cover
Contact Name
I G. Made Krisna Erawan
Contact Email
krisnaerawan@unud.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
Animal Hospital, Faculty of Veterinary Medecine Building, Udayana University, 2nd Floor, Jalan Raya Sesetan, Gang Markisa No 6, Banjar Gaduh, Sesetan, Denpasar, Bali, Indonesia
Location
Kota denpasar,
Bali
INDONESIA
Jurnal Veteriner
Published by Universitas Udayana
ISSN : 14118327     EISSN : 24775665     DOI : https://doi.org/10.19087/jveteriner
Core Subject : Health,
Jurnal Veteriner memuat naskah ilmiah dalam bidang kedokteran hewan. Naskah dapat berupa: hasil penelitian, artikel ulas balik (review), dan laporan kasus. Naskah harus asli (belum pernah dipublikasikan) dan ditulis menggunakan bahasa Indonesia atau bahasa Inggris. Naskah ilmiah yang telah diseminarkan dalam pertemuan ilmiah nasional dan internasional, hendaknya disertai dengan catatan kaki
Arjuna Subject : -
Articles 1,116 Documents
Cover, Editorial Board, Daftar Isi I Wayan Batan
Jurnal Veteriner Vol 24 No 4 (2023)
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University and Published in collaboration with the Indonesia Veterinarian Association

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Cover, Editorial Board, Daftar Isi
Deteksi Pola Resistansi dan Gen Penyandi Resistansi Antibiotik pada Escherichia coli Asal Peternakan Babi di Kabupaten Badung Provinsi Bali Ardiana Ardiana; Agustin Indrawati; Ni Luh Putu I Ika Mayasari
Jurnal Veteriner Vol 24 No 3 (2023)
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University and Published in collaboration with the Indonesia Veterinarian Association

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19087/jveteriner.2023.24.3.303

Abstract

Resistansi antimikrob merupakan masalah kesehatan global. Antimikrob termasuk antibiotik digunakan untuk mengobati infeksi pada manusia dan hewan. Penyalahgunaan antibiotik dapat menyebabkan resistansi dan pengobatan menjadi tidak efektif. Penelitian ini bertujuan untuk mengisolasi Escherichia coli (E. coli) dari hewan, manusia dan lingkungan di peternakan babi di Kabupaten Badung Provinsi Bali, serta menentukan pola resistansi dan gen resistansi antibiotik. Sampel diambil dari 12 peternakan babi yang berdekatan dengan total 24 sampel feses babi, 24 sampel swab tangan pekerja kandang, dan 12 sampel limbah air. Escherichia coli diisolasi menggunakan MacConkey Agar, pewarnaan Gram, IMViC (Indole, Methyl Red, Voges Proskauer, Citrate) dan dikonfirmasi dengan Polymerase Chain Reaction (PCR). Uji kerentanan terhadap 11 antibiotik menggunakan metode difusi cakram. Deteksi gen resistansi antibiotik dengan PCR untuk gen blaTEM, ampC, ermB, strA, tetA, dan sul1. Hasil menunjukkan 100% (24/24) E. coli diisolasi dari feses, 16,7% (4/24) dari swab, dan 100% (12/12) dari limbah air. Pola resistansi antibiotik menunjukkan bahwa resistansi tertinggi terhadap eritromisin, diikuti oleh amoksisilin dan ampisilin, tetrasiklin, streptomisin dan trimetropim-sulfmetokzasol, serta 14 isolat dikategorikan Multidrug Resistant (MDR). Gen resistansi yang dideteksi dari E. coli pada manusia, hewan dan lingkungan adalah blaTEM, ampC, strA, tetA dan sul1, sementara ermB tidak terdeteksi. Berdasarkan hasil penelitian, pemberian antibiotik eritromisin, amoksisilin, ampisilin, tetrasiklin, streptomisin dan trimetropim-sulfmetokzasol sebaiknya diganti dengan antibiotik jenis lain. Adanya gen resistansi yang berasal dari sampel feses babi, swab tangan dan limbah air mengindikasikan terjadinya penyebaran resistansi antibiotik pada manusia, hewan dan lingkungan.
Imunitas Ayam Petelur Pascavaksinasi dengan Vaksin Flu Burung Subtipe H9N2 Yuniati Kencana; I Nyoman Suartha
Jurnal Veteriner Vol 24 No 2 (2023)
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University and Published in collaboration with the Indonesia Veterinarian Association

