cover
Contact Name
Ni Luh Gde Sumardani
Contact Email
-
Phone
+6281338996609
Journal Mail Official
fapetmip@gmail.com
Editorial Address
Gd. Agrokompleks Lt.1 Fakultas Peternakan Universitas Udayana. Jl. PB. Sudirman Denpasar, Bali
Location
Kota denpasar,
Bali
INDONESIA
Majalah Ilmiah Peternakan
Published by Universitas Udayana
ISSN : 08538999     EISSN : 26568373     DOI : https://doi.org/10.24843/MIP
Majalah Ilmiah Peternakan (MIP) diterbitkan oleh Fakultas Peternakan Universitas Udayana. MIP terbit secara berkala, tiga kali dalam setahun, pada bulan Februari, Juni dan Oktober. MIP merangkum berbagai manuskrip di bidang peternakan seperti nutrisi, produksi, reproduksi, pasca panen (pengolahan dan tekhnologi) serta sosial ekonomi bidang peternakan. Manuskrip terbuka untuk para dosen dan peneliti yang berkaitan dengan bidang peternakan, serta terbuka untuk mahasiswa S1, S2, dan S3, dengan mengikuti kaidah yang telah ditetapkan oleh MIP.
Articles 374 Documents
HUBUNGAN TINGKAT PENERAPAN DENGAN TINGKAT KEBERHASILAN USAHA KEMITRAAN AYAM RAS PEDAGING DI KABUPATEN TABANAN Susanti D. P.; I N. Suparta; B. R. T. Putri
Majalah Ilmiah Peternakan Vol 22 No 1 (2019): Vol. 22 No.1 (2019)
Publisher : Fakultas Peternakan Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (307.439 KB) | DOI: 10.24843/MIP.2019.v22.i01.p07

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji hubungan tingkat penerapan dengan tingkat keberhasilan usahakemitraan ayam ras pedaging dan faktor-faktor yang mempengaruhinya yaitu pengetahuan, keterampilan, sikap,dan motivasi peternak. Penelitian dilaksanakan di Kabupaten Tabanan. Penentuan sampel responden dilakukansecara acak menggunakan teknik proportionate stratified random sampling. Jumlah responden dari penelitianini adalah sebanyak 122 responden. Analisis data menggunakan analisa deskriptif dan analisa jalur menggunakanmetode structural equation modeling (SEM). Hasil penelitian menunjukkan bahwa (1) Tingkat penerapan polakemitraan usaha peternakan ayam ras pedaging di Kabupaten Tabanan adalah baik; (2) Hubungan pengetahuan,keterampilan, dan motivasi peternak dengan tingkat penerapan pola kemitraan usaha peternakan ayam raspedaging di Kabupaten Tabanan adalah positif, sedangkan hubungan sikap dengan tingkat penerapan polakemitraan usaha peternakan ayam ras pedaging di Kabupaten Tabanan adalah negatif; (3) Tingkat keberhasilanusaha kemitraan ayam ras pedaging di Kabupaten Tabanan termasuk dalam kategori berhasil; (4) Hubungan antarapengetahuan, keterampilan, dan tingkat penerapan pola kemitraan dengan tingkat keberhasilan usaha kemitraanayam ras pedaging di Kabupaten Tabanan adalah positif, sedangkan hubungan sikap dan motivasi dengan tingkatkeberhasilan usaha kemitraan ayam ras pedaging di Kabupaten Tabanan adalah negatif.Kata kunci: tingkat penerapan, tingkat keberhasilan, usaha kemitraan ayam ras pedaging
PEMANFAATAN DAUN KALIANDRA (Calliandra calothyrsus) SEBAGAI SUMBER PROTEIN PADA PAKAN ITIK LAKSMIWATI, N. M.; SITI, N. W.
Majalah Ilmiah Peternakan Vol 15, No 1 (2012)
Publisher : Fakultas Peternakan Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (374.038 KB) | DOI: 10.24843/mip.2012.v15.i01.p03

