Claim Missing Document
Check
Articles

Found 25 Documents
Search

ANALISIS KEBUTUHAN AIR IRIGASI UNTUK PERENCANAAN SALURAN KEJURON TUNGGANGRI PADA DAERAH IRIGASI KALIDAWIR DENGAN SOFTWARE HEC-RAS Syahriyan, ‘Ainur Rizqi; Ardhiansyah, Widha; Lukma, Hazairin Nikmatul
VOCATIONAL: Jurnal Inovasi Pendidikan Kejuruan Vol. 6 No. 2 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/vocational.v6i2.9620

Abstract

Irrigation systems play a crucial role in supporting the sustainability of the agricultural sector, particularly in paddy field areas that heavily depend on water availability and distribution. One of the common problems in irrigation networks is uneven water distribution caused by limited channel capacity and suboptimal discharge management, especially during the dry season. This study aims to analyze irrigation water requirements and evaluate the capacity of the Kejuron Tunggangri channel within the Kalidawir Irrigation Area using the HEC-RAS software. The research employed a descriptive quantitative method utilizing primary data obtained from field observations and measurements of channel dimensions, as well as secondary data consisting of rainfall, dependable discharge, climatological data, and cropping patterns over the last ten years (2015–2024). The analysis included calculations of irrigation water requirements based on rice and secondary crop cropping patterns, assessment of water availability, and flow simulations using HEC-RAS. The results indicate that irrigation water demand varies throughout the planting season, with the highest demand occurring during the initial growth stage of rice crops and the lowest during the dry season. HEC-RAS simulations reveal that several segments of the secondary channel are unable to accommodate the design discharge, resulting in potential overflow, particularly in the upstream sections. Therefore, adjustments to the channel dimensions are required to ensure safe and efficient conveyance of the planned discharge. This study is expected to provide a technical basis for improving irrigation system management and enhancing the sustainable performance of irrigation infrastructure in the Kalidawir Irrigation Area. ABSTRAK Sistem irigasi memegang peranan penting dalam mendukung keberlanjutan sektor pertanian, khususnya pada daerah persawahan yang sangat bergantung pada ketersediaan dan distribusi air. Permasalahan yang sering terjadi pada jaringan irigasi adalah distribusi air yang tidak merata akibat keterbatasan kapasitas saluran dan pengelolaan debit yang belum optimal, terutama pada musim kemarau. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kebutuhan air irigasi serta mengevaluasi kapasitas saluran Kejuron Tunggangri pada Daerah Irigasi Kalidawir dengan bantuan software HEC-RAS. Metode yang digunakan adalah metode kuantitatif deskriptif dengan memanfaatkan data primer berupa observasi dan pengukuran dimensi saluran di lapangan, serta data sekunder berupa data curah hujan, debit andalan, klimatologi, dan pola tanam selama 10 tahun terakhir (2015–2024). Analisis dilakukan melalui perhitungan kebutuhan air irigasi berdasarkan pola tanam padi dan palawija, analisis ketersediaan air, serta simulasi aliran saluran menggunakan software HEC-RAS. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kebutuhan air irigasi bervariasi sepanjang musim tanam, dengan kebutuhan tertinggi terjadi pada fase awal pertumbuhan tanaman padi dan terendah pada musim kemarau. Simulasi HEC-RAS menunjukkan bahwa beberapa segmen saluran sekunder tidak mampu menampung debit rencana sehingga berpotensi terjadi luapan, khususnya pada bagian hulu. Oleh karena itu, diperlukan penyesuaian dimensi saluran agar mampu menyalurkan debit secara aman dan efisien. Penelitian ini diharapkan dapat menjadi dasar teknis dalam pengelolaan dan peningkatan kinerja sistem irigasi secara berkelanjutan di Daerah Irigasi Kalidawir.  
PEMETAAN AREA GENANGAN BANJIR MENGGUNAKAN MODEL HEC-RAS 2D DAN SISTEM INFORMASI GEOGRAFIS PADA DAS BOGEL KECAMATAN SUTOJAYAN Arsyahudin, Akram; Ardhiansyah, Widha; Lukma, Hazairin Nikmatul
VOCATIONAL: Jurnal Inovasi Pendidikan Kejuruan Vol. 6 No. 2 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/vocational.v6i2.9621

