cover
Contact Name
I G. Made Krisna Erawan
Contact Email
krisnaerawan@unud.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
Animal Hospital, Faculty of Veterinary Medecine Building, Udayana University, 2nd Floor, Jalan Raya Sesetan, Gang Markisa No 6, Banjar Gaduh, Sesetan, Denpasar, Bali, Indonesia
Location
Kota denpasar,
Bali
INDONESIA
Jurnal Veteriner
Published by Universitas Udayana
ISSN : 14118327     EISSN : 24775665     DOI : https://doi.org/10.19087/jveteriner
Core Subject : Health,
Jurnal Veteriner memuat naskah ilmiah dalam bidang kedokteran hewan. Naskah dapat berupa: hasil penelitian, artikel ulas balik (review), dan laporan kasus. Naskah harus asli (belum pernah dipublikasikan) dan ditulis menggunakan bahasa Indonesia atau bahasa Inggris. Naskah ilmiah yang telah diseminarkan dalam pertemuan ilmiah nasional dan internasional, hendaknya disertai dengan catatan kaki
Arjuna Subject : -
Articles 1,116 Documents
Noni simplistic effect with Chicken Shank Gelatin Film on White Rat Spleen Exposed to Dexamethasone Virita Rossa Pratiwi; Yasmi Purnamasari Kuntana; Ruly Budiono; Desak Made Malini; Joko Kusmoro
Jurnal Veteriner Vol 24 No 1 (2023)
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University and Published in collaboration with the Indonesia Veterinarian Association

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19087/jveteriner.2023.24.1.122

Abstract

Dexamethasone is a corticosteroid drug belong to glucocorticoid group. Dexamethasone is immunosuppressant and anti-inflammatory in various inflammatory conditions. Side effects of its use can cause cell apoptosis in various organs such as the spleen. The immunosuppressant effect of dexamethasone can reduce and inhibit peripheral lymphocytes and macrophages until the death of lymphoid cells in the white pulps of the spleen. The simultaneous effect of administering chicken shank gelatin and noni has the potential to improve the structure of the spleen. This study was aimed to prove and obtain effective and safe dose of chicken shank gelatin and noni on the spleens of rats exposed to dexamethasone. The research was carried out experimentally in the laboratory with a completely randomized design (CRD). A total of 25 heads male rats were grouped into five treatments and each treatment consist of five repetitions. There was a treatment group P1 as a negative control, P2 as a positive control (dexamethasone 5 mg/kg BW), P3-P5 (dexamethasone 5 mg/kg + gelatin 1.585 mg/kg + noni simplicia 50; 112; 250 mg/kg BW). The results of the study showed an increase in the area of white pulps and a decrease in the percentage of necrotic cells in the spleen, however, it did not increase the relative weight of the spleen and serum albumin levels (P>0.05). In conclusion, the effective and safe dose for the spleen organs of rats exposed to dexamethasone is 250 mg/kg BW.
Perbedaan Morfologi dan Ekspresi Dazl dan Vasa pada Sel Germinal Fetus dan Anak Mencit Jantan Wahono Esthi Prasetyaningtyas; Ni Wayan Kurniani Karja; Mokhamad Fahrudin; Kusdiantoro Mohamad; Srihadi Agungpriyono
Jurnal Veteriner Vol 24 No 1 (2023)
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University and Published in collaboration with the Indonesia Veterinarian Association

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19087/jveteriner.2023.24.1.49

