Claim Missing Document
Check
Articles

Perbandingan Karakteristik Distribusi Butiran Hujan yang Berasal dari Awan Laut dan Awan Darat di Kototabang Nur Fadillah; Marzuki Marzuki; Wendi Harjupa; Toyoshi Shimomai; Hiroyuki Hashiguchi
Jurnal Fisika Unand Vol 5 No 3 (2016)
Publisher : Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (439.273 KB) | DOI: 10.25077/jfu.5.3.273-282.2016

Abstract

Karakteristik distribusi ukuran butiran hujan atau raindrop size distribution (RDSD) dari hujan yang berasal dari awan laut dan awan darat di Kototabang, Sumatera Barat, telah dibandingkan. Asal hujan diamati menggunakan X-band Doppler radar (XDR) selama proyek Coupling Processes in the Equatorial Atmosphere (CPEA)-I (10 April 2004 - 9 Mei 2004). Data RDSD berasal dari pengamatan two-dimensional video disdrometer (2DVD). RDSD dimodelkan dengan distribusi gamma dan parameternya didapatkan menggunakan metode momen. Dari penelitian ini terlihat bahwa intensitas curah hujan yang tinggi lebih banyak pada hujan dari awan darat dibandingkan dengan yang dari awan laut. Selain itu, butiran hujan yang berukuran besar pada awan darat lebih banyak daripada awan laut. Banyaknya butiran hujan dengan ukuran yang besar ini berdampak kepada nilai radar reflectivity (Z) pada awan darat yang lebih besar dibandingkan dengan awan laut untuk intensitas curah hujan yang sama. Hal ini mengakibatkan persamaan Z-R antara awan darat dan awan laut berbeda dimana nilai koefisien A dari persamaan Z-R untuk awan darat lebih besar daripada awan laut. Dengan demikian, perbedaan karaktersitik RDSD antara awan darat dan laut sebaiknya dipertimbangkan dalam pengembangan radar meteorologi di kawasan tropis. Penggunaan Z-R tunggal (Z = 200R1,6) untuk mengkoversi data radar cuaca di Sumatera terutama Sumatera Barat tidak akan akurat terutama untuk hujan dari awan laut.Kata kunci: distribusi butiran hujan (RDSD), awan darat, awan laut, Kototabang
Distribusi Arah Vertikal Butiran Hujan dari Hujan Stratiform di Kototabang dari Pengamatan Micro Rain Radar (MRR) Ravidho Ramadhan; Marzuki Marzuki
Jurnal Fisika Unand Vol 8 No 3 (2019)
Publisher : Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (911.557 KB) | DOI: 10.25077/jfu.8.3.252-259.2019

Abstract

Distribusi ukuran butiran hujan atau raindrop size distribution (RSD) arah vertikal hujan stratiform dari ketinggian 0,45 km hingga 4,65 km di atas permukaan tanah di Kototabang, Sumatera Barat (0,20o LS; 100,32o BT; 865 m di atas permukaan laut ), telah diteliti melalui pengamatan Micro Rain Radar (MRR) selama Januari 2012 sampai Agustus 2016. RSD dari MRR dimodelkan dengan distribusi gamma dan parameternya didapatkan menggunakan metode momen. Pertumbuhan RSD dari hujan stratiform pada ketinggian 3,9 – 3,4 km sangat kuat untuk semua ukuran butiran, yang menandakan  daerah melting layer di Kototabang. Di bawah daerah melting layer terjadi penurunan konsentrasi butiran berukuran kecil dan peningkatan konsentrasi butiran besar. Hal ini diperkirakan disebabkan oleh proses evaporasi dan updraft pada butiran kecil dan coalescence yang teramati pada hujan stratiform dengan intensitas tinggi. Hal ini juga ditandai dengan perubahan parameter gamma dan koefisien persamaan Z-R (Z=ARb) terhadap penurunan ketinggian. Dengan demikian, asumsi persamaan Z-R yang konstan untuk setiap ketinggian bagi hujan stratiform pada radar meteorologi khususnya di Kototabang kurang akurat.Kata kunci: Hujan stratiform, Kototabang, Micro Rain Radar (MRR), raindrop size distribution (RSD)
Rancang Bangun Prototipe Robot Pembersih Lantai 3 in 1 Berbasis Mikrokontroler Nina Nina; Nini Firmawati; Marzuki Marzuki
Jurnal Fisika Unand Vol 11 No 2 (2022)
Publisher : Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (322.872 KB) | DOI: 10.25077/jfu.11.2.166-172.2022

