cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota denpasar,
Bali
INDONESIA
Jurnal Farmasi Udayana
Published by Universitas Udayana
ISSN : 23017716     EISSN : 26224607     DOI : -
Core Subject : Health,
Jurnal Farmasi Udayana merupakan jurnal elektronik yang dikelola oleh jurusan Farmasi FMIPA Udayana. Jurnal ini yang merupakan media publikasi penelitian dan review article pada semua aspek ilmu farmasi yang bersifat inovatif , kreatif, original dan didasarkan pada scientific. Artikel yang dimuat dalam jurnal ini meliputi penemuan obat, sistem penghantaran obat serta pengembangan obat. Jurnal ini memuat bidang khusus di farmasi seperti kimia medisinal, farmakologi, farmakokinetika, farmakodinamika, analisis farmasi, sistem penghantaran obat, teknologi farmasi, bioteknolofi farmasi, obat herbal dan komponen aktif tanaman serta evaluasi klinik obat
Arjuna Subject : -
Articles 322 Documents
Formulasi Dan Uji Efektivitas Penyembuhan Luka Sayat Salep Ekstrak Metanol Bunga Ginje (Thevetia Peruviana) Terhadap Kelinci Jantan New Zealand White Sefi Megawati
Jurnal Farmasi Udayana Spesial Issue, Desember 2020
Publisher : Departement of Pharmacy, Faculty of Mathematics and Natural Science, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/JFU.2020.v09.i03.p06

Abstract

ABSTRAK Bunga ginje merupakan tumbuhan berkhasiat obat yang bekerja dalam proses penyembuhan luka. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk membuat formulasi salep ekstrak bunga ginje (Thevetia Peruviana) dan uji efektivitas penyembuhan luka sayat pada punggung kelinci jantan. Jenis penelitian ini adalah eksperimental. Pembuatan formulasi salep menggunakan ekstrak bunga Ginje dengan menggunakan hewan uji sebanyak 5 (lima) ekor dengan 6 (enam) kelompok perlakuan, yaitu salep ekstrak bunga Ginje 2,5 %, salep ekstrak bunga Ginje 5 %, salep ekstrak bunga Ginje 7,5 %, kontrol negatif, kontrol positif dan luka tanpa perlakuan. Semua kelinci dilukai sepanjang 2 cm dengan kedalaman 0,1 cm. Luka diolesi 3 kali dalam sehari dengan salep yang di uji. Pengamatan luka dilakukan setiap hari (hari ke-0 sampai ke-12). Semua data kuantitatif diuji secara statistik menggunakan ANOVA (Analisys Of Varian) sedangkan data kualitatif disajikan secara deskriptif. Hasil penelitian menunjukan formulasi salep ekstrak bunga Ginje memenuhi persyaratan uji salep, mengalami penyempitan luka, membentuk keropeng dan menutup luka. Hasil uji statistik memberikan efek signifikan terhadap penyembuhan luka pada kelinci jantan, yaitu (p<0,05). Berdasarkan hasil penelitian disimpulkan bahwa pembuatan salep ekstrak bunga Ginje menghasilkan sediaan salep yang memenuhi syarat dan konsentrasi 2,5 %, 5 % dan 7,5 % memberikan efektifitas penyembuhan luka sayat pada kelinci jantan. Kata kunci: Salep, Ekstrak, Bunga Ginje, penyembuhan luka, kelinci jantan.
Isolasi Dan Identifikasi Senyawa Minyak Atsiri Daun Gamal (Gliricidia sepium [Jacq] Walp) Ira Rahmiyani
Jurnal Farmasi Udayana Spesial Issue, Desember 2020
Publisher : Departement of Pharmacy, Faculty of Mathematics and Natural Science, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/JFU.2020.v09.i03.p01

Abstract

Essential oils are one group of secondary metabolites that are mostly found in the tissues of plants. Gliricidia leaves can produce essential oils that are used as anti-bacterial and anti-scabies. The purpose of this study to determine the constituents of essential oil compounds in the leaves of Gliricidia. The method used distillation water vapor and analyze with gas chromatography mass spektroscopy (GC-MS). The results showed that the Gliricidia leaves contains 100 components of essential oil compounds and 3 major components of essential oil compounds as follows:2-Pentadecanone, 6,10,14-trimethyl- (CAS) 6,10,14-Trimethyl-2-pentadecanone 20.07%, 2-Hexadecen-1-ol, 3,7,11,15-tetramethyl-, [R- [R *, R * - (E)]] - (CAS) Phytol 13.55%, a 1.2-Benzenedicarboxylic acid, bis (2-ethylhexyl) ester (CAS) - bis (2-ethylhexyl) phthalate 10,11%. Keywords: Gliricidia leaves, essential oil, gas chromatography mass spectroscopy (GC-MS).
Identifikasi Komponen Volatile Kulit Ari Biji Kopi (Coffea robusta) Guna Optimalisasi Kebermanfaatan Arie Dharma Putra Nugraha
Jurnal Farmasi Udayana Vol. 9, No. 2, Tahun 2020
Publisher : Departement of Pharmacy, Faculty of Mathematics and Natural Science, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/JFU.2020.v09.i02.p05

