cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota surabaya,
Jawa timur
INDONESIA
Jurnal Kimia Riset
Published by Universitas Airlangga
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Science,
Arjuna Subject : -
Articles 200 Documents
ANALISIS CEMARAN LOGAM BERAT TEMBAGA (Cu) PADA AMDK DAN AMIU DI DAERAH PANYILEUKAN DENGAN MENGGUNAKAN SSA Ivan Andriansyah; Anne Yuliantini; Avita Rischa Yunita
Jurnal Kimia Riset Vol. 4 No. 1 (2019): Juni
Publisher : Universitas Airlangga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (183.045 KB) | DOI: 10.20473/jkr.v4i1.13192

Abstract

Air mineral merupakan salah satu kebutuhan manusia yang paling penting. Kebutuhan air minum dapat dipenuhi dari AMDK. Ada syarat yang harus dipenuhi oleh AMDK untuk menjamin kualitas air minum yang layak dikonsumsi. Salah satu syarat AMDK adalah tidak mengandung logam berat tembaga (Cu) yang lebih dari 0,5 bpj. Tembaga termasuk logam yang dibutuhkan oleh tubuh dalam jumlah sedikit tetapi dalam jumlah yang berlebihan akan bersifat toksik. Oleh karena itu, diperlukan analisis kadar Cu pada AMDK khususnya di daerah Panyileukan guna menjamin kualitas AMDK. Penelitian ini terdiri dari 2 tahapan, yaitu validasi, penetapan kadar sampel menggunakan SSA pada panjang gelombang 324,75 nm dan statistika. Dari hasil validasi, didapatkan persamaan kurva kalibrasi y = 0,1537x + 0,0134 dengan nilai koefisien korelasi (r) sebesar 0,998, batas deteksi dan kuantisasi berturut-turut sebesar  0,03 dan 0,12 bpj, persen perolehan kembali 0,5 – 1,7% dengan nilai SBR kurang dari 2 %. Hasil pengukuran kadar Cu pada AMDK berkisar antara 0,00100 – 0,00192 bpj. Dari data AMDK dapat dikatakan bahwa kadar Cu tidak melebihi ambang batas yang ditetapkan oleh SNI 01-3553-2006 yaitu 0,5bpj.
AKTIVITAS SITOTOKSIK EKSTRAK SELADA MERAH (Lactuca sativa var. Crispa) PADA BERBAGAI PELARUT EKSTRAKSI Jamilatur Rohmah; Chylen Setiyo Rini; Fitria Eka Wulandari
Jurnal Kimia Riset Vol. 4 No. 1 (2019): Juni
Publisher : Universitas Airlangga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (404.517 KB) | DOI: 10.20473/jkr.v4i1.13066

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kandungan metabolit sekunder dan aktivitas sitotoksik dengan nilai LC50dari ekstrak selada merah (Lactuca sativa var.Crispa) pada berbagai pelarut. Sampel selada merah yang digunakan didapatkan dari desa Turirejo kecamatan Lawang-Malang. Simplisia selada merah di ekstraksi dengan metode maserasi menggunakan variasi pelarut yaitu pelarut etanol, metanol, etil asetat, dan n-heksana selama 24 jam. Hasil maserasi dipekatkan dengan alat rotary vacuum evaporator. Kemudian dilakukan uji skrining fitokimia serta KLT untuk mengetahui kandungan metabolit sekunder dalam sampel. Pengujian aktivitas sitotoksik dilakukan dengan metode BSLT (Brine Shrimp Lethality Test). Hasil ekstraksi didapatkan ekstrak kental etanol, metanol, etil asetat, dan n-heksana secara berturut-turut sebesar 17,30 g; 12,32 g; 25,61 g; dan 3,76 g. Dan hasil dari uji fitokimia menunjukkan ekstrak etanol selada merah mengandung flavonoid, tanin, saponin, triterpenoid, steroid dan alkaloid. Sedangkan ekstrak metanol selada merah mengandung alkaloid, saponin, dan tanin. Pada ekstrak etil asetat selada merah mengandung alkalid, saponin, steroid, dan tanin. Dan pada ekstrak n-heksana selada merah mengandung alkaloid, steroid, triterpenoid, dan tanin. Hasil aktivitas sitotoksik ekstrak metanol memiliki bioaktivitas tertinggi terhadap Artemia salina Leach. dibandingkan dengan ekstrak etanol, etil asetat, dan n-heksana. Nilai LC50ekstrak etanol, metanol, etil asetat, dan n-heksana secara berturut-turut adalah 322,288 ppm; 68,632 ppm; 1934,287 ppm; dan 170,115 ppm.Kata kunci: Selada merah (Lactuca sativa var. Crispa), sitotoksik, Artemia salina Leach, BSLT.   
UJI PENGIKATAN KOLESTEROL OLEH EKSTRAK METANOL BEKATUL BERAS KETAN HITAM SECARA IN VITRO Dewi Kurnia; Nenden Ayu Lisniawati; Deden Indra Dinata
Jurnal Kimia Riset Vol. 4 No. 1 (2019): Juni
Publisher : Universitas Airlangga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (217.754 KB) | DOI: 10.20473/jkr.v4i1.13198