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19087/jveteriner.2023.24.2.194

Abstract

Virus flu burung dengan keganasan rendah atau Low pathogenic avian influenza (LPAI) subtipe H9N2 tersebar luas di seluruh dunia, dan menjadi endemik pada populasi unggas di Asia dan Timur Tengah. Galur H9N2 merupakan salah satu subtipe AI yang sangat merugikan peternak karena dapat menurunkan produksi telur, serta penurunan bobot badan pada ayam pedaging. Tindakan preventif dapat dilakukan dengan vaksinasi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui titer antibodi ayam petelur pascavaksinasi AI subtype H9N2. Sebanyak 45 ekor ayam petelur digunakan untuk sampel penelitian, dibagi menjadi tiga kelompok yaitu kelompok kontrol (K) yang diberi plasebo, kelompok perlakuan vaksinasi P1 (vaksinasi pertama) dan P2 (vaksinasi booster) minggu. Pengambilan darah dilakukan sekali pravaksinasi dan tiga kali pascavaksinasi yakni pada saat satu, dua, dan tiga minggu pascavaksinasi. Titer antibodi diperiksa dengan uji serologi penghambatan hemaglutinasi (HA/HI). Hasil uji titer antibodi dianalisis dengan sidik ragam, dilanjutkan dengan uji jarak berganda Duncan serta analisis regresi menggunakan SPSS. Penelitian dilakukan selama tiga bulan pada peternakan ayam petelur komersial di Desa Perean, Kabupaten Tabanan, Bali, sedangkan uji serologi dilaksanakan di Laboratorium Virologi, Fakultas Kedokteran Hewan, Universitas Udayana. Hasil analisis titer antibodi ayam petelur menunjukkan bahwa vaksin AI subtipe H9N2 berpengaruh terhadap respons imun ayam petelur pascavaksinasi. Titer antibodi ayam petelur kelompok P2 pascavaksinasi ulang lebih tinggi dibandingkan dengan titer antibodi kelompok kontrol dan kelompok P1. Periode pengambilan serum setiap minggu berpengaruh nyata (P ? 0.05 ) terhadap peningkatan titer antibodi AI-H9N2 pascavaksinasi. Disimpulkan bahwa vaksin AI-H9N2 meningkatkan respons imun AI-H9N2 ayam petelur pascavaksinasi dan titer antibodi yang ditimbulkan di atas titer protektif.
Respons Imun Mencit terhadap Vaksin DNA Virus Demam Babi Afrika A224L dan A276R dengan Enkapsulasi Lipofektamin, Kolesterol dan Polimer Sylvia Kamil; I Gusti Ngurah Kade Mahardika; Ida Bagus Kade Suardana
Jurnal Veteriner Vol 25 No 1 (2024)
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University and Published in collaboration with the Indonesia Veterinarian Association

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19087/jveteriner.2024.25.1.132

Abstract

Vaksin terhadap penyakit Demam Babi Afrika (African Swine Fever/ASF) sangat diperlukan untuk mengurangi kerugian peternak babi di seluruh dunia. Penelitian ini bertujuan memaparkan pengujian vaksin DNA-ASF dengan gen A224L dan A276R pada mencit dengan adjuvan polimer, lipofektamin dan kolesterol. Setiap mencit divaksinasi secara intramuskuler dengan 25 ?g plasmid yang dienkapsulasi dengan adjuvan tersebut. Serum mencit dikumpulkan pada minggu ke-1, 2, 3 dan 4. Antibodi terhadap A224L dan A276R dideteksi dengan uji ELISA menggunakan peptida sintetik A224L dan A276R sebagai antigen. Nilai optical density (OD) dianalisis secara statistika menggunakan uji sidik ragam dengan aplikasi SPSS Versi 25. Hasil penelitian menujukkan nilai OD serum mencit yang diberikan vaksin DNA ASF-A224L dan A276R dengan adjuvan polimer (0,149), lipofektamin (0,080) dan kolesterol (0,058), serta mencit kontrol (0,020) berbeda sangat nyata (p=0,000), sementara waktu pengambilan serum tidak berpengaruh nyata (p=0,517). Simpulannya adalah nilai OD ELISA serum mencit yang diberikan vaksin DNA ASF-A224L dan A276R antarperlakuan adjuvan polimer, lipofektamin, kolesterol, dan kontrol secara statistika berbeda sangat nyata (p=0,000), sedangkan waktu pengambilan serum secara statistika tidak berpengaruh nyata (p=0,517) terhadap nilai OD ELISA serum mencit yang diberikan vaksin DNA ASF-A224L dan A276R. Kajian lebih lanjut diperlukan untuk memperbaiki protokol pencampuran adjuvan dengan plasmid menggunakan kuantitas lebih banyak.
Antipyretic Activity of The Combination of Momordica charantia L. and Carica papaya L.on Male Mice (Mus musculus) Muhammad Furqan; Herdini Herdini; teodhora teodhora
Jurnal Veteriner Vol 24 No 4 (2023)
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University and Published in collaboration with the Indonesia Veterinarian Association