Abstract

Bau dapat dibedakan menjadi dua yaitu bau enak dan tidak sedap, bau yang tidak diharapkan tentunya bau tidak sedap, yang dapat memberikan dampak buruk yaitu terganggunya penciuman dan bersifat menyesakkan. Bau yang tidak sedap dapat berasal dari tempat lembab.Tingginya kekayaan hayati di Indonesia, memiliki peluang besar untuk memanfaatkannya sebagai produk pewangi alami. Salah satu produk pewangi dan penyerap bau tidak sedap (absorbent) yaitu memanfaatkan biji kopi robusta (Coffea robusta). Salah satu komponen biji kopi robusta yang jarang dimanfaatkan yaitu kulit ari kopi yang didapatkan saat proses sangrai. Seluruh komponen biji kopi terbukti memiliki kandungan volatile yang tinggi dan beragam, melihat kulit ari kopi yang jarang dimanfaatkan, maka dilakukan ekstraksi minyak atsiri dari kulit ari kopi robusta dengan pelarut metanol. Analisis minyak atsiri yang digunakan yaitu dengan metode GC-MS, menyatakan bahwa dalam ekstrak kulit ari biji kopi robusta komponen volatile yang terdapat dalam ekstrak kulit ari biji kopi robusta yaitu trans-Caryophyllene (1,4.56%), Germacrene D (2, 3.59%), alpha-Farnesene (3, 4.35%) dan Pentan-1,3-dioldiisobutyrate (4, 10.22%). Banyaknya komponen volatile, menunjukan bahwa kulit ari kopi robusta dapat potensial dimanfaatkan massal di masyarakat.
Potensi Minyak Atsiri Kamfer Sumatera (Dryobalanops aromatica Gaertn.) Untuk Bahan Baku Obat Herbal Aswandi Aswandi; Cut Rizlani Kholibrina
Jurnal Farmasi Udayana Spesial Issue, Desember 2020
Publisher : Departement of Pharmacy, Faculty of Mathematics and Natural Science, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/JFU.2020.v09.i03.p05

Abstract

Camphor resin has been harvested since the seventh century from west coast of Sumatra, Indonesia. This historic oil or crystal have been collected from sumatran camphor trees (Dryobalanops aromatica) and utilized as fragrance, antibiotic, topical treatment for pains, and aromatherapy. The paper describes the local wisdom of camphor essential oil, phytochemical content, and potential utilization for herbal medicine. Conventionally, camphor crystals are harvested through felling and log splitting. This method produces about 1.5–2.5 kg of crystals. Extraction of camphor is also possible by making notches in standing tree trunk, as well as collecting liquid resin that exudate from wounded resin channel. The leaves biomass contains significant essential oils, especially fresh-young leaves. This volatile compound is distilled at 0.46–0.73% yield. The essential oil compounds include a-pinene, b-caryophyllene, 1.8-cineole, limonene, and p-cymene. For aromatherapy application, camphor oil has a relaxing fragrance offer relief to congested respiratory system thereby boosts immune system. In topical uses, it relieves inflammation, insect bites, itching, irritation, rashes, and muscular aches and pains. Local wisdom revealed camphor oil for digestive problems treatment, bloating, relieve muscle and joint pain intensity. The compound 1.8 cineole has potential as antiviral, expectorant, and prospective for respiratory and blood vessels treatment.
Potensi Sediaan Kapsul Ekstrak Etanol Kulit Pisang Klutuk Sebagi Antidiabetes Tita Nofianti
Jurnal Farmasi Udayana Spesial Issue, Desember 2020
Publisher : Departement of Pharmacy, Faculty of Mathematics and Natural Science, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/JFU.2020.v09.i03.p07