Abstract

Beras ketan  hitam merupakan varietas lokal yang mengandung pigmen paling baik, dibandingkan dengan beras putih atau beras warna lain. Warna hitam pada beras ketan hitam berasal dari lapisan bekatul dan bagian bulir berasnya yang mengandung pigmen antosianin berwarna ungu. Bekatul beras ketan hitam mengandung serat serealia yang baik bagi organ pencernaan. Pada penelitian ini dilakukan pengujian pengikatan kolesterol oleh ekstrak metanol bekatul beras ketan hitam. Ekstraksi dilakukan dengan cara maserasi menggunakan metanol 70% dalam kondisi asam (penambahan HCl 1%). Uji pengikatan kolesterol oleh ekstrak metanol bekatul beras ketan hitam dilakukan secara in vitro dengan metode pembentukan kompleks kolesterol dengan FeCl3. Serapan kolesterol bebas diukur menggunakan spektrofotometer UV-Vis pada serapan maksimum panjang gelombang 526 nm. Randemen ekstrak yang diperoleh adalah sebesar 17,53%. Identifikasi ekstrak menggunakan KLT dengan eluen BAA (4,5:1:4,5) menunjukan adanya senyawa golongan antosianin.  Hasil uji pengikatan kolesterol  menunjukkan bahwa ekstrak metanol bekatul beras ketan hitam dengan konsentrasi 20 ppm dapat menurunkan kolesterol sebesar 47,46%. Peningkatan konsentrasi ekstrak menunjukan semakin besar pula penurunan kadar kolesterol bebas.Kata kunci: bekatul beras ketan hitam, pengikatan kolesterol, in vitro, spetkrofotometer UV-Vis
SINTESIS, KARAKTERISASI DAN UJI AKTIVITAS SENYAWA KOMPLEKS Zn(II)-KATEKIN SEBAGAI INHIBITOR ENZIM LIPASE Antyka Lutfiana Putri; Sri Sumarsih; Harsasi Setyawati
Jurnal Kimia Riset Vol. 4 No. 1 (2019): Juni
Publisher : Universitas Airlangga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (295.2 KB) | DOI: 10.20473/jkr.v4i1.13154

