Claim Missing Document
Check
Articles

Analisis Intensitas Citra Tetesan Air dengan Metode Laser Speckle Imaging Feri Helmi Basri; Harmadi Harmadi; Marzuki Marzuki
Jurnal Fisika Unand Vol 6 No 4 (2017)
Publisher : Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (353.947 KB) | DOI: 10.25077/jfu.6.4.311-317.2017

Abstract

Analisis nilai intensitas citra tetesan air dengan metode Laser Speckle Imaging telah dilakukan. Penelitian ini menggunakan sistem perancangan forward-scattering. Sistem terdiri dari tiga unit yaitu transmitter sebagai sumber cahaya menggunakan laser He–Ne, receiver sebagai detektor menggunakan CCD (Charge Couple Device), dan penampil menggunakan PC. Transmitter dan receiver diposisikan sejajar dengan jarak yang telah diatur agar berkas cahaya laser menyinari detektor CCD pada sudut 00 untuk mendapatkan citra spekel. Intensitas citra spekel dikarakterisasi menggunakan 6 manik-manik dengan diameter berbeda (2,15 - 11,91 mm). Nilai intensitas citra spekel tertinggi didapatkan pada diameter manik-manik 2,15 mm yaitu 254,62 a.u dan terendah pada manik-manik 11,91 mm yaitu 224,5 a.u. Hasil karakteriasi menunjukkan bahwa intensitas citra spekel menurun ketika objek yang terdeteksi berukuran lebih besar. Hasil yang sama juga didapatkan menggunakan tetesan air dari tabung yang berlubang dengan diameter 1-7 mm. Citra spekel tetesan air dianalisis menggunakan fungsi autokorelasi untuk mendapatkan ukuran bulir spekel. Ukuran bulir spekel terbesar didapatkan pada diameter lubang tetesan 6 mm yaitu 856,87 µm dan terkecil didapatkan pada diameter lubang tetesan 1 mm yaitu 198,15 µm. Hasil yang diperoleh menunjukkan bahwa semakin besar tetesan air, maka nilai intensitas citra spekel menurun dan ukuran bulir spekel membesar.Kata kunci : citra, forward-scattering, gray scale, laser He-Ne, ukuran bulir spekel
Distribusi Spasial dan Temporal Petir di Sumatera Barat Elfira Saufina; Marzuki Marzuki
Jurnal Fisika Unand Vol 5 No 4 (2016)
Publisher : Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (706.162 KB) | DOI: 10.25077/jfu.5.4.303-312.2016

Abstract

Distribusi spasial dan temporal petir di Sumatera Barat telah diteliti dengan menggunakan data satelit Tropical Rainfall Measuring Mission-Lightning Imaging Sensor (TRMM-LIS) selama 16 tahun pengamatan (1998-2013). Hubungan antara petir dan curah hujan diteliti dengan memanfaatkan data TRMM 3B43. Hasil penelitian menunjukkan bahwa petir di Sumatera Barat banyak terjadi di darat dengan densitas tertinggi terjadi pada bulan Desember, Januari dan Februari (DJF). Petir di darat banyak terjadi pada sore hari mulai jam 17.00 LST hingga tengah malam dan kabupaten Dharmasraya merupakan daerah yang memiliki densitas kilatan petir tertinggi terutama selama periode DJF. Siklus diurnal petir konsisten dengan siklus migrasi awan dari laut ke daratan Sumatera yang ditemukan oleh peneliti sebelumnya. Hubungan curah hujan dan petir di Sumatera Barat bervariasi antara satu kabupaten dengan kabupaten lainnya. Berdasarkan nilai regresi linier antara petir dan curah hujan terlihat bahwa daerah yang memiliki korelasi yang cukup kuat antara densitas petir dan curah hujannya adalah Kabupaten Solok,  Solok Selatan, Padang Pariaman, dan 50 Kota sedangkan daerah yang memiliki korelasi yang rendah adalah Kepulauan Mentawai, Pesisir Selatan, dan Agam. Dengan demikian, di beberapa kabupaten petir dapat menjadi indikator untuk penentu curah hujan tetapi tidak untuk beberapa kabupaten yang lain.Kata kunci: distribusi petir, Sumatera Barat, TRMM
Perbandingan Parameter Distribusi Butiran Hujan Arah Vertikal antara Fase Aktif dan Tidak Aktif Osilasi Madden Julian Menggunakan Metode Dual-Frequency Radar Meri Yoseva; Mutya Vonnisa; Marzuki Marzuki
Jurnal Fisika Unand Vol 6 No 1 (2017)
Publisher : Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (678.636 KB) | DOI: 10.25077/jfu.6.1.81-88.2017

