cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
Agricore: Jurnal Agribisnis dan Sosial Ekonomi Pertanian Unpad
ISSN : 25284576     EISSN : 26157411     DOI : -
Core Subject :
Jurnal Agribisnis dan Sosial Ekonomi Pertanian Universitas Padjadjaran. Diterbitkan Atas Kerjasama Program Studi Agribisnis dan Departemen Sosial Ekonomi Fakultas Pertanian Unpad Dengan PERHEPI Komisariat Bandung Raya.
Arjuna Subject : -
Articles 234 Documents
PREFERENSI KONSUMEN GULA KELAPA DI PASAR GODEAN, KABUPATEN SLEMAN, PROVINSI DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA Azkia Nurhadi; Agus Setiadi; Hery Setiyawan
Agricore: Jurnal Agribisnis dan Sosial Ekonomi Pertanian Unpad Vol 3, No 1 (2018): Agricore: Jurnal Agribisnis dan Sosial Ekonomi Pertanian
Publisher : Departemen Sosial Ekonomi Faperta Unpad

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/agricore.v3i1.16665

Abstract

ABSTRAKTujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui preferensi konsumen mengenai gula kelapa yang beredar di pasaran saat ini. Penelitian telah dilaksanakan pada bulan Desember 2017 di Pasar Godean, Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah survei. Pengumpulan data dilakukan dengan wawancara langsung konsumen gula kelapa yang ada di Pasar Godean dengan bantuan kuisioner yang telah disusun sebelumnya. Lokasi penelitian ditentukan dengan metode purposive. Responden dalam penelitian ini berjumlah 100 orang konsumen gula kelapa. Responden ditentukan dengan metode accidental sampling.  Data yang diambil dalam penelitian ini adalah data primer dan data sekunder. Data primer diperoleh dari wawancara langsung kepada konsumen gula kelapa, sedangkan data sekunder diperoleh dari sumber pustaka yang berkaitan dengan penelitian ini. Data yang telah diperoleh dari wawancara kemudian dilakukan analisis conjoint. Metode pengolahan data dilakukan dengan menggunakan bantuan aplikasi komputer SPSS.Hasil dari penelitian ini yaitu karakteristik konsumen gula kelapa yang ada di Pasar Godean diketahui bahwa 94% adalah perempuan dengan jumlah anggota keluarga antara 2-6 orang. Sebagian besar konsumen gula kelapa di Pasar Godan adalah golongan pendapatan menengah dengan jumlah konsumgi mayoritas antara 1->2,5 kg/bulan/rumah tangga. Prrferensi konsumen gula kelapa di Pasar Godean, Preferensi kombinasi atribut gula kelapa berdasarkan urutan kepentingan relatif yang paling diprioritaskan oleh konsumen berturut-turut dalam membeli gula kelapa adalah berwarna coklat kehitaman, berukuran sedang, dan berbentuk tempurung kelapa. Kata Kunci: Gula Kelapa, Preferensi Konsumen, Pasar. ABSTRACTThe purpose of this research is to know consumer preferences about palm sugar circulating in the market today. The research was conducted in December 2017 in Godean Market, Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta. The method used in this research is survey. The data was collected by direct interviews of consumers of coconut sugar in the Godean Market use questionnaire. The location of research is determined by purposive method. Respondents in this research amounted to 100 consumers of palm sugar. Primary data was obtained from direct interviews to consumers of palm sugar, while secondary data was obtained from literature sources related to this research. The data obtained from the interview is then done conjoint analysis. Data processing method is done by using SPSS computer application. The results of this research are the characteristics of consumers of coconut sugar in Godean Market known that 94% are women with the number of family members between 2-6 people. Most of the consumers of palm sugar in Godan market are middle income group with the majority of consume between   1-> 2.5 kg / month / household. palm sugar consumers' preferences in Godean Market, the preference for the combination of palm sugar attributes based on the order of relative importance most prioritized by consumers in consecutively buying coconut sugar is blackish brown, medium size, and shaped coconut shell. Keywords: Palm Sugar, Consumer Preference, Market
PENERAPAN TEKNOLOGI INFORMASI DAN KOMUNIKASI PADA AGRIBISNIS SAYURAN ORGANIK Anne Charina; Rani Adriani; Agriani Hermita Sadeli; Yosini Deliana
Agricore: Jurnal Agribisnis dan Sosial Ekonomi Pertanian Unpad Vol 2, No 1 (2017): Agricore: Jurnal Agribisnis dan Sosial Ekonomi Pertanian
Publisher : Departemen Sosial Ekonomi Faperta Unpad

