Claim Missing Document
Check
Articles

Found 20 Documents
Search

FAKTOR RISIKO PENYEBAB KEJADIAN HIPERTENSI PADA USIA DEWASA MUDA DI RUMAH SAKIT IBNU SINA MAKASSAR TAHUN 2023 Abdillah, Muhammad Nizart; Sommeng, ⁠Faisal; Nur, Muh. Jabal; Wisudawan, Wisudawan; Tahir, ⁠Akina Maulidhany
Jurnal Kedokteran Mulawarman Vol 12, No 2 (2025): Jurnal Kedokteran Mulawarman
Publisher : Fakultas Kedokteran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30872/jkm.v12i2.19323

Abstract

Hipertensi, atau tekanan darah tinggi, merupakan masalah kesehatan global yang dapat menyebabkan komplikasi serius seperti penyakit jantung, stroke, dan gagal ginjal, terutama bila terjadi pada usia yang lebih muda. Komplikasi yang timbul bisa lebih berat dan menurunkan kualitas hidup. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi faktor-faktor risiko hipertensi pada usia dewasa muda (20-35 tahun) di Rumah Sakit Ibnu Sina Makassar tahun 2023. Metode penelitian menggunakan desain deskriptif observasional analitik dengan data sekunder dari rekam medis pasien. Dari 1.317 pasien hipertensi yang dirawat di rumah sakit ibnu sina terdapat 19 pasien hipertensi dengan usia kurang dari 35 tahun dan memenuhi kriteria inklusi. Dari hasil penelitian menunjukkan bahwa hipertensi sekunder sekitar 3 % dari total populasi hipertensi dan risiko penyebab hipertensi usia dewasa muda di rumah sakit ibnu sina makassar adalah hipertensi sekunder dengan adanya komorbid yang mendahului seperti gagal ginjal kronik, gagal ginjal akut, DM Tipe 2 yang secara statistik tidak bermakna (p>0,05) namun secara klinis terdapat perbedaan yang bermakna. Hal ini disebabkan oleh jumlah sampel yang kurang atau penelusuran yang lebih spesifik terhadap penyebab hipertensi di usia dewasa muda yang terbatas.
Infark Miokard di Indonesia: Tinjauan Literatur Terbaru terhadap Faktor Risiko, Karakteristik Klinis, Manajemen Keperawatan, dan Prediktor Prognostik Lutfillah Asshidiq; Wisudawan, Wisudawan; Theo Deus
JURNAL RISET RUMPUN ILMU KEDOKTERAN Vol. 4 No. 3 (2025): Desember : Jurnal Riset Rumpun Ilmu Kedokteran
Publisher : Pusat riset dan Inovasi Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55606/jurrike.v4i3.6653

Abstract

Acute myocardial infarction is a leading cause of death both in Indonesia and globally, with incidence rates remaining quite high. This disease is closely associated with various modifiable risk factors, including hypertension, diabetes mellitus, dyslipidemia, obesity, and smoking. Various literature reviews confirm that patients with myocardial infarction often have complex clinical conditions, especially when comorbidities worsen the prognosis and increase the burden on healthcare services. This study reviews the latest national literature on risk factors, clinical profiles, nursing management, prognostic predictors, and non-pharmacological interventions such as relaxation techniques. The analysis demonstrates the need for a comprehensive and integrative approach to the management of myocardial infarction patients. This includes early detection using clinical risk scores, intensive nursing interventions in severe cases such as Killip III NSTEMI, and the use of simple prognostic tools that are easily implemented in healthcare facilities. A supportive approach also plays a crucial role in improving patient comfort and adherence to therapy. The integration of these strategies is expected to improve clinical outcomes, reduce morbidity and mortality, and enhance patients' overall quality of life. This study emphasizes the importance of updating local evidence-based clinical practices tailored to the needs of the Indonesian healthcare system, so that the management of myocardial infarction does not only focus on medical therapy, but also on aspects of prevention, non-pharmacological interventions, and ongoing care.
Faktor Risiko Kejadian Infark Miokard Akut dengan Elevasi Segmen ST di Rumah Sakit Ibnu Sina Makassar Tahun 2022 Suhestin, Cristy Wanti; Mappahya, Ali Aspar; Nurhikmawati, Nurhikmawati; Wisudawan, Wisudawan; Safitri, Asrini
Jurnal Pendidikan Tambusai Vol. 8 No. 2 (2024)
Publisher : LPPM Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai, Riau, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jptam.v8i2.14830