Abstract

Sel germinal merupakan salah satu sumber sel yang masih bersifat totipotensi dan berperan dalam pembentukan organisme baru. Morfologi dan ekspresi protein pada sel germinal bersifat dinamis bergantung pada umur dan tahap perkembangan. Penelitian ini bertujuan untuk mengamati perubahan morfologi dan ekspresi protein sebagai marka sel germinal jantan pada fetus umur 13,5 hari pascakawin (days post coital/ dpc) dan anak mencit umur lima hari pascalahir. Hasil Rigi kelamin dan testis diisolasi dari mencit umur 13,5 dpc dan 5 hari. Jaringan kemudian dipreparasi histologi rutin, dan diwarnai dengan pewarnaan hematoksilineosin (HE), sedangkan untuk mengidentifikasi keberadaan protein Dazl, Vasa dan Oct4, jaringan diwarnai dengan pewarnaan imunohistokimia menunjukkan morfologi sel germinal jantan pada fetus mencit umur 13,5 dpc dan anak mencit umur lima hari pascalahir sama-sama berbentuk bulat oval. Namun, sel germinal jantan pada mencit umur lima hari pascalahir berukuran lebih besar, jumlah yang lebih sedikit dan terletak jauh dari membran basal. Pada sel germinal jantan umur 13,5 dpc menunjukkan positif lemah terhadap antibodi Oct 4 dan DAZL serta positif kuat terhadap antibodi Vasa. Pada umur lima hari, sel germinal jantan menunjukkan positif kuat terhadap antibodi Oct-4 dan DAZL, serta positif lemah terhadap antibodi Vasa. Simpulan dari penelitian ini adalah morfologi dan ekspresi marka sel germinal dipengaruhi oleh tahapan pertumbuhan dan perkembangan sel-sel germinal. Vasa dapat digunakan sebagai marka untuk sel germinal umur 13,5 dpc dan DAZL sebagai marka untuk sel germinal umur lima hari pascalahir.
Identifikasi Kandungan Kimia dan Sedimentasi Urin Kucing Lokal di Denpasar, Bali Mar'atul Halim Nafi'ah; Anak Agung Sagung Kendran
Jurnal Veteriner Vol 23 No 4 (2022)
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University and Published in collaboration with the Indonesia Veterinarian Association

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19087/jveteriner.2022.23.4.547

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kandungan kimia dan sedimentasi urin kucing lokal yang hidup bebas berkeliaran di sekitar Kota Denpasar. Sampel yang digunakan adalah urin kucing yang diambil secara acak dan digunakan sebagai latihan bedah cystocentesis dan kateterisasi. Sebanyak delapan ekor kucing jantan dan delapan ekor kucing betina dewasa sampel urinnya diambil dan dimasukkan ke dalam pot steril, lalu dilakukan pengamatan kimia urin dengan pemeriksaan menggunakan dipstick yang memiliki 10 paramater yaitu leukosit, nitrit, urobilinogen, protein, pH, darah, berat jenis (spesific grafity), keton, bilirubin, dan glukosa. Pemeriksaan dipstik dilakukan dengan cara mencelupkan stik ke dalam masing-masing sampel selama 0,5-1,0 menit hingga seluruh parameter terendam, kemudian diangkat dan ditaruh di media datar yang telah dilapisi tissue lalu ditunggu selama tiga menit hingga parameter berubah warna dan diulangi sebanyak tiga kali. Setelah dilakukan pemeriksaan kimia urin menggunakan dipstick, sampel urin kucing di dalam tabung reaksi diendapkan dengan menunggu dan mendiamkan sampel urin tersebut semalaman dalam tabung yang diposisikan secara tegak lurus. Setelah 20 jam diendapkan, kemudia endapan tersebut diambil dan diletakkan di atas objek glass lalu diperiksa menggunakan mikroskop cahaya dengan perbesaran 400 kali. Penelitian ini termasuk ke dalam penelitian observasional yang menekankan pada pengamatan kuantitas/ jumlah zat dan sedimentasi yang terdapat didalam sampel urin kucing. Dari 16 sampel yang diperiksa, semua sampel negatif terhadap pemeriksaan leukosit, nitri, urobilinogen, dan darah. Protein ditemukan pada 75% sampel kucing, Glukosa 1+ ditemukan pada 6,25%, dan masing-masing 100% positif pada pemeriksaan ketone dan bilirubin. Sedangkan rata-rata berat jenis urin kucing bernilai 1,022 dan pH urin bernilai 6,75. Selanjutnya dari hasil pemeriksaan sedimentasi urin, 11 sampel ditemukannya crystal dan casts urin yang terdiri dari Calcium oxalate monohydrate, triple phosphate, Magnesium Amonium Phosphate, Kumpulan Kristal Struvite, dan Lipid droplets. Dari pemeriksaan sampel tidak ada perbedaan signifikan antara kucing jantan dan betina.
Efektivitas Ekstrak Etanolik Daun Jambu Mete sebagai Pengganti Enramycin terhadap Performa Pertumbuhan Ayam Layer Jantan Elgio Venanda Ginting; Anisa Fatwa; Stephanus Ardi Dimar; Luthfiana Ulil Albab; Haris Setiawan; Hendry Trisakti Saragih
Jurnal Veteriner Vol 24 No 4 (2023)
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University and Published in collaboration with the Indonesia Veterinarian Association

