cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
Agricore: Jurnal Agribisnis dan Sosial Ekonomi Pertanian Unpad
ISSN : 25284576     EISSN : 26157411     DOI : -
Core Subject :
Jurnal Agribisnis dan Sosial Ekonomi Pertanian Universitas Padjadjaran. Diterbitkan Atas Kerjasama Program Studi Agribisnis dan Departemen Sosial Ekonomi Fakultas Pertanian Unpad Dengan PERHEPI Komisariat Bandung Raya.
Arjuna Subject : -
Articles 234 Documents
ANALISIS RANTAI NILAI (VALUE CHAIN) BAWANG MERAH DI JAWA BARAT Trisna Insan Noor; Pandi Pardian; Adi Nugraha
Agricore: Jurnal Agribisnis dan Sosial Ekonomi Pertanian Unpad Vol 1, No 1 (2016): Agricore: Jurnal Agribisnis dan Sosial Ekonomi Pertanian
Publisher : Departemen Sosial Ekonomi Faperta Unpad

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (648.394 KB) | DOI: 10.24198/agricore.v1i1.22684

Abstract

Penelitian ini ditujukan untuk mengevaluasi kinerja rantai nilai bawang merah di Jawa Barat, yangmenitik beratkan pada proses penambahan nilai dan aspek keadilan dalam pembagian pendapatan disetiap pelaku yang terlibat di dalam rantai. Peta pelaku, sebaran penambahan nilai, dan pembagiankeuntungan dalam rantai nilai bawang merah dijabarkan, dilengkapi oleh formulasi saran kebijakandemi meningkatkan kinerja rantai nilai bawang merah yang dilandasi aspek keadilan. Metode yangditerapkan pada kajian ini adalah pendekatan rantai nilai, yang merupakan suatu kerangka kunci untukmemahami berbagai penggunaan input dan jasa secara bersama yang digunakan untuk menumbuhkan,mengubah, atau menghasilkan suatu produk. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar nilaitambah dari agribisnis bawang merah dinikmati oleh para pelaku yang terlibat dalam rantai pasokanbawang segar (52,39%-70,23%), sedangkan sisanya dinikmati oleh pelaku yang berasal dari luar rantaipasokan bawang merah segar (29,77%- 47,61%). Hasil analisis juga menunjukan bahwa penerimanilai tambah terbesar di antara para pelaku adalah petani (39,87%), sementara penerima nilai tambahterkecil adalah penebas (10,62%). Namun besar kecilnya nilai tambah yang diperoleh setiap pelakutidak mencerminkan nilai keuntungan yang diterimanya, karena keuntungan lebih dipengaruhi olehfrekuensi transaksi dari setiap pelaku.Kata kunci: bawang merah, rantai nilai, nilai tambah, aspek keadilan, Jawa Barat
Strategi Pengembangan Benih Bawang Putih di Kecamatan Agrapura Kabupaten Majalengka Pandi Pardian; Trisna Insan Noor
Agricore: Jurnal Agribisnis dan Sosial Ekonomi Pertanian Unpad Vol 4, No 1 (2019): Agricore: Jurnal Agribisnis dan Sosial Ekonomi Pertanian
Publisher : Departemen Sosial Ekonomi Faperta Unpad

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (231.487 KB) | DOI: 10.24198/agricore.v4i1.22953

