Claim Missing Document
Check
Articles

Found 38 Documents
Search

Alih Kode dan Campur Kode dalam Akun Instagram @affarmakarim_ Gitsna Luluil Azminah; Dayudin Dayudin; Yadi Mardiansyah
JURNALISTRENDI : JURNAL LINGUISTIK, SASTRA, DAN PENDIDIKAN Vol 10 No 1 (2025)
Publisher : Universitas Nahdlatul Wathan Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51673/jurnalistrendi.v10i1.2414

Abstract

Perkembangan media sosial telah menciptakan ruang baru bagi fenomena kebahasaan, khususnya alih kode dan campur kode pada penutur bilingual. Permasalahan penelitian ini adalah bagaimana fenomena alih kode dan campur kode termanifestasi dalam konteks komunikasi digital lintas budaya Indonesia-Arab. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi bentuk-bentuk alih kode dan campur kode dalam akun Instagram @affarmakarim_ dan mendeskripsikan faktor-faktor yang mempengaruhi terjadinya fenomena tersebut. Metode penelitian menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif dengan teknik simak catat untuk mengumpulkan data percakapan dalam video reels periode Juni 2023-Mei 2024. Analisis data dilakukan menggunakan metode agih untuk mengklasifikasikan bentuk-bentuk alih kode dan campur kode, serta metode padan untuk menganalisis faktor-faktor penyebabnya berdasarkan konteks sosial dan situasional. Hasil penelitian menunjukkan dominasi alih kode ke luar (external code switching) antara bahasa Indonesia-Arab, serta campur kode ke luar (outer code mixing) dan ke dalam (inner code mixing). Faktor-faktor yang mempengaruhi meliputi lawan tutur, kehadiran orang ketiga, perubahan topik pembicaraan, penutur, dan peralihan situasi formal-informal. Implikasi penelitian ini memperkaya kajian sosiolinguistik digital dengan memberikan pemahaman tentang penggunaan bahasa bilingual dalam media sosial, yang bermanfaat untuk strategi komunikasi lintas budaya dan pembelajaran bahasa kedua di era digital
Roman Jakobson's Semiotic Theory in revealing the Function of the Prophet's Communication Language Frida Anggraini; Dayudin Dayudin; Yadi Mardiansyah
Al-Irfan : Journal of Arabic Literature and Islamic Studies Vol. 8 No. 1 (2025)
Publisher : Sekolah Tinggi Agama Islam Darul Ulum Banyuanyar Pamekasan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58223/al-irfan.v8i1.364

Abstract

Language is a tool of communication to convey understanding between the sender and the receiver of the message. Semiotic communication according to Roman Jakobson emphasizes the relationship between sign, meaning, and context. This research analyzes the function of language in the communication of the Prophet Muhammad SAW in the book Khulashoh Nurul Yaqin using Roman Jakobson's semiotic theory. This research uses a descriptive approach aimed at describing and interpreting phenomena through descriptive narratives in the analysis of language functions through speech. Using library research and note-taking methods as data collection techniques. The main focus of the research is the six functions of language, namely referential, emotive, poetic, phatic, conative, and metalingual. And the actions of the Prophet Muhammad SAW in various conditions when preaching. This research concludes that the communication of the Prophet Muhammad SAW, both verbal and non-verbal, encompasses referential, emotive, poetic, phatic, conative, and metalingual functions. His actions emphasized justice, honor, and exemplary conduct, teaching discipline, compassion, and unity. The Prophet Muhammad's SAW teachings through words and concrete actions built a civilized and compassionate society, becoming an eternal example for the community
Harmonisasi Rima dan Ritme pada Qosidah Huruf Mim dalam Diwan Al-Habsyi Karya Habib Ali bin Muhammad Al-Habsyi Ihda Shafaun Mahrifani; Dayudin; Nurlinah
Hijai - Journal on Arabic Language and Literature Vol 9 No 1 (2026): Hijai - Journal on Arabic Language and Literature
Publisher : Bahasa dan Sastra Arab, Fakultas Adab dan Humaniora, UIN Sunan Gunung Djati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15575/hijai.v9i1.13607