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/agricore.v2i1.15074

Abstract

ABSTRAKPasar bebas MEA merupakan peluang yang perlu ditangkap oleh berbagai pelaku usaha agribisnis.Termasuk aribisnis sayuran organic yang saat ini sedang berkembang pesat dengan demand yangcukup besar. Untuk itu Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) menjadi salahsatu komponenyang harus dipersiapkan untuk mendukung pasar bebas MEA. Tulisan ini bertujuan untuk membahaspenerapan TIK dalam agribisnis sayuran organic, kendala yang dihadapi beserta strategi perbaikanuntuk meningkatkan daya saing dalam menghadapi perdagangan bebas. Penelitian ini dilakukan diKelompok Tani Semai Organik yang mengusahakan agribisnis sayuran organic, berlokasi di DesaPada Asih Kecamatan Parompong Kabupaten Bandung Barat. Dengan informan pengurus dananggota poktan sebanyak 10 orang. Desa Pada Asih sendiri saat ini terpilih menjadi salah satu DesaOrganik di Jawa Barat. Metode penelitian yang digunakan adalah studi kasus dengan menggunakanteknik analisis kualitatif. Analisis strategi perbaikan dalam penerapan TIK menggunakan systemthinking dengan alat analisis Causal Loop Diagram. Berdasarkan hasil penelitian, terdapat beberapakendala dalam penerapan TIK di Kelompok Tani Semai Organik, diantaranya dibagi atas kendalabudaya, fasilitas dan keterampilan. Strategi perbaikan penerapan TIK yang tepat bagi KelompokTani Semai Organik dalam menghadapi pasar bebas MEA diantaranya adalah: Integrasi pemanfaatanTIK dengan program Desa Organic, pemberian subsidi sarana prasarana TIK dari program DesaOrganik; sosialisasi penyuluhan berbasis internet (cyberextension); serta focus utama padapeningkatan kompetensi pengurus dalam memanfaatkan TIK. Diharapkan dengan pemanfaatan TIKyang lebih baik, Poktan Semai Organik dapat eksis langsung ke pasar MEA.Kata kunci : Teknologi Informasi dan Komunikasi, kendala, sayuran organicABSTRACTMEA free market is an opportunity that needs to be captured by various agribusiness actors.Including organic vegetable aribisnis that is currently growing rapidly with considerable demand.For that Information and Communication Technology (ICT) to be one component that must beprepared to support the free market MEA. This paper discusses the application of ICT in organicvegetable agribusiness to improve competitiveness in the face of free trade. This research wasconducted at Semai Organic Farmer Group which cultivated organic vegetable agribusiness,located in Pada AsihVillage, Parompong District, West Bandung Regency. 10 informan used are staffand members of poktan. Pada Asih itself is currently selected to be Organic Village in West Java.The research method used is case study and using qualitative analysis technique. Analysis ofimprovement strategies in the application of ICT using system thinking with Causal Loop Diagramanalysis tool. Based on the results of the research, there are several obstacles in the application ofICT in Semai Organic Farmer Group, including divided on cultural constraints, facilities and skills.Strategies to improve the proper application of ICT for Organic Farmers Group in facing MEA freemarket are: Integration of ICT socialization with Organic Village program, subsidizing ICTinfrastructure facilities from Organic Village program; Socialization of internet based education(cyberextension);and focus to grow up staf competency. Expected with better ICT utilization, SemaiOrganicFarmer Group can exist directly to the MEA market.Keywords : Information and Communication Technology, constraint, organic vegetable
FAKTOR PENENTU DINAMIKA PERILAKU AGRIBISNIS PETANI MANGGA DI KECAMATAN GREGED KABUPATEN CIREBON Elly Rasmikayati; Gema Wibawa Mukti; Bobby Rachmat Saefudin
Agricore: Jurnal Agribisnis dan Sosial Ekonomi Pertanian Unpad Vol 3, No 1 (2018): Agricore: Jurnal Agribisnis dan Sosial Ekonomi Pertanian
Publisher : Departemen Sosial Ekonomi Faperta Unpad