Abstract

Lantai merupakan bagian penting dalam rumah yang berfungsi sebagai penunjang kegiatan maupun aktivitas sehari-hari. Ketika seseorang jarang mengepel lantai setelah menyapu lantai dengan rutin, justru debu yang menempel pada lantai belum sepenuhnya hilang. Hal inilah yang dapat menyebabkan berkembangnya berbagai macam kuman dan bakteri yang membahayakan tubuh penggunanya. Untuk mengatasi permasalahan di atas, maka dirancang sebuah prototipe robot pembersih lantai 3 in 1 berbasis mikrokontroler. Prototipe ini dilengkapi dengan 3 sensor yaitu sensor debu GP2Y1010AU0F digunakan untuk mendeteksi debu sehingga vacuum akan otomatis aktif. Sensor ultrasonik HC-SR04 digunakan untuk mendeteksi objek sampah, kemudian sensor DHT22 digunakan untuk mendeteksi kelembaban lantai. Pengujian dilakukan untuk mengetahui kinerja dan efektivitas dari robot. Hasil pengujian kinerja menunjukan robot mampu bergerak maju, mundur, berhenti, dan berbelok 360°. Pada pengujian kamera, kamera yang digunakan mampu menangkap objek dengan jelas. Hasil pengujian efektivitas tangan robot, robot telah berhasil mengangkat sampah hingga beban maksimal yang ditetapkan, yaitu  sebesar 150 gram. Pada pengujian penyedotan debu oleh robot, vacuum cleaner yang digunakan dapat berfungsi dengan persentase efektivitas pembersihan rata-rata sebesar 96,33%. Pada pengujian sistem pengepelan lantai, robot mampu membaca kondisi lantai basah maupun kering dengan dan basah sesuai dengan kondisi lantai tersebut. 
Struktur Vertikal Distribusi Butiran Hujan di Kototabang Berdasarkan Pengamatan Micro Rain Radar (MRR) Indah Rahayu; Marzuki Marzuki; Hiroyuki Hashiguchi; Toyoshi Shimomai
Jurnal Fisika Unand Vol 5 No 4 (2016)
Publisher : Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (323.156 KB) | DOI: 10.25077/jfu.5.4.287-296.2016

Abstract

Distribusi ukuran butiran hujan atau raindrop size distribution (RDSD) arah vertikal dari ketinggian 0,15 km hingga 4,65 km di Kototabang, Sumatera Barat, telah diteliti melalui pengamatan Micro Rain Radar (MRR) selama Januari-Desember 2012. Intensitas curah hujan (rainfall rate) dari Optical Rain Gauge (ORG) dan RDSD dari Parsivel digunakan untuk menguji kinerja MRR. Pengujian memperlihatkan bahwa MRR berfungsi dengan baik dimana intensitas curah hujan dari ORG berkorelasi dengan baik dengan MRR (r = 0,98) dan RDSD dari MRR secara umum juga memperlihatkan pola dan nilai yang sama dengan yang didapatkan Parsivel.  Selanjutnya, RDSD dari MRR dimodelkan dengan distribusi gamma dan parameternya didapatkan menggunakan metode momen.  Terlihat bahwa pertumbuhan RDSD di Kototabang dari ketinggian 4,65 km hingga 0,15 km sangat kuat yang kemungkinan disebabkan oleh proses tumbukan-penggabungan.  Hal ini ditandai dengan peningkatan konsentrasi butiran berukuran besar dengan penurunan ketinggian.  Peningkatan konsentrasi butiran hujan berukuran besar terhadap penurunan ketinggian berpengaruh kepada parameter-parameter hujan seperti radar reflectivity (Z) dan rainfall rate (R) yang menyebabkan peningkatan koefisien A (Z= ARb) terhadap penurunan ketinggian.  Dengan demikian, penggunaan persamaan Z-R yang konstan untuk setiap ketinggian bagi radar meteorologi di kawasan tropis khususnya Sumatera Barat tidak  tepat.Kata kunci: raindrop size distribution, MRR, Kototabang, distribusi gamma.
Analisis Kerawanan Bencana Longsor dari Karakteristik Hujan, Pergerakan Tanah dan Kemiringan Lereng di Kabupaten Agam Dinda Maulani Adfy; Marzuki Marzuki
Jurnal Fisika Unand Vol 10 No 1 (2021)
Publisher : Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1155.14 KB) | DOI: 10.25077/jfu.10.1.8-14.2021