Abstract

Infark miokard akut yang dikenal sebagai serangan jantung merupakan salah satu manifestasi klinis dari penyakit jantung koroner. Infark miokard akut adalah kerusakan jaringan miokard akibat iskemia yang hebat yang terjadi secara tiba-tiba. Infark Miokardium dengan Elevasi Segmen ST (IMA-EST) merupakan kejadian oklusi total pada pembuluh darah arteri koroner yang dapat menyebabkan infark luas pada miokardium dan ditandai dengan peningkatan segmen ST persisten minimal 2 sadapan yang bersebelahan pada elektrokardiogram. Infark miokard akut diderita oleh lebih dari 1 juta orang di Amerika Serikat dan menyebabkan lebih dari 7 juta kematian global (12,7% dari seluruh kematian) pada tahun 2008, serta sekitar 300.000 orang diperkirakan meninggal karena IMA sebelum sampai ke rumah sakit. Berdasarkan latar belakang tersebut diatas penulis tertarik untuk melakukan penelitian mengenai faktor risiko infark miokard akut dengan elevasi segmen ST di Rumah Sakit Ibnu Sina Makassar tahun 2022. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui apa saja yang menjadi faktor risiko infark miokard akut dengan elevasi segmen ST di Rumah Sakit Ibnu Sina Makassar tahun 2022. Penelitian ini menggunakan penelitian deskriptif dengan pendekatan cross-sectional dan teknik pengambilan sampel dilakukan dengan metode total sampling. Penelitian dilaksanakan di Rumah Sakit Ibnu Sina Makassar. Hasil penelitian menunjukkan bahwa didapatkan 48 sampel yang memenuhi kriteria dan didapatkan hasil dengan usia terbanyak yaitu pada kelompok usia 56-65 tahun yaitu sebanyak 24 orang (50%), laki-laki adalah populasi terbanyak yaitu 36 orang (75%), seluruh pasien memiliki riwayat keluarga yaitu 48 orang (100%), seluruh penderita memiliki riwayat kebiasaan merokok 36 orang (100%), dan pasien dengan riwayat penyakit komorbid terbanyak yaitu Diabetes Melitus 32 orang (36 %). Kesimpulannya penderita infark miokard akut elevasi segmen ST yang berobat di Rumah Sakit Ibnu Sina Tahun 2022 terbanyak terjadi pada usia lansia, laki-laki, memiliki riwayat keluarga, memiliki kebiasaan merokok, dan memiliki penyakit komorbid.
LAPORAN KASUS: HUBUNGAN HIPERTENSI TERHADAP KEJADIAN INFARK MIOKARD AKUT Eka Putra, Rezha; Wisudawan, Wisudawan
PREPOTIF : JURNAL KESEHATAN MASYARAKAT Vol. 8 No. 2 (2024): AGUSTUS 2024
Publisher : Universitas Pahlawan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/prepotif.v8i2.30047

Abstract

Hipertensi merupakan faktor predisposisi independen untuk gagal jantung, Penyakit Jantung Koroner (PJK), stroke, penyakit ginjal dan penyakit arteri perifer. Peningkatan dari tegangan yang disebabkan oleh tekanan darah tinggi pada dinding arteri memicu peningkatan akumulasi kolagen serta pengurangan, fragmentasi dan kerusakan dari serat elastin, sehingga akan meningkatkan percepatan dari perkembangan plak aterosklerotik, dan dapat berkembang menjadi iskemik miokard dan infark miokard. Kesimpulan:  Penatalaksanaan pada kasus infark miokard yang disertai dengan hipertnsi sebaiknya sesegera mungkin dilakukan penanganan awal untuk mencegah terjadinya resiko penyakit jantung lainnya, sehingga penting untuk melakukan penegakan diagnosa awal dalam hal ini anamnesa terpimpin dan pemeriksaan fisik
Karakterisktik Faktor Risiko Hipertensi di Makassar Tahun 2017 Nurhikmawati, Nurhikmawati; Ananda, Syatirah Rizky; Idrus, Hasta Handayani; Wisudawan, Wisudawan; Fattah, Nurfachanti
Wal'afiat Hospital Journal Vol 2 No 1 (2021): Wal'afiat Hospital Journal
Publisher : Rumah Sakit Ibnu Sina, Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (674.13 KB) | DOI: 10.33096/whj.v2i1.57