Abstract

Distribusi ukuran butiran hujan atau raindrop size distribution (DSD) arah vertikal antara fase aktif dan tidak aktif Madden Julian oscillation (MJO) di Kototabang, Sumatera Barat, telah dibandingkan. Perbandingan dilakukan melalui parameter DSD yang dihitung menggunakan data Equatorial Atmosphere Radar (EAR) yang dikopling dengan data Boundary Layer Radar (BLR) selama proyek Coupling Processes In The Equatorial Atmosphere (CPEA)-I (10 April - 9 Mei 2004). Estimasi parameter DSD menggunakan metode dual-frequency. DSD dimodelkan dengan distribusi gamma dan parameternya didapatkan menggunakan metode momen. Dari penelitian ini terlihat bahwa intensitas curah hujan yang tinggi lebih banyak terjadi pada fase MJO tidak aktif dibandingkan dengan fase aktif. Perbedaan parameter DSD antara fase MJO aktif dan tidak aktif lebih jelas terlihat pada hujan dengan intensitas tinggi (R ≥ 20 mm/h). DSD selama fase tidak aktif mengandung lebih banyak butiran hujan berukuran besar daripada fase aktif. Hal ini ditandai dengan nilai Λ yang lebih kecil dan µ yang lebih besar selama fase tidak aktif. Banyaknya butiran hujan yang berukuran besar ini berdampak kepada nilai radar reflectivity (Z) dimana pada fase tidak aktif nilainya lebih besar dibandingkan pada fase aktif MJO. Dengan demikian, proses fisika yang menghasilkan butiran hujan yang berukuran besar dominan terjadi pada fase tidak aktif MJO. Kata kunci: raindrop size distribution (DSD), Madden Julian oscillation (MJO), dual frekuensi,Kototabang, Equatorial Atmosphere Radar (EAR)
PENGGUNAAN TRANSFORMASI WAVELET UNTUK MENGANALISIS OSILASI INTRAMUSIMAN CURAH HUJAN DI KOTOTABANG Poltak Sandro Rumahorbo; Marzuki -
Jurnal Fisika Unand Vol 4 No 3: Juli 2015
Publisher : Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (905.287 KB) | DOI: 10.25077/jfu.4.3.%p.2015