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19087/jveteriner.2023.24.4.532

Abstract

Permintaan terhadap daging dan telur yang tinggi memicu peternak untuk menambahkan antibiotic growth promoter (AGP) kedalam formulasi pakan dengan tujuan meningkatkan performa pertumbuhan hewan ternak. Penggunaan antibiotik sintetis pada unggas telah dilarang karena menyebabkan efek negatif terhadap kesehatan manusia. Ekstrak etanolik daun jambu mete (EDJM) mengandung metabolit sekunder yang dapat digunakan sebagai pengganti antibiotik sintetis. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh EDJM sebagai pengganti AGP sintetis. Penelitian ini menggunakan 150 ekor ayam layer jantan yang dibagi kedalam lima kelompok, yaitu kelompok K (kontrol; pakan basal), P1 (perlakuan 1; Enramycin 0,0125%), P2 (perlakuan 2; Enramycin 0,025%), P3 (perlakuan 3; EDJM 0,5%) dan P4 (perlakuan 4; EDJM 1%). Setiap kelompok terdiri atas tiga ulangan. Parameter yang diamati yaitu performa pertumbuhan, morfologi usus halus, performa otot dan morfometri. Ekstrak EDJM dengan konsentrasi 1% yang diberikan pada kelompok P4 dapat memberikan pengaruh positif terhadap performa pertumbuhan serta asupan pakan harian, namun nilai feed convertion ratio (FCR) terendah dicapai oleh kelompok P3. Pemberian EDJM pada kelompok P4 dapat meningkatkan morfologi usus halus (duodenum, jejunum, dan ileum) serta morfologi muskulus pektoral secara signifikan (P?0,05). Kelompok P4 juga menunjukkan hasil pengukuran morfometri yang lebih tinggi secara signifikan (P?0,05) dibandingkan dengan kelompok perlakuan lain. Berdasarkan hasil yang didapat dari penelitian ini dapat disimpulkan bahwa EDJM 1% dapat digunakan sebagai pengganti AGP sintetis seperti antibiotik Enramycin.
STRUKTUR DAN MORFOMETRI LIMPA ITIK BALI (Anas sp.) PADA FASE PERTUMBUHAN Winda Ara Yulisa; Ni Luh Eka Setiasih; Luh Gde Sri Surya Heryani; Ni Ketut Suwiti; Ni Nyoman Werdi Susari; I Gede Soma
Jurnal Veteriner Vol 24 No 3 (2023)
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University and Published in collaboration with the Indonesia Veterinarian Association

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19087/jveteriner.2023.24.3.357

