cover
Contact Name
Ni Luh Gde Sumardani
Contact Email
-
Phone
+6281338996609
Journal Mail Official
fapetmip@gmail.com
Editorial Address
Gd. Agrokompleks Lt.1 Fakultas Peternakan Universitas Udayana. Jl. PB. Sudirman Denpasar, Bali
Location
Kota denpasar,
Bali
INDONESIA
Majalah Ilmiah Peternakan
Published by Universitas Udayana
ISSN : 08538999     EISSN : 26568373     DOI : https://doi.org/10.24843/MIP
Majalah Ilmiah Peternakan (MIP) diterbitkan oleh Fakultas Peternakan Universitas Udayana. MIP terbit secara berkala, tiga kali dalam setahun, pada bulan Februari, Juni dan Oktober. MIP merangkum berbagai manuskrip di bidang peternakan seperti nutrisi, produksi, reproduksi, pasca panen (pengolahan dan tekhnologi) serta sosial ekonomi bidang peternakan. Manuskrip terbuka untuk para dosen dan peneliti yang berkaitan dengan bidang peternakan, serta terbuka untuk mahasiswa S1, S2, dan S3, dengan mengikuti kaidah yang telah ditetapkan oleh MIP.
Articles 374 Documents
ANALISIS EKONOMI USAHA TERNAK BABI DENGAN PEMBERIAN SEKAM PADI DALAM RANSUM YANG MENGANDUNG LIMBAH HOTEL I N. T., Ariana; A. W., Puger; A. A., Oka; N. L. P., Sriyani
Majalah Ilmiah Peternakan Vol 17 No 2 (2014): Vol 17, No 2 (2014)
Publisher : Fakultas Peternakan Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (461.442 KB) | DOI: 10.24843/MIP.2014.v17.i02.p07

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penggunaan sekam padi sebagai sumber serat dalam ransum yang mengandung limbah hotel terhadap analisis ekonomi usaha ternak babi. Dua puluh empat ekor babi persilangan Landrace x Yorkshire jantan kastrasi, dengan umur 2 bulan dan berat badan 26,15±0,73 kg dibagi dalam empat perlakuan ransum, yaitu tanpa sekam padi (R0), 10% sekam padi (R1), 20% sekam padi (R2), dan 30% sekam padi (R3), masing-masing terdiri atas enam ekor ternak babi. Penelitian menggunakan kandang individu berukuran panjang 1,9 m dan lebar 0,5 m. Pakan diberikan secara ad libitum. Penelitian menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) pola searah. Data yang diperoleh dianalisis dengan one-way ANOVA. Apabila terdapat perbedaan, analisis dilanjutkan dengan menggunakan Duncan’s New Multiple Range Test (DMRT). Hasil penelitian menunjukkan bahwa total biaya konsumsi, biaya konsumsi ransum harian, biaya ransum per kilogram kenaikan berat badan dan total biaya produksi ternak babi perlakuan R3 masing-masing adalah 297.021±3.916 rupiah/ekor, 4.243±55 rupiah/ekor/hari, 5.132±314 rupiah/kg dan 627.021±3.916 rupiah/ekor, dan ini lebih rendah (P<0,05) daripada perlakuan R0 dan R1 yang masing-masing adalah 406.908±14.529 dan 400.480±17.819 rupiah/ekor untuk total biaya konsumsi, 5.812±207 dan 5.721±254 rupiah/ekor/hari untuk biaya konsumsi ransum harian, 6.314±433 dan 5.822±119 rupiah/kg untuk biaya ransum per kilogram kenaikan berat badan serta 736.908±14.529 dan 730.480±17.819 rupiah/ekor untuk total biaya produksi. Total pendapatan pada perlakuan R1yaitu 963.666±54.701 rupiah/ekor, lebih tinggi (P<0,05) daripada perlakuan R2 dan R3 yang masing-masing hanya 837.666±79.894 dan 813.166±59.465 rupiah/ekor. Keuntungan usaha, income over feed cost dan B/C rasio usaha ternak babi diantara keempat perlakuan berbeda tidak nyata. Disimpulkan bahwa penggunaan sekam padi pada level 10% dalam ransum yang mengandunglimbah hotel lebih menguntungkan.
THE EFFECT OF MOLASSES SUPPLEMENTATION ON RUMEN FERMENTATION, MICROBIAL PROTEIN SYNTHESIS AND NITROGEN RETENTION IN SHEEP KEPT UNDER HIGH AMBIENT TEMPERATURE AND FED UREA-TREATED BARLEY STRAW MARSETYO, MARSETYO; NOLAN, J.V.; THWAITES, C.J.
Majalah Ilmiah Peternakan Vol 8 No 3 (2005)
Publisher : Fakultas Peternakan Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (60.262 KB)