Abstract

ABSTRAKTransformasi wavelet telah digunakan untuk menganalisis osilasi intramusiman (Madden-Julian Oscillation-MJO) curah hujan harian selama 11 tahun (2002-2012) yang terekam oleh Optical Rain Gauge di Kototabang, Sumatera Barat, Indonesia dengan tiga mother wavelet, yaitu Mexican Hat, Morlet, dan Paul. Berdasarkan global spektrum, ketiga mother memperlihatkan periode osilasi intramusiman yang tidak konstan setiap tahunnya. Mexican Hat memperlihatkan time series spektrum rata-rata yang lebih mendekati pola indeks MJO, tetapi periode MJO dari global spektrumnya melebihi periode dominan MJO pada literatur (40-60 hari). Untuk periode osilasi, Morlet memberikan hasil yang lebih mendekati literatur. Dengan demikian, tidak ada mother yang paling optimum dalam memodelkan MJO. Hasil penelitian ini memperlihatkan kelemahan transformasi wavelet untuk memodelkan osilasi yang relatif singkat. Untuk osilasi ini, spektrum global dari data pengamatan yang panjang tidak mampu memperlihatkan periode osilasi karena keberadaan osilasi musiman dan tahunan akan mendominasi sehingga menekan osilasi intramusiman. Osilasi intramusiman lebih jelas terlihat ketika data dipersingkat misalnya per tahun.  Kata kunci : transformasi wavelet, Kototabang, curah hujan, MJOAbstractWavelet transform had been used to analyze the intraseasonal oscillation (Madden Julian Oscillation, MJO) of rainfall data that collected by an Optical Rain Gauge aloong 11 years (2002-2012) at Kototabang, West Sumatera, Indonesia with three mother wavelet (Mexican Hat, Paul, dan Morlet). The global spectrum of the three mothers showed that the oscillation period was not constant every year. The time series of Mexican Hat was more similar to that of MJO index than two other  mothers, but its MJO periode of global spectrum was longer than the dominant periode of MJO in the literature (40-60 days). For the oscillation periode, the Morlet provided the result that was closer to literature. Thus, we can not conclude the most optimum mother to model the MJO. This study found a limitation of wavlet transform to analyze high frequency oscillation such as MJO in which global spectrum of long data record can not visualize the periode of such oscillation. This phenomenon was due to the lower frequency oscillation such as seasonal and annual oscillations dominating the global spcetrum and supressing the high frequency oscillation. The high frequency oscillation was  more robust when the data period was shorther for example one year.Keywords: wavelet transform, Kotabang, rainfall, MJO
Hubungan Flare X9.3 dengan Magnetosfer dan Ionosfer selama Siklus Matahari ke-24 pada Kejadian Coronal Mass Ejection (CME) 6 September 2017 Sucy Lestari Wirma; Marzuki Marzuki; Afrizal Afrizal
Jurnal Fisika Unand Vol 10 No 1 (2021)
Publisher : Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1308.333 KB) | DOI: 10.25077/jfu.10.1.22-28.2021

Abstract

Telah dilakukan analisis hubungan flare X9.3 dengan magnetosfer dan ionosfer berdasarkan kejadian CME 6 September 2017. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan kategori badai geomagnet dan ionosfer sebagai akibat dari siklus matahari ke-24. Data penelitian yang digunakan berupa komponen H medan magnet bumi stasiun geomagnet Kototabang dan frekuensi kritis lapisan F2 (f0F2) stasiun CADI Sumedang. Badai geomagnet dan ionosfer pada penelitian ini mewakili gangguan di wilayah khatulistiwa. Penelitian ini menghasilkan indikasi gangguan magnetosfer pada 8 September 2017 yang ditunjukkan dengan penurunan intensitas komponen H medan magnet bumi sebesar -250 nT yang dikategorikan sebagai badai sangat kuat dengan skala G3, sementara terdapat penyimpangan f0F2 ionosfer di hari yang sama sebesar 4.33 MHz. Kriteria badai lemah terdapat pada bulan Januari, Februari dan Juni, kriteria badai sedang terdapat pada bulan April, Agustus dan Oktober, sedangkan kriteria badai kuat terdapat pada Maret, Mei dan Juli. Hal ini menunjukkan bahwa gangguan geomagnet akibat CME 6 September 2017 lebih besar dibandingkan dengan bulan-bulan lainnya. The analysis of the X9.3 flare relationship with the magnetosphere and ionosphere has been carried out based on the CME event of September 6, 2017. This study aims to determine the category of geomagnetic and ionospheric storms resulting from the 24th solar cycle.  The research data used is in the form of the H component of the Earth's magnetic field at the Kototabang geomagnetic station and the critical frequency of the F2 layer (f0F2) of the Sumedang CADI station. Geomagnetic and ionospheric storms in this study represent disturbances in the equatorial region.  This research produced the indication of magnetospheric disturbances on September 8, 2017; decreasing the H component intensity of Earth's magnetic field is -250 nT categorized as a powerful storm with G3 scale, while there is 4.33 MHz deviation of the ionosphere f0F2 in the same day.  The criteria for weak storms are in January, February, and June. The criteria for moderate storms are in April, August, and October, while intense storms are in March, May, and July.  Those show that the geomagnetic disturbances due to CME on September 6, 2017, were more significant than the other months.
Analisis Anomali Temperatur Permukaan Tanah dan Awan Gempa Berkaitan dengan Gempa Palu 2018 Silvia Wahyuni; Marzuki Marzuki
Jurnal Fisika Unand Vol 9 No 3 (2020)
Publisher : Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (345.45 KB) | DOI: 10.25077/jfu.9.3.352-359.2020