Abstract

Telah dilakukan penelitian untuk mengetahui pengaruh intensitas curah hujan, pergerakan tanah, dan kemiringan lereng terhadap kejadian longsor di Kabupaten Agam, Sumatera Barat. Nilai hujan pemicu longsor dibuat berdasarkan data curah hujan dari satelit GPM (Global Precipitation Measurement) pada tiap kejadian longsor di Kabupaten Agam. Kejadian longsor yang diteliti adalah kejadian selama tahun 2019 sampai 2020. Pergerakan tanah dianalisa dari data satelit Sentinel-1 yang diolah dengan menggunakan metode DInSAR (Differential Interferometry Synthetic Aperture Radar). Interval nilai hujan pemicu longsor di Kabupaten Agam didapatkan sebesar 0,05 - 62,64 mm/hari. Nilai curah hujan tahunan di daerah ini didapatkan sebesar 2.467,7 - 3.611,5 mm. Hasil penelitian menunjukkan Kabupaten Agam mengalami penurunan tanah yang ditandai dengan nilai pergerakan tanah sebesar 0 s/d -0,737017 cm/tahun. Daerah di Kabupaten Agam dengan tingkat kerawanan longsor sangat rendah (0,75%) dan rendah (10,53%) tersebar pada kawasan bagian tenggara. Daerah dengan tingkat kerawanan longsor sedang (45,11%) tersebar pada kawasan bagian barat hingga selatan yang didominasi oleh faktor pergerakan tanah yang cukup besar dan kelerengan yang curam. Daerah dengan tingkat kerawanan longsor tinggi (39,85%) dan sangat tinggi (3,76%) tersebar pada kawasan bagian utara yang faktor dominannya adalah curah hujan tinggi, pergerakan tanah besar, dan kelerengan yang curam. This research investigates precipitation intensity, land movement, and topographic slope on landslides in Agam Regency, West Sumatra. The landslide events, which are analyzed, are from 2019 to 2020. The precipitation intensity for each landslide event is estimated from GPM (Global Precipitation Measurement) observation. The land movement is estimated by the Sentinel-1 satellite data, processed by using DInSAR (Differential Interferometry Synthetic Aperture Radar) method. The precipitation intensity, which includes landslides, is around 0.05 - 62.64 mm/day. Furthermore, the annual precipitation value of this region is about 2467.7 - 3611.5 mm. The result shows that Agam Regency has experienced land subsidence by the velocity rate varying from 0 to -0.737018 cm/year. The southeast region of Agam Regency is categorized as very low (0.75%) to low (10.53%) landslide vulnerability areas. The west to the south region of Agam Regency is categorized as moderate landslide vulnerability areas (45.11%), large land movement, and steep slope. The areas with high (39.85%) to very high (3.76%) landslide vulnerability are scattered in the north, dominated by high precipitation intensity, large land movement, and steep slope factors
Kajian Suseptibilitas Magnetik Tanah Sebagai Indikator Longsor di Gunung Nago, Padang Gina Felita; Afdal Afdal; Marzuki Marzuki
Jurnal Fisika Unand Vol 11 No 1 (2022)
Publisher : Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2226.061 KB) | DOI: 10.25077/jfu.11.1.75-81.2022