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji tingkat pemberian daun kaliandra sebagai sumber protein pada pakan itik. Rancangan yang digunakan dalam penelitian ini adalah Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan empat perlakuan yaitu pakan tanpa daun kaliandra (A = Kontrol ), pakan yang diberi 5% daun kaliandra (B), 10% (C) dan 15% daun kaliandra (D). Masing-masing perlakuan diulang lima kali dan setiap ulangan menggunakan delapan ekor itik Tegal dewasa. Ransum disusun isokalori (ME: 2800 kkal/kg) dan isoprotein(CP: 15%). Ransum dan air minum selama penelitian diberikan secara ad libitum. Variabel yang diamati adalah : konsumsi ransum, produksi telur (Duck Day Production), konversi ransum, bobot telur, warna kuning telur dan perkembangan organ reproduksi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian 10 % daun kaliandra pada pakan (perlakuan B), belum berpengaruh terhadap prduksi telur harian (Duck Day Production), FCR dan perkembangan organ reproduksi(P>0,05) tetapi terhadap konsumsi ransum dan warna kuning telur sudah dipengaruhi ( P<0,05 ). Peningkatan pemberian sampai 15% (perlakuan C) nyata menurunkan produksi telur, perkembangan organ reproduksi, bobot telur dan efisiensi ransum, tetapi terhadap skor warna kuning telur meningkat (P<0,05), seiring dengan meningkatnya tingkat pemberian. Disimpulkan bahwa penggunaan daun kaliandra yang optimum pada pakan itik adalah 10% sebab diatas level tersebut menyebabkan produksi telur, bobot telur, perkembangan organ reproduksi menurun dan kurang efisien dalam penggunaan ransum.
KELENTURAN FENOTIPIK SIFAT-SIFAT REPRODUKSI ITIK MOJOSARI, TEGAL, DAN PERSILANGAN TEGAL-MOJOSARI SEBAGAI RESPON TERHADAP AFLATOKSIN DALAM RANSUM DEWANTARI, M.
Majalah Ilmiah Peternakan Vol 9 No 3 (2006)
Publisher : Fakultas Peternakan Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (48.049 KB)

Abstract

RINGKASAN Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari fenomena kelenturan fenotipik sifat-sifat reproduksi itik Mojosari, Tegal, dan Tegal-Mojosari yang diberi ransum mengandung aflatoksin dengan tingkat yang berbeda. Penelitian dilaksanakan di Balai Penelitian Ternak Ciawi, Bogor. Tiga populasi itik masing-masing itik Mojosari (MM), Tegal (TT), dan Tegal-Mojosari (TM) diberi ransum yang mengandung aflatoksin selama satu bulan (umur 3 ? 7 minggu). Ransum yang digunakan ada empat macam, yaitu R0 (ransum kontrol tanpa diberi aflatoksin), R1(ransum kontrol + 50 ppb aflatoksin), R2 (ransum kontrol + 100 ppb aflatoksin), dan R3 (ransum kontrol + 150 ppb aflatoksin). Setelah periode ini, itik kembali diberi ransum tanpa mengandung aflatoksin sampai itik bertelur. Masing-masing populasi terdiri atas 80 ekor itik betina dan 20 ekor itik jantan, sehingga jumlah itik keseluruhan adalah 240 ekor betina dan 60 ekor jantan. Ransum dan air minum diberikan secara ad libitum. Rancangan yang digunakan dalam penelitian ini adalah Rancangan Acak Lengkap (RAL) pola faktorial 3 x 4 yang terdiri atas dua faktor. Faktor pertama adalah populasi itik (MM, TT, dan TM) dan faktor kedua adalah kandungan aflatoksin dalam ransum (0 ppb, 50 ppb, 100 ppb, dan 150 ppb). Sidik ragam dua arah digunakan untuk mengetahui perbedaan kelenturan fenotipik di antara ketiga populasi. Peubah yang diamati adalah konsumsi ransum, umur dewasa kelamin, bobot dewasa kelamin, dan bobot telur pertama. Hasil penelitian menunjukkan tidak bahwa terdapat perbedaan yang nyata (P>0,05) terhadap fenomena kelenturan fenotipik dalam sifat-sifat reproduksi (umur dewasa kelamin, bobot dewasa kelamin, dan bobot telur pertama) itik sebagai reaksi terhadap tingkat aflatoksin dalam ransum. Dari hasil penelitian ini, dapat disimpulkan bahwa tidak terdapat fenomena kelenturan fenotipik sifat-sifat reproduksi itik Mojosari, Tegal, dan Tegal-Mojosari yang diberi ransum yang mengandung aflatoksin hingga 150 ppb.
HUBUNGAN ANTARA TINGKAT PENERAPAN TEKNOLOGI SAPTA USAHA PETERNAKAN DENGAN TAMPILAN DOMBA GARUT TIPE TANGKAS DAN TIPE PEDAGING DI KABUPATEN GARUT DJONI, DJONI; ROHAYATI, TATI
Majalah Ilmiah Peternakan Vol 13 No 1 (2010)
Publisher : Fakultas Peternakan Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (103.14 KB)