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19087/jveteriner.2023.24.4.452

Abstract

Fever or pyrexia is a symptom of an illness. Disease infections such as dengue fever, typhus, malaria, liver inflammation, and other infectious diseases are examples of diseases that often cause fever symptoms. To reduce this negative impact means that fever needs to be treated with antipyretics. This study was aimed to determine the antipyretic effectiveness of a combination of papaya and leaf extracts of pare. A total of 15 healthy male mice (Mus musculus) of the ddY strain were 2-3 months old with a weight of 20-30 g were used in this study. Treatment in five groups is group I; ibuprofen 400 mg, group II; Carboxymethyl Cellulosa or CMC-Na 1%, group III (100:100) mg/kg BW, group dose IV (50:150) mg/kg BW, and group dose V (150:50) mg/kg BW, induced fever using the diptheria, pertussis, tetanus (DPT) vaccine with a volume of 0.1 cc (IP) and carried out three repetitions. Observations were made by measuring the rectal temperature of mice using a digital thermometer before DPT vaccine injection or average temperature, 0 minutes (after DPT vaccine injection), 30, 60, 90, and 120 minutes after administering test materials. The combination of papaya leaves and pare leaves can reduce the body temperature of mice. The dose (150:50) mg/kg BW provides the reduction in weight loss body temperature of mice; however, it was not significantly different from ibuprofen.
Molecular Identification of Taenia hydatigena from Goats in Khishig-Undur, Mongolia Temuujin Janchiv; Yeruult Chultemsuren; Amarbayasgalan Zagd; Mungunzaya Tangad; Akhiit Tileubai; Bolorchimeg Baldandorj; Burmaa Badrakh; Bayarsaikhan Uudus; Toni Wandra; Christine M Budke; Khulan Janchiv; Ochirkhuyag Baldorj; Narankhajid Myadagsuren
Jurnal Veteriner Vol 24 No 2 (2023)
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University and Published in collaboration with the Indonesia Veterinarian Association

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19087/jveteriner.2023.24.2.147

Abstract

Cysticercosis caused by the larval form of the Taenia hydatigena tapeworm poses a global challenge to the livestock industry. A total of 56 goats slaughtered in Khishig-Undur, Mongolia were evaluated for the presence of cystic lesions. Collected cysts were assessed using the mitochondrial 12S rRNA gene. In total, 46.4% (26/56) of evaluated goats were positive for T. hydatigena infection, with most cysts attached to the omentum, mesentery, liver, or spleen. Partial 12S rRNA gene sequences were obtained from all evaluated cysts and aligned with known sequences for T. hydatigena. Infection prevalence was higher in goats three years of age and older (50.0%; 17/34) compared to goats less than three years of age (40.0%; 9/22) (p=0.035). Infection with T. hydatigena appears to be highly prevalent in goats in Khishig-Undur. Additional studies are needed to evaluate local parasite transmission dynamics and the impact of this parasite on local livestock production.
Studi Kasus: Echocardiography Normal pada Anjing Siberian Husky Dewasa Mumtasya Karima Putri; Abdul Zahid Ilyas; Fitria Senja Murtinigrum; Bintang Nurul Iman; Deni Noviana
Jurnal Veteriner Vol 25 No 1 (2024)
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University and Published in collaboration with the Indonesia Veterinarian Association

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19087/jveteriner.2024.25.1.31