Abstract

Telah dilakukan penelitian mengenai analisis nilai suseptibilitas magnetik tanah daerah potensi longsor di kawasan Gunung Nago. Sampel tanah diambil pada empat lintasan yaitu lintasan A, B, C dan D dengan jarak antar lintasan 5 m yang terdiri dari 10 titik sampel, sehingga membentuk grid yang terdiri dari 40 titik sampel untuk tiap kedalaman. Sampel diambil dengan variasi kedalaman 25, 50 dan 100 cm sehingga dihasilkan 120 sampel tanah. Pengukuran suseptibilitas magnetik menggunakan MS2B Bartington Susceptibility Meter dengan dua frekuensi, yaitu frekuensi rendah (0,47 kHz) dan frekuensi tinggi (4,7 kHz). Hasil pengukuran χFD (%) menunjukkan nilai berkisar antara 0,72% hingga 10,26%. Berdasarkan nilai suseptibilitas magnetik bergantung frekuensi χFD (%) lokasi penelitian memiliki kandungan bulir superparamagnetik yang rendah (kurang dari 10%) sehingga tanah daerah penelitian tersebut lebih kesulitan untuk menyerap air dan menjadikan area ini sulit terjadi longsor. Area kedalaman 25 cm memiliki nilai rata-rata χFD (%) sebesar 1,87% - 4,5% dan diperkirakan area kedalaman 25 cm memiliki kecenderungan rendah mengalami longsor. Sementara, area kedalaman 50 cm memiliki nilai rata-rata χFD (%) lebih rendah sebesar 1,64% - 5,19% dan diperkirakan kedalaman ini memiliki kecenderungan lebih rendah untuk terjadinya longsor.
PENGARUH BADAI TROPIS HAIYAN TERHADAP POLA HUJAN DI INDONESIA Lusi Fitrian Sani; Marzuki -
Jurnal Fisika Unand Vol 4 No 2: April 2015
Publisher : Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2234.729 KB) | DOI: 10.25077/jfu.4.2.%p.2015

Abstract

ABSTRAKPenelitian ini menganalisis dampak tidak langsung badai tropis Haiyan (4 – 11 November) terhadap pola curah hujan di Indonesia dengan menggunakan data temperatur, kelembaban relatif (RH), dan pergerakan udara vertikal (omega) dari National Centers for Environmental Prediction and the National Center for Atmospheric Research (NCEP-NCAR) Reanalysis, data curah hujan dari satelit Tropical Rainfall Measuring Mission (TRMM), dan radiasi gelombang panjang (Outgoing Longwave Radiation, OLR) dari National Oceanic and Atmospheric Administration (NOAA). Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa badai tropis Haiyan mempengaruhi sebagian wilayah Indonesia, terutama Papua. Kondisi meteorologis dan awan memperlihatkan bahwa hujan di daerah Papua selama periode 4 – 11 November dipengaruhi oleh badai tropis Haiyan dimana puncak total curah hujan teramati selama badai dan menunjukkan penurunan sebelum dan sesudahnya. Untuk kawasan Indonesia bagian barat seperti Jawa dan Sumatera, pengaruh badai terhadap total curah hujannya tidak teramati dengan jelas. Oleh karena itu peningkatan curah hujan selama periode 4 – 11 November untuk kawasan ini bukan disebabkan oleh badai tropis Haiyan tetapi kemungkinan disebabkan oleh faktor lain seperti monsun, Madden – Julian Oscillation dan fenomena lokal.Kata kunci : Haiyan, TRMM, BMKG, hujan.AbstractIn this work the indirect impact of tropical storm Haiyan (November 4 to 11) on the Indonesian rainfall pattern was investigated by using the temperature, relative humidity, and vertical velocity data of National Centers for Environmental Prediction and the National Center for Atmospheric Research (NCEP-NCAR) Reanalysis, ranfall data from Tropical Rainfall Measuring Mission (TRMM) satellite, and outgoing longwave radiation (OLR) from National Oceanic and Atmospheric Administration (NOAA). It was found that tropical storm Haiyan partially influenced the Indonesian rainfall pattern particularly around Papua in which the peak of rainfall was observed during the mature stage of the storm. For the western region of Indonesia such as Java and Sumatra, the influence of the storm on the total rainfall was not observed clearly. Therefore, an increase in rainfall during November 4 - 11 for such regions was not caused by the tropical storm but may be caused by other factors such as the monsoon, the Madden-Julian Oscillation and local phenomenon.Keywords : Haiyan, TRMM, BMKG, Indonesia rainfall.
Analisis Dampak Perubahan Tutupan Lahan di Kalimantan Terhadap Temperatur Permukaan Ramadani Safitri; Mutya Vonnisa; Marzuki Marzuki
Jurnal Fisika Unand Vol 11 No 2 (2022)
Publisher : Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2863.912 KB) | DOI: 10.25077/jfu.11.2.173-179.2022

