Claim Missing Document
Check
Articles

Found 18 Documents
Search

SAWITRI (Sampah Wisata Pentingsari): MODEL PENGELOLAAN SAMPAH AKTIVITAS WISATA DESA PENTINGSARI, YOGYAKARTA Vitasurya, Vincentia Reni
Jurnal Arsitektur Komposisi Vol 10, No 5 (2014): Jurnal Arsitektur KOMPOSISI
Publisher : Universitas Atma Jaya Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1051.375 KB) | DOI: 10.24002/jars.v10i5.1092

Abstract

Abstract: The development of agriculture-based village into a tourist village is an interesting phenomenon to study in continuity to see the wisdom of local communities to improve the welfare of rural communities. Sustainable tourism in rural areas has significance for developing rural village-based tourism on the natural environment, that rely on an agrarian lifestyle as one tourist attraction but has a greater economic value than before. In the example Pentingsari village, it appears that there are forces in the village which causes people to continue to attract tourists to visit and while still preserving the agrarian life. The existence of tourist activity would leave traces that need to be observed of which is waste. This paper is part of research on empowerment model tourist village and tried to explore how people attempt to manage the impact of waste, so that it can preserve the environment as part of a tourist attraction. The method used is to conduct in-depth interviews and observations of daily people doing tourist activities. The expected result is to know how much waste is generated as a result of garbage tourist activity and how people attempt to cope with these problems. This result can be a model of environmental conservation that can be used for the development of rural tourism in the futureKeywords: waste management model, rural tourism, environmental conservation, rural tourism.Abstrak: Perkembangan desa berbasis agraris menjadi desa wisata merupakan fenomena menarik yang perlu diteliti secara berkelanjutan untuk melihat kearifan lokal yang dapat mensejahterakan masyarakat pedesaan. Pariwisata berkelanjutan di pedesaan memiliki makna mengembangkan kawasan pedesaan menjadi desa wisata yang berbasis pada kelestarian lingkungan alamiah yang mengandalkan gaya hidup agraris sebagai salah satu atraksi wisatanya, namun memiliki nilai ekonomis yang lebih besar dari sebelumnya. Pada contoh desa Pentingsari terlihat adanya kekuatan di desa tersebut yang menyebabkan masyarakat dapat terus menarik minat wisatawan untuk berkunjung dan sekaligus tetap melestarikan kehidupan agrarisnya. Keberadaan aktivitas wisata tentu meninggalkan jejak yang perlu dicermati diantaranya adalah limbah sampah. Tulisan ini merupakan bagian dari penelitian tentang model pemberdayaan desa wisata dan mencoba menggali bagaimana upaya warga untuk menanggulangi dampak sampah sehingga dapat menjaga kelestarian lingkungan sebagai bagian dari atraksi wisata. Metode yang dipergunakan adalah dengan melakukan observasi dan in depth interview dari keseharian warga melakukan aktivitas wisata. Hasil yang diharapkan adalah mengetahui berapa besar limbah sampah dihasilkan sebagai dampak aktivitas wisata dan bagaimana upaya warga untuk menanggulangi permasalahan tersebut. Hasil ini dapat menjadi model pelestarian lingkungan yang dapat dimanfaatkan untuk pengembangan desa wisata dimasa yang akan datang.Kata kunci: model pengelolaan sampah, desa wisata, pelestarian lingkungan, wisata pedesaan
EMPYAK RAGUMAN, TRADISI DAN ESTETIKA RUMAH TRADISIONAL JAWA YANG SEMAKIN MEMUDAR Vitasurya, Vincentia Reni; Hadi, Purwanto
Jurnal Arsitektur Komposisi Vol 12, No 3 (2019): Jurnal Arsitektur KOMPOSISI
Publisher : Universitas Atma Jaya Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1215.624 KB) | DOI: 10.24002/jars.v12i3.1868