Abstract

Diabetes melitus (DM) adalah suatu penyakit metabolik yang ditandai dengan tingginya kadar glukosa darah. Kulit pisang klutuk mengandung metabolit sekunder seperti flavonoid, polifenol, dan saponin yang dapat menurunkan kadar glukosa darah. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui aktivitas dan formula yang baik sediaan kapsul ekstrak etanol kulit pisang klutuk (Musa balbisiana Colla) sebagai antidiabetes pada mencit jantan yang diinduksi aloksan. Aloksan yang digunakan dengan dosis 170 mg/ kg BB. Mencit dibagi menjadi 5 kelompok yang terdiri dari kelompok kontrol negatif (CMC Na 0,5%), kelompok kontrol positif (metformin 1,3 mg/20 g BB mencit), kelompok F1 (3,5 mg/20 g BB mencit dengan 2 % Sodium Starch Glycolate -SSG), kelompok F2 (3,5 mg/ 20 g BB mencit dengan 4 % SSG), dan kelompok F3 (3,5 mg/ 20 g BB mencit dengan 8 % SSG). Hasil analisis menunjukkan tidak ada perbedaan bermakna antara kelompok kontrol positif dan kelompok F2. Persentase penurunan kadar glukosa darah yang diperoleh yaitu 65,05 %. Hasil evaluasi sediaan menunjukkan bahwa ketiga formula sediaan kapsul memenuhi persyaratan. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa sediaan kapsul dengan formula 2 mempunyai aktivitas menurunkan kadar glukosa darah yang lebih baik daripada formula 1 dan 3 pada mencit yang diinduksi aloksan.
Uji Aktivitas Ekstrak Etanol Kulit Durian (Durio zibethinus Murr.) Terhadap Bakteri Propionibacterium acnes dan Staphylococcus aureus ANDI TENDRIANI SAFITRI
Jurnal Farmasi Udayana Vol. 9, No. 2, Tahun 2020
Publisher : Departement of Pharmacy, Faculty of Mathematics and Natural Science, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/JFU.2020.v09.i02.p01

Abstract

Durian peel (Durio zibethinus Murr) is a plant that can be used as a treatment. Durian skin contains secondary metabolites, namely flavonoids which have antibacterial activity. The bacteria that cause acne are Propionibacterium acnes and Staphylococcus aureus. The extract was obtained by maceration using 70% ethanol solvent. The ethanol extract of durian peel obtained was made in 3 series of concentrations of 10%, 15% and 25% then tested on propionibacterium acnes and staphylococcus aureus bacteria. The MIC value of Propionibacterium acnes bacteria obtained was 10% with an area of ??inhibition zone formed of 7.5 mm ± 0.4 mm. 15% with an area of ??inhibition zone formed of 7.7 mm ± 0.3 mm. 25% with an area of ??inhibition zone formed of 8.4 mm ± 0.2 mm while the MIC value of the Staphylococcus aureus bacteria obtained was 10% with an area of ??inhibition zone formed of 8.11 mm ± 0.4 mm. 15% with an area of ??inhibition zone formed of 8.11 mm ± 0.3 mm. 25% with an area of ??inhibition zone formed of 8.8 mm ± 0.5 mm. based on the results of ethanol extract durian skin has activity against Propionibacterium acnes and Staphylococcus aureus. Keywords: Durio zibethinus Murr, Acne, Propionibacterium acnes, Staphylococcus aureus
Perbandingan Stabilitas Obat Racikan Yang Dipreparasi Menggunakan Mortir Dan Tablet Crusher Di Apotek Sarana Pelayanan Kesehatan Primer Made Krisna Adi Jaya
Jurnal Farmasi Udayana Vol. 9, No. 2, Tahun 2020
Publisher : Departement of Pharmacy, Faculty of Mathematics and Natural Science, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/JFU.2020.v09.i02.p06

Abstract

Latar Belakang: Penggerusan obat dengan menggunakan mortir memang dinilai sudah sesuai prosedur dan dapat terjaga stabilitas obatnya. Tetapi proses ini membutuhkan waktu yang relatif lama sehingga membuat beberapa apotek meracik obat dengan menggunakan mesin tablet crusher. Ada kemungkinan penggerusan menggunakan tablet crusher akan mengurangi stabilitas jenis obat tertentu jika kontak langsung dengan logam mesin blender. Tujuan: variable yang diteliti adalah stabilitas obat racikan yaitu perbandingan kadar suatu obat yang dipreparasi menggunakan tablet crusher dan mortir di apotek sarana pelayanan kesehatan primer. Metode: spektrofotometri UV-VIS. Hasil: Panjang gelombang maksimum klorfeniramine maleat yang diperoleh adalah 261,5 nm dan parasetamol adalah 247,7 nm. % perolehan kembali (% recovery) baku klorfeniramin maleat adalah 99,82 ± 2,8% sedangkan pada parasetamol adalah 100,17 ± 2,09 %. Hasil dari perhitungan uji presisi didapatkan nilai RSD pada klorfeniramin Maleat adalah 0,76% sedangkan pada parasetamol adalah 1,13%. LOD dan LOQ dari klorfeniramin maleat adalah 3,20 ± 0,05 dan 9,7 ± 0,15 sedangkan LOD dan LOQ dari parasetamol adalah 0,38 ± 0,22 dan 1,16 ± 0,56. Hasil pengujian perbandingan preparasi waktu penggerusan dengan kadar yang telah dilakukan diketahui bahwa nilai signifikansi uji Mann Whitney tidak adanya perbedaan kadar obat yang dipreparasi dengan menggunakan mortir dan tablet crusher. Kesimpulan: Penggerusan obat dengan tablet crusher dan dengan mortir tidak memiliki perbedaan secara statistik. Kata Kunci : blender, crusher, mortir, stabilitas
Aktivitas Anti Bakteri Ekstrak Metanol Kulit Batang Meranti Sarang Punai (Shorea parvifolia Dyer) Terhadap Staphylococcus aureus dan Propionibacterium acnes Vilya Syafriana; Tiah Rachmatiah; Nitya Wita Utama
Jurnal Farmasi Udayana Spesial Issue, Desember 2020
Publisher : Departement of Pharmacy, Faculty of Mathematics and Natural Science, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/JFU.2020.v09.i03.p04