Abstract

Sutojayan District in Blitar Regency, which is traversed by the Bogel River Basin (DAS), is an area that is highly vulnerable to flooding due to a combination of flat topography, extreme rainfall intensity, and massive land use changes. This study aims to map in detail the flood-prone areas in the Bogel Watershed as a structural mitigation effort. The research method uses a quantitative approach that integrates hydrological analysis in three Sub-DAS (Bacem, Lodoyo, and Judeg) with spatial hydraulic modeling using HEC-RAS 2D software and Geographic Information Systems (GIS) in various return period scenarios (Q2, Q5, Q10, Q25, Q50, and Q100). The results of the hydrological analysis show a significant increase in flood discharge as the return period increases, for example in the Bacem Sub-DAS from 69.28 m³/second (Q2) to 174.61 m³/second (Q100). Spatial modeling confirmed that the flood inundation area expanded from 4.98 km² in Q2 to 10.98 km² in Q100. The affected areas in the initial scenario included eight villages (Bacem, Jingglong, Kalipang, Kedungbunder, Pandanarum, Sutojayan, Sukorejo, and Sumberjo), and extended to Jegu and Kembangarum during the extreme return period. The main conclusion confirms that the integration of HEC-RAS and GIS has proven effective in predicting flood distribution accurately, making it crucial for use as a database for spatial planning and disaster mitigation in Sutojayan District. ABSTRAK Kecamatan Sutojayan di Kabupaten Blitar, yang dilalui oleh Daerah Aliran Sungai (DAS) Bogel, merupakan kawasan yang sangat rentan terhadap bencana banjir akibat kombinasi topografi datar, intensitas curah hujan ekstrem, dan masifnya perubahan tata guna lahan. Penelitian ini bertujuan untuk memetakan secara detail area rawan genangan banjir pada DAS Bogel sebagai upaya mitigasi struktural. Metode penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif yang mengintegrasikan analisis hidrologi pada tiga SubDAS (Bacem, Lodoyo, dan Judeg) dengan pemodelan hidraulika spasial menggunakan perangkat lunak HEC-RAS 2D dan Sistem Informasi Geografis (SIG) pada berbagai skenario kala ulang (Q2, Q5, Q10, Q25, Q50, dan Q100). Hasil analisis hidrologi menunjukkan lonjakan debit banjir yang signifikan seiring bertambahnya kala ulang, misalnya pada SubDAS Bacem dari 69,28 m³/detik (Q2) menjadi 174,61 m³/detik (Q100). Pemodelan spasial mengonfirmasi bahwa luas genangan banjir berekspansi dari 4,98 km² pada Q2 hingga mencapai 10,98 km² pada Q100. Wilayah terdampak pada skenario awal meliputi delapan desa (Bacem, Jingglong, Kalipang, Kedungbunder, Pandanarum, Sutojayan, Sukorejo, dan Sumberjo), dan meluas hingga Jegu serta Kembangarum pada kala ulang ekstrem. Simpulan utama menegaskan bahwa integrasi HEC-RAS dan SIG terbukti efektif memprediksi sebaran banjir secara akurat, sehingga sangat krusial digunakan sebagai basis data tata ruang dan mitigasi bencana di Kecamatan Sutojayan.
ANALISIS KEBUTUHAN AIR IRIGASI UNTUK PERENCANAAN SALURAN KEJURON TUNGGANGRI PADA DAERAH IRIGASI KALIDAWIR DENGAN SOFTWARE HEC-RAS Syahriyan, ‘Ainur Rizqi; Ardhiansyah, Widha; Lukma, Hazairin Nikmatul
VOCATIONAL: Jurnal Inovasi Pendidikan Kejuruan Vol. 6 No. 2 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/vocational.v6i2.9620