Abstract

Abstract: Traditional Javanese houses known for their rich traditions are symbolized by the use of ornaments, construction and building materials. Empty raguman is one of the architectural elements of a Javanese house, in the form of an inner roof coating that functions as a ceiling. The sweetness made of bamboo blades arranged in a certain pattern is a symbol of the level of socio-economic ability of the homeowner. Its existence functions aesthetically and describes a strong tradition. The tradition of making empyak began with processing bamboo, assembling and installing fish is a manifestation of the value of mutual cooperation in Javanese society in the past. At present, empyak raguman is rarely found in traditional Javanese houses built in the modern era. The loss of this element is due to changes in the lifestyle of traditional communities in urban and rural areas. This paper aims to review the beauty of tradition, tradition and aesthetics in Javanese homes. The method used is literature review and its comparison with the practice of implementing it in some cases of traditional houses. The tradition of putting up a lot of raguman has not been carried out anymore, but the existence of empiri raguman which is still preserved is a symbol of pride for traditional homeowners. The results of this study are one of the inputs to preserve traditional values in Javanese houses.Keywords: empyak raguman, javanese house, traditional architecture, tradition, aestheticsAbstrak: Rumah tradisional Jawa dikenal kaya tradisi yang disimbolkan melalui penggunaan ornamen, konstruksi dan bahan bangunan. Empyak raguman adalah salah satu elemen arsitektur rumah Jawa, berupa pelapis atap bagian dalam yang berfungsi sebagai langit – langit. Empyak raguman terbuat dari bilah bambu yang disusun dengan pola tertentu menjadi simbol dari tingkatan kemampuan sosial ekonomi pemilik rumah. Keberadaannya berfungsi secara estetika dan menggambarkan tradisi yang kuat. Tradisi pembuatan empyak dimulai dengan pengolahan bambu, merangkai dan memasang empyak merupakan perwujudan nilai gotong royong masyarakat Jawa di masa lalu. Saat ini, empyak raguman jarang ditemukan pada rumah tradisional Jawa yang dibangun pada era modern. Hilangnya elemen ini karena perubahan gaya hidup masyarakat tradisional di perkotaan dan di perdesaan. Tulisan ini bertujuan mengulas kembali empyak raguman, tradisi dan estetikanya dalam rumah Jawa. Metode yang digunakan adalah kajian literatur dan komparasinya dengan praktek pelaksanaannya pada beberapa kasus rumah tradisional. Tradisi memasang empyak raguman sudah tidak dijalankan lagi namun keberadaan empyak raguman yang masih terpelihara menjadi simbol kebanggaan bagi pemilik rumah tradisional. Hasil kajian ini menjadi salah satu masukan untuk melestarikan nilai – nilai tradisional pada rumah Jawa.Kata Kunci: empyak raguman, rumah Jawa, arsitektur tradisional, tradisi, estetika
A Comparison Study of Tangible and Intangible Culture as Commercialisation Process of Tourism Village in Yogyakarta Lucia Asdra Rudwiarti; Anna Pudianti; Vincentia Reni Vitasurya
E-Journal of Tourism Volume 4 Number 2 (September 2017)
Publisher : Centre of Excellence in Tourism Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (344.448 KB) | DOI: 10.24922/eot.v4i2.36398

Abstract

The paper is an empirical study examining the tangible and intangible culture of rural tourism with a focus on rural transformation from daily local into commercial behaviour due to presence of tourism activities. It explores the process of commercialization of tangible and intangible culture. The case studies of Brayut and Pentingsari rural tourism village are studied through observation and interviews of physical and non-physical transformation with community members and the rural tourism manager. Both villages are the unique growing tourist village in Yogyakarta, but Brayut has a potential asset of maintained condition traditional Javanese house in whereas Pentingsari has an attractive natural of green village with the local cultural heritage. The qualitative empirical research study was applied to explore the transformation of cultural meaning by the locals before and after commercialization process. Firstly, the study reviewed the original tangible and intangible culture before transformation. Secondly, changes in cultural functions and meaning are analyzed in the current situation caused by its transforming into commercial activities. By examining the comparison of tangible and intangible culture in the commercializing process is built to understand the relationships between the two and the quality of its transformation.
ADAPTIVE SPACE OF JAVANESE TRADITIONAL HOUSE IN BRAYUT TOURISM VILLAGE YOGYAKARTA Vincentia Reni Vitasurya; Gagoek Hardiman; Suzanna Ratih Sari
TATALOKA Vol 21, No 1 (2019): Volume 21 No. 1, February 2019
Publisher : Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1071.084 KB) | DOI: 10.14710/tataloka.21.1.170-179