Abstract

ABSTRACT The study aims to synthesis, characterization and activity testing of Zn(II)-catechin as lipase inhibitor activity. The complex compound from synthesis result is characterized by its maximum wavelength, functional groups, metals and ligands bonds, and it’s melting point. This complex compound tested of Zn(II)-catechin as lipase inhibitor activity to p-NPP (para-nitrofenilpalmitat) substrate. The result shows that Zn(II)-catechin could be synthesized from Zn(II) ligans and metals with ratio ligands and metals mol is 1:1, that has maximum wavelength 454 nm, which contain Zn-O bond at 354,90 and 478,35 cm-1, and melting point of Zn(II)-catechin >250 oC. Zn(II)-catechin can inhibition 60,63% from concentration 50 µg/mL with mixed inhibition Keyword : Zn(II)-catechin, lipase, mixed inhibition ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk melakukan sintesis, karakterisasi dan uji aktivitas senyawa kompleks Zn(II)-katekin terhadap aktivitas inhibitor enzim lipase. Senyawa kompleks hasil sintesis dikarakterisasi panjang gelombang maksimumnya, gugus fungsi serta ikatan logam dan ligannya, serta titik lelehnya. Senyawa kompleks diuji aktivitas inhibitor enzim lipase terhadap substrat p-NPP (paranitrofenilpalmitat). Hasil penelitian menunjukkan bahwa senyawa kompleks Zn(II)-katekin dapat disintesis dari ligan katekin dan logam Zn(II) dengan perbandingan mol ligan logam 1:1, mempunyai panjang gelombang maksimum 454 nm, mengandung ikatan Zn-O pada 354,90 dan 478,35 cm-1 dan titik leleh senyawa kompleks >250 oC. Senyawa kompleks Zn(II)-katekin pada konsentrasi 50µg/mL mempunyai daya inhinbisi sebesar 60,63% terhadap enzim lipase dengan jenis inhibisi campuran. Kata kunci : Zn(II)-katekin, lipase, inhibitor campuran
AKTIVITAS ANTIBAKTERI EKSTRAK MIKROALGA Thalassiosira sp TERHADAP BAKTERI Staphylococcus aureus, Staphylococcus epidermidis dan Propionibacterium Acne Vina Juliana Anggraeni; Titis Setyaning Wahyu; Herni Kusriani; Dewi Kurnia
Jurnal Kimia Riset Vol. 4 No. 1 (2019): Juni
Publisher : Universitas Airlangga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (303.437 KB) | DOI: 10.20473/jkr.v4i1.13314

Abstract

AbstrakPengembangan obat dan kosmetik dari biota laut kini tengah terjadi di dunia farmasi. Mikroalga Thalassiosira sp merupakan jenis mikroalga yang memiliki kandungan senyawa-senyawa bioaktif. Beberapa penelitian sebelumnya menunjukkan bawa mikroalga memiliki aktivitas antibakteri.  Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui aktivitas antibakteri dari ekstrak mikroalga Thalassiosira sp  terhadap 3 bakteri  yaitu staphylococcus aureus, staphylococcus epidermidis dan propionibakterium Acne di fasa n-heksan, etil asetat dan etanol. Ketiga bakteri ini dapat menyebabkan infeksi kulit. Mikroalga Thalassiosira sp dikultivasi menggunakan medium walne dan di panen pada hari ke-6 setelah penanaman. Pemanen mikroalga dilakukan dengan teknik sentrifuga. Ektrak dilakukan dengan cara  maserasi bertingkat selama 3 x 24 jam. Pengujian antibakteri dilakukan dengan metode difusi kertas cakram atau metode disc diffusion menurut Kirby-Bauer. Hasil ekstrak mikroalga Thalassiosira sp diperoleh paling banyak pada ekstrak etanol sebanyak 24,24%(b/b), ektrak etil asetat sebanyak 19,75%(b/b) dan paling sedikit adalah ekstrak heksan sebanyak 8,64% (b/b). Hasil uji difusi menunjukkan ekstrak n-heksan, etil asetat dan etanol mikroalga Thalassiosira sp memiliki aktivitas terhadap bakteri staphylococcus aureus, staphylococcus epidermidis dan propionibakterium Acne yang ditunjukan dengan adanya zona bening. Kata kunci: mikroalga, Thalassiosira sp, antibakteri, infeksi kulit, metode difusi Abstract Development drugs and cosmetics from marine biota is now being happened in pharmacy word. Microalgae Thalassiosira sp is a type of microalgae that has a bioactive compounds. Several previous studies have shown the existence of microalgae which have antibacterial activity. This study aimed to study the antibacterial activity of extracts of microalgae Thalassiosira sp against 3 bacteria which is staphylococcus aureus, staphylococcus epidermidis and propionibacterium acne in the n-hexane, ethyl acetate and ethanol phases. These three bacteria can cause skin infections. Microalgae Thalassiosira sp was cultivated using walne medium and harvested on the 7th day after planting. Microalgae harvesters are carried out by centrifuge techniques. The extract is done by multilevel maceration for 3 x 24 hours. Antibacterial testing was carried out by the paper diffusion method or Kirby-Bauer's disc diffusion method. The results of the crude extract of microalgae Thalassiosira sp were obtained at most in ethanol extract as much as 24.24% (w/w), extract of ethyl acetate at 19.75% (w / w) and at least hexane extract at 8.64% (w/w). The diffusion test results for n-hexane, ethyl acetate, and ethanol microalgae Thalassiosira sp extract have activity on  staphylococcus aureus, staphylococcus epidermidis and propionibacterium acne which are supported by clear zones. Keywords: mikroalge, Thalassiosira sp, antibacteria, skin infection, diffusion method
Senyawa Bioaktif Daun Kumis Kucing (Orthosiphon stamineus) Surahmaida Surahmaida; Umarudin Umarudin; Junairiah Junairiah
Jurnal Kimia Riset Vol. 4 No. 1 (2019): Juni
Publisher : Universitas Airlangga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (171.619 KB) | DOI: 10.20473/jkr.v4i1.13176