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/agricore.v3i1.18051

Abstract

ABSTRAKCirebon sudah dikenal sebagai salah satu daerah penghasil mangga. Tetapi sampai sekarang, agribisnis mangganya belum mampu mempertahankan kualitas dan menjamin ketersediaan mangga sepanjang tahun. Permasalahan tersebut merupakan akibat dari dinamisnya perilaku agribisis yang dilakukan oleh para petaninya, sehingga pengembangan agribisnis mangga di era globalisasi harus didasarkan pada peningkatan perilaku agribisnis petani mangga ke arah yang lebih baik. Tujuan makalah ini adalah menganalisis faktor-faktor apa saja yang menentukan peningkatan perilaku agribisnis petani mangga. Metode penelitian menggunakan teknik survey di Kecamatan Greged Kabupeten Cirebon menggunakan teknik simple ramdom sampling kepada 130 petani mangga. Teknik analisis data dilakukan menggunakan path analysis. Hasil kajian menunjukkan bahwa secara berurutan dari yang terbesar ke terkecil, faktor yang paling kuat pengaruhnya secara signifikan dalam menentukan peningkatan perilaku agribisnis petani mangga adalah faktor sumberdaya dengan pengaruh langsung sebesar 5,7% dan pengaruh tak langsung sebesar 3,5%, faktor berikutnya adalah faktor kelembagaan dengan pengaruh langsung sebesar 6,4% dan pengaruh tak langsung sebesar 1,8%, kemudian faktor budaya dengan pengaruh langsung sebesar 5,3% dan pengaruh tak langsung sebesar 1,7% dan terakhir faktor teknologi dengan pengaruh langsung sebesar 2,3% dan pengaruh tak langsung sebesar 2,5%.Kata kunci: Faktor penentu, dinamika perilaku agribisnis, agribisnis mangga, path analysisABSTRACTCirebon is already known as one of the mango-producing regions. But until now, mangosteen agribusiness has not been able to maintain quality and guarantee the availability of mangoes throughout the year. These problems are a result of the dynamic agribusiness behavior carried out by the farmers, so that the development of mango agribusiness in the era of globalization must be based on improving the agribusiness behavior of mango farmers in a better direction. The purpose of this paper is to analyze what factors determine the increase in agribusiness behavior of mango farmers. The research method used survey techniques in the Greged District of Cirebon Regency using a simple ramdom sampling technique to 130 mango farmers. Data analysis techniques are done using path analysis. The results of the study show that sequentially from the largest to the smallest, the most influential factor significantly in determining the increase in agribusiness behavior of mango farmers is the resource factor with a direct influence of 5.7% and indirect effects of 3.5%, the next factor is institutional factors with a direct effect of 6.4% and indirect effects of 1.8%, then cultural factors with a direct influence of 5.3% and indirect effects of 1.7% and finally technological factors with a direct effect of 2, 3% and indirect effect of 2.5%.Keywords: Determinants, dynamics of agribusiness behavior, mango agribusiness, path analysis
STRATEGI PETANI DALAM MENGHADAPI KEKURANGAN AIR: STUDI KASUS DI DAERAH IRIGASI WANIR, KECAMATAN CIPARAY, KAB. BANDUNG Hardian Eko Nurseto; Adi Nugraha
Agricore: Jurnal Agribisnis dan Sosial Ekonomi Pertanian Unpad Vol 2, No 1 (2017): Agricore: Jurnal Agribisnis dan Sosial Ekonomi Pertanian
Publisher : Departemen Sosial Ekonomi Faperta Unpad