Abstract

Traditional Javanese architecture, especially in rural areas, has undergone a major transformation. Transformation is owner’s response to various conditions, such as the increasing number of family members, the improvement of social status and economic conditions, the needs of modernization and the consequences of being involved in government’s programs.  This paper aim is to examine how the owners of traditional houses respond to nowadays changes reflected through their houses designs. Brayut tourism village is a traditional settlement located at Yogyakarta’s downtown area which is well known for its unique and well-preserved traditional Javanese houses. The transformation of traditional houses in Brayut is a combination of the need for change and persistence. On the one side, strong local traditions play a role in maintaining the elements of traditional houses and on the other side, dynamic modern needs play a role as a trigger for change. Adaptive space in the traditional house is a solution to this problem. The method used in this research is a case study on some Javanese traditional houses. An in-depth interview with the owners and mapping are also used to examine the chronology of traditional houses transformation.  Transformation aspects are defined on the affected physical architecture elements. The result of this study is the transformation occurs on function and meaning of space as an adaptive response from the owners. While the shape of space and buildings, generally preserved as an effort to maintain the bond of traditions and trust.
Pendekatan antropologi sebagai penyeimbang model perhitungan jejak ekologis di Desa Wisata Anna Pudianti; Vincentia Reni Vitasurya
ARTEKS : Jurnal Teknik Arsitektur Vol 4 No 1 (2019): ARTEKS : Jurnal Teknik Arsitektur | Juli 2019 ~ Desember 2019
Publisher : Program Studi Arsitektur Fakultas Teknik Universitas Katolik Widya Mandira

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (374.829 KB) | DOI: 10.30822/arteks.v4i1.77

Abstract

Anthropology approach as a balancer of ecological footprint calculation models in Tourism Village Tourism is currently experiencing a shift from mass tourism to special interest tourism focusing on nature and culture. In the context of preservation, rural tourism experiences a sharp pros and cons as supporting or inhibiting aspects of conservation. This study uses one of the environmental conservation evaluation instruments with an ecological footprint calculation model that analyzes quantitatively the aspects of transportation, water use, clothing use, recreation, food, garbage and shelter. Given the limitations of the ecological trace calculator model to be applied in tourism villages, the implementation of the model needs to be modified using the anthropological approach. The research method used is action research participation by measuring the impact of tourism activities in rural areas using simple indicators of ecological footprint calculations and equipped with in-depth interviews to explore aspects of collective behavior as the focus of the anthropological approach studied. Case studies include three villages in the Yogyakarta region, namely Pentingsari in Sleman regency, Lopati in Bantul and Kalibiru districts in Kulonprogo district. The results obtained are recommendations for anthropological approaches to evaluate the ecological footprint results so that they are more appropriate if they are used as an environmental conservation action plan in a tourist village with the emphasis on forming awareness of living with nature. © 2019 Anna Pudianti, Vincentia Reni Vitasurya
ADAPTIVE HOMESTAY SEBAGAI BENTUK PARTISIPASI MASYARAKAT UNTUK MELESTARIKAN DESA WISATA PENTINGSARI - YOGYAKARTA Vincentia Reni Vitasurya
ATRIUM: Jurnal Arsitektur Vol. 2 No. 1 (2016): ATRIUM: Jurnal Arsitektur
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian pada Masyarakat (LPPM) Universitas Kristen Duta Wacana Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1148.998 KB) | DOI: 10.21460/atrium.v2i1.50

Abstract

Title: Adaptive Homestay as a Form of Community Participation to Preserve Pentingsari Tourist Village, Yogyakarta The development of tourism in a tourist destination is linked to the development of economic sectors in the region or the country. The development of tourism is expected to bring benefits to the community. Yogyakarta as one of the tourist destinations has developed a range of alternatives that can be offered to travelers. Pentingsari tourist village is one of the mainstay tourism village in Yogyakarta. The village has been proven to run well and maintained its continuity since 2008. Preservation of the village was made possible through the participation of citizens to participate and engage in their village tourism activities. One that supports the success of ecotourism activities is homestay. In relation to the tourism industry, homestay can be described as two things: as a tourist attraction and as a tourist accommodation. Pentingsari village already has homestays which are village houses that already run well. This research seeks homestay relevance as a form of citizen participation in the rural tourism industry while maintaining the conservation of the environment. The methods used is participatory research action by field observation, in depth interviews and historical documents tracing. This is to determine how much the role of citizens to preserve the environment before and after becoming a tourist village. These results indicate a model of rural tourism development.
MODEL PARTISIPASI MASYARAKAT DALAM PERANCANGAN MASTERPLAN KAWASAN WISATA WATUPURBO, YOGYAKARTA Vincentia Reni Vitasurya; Anna Pudianti; Lucia Asdra Rudwiarti
Share : Journal of Service Learning Vol. 8 No. 1 (2022): FEBRUARY 2022
Publisher : Institute of Research and Community Outreach - Petra Christian University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1455.513 KB) | DOI: 10.9744/share.8.1.87-95