Abstract

Limpa merupakan organ yang dikelompokkan ke dalam sistem limfoid sekunder. Limpa memiliki fungsi imunitas terhadap antigen yang masuk ke dalam tubuh dan menghancurkan eritrosit yang rusak. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui struktur dan morfometri limpa itik bali (Anas sp.) pada fase pertumbuhan/grower. Penelitian ini menggunakan 20 ekor itik bali yang dibagi menjadi dua kelompok yaitu jantan dan betina yang masing-masing terdiri atas 10 ekor (umur 2-3 bulan). Hasil data struktur anatomi dan histologi dianalisis secara deskriptif kualitatif, sedangkan data morfometri dan histomorfometri untuk menguji perbedaan antara jantan dan betina digunakan uji Independent sample T-test dengan prosedur analisis menggunakan program SPSS versi 26. Struktur anatomi limpa itik bali berbentuk segitiga piramid dan berwarna cokelat kemerahan, struktur histologi limpa itik bali terdiri atas kapsula, trabekula, pulpa merah dan pulpa putih. Hasil pengukuran morfometri berat limpa itik bali jantan diperoleh 0,68 ± 0,20 g dan berat limpa itik betina 0,66 ± 0,24 g. Volume limpa itik bali jantan dan betina berturut-turut 0,60 ± 0,19 mL dan 0,58 ± 0,23 mL. Hasil pengukuran histomorfometri ketebalan kapsula limpa itik jantan dengan betina adalah 17,97 ± 4,81 ?m; 31,75 ± 6,09 ?m; ketebalan trabekula jantan 17,20 ± 3,26?m ; dan betina 22,54 ± 6,29 ?m; serta diameter pulpa putih jantan adalah 214,69 ± 14,77 ?m; dan diameter pulpa putih betina adalah 199,56 ± 23,58 ?m. Simpulan penelitian ini adalah limpa itik bali jantan dan betina pada fase pertumbuhan/grower memiliki struktur anatomi dan histologi yang sama, morfometri yang tidak berbeda nyata, serta histomorfometri yang menunjukkan perbedaan pada ketebalan kapsula dan trabekula sedangkan diameter pulpa putih tidak jauh berbeda.
Cover, Editorial Board, Daftar Isi I Wayan Batan
Jurnal Veteriner Vol 24 No 2 (2023)
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University and Published in collaboration with the Indonesia Veterinarian Association

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Cover, Editorial Board, Daftar Isi
Kadar Glukosa, Kolesterol dan Kadar Asam Urat Darah Puyuh pada Fase Starter, Grower, dan Layer La Jumadin; Aryani Sismin Satyaningtijas; Wasmen Manalu; Damiana Rita Ekastuti; Chairun Nisa; Mohamad Yogie Hendrawan; Yuvensius Yuvensius; Resi Milna
Jurnal Veteriner Vol 24 No 4 (2023)
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University and Published in collaboration with the Indonesia Veterinarian Association

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19087/jveteriner.2023.24.4.494

Abstract

Puyuh dikenal sebagai penghasil protein hewani berupa telur dan daging yang sangat baik. Penelitian ini dilakukan untuk memperoleh data dasar beberapa parameter biokimiawi darah, yang meliputi kadar glukosa darah, kadar kolesterol darah, dan kadar asam urat darah serta bobot badan pada puyuh fase starter (umur 18 hari), grower (umur 25 hari), dan layer (umur 330 hari). Pengambilan darah dilakukan melalui rute intravena (vena brachialis) terhadap 120 ekor burung puyuh. Setiap fase terdiri atas 10 ekor puyuh. Hasil analisis statistika menunjukkan tidak ada pengaruh nyata antara fase dengan kadar glukosa darah puyuh, namun nilai kadar glukosa tertinggi terdapat pada fase starter. Kadar glukosa darah semakin menurun dengan semakin bertambahnya umur dan semakin bertambahnya bobot badan. Kadar kolesterol darah pada berbagai fase pemeliharaan/umur puyuh menunjukkan hasil berbeda nyata (p<0,05), nilai kolesterol darah tertinggi diperoleh pada fase layer. Kadar asam urat menunjukkan tidak terdapat pengaruh umur pemeliharaan (p>0,05). Kadar asam urat tertinggi terdapat pada puyuh fase grower. Simpulan penelitian ini adalah kadar glukosa darah dan kadar asam urat tidak menunjukkan perbedaan pada setiap umur pemeliharaan, sedangkan pada kadar kolesterol darah memberikan pengaruh yang nyata.
Rumput Laut Sango-sango (Gracilaria sp.) Berpotensi Memperbaiki Kondisi Hiperglikemik dan Ekspresi Insulin Pankreas Tikus Diabetik Olga Purnama Bakti; Ekowati Handharyani; Sri Purwaningsih
Jurnal Veteriner Vol 24 No 2 (2023)
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University and Published in collaboration with the Indonesia Veterinarian Association