Abstract

Menurut American Heart Association (AHA) 2017, Hipertensi merupakan silent killer dimana gejala dapat bervariasi pada masing-masing individu dan hampir sama dengan gejala penyakit lainnya. Penelitian ini bertujuan mengetahui karakteristik faktor risiko hipertensi di Makassar tahun 2017. Penelitian ini menggunakan studi deskriptif. Sampel adalah semua pasien hipertensi yang masuk di Puskesmas Tabaringan, Jumpandang Baru, Layang, Andalas, Makkasau, Maccini Sawah, Mamajang, Pertiwi, Jongaya, Kassi-kassi, Batua, Tamangapa, Sudiang, Tamalanrea, Makassar mulai tanggal 1 Januari 2017 sampai 31 Desember 2017 sebanyak 1.528 yang memenuhi kriteria inklusi dan ekslusi. Teknik sampling yang digunakan adalah accidental sampling. Dari 1.528 subjek penelitian didapatkan paling banyak usia lebih dari 50 tahun sebanyak 872 orang (57.05), dengan jenis kelamin paling banyak adalah perempuan sebanyak 956 orang (62.57%). Subjek yang memiliki riwayat keluarga hipertensi sebanyak 756 orang (49.47%). Pekerjaan paling banyak dengan kategori sangat berat sebanyak 656 orang (42.94%). Selain itu ditemukan sampel dengan jarang konsumsi garam sebanyak 875 orang (57.27%). Pada sampel ini juga ditemukan penderita hipertensi yang terbanyak termasuk kategori perokok pasif sebanyak 1.002 orang (65.58%). Dari gaya hidup yang mengalami hipertensi lebih banyak yang tidak pernah konsumsi alkohol sebanyak 1.478 orang (96.72%). Subjek yang mengalami hipertensi dan mengalami obesitas sebanyak 861 orang (56.35%), dan lebih banyak pada sampel yang jarang olahraga sebanyak 1.104 orang (72.25%). Selain itu, ditemukan juga subjek yang mengalami hipertensi lebih banyak pada sampel yang tidak pernah mengalami mendengkur sebanyak 877 orang (57.4%). Penderita hipertensi di Makassar paling banyak pada usia lebih dari 50 tahun, perempuan, tidak memiliki riwayat keluarga hipertensi, pekerjaan tergolong kategori sangat berat, jarang konsumsi garam, sering konsumsi lemak, perokok pasif, tidak pernah konsumsi alkohol, obesitas, jarang olahraga, dan tidak pernah mengalami mendengkur.
Minuman Berisotonik Berpengaruh Terhadap Sistem Kardiovaskuler Pada Aktivitas Fisik Anggota Medical Sport Nurhikmawati, Nurhikmawati; Wisudawan, Wisudawan; Ikram, Dzul; Rachman, Ismi
Wal'afiat Hospital Journal Vol 2 No 2 (2021): Wal'afiat Hospital Journal
Publisher : Rumah Sakit Ibnu Sina, Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33096/whj.v2i2.84