Abstract

Keberadaan sebuah rencana induk (masterplan) merupakan hal penting sebagai upaya pengembangan suatu kawasan termasuk Kawasan wisata. Seiring dengan Gerakan wisata berbasis masyarakat, maka arahan pengembangan Kawasan wisata sebaiknya melibatkan masyarakat sejak awal perencanaan. Upaya tersebut diwujudkan dalam kegiatan pengabdian masyarakat yang dilakukan program studi arsitektur UAJY bekerjasama dengan dinas pariwisata Kabupaten Sleman sebagai bentuk pendampingan untuk merancang Masterplan pengembangan Kawasan Wisata. Kawasan wisata Watupurbo dicanangkan sebagai objek wisata dengan daya tarik wisata air terjun yang terbentuk dari dam sungai Krasak berundak yang memiliki pemandangan alam yang asri. Keunikan tersebut mengakibatkan watupurbo berkembang menjadi objek wisata alam namun beresiko rusak jika tidak direncanakan dengan baik. Tantangan yang dihadapi tim adalah mempersiapkan pengembangan Kawasan yang berbasis tanggap bencana dengan resiko bencana banjir. Bekerjasama dengan masyarakat setempat, tim menggali kearifan lokal dan tradisi untuk mengantisipasi bencana dan mempertahankan kelestarian alam sekitar. Kegiatan pengabdian ini bertujuan untuk membantu masyarakat mempersiapkan Kawasan wisata Watupurbo agar dapat berkembang, namun tetap mempertahankan kelestarian alam terutama terkait dengan peranannya sebagai salah satu dam besar di sungai Krasak. Kegiatan ini menghasilkan rencana induk (masterplan) yang bertema “menyatu untuk istimewa” merupakan kolaborasi alam dan manusia untuk mewujudkan pengembangan ekonomi dan social dengan mempertahankan kondisi alami lingkungan. Penekanan perancangan pada aksesibilitas yang juga menyediakan evakuasi bencana yang mempertahankan kondisi alami dan sesuai dengan masukan pengalaman dan kebiasaan warga setempat ketika menghadapi bencana. Hal ini menjadi pembelajaran bersama atas pentingnya pelestarian lingkungan untuk pengembangan Kawasan wisata berbasis objek alam.
TINJAUAN MASTERPLAN SESAR OPAK BUKIT MENGGER BERBASIS PELESTARIAN OBJEK WARISAN GEOLOGI Vincentia Reni Vitasurya; Anna Pudianti; Lucia Asdra Rudwiarti
Share: Journal of Service Learning Vol. 9 No. 1 (2023): FEBRUARY 2023
Publisher : Institute of Research and Community Outreach - Petra Christian University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1093.1 KB) | DOI: 10.9744/share.9.1.65-74

Abstract

Tinjauan masterplan kawasan wisata Sesar Opak Bukit Mengger (SOBM) merupakan kegiatan pengabdian yang dilakukan tim dosen DAFT UAJY bersama dengan BAPPEDA Kab. Bantul DIY. Kegiatan ini merupakan kelanjutan dari proses penetapan Kawasan SOBM sebagai bagian dari pengembangan kawasan Geopark Heritage provinsi DIY. Proses tinjauan masterplan dilakukan melalui 4 tahap yang dimulai dari tinjauan dokumen, verifikasi, perancangan kembali dan penyusunan laporan. Tahapan penyusunan review melibatkan ahli geologi, masyarakat dan pemangku kepentingan guna menghasilkan rancangan pengembangan berbasis pelestarian lingkungan khususnya warisan geologi dan tanggap bencana. Sejalan dengan nilai budaya lokal, penerapan filosofi hamemayu hayuning bawana dan hamemasuh malaning bumi melandasi penerapan rancangan dengan mengedepankan penggunaan material yang ringan, ramah lingkungan dan berciri khas lokal. Pertimbangan teknis mitigasi bencana menjadi hal penting untuk diterapkan, diantaranya dengan merancang jalur evakuasi dan zonasi untuk pembatasan aktivitas. Jalur evakuasi diterapkan dengan memanfaatkan lahan terbuka dan jalur pejalan kaki alami yang sudah terbentuk, sedangkan pembatasan aktivitas diterapkan sebagai upaya mengurangi beban lingkungan kawasan. Kegiatan ini juga melibatkan tenaga ahli dalam bidang geologi untuk memberikan masukan teknis terkait perencanaan kawasan ini. Tinjauan perancangan ini merupakan pedoman pengembangan Kawasan untuk masa yang akan datang. Bagi DAFT UAJY, kegiatan ini menjadi wadah penerapan ilmu dan berkolaborasi bersama dengan berbagai pihak untuk menyusun kajian berbasis pelestarian khususnya untuk objek warisan geologi.
Modul Aquaponik sebagai Alternatif Pengembangan Wisata Tangguh Pangan di Desa Wisata Brayut Yogyakarta Vincentia Reni Vitasurya; Anna Pudianti; Lucia Asdra Rudwiarti
Seminar Nasional Penelitian dan Abdimas Vol 1 No 1 (2023): Juni
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian pada Masyarakat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24002/senapas.v1i1.7363