Abstract

AbstrakDaun kumis kucing (Orthosiphon stamineus) umumnya digunakan sebagai tanaman obat keluarga, hal ini diduga karena senyawa bioaktif yang terkandung didalamnya. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui senyawa bioaktif ekstrak n-heksana daun kumis kucing (Orthosiphon stamineus) menggunakan GCMS. Hasil senyawa bioaktif yang teridentifikasi ekstrak n-heksana daun kumis kucing mengandung 1,1-Dicyclopentylethane; Bicyclo[3.2.0]hept-2,6-diene-1,2,3,4,4,5,6-d(7); n-Butyl palmitate; 1-oxo03.alpa.-(4-methyl-3-pentenyl)-6.alpa.-methyl-6a.alpa.-carbomethoxy-1,3,3a.alpa.,6a-tetrahydrocyclopenta[c]furan;  1,1,3,3,5,5,7,7,9,9,11,11,13,13-tetradecamethylheptasiloxane; 1,4-bis(trimethylsilyl)-benzene dan Silicone grease, Siliconfett. Senyawa-senyawa bioaktif ekstrak n-heksana daun kumis kucing tersebut kemudian dianalisis aktivitas biologi dan farmakologisnya. Katakunci: Orthosiphon stamineus, senyawa bioaktif, GCMS AbstractThe leaves of cat whiskers (Orthosiphon stamineus) are generally used as family medicinal plants, this is thought to be due to the bioactive compounds contained therein. The purpose of this study was to find out the bioactive compounds of n-hexane extract of cat whiskers (Orthosiphon stamineus) using GCMS. The results of bioactive compounds identified with n-hexane extract of cat whiskers containing 1,1-Dicyclopentylethane; Bicyclo[3.2.0]hept-2,6-diene-1,2,3,4,4,5,6-d(7); n-Butyl palmitate; 1-oxo03.alpa.-(4-methyl-3-pentenyl)-6.alpa.-methyl-6a.alpa.-carbomethoxy-1,3,3a.alpa.,6a-tetrahydrocyclopenta[c]furan;  1,1,3,3,5,5,7,7,9,9,11,11,13,13-tetradecamethylheptasiloxane; 1,4-bis(trimethylsilyl)-benzene and Silicone grease, Siliconfett. The bioactive compounds of the n-hexane extract of the cat's whiskers leaves were then analyzed for their biological and pharmacological activities. Keywords: Orthosiphon stamineus, bioactive compound, GCMS
PEMURNIAN PARSIAL EKSTRAK KASAR SELULASE BACILLUS CIRCULANS DENGAN METODA PENGENDAPAN ASETON Iqbal Achmad Sabilla; Evi Susanti
Jurnal Kimia Riset Vol. 4 No. 1 (2019): Juni
Publisher : Universitas Airlangga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (244.183 KB) | DOI: 10.20473/jkr.v4i1.13177

