Claim Missing Document
Check
Articles

Found 22 Documents
Search

Mitologi dan Sistem Penamaan Padi Ladang pada Masyarakat Tolaki: Pendekatan Etno-Ekologi terhadap Kearifan Lokal di Desa Pamandati, Konawe Selatan, Sulawesi Tenggara Zainal; Sarlan Adi Jaya; Laxmi; Erens Elvianus Koodoh; Abdul Jalil; Danial
Journal of Innovative and Creativity Vol. 5 No. 2 (2025)
Publisher : Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/joecy.v5i2.1738

Abstract

Penelitian ini mengkaji mitologi dan sistem penamaan padi ladang di kalangan masyarakat Tolaki yang tinggal di Desa Pamandati, Konawe Selatan, Sulawesi Tenggara, dengan pendekatan etno-ekologi. Dengan menggunakan metode etnografi, penelitian ini mengupas bagaimana mitologi berfungsi sebagai dasar kosmologis untuk praktik pertanian dan sistem pengetahuan tradisional dalam mengklasifikasikan varietas padi lokal. Hasil penelitian mengungkapkan dua temuan utama: Pertama, ada dua narasi mitologis yang saling melengkapi, yaitu mitologi tujuh anak Adam yang menghasilkan tiga jenis padi (putih, ketan, dan hitam) melalui konsep transformasi dan pengorbanan, serta mitologi padi dari pucuk bambu muda yang menekankan pentingnya kerjasama antarspesies antara manusia dan tikus. Kedua mitologi ini berfungsi sebagai charter myth yang memberikan legitimasi pada praktik pertanian dan identitas budaya Tolaki. Kedua, sistem klasifikasi etnobiologi mencakup 71 varietas padi ladang dengan sistem penamaan yang terstruktur berdasarkan enam kategori: asal geografis, karakteristik morfologi, analogi dengan organisme lain, sifat agronomi, nilai budaya, dan nama personal. Sistem penamaan ini berperan sebagai media penyimpanan pengetahuan ekologi tradisional yang menyimpan informasi tentang karakteristik, asal-usul, dan nilai budaya dari setiap varietas. Penelitian ini memberikan kontribusi pada pemahaman akan pentingnya integrasi pengetahuan tradisional dalam upaya konservasi keanekaragaman hayati dan pelestarian warisan budaya lokal.
Penguatan Kapasitas Bagi Mahasiswa Program Mata Kuliah Antropologi Kehutanan untuk Mensosialisasikan (HAM) Hak Asasi Manusia Bidang Kehutanan dan Lingkungan Laxmi; Sarlan Adi Jaya; Harnina Ridwan; Abdul Alim; Aslim
Jurnal Bersama Pengabdian Kepada Masyarakat (SAMAMAS) Vol. 1 No. 2 (2025): Juni 2025
Publisher : Yayasan Literasi Sains Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55123/samamas.v1i2.296

Abstract

This community service activity aims to find out how human rights institutions play a role in maintaining and protecting community rights, especially in the context of forestry. The background of this activity stems from the fact that PUSPA HAM, as an institution that focuses on human rights issues in Southeast Sulawesi, is an appropriate destination to understand how forestry and human rights issues are interrelated. This activity involved observation, interviews, discussions, questions and answers and lectures as well as assistance from the PKM team. The results showed that PUSPA HAM has several activities that are effective in addressing human rights issues in Southeast Sulawesi. These activities include human rights education for the community, advocacy for human rights violations, monitoring and evaluation of human rights implementation in Southeast Sulawesi. In carrying out its activities, PUSPA HAM Southeast Sulawesi has shown a strong commitment to fighting for the rights of indigenous peoples and local communities. It has become one of the leading human rights organizations in Southeast Sulawesi. This activity involves collaboration between universities, non-governmental organizations (NGOs), and government agencies, including PUSPA HAM (Center for Strengthening and Protecting the Rights of Indigenous and Local Communities), WALHI, and the Forestry Service. This collaboration aims to increase awareness and understanding of human rights in Southeast Sulawesi. PUSPA HAM faces challenges in gaining support from the government. The government has policies that do not support human rights in Southeast Sulawesi. In the face of these challenges PUSPA HAM has shown a strong commitment to fighting for the rights of indigenous peoples and local communities.