Abstract

ABSTRAK Penelitian bertujuan untuk mengetahui hubungan antara tingkat penerapan teknologi sapta usaha peternakan dengan tampilan domba garut tipe tangkas dan tipe pedaging. Penelitian dilaksanakan di Kecamatan Cisurupan sebagai sentra peternakan domba garut tipe tangkas, dan di Kecamatan Wanaraja sebagai sentra peternakan domba garut tipe pedagin, berlangsung selama tiga bulan. Metode yang digunakan adalah metode survai. Unit analisis yang diteliti adalah Kabupaten Garut. Data dianalisis dengan metode pemahaman (verstehen). Hubungan antara kedua buah variabel, secara simultan dianalisis dengan Uji Korelasi Kendall W dan secara parsial dengan Uji Korelasi Rank Spearman. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat penerapan teknologi sapta usaha peternakan pada domba garut tipe tangkas berada pada ketegori baik, sedangkan tipe pedaging berada pada kategori cukup. Berat badan (tampilan) domba garut tipe tangkas jantan berada pada kategori baik, betina tipe tangkas dan tipe pedaging berada pada kategori cukup, sedangkan tipe pedaging jantan berada pada kategori kurang. Hasil analisis secara simultan menunjukkan terdapat hubungan yang sangat nyata antara penerapan teknologi sapta usaha peternakan dengan berat badan domba garut tipe tangkas dan tipe pedaging, baik jantan maupun betina. Secara parsial terdapat hubungan yang sangat nyata antara perkandangan, tatalaksana pemeliharaan, pengelolaan reproduksi, serta panen, pascapanen dan pemasaran dengan berat badan domba garut tipe tangkas jantan; tatalaksana pemeliharaan serta panen, pascapanen dan pemasaran dengan berat badan domba garut tipe tangkas betina; panen, pascapanen dan pemasaran dengan berat badan domba garut tipe pedaging jantan, serta perkandangan dengan berat badan domba garut tipe pedaging betina. Kesimpulan yang ditarik adalah tingkat penerapan teknologi sapta usaha peternakan pada domba garut tipe tangkas dilaksanakan dengat tepat, sedangkan tipe pedaging masih perlu perbaikan. Berat badan domba garut tipe tangkas jantan proporsional, betina tipe tangkas dan tipe pedaging perlu ditingkatkan, sedangkan tipe pedaging jantan kurang berat (kurus). Semakin tepat penerapan teknologi sapta usaha peternakan akan semakin baik pula berat badan domba garut tipe tangkas dan tipe pedaging, baik jantan maupun betina. THE RELATIONSHIP BETWEEN APPLICATION LEVEL OF THE SEVEN ENDEAVORS TECHNOLOGY OF ANIMAL HUSBANDRY AND THE PERFORMANCE OF GARUT SHEEP OF CONTEST AND BEEF TYPES IN GARUT REGENCY ABSTRACT The research aimed to find out the relationship between the application level of the seven endeavors technology of animal husbandry and the performance of Garut Sheep of contest and beef types in Garut Regency. The research was conducted in Cisurupan Subdistrict as center of garut sheep of contest type, and at Wanaraja Subdistrict as center of garut sheep of beef type, was conducted for three months. The method used was survey method. The analysis unit was Garut Regency. The data obtained were primary and secondary data. The primary data were obtained using interview technique. The obtained data were analyzed with the comprehension method (verstehen). The relationship between the application level of the seven endeavors technology of animal husbandry and the performance of garut sheep of contest and beef types was simultaneously analyzed using the Kendall W Correlation Test and partially was analyzed using the Rank Spearman’s Correlation Test. The results of the research indicated that the level of the application level of the seven endeavors technology of animal husbandry and the performance of garut sheep of contest type was in good category, whereas of the beef type was in medium category. The performance of garut rams of contest type was in good category, the garut ewes of contest and beef types were in medium category, while the garut rams of beef type was in poor category. The results of simultaneous analysis showed that there were significant relationship between the application level of the seven endeavors technology of animal husbandry and the body weight of garut sheep of contest and beef types, both of rams and ewes. Partially, the analysis showed that there were significant relationship between stables, management, reproduction management, and harvest, as well as postharvest and marketing and the body weight of the garut rams of contest type; between the management, harvest, and postharvest and marketing and the body weight of the garut ewes of contest type; between the harvest, postharvest and marketing and the body weight of the garut rams of beef type; and between the stables and the body weight of the garut ewes of beef type. The conclusion was that the application of the seven endeavors technology of animal husbandry of garut Sheep of contest type was appropriate, whereas of the beef types some improvements were needed. The body weight of the garut rams of the contest type was proportional, the garut ewes of the contest and beef types should be improved, whereas the Garut rams of beef type was less weight (thin). The more appropriate the application of the seven endeavors technology of animal husbandry, the better the performance of the Garut Sheep of contest and beef types, both rams and ewes, would be.
THE EFFECT USE OF BIOSUPLEMENT CONTAINING PROBIOTIC BACTERIA OF CELLULOLYTIC TERMITES TO THE PRODUCTIVITY OF BALI DUCKS LAKSMI DEWI M. P.; N. S. SUTAMA; G. A. M KRISTINA DEWI
Majalah Ilmiah Peternakan Vol 21 No 1 (2018): Vol 21, No 1 (2018)
Publisher : Fakultas Peternakan Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (323.25 KB) | DOI: 10.24843/MIP.2018.v21.i01.p01