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/agricore.v2i1.15046

Abstract

ABSTRAKKetersediaan air irigasi sangat penting dalam pertanian.Namun, sifat dan jumlah pasokan air yangtak terduga, ketika musim kemarau air sulit untuk didapat dan dapat mengancam pertumbuhan,terkadang di musim hujan jumlah air melebihi batas hingga menimbulkan banjir dan menghancurkantanaman padi. Untuk itu diperlukan berbagai strategi untuk menyiasati dan menjamin ketersediaanair guna mempertahankan produktifitas pertanian. Penelitian ini bermaksud menggambarkanbagaimana petani di Dusun Leles Desa Mekarsari Kecamatan Ciparay Kabupaten Bandungbekerjasama dalam menjamin ketersediaan air irigasi.Penelitian dilakukan dengan menggunakan pendekatan kualitatif dengan pemaparan deskriptif yangbertujuan menggambarkan bagaimana petani-petani di Dusun Leles Desa Mekarsari KecamatanCiparay Kabupaten Bandung membuat strategi-strategi dalam mengelola irigasi. Hasil yang didapat,Petani mengembangkan organisasi irigasi untuk meneglola air irigasi melalu Mitra Cai. Petanibekerjasama melakukan nganir cai, dan pompanisasi. Selain itu juga petani mengaktifkanhubungan-hubungan kekerabatan untuk mendapatkan akses pada air irigasi.Kata kunci: irigasi, strategi petani, mitra caiABSTRACTThe availability and access to water is very vital to agriculture. However, both of these are oftenunpredictable in some parts of Indonesia, especially in locations which has ‘bowl’ geographicalcharacteristic such as Ciparay District, Bandung Regency, West Java. This is due to lack ofinfrastructure and water management system. During the drought, the water is so scarce whileduring rainy season, the water overflows. This condition poses threats to surrounding farmlands.Therefore, a proper water management system is needed. This paper aims to identify how dofarmers in Mekarsari Village, Ciparay work together in assuring the availability and their access towater. The study was a qualitative study which was designed to provide in-depth information inorder to describe the phenomenon. The results show that there is a self-organized organization,which was formed by farmers to arrange the water usage in the region. The farmers are bound tomitra cai organization, organizing themselves to do nganir cai (looking for water sources) anddistribute the water. Aside of that, the farmers also enhance collegial relationships in the process,reducing the risks of social dispute.Keywords: irrigation, farmers’ strategy, mitra cai
RANTAI PANGAN BERKELANJUTAN: KASUS KOMODITAS CABAI DI KABUPATEN GARUT Aulia Rahmah; Mia Rosmiati; Angga Dwiartama
Agricore: Jurnal Agribisnis dan Sosial Ekonomi Pertanian Unpad Vol 2, No 1 (2017): Agricore: Jurnal Agribisnis dan Sosial Ekonomi Pertanian
Publisher : Departemen Sosial Ekonomi Faperta Unpad

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/agricore.v2i1.15070

Abstract

ABSTRAKPenelitian ini menggunakan perspektif rantai pasok untuk mengkaji keberlanjutan pada komoditasCabai Merah segar dengan membandingkan beberapa jenis rantai pasok berdasarkan pilar-pilarkeberlanjutan. Responden dalam penelitian ini sebanyak 27 orang informan kunci. Data diambilmelalui wawancara dan observasi di lokasi produksi dan pemasaran Cabai. Hasil penelitianmenunjukkan terdapat tiga jenis rantai pasok yang dibedakan berdasarkan jumlah pelaku yangterlibat dan jenis pasar yang dituju. Rantai tipe I dan II merupakan rantai pasok Cabai menuju pasarinduk. Perbedaannya terletak dari ada tidaknya pengumpul dalam rantai tersebut. Adapun rantai tipeIII merupakan rantai pasok cabai menuju pasar eceran lokal tanpa adanya peran pengumpul. Totalmarjin yang tinggi pada rantai tipe II menunjukan panjangnya rantai pasok cabai, sedangkan rantaitipe III menunjukkan rantai yang pendek dengan marjin keuntungan terendah. Perbandingan ketigajenis rantai menunjukkan bahwa rantai tipe III merupakan rantai yang memberikan manfaat lebihdalam aspek ekonomi, sosial, dan, lingkungan. Secara ekonomi, ROI petani meningkat dari 26,7%menjadi 43,7%. Secara sosial, konflik dapat dihindari melalui sistem pembayaran tunai. Ditinjau dariaspek lingkungan, rantai tipe III mampu mencegah emisi CO2sebesar 92,84%.Kata kunci: keberlanjutan, rantai pangan, cabai merah.ABSTRACTThis study uses a supply chain perspective to analyze the sustainability of fresh red chili bycomparing several types of supply chain based on the pillars of sustainability. Respondents were 27key informants. Data were collected through interviews and observations of production andmarketing sites.The results show that there are three types of supply chains differentiated by thenumber of actors involved and the type of market. Chain types I and II are chili supply chains to thewholesale market. The difference lies in the presence of the role of middlemen in the chain (Chaintype II). While chain type III is chili supply chain to the local retail market without the role ofmiddleman. The highest margin total on the chain type II indicates the length of chain, whereas thetype III chain shows the shortest chain with the lowest total margin. The comparison of the threetypes of chains indicate the type of chain III is a chain that provides more benefits in economic,social, and environmental aspects. Economically, ROI of farmers increased 26.7% to 43.7%.Socially, conflicts can be prevented by cash payment system. Viewed from environmental aspect,chain type III able to decrease CO2emission equal to 92,84%.Keywords: Sustainability, food chain, chili
Penerapan Good Manufacturing Practices Pada Produksi Sistik Ebi Sebagai Upaya Peningkatan Kualitas Produk Olahan Ikan di Pesisir Eretan - Indramayu In-in Hanidah; Agung Tri Mulyono; Robi Andoyo; Efri Mardawati; Samsul Huda
Agricore: Jurnal Agribisnis dan Sosial Ekonomi Pertanian Unpad Vol 3, No 1 (2018): Agricore: Jurnal Agribisnis dan Sosial Ekonomi Pertanian
Publisher : Departemen Sosial Ekonomi Faperta Unpad

