Claim Missing Document
Check
Articles

Rebranding Artisan Batik for Gen Z Women: A Social Media Visual Communication Strategy for Bhumi Khayuna Karenina Santikaputri; Ira Wirasari; Fajar Ciptandi
Glosains: Jurnal Sains Global Indonesia Vol. 7 No. 3 (2026): Glosains: Jurnal Sains Global Indonesia
Publisher : Sekolah Tinggi Agama Islam Kuningan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59784/glosains.v7i3.829

Abstract

Background: The artisan fashion industry faces challenges in renewing its audience, particularly in reaching Generation Z women with strong digital preferences and environmental awareness. Bhumi Khayuna, a sub-brand of Jarit, experiences identity ambiguity and limited visual differentiation, reducing the effectiveness of its marketing and rebranding efforts on social media. Objective: This study aims to develop a rebranding strategy for Bhumi Khayuna to strengthen brand identity, enhance engagement, and connect with Generation Z female consumers through relevant digital communication. Methods: This qualitative study employed five stages: identifying brand problems, analyzing internal brand elements, evaluating competitors and audience preferences through surveys and social media observations, developing visual communication strategies, and validating the proposed rebranding strategy. Data were analyzed through triangulation of interviews, observations, and competitor content analysis. Results: The findings indicate that Bhumi Khayuna requires an independent visual identity, differentiated communication strategies, and social media content integrating sustainability narratives, modern aesthetics, and community engagement. Generation Z consumers show interest in functional products, ethical production, transparency, and interactive brand experiences. The integration of clear brand architecture, AIDA-based copywriting, earth-tone visuals, and sustainability storytelling achieved a 72% preference among respondents. Conclusion: This study provides practical guidance for artisan fashion brands in developing authentic and audience-oriented rebranding strategies while contributing to research on branding, visual communication, and Generation Z consumer behavior in the digital era.
Penerapan Inovasi Pengolahan Abu Sisa Pembakaran Sampah Anorganik menjadi Material Bangunan Non-Struktural (Loster) dengan Pendekatan Partisipatoris di TPS3R Lembangsari, Desa Tarumajaya, Kecamatan Kertasari, Kabupaten Bandung Fajar Ciptandi; Oky Setiawan; Mohd Ridho Kurniawan; Ira Wirasari; Ayub Ilfandy Imran
Panrita Abdi - Jurnal Pengabdian pada Masyarakat Vol. 10 No. 3 (2026): Jurnal Panrita Abdi - Juli 2026
Publisher : LP2M Universitas Hasanuddin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20956/pa.v10i3.48431