Abstract

Abstrak Kabupaten Majalengka telah lama dikenal sebagai salah satu sentra bawang merah, selain bawang merah ternyata produksi bawang putih juga dilakukan di Kabupaten Majalengka. Salah satu kegiatan yang dilakukan pemerintah untuk mendukung produksi bawang putih di Kabupaten Majalengka adaalh dengan membuat program  mengembangkan sistem produksi perbenihan bawang putih untuk mendukung produksi benih bawang secara kontinu dan berkualitas, sehingga hasil produksi bawang putih lebih baik dan berkembang. Program pengebangan benih bawang putih kerjasama dengan importir dari benih yang didatangkan oleh impotir tenyata memiliki beberapa permasalahan utama diantaranya tidak berumbi. Hal tersebut menarik peneliti untuk melakukan penelitian terkait strategi pengembangan benih bawang putih di Kabupaten Majalengka. Penelitian ini menggunakan metode survey sedangkan untuk mengetahui strategi pengembangan benih bawang putih dengnan alat analisis AHP (Analitycal Hierarchy Process). Sedangkan data yang dipergunakan dalam penelitian adalah data primer dan sekunder. Data primer didapatkan dari survey, sedangkan data sekunder diperoleh dari pencatatan/keterangan dari instansi terkait serta laporan hasil penelitian terdahulu. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa alternative strategi pengembangan benih bawang putih adalah melakukan kerjasaa dengn petani atau kelompok tani dengan penggunaan dan kesiapan teknologi budidaya serta jaminan pasar hasil produksi benih.Kata Kunci : Bawang Putih, Benih, Analytical Hierarchy Proces , Majalengka.AbstractMajalengka Regency has been known as one of the centers of shallots. Besides shallots, in Majalengka Regency also it turns out garlic production. One of the activities carried out by the government to support garlic production in Majalengka Regency is creating a program to develop a production system for garlic seedlings to support continuous and quality production of onion seeds, so that garlic production is better and growing. The garlic seed development program in cooperation with importers has several main problems including non-tuber. This attracted researchers to conduct research related to the strategy of developing garlic seeds in Majalengka Regency. This study uses a survey method while to determine the strategy of developing garlic seeds with AHP (Analytical Hierarchy Proces). This study uses primary and secondary data. Primary data is obtained from surveys, while secondary data is obtained from recording/ information from relevant agencies and reports on previous research results. The study results indicate that the alternative strategy for developing garlic seeds is to collaborate with farmers or farmer groups with the use cultivation technology and market guaranteed for the seeds production.Keywords: Garlic, Seeds, Analytical Hierarchy Proces,  Majalengka. 
MODEL SISTEM PERTANIAN PADI ORGANIK: PEMBERDAYAAN PETANI SKALA KECIL (STUDI KASUS DESA SUNDAKERTA, KECAMATAN SUKAHENING, KABUPATEN TASIKMALAYA) Mahra A. Heryanto; Kuswarini Kusno; Gema W. Mukti
Agricore: Jurnal Agribisnis dan Sosial Ekonomi Pertanian Unpad Vol 1, No 2 (2016): Agricore: Jurnal Agribisnis dan Sosial Ekonomi Pertanian
Publisher : Departemen Sosial Ekonomi Faperta Unpad

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1318.37 KB) | DOI: 10.24198/agricore.v1i2.22714

Abstract

ABSTRAKKebergantungan petani padi terhadap program pemerintah telah berlangsung lama sejak dijalankanRevolusi Hijau digulirkan. Dibalik prestasi peningkatan produksi pangan, terdapat kerusakan-kerusakan yang saat ini disadari atau tidak oleh petani dari aspek sosial dan lingkungan. Sistempertanian organik muncul sebagai inovasi dan solusi bagi persoalan sosial dan lingkungan.Keberdayaan petani yang terdiri dari sosial, ekonomi dan lingkungan digambarkan dalam suatustruktur model sistem pertanian organik menggunakan pendekatan berpikir sistem (system thinking).Studi kasus ini dilakukan pada kelompok tani padi organik yang usahanya berskala kecil di DesaSundakerta, Kecamatan Sukahening, Kabupaten Tasikmalaya. Kelembagaan sosial yangditerjemahkan dalam konsep modal sosial menjadi akslerator dalam proses peningkatan keberdayaanpetani. Aksi bersama (collective action) sebagai “buah” dari “pohon” modal sosial (kepercayaan,aturan dan jejaring sosial) memegang peranan penting dalam menggerakan peningkatan keberdayaanpetani dari aspek sosial, eknomi, dan lingkungan.Kata kunci: modal sosial, aksi kolektif, berpikir sistem, kelembagaan sosial, pemberdayaanABSTRACTFarmer dependency toward governemnt policy have been existed in a long period since GreenRevolution started. Behind the food incresed achievement, there was some failure that realized ornot by farmers socially and environmentally. Organic farming system currently emerge as solutionand innovation for social and environemntal failure. Farmer empowerment which consist of social,economics and environemental aspect are illustrated in a model structure of organic farming systemusing system thinking approach. These case study was held in a farmer group with small scaleorganic farming at Sundakerta Village, Kecamatan Sukahening, Kabupaten Tasikmalaya. Socialinstitution which is translated into social capital opperationally, pay role as engine or accelerator inorder to increase the powerment level of farmer. Collective action as “fruit” of social capital “tree”(trust, norm and obligation, and social networking) play an important role in movement of farmerempowerment in social, economics and environement aspects.Keywords: social capital, collective action, system thinking, social institution, empowerment
INTEGRASI PARTICIPATORY PLANT BREEDING DAN PREFERENSI KONSUMEN: PELUANG PENERAPANNYA DALAM PENGEMBANGAN VARIETAS KEDELAI BARU DI INDONESIA Dika Supyandi; Yayat Sukayat; Meddy Rachmadi
Agricore: Jurnal Agribisnis dan Sosial Ekonomi Pertanian Unpad Vol 1, No 1 (2016): Agricore: Jurnal Agribisnis dan Sosial Ekonomi Pertanian
Publisher : Departemen Sosial Ekonomi Faperta Unpad