Abstract

SUMMARY This experiment was designed to examine the possibility that soluble carbohydrate was deficient in barley straw given to the sheep. A different level of molasses in the dry matter (DM) of urea-treated barley straw was fed to lambs at 40?b3 0C and at 40-50% relative humidity for a 7 week period. Sixteen Merino sheep were fed a basal diet of urea treated chaffed barley straw with one of 4 level of molasses supplements: (1) 0% (control), (2) 6%, (3) 12%, and (4) 18%. All diets were supplemented with minerals and vitamins. Feed was offered at 09.00 and 16.00 h daily and drinking water was available ad libitum. The parameters recorded were rumen ammonia nitrogen (N) concentration, rumen pH, rumen volatile fatty acid (VFA) concentration, microbial protein synthesis (MPS) and nitrogen content in the feed, faeces and urine. There was no significant effect of molasses on rumen ammonia concentration (P>0.05). The means of ammonia N concentration were 125?b6.1 and 192?b5.8 mg NH3-N/L before and 2 h after feeding. Rumen pH was also not affected by treatment (P>0.05) and averaged 6.7?b0.04. Total VFA concentration and butyric acids as a percentage of total VFA in the rumen fluid increased progressively with increasing the levels of molasses in the diet. The lowest levels, 53.1?b2.1 mmol/L and 6.1?b0.21% were recorded in the controls and the highest levels (70.9?b2.89 mmol/L and 10.9?b0.2%, respectively) in the diet with 12 and18% of molasses. In contrast, as the molasses level increased in the diet, the proportion of acetic acid declined from 75.0?b0.6 to 71.1?b1.1%. The proportion of propionic acid (16.1?b0.29%) was not affected by level of molasses (P>0.05). An increase in MPS from the rumen was recorded as the molasses level increased (P<0.05), from 3.4?b0.35 g N/d in controls to 4.6?b0.07 g N/d at 18% molasses. All sheep had positive N retention, but the level of molasses did not affect N intake, total N excretion (faecal and urinary) as well as N retention (P>0.05; means of 8.6?b0.21, 3.3?b0.09, 3.7?b0.08, 1.6?b0.2 g/d, respectively).
PENGGANTIAN DAUN GAMAL (Gliricidia sepium) DENGAN KALIANDRA (Calliandra calothyrsus) DALAM RANSUM KAMBING TERHADAP KADAR UREA DARAH DAN DEPOSISI NUTRIEN Cakra, I. G. L. O.; Trisnadewi, A. A. A. S.
Majalah Ilmiah Peternakan Vol 19 No 3 (2016): Vol 19, No 3 (2016)
Publisher : Fakultas Peternakan Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (308.616 KB) | DOI: 10.24843/MIP.2016.v19.i03.p05

