Claim Missing Document
Check
Articles

Found 19 Documents
Search

Meretas Waktu, Menggores Tinta: Pelestarian Kawasan Bersejarah Lobang Jepang Kelurahan Gunung Pangilun Sebagai Salah Satu Destinasi Pariwisata Sejarah Kota Padang Ike Revita; Dhiant Asri; Rika Handayani; Ana Fitri Ramadani; Selfi Mahat Putri; Rizky Amelya Furqan
ABDI: Jurnal Pengabdian dan Pemberdayaan Masyarakat Vol 5 No 2 (2023): Abdi: Jurnal Pengabdian dan Pemberdayaan Masyarakat
Publisher : Labor Jurusan Sosiologi, Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Padang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24036/abdi.v5i2.465

Abstract

Tujuan dari Pengabdian kepada Masyarakat adalah untuk memberikan pengetahuan dan kesadaran masyarakat terhadap potensi yang mereka miliki, salah satunya berkaitan dengan situs bersejarah. Dengan demikian masyarakat perlu mengetahui dan mengekspos situs budaya ataupun sejarah yang mereka miliki. Pemeliharaan situs sejarah juga akan mengingkatkan kedasaran kesejarahan dalam diri individu guna membangun rasa nasionalisme dan pelestarian dari peninggalan sejarah Lobang Jepang di Kelurahan Tabiang Banda Gadang Kecamatan Nanggalo. Metode pelaksanaan Pengabdian kepada Masyarakat yaitu pengambilan data yang dilaksanakan dengan menggunakan metode sejarah dan sosialisasi yang dilaksanakan kepada masyarakat. Hasil dari pengabdian tersebut menunjukan bahwasannya Lobang Jepang di Kelurahan Tabiang Banda Gadang memiliki nilai sejarah, sehingga nantinya keberadaan situs ini dapat menjadi salah satu tujuan dari destinasi wisata kesejarahan di Kota Padang. Keberadaan situs bersejarah Lobang Jepang ini juga dapat dijadikan sebagai salah satu sarana untuk meningkatkan rasa nasionalisme pada diri masyarakat Kelurahan Tabiang Banda Gadang.
Sulawesi’s Local Culture on Puya ke Puya and Natisha Persembahan Terakhir Novel: Simulacra Process Rizky Amelya Furqan; Selfi Mahat Putri; Armini Arbain
SUAR BETANG Vol 18, No 2 (2023): December 2023
Publisher : Balai Bahasa Kalimantan Tengah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/surbet.v18i2.14674

Abstract

The influence of developments over time has caused traditions and culture in society to begin to be marginalized because they are considered unreasonable or pre-logical. However, currently many parties are starting to revive the tradition, including the government through tourism and involving writers. Apart from that, writers also express traditions through literary works. This can be seen in the novels Puya ke Puya and Natisha Persembahan Terakhir. The traditions described are people's beliefs about the rambu solo and parakang ceremonies. However, the traditions depicted have been influenced by developments over time so that the traditions depicted are no longer traditions that are believed to be considered sacred like previous societies. Therefore, we can see the depiction of the existence of a tradition through a literary work. The research method used is the literary anthropology approach which discusses the relationship between literature, anthropology and culture. This research aims to see how traditions and culture exist in literary works. The result of this research is that there is a simulakra process of Sulawesi culture in the literary works of the two authors. Apart from that, there is criticism conveyed by the author towards the culture that develops through the response of society as depicted in the characters. Thus, it can be concluded that the culture presented in literary works through the simulakra process does not just introduce culture, but also criticizes society's response to cultural developments. Abstrak Pengaruh perkembangan zaman menyebabkan tradisi dan budaya yang ada di dalam masyarakat mulai dimarginalkan karena dianggap tidak masuk di akal atau bersifat pralogis. Namun, saat ini banyak pihak mulai menyuarakan kembali tradisi, di antaranya pemerintah melalui pariwisata dengan melibatkan sastrawan. Selain itu, sastrawan juga menyuarakan tradisi melalui karya sastra. Hal itu terlihat dalam novel Puya ke Puya dan Natisha Persembahan Terakhir. Tradisi yang digambarkan adalah kepercayaan masyarakat tentang upacara rambu solo dan parakang. Namun, tradisi yang digambarkan telah dipengaruhi oleh perkembangan zaman sehingga bukan lagi merupakan tradisi yang dipercaya dan dianggap sakral seperti anggapan masyarakat sebelumnya. Oleh karena itu, dapat dilihat penggambaran eksistensi sebuah tradisi melalui sebuah karya sastra. Metode penelitian yang digunakan adalah pendekatan antropologi sastra yang membahas keterkaitan sastra, antropologi, dan budaya. Penelitian ini bertujuan melihat bagaimana tradisi dan budaya yang ada dalam karya sastra. Hasil penelitian menunjukkan adanya proses simulakra kebudayaan Sulawesi dalam karya sastra kedua pengarang. Selain itu, terdapat kritik yang disampaikan pengarang terhadap kebudayaan yang berkembang melalui respons masyarakat yang tergambar dalam tokoh. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa kebudayaan yang dihadirkan dalam karya sastra melalui proses simulakra tidak sekadar memperkenalkan kebudayaan, tetapi juga mengkritisi respons masyarakat terhadap perkembangan kebudayaan tersebut.
Category and Syntactic Functions in the Collocation of the Words Wabah and Pandemic: A Corpus Linguistics Overview Aditya Rachman; Rizaldy Hanifa; Ayu Gustia Ningsih; Selfi Mahat Putri; Ridha Hasnul Ulya
AL-ISHLAH: Jurnal Pendidikan Vol 16, No 2 (2024): AL-ISHLAH: JURNAL PENDIDIKAN
Publisher : STAI Hubbulwathan Duri