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1097.852 KB) | DOI: 10.24198/agricore.v1i1.22694

Abstract

ABSTRAKMetode pemuliaan tanaman formal tidak selalu sesuai dengan kebutuhan, terkait dengan beragamnyakondisi agroekosistem pertanaman dan sosial budaya masyarakat serta karakteristik produk benih yangdibutuhkan. Karakteristik benih yang dibutuhkan dapat ditelusur dari pengguna itu sendiri, yang bukanhanya di tingkat petani pengguna benih, tetapi juga sampai pada konsumen akhir pengguna produkusahatani. Salah satu pendekatan yang saat ini mulai banyak digunakan dalam kegiatan pemuliaantanaman adalah participatory plant breeding (PPB). Dalam pendekatan ini, petani beserta pelakulainnya, seperti penyuluh pertanian dan peneliti pemulia, berpartisipasi dalam pengembangan varietasbaru. Kata participatory berarti bahwa aktivitas pemuliaan tanaman ini bersifat inklusif,mempromosikan keragaman genetik, serta memberdayakan petani dan masyarakat perdesaan. PPBdapat dikenali dari tujuannya (pendekatan proses atau fungsional), konteks kelembagaannya (farmerled atau formal led), dan bentuk interaksi antar petani dan pemulia (konsultatif, kolaboratif, ataukolegial). Namun demikian, upaya pemuliaan kedelai saat ini, seyogyanya diantisipasi tidak hanyasampai pada tingkat petani pengguna tetapi lebih jauh lagi hingga tingkat pengguna akhir, dalam halini para pengrajin pangan berbahan baku kedelai. Oleh karenanya, integrasi antara pendekatanpemuliaan kedelai yang lebih partisipatif dengan produksi yang didorong permintaan pasar harusmenjadi perhatian. Artikel ini adalah studi literatur, mendeskripsikan cara mengimplementasikan PPB,perhatian terhadap preferensi konsumen akhir kedelai dan peluang penerapan integrasi antara PPB danpreferensi konsumen dalam pengembangan varietas kedelai baru di Indonesia. Sejumlah prasyaratharus dipenuhi dalam penerapan PPB, khususnya dalam konteks pengembangan varietas kedelai baru.Kata kunci:pengembangan varietas kedelai, participatory plant breedingABSTRACTFormal led plant breeding has not been always suitable with the needs, related to variance ofenvironmental and socio-cultural conditions and needed seed characteristics. Needed seedcharacteristics could be traced from the users, which is not only at seed user farmers level, but also atend consumers. Participatory plant breeding has begun to be a popular approach in plant breedingactivities, where farmers with other actors, such as agriculture extension officers and plant breedingresearchers work together to develop new variety of plants. The word “participatory” means that thisactivity is inclusive, promote genetics variability, and empower farmers as well as rural community.Participatory plant breeding can be recognized from the goals (process approach or functionalapproach), institutional contexts (farmer led or formal led), and interaction between farmers andbreeders (consultative, collaborative, or collegial). However, recent soybean breeding efforts shouldbe anticipated not only at user farmer level, but also at end user, namely food industries usingsoybean as raw material. This paper is a literature study; describe means to implement participatoryplant breeding, attentions toward soybean’s end consumer preferences, and the implementationopportunity of integration between PPB and consumer preference to develop new soybean variety inIndonesia. Several preconditions are needed to implement participatory plant breeding, particularlyin the context of development of new soybean variety.Keywords: soybean variety improvement,participatory plant breeding
KEPUASAN KONSUMEN TERHADAP ATRIBUT KUALITAS MINUMAN KOPI DI JAVA PREANGER COFFEE HOUSE BANDUNG Rayi Rahmanisa; Agriani H. Sadeli
Agricore: Jurnal Agribisnis dan Sosial Ekonomi Pertanian Unpad Vol 1, No 1 (2016): Agricore: Jurnal Agribisnis dan Sosial Ekonomi Pertanian
Publisher : Departemen Sosial Ekonomi Faperta Unpad