Abstract

Echocardiography digunakan secara umum pada bidang kedokteran hewan untuk mengevaluasi struktur dan fungsi jantung pada anjing. Studi kasus ini bertujuan untuk mengevaluasi hasil echocardiography normal pada ras anjing Siberian Husky. Pengukuran echocardiography diperoleh dengan teknik standar, yaitu B-Mode, M-Mode, dan Color Flow Doppler menggunakan Acclarix AX3 Vet USG dan probe micro convex dengan frekuensi 5-9 MHz. Pemeriksaan dilakukan pada posisi hewan right parasternal dan left apical. Hasil menunjukkan bahwa anjing Siberian Husky berusia enam tahun dengan bobot badan 32 kg dalam studi kasus ini memiliki jantung yang normal. Hasil perbandingan echocardiography M-Mode dengan nilai rentang referensi normal untuk anjing dengan ukuran, peran, dan bobot badan yang serupa menunjukkan left ventricular internal dimension in diastole (LVIDd) di bawah rentang normal, sementara left ventricular posterior wall in diastole (LVWPd) dan left ventricular posterior wall in systole (LVPWs) lebih tinggi. Hasil ini menunjukkan perlunya interval referensi spesifik berdasarkan ras anjing. Studi kasus ini menjelaskan hubungan antara nilai echocardiography normal dengan fungsi jantung anjing yang digambarkan melalui nilai ejection fraction (EF) 66,04% dan fractional shortening (FS) 35,52%. Hasil echocardiography normal pada anjing Siberian Husky ini dapat dibandingkan dengan interval referensi ras serupa yang merupakan working dogs, sehingga menjadi nilai referensi yang penting untuk penelitian lebih lanjut.
The First Evidence Demographic and Density of Dog Population in Beach Area in West Timor, East Nusa Tenggara Ewaldus Wera; Johanis A. Jermias; Petrus M. Bulu; Hendrina Lero Kaka
Jurnal Veteriner Vol 24 No 3 (2023)
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University and Published in collaboration with the Indonesia Veterinarian Association

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19087/jveteriner.2023.24.3.365

Abstract

Wilayah pantai Timor Barat memiliki banyak pelabuhan tradisional dan merupakan daerah transit nelayan dari dan keluar pulau Timor. Penularan rabies melalui pelabuhan tradisional sangat mungkin terjadi sehingga menempatkan Timor Barat pada kategori daerah beresiko tinggi tertular rabies di masa yang akan datang. Ketersediaan data demografi dan kepadatan populasi anjing di wilayah pantai Timor Barat sangat penting dalam pengendalian rabies yang efektif dan efisien jika terjadi wabah. Tujuan penelitian ini adalah untuk menggumpulkan data demografi dan mengestimasi kepadatan populasi anjing di wilayah pantai Timor Barat. Survei telah dilakukan pada bulan Juni-Agustus 2021. Hasil penelitian menunjukan bahwa kepadatan populasi anjing di wilayah pantai Timor Barat berkisar antara 98-333 ekor per km2 dan didominasi oleh anjing berjenis kelamin jantan (62%), berumur lebih dari satu tahun dengan skor kondisi tubuh sedang. Jumlah jantan yang dominan berpotensi mempercepat laju penularan penyakit jika terjadi wabah penyakit zoonosis seperti rabies. Hal ini cukup beralasan karena daya jelajah anjing jantan jauh lebih luas dibanding anjing betina.Keberadaan anjing umur lebih dari satu tahun dan bebas berkeliaran di area umum akan berpotensi meningkatnya laju pertumbuhan populasi anjing mengingat kelompik anjing ini akan bereporoduksitanpa terkendali. Untuk itu edukasi manajemnen pemeliharaan dan kesehatan anjing perlu dilakukanuntuk menekan laju pertumbuhan populasi.
Laporan Kasus: Penanganan Feline Chronic Gingivostomatitis dengan Terapi Penyiangan (Scaling) Gigi Menggunakan Ultrasonic Scaler pada Kucing Kampung Ainaya Luthfi Anindya; Sri Kayati Widyastuti; I Wayan Batan
Jurnal Veteriner Vol 24 No 4 (2023)
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University and Published in collaboration with the Indonesia Veterinarian Association

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19087/jveteriner.2023.24.4.552