Abstract

Physical activity will increase the pulse rate caused by reduced oxygen consumption. Isotonic drinks are one way to restore lost body fluids so that the body avoids dehydration and extends muscle endurance. This study was conducted to determine the effect of isotonic drinks on the cardiovascular system on the physical activity of members of the medical sport FK-UMI. This research is research that uses a comparative analytical research design using a cross-sectional approach. Data analysis by comparing isotonic drinks and mineral water at 7 minutes was obtained (p less than 0.05). The results of the research showed that there was a significant difference in pulse rate, in which the recovery of pulse rate by giving isotonic drinks was better than the recovery of pulse rate by giving water. In this study, there was an effect of giving mineral water and isotonic drinks on the recovery pulse whereas isotonic drinks were better than the pulse recovery with water. The conclusion of the research is to know the effect of isotonic drinks on the cardiovascular system on the physical activity of members of the medical sport FK-UMI. It is recommended to apply the habit of consuming isotonic drinks when doing physical activities.
Karakteristik Pasien Hipertensi Pada Usia kurang dari 45 Tahun Di Klinik Kimia Farma Pada Juli Tahun 2023 Aulia, Aidina Trini; Mappahya, AliAspar; Nurhikmawati, Nurhikmawati; Wisudawan, Wisudawan; Ardiansar, Abdul Mubdi
Wal'afiat Hospital Journal Vol 4 No 2 (2023): Wal'afiat Hospital Journal
Publisher : Rumah Sakit Ibnu Sina, Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33096/whj.v4i2.126

Abstract

Hypertension is a disorder that occurs in the blood vessels which will result in the intake of oxygen and nutrients below the blood being hampered from reaching the body tissues that need it. Most cases of hypertension in Indonesia occur in the age group 18 years and over with a percentage of 25.80%. The aim of this research is to determine the factors that cause hypertension at ages less than 45 years. This research is quantitative with a descriptive analytical design. Data was collected primarily by interviewing patients and the results were analyzed using SPSS. Research results: In relation to gender with age, occupation, body mass index, family history, and comorbidities, it was shown that women had higher hypertension than men. In addition, most hypertensive patients live in Ujung Pandang and have jobs and comorbidities, thereby increasing the risk of hypertension.
Insiden Syok Neurogenik pada Pasien dengan Cedera Tulang Belakang Shaleh, Humairah; Rachman, Moch Erwin; Wisudawan, Wisudawan; Muchsin, Achmad Harun; Maricar, Fadillah
Wal'afiat Hospital Journal Vol 4 No 2 (2023): Wal'afiat Hospital Journal
Publisher : Rumah Sakit Ibnu Sina, Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33096/whj.v4i2.127

Abstract

Neurogenic shock is mostly associated with cervical and thoracic spine injuries. Neurogenic shock after complete spinal cord injury is difficult to treat and the prognosis remains severe most of the time. Research objectives iThis is to find out the incidence of neurogenic shock in patients with spinal cord injuries based on the location of the injury and the patient's mortality.This type of research uses the methodnarrative reviewand data collection was carried out from several literatures in accredited international journals. The results showed that neurogenic shock was 13.0% in living patients and 38.0% of patients who died after experiencing traumatic spinal cord injury and the incidence of neurogenic shock based on the location of the injury, Ruiz et al., in Canada as much as 29.1% cervical 18.5% thoracic. Wechtet al., in the United States as many as 38.7% cervical, 22.2% high thoracic, 22.7% low thoracic. Gulyet al., in England, 19.3% cervical, 7.0% thoracic, 3.0% lumbar. Ravensbergenet al., in the Netherlands as much as 45.6% cervical, 26.3% thoracic, 23.8% lumbar. Katzelnicket al., in the United States, as many as 11% cervical, 8% high thoracic, 0% low thoracic. Based on the results of a review of some of the literature, it can be concluded that the incidence of neurogenic shock in patients with spinal cord injuries based on the location of the injury was mostly at the cervical level and based on the patient's mortality status, it was found that more patients died after experiencing traumatic spinal cord injury.
Pengaruh Aktivitas Fisik Terhadap Kejadian Gagal Jantung Kongestif Di RS Ibnu Sina Makassar Tahun 2022 Iswahyudi, Andi Alfiyah Az-Zahro; Wisudawan, Wisudawan; Darma, Sidrah; Nurhikmahwati, Nurhikmahwati; Nurmadilla, Nesyana
Innovative: Journal Of Social Science Research Vol. 4 No. 1 (2024): Innovative: Journal Of Social Science Research
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/innovative.v4i1.8909