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/agricore.v3i1.17585

Abstract

ABSTRAKGMP (Good Manufacturing Practices) merupakan salah satu metode mitigasi resiko dalam proses produksi pangan beresiko tinggi diantaranya produk pangan berbasis ikan yang banyak ditemui di daerah pesisir pantai khususnya di Desa Eretan Kulon Kabupaten Indramayu Jawa Barat. Sistik ebi merupakan salah satu produk olahan ikan lokal Eretan yang memiliki kelemahan diantaranya umur simpan yang relatif singkat karena terjadinya perubahan kualitas selama penyimpanan yang diakibatkan metode pengolahan dan pengemasan yang kurang baik. Penelitian ini  mengevaluasi penerapan GMP selama proses produksi sistik ebi dan memperbaiki kemasan dalam rangka meningkatkan kualitas produk dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Hasil dari penelitian menunjukan bahwa sistik ebi yang mengandung protein tinggi ( 59,4%) memerlukan implementasi GMP dalam memitigasi resiko selama pengolahan. Hasil observasi menunjukkan bahwa terdapat ketidaksesuaian terhadap persyaratan GMP dengan jumlah ketidaksesuaian mayor (MA) 5 elemen dan minor (MI) 21 elemen dari total keseluruhan 37 elemen pemeriksaan yang meliputi elemen lokasi, bangunan, dan sanitasi pekerja, peralatan produksi, sanitasi peralatan dan ruangan produksi, penyimpanan, pengendalian proses, pelabelan, dokumentasi dokumen dan legalitas produk. Proses pendampingan mampu mereduksi ketidaksesuaian elemen sebesar 96,16%. Penerapan GMP didalam produksi sistik ebi membuka peluang bagi pelaku usaha dalam meningkatkan kualitas produk sekaligus meningkatkan peluang bagi produk tersebut dalam memasuki pasar global.Kata kunci: GMP, sistik ebi, sanitasiABSTRACTGMP (Good Manufacturing Practices) is one of the risk mitigation in food production such as fish-based food product which is found mainly in coastal area such as in Eretan Kulon Village, Indramayu Regency, West Java. Sistik ebi is one of Eretan local processed fish products that have weaknesses such as shelf life which is relatively short due to quality change during storage caused by poor processing and packaging method. This study evaluates the application of GMP during the Sistik ebi production and applying a proper packaging in order to improve product quality thus improve the welfare of the community. The results of the study showed that sistik ebi contain high protein (59.4%) thus required GMP implementation in mitigating risks during processing. The observation results show that there are some deviations to the GMP requirement with the number of major non-conformities (MA) 5 elements and minor (MI) 21 elements out of the total 37 inspection elements covering site elements, building and sanitation, production equipment, room sanitation production, storage, process control, labeling, documentation and legal aspect of the product. The GMP mentoring process reduces the non-conformity of the elements by 96.16%. The application of GMP in the production of sistik ebi opens opportunities for business actors in improving product quality while increasing the opportunity for the product to enter the global market.Keywords: GMP, sistik ebi, sanitation
PROSPEK PENGEMBANGAN USAHATANI PADI GOGO PADA PROGRAM PENGELOLAAN HUTAN BERSAMA MASYARAKAT (PHBM) DI DESA JATIMUNGGUL, KECAMATAN TERISI, KABUPATEN INDRAMAYU Kuswarini Kusno; Linda Wulandari; Eti Suminartika
Agricore: Jurnal Agribisnis dan Sosial Ekonomi Pertanian Unpad Vol 2, No 1 (2017): Agricore: Jurnal Agribisnis dan Sosial Ekonomi Pertanian
Publisher : Departemen Sosial Ekonomi Faperta Unpad