Abstract

Penelitian penggantian daun gamal dengan kaliandra dalam ransum kambing terhadap kadar urea darahdan deposisi nutrien telah dilakuan. Penelitian menggunakan rancangan acak kelompok (RAK) dengan 16 ekorkambing peranakan etawah (PE) jantan berat rata-rata 18 kg. Empat perlakuan yang diberikan adalah perlakuan A(ransum terdiri dari 40% konsentrat, 30% rumput gajah dan 30% gamal), B (ransum terdiri dari 40% konsentrat,30% rumput gajah, 20% gamal dan 10% kaliandra), C (ransum terdiri dari 40% konsentrat, 30% rumput gajah, 10%gamal dan 20% kaliandra), dan D (ransum terdiri dari 40% konsentrat, 30% rumput gajah, dan 30% kaliandra).Ransum disusun dengan protein 17% dan TDN 66%. Penelitian mendapatkan kadar urea darah perlakuan A nyatapaling tinggi dibandingkan perlakuan lainnya, hal ini karena daun gamal mudah didegradasi dalam rumen sehinggamenghasilkan amonia yang tinggi dan diserap oleh darah. Kadar urea darah perlakuan D nyata paling kecil (29,3mg/dl). Penelitian ini menyimpulkan bahwa penggunaan imbangan kaliandra 30% dan gamal 0% dalam ransummengandung konsentrat 40% dan rumput gajah 30 % dapat meningkatkan deposisi nutrien.
MORTALITAS DAN PENAMPILAN ANAK BABI PRASAPIH YANG DIINJEKSI DENGAN TYSINOL PADA UMUR YANG BERBEDA TIRTA ARIANA, I N.; SUMARDANI, N. L. G.; DEWANTARI, M.; SUARTA, I G.
Majalah Ilmiah Peternakan Vol 15, No 1 (2012)
Publisher : Fakultas Peternakan Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (303.032 KB) | DOI: 10.24843/mip.2012.v15.i01.p07

Abstract

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui umur yang paling baik dilakukan injeksi Tysinol pada anak babi prasapih sehingga diperoleh penampilan yang terbaik dan tingkat mortalitas terendah. Penelitian menggunakan rancangan acak kelompok (RAK), dengan 3 perlakuan yaitu tidak diinjeksi dengan Tysinol (I0), injeksi dengan Tysinol pada umur 1 hari (I1), dan injeksi dengan Tysinol pada umur 3 hari (I3). Anak babi prasapih berasal dari 4 induk (blok) dengan 3 kali ulangan, sehingga dipergunakan anak babi prasapih sebanyak 36 ekor. Hasil penelitian menunjukkan dengan injeksi Tysinol pada anak babi prasapih umur 1 hari (I1) diperoleh berat badan sapih (39%), tambahan berat badan harian (38%), lingkar dada (5,9%), dan panjang badan (6%) yang nyata lebih tinggi jika dibandingkan dengan tanpa injeksi Tysinol (Io) (P<0,05). Pada variabel yang sama diperoleh hasil yang tidak berbeda nyata antara Io dan I3 (P>0,05). Untuk variabel tinggi badan dan mortalitas diperoleh hasil yang tidak berbeda nyata untuk semua perlakuan yang diberikan (P>0,05). Dari hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa anak babi yang baru lahir harus diberikan Tysinol, dan sebaiknya diinjeksi pada umur 1 (satu) hari setelah kelahiran.
PENGGUNAAN AMPAS PATI AREN DALAM RANSUM TERHADAP KARAKTERISTIK KARKAS BABI BALI JANTAN Permana K. P.; N. L. P. Sriyani; I. K. Sumadi
Majalah Ilmiah Peternakan Vol 21 No 3 (2018): Vol 21, No 3 (2018)
Publisher : Fakultas Peternakan Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (359.162 KB) | DOI: 10.24843/MIP.2018.v21.i03.p03

Abstract

Tujuan dari penelitian adalah untuk mengetahui pengaruh penggunaan ampas pati aren dalam ransumterhadap karakteristik karkas babi bali jantan. Penelitian menggunakan rancangan acak lengkap (RAL) denganempat perlakuan dan empat kali ulangan. Perlakuan yang digunakan adalah ransum tanpa ampas pati aren (A)sebagai kontrol, ransum kontrol dengan penggunaan 5% ampas pati aren (B), ransum kontrol dengan penggunaan10% ampas pati aren (C), ransum kontrol dengan penggunaan 15% ampas pati aren (D). Variabel dalam penelitianini adalah karakteristik karkas yang meliputi bobot potong, bobot karkas, panjang karkas, persentase karkas, teballemak punggung, luas urat daging mata rusuk (UDMR), flesing index (FI), persentase daging, tulang, dan lemakkarkas. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rataan bobot potong bobot karkas, panjang karkas, persentase karkas,tebal lemak punggung, luas UDMR dan FI tidak berbeda nyata (P>0,05), sedangkan untuk persentase tulang padaperlakuan D yaitu 17,26% dan persentase lemak pada perlakuan A paling tinggi yaitu 40,22% dan berbeda nyata(P<0,05). Simpulan dari penelitian adalah penggunaan ampas pati aren dari 5-15% dalam ransum babi bali jantantidak mempengaruhi karakteristik karkas tetapi dapat menurunkan persentase lemak pada babi bali.
PENGARUH SUPLEMENTASI VITAMIN MINERAL TERHADAP KECERNAAN NUTRIEN DAN PRODUK FERMENTASI RUMEN SAPI BALI YANG DIBERI RANSUM BERBASIS RUMPUT GAJAH Puspitasari, N. M.; Partama, I. B. G.; Cakra, I. G. L. O.
Majalah Ilmiah Peternakan Vol 18 No 3 (2015): Vol 18, No 3 (2015)
Publisher : Fakultas Peternakan Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (363.751 KB) | DOI: 10.24843/MIP.2015.v18.i03.p01