Abstract

Anomali temperatur permukaan tanah dan awan gempa yang berkaitan gempa bumi yang terjadi di Palu 28 September 2018 telah diteliti  menggunakan data temperatur permukaan tanah dan permukaan air laut dari Moderate Resolution Imaging Spectroradiometer (MODIS) dan data awan dari satelit Multifunction Transport Satellite (MTSAT). Data temperatur udara dari European Centre for Medium Range Weather Forecasts (EMCWF) juga digunakan untuk memastikan bahwa anomali temperatur bukan disebabkan oleh aktivitas cuaca. Anomali temperature permukaan tanah diamati selama 5 tahun dari 2014-2018 dan awan gempa diamati 3 bulan sebelum terjadi gempa bumi. Penelitian ini menemukan adanya kenaikan temperatur permukaan tanah dan air laut sebagai prekursor gempa Palu 2018. Pada saat terjadi gempa kenaikan temperatur permukaan tanah pada siang hari sebesar 2,2 K melebihi batas nilai sebagai prekursor gempa bumi (>2 K) tetapi kenaikan temperatur teramati setiap tahun. Selain itu, anomali temperatur permukaan laut hanya 0,25 K masih lebih kecil dari anomali sebagai prekursor gempa bumi (>2 K). Selama itu tidak ditemukan juga adanya kemunculan awan gempa sebelum gempa terjadi. Dengan demikian gempa Palu 2018 tidak diiringi oleh kenaikan temperatur permukaan tanah dan air laut serta kemunculan awan gempa. Anomaly land surface temperature and earthquake cloud that related the 2018 Palu earthquake were examined using land and sea surface temperatures from Moderate Resolution Imaging Spectroradiometer (MODIS)  and cloud from the Multifunction Transport Satellite (MTSAT) satellite data.  Air temperature data from the European Center for Medium-Range Weather Forecasts (EMCWF) were also used to ensure that temperature anomalies are not caused by weather activity. Land surface temperature anomalies were observed for five years from 2014-2018, and earthquake clouds were observed for three months before the earthquake. This study find an increase in the surface temperature of land and seawater as a precursor to the 2018 Palu earthquake. During the earthquake, there was an increase in land surface temperature by 2,2 K, which exceeds the limit value of anomaly land surface temperature as an earthquake precursor (> 2 K), but such an increase is observed every year. In addition, sea surface temperature anomaly is only 0,25 K, which is much smaller than the value as an earthquake precursor  (> 2 K). It was also found that there is no earthquake cloud before the Palu earthquake. Thus, the 2018 Palu earthquake was not accompanied by an increase in land and sea surface temperatures and the appearance of earthquake clouds.
Analisis Sistem Informasi Banjir Berbasis Media Twitter Irza Utami; Marzuki Marzuki
Jurnal Fisika Unand Vol 9 No 1 (2020)
Publisher : Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (301.72 KB) | DOI: 10.25077/jfu.9.1.67-72.2020