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (933.371 KB) | DOI: 10.24198/agricore.v1i1.22690

Abstract

ABSTRAKPenelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan karakteristik konsumen minuman kopi, kesesuaiantingkat kinerja dengan kepentingan atribut kualitas dan tingkat kepuasan konsumen mengenai atributkualitas produk minuman kopi di Java Preanger Coffee House, Bandung. Penelitian didesain secarakuantitatif dengan analisis Importance Performance Analysis dan Customer Satisfaction Index. Hasilpenelitian terhadap 62 orang responden menunjukkan bahwa (1) konsumen didominasi laki-laki,berpendidikan sarjana, berusia 25-30 tahun, pekerjaan wiraswasta, tinggal di kota Bandung danberpendapatan di atas Rp5.000.000 per bulan; (2) Berdasarkan hasil perhitungan IPA, atribut yangmemiliki kepentingan tinggi dan kinerja yang memuaskan meliputi atribut rasa, kualitas, bahan baku,kenyamanan tempat serta pelayanan. Atribut yang memiliki tingkat kepentingan yang tinggi namunkinerjanya perlu ditingkatkan adalah atribut harga, aroma dan cara penyajian. Atribut yang memilikikinerja yang biasa saja serta tingkat kepentingannya rendah adalah atribut manfaat, tampilan fisik,ukuran volume dan informasi menu. Sementara, atribut yang konsumen anggap kurang pentingpengaruhnya namun kinerjanya berlebihan adalah atribut variasi rasa. (3) Hasil perhitungan indekskepuasan konsumen menunjukan bahwa konsumen merasa puas atas kinerja atribut kualitas produksecara keseluruhan. Perusahaan harus meningkatkan kualitas produknya sehingga sesuai dengan hargayang ditawarkan, memberikan pelatihan kepada pramusaji, menggunakan teknik pengolahan kopiyang lebih baik. Sedangkan untuk penelitian selanjutnya sebaiknya diteliti kegiatan pemasaranpromosi dan distribusi terhadap kepuasan konsumenKata kunci: kepuasan konsumen, atribut kualitas, Customer Satisfaction Index, Importance, Performance Analysis, kopi.ABSTRACTThe aim of this research is to analyze consumers’ characteristic, the level of conformity betweenimportance and performance level of coffee’s quality attributes and the overall satisfaction level ofconsumers towards quality attributes of coffee in Java Preanger Coffee House. Design of this researchis quantitative with 62 respondents. This research used descriptive analysis, Importance PerformanceAnalysis and Customer Satisfaction Index. Results showed 1) the major consumers in Java PreangerCoffee House are men which age around 25-30 year old that have job in private sector. They live inBandung, have allowance per month more than Rp5.000.000 and have bachelor degree; (2) Based onImportance Performance Analysis, attributes that have high importance and performance are taste,raw material quality, convenience place, and service atrribute. Attributes that the performance shouldbe increased are price, flavor, and serving method. Attributes that have average performance and lowimportance are benefit, physical appereance, coffee volume, and information menu. Attribute that haslow importance but has too much performance is variance of flavor; 3) The Customer SatisfactionIndex calculation showed that Java Preanger Coffee House consumers are overall satisfied withperformance of the coffee drinks quality attribute. Companies should improve the quality of theirproducts to match the price offered, providing training to waiters and using better coffee processingtechniques. Further research should be investigated the impact of distribution and promotionmarketing activities on customer satisfaction.Keywords: customer satisfaction, quality attribute, Customer Satisfaction Index, ImportancePerformance Analysis , coffee.
FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PETANI DALAM PENGALOKASIAN DANA GANTI RUGI KONVERSI LAHAN PERTANIAN (Suatu Kasus Konversi Lahan Sawah untuk Pembangunan Bandara Internasional Jawa Barat di Kecamatan Kertajati Kabupaten Majalengka) Sri Umyati; Tuhpawana Sendjaja
Agricore: Jurnal Agribisnis dan Sosial Ekonomi Pertanian Unpad Vol 4, No 1 (2019): Agricore: Jurnal Agribisnis dan Sosial Ekonomi Pertanian
Publisher : Departemen Sosial Ekonomi Faperta Unpad

