cover
Contact Name
Slamet Santosa
Contact Email
slametsantosa@unhas.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
slametsantosa@unhas.ac.id
Editorial Address
-
Location
Kota makassar,
Sulawesi selatan
INDONESIA
BIOMA : Jurnal Biologi Makassar
Published by Universitas Hasanuddin
ISSN : 25287168     EISSN : 25486659     DOI : -
Core Subject : Agriculture,
Bioma mempublikasikan hasil penelitian dan kajian biologi: ekologi, botani, genetika, mikrobiologi, zoologi maupun biologi terapan dibidang agrokomplek dan medikal komplek. Bioma diterbitkan Departemen Biologi, FMIPA UNHAS, dan mempublikasikan artikel dua kali setahun , setiap bulan juni dan desember
Arjuna Subject : -
Articles 218 Documents
PEWARNAAN ALTERNATIF DENGAN MENGGUNAKAN KULIT BATANG BAKAU (Rhizophora apiculata Blume.) PADA UJI MIKROSKOPIS Candida albicans PENYEBAB KANDIDIASIS ORAL Sophia, Anggun Sophia; Suraini
BIOMA : JURNAL BIOLOGI MAKASSAR Vol. 9 No. 2 (2024): Bioma : Juli - Desember 2024
Publisher : Department of Biology, Faculty of Mathematics and Natural Sciences, Hasanuddin University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kulit kayu bakau (Rhizophora apiculata) dapat dimanfaatkan untuk pewarnaan alternatif. Tumbuhan bakau kaya akan kandungan tannin. Senyawa tannin dapat digunakan sebagai zat zat warna. Warna yang di kandung oleh kulit kayu bakau memungkinkan sebagai alternatif pada pewarnaan uji mikroskopik jamur. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui kulit kayu bakau dapat dimanfaatkan sebagai pewarnaan alternatif pada uji mikroskopis Candida albicans. Jenis penelitian ini eksperimen dengan metode Rancangan Acak Lengkap menggunakan 5 perlakuan (1:6, 1:7, 1:8, 1:9, 1:10) dan 5 ulangan. Hasil pengulangan dan konsentrasi berbeda diuji menggunakan uji Kruskal wallis dan dilanjutkan dengan uji man whitney. Hasil uji Kruskal wallis didapatkan nilai p value < 0,05 artinya kulit batang bakau dapat dijadikan pewarnaan alternatif uji mikroskopis Candida albicans. Hasil uji lanjut Man Whitney didapatkan konsentrasi 1:6 memberikan kualitas pewarnaan paling baik yang sama dengan KOH 10%. Dapat disimpulkan bahwa kulit batang bakau (Rhizophora apiculata) dengan konsentrasi 1:6 dapat digunakan sebagai pewarnaan alternatif untuk Candida albicans. Kata kunci: Kulit batang Rhizophora apiculata, Pewarnaan Alternatif, Candida albicans
PERBEDAAN JUMLAH TELUR CACING SOIL TRANSMITTED HELMINTHS BERDASARKAN WAKTU PENYIMPANAN FESES MENGGUNAKAN METODE KATO KATZ Yusdarfadri, Rita Permatasari
BIOMA : JURNAL BIOLOGI MAKASSAR Vol. 9 No. 2 (2024): Bioma : Juli - Desember 2024
Publisher : Department of Biology, Faculty of Mathematics and Natural Sciences, Hasanuddin University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Kecacingan masih menjadi masalah kesehatan masyarakat diseluruh dunia. Sanitasi yang buruk karena buang air besar (sembarangan menyebabkan tanah terkontaminasi telur cacing. Kebiasaan tidak mencuci tangan sebelum makan serta sering bermain di tanah tanpa menggunakan alas kaki menyebabkan terjadinya infeksi cacing pada anak-anak. Pemeriksaan feses adalah salah satu pemeriksaan laboratorium untuk menegakkan diagnosa infeksi cacing dan sedangkan metode kato katz untuk mengukur perbedaan waktu penyimpanan feses. Penelitian ini bertujuan untuk