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/agricore.v2i1.15075

Abstract

ABSTRAKPHBM adalah suatu sistem pengelolaan sumberdaya hutan yang dilakukan bersama oleh Perum.Perhutani dan masyarakat desa hutan. Salah satu desa yang melaksanakan program tersebut adalahDesa Jatimunggul. Dalam pelaksanaannya pihak masyarakat desa sekitar hutan tidak setuju denganadanya pengambilalihan kekuasaan pengelolaan hutan oleh pihak Perhutani. Akibatnya petani protesmengenai lahan hutan yang dianggap sebagai lahan milikinya.Tujuan penelitian ini adalah untukmengetahui keragaan usahatani padi gogo dan prospek pengembangannya. Desain penelitian adalahkualitatif dengan teknik penelitian studi kasus. Hasil penelitian menunjukkan bahwa budidaya padigogo program PHBM di Desa Jatimunggul masih menggunakan alat-alat sederhana. Modaldiperoleh sebagian besar dari pinjaman ke tengkulak. Perencanaan lokasi dan komoditas melibatkanPerhutani. Pemasaran hasil melibatkan tengkulak. Rata-rata penerimaan per hektar per musim tanamper tahun adalah Rp. 23.800.333 sedangkan pendapatannya Rp. 9.402.985 dengan rata-rata hasilproduksi 3.543 kg/ha. Rata-rata biaya total adalah Rp. 15.112.352 yang terdiri dari biaya variabelRp. 14.480.450 dan biaya tetap Rp. 631.902. Dibandingkan dengan penerimaan padi gogo di DesaSukasari Kabupaten Subang tahun 2014, penerimaan padi gogo di Desa Jatimunggul adalah 45%lebih besar. Program PHBM memberi manfaat ekonomi berupa usahatani padi gogo yangmenguntungkan dan manfaat sosial berupa penyediaan lapangan pekerjaan, sehingga usahatani inimemiliki prospek untuk dikembangkan.Katakunci: PHBM, usahatani, padi gogoABSTRACTPHBM is a system of forest resources management conducted jointly by “Perum”. Perhutani andforest village community. One of the villages that implement the program is Jatimunggul Village. Inpractice, the villagers around the forest do not agree with the takeover of forest management powerby Perhutani. As a result, farmers protest about the forest land they consider as their own land. Theaim of this study is to identify the performance of upland rice farming and its development prospects.The research design was qualitative supported by quantitative data with case study researchtechnique. The results showed that the cultivation of upland rice in the PHBM Program inJatimunggul Village still used simple tools. Capital was obtained mostly from loans to middlemen.Location and commodity planning involved Perhutani. Marketing of upland rice involvedmiddlemen. The average revenue per hectare per planting season per year was IDR 23,800,333while the income was IDR 9,402,985 with an average production of 3,543 kg/ha. Average total costwas IDR. 15,112,352 consisting of variable cost IDR 14,480,450 and fixed cost IDR 631,902.Compared with the revenue of upland rice in Sukasari Village, Subang Regency in 2014, the revenueof upland rice in Jatimunggul Village was 45% larger. PHBM programs provide economic benefitsin the form of profitable upland rice farming and social benefits in the form of employmentprovision. Therefore, the upland rice farming in Jatimunggul Village is prospective to be developed.Keywords: PHBM, farming,upland rice
ANALISIS EFISIENSI EKONOMI PENGGUNAAN FAKTOR-FAKTOR PRODUKSI PADA USAHATANI SEMANGKA MERAH DAN SEMANGKA KUNING DI GAPOKTAN NGUDI SANTOSO KABUPATEN PATI Indri Aprilia; Edy Prasetyo; Bambang S. Mulyatno
Agricore: Jurnal Agribisnis dan Sosial Ekonomi Pertanian Unpad Vol 3, No 1 (2018): Agricore: Jurnal Agribisnis dan Sosial Ekonomi Pertanian
Publisher : Departemen Sosial Ekonomi Faperta Unpad