Abstract

AbstrakTujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui tingkat kemurnian hasil pengendapan ekstrak kasar selulase Bacillus circulans pada berbagai kejenuhan aseton;   pengaruh waktu pengendapan terhadap tingkat kemurnian hasil pengendapan pada kejenuhan aseton optimum; dan stabilitas waktu penyimpanan fraksi optimum pada suhu 0°C selama 0,1,4 dan 7 hari.Aktivitas selulase diukur berdasarkan kenaikan kadar gula pereduksi yang dihasilkan pada substrat kertas Whatman no 1. Penentuan kadar gula pereduksi menggunakan metode Somogy-Nelson. Kadar protein ditentukan dengan metode Lowry. Tingkat kemurnian enzim merupakan perbandingan aktivitas spesifik enzim setelah pemurnian dengan sebelum pemurnian.Tingkat kemurnian hasil pengendapan ekstrak kasarBacillus circulans mengalami peningkatan pada kejenuhan aseton ( 33 %), (41,1 %) dan (50 %) kemudian menurun pada kejenuhan (60 %) dan (67 %). Fraksi yang aktivitas spesifik tertinggi adalah pada tingkat kejenuhan aseton 50 %, dengan tingkat kemurnian rata-rata 63,61 ± 0,141 kali ekstrak kasar dan perolehan protein kembali rata-rata 76,85 ± 7,99 %. Waktu pengendapan tidak berpengaruh terhadap tingkat kemurnian hasil pengendapan ekstrak kasar selulase Bacillus circulans pada kejenuhan aseton optimum.Selulase hasil pengendapan dengan aseton memiliki stabilitas yang kurang baik pada suhu ± 0°C karena menurun sebesar 41,1 % pada hari pertama dan 88,2 % pada hari ketujuh setelah penyimpanan. Kata kunci: selulase, Bacillus circulans, pengendapan, aseton.    AbstractThe aims of this study were to determine the purity level of precipitations of  cellulases of Bacillus circulans at various saturation of acetone; the effect of precipitation time on the purity level of the precipitations at optimum acetone saturation; and the stability of the storage time of the optimum fraction at 0 ° C for 0,1,4 and 7 days. The activity of cellulase was measured based on the increased of reducing sugar levels produced from hydrolysed of Whatman paper as substrate. The reducing sugar levels were determined with  the Somogy-Nelson method. Protein levels are determined with the Lowry method. The purity level of the enzyme is a comparison of specific enzyme activity after and before purification. The purity level of precipitations of cellulose of Bacillus circulans has increased in saturation of acetone (33%), (41.1%) and (50%) then decreases in saturation (60%) and (67%). The highest cellulase specific activity fraction was at 50% acetone saturation level, with an average purity level of 63.61 ± 0.141 times crude extract and yield protein recovery an average of 76.85 ± 7.99%. The precipitation time did not affect the purity level of the precipitations at optimum acetone saturation. The precipitations had low storage stability at ± 0 oC because its cellulase activity decreased by 41.1% on the first day and  88.2 % on the seventh day after storage The keywords: cellulose, Bacillus circulans, precipitation, aceton 
UJI AKTIVITAS ANTIOKSIDAN BEBERAPA EKSTRAK ALGA COKLAT Sargassum polycystum DAN Turbinaria deccurens ASAL PULAU DUTUNGAN SULAWESI SELATAN TERHADAP RADIKAL DPPH Fitriyanti Jumaetri Sami; Nunuk Hariani Soekamto; Firdaus Firdaus; Jalifah Latip
Jurnal Kimia Riset Vol. 4 No. 1 (2019): Juni
Publisher : Universitas Airlangga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (30.811 KB) | DOI: 10.20473/jkr.v4i1.10903

Abstract

This study used S. polycystum and T. deccurens were extracted with various solvents (n-hexane, ethyl acetate and ethanol) to determine phytochemical screening and antioxidant activities. Extraction of samples by maceration method, antioxidant activity assay using the immersion method of DPPH (1,1-Diphenyl-2-picryl Hidrazil) measured absorption at a wavelength of 515 nm and compared with the control of antioxidant vitamin C. The results showed that antioxidant activity of the methanol, ethyl acetate, n-hexane extract of S. polycystum have low antioxidant activity with the value IC50 340,06, 180,54, and 502,25 mg/mL. Methanol, ethyl acetate, n-hexane extracts of  T. deccurens have low antioxidant activity with value IC50 491,02, 411,80, and 502,7 mg/mL. This potential is lower than vitamin C IC50 value of 1,72 mg/mL. 
UJI SITOTOKSIK TERHADAP SINTESIS DAN KARAKTERISASI MAGNETIK NANOPARTIKEL CuFe2O4 YANG DILINGKUPI BOVINE SERUM ALBUMIN (BSA) Handjani Sri Usreg Usreg; Albari Husein; Mochamad Zakki Fahmi, Ph.D
Jurnal Kimia Riset Vol. 4 No. 1 (2019): Juni
Publisher : Universitas Airlangga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (539.955 KB) | DOI: 10.20473/jkr.v4i1.13187