Mengetahui Perbedaan jumlah telur cacing Soil Transmitted Helminthhs berdasarkan waktu penyimpanan feses menggunakan metode kato katz dengan menggunakan metode Cross Sectional Study. Penelitian ini telah dilakukan pada bulan Februari - Agustus 2022 di laboratorium Universitas Perintis Indonesia. Populasi dalam penelitian ini sebanyak 15 orang Murid SDN 06 Pasir Jambak kelas 5, dan sampel sebanyak 15 orang. Setelah dilakukan pemeriksaan feses didapatkan 5 orang murid terinfeksi cacing Soil Transmitted Helminths. Pemeriksaan feses menggunakan metode kato-katz. Hasil penelitian menunjukkan bahwa yang terinfeksi cacing Soil Transmitted Helminths terjadi Perbedaan Jumlah telur cacing dari hari 1,2,3 dan 4. Hasil jumlah telur cacing yang ditemuan pada Murid SDN 06 Pasir Jambak adalah sebanyak 198 jumlah telur cacing sebesar 53% pada hari pertama, dan 10 jumlah telur cacing semakin sedikit 2 % pada hari keempat. Hasil Analisa Statistik dengan uji Mann-Whitney didapatkan p-value 0,009 (p<0,05). Kesimpulan Adanya Perbedaan Jumlah Telur Cacing Soil Transmitted Helminth pada hari 1,2,3 dan 4. Kata kunci : Feses, Kato katz, Soil Transmitted Helminths
IDENTIFIKASI DAN ANALISIS KEANEKARAGAMAN GENUS FORAMINIFERA BENTIK SERTA HUBUNGANNYA DENGAN TERUMBU KARANG Farhan Syah Rafli Pasolong, Farhan; Agus Rahman Eka Putra Abas; Ambeng; Slamet Santosa
BIOMA : JURNAL BIOLOGI MAKASSAR Vol. 10 No. 1 (2025): Bioma : Januari - Juni 2025
Publisher : Department of Biology, Faculty of Mathematics and Natural Sciences, Hasanuddin University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Foraminifera adalah salah satu bioindikator yang dapat digunakan untuk mengukur kesehatan terumbu karang yang didasarkan pada kumpulan spesiesnya di sedimen dasar lingkungan perairan terumbu karang yang kemudian dimasukkan ke dalam suatu perhitungan yang dinamakan FORAM (Foraminifera in Reef Assessment and Monitoring) Index. Indeks tersebut diterapkan di sekitar Pulau Podang-Podang Lompo dan Pulau Kapoposang yang merupakan bagian dari kepulauan spermonde di Sulawesi Selatan dimana pulau kapoposang merupakan salah satu daerah pariwisata perairan yang secara tidak langsung memberikan pengaruh terhadap ekosistem terumbu karang. Penelitian ini bertujuan untuk membandingkan struktur komunitas foraminifera bentik dan kaitannya dengan kondisi perairan terumbu karang di Pulau Podang-Podang Lompo dan Pulau Kapoposang. Penelitian ini dilakukan pada 8 stasiun penelitian untuk kedua pulau yang mewakili semua sisi pulau (Barat pulau, Timur pulau, Selatan pulau, dan Utara pulau) dengan variasi kedalaman dari 3-5 meter dan 8-10 meter. Hasil dari penelitian ini ditemukan 2503 spesimen foraminifera bentonik di Pulau Podang-Podang Lompo dan 2408 spesimen di Pulau Kapoposang dengan keanekaragaman genus yang tergolong sedang untuk kedua pulau. Genus Amphistegina ditemukan sangat melimpah pada seluruh stasiun. Nilai Indeks FORAM (FI) kedua pulau lebih dari 4 untuk seluruh stasiun penelitian yang mengindikasikan bahwa perairan Pulau Podang-Podang Lompo dan Pulau Kapoposang berada dalam kondisi yang sangat baik dan kondusif untuk pertumbuhan serta pemulihan terumbu karang. Hasil ini sejalan dengan melimpahnya kehadiran kelompok foraminifera yang berasosiasi dengan terumbu karang pada perairan tersebut.