Abstract

The research aims at analyzing the effect use of probiotic cellulolytic biosuplement termite (Termites sp.) tothe productivity of male bali ducks. Bacteria isolates used were first and second preeminent probiotic cellulolyticbacteria isolated derived from termites code BR3.3 and BR3.5. It was designed using a Completely RandomizedDesign with five treatments and three replicates consists of: basal ration without biosuplement (R0), ration basalwith biosupplement but without additional probiotic cellulolytic bacteria inoculant preeminent termites (RBCT0),RBCT1= basal ration with biosuplement probiotic cellulolytic bacteria inoculant preeminent termites 1, RBCT2=basal ration with biosuplement probiotic cellulolytic bacteria inoculant preeminent termites 2 and RBCT1-2= basalration with biosuplement probiotic cellulolytic bacteria inoculant preeminent termites 1 and 2. The result showedthat the initial body weight, slaughter weight and carcass percentage had no significant differences (P>0.05). Incontrast, final body weight, body weight gain, feed consumption, Feed Conversion Ratio and meat total cholesterolwere significantly affected (P<0,05) to the result. It can be concluded that use of basal ration supplemented withbiosupplement probiotic cellulolytic bacteria inoculant preeminent termites 2 (RBCT2) can increase productivity ofbali duck at the age of 2 up to10 weeks.
SELEKSI PADA SAPI ACEH BERDASARKAN METODE INDEKS SELEKSI (IS) DAN NILAI PEMULIAAN (NP) P. B. P, Widya; -, Sumadi; H., Tety; S., Hendra
Majalah Ilmiah Peternakan Vol 17 No 3 (2014): Vol 17, No 3 (2014)
Publisher : Fakultas Peternakan Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (644.584 KB) | DOI: 10.24843/MIP.2014.v17.i03.p5