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (291.337 KB) | DOI: 10.24198/agricore.v4i1.22665

Abstract

Abstrak Tujuan Penelitian ini adalah untuk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi keputusan petani dalam mengalokasikan dana ganti rugi konversi lahan, mengetahui besarnya pengaruh karakteristik petani dan kelompok acuan terhadap ganti rugi konversi lahan serta mengetahui pengaruh karakteristik petani, kelompok acuan dan ganti rugi konversi lahan terhadap keputusan petani dalam mengalokasikan dana ganti rugi lahan. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif kuantitatif. Analisis yang digunakan adalah analisis Structural Equation Model (SEM) dengan menggunakan AMOS. Teknik penentuan responden dilakukan secara sengaja (Purposive) dengan penentuan sampel menggunakan rumus slovin. Hasil penelitian menunjukan bahwa dengan menggunakan analisis deskriptif faktor-faktor yang mempengaruhi keputusan petani dalam mengalokasikan dana ganti rugi lahan di daerah penelitian adalah karakteristik petani yang termasuk dalam kategori sedang (60,76%), kelompok acuan dalam kategori rendah (46,20%) dan ganti rugi konversi lahan dalam kategori rendah pula (47,20%). Sedangkan dari hasil analisis menggunakan AMOS diperoleh hasil bahwa variabel karakteristik petani dan kelompok acuan tidak berpengaruh terhadap ganti rugi konversi lahan. Namun variabel karakteristik petani dan kelompok acuan terlihat berpengaruh langsung terhadap keputusan petani, besarnya pengaruh dari variabel-variabel tersebut berturut-turut adalah sebesar 0.17 dan 0.68. Sedangkan variabel ganti rugi konversi lahan tidak berpengaruh terhadap keputusan petani. Kata Kunci : Ganti Rugi, Keputusan, Konversi Lahan, PetaniAbstract The purpose of this research are to know the factors that influence of peasant in the alocation of compensation fund, to know how many the influence of peasant caracteristic and reference group to compensation fund on land conversion and to know the influence of peasant caracteristic and reference group to decisions of peasant in the allocation of and compensation fund. The Research methode use in this research is a kuantitatif descriptive. The analisis use is an Structural Squation Models (SEM) with AMOS. The tecnique use in this research for the determination of respondent is purposive sampling and the determination of sampling with solvin. The result of this research indicated that with use the descriptive analysis that influence factors to influence of peasant in the allocation of land compensastion fund at the research palace are the peasant caracteristic is medium (60.76%), the reference group is lowest (46.20%) and land conversation is lows too (47.20%). The result of AMOS analysis, the caracteristic of peasant and reference group is not influence indirect to compensation fund on land conversation. While the caracteristic of peasant and reference group are influence direct to decision of peasant, the size of factors influence both 0.17 and 0.68 and the compensation fund land conversion is not influence to peasant decision.Keywords : Decisions, Land Conversation, Peasant, Compensation. 
DINAMIKA PRODUKTIVITAS PADI DITINJAU DARI FLUKTUASI SUSUT HASIL SERTA FAKTOR SOSIAL, EKONOMI DAN BUDAYA YANG MEMPENGARUHINYA Elly Rasmikayati; Asep Faisal
Agricore: Jurnal Agribisnis dan Sosial Ekonomi Pertanian Unpad Vol 1, No 2 (2016): Agricore: Jurnal Agribisnis dan Sosial Ekonomi Pertanian
Publisher : Departemen Sosial Ekonomi Faperta Unpad

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (796.147 KB) | DOI: 10.24198/agricore.v1i2.22709