Abstract

Feline Chronic Gingivostomatitis (FCGS) merupakan penyakit yang menimbulkanperadangan dan menyebabkan rasa nyeri pada rongga mulut kucing. Penyakit ini ditandai dengan peradangan mulut berkepanjangan dan dapat berlangsung berbulan-bulan hingga bertahun-tahun. Laporan ini bertujuan membahas FCGS pada kucing kampong/lokal, berjenis kelamin jantan, berumur tujuh tahun, dan bobot badan 4,5 kg. Kucing diperiksa di Laboratorium Ilmu Penyakit Dalam, Fakultas Kedokteran Hewan, Universitas Udayana. Kucing mengalami hipersalivasi disertai dengan penumpukan saliva di area mulut, disfagia, dan bau busuk tercium dari mulut. Pada rongga mulut ditemukan plak menempel pada gigi premolar, serta peradangan dan ulkus pada gusi, mukosa alveolar, lipatan palatoglosus (fauces), dan permukaan lidah. Pada pemeriksaan sitologi ulas mulut kucing ditemukan adanya bakteri Gram negatif berbentuk basil pendek. Berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisik, pemeriksaan sitologi ulas mulut, kucing didiagnosis mengalami Feline Chronic Gingivostomatitis. Penanganan yang dilakukan berupa terapi simptomatis dan pembersihan plak gigi melalui penyiangan (scaling). Kucing diberikan antibiotik dan antiradang berupa amoxicillin 10 mg/kg BB (PO) dua kali sehari selama tujuh hari, dan dexamethasone 0,125 mg/kg BB (PO) sekali sehari selama tiga hari. Setelah terapi oral selama tujuh hari, dilakukan pembersihan plak melalui terapi penyiangan (scaling) gigi menggunakan ultrasonic scaler. Hasil dari observasi selama tujuh hari setelah penanganan, terjadi perubahan pada gigi yang ditandai dengan tidak adanya hipersalivasi, peningkatan nafsu makan, bobot badan, dan berkurangnya peradangan pada mukosa gingiva. Namun sayangnya, area palatoglosal masih mengalami peradangan. Pengobatan yang diberikan terhadap FCGS bersifat simptomatis, tidak secara kausatif. Pada pengobatan iniperadangan pada rongga mulut membaik tetapi karena penyebab pasti dari penyakit ini masih belum diketahui, maka ada kemungkinan gejala kambuh kembali.
Prevalensi Virus Demam Babi Afrika pada Produk Daging Babi yang Diuji di Laboratorium Balai Besar Uji Standar Karantina Pertanian Seruni Agistiana; , I Wayan Teguh Wibawan; Surachmi Setiyaningsih; Ni Luh Putu Ika Mayasari; Harimurti Nuradji; Sriyanto Sriyanto; Risma Juniarti Paulina Silitonga
Jurnal Veteriner Vol 24 No 3 (2023)
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University and Published in collaboration with the Indonesia Veterinarian Association

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19087/jveteriner.2023.24.3.264

Abstract

Demam babi afrika atau African swine fever (ASF) adalah penyakit viral lintas batas yang sangat menular pada babi domestik dan babi liar yang disebabkan oleh virus ASF (ASFV). Virus ini memiliki daya tahan hidup dan stabilitas yang tinggi di lingkungan, mampu bertahan lama pada benda mati seperti peralatan dan pakaian yang tercemar atau pada produk daging dari babi yang terinfeksi ASFV. Penelitian ini bertujuan mendeteksi ASFV pada produk daging babi dan olahannya di Indonesia. Sejak tahun 2019, Balai Besar Uji Standar Karantina Pertanian (BBUSKP) yang merupakan salah satu laboratorium rujukan milik pemerintah di bawah naungan Badan Karantina Pertanian (Barantan), memiliki tugas untuk melakukan pengujian deteksi ASFV salah satunya adalah menguji sampel produk daging babi. Prevalensi dihitung berdasarkan data sekunder hasil pengujian qualitative Polymerase Chain Reaction (qPCR) dalam deteksi ASFV pada produk daging babi yang dilakukan di laboratorium BBUSKP, Jakarta Timur tahun 2020-2022. Terdeteksinya ASFV pada produk daging babi sebanyak 8.2% di tahun 2020, 24.8% di tahun 2021 dan 11.6% pada tahun 2022 memperkuat bahwa produk daging babi berpotensi menjadi media pembawa ASF di Indonesia.

Filter by Year

2000 2024