Abstract

ABSTRAK Habib Ali bin Muhammad Al-Habsyi merupakan seorang ulama asal Seiwun, Hadhramaut Yaman. Syairnya yang dikumpulkan dalam Diwan Al-Habsyi atau dikenal dengan Diwan Jauharul Maknun wa Sirril Mashun adalah salah satu karyanya yang luar biasa. Kitab ini memuat berbagai qosidah yang mempunyai makna yang tinggi dan luar biasa, sehingga setiap yang membacanya merasakan emosi, imajinasi, dan perasaan yang kuat pada setiap baitnya. Dalam penyusunannya, setiap syair tidak lepas dari aturan kaidah ilmu arudh dan qowafi. Untuk meninjau lebih lanjut pola syair tersebut, penelitian ini menggunakan metode deskriptif analitis dengan menggunakan pendekatan kajian ilmu arudh dan qowafi. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa terdapat beberapa qosidah yang mengalami perubahan dari pola syair yang telah ditetapkan berupa perubahan ‘ilat maupun zihaf. Begitupun pada bentuk qofiyah, huruf qofiyah, harokat qofiyah, jenis qofiyah, nama qofiyah dan uyub qofiyah. Kata Kunci: Rima, Ritme, Qosidah Huruf Mim, Diwan Al-Habsyi
PELANGGARAN PRINSIP KERJA SAMA DAN IMPLIKATUR PERCAKAPAN DALAM FILM “MOANA” KARYA JOHN GRIERSON: KAJIAN PRAGMATIK Shafira Nurul Qolbi; Dayudin Dayudin
Hijai - Journal on Arabic Language and Literature Vol 6 No 2 (2023): Hijai - Journal on Arabic Language and Literature
Publisher : Bahasa dan Sastra Arab, Fakultas Adab dan Humaniora, UIN Sunan Gunung Djati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15575/hijai.v6i2.14424

Abstract

"Moana" is a film by John Grierson that tells the story of a teenage girl,the daughter of a leader in the village of Motunui who wants to save her village from natural destruction. In the conversation in the film Moana, there are several violations of the principle of cooperation which give rise to conversational implicatures. This research aims to describe the types of violations of the principle of cooperation committed by characters in the animated film "Moana" by John Grierson and to describe the conversational implicatures that occur as a result of violations of the principle of cooperation in the animated film "Moana" by John Grierson. The research method used is descriptive-analytical, with data collection techniques using the listening method followed by note-taking techniques, while the analytical method used in this research uses the extra lingual matching method for data sources taken from the speech of characters in the film "Moana". The results of the research revealed that in the animated film "Moana" there was a violation of the principle of cooperation, namely a violation of the maxim of quantity, quality,  relevance, and method or implementation. Violations of the principle of cooperation give rise to conversational implicatures which include: inviting, refusing, winning, commanding, praising, helping, belittling, asking for help, protecting, defending,seeking attention, influencing, stopping, reprimanding, proving, correcting mistakes, and encouraging.Film “Moana” merupakan film karya John Griersin yang menceritakan tentang seorang gadis remaja, anak dari seorang pemimpin di desa Motunui yang ingin menyelamatkan desanya dari kerusakan alam. Dalam percakapan film Moana terdapat sejumlah pelanggaran prinsip kerja sama. Adanya pelanggaran tersebut memunculkan adanya implikatur percakapan. Tujuan dari penelitian ini ialah: 1) Untuk mendeskripsikan jenis pelanggaran prinsip kerja sama yang dilakukan tokoh dalam film animasi “Moana” karya John Grierson. 2) Untuk mendeskripsikan implikatur percakapan yang terjadi akibat adanya pelanggaran prinsip kerja sama dalam film animasi “Moana” karya John Grierson. Metode penelitian yang digunakan adalah metode deskriptif analitik. Metode ini dilakukan dengan cara mendeskripsikan dan menganalisis data. Metode pengambilan data yaitu dengan menggunakan metode simak yang diikuti dengan teknik catat. Metode analisis yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan metode padan ekstralingual. Sumber data yang digunakan diambil dari tuturan tokoh dalam film “Moana”. Pendekatannya menggunakan kajian pragmatik. Hasil penelitian yang terungkap adalah bahwa dalam film animasi “Moana” terdapat pelanggaran prinsip kerja sama yaitu pelanggaran terhadap maksim kuantitas, maksim kualitas, maksim relevansi, dan maksim cara atau pelaksanaan. Pelanggaran prinsip kerjasama tersebut memunculkan implikatur percakapan yang meliputi: ajakan, menolak, menangkan, memerintah, memuji, membantu, meremehkan, meminta bantuan, melindungi, membela, mencari perhatian, mempengaruhi, menghentikan, menegur, membuktikan, membetulkan kesalahan, dan menyemangati.
AFIKSASI INFLEKTIF KATA KERJA MASA LAMPAU DALAM BAHASA ARAB DAN BAHASA JEPANG Ihsan Anwar Mutaqin; Fadlil Yani Ainusyamsi; Dayudin Dayudin
Hijai - Journal on Arabic Language and Literature Vol 7 No 1 (2024): Hijai - Journal on Arabic Language and Literature
Publisher : Bahasa dan Sastra Arab, Fakultas Adab dan Humaniora, UIN Sunan Gunung Djati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15575/hijai.v7i1.28852