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh suplementasi multi vitamin-mineral terhadap kecernaannutrien, produk fermentasi rumen, serta level optimal suplemen multi-vitamin yang menghasilkan sintesa proteinmikroba pada sapi bali. Penelitian ini menggunakan rancangan acak kelompok (RAK) dengan empat (4) perlakuandan lima (5) kelompok sebagai ulangan berdasarkan berat badan ternak. Sampel berjumlah 20 ekor sapi balijantan. Satu unit percobaan adalah 1 ekor sapi bali jantan yang ditempatkan secara acak dalam kandang individusesuai dengan rancangan percobaan. Keempat perlakuan tersebut adalah R0: 5 kg ransum konsentrat+rumputgajah diberikan ad libitum, R1: R0+ 0,1 % pignox dalam ransum konsentrat, R2: R0+0,2% pignox dalam ransumkonsentratserta R3: R0+0,3 % pignox dalam ransum konsentrat. Variabel yang diukur adalah konsumsi bahankering ransum dan nutrien ransum, derajat keasaman, konsentrasi N-amonia (N-NH3) cairan rumen, konsentrasiVFA, produksi gas metan, kadar allantoin urin, absorbsi purin mikroba rumen (Abs. Purin MO), sintesis proteinmikroba rumen (SPM), dan efisiensi sintesis protein mikroba rumen (eSPM). Hasil penelitian ini menunjukkanbahwa suplementasi vitamin-mineral dalam konsentrat berpengaruh terhadap peningkatan sintesis proteinmikroba dan terhadap produk fermentasi, konsentrasi N-NH3 cairan rumen, konsentrasi asam propionat, sehinggasangat cocok digunakan sebagai bahan alternatif suplemen pakan dalamusaha penggemukan sapi bali.
PENDUGAAN SIFAT-SIFAT KARKAS PEDET JANTAN SAPI BALI PADA UMUR YANG BERBEDA DI KABUPATEN BONE SULAWESI SELATAN DENGAN ULTRASONOGRAFI BUGIWATI, SRI RACHMA APRILITA
Majalah Ilmiah Peternakan Vol 10 No 2 (2007)
Publisher : Fakultas Peternakan Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (42.824 KB)