DISTRIBUSI DAN HABITAT PERKEMBANGBIAKAN NYAMUK Aedes aegypti DI LINGKUNGAN KAMPUS UNIVERSITAS TADULAKO Trianto, Manap; Dirham
BIOMA : JURNAL BIOLOGI MAKASSAR Vol. 10 No. 1 (2025): Bioma : Januari - Juni 2025
Publisher : Department of Biology, Faculty of Mathematics and Natural Sciences, Hasanuddin University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Nyamuk merupakan salah satu vektor penyebab penyebaran penyakit di daerah tropis. Spesies nyamuk yang berpotensi tinggi menyebarkan penyakit salah satunya adalah Aedes aegypti. Ae. aegypti merupakan vektor utama dari penyakit Demam Dengue. Nyamuk ini ditemukan di daerah tropis dan subtropis. Nyamuk Ae. aegypti memiliki ciri khusus ditandai dengan pita atau garis-garis putih keperakan di atas dasar hitam, ukuran nyamuk Ae. aegypti berkisar sekitar 3-4 mm dengan ring putih pada bagian kakinya. Ae. aegypti menyukai air bersih sebagai tempat peletakan telur dan tempat perkembang biakannya. Faktor-faktor yang mempengaruhi nyamuk betina memilih tempat untuk bertelur adalah temperatur, pH, kadar ammonia, nitrat, sulfat serta kelembapan dan tidak terpapar matahari secara langsung. Penelitian ini bertujuan mengetahui keberadaan nyamuk Ae. aegypti dan memetakan habitat perkembangbiakan yang potensial nyamuk tersebut di lingkungan kampus Universitas Tadulako. Koleksi telur dilakukan dengan pemasangan ovitrap dan koleksi larva dilakukan dengan pengamatan visual. Berdasaran hasil koleksi ovitrap, ditemukan telur nyamuk lebih banyak pada ovitrap outdoor dibandingkan dengan ovitrap indoor. Hasil koleksi larva diperoleh paling banyak dari pot tanaman dengan genangan air. Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi baik kepada civitas akademik Universitas Tadulako maupun lingkungan di sekitar kampus terkait keberadaan vektor DD di lingkungan kampus dan habitat potensialnya.
ANALISIS KANDUNGAN KLOROFIL PLANLET ANGGREK BULAN Phalaenopsis amabilis L. SETELAH PEMBERIAN EKSTRAK KECAMBAH KACANG HIJAU Vigna radiata L. PADA MEDIUM HYPONEX SECARA IN VITRO abresa, vega; Endang Nurcahyani2; Lili Chrisnawati; Sri Wahyuningsih
BIOMA : JURNAL BIOLOGI MAKASSAR Vol. 10 No. 1 (2025): Bioma : Januari - Juni 2025
Publisher : Department of Biology, Faculty of Mathematics and Natural Sciences, Hasanuddin University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Anggrek bulan (Phalaenopsis amabilis) adalah tanaman hias yang banyak diminati oleh masyarakat dan para kolektor karena keindahannya, seperti dari bentuk, ukuran dan warnanya sehingga membuat nilai ekonomisnya sangat tinggi. Meningkatnya minat dari tanaman anggrek bulan (P. amabilis) menyebabkan ketersedian bibitnya berkurang. Untuk meminimalisir keadaan tersebut maka dilakukan perbanyakan secara in vitro. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui konsentrasi ekstrak kecambah kacang hijau (Vigna radiata L.) pada medium hyponex yang optimum untuk pertumbuhan planlet anggrek bulan secara in vitro dan untuk mengetahui kandungan klorofil a, b dan total yang optimum pada planlet anggrek bulan secara in vitro setelah penambahan ekstrak kecambah kacang hijau pada medium hyponex dengan berbagai konsentrasi. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan November 2023 sampai Desember 2023 di ruang kultur in vitro Laboratorium Botani Jurusan Biologi Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Lampung. Penelitian ini disusun dengan pola dasar Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan faktor tunggal. Faktor tunggal yaitu ekstrak kecambah kacang hijau (V. radiata) dengan 5 taraf konsentrasi sebagai perlakuan 0 % v/v, 2 % v/v, 4 % v/v, 6 % v/v, dan 8 % v/v. Data kuantitatif dari setiap parameter dianalisis dengan menggunakan uji Levene pada taraf nyata 5% dan uji lanjut dengan uji Beda Nyata Terkecil (BNT) pada taraf 5%. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pemberian ekstrak kecambah kacang hijau berbagai konsentrasi pada medium hyponex belum memberikan pengaruh nyata terhadap pertumbuhan planlet P.amabilis secara in vitro. Belum didapatkan konsentrasi yang optimum pada planlet P.amabilis dengan penambahan ekstrak kecambah kacang hijau berbagai konsentrasi pada medium hyponex terhadap kandungan klorofil a, b dan total. Kata kunci : Phalaenopsis amabilis, ekstrak kecambah kacang hijau, Hyponex, in vitro.