Abstract

ABSTRAKUpaya-upaya pemerintah dalam meningkatkan produksi pangan dalam rangka mencapaiswasembada pangan masih terus dilakukan. Namun di sisi lain, kehilangan akibat tingkat susut hasilpadi yang tinggi menjadi salah satu permasalahan nyata yang harus segera diatasi. Tujuan dariartikel ini adalah mengidentifikasi dinamika produktivitas padi Jawa Barat, memaparkan dinamikavariasi susut hasil padi di Jawa Barat dan mengidentifikasi faktor-faktor non teknis apa saja yangmempengaruhi susut hasil padi. Metode yang digunakan adalah two-phase mixed method. Hasilpenelitian mengungkapkan terjadinya fluktuasi yang lebih tajam dan laju pertumbuhan yang lebihlambat pada produtivitas padi Jawa Barat dibandingkan Jawa Tengah dan Jawa Timur, kemudiandinamika variasi susut hasil di Jawa Barat masih cukup memprihatinkan dan belum adakecenderungan untuk turun, selama kurun waktu 3 tahun selalu berada di level tertinggi pada 11,46%. Hasil analisis jalur menunjukkan bahwa terdapat faktor-faktor non teknis yang menjadideterminan terhadap susut hasil padi yaitu faktor pendapatan usahatani, luas lahan, perasaan, normadan penggilingan. Implikasi kebijakan untuk mengatasi tingkat susut hasil gabah dan beras antaralain mendorong petani untuk lebih memperhatian pembiayaan untuk perlakuan panen dan pascapanen padi untuk menurunkan susut hasil.Kata kunci: produktivitas padi, susut hasil padi, faktor sosial, faktor ekonomi, faktor budayaABSTRACTGovernment efforts to increase food production in order to achieve food self-sufficiency is stillunderway. But on the other hand, the loss due to high yield losses of rice to be one of the realproblems that must be addressed immediately. The purpose of this article is to reveal the dynamicsrice production in West Java, reveal the dynamics of variation of losses rice result in West Java, andidentifies non-technical factors that influence rice yield losses. The method used is a two-phasemixed method. Results of the study revealed that occur the sharper fluctuation and slower growthrate in rice productifity in West Java compared to Central Java and East Java, then the dynamics ofthe variation of losses results in West Java is still quite alarming and there is no tendency to godown, during a period of 3 years has always been at the highest level at 11.46%. The path analysisresult showed that there are non-technical factors that determine rice yield losses including farmincome, land area, feelings, norms and milling factors. The implication policies to overcome riceyield losses are encouraging farmers to pay more attention for the cost of harvest/post-harvesttreatment to reduce rice yield losses.Keywords: rice productivity, rice yield losses, social factor, economics factor, culture factor
ANALISIS KOLABORASI PADA PENGEMBANGAN KEMITRAAN USAHATANI MANGGA DI KABUPATEN MAJALENGKA Sri Ayu Andayani; Lies Sulistyowati; Siti Nur Azizah
Agricore: Jurnal Agribisnis dan Sosial Ekonomi Pertanian Unpad Vol 1, No 1 (2016): Agricore: Jurnal Agribisnis dan Sosial Ekonomi Pertanian
Publisher : Departemen Sosial Ekonomi Faperta Unpad

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (770.542 KB) | DOI: 10.24198/agricore.v1i1.22685