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19087/jveteriner.2023.24.2.179

Abstract

Indonesia menempati urutan kelima dengan penderita diabetes melitus terbanyak di dunia. Manajemen makan harus dilakukan terutama pada penderita diabetes melitus yang menggunakan obat penurun glukosa darah atau insulin. Rumput laut sango-sango atau Gracilaria sp., memiliki potensi sebagai agen antidiabetes. Pengujian aktivitas antihiperglikemik pada model hewan diperlukan sebelum implementasi pada manusia. Penelitian dilakukan dengan pemberian pakan dengan penambahan Gracilaria sp. pada tikus dengan periode yang berbeda. Tikus diberi streptozotocin (50 mg/kg bb) untuk menginduksi diabetes. Hewan dibagi dalam enam kelompok perlakuan: kontrol, kontrol diabetes, tikus diabetes diberi pakan standar dan obat metformin, tikus diabetes diberi Gracilaria sp., selama tiga minggu dan dua minggu, dan tikus normal diberi Gracilaria sp., selama empat minggu. Parameter yang digunakan adalah glukosa darah dan luas area positif ekspresi insulin. Hasil yang didapatkan adalah pemberian streptozotocin mengakibatkan keadaan diabetes pada tikus. Pakan dengan penambahan Gracilaria sp., menunjukkan potensi untuk membantu manajemen hiperglikemik. Hasil yang signifikan ditemukan pada area positif ekspresi insulin. Pemberian pakan dengan penambahan Gracilaria sp., dengan hasil terbaik diperoleh pada pakan dengan pemberian selama tiga minggu.
Gambaran Histopatologi Kulit Anjing Penderita Dermatitis Atopik Pascapemberian Eco Enzyme Rafi Ahmad Farhan; I Nyoman Suartha; Luh Made Sudimartini
Jurnal Veteriner Vol 25 No 1 (2024)
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University and Published in collaboration with the Indonesia Veterinarian Association

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19087/jveteriner.2024.25.1.81