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35445/alishlah.v16i2.4772

Abstract

The COVID-19 pandemic has transformed many aspects of life, including language. Words such as 'outbreak' and 'pandemic' frequently appear in COVID-19-related news, and both carry similar meanings in referring to the rapid spread of contagious diseases that affect a large number of people in extensive areas. Although these terms are often used interchangeably, it remains unclear how they are employed in various sentence contexts. This research aims to analyze the categories and syntactic functions of the collocation of the words 'outbreak' and 'pandemic' in the Nusantara Corpus using a corpus linguistics method. The study utilizes a combined quantitative and qualitative approach to examine the collocation of 'outbreak' and 'pandemic' in the Nusantara Linguistic Corpus. Data analysis is based on corpus linguistic theory and collocation theory. The research findings indicate that the collocation of 'outbreak' and 'pandemic' words is identified in the Nusantara corpus. The frequency of the word 'outbreak' reaches 195 occurrences, while 'pandemic' appears 1,229 times. Therefore, it can be concluded that the collocation of 'outbreak' and 'pandemic' words can be syntactically categorized as verbs, nouns, adjectives, and prepositions. Moreover, in terms of syntactic functions, the collocation of 'outbreak' and 'pandemic' is classified as subjects, objects, complements, and adverbials. This research can be implemented in the use of 'outbreak' and 'pandemic' collocations in sentence construction by considering categories and syntactic functions to avoid semantic errors based on the correct context.
Code-switching and Code-mixing in the Conversation between President Joko Widodo and Nadiem Makarim on the State Secretariat Youtube Channel Rahman, Aditya; Putri, Selfi Mahat; Putri, Diantri Seprina; Henanggil, Mita Domi Fella; Sari, Hanifah Yulia
Proceeding International Conference on Malay Identity Vol. 4 (2023): Desember 2023
Publisher : Jurusan Sejarah, Seni, dan Arkeologi, FKIP, Universitas Jambi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Code-switching and code-mixing are common phenomena in multilingual societies, such as Indonesian society. This study aims to describe the code-switching and code-mixing in the conversation between President Joko Widodo and Nadiem Makarim on the State Secretariat Youtube Channel. The study employed a qualitative research method with observation and note-taking techniques to collect data. The data was analyzed using qualitative data analysis, which includes data reduction, data presentation, and conclusion drawing. The results showed that there were code-switching and code-mixing in the conversation between President Joko Widodo and Nadiem Makarim. The code-switching in the conversation involved switching from Indonesian to Arabic, Sanskrit, and Javanese. Meanwhile, code-mixing involved the insertion of English and Arabic words into Indonesian sentences.
Pengaruh Nilai Islam pada Visual Pakaian Pengantin Adat Minangkabau Koto Gadang Akbar, Taufik; Imelda, Desra; Prameswari, Nadia Sigi; Putri, Selfi Mahat
ANDHARUPA: Jurnal Desain Komunikasi Visual & Multimedia Vol. 8 No. 02 (2022): June 2022
Publisher : Dian Nuswantoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33633/andharupa.v8i02.5268