Abstract

The waste management issues at the TPS3R (Reduce, Reuse, Recycle Waste Processing Facility) Lembangsari, located in Tarumajaya Village, Kertasari District, Bandung Regency, indicate that approximately 485 kg or 2.64 m² of waste are collected in a single transportation cycle, of which 135 kg or 0.75 m² consist of inorganic waste. In particular, this type of inorganic waste, which is difficult to decompose, has been addressed through incineration using a technology known as the Tel-Urator machine. However, the incineration process still leaves approximately 10–15% combustion ash, which has not yet been optimally managed. Direct disposal of this ash onto the soil has the potential to degrade soil fertility. The objective of this activity is to utilize the results of previous research by upcycling the residual ash from inorganic waste incineration to produce material characteristics suitable for application as ventilation blocks (loster). The outcomes of this study are expected to be applicable for implementation at TPS3R Lembangsari. The methodological approach involved community participation through Participatory Learning and Action (PLA), providing capacity building on the urgency of waste management and proper waste handling practices in the form of workshops and intensive mentoring. The results of the activity include the development of environmentally friendly, appropriate-technology products in the form of ventilation blocks made from inorganic waste incineration residues, as well as enhanced community capacity in waste management and the application of simple, context-appropriate technologies.   Permasalahan sampah yang terdapat TPS3R (Tempat Pengolahan Sampah Reduce, Reuse, Recycle) Lembangsari di Desa Tarumajaya, Kecamatan Kertasari, Kabupaten Bandung menunjukan bahwa terdapat sekitar 485 kg atau 2,64 m2 sampah dalam sekali pengangkutan, dengan sebanyak 135 kg atau 0,75 m2 merupakan jenis sampah anorganik. Khususnya untuk jenis sampah anorganik yang sulit diurai ini telah mampu disolusikan dengan cara dibakar menggunakan sebuah teknologi berupa mesin Tel-Urator, Namun, hasil pembakaran tersebut masih menyisakan sekitar 10-15% abu pembakaran yang selama ini belum dapat dimusnahkan secara optimal. Pembuangan abu tersebut langsung ke tanah berpotensi merusak kondisi kesuburan tanah tersebut. Tujuan kegiatan adalah memanfaatkan hasil penelitian sebelumnya, yaitu memanfaatkan abu sisa pembakaran sampah anorganik ini dengan pendekatan upcycling menghasilkan suatu karakter material yang cocok untuk diaplikasikan menjadi loster. Hasil penelitian ini dapat berguna untuk diimplementasikan pada TPS3R Lembangsari. Pendekatan metode yang dilakukan adalah dengan melibatkan partisipasi masyarakat menggunakan Participatory Learning and Action (PLA) untuk pembekalan pengetahuan mengenai urgensi pengelolaan sampah dan tata cara pengelolaannya dengan benar dalam bentuk workshop dan pendampingan intensif. Hasil kegiatan berupa produk tepat guna yang ramah lingkungan berupa loster dengan memanfaatkan material sisa pembakaran sampah anorganik, serta meningkatkan kapasitas masyarakat dalam mengelola limbah dan menerapkan teknologi sederhana yang sesuai dengan kesiapannya.
HYPERREALITY OF WOMEN’S IMAGES IN TIKTOK FASHION CONTENT: A STUDY OF GENERATION Z WOMEN Syifa Sabilla Adriana; Ira Wirasari; Mohammad Isa Pramana Koesoemadinata
INTERNATIONAL JOURNAL OF SOCIETY REVIEWS Vol. 4 No. 1 (2026): INTERNATIONAL JOURNAL OF SOCIETY REVIEWS (INJOSER)
Publisher : Adisam Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5281/zenodo.22667902

Abstract

TikTok's development as a space for visual expression has helped shape how Generation Z women represent themselves and perceive fashion in their everyday lives. Fashion content presented through endorsement videos, such as outfit of the day (OOTD), get ready with me (GRWM), and haul videos, functions not only as a medium for product promotion but also constructs idealised images of women through clothing styles, silhouettes, colours, materials, branding, and styling techniques. These representations create a form of hyperreality in which fashion images presented in digital spaces are perceived as ideal references for appearance and identity formation. This study aims to analyse the hyperreality of women’s images constructed through fashion content on TikTok and examine how Generation Z women perceive these representations. This research uses a qualitative approach, drawing on representation theory and Jean Baudrillard’s concept of hyperreality as its main analytical framework. Data were collected by analysing fashion videos on TikTok and administering questionnaires to Generation Z women. The findings indicate that TikTok fashion content constructs images of women through curated, aesthetic, and repetitive visual representations, thereby establishing standards of appearance and lifestyles that appear ideal and realistic. These images then function as identity symbols and fashion references for Generation Z women, while also being linked to symbolic and repetitive patterns of fashion consumption. This study demonstrates that TikTok functions not merely as a medium for disseminating fashion information but also as a space for producing and reproducing the hyperreality of women’s images within digital culture.
Pelatihan Literasi Digital Berbasis Analisis Visual Dan Bahasa Bagi Komunitas Tapak Maca Sri Nurbani; Sri Soedewi; Ira Wirasari; Yelly Andriani Barlian; Siti Deshinta
Jurnal Abdi Masyarakat Indonesia Vol 6 No 4 (2026): JAMSI - Juli 2026
Publisher : CV Firmos