Abstract

Bahasa sebagai sebuah alat komunikasj yang digunakan oleh manusia dalam segala aspek kehidupannya merupakan sistem yang dibangun oleh sistem - sistem lainnya.  Morfologi merupakan salah satu sistem yang membangun sebuah bahasa. Afiksasi merupakan proses pembentukan kata sehingga kata dapat digunakan dalam sebuah ujaran. Proses afiksasi ini dapat bersifat inflektif dan devariatif. Bahasa Arab dan bahasa Jepang merupakan salah satu bahasa yang produktif dalam proses afiksasi inflektif. Untuk mengetahui persamaan dan perbedaan dari proses afiksasi inflektif dalam bahasa Arab dan bahasa Jepang dapat digunakan metode analisis kontrastrif. Proses afiksasi inflektif dalam kata kerja bentuk lampau bahasa Arab dan bahasa Jepang memiliki persamaan dari posisi penempatan afiksnya yakni berupa sufiks dan berbeda dari makna yang diberikan oleh afiks yang mengimbuhi kata kerja lampaunya.
Ketidaksantunan Positif dan Negatif dalam Film Dubbing “One Piece” Ariandito Hilmy Maulana; Maman Abdul Jalil; Dayudin Dayudin
Hijai - Journal on Arabic Language and Literature Vol 7 No 2 (2024): Hijai - Journal on Arabic Language and Literature
Publisher : Bahasa dan Sastra Arab, Fakultas Adab dan Humaniora, UIN Sunan Gunung Djati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15575/hijai.v7i2.40141

Abstract

Kesantunan merupakan salah satu kunci  agar terjalinnya komunikasi yang lancar. Akan tetapi masih banyak orang yang menggunakan ketidaksantunan sehingga komunikasi menjadi terhambat. Dalam film dubbing One Piece karya Eichiro Oda, peneliti melihat bahwa terdapat fenomena ketidaksantunan berbahasa dalam film tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk untuk : 1) mengidentifikasi dan mendeskripsikan strategi ketidaksantunan positif dan negatif yang terdapat di dalam dialog film dubbing One Piece, dan 2) mengidentifikasi dan mendeskripsikan faktor penyebab ketidaksantunan dari tuturan tidak santun yang terdapat di dalam film dubbing One Piece Penelitian ini termasuk deskriptif-kualitatif yang dimana data yang berupa tuturan dideskripsikan secara rinci. Kemudian data diambil dari dialog antar tokoh film dubbing One Piece. Data-data tersebut dikumpulkan dengan menggunakan metode simak dan catat, kemudian di analisis menggunakan metode kontekstual.Hasil penelitian ini ditemukan total 10 tuturan yang mengandung strategi ketidaksantunan positif dan strategi ketidaksantunan negatif, serta ditemukan tiga faktor penyebab ketidaksantunan berbahasa.
Tindak Tutur Ilokusi Searle dalam Musalsal an-Nabī Yūsuf aṣ-Ṣiddīq al-Ḥalqah al-Khāmisah ‘Asyar (Kajian Pragmatik): Searle's Illocutionary Speech Acts in Musalsal al-Nabī Yūsuf al-Ṣiddīq al-Ḥalqah al-Khāmisah ‘Asyar (Pragmatic Study) Muhammad Haritsah Rais; Dayudin; Muhamad Naufal Rizky; Muhammad Fachri
AL-QIBLAH: Jurnal Studi Islam dan Bahasa Arab Vol. 5 No. 2 (2026): AL-QIBLAH: Jurnal Studi Islam dan Bahasa Arab
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (P3M) Sekolah Tinggi Ilmu Islam dan Bahasa Arab (STIBA) Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36701/al-qiblah.v5i2.2911

