastian) yang berasal dari ketidaktahuan tentang barang. Faktor eksternal juga memengaruhi proses ini: Kantor Layanan Peternakan menyediakan fasilitas penimbangan resmi yang membatasi ketergantungan pada mamatuik, sehingga pembeli yang tidak memiliki keterampilan ini dapat menggunakan pengukuran objektif sebagai gantinya. Secara keseluruhan, mamatuik mewakili sistem pengetahuan non-verbal yang lokal dan strategi ekonomi praktis, di mana interaksi antara keterampilan, keyakinan, dan pengawasan regulasi menentukan dinamika pasar dan distribusi risiko.

Page 1 of 1 | Total Record : 8