Abstract

Jawa Barat merupakan salah satu sentra mangga di Indonesia dan Kabupaten Majalengka termasuk didalamnya. Potensinya cukup besar, namun belum didukung dengan kemitraan yang berkelanjutan.Melalui kemitraan diharapkan dapat meningkatkan kualitas, kuantitas dan kontinuitas pasokan. Padakenyataanya, kemitraan yang terjadi belum memberikan kepastian pasar dan kepercayaan antar pihakyang terlibat. Penelitian ini bertujuan mengkaji kolaborasi dalam kemitraan mangga dan memberikanupaya dalam mengatasi konflik yang terjadi. Informan dalam penelitian ini terdiri dari petani manggadan PD.Dunia Buah (bandar besar). Penelitian menggunakan metode kualitatif dengan teknik studikasus dan teknik analisis deskriptif dengan bantuan alat analisis model teori drama. Hasil penelitianmenunjukkan bahwa kolaborasi antar pelaku kemitraan mangga belum terlaksana dengan baik, karenamasing-masing pelaku belum dapat berperan sesuai fungsinya masing-masing, sehingga konflik dandilema masih terjadi. Kemitraan masih diwarnai konflik, dilema dan ancaman, terutama terkaitstandar kualitas, tenggang waktu pembayaran dan bantuan modal. Melalui kerangka pikir bersama(petani mangga dengan perusahaan mitra), maka dihasilkan resolusi/kesepakatan untuk keberlanjutankemitraan. Dengan demikian, masing-masing pihak tidak merasa dirugikan (terutama menyangkutkepastian pasar), sehingga akan memotivasi petani dalam meningkatkan produksi.Kata kunci: Mangga, kemitraan, teori drama
AGROINDUSTRI BERBASIS TEH RAKYAT SEBAGAI USAHA MENINGKATKAN KESEJAHTERAAN PETANI TEH Lucyana Trimo; Syarif Hidayat
Agricore: Jurnal Agribisnis dan Sosial Ekonomi Pertanian Unpad Vol 4, No 1 (2019): Agricore: Jurnal Agribisnis dan Sosial Ekonomi Pertanian
Publisher : Departemen Sosial Ekonomi Faperta Unpad

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (270.561 KB) | DOI: 10.24198/agricore.v4i1.23209

Abstract

ABSTRAKPeluang berkembangnya agroindustri teh rakyat cukup besar, akibat semakin tingginya permintaan pasar luar negeri dan dalam negeri dalam bentuk“instant tea”.Namun, kondisi tersebut belum dapat dimanfaatkan dengan baik oleh petani teh maupun pelaku agroindustri teh rakyat. Ini terlihat dari, rendahnya produktivitas kebun teh milik petani, sehingga kurang dapat memenuhi permintaan pucuk teh oleh pelaku agroindustri the rakyat. Selanjutnya, pelaku agroindustri teh rakyat hanya dapat mengolah pucuk tehnya dalam bentuk teh hijau (curah) dengan harga yang murah. Akibatnya, pihak agroindustri teh rakyat membeli pucuk dari petani dengan harga murah dan mutu rendah. Penelitian  dilakukan untuk mengkaji kendala yang dihadapi dan keberlanjutan agro-industri teh. Penelitian dilakukan dengan menggunakan pendekatan studi deskriptif survey. Tempat penelitian  yang dipilih  adalah Kabupaten: Garut (Kecamatan Cisurupan), Cianjur (Kecamatan Sukanagara) dan Bandung (Kecamatan Pasirjambu), yang  merupakan sentra teh di Provinsi Jawa Barat.Data diperoleh melalui wawancara dengan:pejabat pada instansi pemerintah, koperasi, pabrikan, asosiasi petani teh, kelompok tani, serta  petaniteh  yang diambil secara purposive. Sedangkan responden diambil secara proposional dari ketiga wilayah penelitian, dansetiap kecamatan diambil 30 orang petani teh. Data dianalisis secara deskriptif, dengan pendekatan system thinking.  Kendala yang dihadapi agroindustri teh rakyat, yaitu masih kurang dalam: 1) ketersediaan pucuk teh sebagai bahan baku, 2) pengetahuan untuk meningkatkan nilai tambah pucuk teh, 3) kemampuan penyediaan modal dan mesin olah pucuk teh, dan  4) dukungan pemerintah dalam mempromosikan teh olahan rakyat (misalnya: dalam rapat atau kegiatan yang berlangsung di pemerintahan belum memanfaatkan produk olahan teh dari petani). Kondisi ini berdampak terhadap keberlanjutan agroindustri teh rakyat.Kata kunci: agroindustri, berkelanjutan, kemandirian, nilai tambah, teh rakyat. ABSTRACT The increasing market demand, abroad and domestically in the form of "instant tea" (food, beverage, pharmaceutical, cosmetics), and also support from the higher government through GPATN program makes the oopportunities of tea small holder groups into tea agro-industry business is quite huge.But infact, this opportunity cannot be utilized properly by tea small holder. Most of the tea small holders still sell their products in the form oftea fresh leaf. This research was conducted to investigate the constrain of tea small holder in agroindustry development.The study was conducted using a survey descriptive study approach. Selected location research is located at the center of tea small holder in West Java province, i.e.District of Garut, Cianjur and Bandung. In this research, the data were collected by interviews with relevant parties, i.e. officials at government agencies, cooperatives, manufacturers, associations of tea farmers, tea small holder groups, and tea farmers.While respondents were taken proportionally from the three study areas, and each district was taken by 30 tea farmers. Data were analyzed descriptively, with a system thinking approach. Constraints faced by the tea tea agro-industry, which are still lacking in: 1) the availability of tea shoots as raw materials, 2) knowledge to increase the added value of tea tops, 3) the ability to provide capital and tea shoot machines, and 4) government support in promoting tea processed by the people (for example: in meetings or activities that take place in the government have not utilized tea processing products from farmers). This condition has an impact on the sustainability of the people's tea agro-industry.Key words : agro-industry, independence,sustainability,tea small holder, value added
REFLEKSI PARADIGMA KEDAULATAN PANGAN DI INDONESIA: STUDI KASUS GERAKAN PANGAN LOKAL DI FLORES TIMUR Adi Nugraha; Mochamad S. Hestiawan; Dika Supyandi
Agricore: Jurnal Agribisnis dan Sosial Ekonomi Pertanian Unpad Vol 1, No 2 (2016): Agricore: Jurnal Agribisnis dan Sosial Ekonomi Pertanian
Publisher : Departemen Sosial Ekonomi Faperta Unpad