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54082/jamsi.3100

Abstract

Tantangan nyata dari ledakan informasi digital di era pascakebenaran (post-truth) adalah maraknya misinformasi, disinformasi, malinformasi, dan manipulasi konten visual maupun verbal. Komunitas Tapak Maca sebagai komunitas pegiat literasi dan budaya di Kota Bandung mengalami kerentanan terhadap konten negatif di media digital, namun belum memiliki bekal kecakapan kritis dalam membaca dan menganalisis pesan-pesan digital secara holistik. Program pengabdian ini bertujuan untuk meningkatkan kemampuan literasi digital anggota komunitas melalui pelatihan membaca media digital dengan cerdas berbasis analisis visual (visual culture) dan bahasa (linguistik). Kegiatan dilaksanakan dengan pendekatan partisipatif melalui empat sesi pelatihan yang mencakup dasar literasi digital dan disinformasi, analisis visual dan etika konten, linguistik kritis dan wacana digital, serta praktik membaca media digital secara terpadu. Sebanyak 20 anggota komunitas berpartisipasi dalam kegiatan ini. Evaluasi dilakukan melalui perbandingan skor rata-rata pre-test dan post-test serta analisis tematik terhadap wawancara dan observasi. Hasil kegiatan menunjukkan peningkatan rata-rata skor literasi digital dari 56,2 menjadi 82,4 (+26,2 poin), dengan dimensi keamanan siber mencatat peningkatan tertinggi (+27,7 poin). Peserta mengalami peningkatan kemampuan identifikasi disinformasi, kesadaran konteks budaya dalam konten visual, kemampuan mengkritisi bahasa dan wacana, serta komitmen etis dalam berinteraksi di ruang digital. Terbentuknya kelompok diskusi mandiri pasca-pelatihan menandakan adanya transformasi sosial berbasis komunitas. Model pelatihan ini direkomendasikan untuk diterapkan pada komunitas literasi serupa sebagai upaya penguatan ketahanan informasi di tingkat akar rumput.
Co-Authors Adnan, Farrel Aisyi Syafikarani Almayra Audrey Sundayana Anggie Pradina Azzahra Arif, Riksa Arini Arumsari Aripraha, Gema Ariq, Muhammad Naufal Arry Mustikawan Aryohadi, Miftah Tri Asep Kadarisman Ayub Ilfandy Imran Az Zahra, Shabrina Fitria Bambang Melga Suprayogi Bintang Nugraha Chaerul Adam Chantika Qintara Fatharani Dedrina Aurya Syazira Dedrina Aurya Syazira Elsa Graciana Nugraeni Fadhil, Indra Fajar Ciptandi Faradillah Nursari Farid, Windah Wahyuni Atika Fauzul, Aghnia Gema Ariprahara Husna, Azzuhra Fauziah I Gede Mugi Raharja I Nyoman Larry Julianto Imam Budi Justicia, Arunia Karenina Santikaputri Kurnia, Garrick Gisala Ligar Muthmainnah Made Ayu Adinda Prima Dewi Mahendra Nur Hadiansyah Mohammad Isa Pramana Koesoemadinata Mohd Ridho Kurniawan Mutiara Insani Nasution Nia Fadhillah Niznaen, Dewi Ainun Nugroho, Kevin Wisnu Nuraini, Aisyah Ogya Adwidtiya Janitra Oky Setiawan Panji Wirayudha, Rahmat Pramono, Aqilla Rizky Rahmat Panji Wirayudha Rahmat, Apriandi Rezki Saputri Riksa Belasunda Riky Azharyandi Siswanto Runik Machfiroh Saputri, Rezki Sasqia Pratiwi Hanum AT Shella Wardhani Putri Siti Deshinta Siti Desintha Sri Nurbani Sri Soedewi Sudibyo, Gina Suastika Syarip Hidayat Syifa Fadila Syifa Sabilla Adriana Tasya Natalia Wijaya Theodora Evipani BR Karo Tresna Ferdiana Ully Irma Maulina Hanafiah Wicaksono Nugroho, Kevin Wisnu Wirania Swasty Wiraprasasta, Anindya Yantami, Rizky Yelly Andriani Barlian Yelly Andriani Barlian Yelly Andriani Barlian Yosa Fiandra Zitachila Virginia Rahmallah