Abstract

Abstrak Pakaian pengantin tradisional Koto Gadang merupakan salah satu produk seni budaya Minangkabau yang identik dengan nilai Islam. Walaupun bukan sebagai tempat masuknya Islam di Minangkabau dan Sumatera Barat tetapi masyarakat Koto Gadang mampu mencerminkan nilai Islam yang kuat pada visual pakaian pengantin yang khas. Penelitian ini adalah sebuah pengamatan visual tentang nilai-nilai Islam yang diwakili melalui pakaian pengantin Koto Gadang. Pengamatan dilakukan dengan pendekatan etnografis Spradley melalui analisis elemen dan komponen visual pakaian pengantin Koto Gadang serta didukung oleh teori semiotika dyadic Ferdinand De Saussure. Hasil penelitian menunjukan pengaruh nilai-nilai Islam pada busana mempelai wanita terdiri dari telekung, baju kurung, dan sarung kodek. Pada pakaian mempelai pria pengaruh Islam terlihat jelas pada atribut penutup kepala yang disebut deta ameh gadang dan kain penutup celana yang disebut sesamping. Penelitian ini dapat menambah studi tentang pengaruh sosio-kultural terhadap karya seni, khususnya di Sumatera Barat. Kata Kunci: budaya Minangkabau, nilai Islam, pakaian pengantin, Koto Gadang, etnografi AbstractThe Koto Gadang traditional wedding dress is one of the Minangkabau’s cultural arts product that are identical to Islamic values. Although not as a place for the entry of Islam in Minangkabau and West Sumatra, the Koto Gadang community is able to reflect strong Islamic values in the visuals of a distinctive wedding dress. This research is a visual observation about the Islamic values represented through the Koto Gadang wedding dress. Observations performed with an ethnographic approach through a process of Spradley’s visual components analyzing in the Koto Gadang wedding dress and also supported by the dyadic semiotics theory of Ferdinand De Saussure.The result of the analysis show that there are influences of Islamic values in trousseau consist of telekung, baju kurung, and kodek sarong. In the groom's clothes, the influence of Islamic values clearly visible in turban called deta ameh gadang and the cloth covering pants called sesamping. This research is expected to contribute to the study of socio-cultural influences in artworks, particularly in West Sumatra. Keywords: ethnographic, Islamic values, Koto Gadang, Minangkabau culture, wedding dress
Bertahan Hidup dalam Bencana: Peran Perempuan Minang Pasca Gempa Bumi 2009 di Padang Sumatera Barat Putri, Selfi Mahat; Fitri Ramadani, Ana; Amelia Furqon, Rizky; Zulqaiyyim, Zulqaiyyim
Jurnal Pattingalloang Vol 11, No. 1, April 2024
Publisher : Universitas Negeri Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26858/pattingalloang.v11i1.56868

Abstract

Padang City, West Sumatra is one of the areas that is prone to earthquake and tsunami disasters. One of the biggest disasters that hit this city was the earthquake of September 30, 2009, which had a wide impact on the people of West Sumatra, especially Padang City. This study aims to analyze the role of Minang women in post-earthquake recovery in 2009 in Padang, West Sumatra. This study uses historical methods with data sources from literature studies and interviews. The results of this study show that Minang women are not only vulnerable victims of disasters, but also agents of change in the family and society. Minang women became the backbone of the family when men (husbands) lost their jobs or income sources due to disasters. Minang women also play an active role in earning a living, helping the rehabilitation and reconstruction process.Keywords: Earthquake, Padang, Role, Women, Minang
Berhias Setelah Bencana: Perubahan Ruang Kota Padang Pasca Gempa Putri, Selfi Mahat; Ramadani, Ana Fitri; Zulqaiyyim, Zulqaiyyim; Furqon, Rizky Amelia
Titian: Jurnal Ilmu Humaniora Vol. 6 No. 2 (2022): Desember 2022
Publisher : Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Jambi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22437/titian.v6i2.21969