Abstract

Dermatitis atopik merupakan salah satu penyakit paling umum terjadi pada anjing yang bersifat multifaktorial dan biasanya menyerang anjing usia 6-36 bulan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran histopatologi kulit anjing penderita dermatitis atopik pascaterapi eco enzyme. Eco enzyme adalah suatu produk cairan hasil dari fermentasi limbah organik asal dapur seperti ampas buah dan sayuran, molase, serta air. Penelitian ini menggunakan lima ekor anjing penderita dermatitis atopik yang dibagi menjadi dua kelompok perlakuan. Kelompok A, terdiri atas tiga ekor sampel anjing yang dimandikan dengan cairan eco enzyme konsentrasi 10% setiap tiga hari sekali selama 28 hari. Pada perlakuan Kelompok B, dua ekor sampel anjing dimandikan dengan eco enzyme 10% setiap tiga hari sekali sampai hari ke-9, dilanjutkan dengan dimandikan eco enzyme 2% setiap satu minggu sekali (hari ke-13, ke-20, ke-27). Kedua kelompok perlakuan dimulai dari hari ke-0 hingga hari ke-28. Sampel kulit diambil dengan metode biopsi dan pengamatan perubahan histopatologi dilakukan dengan membuat preparat histopatologi kulit yang diwarnai dengan pewarnaan Hematoksilin dan Eosin. Pengamatan preparat dilakukan dengan mikroskop cahaya. Data yang diperoleh dianalisis dengan Uji sidik ragam dan dilanjutkan dengan Uji jarak berganda Duncan dan Uji Kruskall Wallis dilanjut dengan Uji Mann-Whitney, kemudian data dijelaskan secara deskriptif. Hasil Uji sidik ragam menunjukkan ketebalan epidermis dengan pemberian eco enzyme 2% dan 10% berbeda nyata (P<0,05). Untuk Uji Kruskall Wallis terhadap skoring infiltrasi sel radang dan degenerasi menunjukkan bahwa adanya perbedaan yang nyata (P<0,05) pemberian eco enzyme 2% dan 10%. Cairan eco enzyme mampu menurunkan tingkat keparahan dermatitis atopik pada anjing. Pemberian eco enzyme konsentrasi 10% dan dilanjut konsentrasi 2% dengan waktu aplikasi yang diperpanjang dapat mengembalikan struktur histologis kulit anjing menuju normal terutama pada ketebalan epidermis, menurunkan infiltrasi sel radang, dan menurunkan degenerasi.
Pengkayaan Pakan dengan Larutan Kulit Kayu Manis (Cinnamomum burmannii) untuk Mencegah Aeromoniosis pada Ikan Jambal Siam (Pangasianodon hypophthalmus) Sagitha Aulya Fanny Tanjung; Henni Syawal; Morina Riauwaty
Jurnal Veteriner Vol 24 No 3 (2023)
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University and Published in collaboration with the Indonesia Veterinarian Association

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19087/jveteriner.2023.24.3.346

Abstract

Senyawa kimia yang terkandung dalam kulit kayu manis (Cinnamomum burmannii) berfungsi sebagai antibakteri dan imunostimulan yang dapat meningkatkan respons imun non spesifik pada ikan. Penelitian ini dilakukan pada bulan Maret-Agustus 2023 di Laboratorium Parasit dan Penyakit Ikan, Fakultas Perikanan dan Kelautan, Universitas Riau. Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui status kesehatan ikan jambal siam (Pangasianodon hypophthalmus) yang diuji tantang dengan Aeromonas hydrophila. Metode yang digunakan adalah metode eksperimental dengan Rancangan Acak Lengkap (RAL), satu faktor, lima perlakuan, yaitu Kontrol negatif (tanpa pemberian larutan kulit kayu manis dan tanpa diuji tantang A. hydrophila); Kontrol positif (tanpa pemberian larutan kulit kayu manis dan diuji tantang A. hydrophila); P1, P2, dan P3 dosis penambahan larutan kulit kayu manis 15, 30, dan 45 mL/kg pakan dan diuji tantang dengan A.Hydrophila. Masing-masing perlakuan memiliki tiga ulangan. Ikan uji berukuran 8-12 cm dipelihara dalam akuarium berukuran 40x30x30 cm3 dengan padat tebar 1 ekor/3L. Pakan diberikan tiga kali sehari dengan dosis 5% dari bobot biomassa. Ikan diuji tantang pada hari ke-32 secara intramuskuler sebanyak 0,1 mL/ekor dengan kepadatan bakteri 108 CFU/mL. Hasil penelitian diperoleh nilai hematologi ikan pada perlakuan P2 pascauji tantang berada dalam kondisi normal (total eritrosit 2,30 x 106 sel/mm3 , kadar hemoglobin 10,53 g/dL, nilai hematokrit 45,00%, total leukosit 10,85 x 104 sel/mm3, aktivitas fagositosis 32,33%, kelulushidupan 93,33% dan tingkat perlindungan relatif 91.07%). Sebagai simpulan, penambahan kulit kayu manis dengan dosis 30 mL/kg pakan dapat mencegah Aeromoniosis dan meningkatkan kekebalan ikan terhadap infeksi A. hydrophila.

Filter by Year

2000 2024