Abstract

Shorea parvifolia Dyer (meranti sarang punai) is one of a woody plant in Indonesia which distributed across Sumatra and Kalimantan. Cortex of meranti sarang punai is known contains the secondary metabolite such as saponin, flavonoid, and tannin which can act as an antibacterial agent. The research was aims to know the antibacterial activity of methanol extract of meranti sarang punai against Staphylococcus aureus and Propionibacterium bacteria. Maceration was chosen as the extraction methods with methanol as a solvent. The antibacterial test was done by disc diffusion method in Nutrient Agar (NA) media with concentrations 5%, 10%, 15%, 20%, 25%, and 30%; while the Minimum Inhibitory Concentration (MIC) was done by solid dilution method with concentrations 5%, 4%, 3%, 2%, and 1%. The results showed that the methanol extract of meranti sarang punai has antibacterial activity against the S. aureus with Inhibitory Zone (IZ) at concentrations of 5%, 10%, 15%, 20%, 25%, and 30% respectively 16,68; 17,27; 18,41; 19,4; 20,57; and 21,46 mm, while against P. acnes was 12,61; 13,65; 14,57; 15,53; 16,58; and 17,46 mm. The MIC of methanol extracts of meranti sarang punai against the two bacteria was at concentration 2%.
Efektivitas Jamu Untuk Perawatan Pasca Stroke Di Rumah Riset Jamu (RRJ) Hortus Medicus Tawangmangu Galuh Ratnawati
Jurnal Farmasi Udayana Spesial Issue, Desember 2020
Publisher : Departement of Pharmacy, Faculty of Mathematics and Natural Science, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/JFU.2020.v09.i03.p08

Abstract

The use of jamu for the treatment of disease has become a method of choice besides conventional treatment using modern medicine, including by stroke survivors. Rumah Riset Jamu (RRJ) Hortus Medicus is a B2P2TOOT’s research house that conducts health service-based research. RRJ Hortus Medicus developed jamu concoctions for post-stroke care containing celery (Apium graveolens L.), gotu kola (Centella asiatica L.), and sembung (Blumea balsamifera L.). This study aims to see the effectiveness of the jamu concoctions. A total of 106 post-stroke patients were recorded having repeated treatment at the RRJ Hortus medicus which was entered from 2013 to 2018. The medical records of these 106 patients were traced and analyzed. The effectiveness parameter assessed was the Neurological Impairment Scale (NIS) score. Jamu concoctions can improve the NIS score average in 58% of patients, which means that jamu concoctions have the potential to be further developed as jamu concoctions for post-stroke care in accordance with BPOM requirements. Jamu was also well tolerated by the research subjects in the absence of any serious side effects after taking jamu concoctions.
Kebijakan Industri Farmasi pada Masa Pandemi COVID-19 Rini Meliawati
Jurnal Farmasi Udayana Vol. 9, No. 2, Tahun 2020
Publisher : Departement of Pharmacy, Faculty of Mathematics and Natural Science, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/JFU.2020.v09.i02.p02

Abstract

Drug shortages has been global problem since 2000s until now, and it become in serious condition by the presence of the pandemic COVID-19. The main causes of drug shortages were economic and regulation, business problem, manufacture and supply chain. During this pandemic, the main causes of drug shortages are many pharmaceutical industries closures due to quarantine, logistical problems caused by border closure, export bans, quarantine of exporting active subtances and drugs’countries, increased demand and pilling up. However, this problem has been overcome by making policies and good cooperation between governments, regulatory institution and the pharmaceutical industry throughout the world. Several policies like increasing production capacity, restrict quantity of drugs purchased by the public, facilitate the process of industrial license and making a systems such as i-SPOC (Industry Single Point of Contact). It is expected to reduce drugs shortages problem during this pandemic.