Abstract

Latar Belakang: Gagal Jantung Kongestif adalah kumpulan gejala kompleks akibat adanya gangguan pada proses kerja jantung, baik secara struktural maupun fungsional. Upaya untuk meningkatkan kapasitas fungsional dengan melakukan latihan fisik. Tujuan: Mengetahui pengaruh aktivitas fisik terhadap kejadian gagal jantung kongestif di RS Ibnu Sina Makassar tahun 2022. Metode: Penelitian ini menggunakan desain penelitian observasional dengan  pendekatan cohort retrospektif berdasarkan data primer melalui wawancara dengan kuesioner terstruktur IPAQ (International Physical Activity Questionnare). Hasil: Di dapatkan 28 pasien terdiagnosis gagal jantung kongestif sebanyak 16 orang berjenis kelamin laki-laki (57.1%), mayoritas pada kelompok usia 55-65 tahun sebanyak 13 orang (46.4%), 14 orang melakukan aktivitas fisik sedang (50%), 13 orang melakukan aktivitas fisik rendah (46.4%) dan 1 orang melakukan aktivitas fisik berat (3.6%) dan terdapat hubungan bermakna antara hubungan usia dengan aktivitas fisik dengan nilai p-value 0.031 (p-value < 0.05). Di dapatkan 28 pasien terdiagnosis gagal jantung kongestif berdasarkan klasifikasi NYHA dimana mayoritas berada pada kelas 2 dengan jumlah 24 orang (85,7%) dan 4 orang berada pada kelas 1 (14.3%). 28 pasien terdiagnosis Gagal Jantung Kongestif berdasarkan berdasarkan aktivitas fisik, dimana sebanyak 24 orang berada pada NYHA kelas 2. Sebanyak 11 orang melakukan aktivitas fisik rendah (45.8%), 12 orang melakukan aktivitas fisik sedang (50%) dan 1 orang melakukan aktivitas fisik berat (4.2%). Berdasarkan hasil perhitungan Chi-square diperoleh p-value = 0.914 < α = 0,05 (nilai p-value lebih besar dari α = 0,05). Hal ini berarti terdapat hubungan yang signifikan antara Hubungan Jenis Kelamin Pasien Jantung Kongestif dengan Aktivitas Fisik yang dilakukan pasien Gagal Jantung Kongestif di RS Ibnu Sina Makassar. Kesimpulan: Pasien terdiagnosis gagal jantung kongestif dari 28 pasien mayoritas berjenis kelamin laki-laki, kelompok usia 55-65 tahun dan berdasarkan tingkat aktivitas fisik paling banyak melakukan aktivitas fisik sedang.
THE RELATIONSHIP OF HYPERTENSIVE HEART DISEASE (HHD) TO THE INCIDENCE OF CORONARY HEART DISEASE IN 2023 AT IBNU SINA HOSPITAL, MAKASSAR CITY Nurkhaliza, A.; Wisudawan, Wisudawan; Basri, Rezky Pratiwi L.; Kanang, Indah Lestari Dg; Tahir, Akina Mauldhany
HEARTY Vol 13 No 6 (2025): DESEMBER
Publisher : Fakultas Ilmu Kesehatan, Universitas Ibn Khaldun, Bogor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32832/hearty.v13i6.18497

Abstract

Background: Hypertensive heart disease (HHD) is a long-term consequence of chronic high blood pressure. Persistent high blood pressure is a major risk factor for the development of heart diseases such as atherosclerotic disease, heart failure, atrial fibrillation, and coronary heart disease. Objective: To determine the relationship of Hypertensive Heart Disease (HHD) to the incidence of Coronary Heart Disease (CHD) in 2023 at Ibnu Sina Hospital Makassar City. Methods: Analytic observational research with cross sectional method. Results: HHD patients who suffered from CHD were 29 people (38.7%), while HHD patients who did not suffer from CHD were 46 people (61.3%) p value of 0.735 with chi-square test. Conclusion: There is no significant relationship between Hypertensive Heart Disease (HHD) and the incidence of Coronary Heart Disease.