Abstract

Uji keakurataan data media sosial Twitter sebagai sumber informasi banjir telah diteliti melalui penyaringan twit yang memuat informasi banjir di wilayah DKI Jakarta pada tahun 2015-2017. Twit yang memuat kata kunci banjir dikumpulkan untuk mendapatkan lokasi-lokasi banjir yang pernah dilaporkan oleh pengguna Twitter. Lokasi banjir ini selanjutnya dipetakan dan divalidasi menggunakan data curah hujan dari satelit GPM (Global Precipitation Measurement) yang disediakan oleh NASA (National Aeronautics and Space Administratration). Distribusi lokasi banjir dalam 3 tahun dianalisa berdasarkan intensitas rata-rata curah hujan tahunan. Kemudian, dilakukan uji regresi linear antara jumlah twit dengan intensitas curah hujan harian di setiap lokasi banjir. Hasil penelitian memperlihatkan sebaran lokasi banjir berada pada wilayah yang memiliki intensitas curah hujan yang tinggi.  Nilai uji regresi linear antara jumlah twit dengan intensitas curah hujan pada lokasi banjir sebesar 0.431. Nilai regresi 0,431 diperoleh setelah twit banjir kiriman dikeluarkan. Dengan demikian selain intensitas curah hujan, banjir kiriman juga memberikan dampak yang sangat besar sebagai penyebab banjir di Jakarta. The utilization Twitter social media data as a source of flood information has been investigated through filtering tweets containing flood information in the DKI Jakarta area  during 2015-2017. Tweets containing the keyword flood are collected to get flood locations that have been reported by Twitter users. Furthermore, the location of this flood is mapped and validated using rainfall data from the GPM (Global Precipitation Measurement) satellite provided by NASA (National Aeronautics and Space Administration). The distribution of flood locations is analyzed based on the average annual rainfall intensity. Then the relationship between the number of tweets and the intensity of daily rainfall at each flood location was examined using a linear regression. The distribution of flood locations is concentrated in the areas with high rainfall intensity. The value of linear regression coefficient between the number of tweets with the intensity of rainfall at flood locations is 0.431. However, a regression coefficient of 0.431 was obtained after the tweet containing flood of submissions was excluded. Thus, in addition to the intensity of rainfall, flood of submissions also has a very large impact as a cause of flooding in Jakarta
TINJAUAN KEADAAN METEOROLOGI PADA BANJIR BANDANG KOTA PADANG TANGGAL 24 JULI 2012 Sri Wahyuni; Marzuki -; Dwi Pujiastuti; Lusi Fitrian Sani; Aulya Rahayu
Jurnal Fisika Unand Vol 4 No 4: Oktober 2015
Publisher : Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1237.276 KB) | DOI: 10.25077/jfu.4.4.%p.2015