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1517.11 KB) | DOI: 10.24198/agricore.v1i2.22717

Abstract

ABSTRAKKedaulatan Pangan telah diadopsi sebagai pendekatan pembangunan pangan dan pertanian nasionalbersama dengan konsep kemandirian pangan dan ketahanan pangan. Namun, Program yangdiinisiasi pemerintah lebih dipengaruhi oleh paradigma ketahanan pangan dan kemandirian panganyang lebih rentan terhadap rezim korporasi pangan. Kedaulatan pangan perlu lebih jauhdidiseminasikan sebagai alternatif terhadap rezim korporasi pangan. Studi ini merupakan studikualitatif deskriptif yang menggunakan pendekatan etnografis dalam pengambilan informasi. Kajianterhadap Persepsi terhadap operasionalisasi konsep kedaulatan pangan di tingkat petani dapatdiungkap secara lebih detail salah satunya dengan teori Hegemoni Gramsci, analisa regim pangan,dan teori multi kedaulatan. Hasil kajian menunjukkan bahwa respon petani terhadap kedaulatanpangan dan ketahanan pangan cenderung samar dan menunjukkan keterkaitan yang sejajar non-komplementer. Kedaulatan dapat bekerja baik dalam kondisi yang menghargai adanya keberagamansumber kedaulatan. Kedaulatan pangan memiliki kecenderungan untuk dapat menguatkankeberagaman konteks, budaya, dan pilihan cara produksi sebagai upaya nyata untuk mengurangidampak dominasi regim pangan korporasi terhadap upaya negara dan petani menjamin terpenuhinyahak rakyat atas pangan.Kata kunci: kedaulatan pangan, ketahanan pangan, rezim korporasi pangan, gerakan petaniABSTRACTFood sovereignty has been officially adopted as national food and agriculture developmentapproach along with food self sufficiency and food security. However, state led program wereheavily influence by food security paradigm and food self-sufficiency which more vulnerable topredatory character of corporate food regime. The food sovereignty discourse must be disseminatedfurther as alternative to corporate food regime. The discourse of food sovereignty was put into theaction by NGO and local groups which framed as local food movement initiative. The local foodmovement and the phenomena surrounding its rise needs to be ethnographically scrutinized.Gramsci's theory of hegemony, food regime analysis, relational scale and multiple sovereigntyelucidate the perception of food sovereignty value concept its relation and contestation among smallscale in the Flores Timur. Results shows that in small scale farmer perceived food sovereignty andfood security are interrelated because the persistence penetration of neoliberal economy. Foodsovereignty should be articulated and adapted for different contexts without losing its ground. Foodsovereignty works best with multiple recognitions of sovereignty. Food sovereignty were embraceand strengthen the diversity of contexts, cultures and pathways in order to slow down the furtherdomination of the corporate food regime.Keywords: food sovereignty, food security, corporate food regime, farmer’s movement

Page 11 of 24 | Total Record : 234