PENGGUNAAN TEPUNG AMPAS TAHU SEBAGAI MEDIA PERTUMBUHAN Salmonella Sp Hasanuddin, A.R.Pratiwi; Andi Dea Ayu Andini; Muriyati
BIOMA : JURNAL BIOLOGI MAKASSAR Vol. 10 No. 1 (2025): Bioma : Januari - Juni 2025
Publisher : Department of Biology, Faculty of Mathematics and Natural Sciences, Hasanuddin University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Salmonella sp merupakan satu diantara jenis bakteri gram negatif. Bakteri ini mempunyai bentuk batang dan tidak membentuk spora mothil. Salah satu kontaminan mikrobiologi yang banyak dijumpai yaitu salmonella sp, bakteri patogen yang menyebabkan penyakit yang ditularkan melalui makanan. Tahu adalah makanan yang berasal dari kedelai yang mempunyai kandungan protein tinggi, dan harganya relatif terjangkau bagi penduduk Indonesia. Tahu memiliki kandungan karbohidrat yang relatif tinggi serta protein yang sama mirip media nutrisi agar. Untuk mengetahui pertumbuhan bakteri Salmonella sp menggunakan media tepung ampas tahu. Jenis penelitian yang telah dilakukan adalah penelitian eksperimental, yaitu metode penelitian dengan melakukan kegiatan eksperimental, Data uji secara statistik menggunakan uji kruskal walis kelompok perlakuan pada penelitian ini terdiri atas kontrol positif Nutrient agar, dan kelompok komposisi 3 gram, 5 gram, 7 gram, dan 9 gram dengan mixer masing-masing empat kali untuk masing-masing kelompok. Pertumbuhan ikan salmon bakteriella sp mengalami kenaikan dengan rendahnya komposisi. Dengan rerata 3 gram vs kontrol + p= 1,000, 5 gram vs kontrol + p= .574, 7 gram vs kontrol + p= 0,000, 9 gram vs kontrol + p= 0,000. Tepung ampas tahu dapat dijadikan sebagai media alternatif pertumbuhan bakteri Salmonella sp dan paling efektif pada komposisi 3% dengan rata-rata 3 gram vs kontrol + nilai p1,000.