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk melihat hasil seleksi pada calon induk (heifer) dan calon pejantan (bull) sapi Aceh menggunakan metode nilai pemuliaan (NP) dan indeks seleksi (IS) terhadap performans berat badan. Data sekunder yang digunakan dalam penelitian ini terdiri dari data recording ternak dari tahun 2010 sampai 2014 yang meliputi data silsilah ternak, data kelahiran dan dan data berat badan di Balai Pembibitan Ternak Unggul (BPTU)-Hijauan Pakan Ternak (HPT) Sapi Aceh Indrapuri. Data recording ternak yang diperoleh digunakan untuk mengestimasi heritabilitas, korelasi genetik dan korelasi fenotip. Hasil penelitian menunjukkan bahwa heritabilitas berat sapih (BS), berat setahunan (BY) dan berat akhir (BA)termasuk kategori tinggi. Korelasi genetik BS dengan BY dan BS dengan BA termasuk kategori positifsedang. Kesimpulan penelitian ini adalah terdapat 14 ekor heifer (48%)dan bull (53%)yang memiliki peringkat NPBA dan IS yang sama dari masing-masing 29dan 26 ekorsapi yang diuji.Metode IS dapat digunakan sebagai salah satu kriteria seleksi ternak yang lebih akurat.
PENGARUH JUMLAH ANAK SEKELAHIRAN DAN JENIS KELAMIN TERHADAP KINERJA ANAK DOMBA SAMPAI SAPIH SURYADI, U.
Majalah Ilmiah Peternakan Vol 9 No 1 (2006)
Publisher : Fakultas Peternakan Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (28.095 KB)

Abstract

RINGKASAN Induk domba yang subur mampu menghasilkan anak sekelahiran dua sampai tiga ekor. Bobot lahir dan laju pertumbuhan merupakan karakter yang menentukan kinerja domba. Karena itu, dilakukan penelitian dengan tujuan untuk mengetahui pengaruh jumlah anak sekelahiran dan jenis kelamin terhadap bobot lahir, pertambahan bobot badan prasapih, dan bobot sapih anak domba. Penelitian dilaksanakan pada domba Ekorgemuk dengan rancangan Acak Kelompok Faktorial 2x2 diulang 10 kali. Faktor pertama anak sekelahiran, terdiri atas: anak lahir tunggal dan anak lahir kembar. Faktor kedua jenis kelamin terdiri atas: anak jantan dan anak betina. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tidak terdapat interaksi antara jumlah anak sekelahiran dan jenis kelamin terhadap bobot lahir, tetapi interaksi yang sangat nyata (P<0.01) antara kedua faktor tersebut terjadi pada pertambahan bobot badan prasapih dan bobot sapih anak domba. Anak domba jantan selalu lebih berat saat lahir dibandingkan dengan domba betina, dan anak domba yang lahir tunggal selalu lebih berat dibandingkan dengan yang lahir kembar. Pertambahan bobot badan harian dan bobot sapih domba jantan kelahiran tunggal lebih berat daripada yang betina, tetapi pada kelahiran kembar anak domba jantan dan anak domba betina beratnya tidak berbeda nyata. Di lain pihak, kelahiran tunggal lebih berat daripada kelahiran kembar hanya pada anak domba jantan, tetapi pada anak domba betina beratnya tidak berbeda. Disimpulkan bahwa jumlah anak sekelahiran dan jenis kelamin berpengaruh terhadap bobot lahir, pertambahan bobot badan prasapih, dan bobot sapih anak domba Ekorgemuk.
PENGGUNAAN GANDOS (AMPAS PATI AREN) SEBAGAI PAKAN DALAM RANSUM TERHADAP PERFORMA BABI BALI Dioksa I M. R.; I. K. Sumadi; I M. Nuriyasa
Majalah Ilmiah Peternakan Vol 21 No 3 (2018): Vol 21, No 3 (2018)
Publisher : Fakultas Peternakan Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (307.092 KB) | DOI: 10.24843/MIP.2018.v21.i03.p08