Abstract

ABSTRAK Tujuan penelitian ini adalah untuk mendapatkan informasi tentang kualitas dan kuantitas sifat karkas sapi Bali pada umur 12 dan 18 bulan menggunakan ultrasonografi. Sifat-sifat karkas yang diukur adalah tebal lemak dengan subkutan subcutaneous fat thickness (SFT), tebal lemak intermuskuler intermuscular fat thickness (IMFT), tebal tulang rusuk rib thickness (RT), luas otot Longissimus dorsi Musculus longissimus thoracis area (MLTA) serta sebaran marbling marbling score (MS) diantara tulang rusuk ke-6 dan 7 pada 28 ekor pedet Bali jantan umur 12 dan 18 bulan. Penelitian ini dilakukan di pusat pembibitan dan pemurnian sapi Bali di desa Tirong, kecamatan Palakka, kabupaten Bone, Sulawesi Selatan. Hasil yang diperoleh menunjukkan bahwa kualitas dan kuantitas sifat karkas pedet jantan sapi Bali umur 12 dan 18 bulan di kabupaten Bole masih sangat rendah (MLTA: 17,5 cm2 dan 22,1 cm2; MS : 0,14 dan 0,22; SFT : 0,25 mm dan 0,31 mm; IMFT : 1,13 mm dan 1,09 mm: RT : 2,04 mm dan 2,21 mm) dan pada umur tersebut belum dapat dilakukan seleksi pejantan berdasarkan sifat karkas.
KANDUNGAN NUTRISI SILASE JERAMI JAGUNG MELALUI FERMENTASI POLLARD DAN MOLASES A. A. A. S., Trisnadewi; Cakra, I G. L. O.; Suarna, I W.
Majalah Ilmiah Peternakan Vol 20 No 2 (2017): Vol 20, No 2 (2017)
Publisher : Fakultas Peternakan Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (285.335 KB) | DOI: 10.24843/MIP.2017.v20.i02.p03

Abstract

Kendala utama penggunaan jerami jagung sebagai pakan adalah kandungan protein yang rendah dan tinggi seratkasar sehingga perlu diberi perlakuan untuk meningkatkan nilai nutrisinya. Tujuan penelitian adalah menentukanformulasi silase jerami jagung terbaik dengan menggunakan pollard dan molases terhadap kandungan nutrisisilase. Percobaan menggunakan rancangan acak lengkap (RAL) dengan enam perlakuan dan masing-masingperlakuan diulang empat kali, sehingga terdapat 24 unit percobaan. Keempat perlakuan tersebut adalah A = 100%jerami jagung + 20% pollard + 0% molases; B = 100% jerami jagung + 10% pollard + 10% molases; C = 100%jerami jagung + 0% pollard + 20% molases; D = 100% jerami jagung + 10% pollard + 0% molases; E = 100%jerami jagung + 5% pollard + 5% molases; dan F = 100% jerami jagung + 10% pollard + 0% molases. Peubah yangdiamati dalam penelitian ini adalah kandungan bahan kering (BK), bahan organik (BO), energi, serat kasar (SK),protein kasar (PK), abu, bahan ektrak tanpa nitrogen (BETN), dan total digestible nutrient (TDN) Hasil penelitianmenunjukkan bahwa silase jerami jagung pada perlakuan A yaitu silase jerami jagung dengan suplementasi 20%pollard menunjukkan kualitas nutrisi yang paling baik dibandingkan perlakuan lainnya. Kata kunci: jerami jagung, silase, kandungan nutrisi
EFEKTIVITAS PENYULUHAN TERHADAP PEMAHAMAN FLU BURUNG SUARTHA, N.; WIDANA, K.; ANTHARA, M. S.; WIRATA, W.; SUKADA, M.; MAHARDIKA, G. N. K.
Majalah Ilmiah Peternakan Vol 14, No 1 (2011)
Publisher : Fakultas Peternakan Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (355.759 KB)

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektivitas penyuluhan terhadap pemahaman masyarakat tentang fluburung. Penyuluhan dilakukan secara intensif sebanyak 20 kali pada setiap desa sampel. Kuisioner disebarkan sebanyakdua kali pada tiap desa yaitu sebelum dan sesudah diberikan penyuluhan. Responden dikatakan paham jikamampu menjawab dengan benar 6 dari 8 (80%) pertanyaan pada kuisioner. Responden yang menjawab benar di atas80% diberikan skor 3 (pemahaman tinggi), menjawab 50-75% diberi skor 2 (pemahaman sedang), dan menjawabdi bawah 50% diberi skor 1 (pemahaman rendah). Hasil dari analisis didapatkan, pemahaman responden sebelumpenyuluhan di Desa Beraban (skor 2,17) lebih rendah dibandingkan dengan responden di desa Takmung (skor 2,57)dan Banyubiru (2,43). Pemahaman responden di ketiga desa rendah terutama pada indikator mengetahui ciri-ciriflu burung pada manusia. Pemahaman masyarakat di ketiga desa sesudah penyuluhan mengalami peningkatan padasemua indikator dan tergolong tinggi (skor 3). Penyuluhan yang dilakukan secara intensif sebanyak 20 kali setiap desamampu meningkatkan pemahaman masyarakat, tetapi perlu dilakukan secara periodik untuk menyegarkan ingatanmasyarakat.
PERFORMANCE OF BALI HEIFERS AND CALVES PRIOR TO WEANING IN A FEEDLOT SYSTEM O K A, I. G. L .
Majalah Ilmiah Peternakan Vol 8 No 2 (2005)
Publisher : Fakultas Peternakan Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (21.28 KB)

