Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search
Journal : SOCIETAL

STRATEGI ADAPTASI MEMPETAHANKAN NAFKAH DALAM MENGHADAPI MUSIM PACEKLIK PADA NELAYAN BAJO (Studi di Desa Pulau Bangko Kecamatan Maginti Kabupaten Muna Barat) Lisma, Lisma; Bauto, La Ode Monto; Jabar, Aryuni Salpiana
SOCIETAL Vol 7, No 2 (2020): Edisi Oktober
Publisher : SOCIETAL

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui 1) mengetahui strategi adaptasi menjaga pendapatan dalam menghadapi musim paceklik pada nelayan bajo di Desa Pulau Bangko Kabupaten Muna Barat. 2) Untuk mengetahui faktor pendukung dan kendala dalam menghadapi musim paceklik pada nelayan bajo di Desa Pulau Bangko Kabupaten Muna Barat. Penelitian ini menggunakan teknik puposive sampling yaitu teknik penentuan informan, yaitu peneliti telah menetapkan responden sebagai sampel penelitiannya dengan asumsi atau menurut pendapatnya sendiri. Hasil penelitian menunjukkan bahwa strategi beradaptasi untuk mempertahankan pendapatan menghadapi musim paceklik pada nelayan Bajo. Beberapa strategi yang dilakukanya yaitu strategi, penganekaragaman adalah pendapatan, dimana para nelayan saat musim barat tidak terpenuhi kebutuhan hidupnya oleh karena itu mereka berinisiatif untuk memenuhi kebutuhan hidupnya pada musim paceklik dengan melakukan pekerjaan sampingan dengan memperdagangkan pengambil kayu dan pembudidaya rumput-rumput yang biasa di samudera memenuhi kebutuhan hidupnya saat musim itu tiba. Strategi kedua yang mereka lakukan yaitu: strategi penganekaragaman alat tangkap, dimana pada musim timur nelayan hanya menggunakan satu atau dua jenis alat tangkap saja, namun pada musim paceklik nelayan menambah jenis alat tangkap yang mereka gunakan untuk menambah hasil tangkapan. Strategi yang ketiga yaitu: merubah daerah tangkapan, dimana nelayan melakukan peralihan daerah tangkapan, karena pada daerah tangkap sebelumnya yang bergelombang dan tidak jarang ikan mengeluarkan masukan alat tangkap mereka di sebabkan air tinja. Nelayan memang bergerak di daerah yang tidak bergelombang untuk merakit alat tangkap yang mereka gunakan. Strategi keempat yaitu: Memanfaatkan hubungan sosial, dimana praistri nelayan akan meminjam uang atau beras kepada orang, tetangga maupun kepada tokek jika suaminya pulang melaut tidak memperoleh hasil untuk dijual. Strategi kelima yaitu: mobilisasi anggota keluarga, yaitu keberadaan nelayan yang memiliki anak laki-laki sudah berpotensi melaut oleh karena itu mereka mengikut kemauan untuk melaut membantu orang tua.
EKSISTENSI BUDAYA PENCAK SILAT (MANSA’A) DI DESA TINDOI KECAMATAN WANGI-WANGI KABUPATEN WAKATOBI Masiadi, Masiadi; Roslan, Suharty; Jabar, Aryuni Salpiana
SOCIETAL Vol 7, No 2 (2020): Edisi Oktober
Publisher : SOCIETAL

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini dilaksanakan secara kualitatif di Desa Tindoi Kecamatan Wangi-Wangi Kabupaten Wakatobi. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa Eksisnya Budaya Pencak Silat (Mansa’a) karena merupakan budaya sejak dulu dan sifatnya turun temurun kemudian diwariskan dari generasi ke generasi. Ada 2 macam Eksistensi Budaya Pencak Silat (Mansa’a) yaitu tatanan nilai dana tatanan kenyataan (pelaksanaan kegiatan). Tatanan nilai, masyarakat Desa Tindoi dulunya dalam memainkan Pencak Silat (Mansa’a) masih memahami, menjaga, mewarisi nilai-nilai solidaritas sosial (kemanusiaan) dan sekarang tidak lagi memahami, menjaga, dan mewarisi nilai-nilai solidaritas sosial (kemanusiaan). Tatanan kenyataan (pelaksanaan kegiatan) ada 3 macam yaitu waktu pelaksanaan, pakaian yang digunakan, dan proses pelaksanaan Pencak Silat (Mansa’a). Dalam pelaksanaan kegiatan, dilaksanakan pada hari-hari yang tidak ditentukan waktunya, dan sekarang dilaksanakan pada hari-hari yang ditentukan yang sifatnya resmi atau sah seperti dalam acara pesta adat kampung. Pakaian yang digunakan dalam memainkan Pencak Silat (Mansa’a) dulunya masih menggunakan pakaian adat seperti peci adat dan sarung tenun adat dan sekarang tidak lagi menggunakan pakaian seperti peci dan sarung tenun adat terkecuali pada acara festival budaya. Sedangkan pada proses pelaksanaan Pencak Silat (Mansa’a), dulunya masyarakat masih memberikan sikap hormat terhadap orang tua ataupun orang memukul gendang dan sekarang masyarakat tidak lagi atau jarang sekali memberikan sikap hormat terhadap orang tua ataupun orang yang memukul gendang ketika masuk untuk memulai memainkan Pencak Silat (Mansa’a). Faktor-faktor yang mempengaruhi perubahan nilai-nilai sosial terhadap Eksistensi Budaya Pencak Silat (Mansa’a) di Desa Tindoi yaitu ada 3 faktor yaitu penyimpangan sosial, teknologi, dan modernisasi.
FAKTOR PENYEBAB PUTUS SEKOLAH PADA ANAK NELAYAN (Studi di Desa Terapung Kecamatan Mawasangka) Diana, Nur; Hos, Jamaluddin; Jabar, Aryuni Salpiana
SOCIETAL Vol 8, No 1 (2021): Edisi April
Publisher : SOCIETAL

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor penyebab putus sekolah pada anak nelayan di desa terapung kecamatan mawasangka kabupaten buton tengah.Dalam penelitian ini diambil 14 informan.Dipilih karena benar-benar dianggap dapat memberikan informasi sesuai dengan penelitian.Dengan menggunakan jenis penelitian deskriptif kualitatif dengan cara mengumpulkan data dengan pengamatan (observasi), wawancara (interview) dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penyebab putus sekolah pada anak nelayan memilki dua faktor internal dan faktor eksternal.Pada faktor internal yakni kurangnya minat, anak nelayan yang kurang tertarik pada sekolah dimana anak lebih memilih melaut dan kurangnya perhatian keluarga, akibat kesibukan orang tua anak merasa tidak diperhatikan dan membuat malas dan akhirnya putus sekolah. Sedangkan faktor eksternal yakni ekonomi lemah, dimana pendapatan atau penghasilan orang tua yang tidak seberapa yang hanya bisa memenuhi kebutuhan hari-hari, pengaruh lingkungan teman sebaya membuat anak terpengaruh dimana linkungan tersebut banyak anak tidak sekolah karena telah mengalami putus sekolah.