Abstract

ABSTRAKKeadaan meteorologi selama banjir bandang di Kota Padang tanggal 24 Juli 2012telah dianalisa. Analisa berdasarkan kepada data curah hujan yang diperoleh dari Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika Sicincin (BMKG), Dinas Pengelolaan Sumber Daya Air (PSDA) Sumatera Barat, satelit Tropical Rainfall Measuring Mission (TRMM), pergerakan awan dari Multi-functional Transport Satellite (MTSAT) dan data meteorologi dari National Centers for Environmental Prediction (NCEP) danNational Center for Atmospheric Research (NCAR). Penelitian ini memperlihatkan bahwa banjir bandang yang terjadi di Padang pada tanggal 24 Juli 2015 tidak disebabkan oleh curah hujan yang tinggi. Hujan yang terjadi hanya berkisar 13 mm/hari. Hujan ini tidak disebabkan oleh faktor global seperti Madden–Julian oscillation (MJO), El Niño Southern Oscillation (ENSO) dan monsun. Dengan demikian, hujan ini kemungkinan disebabkan oleh sirkulasi lokal (land-sea breeze). Sebelum terjadinya banjir bandang kemungkinan telah terbentuk bendungan alami di sekitar bukit pada kawasan banjir bandang. Dengan sedikit saja tambahan air, bendungan ini menjadi longsor yang menyebabkan banjir bandang.Kata kunci : banjir bandang Padang,land-sea breeze, Madden–Julian oscillationAbstractMeteorological condition during the Padang flash flood occurred on July 24, 2012 has been analyzed. The analysis was based on the rainfall data from Indonesian Agency for Meteorological, Climatological and Geophysics, West Sumatra Agency for Water Management, Tropical Rainfall Measuring Mission (TRMM) satellite, cloud propagation from Multi-functional Transport Satellite (MTSAT) and meteorology data from the National Centers for Environmental Prediction (NCEP) and National Center for Atmospheric Research (NCAR) reanalysis. It was found that the flash flood was not due to the heavy rain. The rainfall intensity during theflash flood was only about 13 mm/h. This rain was not from the global phenomena such as Madden–Julian oscillation (MJO), El Niño Southern oscillation (ENSO) and monsoon. It may be formed by the local phemomenon such as land-sea breeze. A natural dam may have been created before the flash flood and it would be easily broken when the light rain occurred.Keywords :Padang flash flood, land-sea breeze, Madden–Julian oscillation
Prediksi El Nino Southern Oscillation (ENSO) Menggunakan Jaringan Saraf Tiruan (JST)-Backpropagation Bunga Aprilia; Marzuki Marzuki; Imam Taufiq
Jurnal Fisika Unand Vol 9 No 4 (2020)
Publisher : Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (749.386 KB) | DOI: 10.25077/jfu.9.4.421-427.2020

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk memprediksi nilai indeks ENSO yaitu Sea Surface Temperature (Nino 1.2, Nino 3, Nino 3.4 dan Nino 4), Southern Oscillation Index (SOI) dan Multivariate ENSO Index versi 2 (MEI.v2) yang diambil dari tahun 1979-2018. Prediksi dilakukan dengan menggunakan metode JST-backpropagation dengan memvariasikan learning rate dan momentum. Semua indeks menghasilkan nilai akurasi prediksi ENSO yang tinggi, namun indeks Nino 4 merupakan indeks yang memiliki akurasi tertinggi karena nilai Mean Square Error (MSE) pelatihan dan pengujiannya yang relatif lebih kecil dibandingkan dengan indeks lainnya. Indeks Nino 4 memiliki MSE pelatihan 0,0072739 yang berhenti pada epoch ke-69 dan MSE pengujian 0,0085917 dengan akurasi prediksi 99,9989%. Hasil ini diperoleh dari arsitektur JST-backpropagation 12-10-1 dengan nilai learning rate 0,10 dan momentum 0,40.  Prediksi ENSO berdasarkan indeks Nino 4 untuk tahun 2021 menunjukkan keadaan iklim dunia dalam kondisi normal. This study aims to predict ENSO index using Sea Surface Temperature (Nino 1.2, Nino 3, Nino 3.4 and Nino 4 indexes), Southern Oscillation Index (SOI), and Multivariate ENSO Index version 2 (MEI.v2) during  1979 - 2018. The prediction was carried out using the ANN-backpropagation method by varying the learning rate and momentum. All indices produce high ENSO prediction accuracy values, but the Nino 4 index is the best one because the Mean Square Error (MSE) for training and testing steps are relatively smaller than other indexes. The Nino 4 index has a training MSE of 0.0072739 which stops at the 69th epoch and a testing MSE of 0.0085917 with a predictive accuracy of 99.9989%. These results were obtained from the back-propagation architecture ANN 12-10-1 with a learning rate of 0.10 and a momentum of 0.40. The prediction of ENSO in 2021 based on the Nino 4 index shows that the world climate condition is under normal conditions.
PENGAMATAN ANOMALI TEMPERATUR DAN AWAN GEMPA YANG MENGIRINGI GEMPA ACEH 2004 DAN GEMPA SUMATERA BARAT 2007 Muchtia Rahma; Marzuki -
Jurnal Fisika Unand Vol 4 No 3: Juli 2015
Publisher : Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (878.113 KB) | DOI: 10.25077/jfu.4.3.%p.2015