Abstract

Irrigation systems play a crucial role in supporting the sustainability of the agricultural sector, particularly in paddy field areas that heavily depend on water availability and distribution. One of the common problems in irrigation networks is uneven water distribution caused by limited channel capacity and suboptimal discharge management, especially during the dry season. This study aims to analyze irrigation water requirements and evaluate the capacity of the Kejuron Tunggangri channel within the Kalidawir Irrigation Area using the HEC-RAS software. The research employed a descriptive quantitative method utilizing primary data obtained from field observations and measurements of channel dimensions, as well as secondary data consisting of rainfall, dependable discharge, climatological data, and cropping patterns over the last ten years (2015–2024). The analysis included calculations of irrigation water requirements based on rice and secondary crop cropping patterns, assessment of water availability, and flow simulations using HEC-RAS. The results indicate that irrigation water demand varies throughout the planting season, with the highest demand occurring during the initial growth stage of rice crops and the lowest during the dry season. HEC-RAS simulations reveal that several segments of the secondary channel are unable to accommodate the design discharge, resulting in potential overflow, particularly in the upstream sections. Therefore, adjustments to the channel dimensions are required to ensure safe and efficient conveyance of the planned discharge. This study is expected to provide a technical basis for improving irrigation system management and enhancing the sustainable performance of irrigation infrastructure in the Kalidawir Irrigation Area. ABSTRAK Sistem irigasi memegang peranan penting dalam mendukung keberlanjutan sektor pertanian, khususnya pada daerah persawahan yang sangat bergantung pada ketersediaan dan distribusi air. Permasalahan yang sering terjadi pada jaringan irigasi adalah distribusi air yang tidak merata akibat keterbatasan kapasitas saluran dan pengelolaan debit yang belum optimal, terutama pada musim kemarau. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kebutuhan air irigasi serta mengevaluasi kapasitas saluran Kejuron Tunggangri pada Daerah Irigasi Kalidawir dengan bantuan software HEC-RAS. Metode yang digunakan adalah metode kuantitatif deskriptif dengan memanfaatkan data primer berupa observasi dan pengukuran dimensi saluran di lapangan, serta data sekunder berupa data curah hujan, debit andalan, klimatologi, dan pola tanam selama 10 tahun terakhir (2015–2024). Analisis dilakukan melalui perhitungan kebutuhan air irigasi berdasarkan pola tanam padi dan palawija, analisis ketersediaan air, serta simulasi aliran saluran menggunakan software HEC-RAS. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kebutuhan air irigasi bervariasi sepanjang musim tanam, dengan kebutuhan tertinggi terjadi pada fase awal pertumbuhan tanaman padi dan terendah pada musim kemarau. Simulasi HEC-RAS menunjukkan bahwa beberapa segmen saluran sekunder tidak mampu menampung debit rencana sehingga berpotensi terjadi luapan, khususnya pada bagian hulu. Oleh karena itu, diperlukan penyesuaian dimensi saluran agar mampu menyalurkan debit secara aman dan efisien. Penelitian ini diharapkan dapat menjadi dasar teknis dalam pengelolaan dan peningkatan kinerja sistem irigasi secara berkelanjutan di Daerah Irigasi Kalidawir.  
PEMETAAN AREA GENANGAN BANJIR MENGGUNAKAN MODEL HEC-RAS 2D DAN SISTEM INFORMASI GEOGRAFIS PADA DAS BOGEL KECAMATAN SUTOJAYAN Arsyahudin, Akram; Ardhiansyah, Widha; Lukma, Hazairin Nikmatul
VOCATIONAL: Jurnal Inovasi Pendidikan Kejuruan Vol. 6 No. 2 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/vocational.v6i2.9621

Abstract

Sutojayan District in Blitar Regency, which is traversed by the Bogel River Basin (DAS), is an area that is highly vulnerable to flooding due to a combination of flat topography, extreme rainfall intensity, and massive land use changes. This study aims to map in detail the flood-prone areas in the Bogel Watershed as a structural mitigation effort. The research method uses a quantitative approach that integrates hydrological analysis in three Sub-DAS (Bacem, Lodoyo, and Judeg) with spatial hydraulic modeling using HEC-RAS 2D software and Geographic Information Systems (GIS) in various return period scenarios (Q2, Q5, Q10, Q25, Q50, and Q100). The results of the hydrological analysis show a significant increase in flood discharge as the return period increases, for example in the Bacem Sub-DAS from 69.28 m³/second (Q2) to 174.61 m³/second (Q100). Spatial modeling confirmed that the flood inundation area expanded from 4.98 km² in Q2 to 10.98 km² in Q100. The affected areas in the initial scenario included eight villages (Bacem, Jingglong, Kalipang, Kedungbunder, Pandanarum, Sutojayan, Sukorejo, and Sumberjo), and extended to Jegu and Kembangarum during the extreme return period. The main conclusion confirms that the integration of HEC-RAS and GIS has proven effective in predicting flood distribution accurately, making it crucial for use as a database for spatial planning and disaster mitigation in Sutojayan District. ABSTRAK Kecamatan Sutojayan di Kabupaten Blitar, yang dilalui oleh Daerah Aliran Sungai (DAS) Bogel, merupakan kawasan yang sangat rentan terhadap bencana banjir akibat kombinasi topografi datar, intensitas curah hujan ekstrem, dan masifnya perubahan tata guna lahan. Penelitian ini bertujuan untuk memetakan secara detail area rawan genangan banjir pada DAS Bogel sebagai upaya mitigasi struktural. Metode penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif yang mengintegrasikan analisis hidrologi pada tiga SubDAS (Bacem, Lodoyo, dan Judeg) dengan pemodelan hidraulika spasial menggunakan perangkat lunak HEC-RAS 2D dan Sistem Informasi Geografis (SIG) pada berbagai skenario kala ulang (Q2, Q5, Q10, Q25, Q50, dan Q100). Hasil analisis hidrologi menunjukkan lonjakan debit banjir yang signifikan seiring bertambahnya kala ulang, misalnya pada SubDAS Bacem dari 69,28 m³/detik (Q2) menjadi 174,61 m³/detik (Q100). Pemodelan spasial mengonfirmasi bahwa luas genangan banjir berekspansi dari 4,98 km² pada Q2 hingga mencapai 10,98 km² pada Q100. Wilayah terdampak pada skenario awal meliputi delapan desa (Bacem, Jingglong, Kalipang, Kedungbunder, Pandanarum, Sutojayan, Sukorejo, dan Sumberjo), dan meluas hingga Jegu serta Kembangarum pada kala ulang ekstrem. Simpulan utama menegaskan bahwa integrasi HEC-RAS dan SIG terbukti efektif memprediksi sebaran banjir secara akurat, sehingga sangat krusial digunakan sebagai basis data tata ruang dan mitigasi bencana di Kecamatan Sutojayan.
ANALISIS PENGARUH ABU BATU SEBAGAI PENGGANTI PASIR DENGAN CAMPURAN SERBUK KAYU TERHADAP UJI KUAT TEKAN DAN DAYA SERAP AIR PADA PAVING BLOCK Muslim, Imam; Nurjanah, Nurjanah; Lukma, Hazairin Nikmatul
VOCATIONAL: Jurnal Inovasi Pendidikan Kejuruan Vol. 6 No. 3 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/vocational.v6i3.10831