Abstract

Dampak pandemic covid 19 yang berkelanjutan mengakibatkan desa – desa wisata mengalami keterpurukan terutama dari sisi perekonomian. Pembatasan yang diterapkan dalam berbagai bidang kehidupan memaksa warga untuk beradaptasi dengan kondisi tersebut salah satunya dengan kembali berswadaya untuk memenuhi kebutuhan pokok. Desa wisata Brayut yang selama ini mengandalkan atraksi wisata edukasi budaya dan tradisi pedesaan sebagai tambahan penghasilan, pada masa pandemi berupaya untuk kembali pada pertanian dan perkebunan untuk memenuhi kebutuhan pokok pangan warga. Gerakan ini selaras dengan Gerakan Kampung Tangguh Nusantara yang digalakkan TNI POLRI dan pemerintah sebagai upaya menanggulangi pandemic COVID 19 pada awal tahun 2020 yang lalu. Sejalan dengan hal tersebut, tim KKN tematik WIRADESA UAJY menerjunkan mahasiswa untuk membantu mendampingi masyarakat terutama untuk meningkatkan hasil pertanian, perkebunan dan perikanan melalui model aquaponic yang portable dan sederhana sehingga dapat dibuat pada lahan pekarangan warga. Respon warga dan pendampingan tim menghasilkan rencana pengembangan untuk sebaran perletakan modul aquaponic agar dapat memenuhi kebutuhan warga.
Kesinambungan dan Perbedaan Rumah Sumba di Dalam dan di Luar Praingu Yohanes Djarot Purbadi; B. Sumardiyanto; Vincentia Reni Vitasurya
ARCHIHUMANUM Vol 1 No 1 (2023): April
Publisher : CV. Gio Architect

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59810/archimane.v1i1.4

Abstract

The Sumba house is characterized by traditional architecture on the island of Sumba, some of which have changed from their original characteristics and some others have retained their original characteristics. If you compare the Sumba houses in praingu (traditional villages) with the houses of Sumbanese people in cities or along roads that are characterized by modern or contemporary houses, the differences in characteristics are easy to see. It is different if the houses with Sumba architectural characteristics outside Praingu are compared to those inside Praingu. There are interesting things to say. They look the same, but have significant differences. This paper aims to describe the continuity and different of Sumba houses with traditional Sumba architecture in Anakalang compared to the original Sumba houses located in Praingu Galubakul. The focus of this research is to look at the continuity and differences in the form-function-meaning aspects of traditional Sumba houses within praingu and outside praingu. This research was produced through a qualitative research process based on a phenomenological-husserlian approach, using field observation and in-depth interview methods. The case is the Sumba house in Anakalang which is outside Praingu (Galubakul) and the owner is bound by Sumba culture. There is continuity and different in the Sumba house in Anakalang. Form and meaning continue to be continuous, but there is a change in the function of the building. Continuity occurs due to aspects of adherence to tradition, while changes occur in the addition of new functions, changing functions and deleting functions due to the establishment of a modern lifestyle. The religious (spiritual) aspect of the homeowners related to the Marapu belief and fear of praingu integration is a determining factor for the continuity of the form and meaning of the architecture of the Sumba house. Modern lifestyle is a determining factor in changing the center room from the status of a sacred space to a profane space.