Abstract

S U M M A R Y A study on performance of Bali heifers and their first calves kept in a feedlot system was carried out using 20 heifers fed two feeding regimes namely elephant grass only ( group A ) and a mixture of 40 % elephant grass and 60 % concentrate containing 20.7 % CP and 77.3 % TDN ( group B ). Liveweight up to calving, production and quality of milk, calfbirth, and daily gain prior to weaning in this cattle breed were significantly affected (P>0.05) by concentrate supplementation. However, service per conception and gestation length was not significantly (P>0.05) different between the two groups of feeding regimes. It seemed that in the short term, improvement in management particularly feeding a higher quality ration was needed to overcome the problem in performance degradation of Bali cattle which has become some concerned recently.

Filter by Year

2004 2024


Filter By Issues
All Issue Vol 27 No 1 (2024): Vol. 27 No. 1 (2024) Vol 26 No 3 (2023): Vol. 26 No. 3 (2023) Vol 26 No 2 (2023): Vol. 26 No. 2 (2023) Vol 26 No 1 (2023): Vol. 26 No. 1 (2023) Vol 25 No 3 (2022): Vol. 25 No. 3 (2022) Vol 25 No 2 (2022): Vol. 25 No. 2 (2022) Vol 25 No 1 (2022): Vol 25, No 1 (2022) Vol 24 No 3 (2021): Vol. 24 No. 3 (2021) Vol 24 No 2 (2021): Vol. 24 No. 2 (2021) Vol 24 No 1 (2021): Vol. 24 No. 1 (2021) Vol 23 No 3 (2020): Vol. 23 No. 3 (2020) Vol 23 No 2 (2020): Vol. 23 No. 2 (2020) Vol 23 No 1 (2020): Vol. 23 No. 1 (2020) Vol 22 No 3 (2019): Vol. 22 No.3 (2019) Vol 22 No 2 (2019): Vol. 22 No.2 (2019) Vol 22 No 1 (2019): Vol. 22 No.1 (2019) Vol 21 No 3 (2018): Vol 21, No 3 (2018) Vol 21 No 2 (2018): Vol 21, No 2 (2018) Vol 21 No 1 (2018): Vol 21, No 1 (2018) Vol 20 No 1 (2017): Vol 20, N0 1 (2017) Vol 20 No 3 (2017): Vol 20, No 3 (2017) Vol 20 No 2 (2017): Vol 20, No 2 (2017) Vol 19 No 3 (2016): Vol 19, No 3 (2016) Vol 19 No 2 (2016): Vol 19, No 2 (2016) Vol 19 No 1 (2016): Vol 19, No 1 (2016) Vol 18 No 3 (2015): Vol 18, No 3 (2015) Vol 18 No 2 (2015): Vol 18, No 2 (2015) Vol 18 No 1 (2015): Vol 18, No 1 (2015) Vol 17 No 3 (2014): Vol 17, No 3 (2014) Vol 17 No 2 (2014): Vol 17, No 2 (2014) Vol 17 No 1 (2014): Vol 17, No 1 (2014) Vol 16, No 1 (2013) Vol 15, No 1 (2012) Vol 14, No 1 (2011) Vol 13, No 3 (2010) Vol 13 No 1 (2010) Vol 12 No 3 (2009) Vol 11 No 1 (2008) Vol 10 No 3 (2007) Vol 10 No 2 (2007) Vol 10 No 1 (2007) Vol 9 No 3 (2006) Vol 9 No 2 (2006) Vol 9 No 1 (2006) Vol 8 No 3 (2005) Vol 8 No 2 (2005) Vol 8 No 1 (2005) Vol 7 No 2 (2004) More Issue