Abstract

Penelitian ini membahas tentang perubahan tutupan lahan di Kalimantan terhadap temperatur permukaan. Identifikasi perubahan tutupan lahan dilakukan dengan metode analisa data satelit landsat pada setiap kelas tutupan lahan  yang bertujun untuk melihat kenaikan suhu permukaan. Klasifikasi tutupan lahan dan suhu permukaan didapatkan dari data landsat 5 dan 8 yang diolah dengan menggunakan ENVI 5.3 dan Arcgis 10.6 1. Klasifikasi tutupan lahan dibagi atas 3 kelas secara garis besar yaitu lahan terbangun, badan air, dan lahan non terbangun. Penelitian ini menemukan bahwa suhu permukaan pada setiap kelas tutupan lahan berbeda-beda. Perubahan pada tahun 1999 ke 2014 sebesar 7 % pada wilayah Kalimatan Timur, Kalimantan Selatan dan Kalimantan Barat. Hasil yang didapatkan menunjukkan perubahan tutupan lahan berbanding lurus dengan temperatur permukaan
Distribusi Vertikal Karbon Monoksida di Sumatera Berdasarkan Pengamatan Measurement of Pollution in the Troposphere (MOPITT) Selama Kebakaran Hutan Tahun 2015 Ulfa Azmi; Marzuki Marzuki
Jurnal Fisika Unand Vol 5 No 3 (2016)
Publisher : Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (383.643 KB) | DOI: 10.25077/jfu.5.3.252-260.2016

Abstract

Distribusi vertikal karbon monoksida (CO) di Sumatera selama kebakaran hutan tahun 2015 telah diteliti menggunakan data satelit MOPITT (Measurements of Pollution in the Troposphere). Pengaruh proses konveksi terhadap pergerakan CO ke lapisan atmosfer diamati dengan data OLR (Outgoing Longwave Radiation) dan pergerakan udara dari data NCEP/NCAR (National Centers for Environmental Prediction/National Center for Atmospheric Research). Hasil penelitian memperlihatkan bahwa kebakaran hutan tahun 2015 telah meningkatkan konsentrasi CO di Indonesia. Namun, jumlah gas CO yang terekam oleh MOPITT tidak terlalu tinggi (~40-120 ppbv). Hal ini disebabkan oleh tingginya konsentrasi uap air di ekuator sehingga konsentrasi CO rendah dan waktu tinggal CO di atmosfer juga berkurang. Selain di permukaan, peningkatan konsentrasi CO juga teramati pada lapisan atmosfer yang lebih tinggi. Namun, hubungan antara pergerakan CO ke lapisan atmosfer atas dengan aktivitas konveksi sulit untuk diamati dengan data satelit MOPITT. Perulangan waktu pengamatan MOPITT untuk titik pengamatan yang sama cukup lama yaitu 4 hari menjadi salah satu kendala. Walaupun demikian, dari tiga studi kasus yang diteliti, teramati pengaruh konveksi terhadap pergerakan CO ke atas pada dua kasus yaitu tanggal 11 dan 15 Oktober 2015. Pada 11 Oktober, jumlah CO bertambah dari 60 ppbv menuju 80-100 ppbv dan pada tanggal 15 Oktober, juga mengalami peningkatan dari 60 ppbv menjadi 80-90 ppbv pada 100 hPa.Kata kunci:CO, MOPITT, konveksi, Sumatera, kebakaran hutan 2015
PERBANDINGAN KARAKTERISTIK DISTRIBUSI UKURAN BUTIRAN HUJAN DI PADANG DAN DI KOTOTABANG Rio Chandra; Marzuki -; Hiroyuki Hashiguchi
Jurnal Fisika Unand Vol 4 No 3: Juli 2015
Publisher : Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3569.084 KB) | DOI: 10.25077/jfu.4.3.%p.2015