Abstract

Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui pengaruh penggunaan gandos (limbah ampas pati aren) sebagaipakan sumber serat dalam ransum terhadap performa babi bali. Rancangan yang dipergunakan adalah rancanganacak lengkap (RAL) dengan empat macam perlakuan dan empat kali ulangan sehingga penelitian ini menggunakan16 ekor babi bali jantan lepas sapih. Keempat perlakuan yang dicobakan adalah: A= ransum tanpa penggunaangandos (limbah ampas pati aren) sebagai kontrol, B= ransum dengan penggunaan 5% gandos, C= ransum denganpenggunaan 10% gandos, dan D = ransum dengan penggunaan 15% gandos. Variabel yang diukur dalam penelitianini adalah berat badan awal, berat badan akhir, pertambahan berat badan (PBB), feed conversion ratio (FCR), dankonsumsi ransum.. Hasil penelitian yang telah dilaksanakan dapat disimpulkan bahwa penggunaan gandos sampailevel 5% tidak mempengaruhi performa babi bali yang diberi perlakuan penggunaan gandos sebagai pakan dalamransum.
KARAKTERISTIK GELATIN DARI KULIT KAKI TERNAK DAN POTENSINYA SEBAGAI EDIBLE FILM Miwada, I. N. S.; Simpen, I. N.; Hartawan, M.; Puger, A. W.; Sriyani, N. L. P.
Majalah Ilmiah Peternakan Vol 18 No 3 (2015): Vol 18, No 3 (2015)
Publisher : Fakultas Peternakan Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (315.268 KB) | DOI: 10.24843/MIP.2015.v18.i03.p06

Abstract

Tujuan penelitian ini adalah mengembangkan potensi protein kolagen yang terdapat pada kulit kaki ternak(kulit kaki ayam broiler/kka, kulit kaki kambing/kkk dan kulit kaki sapi/kks) menjadi produk gelatin dan mengkajipotensinya sebagai edible film. Ekstraksi protein pada kka, kks, dan kkk dalam water bath yang sebelumnyadicuring dengan asam asetat (1,5%) selama 3 hari. Dilanjutkan produksi edible film dalam 100 ml aquades denganperlakuan formulasi gelatin dan gliserol (1:0); (5:1); (10:1); (15:1) dan (20:1). Hasil penelitian menunjukkan bahwagelatin kks paling tinggi (P<0,05) kandungan proteinnya (85,17%) diikuti gelatin kkk (80,38%) dan kka (79,43%).Namun secara viskositas gelatin kkk (5,70 poise) paling tinggi (P<0,05) diikuti oleh kks (5,27 poise) dan kka (4,93poise). Hasil analisis FTIR menunjukkan bahwa gelatin jenis kks, kkk, dan kka terbukti sebagai gelatin melaluikarakterisasi serapan gugus fungsi. Karakterisasi tersebut terbagi dalam 4 bagian puncak serapan khas gelatinyaitu serapan amida A, amida I, amida II dan amida III. Kajian penggunaan jenis gelatin-gliserol dengan rasioberbeda menghasilkan viskositas edible film yang cenderung meningkat (P<0,05) dengan rentang rata-rata 1,89-3,77 poise. Sementara kandungan proteinnya nyata berbeda dengan nilai tertinggi pada rasio 10:1. Kandunganprotein edible dari gelatin kkk tertinggi (P<0,05) diikuti kka dan kks dengan nilai berturut-turut (0,38%; 0,27%dan 0,25%). Kesimpulan penelitian bahwa gelatin kks nilainya lebih tinggi diikuti kkk dan kka. Penggunaan ketigajenis gelatin ini sebagai edible film menghasilkan formula terbaik pada rasio 10:1 yaitu 10 g gelatin dan 1 ml gliseroldalam 100 ml aquades.
THE EFFECT OF INCREASING LEVEL OF PALM KERNEL MEAL AND COPRA MEAL ON DIET TO THE MICROBIAL PROTEIN PRODUCTION IN THE RUMEN OF STEERS FED LOW QUALITY FORAGE MARSETYO, MARSETYO
Majalah Ilmiah Peternakan Vol 10 No 2 (2007)
Publisher : Fakultas Peternakan Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (54.808 KB)