KELIMPAHAN DAN KEANEKARAGAMAN PLANKTON PADA EKOSISTEM BERBEDA DI PERAIRAN PULAU BARRANG LOMPO KOTA MAKASSAR Madjid, Islah; Dody Priosambodo; Ambeng; Saifullah
BIOMA : JURNAL BIOLOGI MAKASSAR Vol. 10 No. 1 (2025): Bioma : Januari - Juni 2025
Publisher : Department of Biology, Faculty of Mathematics and Natural Sciences, Hasanuddin University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Plankton sangat penting bagi rantai makanan laut dan keseimbangan ekosistem. Indonesia, sebuah negara kepulauan dengan keanekaragaman hayati laut yang kaya, termasuk Pulau Barrang Lompo di Sulawesi Selatan, penelitian tentang plankton sangatlah penting. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan komposisi, keanekaragaman plankton, dan faktor lingkungan yang mempengaruhi komunitas plankton di ekosistem berbeda di pulau tersebut. Pengambilan sampel di empat stasiun mengungkapkan adanya 31 jenis plankton: 22 fitoplankton dan 9 zooplankton. Fitoplankton, yang didominasi oleh Bacillariophyceae, memiliki rata-rata 1.547 individu per liter, sementara zooplankton, yang sebagian besar terdiri dari Oligotrichea, memiliki rata-rata 70 individu per liter. Keanekaragaman fitoplankton tergolong sedang, sedangkan keanekaragaman zooplankton tergolong rendah. Adapun kondisi suhu, pH, dan salinitas normal, sehingga secara keseluruhan parameter kualitas air masih berada dalam kisaran normal untuk pertumbuhan dan perkembangan plankton. Penelitian ini menyimpulkan bahwa ekosistem padang lamun memiliki kelimpahan fitoplankton tertinggi sedangkan terumbu karang sebagai ekosistem dengan zooplankton paling melimpah. Indeks keanekaragaman fitoplankton menunjukkan tingkat sedang, dengan zona lamun tertinggi, sedangkan zooplankton menunjukkan keanekaragaman rendah, dengan zona karang merupakan ekosistem tertinggi dibanding ekosistem lain. Keanekaragaman zooplankton rendah disebabkan oleh jumlah spesies dan distribusi yang terbatas. Kata kunci: kelimpahan, keanekaragaman, plankton, ekosistem, Barrang Lompo
PENGARUH KONDISI LINGKUNGAN TERHADAP KARAKTERISTIK SEMUT DAN POLA SARANG DI PEMATANG SAWAH Abdullah, Tamrin; Prihatin; Ahdin Gassa1; Sri Nur Aminah1; Kusdini Kusdini; Nurul Wiridannisaa
BIOMA : JURNAL BIOLOGI MAKASSAR Vol. 10 No. 1 (2025): Bioma : Januari - Juni 2025
Publisher : Department of Biology, Faculty of Mathematics and Natural Sciences, Hasanuddin University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Rice fields are farmlands that are bounded and surrounded by bunds and channels to retain and drain water. This is done in a way that allows for the cultivation of rice plants and the need for inundation during the rice growing period. In areas designated for rice cultivation, bunds can be utilised to plant various types of cultivated plants. This study aims to determine ant species and natural nesting patterns of ants in rice paddy fields. This research was conducted in Labuanpatu Neighbourhood, Mappadaelo Village, Tanasitolo District, Wajo Regency. Sample identification of ant species was conducted at the Plant Pest Laboratory, Department of Plant Pests and Diseases, Faculty of Agriculture, Hasanuddin University. Data collection was conducted by direct observation of natural nests, ant identification, and ant population counts. The results showed that the identification of ants in three different locations of the bund, found 6 ant species and 3 different subfamilies, namely subfamily Formicinae (Oecophyilla sp., Anoplolepis sp., and Componatus sp.), subfamily Myrmicinae (Solenopsis sp. and Tetramorium sp.) and subfamily Dolicodolinae (Tapinoma sp.). Ant species diversity and the number of ant individuals present are strongly influenced by environmental and habitat conditions. Field observations show that as human disturbance increases, ant diversity also decreases. The formation of natural ant nests depends on the availability of suitable components. These include green leaves, soil, weathered logs or tree branches.