Abstract

Paving blocks are basically made of a mixture of cement, aggregate and water with or without additives. There are many types of inventions about modification of paving blocks, one of which is paving blocks made from a mixture of used sengon wood powder where all wood powder can be mixed together with fine aggregates (stone ash instead of sand). The purpose of this study was to compare the compressive strength and absorbency of the paving block normally 0% (with cement, water, and rock ash as a substitute for sand). Paving blocks of sengon wood powder mixture with variations of 3%, 6%, and 9% at the age of 7, 14, and 28 days and describe the effect of adding credits in the paving block mixture with variations of 0%, 3%, 6%, and 9% at the age of 7, 14 and 28 days, the reference of this test refers to (SNI 03-0691-1996). The results that can be stated in this study are paving blocks with the addition of the maximum compressive strength value credit obtained is 16.81 MPa after  the paving block  treatment period for 28 days with a variation in the addition of wood powder of 3% of the cement weight. This value has met the SNI-03–0691–1996 standard, which is at least 7.10 MPa. Based on SNI 03-0691-1996, 3% wood powder mixture paving blocks with a compressive strength value of 16.81 kg/cm2 have entered the classification of paving blocks of C quality used for pedestrians or parks and other uses, and the results of the paving block absorption test are 4.16%, 5.60%, 6.74%, and 7.20% respectively. Based on the results of the test, it was also revealed that the compressive strength produced is inversely proportional to the absorbency, the higher the compressive strength of the paving block, the lower the absorbency, and vice versa. ABSTRAK Paving block pada dasarnya terbuat dari campuran semen, agregat dan air dengan atau tanpa bahan tambahan. Banyak jenis penemuan tentang modifikasi terhadap paving block salah satunya adalah paving block yang terbuat dari campuran serbuk kayu sengon bekas pengergajian yang mana semua serbuk kayu dapat di campur menjadi satu dengan agregat halus (abu batu sebagai pengganti pasir). Tujuan penelitian ini adalah perbandingan kuat tekan dan daya serap paving block normal 0% (dengan camuran semen, air, dan abu batu sebagai pengganti pasir). Paving block campuran serbuk kayu sengon dengan variasi 3%, 6%, dan 9% pada umur 7, 14, dan 28 hari serta mendeskripsikan pengaruh penambahan SKS dalam campuran paving block dengan variasi 0%, 3%, 6%, dan 9% pada masing-masing umur pengujian 7, 14 dan 28 hari, rujukan pengujian ini mengacu pada (SNI 03-0691-1996). Hasil yang dapat dikemukakan dalam penelitian ini adalah paving block dengan penambahan SKS nilai kuat tekan terbesar yang diperoleh adalah sebesar 16,81 MPa setelah masa perawatan paving block selama 28 hari dengaan variasi penambahan serbuk kayu sebesar 3% dari berat semen. Nilai ini sudah memenuhi standar SNI–03–0691–1996 yaitu minimal 7,10 MPa. Berdasarkan SNI 03-0691-1996 paving block campuran serbuk kayu 3% dengan nilai kuat tekan sebesar 16,81 kg/cm2 sudah memasuki dalam klasifikasi paving block mutu C yang digunakan untuk pejalan kaki atau  taman dan penggunaan lainnya, dan hasil pengujian daya serap paving block berturut-turut sebesar 4,16%, 5.60%, 6,74%, dan 7,20%. Berdasarkan hasil pengujian tersebut, terungkap pula kuat tekan yang dihasilkan berbanding terbalik dengan daya serap, semakin tinggi kuat tekan paving block semakin rendah daya serapnya, begitu pula sebaliknya.