Abstract

In pragmatic studies, language is not only understood as a series of words, but also as an action that has a specific purpose, known as a speech act. One type of speech act that is important to study is the illocutionary act because it is directly related to the intention and function of the speaker's utterance. This study aims to describe the types and functions of illocutionary acts contained in Musalsal al-Nabī Yūsuf al-Ṣiddīq al-Ḥalqah al-Khāmisah ‘Asyar or the TV series of the story of the prophet Yusuf a.s episode 15 based on John Searle's classification. This study uses a qualitative approach with a descriptive method. The source of research data is the speech of the characters contained in the dialogue. The data collection technique is carried out using the listening and note-taking method, while the data analysis technique uses Searle's illocutionary speech act theory. The results of the study showed that there were 54 types of illocutionary speech acts in the episode, consisting of 17 assertive speech acts, 14 directive, 4 commissive, 7 expressive, and 2 declarative. Functionally, they include assertive speech acts such as conveying information, explaining, reporting, and claiming; directive speech acts such as ordering, requesting, recommending, and inviting; commissive speech acts involving the speaker's ability, such as offering, promising, and threatening; expressive speech acts that include expressing feelings, such as saying thank you, congratulating, praising, and apologizing; and declarative speech acts related to the act of deciding or making decisions. This study is confirms that understanding the function of speech in audiovisual media can help explain how Islamic messages are conveyed in a subtle, communicative, and meaningful way to listeners or viewers.
Perubahan Wazan, Qafiyah dan Amanat dalam Qasidah Lamiyyah pada Diwan Umru Al-Qais Silviani, Hopi; Nurlinah; Dayudin
Jurnal Ragam Pengabdian Vol. 3 No. 1 (2026): Januari-April. Synergy of Research and Community Service for Community Empowerm
Publisher : Lembaga Teewan Journal Solutions

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62710/zhgys760

Abstract

This study aims to examine variations in wazan (meter), patterns of qafiyah (rhyme), and the messages conveyed in the Lāmiyyah Qasidah from the Diwan of Imru’ al-Qais. Classical Arabic poetry is well known for its aesthetic richness, particularly in its rhythmic and rhyming structures, which are central to the disciplines of ‘arūḍ and qawāfī. However, studies that connect these structural features with the meanings embedded in the poems remain limited. Therefore, this research explores the relationship between poetic structure and the ideas expressed in the qasidah. This study employs a qualitative descriptive method using the approaches of ‘arūḍ and qawāfī. The data consist of a Lāmiyyah qasidah comprising 69 verses drawn from three titles. The analysis includes taqṭīʿ al-shiʿr, identification of tafʿīlah patterns, examination of metrical variations such as ziḥāf and ‘illah, analysis of rhyme structures, and interpretation of the conveyed messages. The findings show that the poems employ baḥr ṭawīl, rajaz, and sarīʿ, with several metrical variations, particularly ziḥāf qabḍ, kaff, ṭayy, khaban, and the ‘illah of kasf. The rhyme remains consistent with the letter “lām” as the rawiyy. The poems convey themes of transience, longing, victory, retribution, and the importance of inner peace as a source of happiness.