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/agricore.v3i1.18166

Abstract

ABSTRAKTujuan penelitian ini untuk menganalisis pengaruh penggunaan faktor-faktor produksi lahan, benih, pupuk Phonska, pupuk Za, pestisida, dan tenaga kerja terhadap hasil produksi usahatani semangka merah dan semangka kuning, serta untuk menganalisis tingkat efisiensi ekonomi penggunaan faktor-faktor produksi usahatani semangka merah dan usahatani semangka kuning. Penelitian dilaksanakan pada bulan November 2017 di Gapoktan Ngudi Santoso Desa Bakalan Kecamatan Dukuhseti Kabupaten Pati. Metode penelitian yang digunakan adalah metode survei. Penentuan jumlah responden dilakukan dengan metode slovin, kemudian dari hasil tersebut ditetapkan sebagai kuota dengan metode quota sampling. Data yang digunakan adalah data primer dan data sekunder. Data primer diperoleh dari responden dengan wawancara menggunakan panduan kuesioner. Data sekunder diambil dari sumber atau instansi-instansi terkait serta dari pustaka lain yang berhubungan dengan penelitian ini. Analisis data menggunakan fungsi produksi model Cobb-Douglas, analisis regresi linier berganda dan independent sample t-test. Hasil dari penelitian yaitu penggunaan faktor-faktor produksi luas lahan, benih, pupuk Phonska, pupuk ZA, pestisida dan tenaga kerja secara serempak berpengaruh terhadap produksi semangka merah dan semangka kuning. Nilai signifikansi t-test efisiensi ekonomi lahan, benih, pupuk Phonska, pupuk ZA, pestisida, dan tenaga kerja usahatani semangka merah dan semangka kuning berturut-turut adalah 0,001; 0,002; 0,000; 0,000; 0,000; dan 0,000. Berdasarkan nilai tersebut menunjukkan bahwa terdapat perbedaan yang signifikan.Kata Kunci: efisiensi ekonomi, faktor-faktor produksi, semangka merah, semangka kuning.ABSTRACTThe purpose of this study was to analyze the influence of the use of factors of land production, seeds, Phonska fertilizer, Za fertilizer, pesticides, and labor on the production of red watermelon and yellow watermelon farming, and to analyze the level of economic efficiency using the factors of red watermelon farming production. and yellow watermelon farming. The study was conducted in November 2017 at Ngudi Santoso Gapoktan Bakalan Village, Dukuhseti District, Pati Regency. The research method used is the survey method. Determination of the number of respondents is done by the Slovin method, then the results are determined as quota with the quota sampling method. The data used are primary data and secondary data. Primary data was obtained from respondents by interview using a questionnaire guide. Secondary data is taken from sources or related agencies as well as from other literature related to this research. Data analysis used the Cobb-Douglas model production function, multiple linear regression analysis and independent sample t-test. The results of the study, namely the use of factors of production of land area, seeds, Phonska fertilizer, ZA fertilizer, pesticides and labor simultaneously affect the production of red watermelon and yellow watermelon. The significance value of the t-test is the economic efficiency of land, seeds, Phonska fertilizer, ZA fertilizer, pesticides, and red watermelon and yellow watermelon farming labor. successively is 0.001; 0.002; 0,000; 0,000; 0,000; and 0,000. Based on these values indicate that there are significant differences.Keywords: economic efficiency, production factors, red watermelon, yellow watermelon
ANALISIS INDEKS KEBERLANJUTAN USAHA PEMBESARAN LOBSTER DI PULAU LOMBOK PROVINSI NUSA TENGGARA BARAT Ervin Nora Susanti; Rina Oktaviani; Sri Hartoyo; Dominicus Savio Priyarsono
Agricore: Jurnal Agribisnis dan Sosial Ekonomi Pertanian Unpad Vol 2, No 1 (2017): Agricore: Jurnal Agribisnis dan Sosial Ekonomi Pertanian
Publisher : Departemen Sosial Ekonomi Faperta Unpad