Abstract

Abstract: Artikel ini mejelaskan perubahan fungsi ruang kota yang terjadi di Kota Padang pasca gempa 2009. Sejauh mana perubahan ruang kota tersebut mempengaruhi bentuk kota dan kehidupan masyarakat Kota Padang. Pada akhirnya akan terlihat bagaimana bencana gempa yang terjadi di Kota Padang tahun 2009 mempengaruhi perubahan ruang kota terutama ruang pemerintahan, ruang ekonomi, dan ruang publik di Kota Padang. Penelitian ini melihat bagaimana pembentukan ruang kota pasca bencana gempa di Kota Padang berdampak terhadap kehidupan masyarakat serta kebijakan yang dikeluarkan oleh pemerintah kota. Apakah perubahan ruang kota tersebut sesuai dari segi keamanan dari bencana gempa dan tsunami yang mengancam Kota Padang. Data yang diperoleh merupakan hasil dari penggalian informasi melalui sumber-sumber sejarah. Pertama, sumber setempat dan sejaman; Kedua, sumber setempat dan tidak sejaman. Selain itu, dilakukan wawancara dengan para informan yang memiliki hubungan terkait permasalahan dalam penelitian ini. Tujuan dari penelitian ini yaitu untuk memberikan kontribusi yang mendasar bagi bidang ilmu sosial-humaniora, terutama memberikan masukan terhadap kebijakan pemerintah terutama dalam pembentukan ruang kota pasca bencana gempa di Kota Padang. Kata Kunci : Bencana, Kota, Ruang Kota, Padang, Masyarakat.
Alih dan Campur Kode Pada Konten Podcast Pandeka di Noice dalam Perspektif Kajian Sosiolinguistik Rachman, Aditya; Putri, Nofrilia; Ridha Hasnul Ulya; Hanifah Yulia Sari; Diantri Seprina Putri; Selfi Mahat Putri
Jurnal Ilmiah Pendidikan Scholastic Vol. 8 No. 3 (2024): Jurnal Ilmiah Pendidikan Scholastic
Publisher : Fakultas Sastra Universitas Ekasakti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36057/jips.v8i3.702

Abstract

Fenomena alih kode dan campur kode menjadi salah satu kajian penting dalam sosiolinguistik, terutama di masyarakat multibahasa seperti Indonesia. Penelitian ini menganalisis alih kode dan campur kode yang terjadi dalam Podcast Pandeka di platform Noice. Alih kode merujuk pada perpindahan antarbahasa secara sengaja atau tidak sengaja, sementara campur kode mencakup penyisipan unsur bahasa lain ke dalam bahasa utama. Dalam konteks Podcast Pandeka, fenomena ini melibatkan bahasa Indonesia, bahasa daerah (Minang), dan bahasa Inggris. Hasil penelitian menunjukkan bahwa alih kode dominan terjadi dari bahasa Indonesia ke bahasa Minang atau Inggris untuk menyesuaikan situasi, menegaskan identitas budaya, atau menciptakan humor. Sebaliknya, campur kode lebih banyak digunakan untuk memperjelas makna, memperkuat emosi, atau meningkatkan daya tarik percakapan. Faktor situasional, identitas sosial, pragmatis, dan kebiasaan multibahasa menjadi pendorong utama terjadinya kedua fenomena ini. Secara teoretis, alih kode dan campur kode dalam podcast ini mencerminkan relevansi teori akomodasi komunikasi, identitas sosial, dan relevansi pragmatis dalam interaksi multibahasa. Kedua fenomena ini berfungsi tidak hanya sebagai alat komunikasi, tetapi juga sebagai sarana untuk menegaskan identitas sosial dan budaya dalam masyarakat multibahasa. Penelitian ini memberikan wawasan tentang hubungan antara bahasa, budaya, dan identitas dalam komunikasi multibahasa, serta menegaskan pentingnya pendekatan sosiolinguistik dalam memahami dinamika bahasa di era modern. Temuan ini diharapkan dapat memperkaya kajian linguistik, khususnya dalam konteks media digital.
Padang dan Gempa: Respon Masyarakat Terhadap Gempa 2004-2009 Ramadani, Ana Fitri; Putri, Selfi Mahat; Zulqaiyyim, Zulqaiyyim
Proceeding International Conference on Malay Identity The 2nd International Seminar on Language, Literature, Education, Arts and Culture
Publisher : Jurusan Sejarah, Seni, dan Arkeologi, FKIP, Universitas Jambi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Masyarakat Kota Padang awalnya tidak mengalami rasa ketakutan dalam menghadapi bencana gempa yang sudah sering dirasakan warga Kota Padang. Namun, setelah terjadinya gempa dan tsunami yang menerjang Aceh pada tahun 2004 lalu, berdampak kepada perubahan psikologis dan pola fikir masyarakat terhadap gempa dan evakuasi diri. Jika dahulu masyarakat menganggap gempa hanya sebuah hal yang biasa, namun setelah peristiwa Aceh masyarakat Kota Padang menganggap hal tersebut sebagai sebuah momok dalam kehidupan mereka. Reaksi tersebut ternyata bukan saja pengaruh dari banyaknya korban jiwa yang jatuh pada peristiwa gempa dan tsunami Aceh, namun lebih kepada peran media dalam menyiarkan sebuah berita. Sehingga potonga-potongan bencana yang disiarkan menjadi sebuah momok yang kemudian menghantui masyarakat Kota Padang.