Abstract

ABSTRAKDistribusi ukuran butiran hujan atau raindrop size distribution (RDSD) di Padangdan di Kototabang, Sumatera Barat,  telah dibandingkan.  Perbandingan dilakukan melalui pengamatan particle size velocity (Parsivel) selama Maret 2014 – Mei 2015 untuk Padang dan Januari 2014 – Januari 2015 untuk Kototabang.  RDSD dimodelkan dengan distribusi gamma dan parameternya didapatkan menggunakan metode momen.  Terlihat bahwa intensitas curah hujan yang tinggi lebih banyak di Padang daripada di Kototabang.  Selain itu, butiran hujan yang berukuran besar di Padang lebih banyak daripada di Kototabang.  Banyaknya butiran hujan yang berukuran besar ini berdampak pada nilai radar reflectivity (Z) di Padang yang sedikit lebih besar dari Kototabang untuk intensitas curah hujan yang sama.  Karena itu nilai koefisien A yang ada dalam persamaan Z-R di Padang juga sedikit lebih besar dari Kototabang.  Sedikitnya perbedaan karakteristik RDSD antara Padang dan Kototabang, disebabkan oleh hujan yang terjadi  di Padang dan di Kototabang kemungkinan berasal dari awan konvektif yang sama, yaitu awan dari Samudra Hindia.  Awan tersebut mengalami proses yang berbeda di Kototabangdisebabkan oleh adanya pegunungan di sekitar daerah ini sehingga menimbulkan hujan dengan RDSD yang agak berbeda dengan di Padang. Kata kunci: raindrop size distribution, metode momen, Parsivel, Padang, KototabangAbstractCharacteristics of raindrop size distribution (RDSD) in Padang and Kototabang have been compared through particle size distribution (Parsivel) observation during March 2014 – May 2015 for Padang and January 2014 – January 2015 for Kototabang.  The RDSD was parameterized by the modified gamma distribution and its parameter was calculated by the moment method.  It was found that the occurrence frequency of heavy rain in Padang is higher than Kototabang.  Moreover, rains in Padang have more large-sized drop than Kototabang.  As consequence, the radar reflectivity factor (Z) in Padang was slightly larger than Kotabang for the same rainfall rate.  A small difference in the RDSD between Padang and Kototabang may indicate that the precipitating cloud of the two regions is the same, i.e., same origin (Indian Ocean).  However, the cloud will undergo different process when it reaches Sumatera.  At Kototabang, it will be influenced by the mountain around this region which can cause orographic precipitation.  The orographic precipitation is characterized by the large concentration of small size drops as found at Kototabang in this study.Keywords: raindrop size distribution, moment method, Parsivel, Padang, Kototabang
