Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search
Journal : BANGUN REKAPRIMA

PENERAPAN PRODUKSI BERSIH PADA INDUSTRI KECIL MENENGAH (IKM) JEANS DI SENTRA JEANS SUROBAYAN, WONOPRINGGO, KABUPATEN PEKALONGAN Suhartono, Edy; Rahayu, Suparni Setyowati; Budi, Basuki Setiyo; Yusa, Mochammad
Bangun Rekaprima Vol. 7 No. 2 (2021): Oktober 2021
Publisher : Politeknik Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (192.701 KB) | DOI: 10.32497/bangunrekaprima.v7i2.3001

Abstract

Salah satu sentra konveksi berbahan jeans di Jawa Tengah, perkembangan industri jeans di Kabupaten Pekalongan sangat pesat adalah sentra jeans Surobayan,Wonopringgo,Kab.Pekalongan. Sebelum tahun 2010, kondisi sentra jeans di Kabupaten Pekalongan berkembang secara alami. Berdasarkan kemampuan dalam penyerapan tenaga kerja, maka jenis industri konveksi jeans menduduki rangking kedua setelah kerajinan batik atau sangat potensial dalam penyerapan tenaga kerja lebih dari 6.300 orang di Surabayan, Wonopringgo, Kab.Pekalongan. Untuk meningkatkan kinerja ekonomi, sosial, dan lingkungan pada Sentra Jeans Surabayan, Wonopringgo, Kab.Pekalongan dilakukan penerapan perangkat produksi bersih berkelanjutan dan minimisasi pembuangan limbah cair melalui pola (3R). Hasil produksi pengrajin konveksi jeans berupa Celana jeans untuk pria dan wanita, Jaket untuk pria dan wanita, kemeja baik untuk dewasa maupun anak anak Kapasitas produksi masing ”“masing pengrajin konveksi jeans per bulan antara 300 kodi sampai 1200 kodi. Pertumbuhan UKM di Kabupaten Pekalongan khususnya Sentra Jeans Surabayan, Wonopringgo, Kab.Pekalongan setiap tahunnya berkembang meskipun ada yang tutup usahanya, dan merupakan jantung perekonomian garmen di kabupaten Pekalongan. Rata-rata satu perusahaan mempunyai karyawan 15 orang. Setiap tahun rata-rata satu perusahaan mempergunakan, kain jeans 182.880 m, H2O2 1600 L, kostik 2000 kg, teepol 200 kg. pada proses produksinya rata-rata per hari membutuhkan air 15.000 L, kayu bakar 30m3. Sedangkan selama setahun produk gagal 9.144 m, H2O ¬2 yang tercecer 200 L, , air limbah 80% dari air yang digunakan, teepol yang tercecer 10 kg, bahan pewarna 50,4 kg, belum ada yang mengunakan pewarna alam. Tahapan yang harus dilalui untuk menerapkan produksi bersih berkelanjutan yaitu mengidentifikasi penyebab inefisiensi, menganalisis sebab dan dampak lingkungan, menentukan langkah-langkah perbaikan pengelolaan lingkungan yang diperlukan, mengintegrasikannya dalam struktur organisasi perusahaan serta mengevaluasi langkah-langkah tersebut.
Strategi Memenuhi Kebutuhan Air Bersih Di Kawasan Industri Genuk Semarang Suhartono, Edy
Bangun Rekaprima Vol. 4 No. 1 (2018): April 2018
Publisher : Politeknik Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (221.341 KB) | DOI: 10.32497/bangunrekaprima.v4i1.1117

Abstract

Kawasan Industri Genuk di Kota Semarang, disamping memberikan keuntungan dalam aspek ekonomi, juga memberikan beban bagi lingkungan, seperti penggunaan sumberdaya air bersih yang sebagian besar masih bersumber dari air tanah. Pengambilan air tanah yang tidak memperhatikan kondisi cekungan air tanah mengakibatkan intrusi air laut, terutama di wilayah akuifer rendah yang memiliki debit air tanah kurang dari 1,3 liter/detik, sehingga menurunkan kualitas air tanah akibat dari intrusi air laut. Baku mutu air minum (PERMENKES. 492/MENKES/PER/IV/2010) telah mensyaratkan bahwa air tanah dapat digunakan sebagai air minum apabila kandungan klorida (Cl) di dalam air tanah kurang dari 250 mg/L. Pada umumnya kondisi air tanah yang telah tercemar akibat dari intrusi air laut, nilai kandungan klorida (Cl) air tanah tersebut lebih dari 250 mg/L dan berdampak pada tidak efektifnya kegiatan di kawasan industri. Penelitian tentang intrusi air laut terhadap air tanah pada akuifer tertekan (sumur bor) menggambarkan bahwa pada tahun 2013, luasan wilayah pesisir di Kota Semarang yang berpotensi mengalami intrusi air laut sebesar 5.920,96 ha atau sekitar 54,5 % dari luas wilayah penelitian sebesar 10.448,6 ha terutama yang memiliki elevasi tanah sampai dengan 3 mdml (radius 4 km dari garis pantai) meliputi sebagian wilayah Kecamatan Semarang Barat, Kecamatan Semarang Tengah, Kecamatan Semarang Utara dan Kecamatan Genuk. Tantangan bagi kawasan industri dalam memenuhi kebutuhan air bersihnya perlu strategi yaitu dalam pengelolaan sumberdaya air di kawasan industri diperlukan keselarasan aspek ekonomi dan lingkungan, pendekatan bisnis dalam pengelolaan lingkungan, dan penerapan produksi bersih.Kata kunci: Kawasan industri berwawasan lingkungan, air tanah, produksi bersih.
PENGEMBANGAN PRODUK OLAHAN BUAH MANGROVE JENIS API-API (AVICENNIA SPP) DI KELOMPOK PETANI MANGROVE LESTARI KELURAHAN MANGUNHARJO KECAMATAN TUGU, SEMARANG Suhartono, Edy; Santosa, Stefanus; Yusetyowati, Yusetyowati; Wibowo, Hadi
Bangun Rekaprima Vol. 7 No. 2 (2021): Oktober 2021
Publisher : Politeknik Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (162.601 KB) | DOI: 10.32497/bangunrekaprima.v7i2.3002

Abstract

Permanfaatan buah mangrove oleh Kelompok Petani Mangrove Lestari adalah mengolah bahan baku menjadi produk olahan. Metode yang digunakan dalam memecahkan masalah Kelompok Petani Mangrove Lestari yaitu dengan sosialisasi proses pengolahan tepung buah mangrove yang sesuai standar, menyediakan alat penggiling tepung untuk mendapatkan tepung yang berkualitas baik, dan demostrasi pengolahan tepung buah mangrove menjadi kue bolu dan sirup. Berdasarkan hasil sosialisasi pengabdian masyarakat di Kelurahan Mangunharjo Kecamatan Tugu,Semarang berhasil karena melihat antusiasme masyarakat Kelurahan tersebut yang mendapatkan ilmu terkait pengolahan tepung buah mangrove yang dapat meningkatkan pendapatan ekonomi msyarakat.