Abstract

ABSTRAKAnomali temperatur dan awan gempa yang mengiringi gempa bumi yang terjadi di  Aceh pada tanggal 26 Desember 2004 dan di Sumatera Barat pada tanggal 6 Maret 2007 telah diteliti menggunakan data temperatur tanah dan permukaan air laut  dari Moderate Resolution Imaging Spectroradiometer (MODIS) dan data awan dari Multi-functional Transport Satellite (MTSAT). Data temperatur udara dari National Centers for Environmental Prediction (NCEP) dan National Center for Atmospheric Research (NCAR) juga digunakan untuk memastikan bahwa anomali temperatur tersebut bukan disebabkan oleh aktivitas cuaca. Anomali temperatur diamati selama 5 tahun sebelum terjadinya gempa dan awan gempa diamati menggunakan data selama 3 bulan sebelum gempa.Hasil penelitian memperlihatkan bahwa kenaikan temperatur permukaan air laut dan tanah baik untuk gempa Aceh maupun gempa Sumatera Barat terjadi setelah gempa. Nilai anomali temperatur pada gempa Aceh masih lebih rendah dari batas nilai sebagai prekursor gempa bumi (< 2 K). Untuk gempa Sumatera Barat, nilai anomali temperatur berada dalam batas nilai sebagai prekursor gempa bumi (> 2 K), tetapi anomali temperatur tersebut terjadi hampir setiap tahun. Hal ini mengindikasikan bahwa anomali temperatur yang terjadi bukan disebabkan oleh aktivitas seismik, melainkan sebuah siklus tahunan. Untuk kasus awan gempa, pada kedua gempa tidak ditemukan adanya kemunculan awan gempa sebelum gempa terjadi. Namun, pada gempa Aceh terlihat pola awan yang agak mirip dengan awan gempa, tetapi setelah diamati lebih detil awan ini merupakan sisa dari awan konvektif yang terjadi sebelumnya.Kata kunci : anomali temperatur, awan gempa, gempa Aceh 2004, gempa Sumatera Barat 2007AbstractTemperature anomaly and earthquake cloud associated with the Aceh earthquake occurred on December 26, 2004 and the West Sumatra earthquake occurred on March 6, 2007 had been studied by using the land and the sea surface temperature data from the Moderate Resolution Imaging Spectroradiometer (MODIS) satellite and cloud propagation data fromMulti-functional Transport Satellite (MTSAT). The atmosphere temperature from National Centers for Environmental Prediction (NCEP) and National Center for Atmospheric Research (NCAR) reanalysis data were also used to confirm that temperature anomaly was not caused by a weather activity. The data during 5 years and 3 months, for temperature and cloud respectively, before the earthquake were analyzed.  The results showed that the increases of land and sea surface temperatures for the two earthquakes occurred after the earthquake. The value of temperature anomaly for Aceh earthquake were still lower than the limit value for the earthquake precursor (< 2 K). For the West Sumatra earthquake, the value of temperature anomaly was in the limit value for the earthquake precursor (> 2 K). However, this characteristic was also observed in other periods not only during the year of the earthquake. It indicated that such temperature anomaly was not due to the seismic activity. The results also showed that the earthquake cloud was not observed before the two earthquakes.  Before the Aceh earthquake, an earthquake cloud-like was observed. However, more detailed investigation on this cloud showed that this cloud was a residual of convective cloud that occurred before.Keywords: temperature anomaly, earthquake cloud, Aceh earthquake 2004, West Sumatra earthquake 2007