Abstract

SUMMARY The effect of increasing the level of palm kernel meal (PKM) and copra meal (CM) supplementation on the diet to the microbial crude protein (MCP) production, efficiency of microbial protein production (eMCP) in the rumen and rumen fluid conditions of Brahman crossbred steers given low quality forage based diet has been studied. Ten steers (243?b6.5 kg) were allocated to two supplement types diets (PKM and CM). The experimental design included two incomplete 5x5 Latin Squares, each with three runs, for three months. Each run consisted of a 14 d adaptation and 7 d collection period. Steers received Green panic grass hay ad libitum with one of five levels of PKM or CM (0.00, 0.25, 0.50, 0.75 and 1.00% of body weight (W) per day (d)). MCP production responded linearly (P<0.05) with increasing PKM or CM intakes. eMCP and rumen NH3-N concentration (taken at 3 and 24 h after feeding) responded quadratically (P<0.05) with increasing PKM or CM intakes. It was concluded that supplementation of both PKM and CM up to level of 1.0% W/day resulted in significant increase in MCP production and eMCP in the rumen. These increases were partly due to the increasing of the concentration of rumen NH3-N in the rumen as a result of increasing supplement intakes.

Filter by Year

2004 2024


Filter By Issues
All Issue Vol 27 No 1 (2024): Vol. 27 No. 1 (2024) Vol 26 No 3 (2023): Vol. 26 No. 3 (2023) Vol 26 No 2 (2023): Vol. 26 No. 2 (2023) Vol 26 No 1 (2023): Vol. 26 No. 1 (2023) Vol 25 No 3 (2022): Vol. 25 No. 3 (2022) Vol 25 No 2 (2022): Vol. 25 No. 2 (2022) Vol 25 No 1 (2022): Vol 25, No 1 (2022) Vol 24 No 3 (2021): Vol. 24 No. 3 (2021) Vol 24 No 2 (2021): Vol. 24 No. 2 (2021) Vol 24 No 1 (2021): Vol. 24 No. 1 (2021) Vol 23 No 3 (2020): Vol. 23 No. 3 (2020) Vol 23 No 2 (2020): Vol. 23 No. 2 (2020) Vol 23 No 1 (2020): Vol. 23 No. 1 (2020) Vol 22 No 3 (2019): Vol. 22 No.3 (2019) Vol 22 No 2 (2019): Vol. 22 No.2 (2019) Vol 22 No 1 (2019): Vol. 22 No.1 (2019) Vol 21 No 3 (2018): Vol 21, No 3 (2018) Vol 21 No 2 (2018): Vol 21, No 2 (2018) Vol 21 No 1 (2018): Vol 21, No 1 (2018) Vol 20 No 1 (2017): Vol 20, N0 1 (2017) Vol 20 No 3 (2017): Vol 20, No 3 (2017) Vol 20 No 2 (2017): Vol 20, No 2 (2017) Vol 19 No 3 (2016): Vol 19, No 3 (2016) Vol 19 No 2 (2016): Vol 19, No 2 (2016) Vol 19 No 1 (2016): Vol 19, No 1 (2016) Vol 18 No 3 (2015): Vol 18, No 3 (2015) Vol 18 No 2 (2015): Vol 18, No 2 (2015) Vol 18 No 1 (2015): Vol 18, No 1 (2015) Vol 17 No 3 (2014): Vol 17, No 3 (2014) Vol 17 No 2 (2014): Vol 17, No 2 (2014) Vol 17 No 1 (2014): Vol 17, No 1 (2014) Vol 16, No 1 (2013) Vol 15, No 1 (2012) Vol 14, No 1 (2011) Vol 13, No 3 (2010) Vol 13 No 1 (2010) Vol 12 No 3 (2009) Vol 11 No 1 (2008) Vol 10 No 3 (2007) Vol 10 No 2 (2007) Vol 10 No 1 (2007) Vol 9 No 3 (2006) Vol 9 No 2 (2006) Vol 9 No 1 (2006) Vol 8 No 3 (2005) Vol 8 No 2 (2005) Vol 8 No 1 (2005) Vol 7 No 2 (2004) More Issue