INVENTARISASI JENIS JENIS BELALANG (Ordo Orthoptera) DI DUSUN TIBANG DESA HITU MESSING KABUPATEN MALUKU TENGAH Lapu, Petrus; Mainassy, Meillisa; Pelu, Evy
BIOMA : JURNAL BIOLOGI MAKASSAR Vol. 10 No. 1 (2025): Bioma : Januari - Juni 2025
Publisher : Department of Biology, Faculty of Mathematics and Natural Sciences, Hasanuddin University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstract Locusts that can be found in Indonesia include Belalang Kumbara (Locusta migratoria), Belalang Daun (Phyllium fulchrifolium), Belalang Kayu (Valanga nigricornis), Belalang Sembah (Hierodula vitrea), Belalang Hijau (Oxya serville) and Belalang Ranting (Phobaeticus chani). Tibang Hamlet is located in Hitu Village, Central Maluku Regency. This hamlet has a natural forest which is the habitat of several types of locusts to find food and survive. The purpose of this study was to determine the types of locusts and also forest vegetation that is the habitat of locusts (Order Orhtoptera) in Tibang Hamlet. The method used is descriptive qualitative and field observations that can describe the description of grasshopper species and vegetation. The results of the study found 3 types of grasshoppers and 6 types of vegetation as follows grasshoppers are Wood Grasshopper (Valanga nigrocornis) Kumbara Grasshopper (Locusta migratoria) Green Grasshopper (Oxya serville) while 6 types of vegetation are Awar-awar (Ficus septica), Kirinyuh plant (Chromolaena odorata), Mengkirai plant (Trema orientalis), Wedelia plant (Wedelia sp), Pecut kuda plant (Stachytarpheta jamaicensis), and Bandotan plant (Ageratum conyzoides).
ANALISIS PROFIL BAKTERI SEDIMEN SUNGAI CIWALEN GARUT Kristianti, Tati; Amalia, Lida
BIOMA : JURNAL BIOLOGI MAKASSAR Vol. 10 No. 1 (2025): Bioma : Januari - Juni 2025
Publisher : Department of Biology, Faculty of Mathematics and Natural Sciences, Hasanuddin University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kabupaten Garut merupakan daerah yang terkenal sebagai penghasil produk kulit terkemuka di Indonesia. Salah satu dampak dari industri kerajinan kulit ini adalah limbah. Sungai Ciwalen yang terletak di Kecamatan Garut Kota, Kabupaten Garut, Jawa Barat, merupakan salah satu sungai yang dialiri oleh buangan industri penyamakan kulit. Akibatnya air sungai berubah warna menjadi abu-abu dan berbau. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui profile bakteri sedimen sungai Ciwalen dengan menggunakan metode Next-Generation Sequencing (NGS). Hasil analisis NGS menunjukkan urutan bakteri yang diklasifikasikan secara taksonomi menjadi 84.661 bakteri (hampir 100%), 0,001% filum archaeal, dan 0,1% lainnya. Proteobacteria (43279), Bacteriodota (20640), Firmicutes (11813), Acidobacteria (3287), Spirochaetia (1460), Actinobacteria (570), Chloroflexi (469) dan sisanya belum diketahui. Proteobacteria ditemukan lebih dari 50%, yang terbagi menjadi Betaproteobacteria (74%), Gammaproteobacteria (12%), Deltaproteobacteria (10%), Alphaproteobacteria (3%) dan Epsilonprobactria (1%). Bakteriodota didominasi oleh Bactrioidia (82%). Clostridia (66%) dominan di Firmicutes. Holophagae dominan pada Acinobacteria. Spirochaetales dominan di Spirochaetia. Actinomycetia dominan pada Actinobacteria. Klorofleksi ditemukan memiliki lebih dari 88% dari Anaerolineae. Profil bakteri beserta presentasi keberadaannya pada sampel sedimen ini menunjukkan adanya logam berat limbah penyamakan kulit di sungai Ciwalen. Kehadiran logam berat tersebut menjadi habitat yang cocok bagi beberapa bakteri. Beberapa bakteri memiliki beberapa mekanisme untuk melawan dan meremediasi logam berat agar dapat bertahan hidup. Data penelitian ini menunjukkan bahwa Fe>Cr>Pb>NH3-N>Zn>Cu merupakan logam berat dengan konsentrasi tinggi yang terdapat di Sungai Ciwalen. Penelitian ini diharapkan dapat menjadi bahan pertimbangan bagi berbagai pihak yang terkait serta pengambil kebijakan lingkungan.