Abstract

 AbstrakNanopartikel, dalam beberapa tahun ini mendapatkan perhatian lebih dari peneliti dan ilmuan dunia, hal ini terlihat banyaknya jurnal maupun penelitian terutama dalam bidang kesehatan. Salah satu contoh aplikasi dalam bidang biomedis sebagai agen pengontras yaitu Magnetic Resonance Imaging (MRI). Nanopartikel magnetik CuFe2O4 telah berhasil disintesis yang berasal dari bahan Fe(acac)3 dan Cu(acac)2 dengan penambahan Bovine Serum Albumin sebagai nanocarrier. Sintesis dilakukan dengan mencampurkan bahan Fe(acac)3 dan Cu(acac)2, kemudian mereaksikannya secara solvothermal sehingga membentuk CuFe2O4. Proses selanjutnya mencampurkan larutan CuFe2O4 dan larutan BSA dalam air kemudian diultrasonikasi. Produk CuFe2O4-BSA selanjutnya dikarakterisasi dan diuji ketahanan terhadap perubahan pH dan penambahan garam. Hasil uji menunjukkan bahwa CuFe2O4-BSA dapat mempertahankan kestabilan, terbukti pada pH 3-12 selama 24 jam dan pada konsentrasi garam 0,5 M masih tetap stabil. Proses sintesis dapat dikatakan berhasil dilakukan karena hasil XRD menunjukkan terdapatnya senyawa CuFe2O4 sesuai database JCPDF 34-0425, dimana menunjukkan peak pada posisi pada 34,718º, 35,861º, dan 62,156º. Hasil karakterisasi menggunakan XRD menunjukkan bahwa peak produk muncul pada posisi 35.3896º dan 62.6159º. Hasil karakterisasi menggunakan DLS menunjukkan bahwa produk CuFe2O4-BSA memiliki rata-rata diameter partikel sebesar 153,2 nm. Hasil karakterisasi MSB menunjukkan bahwa CuFe2O4 memiliki momen magnet yang tinggi yaitu sebesar 1,57BM. Uji Sitotoksik CCK-8 menunjukkan nanopartikel magnetik CuFe2O4-BSA, secara keseluruhan memiliki sifat yang tidak toksik terhadap sel HeLa dibuktikan dengan nilai derajat viabilitas terendah memiliki nilai 82%. Katakunci: Nanopartikel Magnetik, CuFe2O4, Bovine Serum Albumin,Sitotoksik   
Evaluasi Pemberian Unsur Hara Besi pada Kandungan Asam Amino dan Mineral dalam Biji Jagung Deden Saprudin; Citra Ajeng Palupi; Eti Rohaeti
Jurnal Kimia Riset Vol. 4 No. 1 (2019): Juni
Publisher : Universitas Airlangga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (375.067 KB) | DOI: 10.20473/jkr.v4i1.11774

Abstract

Evaluasi pemberian pupuk nanomagnetit (Fe3O4) 25 ppm dan pupuk komersial Fe-kelat 250 ppm terhadap kandungan nutrisi dalam biji jagung seperti kandungan proksimat, asam amino, serta mineral telah dilakukan. Asam amino ditentukan menggunakan kromatografi cair kinerja tinggi (KCKT) dan mineral ditentukan menggunakan spektrofotometri serapan atom (SSA). Pengolahan data melalui uji anova satu arah untuk membandingkan kedua jenis perlakuan. Perlakuan Fe-kelat 250 ppm dapat meningkatkan kandungan total asam amino 32% dan total mineral 86%. Begitupun perlakuan nanomagnetit 25 ppm juga terbukti meningkatkan kandungan total asam amino sebesar 18% dan total mineral 29% pada biji jagung secara signifikan jika dibandingkan dengan kontrol berdasarkan uji anova.

Page 7 of 20 | Total Record : 200