Co-Authors -, Renanto Adi Susilo Afdal, Afdal Afdhal Muttaqin Afrizal Afrizal Ahmad Fauzi Pohan Ahmad Rizqy Shubri Ahmad Zul Amal Zaini Ardian Putra Arif Budiman Arif Ismul Hadi Astuti Astuti Astuti Astuti Astuti Aulya Rahayu Aulya Rahayu Aulya Rahayu, Aulya Awaluddin Awaluddin Awaluddin Awaluddin Ayu Putri Ningsih Ayu Putri Ningsih Bella Deswanti Bunga Aprilia Dahyunir Dahlan Dea Kurnia Harysandi Dea Kurnia Harysandi Deasy Arisa Dedi Mardiansyah Dian Fitriyani Dinda Maulani Adfy Dwi Pujiastuti Dwi Puryanti Dwianda, Rany Audia Elfira Saufina Elfira Saufina Elvaswer Elvaswer Fadilla Monica Fadli Nauval Faridah Salma Feri Helmi Basri Feriska Handayani Irka, Feriska Handayani Fery Kurnia Sandi Gina Felita Harmadi Harmadi Harysandi, Dea Kurnia Helmi Yusnaini Helmi Yusnaini Helmi Yusnaini Helmi Yusnaini Hiroyuki Hashiguchi Hiroyuki Hashiguchi Hiroyuki Hashiguchi Hiroyuki Hashiguchi Hiroyuki Hashiguchi Hiroyuki Hashiguchi Hiroyuki Hashiguchi Hiroyuki Hashiguchi Hiroyuki Hashiguchi Hiroyuki Hashiguchi, Hiroyuki Ikhwan Fikri Maulidan Imam Taufik Imam Taufiq Indah Rahayu Iqbal Ramadhan Irza Utami L. Luini Lismalini Lismalini Lismalini, Lismalini Lisna Meylani Lusi Fitrian Sani Lusi Fitrian Sani Lusi Fitrian Sani, Lusi Fitrian Melly Angglena Meqorry Yusfi Meri Yoseva Mohammad Ali Shafii Mora Mora Mora Mora Mora Muchtia Rahma Muchtia Rahma, Muchtia Muhammad Arif Muhammad Kahfi Muharsyah, Robi Muldarisnur, Mulda Mutya Vonnisa Muzirwan Muzirwan Naela Amalia Zulfa Nauval, Fadli Nina Nina Nini Firmawati Nor Azlan Mohd Aris Novianti Indrastuti Nugroho, Susilo Nur Fadillah Nurdin Nurdin Nurul Hasanah Poltak Sandro Rumahorbo Poltak Sandro Rumahorbo, Poltak Sandro Puja Kasmailen Putri Rahmad Rasyid Rahmad Rasyid Rahmat Rasyid Ramacos Fardela Ramadani Safitri Ramadani Safitri Ramadhan, Ravidho Rani Delvihardini Rany Audia Dwianda Ravidho Ramadhan Ravidho Ramadhan Ravidho Ramadhan Ravidho Ramadhan Ravidho Ramadhan Ravidho Ramadhan Rifa Lihayati Rini Oktaviani Rio Chandra Rio Chandra, Rio Robi Muharsyah Salma, Faridah Selly Tridaiana Shimomai, Toyoshi Sholihun, Sholihun Silvia Wahyuni Solly Aryza Sri Hamdiyessi Sri Handani Sri Herlinda Sri Mai Dewi Sri Oktamuliani Sri Wahyuni Sri Wahyuni Sucy Lestari Wirma Sugeng Nugroho Suryanti, Krisna Suryanto, Wiwit Syarifatul Ulfah Toyoshi Shimomai Toyoshi Shimomai Toyoshi Shimomai Toyoshi Shimomai Toyoshi Shimomai Toyoshi Shimomai Trengginas Eka Putra Sutantyo Triana Vitri Triana Vitri, Triana Ulfa Azmi Usna, Sri Rahayu Alfitri Vira Friska Vira Friska Vira Friska Wendi Harjupa Wildian Wildian Wira Indrayani Yudi Saputra Zul Ikram Zulfi Zulfi Zulfi