Co-Authors -, Renanto Adi Susilo Afdal, Afdal Afdhal Muttaqin Afrizal Afrizal Ahmad Fauzi Pohan Ahmad Rizqy Shubri Ahmad Zul Amal Zaini Ardian Putra Arif Budiman Arif Ismul Hadi Astuti Astuti Astuti Astuti Astuti Aulya Rahayu Aulya Rahayu Aulya Rahayu, Aulya Awaluddin Awaluddin Awaluddin Awaluddin Ayu Putri Ningsih Ayu Putri Ningsih Bella Deswanti Bunga Aprilia Dahyunir Dahlan Dea Kurnia Harysandi Dea Kurnia Harysandi Deasy Arisa Dedi Mardiansyah Dian Fitriyani Dinda Maulani Adfy Dwi Pujiastuti Dwi Puryanti Dwianda, Rany Audia Elfira Saufina Elfira Saufina Elvaswer Elvaswer Fadilla Monica Fadli Nauval Faridah Salma Feri Helmi Basri Feriska Handayani Irka, Feriska Handayani Fery Kurnia Sandi Gina Felita Harmadi Harmadi Harysandi, Dea Kurnia Helmi Yusnaini Helmi Yusnaini Helmi Yusnaini Helmi Yusnaini Hiroyuki Hashiguchi Hiroyuki Hashiguchi Hiroyuki Hashiguchi Hiroyuki Hashiguchi Hiroyuki Hashiguchi Hiroyuki Hashiguchi Hiroyuki Hashiguchi Hiroyuki Hashiguchi Hiroyuki Hashiguchi Hiroyuki Hashiguchi, Hiroyuki Ikhwan Fikri Maulidan Imam Taufik Imam Taufiq Indah Rahayu Iqbal Ramadhan Irza Utami L. Luini Lismalini Lismalini Lismalini, Lismalini Lisna Meylani Lusi Fitrian Sani Lusi Fitrian Sani Lusi Fitrian Sani, Lusi Fitrian Melly Angglena Meqorry Yusfi Meri Yoseva Mohammad Ali Shafii Mora Mora Mora Mora Mora Muchtia Rahma Muchtia Rahma, Muchtia Muhammad Arif Muhammad Kahfi Muharsyah, Robi Muldarisnur, Mulda Mutya Vonnisa Muzirwan Muzirwan Naela Amalia Zulfa Nauval, Fadli Nina Nina Nini Firmawati Nor Azlan Mohd Aris Novianti Indrastuti Nugroho, Susilo Nur Fadillah Nurdin Nurdin Nurul Hasanah Poltak Sandro Rumahorbo Poltak Sandro Rumahorbo, Poltak Sandro Puja Kasmailen Putri Rahmad Rasyid Rahmad Rasyid Rahmat Rasyid Ramacos Fardela Ramadani Safitri Ramadani Safitri Ramadhan, Ravidho Rani Delvihardini Rany Audia Dwianda Ravidho Ramadhan Ravidho Ramadhan Ravidho Ramadhan Ravidho Ramadhan Ravidho Ramadhan Ravidho Ramadhan Rifa Lihayati Rini Oktaviani Rio Chandra Rio Chandra, Rio Robi Muharsyah Salma, Faridah Selly Tridaiana Shimomai, Toyoshi Sholihun, Sholihun Silvia Wahyuni Solly Aryza Sri Hamdiyessi Sri Handani Sri Herlinda Sri Mai Dewi Sri Oktamuliani Sri Wahyuni Sri Wahyuni Sucy Lestari Wirma Sugeng Nugroho Suryanti, Krisna Suryanto, Wiwit Syarifatul Ulfah Toyoshi Shimomai Toyoshi Shimomai Toyoshi Shimomai Toyoshi Shimomai Toyoshi Shimomai Toyoshi Shimomai Trengginas Eka Putra Sutantyo Triana Vitri Triana Vitri, Triana Ulfa Azmi Usna, Sri Rahayu Alfitri Vira Friska Vira Friska Vira Friska Wendi Harjupa Wildian Wildian Wira Indrayani Yudi Saputra Zul Ikram Zulfi Zulfi Zulfi