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/agricore.v2i1.15049

Abstract

ABSTRAKKeberhasilan implementasi pertanian berkelanjutan tidak hanya terkait pada keamanan ketersediaanpangan secara nasional, tetapi juga terkait dengan peran penting sektor pertanian dalamperekonomian nasional. Unit-unit kegiatan usahatani yang berorientasi pada keberlanjutan usahaakan menjadi penggerak bagi perekonomian. Usaha pembesaran lobster merupakan salah satu unitkegiatan sektor perikanan yang memiliki kontribusi bagi perekonomian. Keberhasilan usahapembesaran lobster yang berkelanjutan dipengaruhi oleh keterlibatan beberapa pihak termasukpetani. Petani merupakan subjek yang terlibat langsung dalam pelaksanaan konsep pembangunanpertanian berkelanjutan dilapangan. Persepsi petani terhadap keberlanjutan usaha bisa menjadi tolokukur keberhasilan pertanian berkelanjutan di tingkat usahatani. Penelitian ini bertujuan untukmenganalisis tingkat keberlanjutan menggunakan indeks komposit dari data skala likert persepsipetani terhadap keberlanjutan usaha pembesaran lobster. Data skala likert yang merupakan skalaordinal ditransformasikan ke dalam skala interval menggunakan pendekatan Method of SuccesiveInterval (MSI). Pengumpulan data dilakukan melalui survey kepada 106 petani lobster di PulauLombok Provinsi Nusa Tenggara Barat menggunakan kuesioner terstruktur. Hasil penelitianmenunjukkan bahwa nilai indeks persepsi keberlanjutan untuk dimensi ekonomi, sosial danlingkungan masing-masing masuk pada katagori keberlanjutan “sedang” dengan nilai rata-rataadalah 0.58; 0.56 dan 0.54. Indeks gabungan yang merupakan interaksi antara ketiga dimensimemiliki rata-rata 0.56 juga masuk pada katagori “sedang”.Kata kunci : pertanian berkelanjutan, indeks keberlanjutan, persepsi petani, budidaya lobsterABSTRACTThe successful of sustainable farming implementation is not only related to the security of foodsupply, but also to the contribution to national economy. Sustainability oriented farming will becomea motor for the economy. One of contributing unit is lobster farming. The success of sustainablelobster farming is affected by the involvement of multiple parties, including the farmers. Farmers arethe subject who directly involved in implementing the concept of sustainable agriculturaldevelopment. The farmers’s perception of sustainability is a benchmark of successful sustainableagriculture at the farm level. This study aimed to analyze sustainability level by using the compositeindex of the likert scale data on the perception of farmers towards farming sustainability. Likertordinal scale data is transformed into interval scale using Method of Successive Interval (MSI).Data collected through a survey to 106 farmers in Lombok Island, West Nusa Tenggara provinceusing a structured questionnaire. The results suggest that the value of the index of sustainabilityperception for the economic, social and environment each fall into”moderate” category with theaverage value is 0.58, 0.56 and 0.54 respectively. The Composite index, interaction between aspects,have an average of 0.56 is also fall into the “moderate” category.Keywords: sustainable agriculture, sustainability index, farmers perception, lobster farming
ANALISIS KELAYAKAN INTRODUKSI TANAM GANDA (DOUBLE ROW) UBI KAYU PADA USAHATANI SISTEM TUMPANGSARI DI LAHAN KERING DI KABUPATEN GUNUNGKIDUL Subagiyo Subagiyo; Charisnalia Charisnalia
Agricore: Jurnal Agribisnis dan Sosial Ekonomi Pertanian Unpad Vol 2, No 1 (2017): Agricore: Jurnal Agribisnis dan Sosial Ekonomi Pertanian
Publisher : Departemen Sosial Ekonomi Faperta Unpad

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/agricore.v2i1.15071

Abstract

ABSTRAKPenelitian ini bertujuan untuk menganalisis kelayakan introduksi tanam ganda (double raw) ubi kayupada system tumpangsari di lahan kering Kabupaten Gunungkidul. Penelitian dilaksanakan padabulan Januari sampai dengan bulan Oktober 2016 di Desa Namberan, Paliyan, KabupatenGunungkidul. Metodelogi yang digunakan dengan pendekatan on partisipatif farm research dansurvai, dengan jumlah responden 30 orang. Data yang terkumpul selanjutnya dianalisismenggunakan pendekatan analisis Marginal Benefit Cost Ratio (MBCR). Hasil Penelitianmenunjukkan bahwa introduksi tanam ganda ubi kayu pada sistem tumpangsari yang biasadilakukan oleh para petani kabupaten Gunungkidul yaitu tanaman ubi kayu ditanam di awal musimhujan sekaligus menanam padi, setelah padi dipanen disusul dengan tanaman kacang tanah disisipidengan tanaman jagung. Sedangkan ubi kayu di panen paling akhir, dengan system tumpangsari inipetani dalam satu tahun panen 3 kali yaitu padi, jagung kacang tanah dan ubi kayu. Berdasarkananalisis kelayakan introduksi tanam ganda pada usahatani dengan sistem tumpangsari memberikantambahan pendapatan dalam satu tahun sebesar Rp 1.530.700 dengan nilai MBCR ratio sebesar2,33.Kata kunci: Usahatani, tumpangsari, lahan kering.ABSTRACTThis study aims to analyze the feasibility of the introduction of double planting of cassava in theintercropping system in dry land of Gunungkidul Regency. The study was conducted from January toOctober 2016 in Namberan Village, Paliyan, Gunungkidul Regency. Methodology used withparticipatory approach on farm research and survey, with 20 respondents. The collected data is thenanalyzed using Marginal Benefit Cost Ratio (MBCR) analysis approach. The results showed that theintroduction of double cassava planting in the intercropping system commonly done by the farmersof Gunungkidul district that is cassava planted at the beginning of the rainy season as well asplanting rice, after harvested rice followed by peanut crops inserted with corn crops. While thecassava in the last harvest, with this intercropping system farmers in one year harvest 3 times that ofrice, corn peanuts and cassava. Based on the analysis of the feasibility of introduction of doublecropping in farming with intercropping system gives additional income in one year amounting to Rp1,530,700 with MBCR ratio value equal to 2,33.Keywords: Farming, intercropping, dry land

Page 7 of 24 | Total Record : 234