Claim Missing Document
Check
Articles

Found 33 Documents
Search

K.H. Tubagus Ahmad Bakri Sempur’s Theological Thinking and Its Implications in Mashlahah Al-Islamiyyah Fi Ihkami Al-Tawhidiyyah Kosasih, Ade; Mahdi, Sutiono; Fahrullah, Tb. Ace
Interdisciplinary Social Studies Vol. 1 No. 10 (2022): Special Issue
Publisher : International Journal Labs

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55324/iss.v1i10.242

Abstract

K.H. Tubagus Ahmad Bakri (died 1975) was a cleric in Sempur Village, Plered District, Purwakarta Regency, West Java. One form of his legacy is in the form of written works known as "nuqilan" or adaptations. One of them is Mashlahah Al-`Islamiyyah Fi `Ihkami Al-Tawhidiyyah (MIFIT) which specifically reveals thoughts on theological aspects in Islam. Uncovering patterns of theological thinking and religious teachings that can be applied in the lives of rural communities. This research uses the reception method, which is a critical study of the text and revealing the meanings contained in it. It is a qualitative method in whihch every sentence contained in the text is interpreted and connected with the reality of its implementation in everyday life in order to set an example to the audience, both students and society. The philological and textological studies of MIFIT critically produced the model of theological thinking that is very Ahlussunnah-centric by revealing the arguments of the Qur'an and the Prophet's Hadith as well as several Sunni scholars from the Middle East and the Indonesian Archipelago. The implications are at the level of practice of religious teachings in life which tend to be exclusive even though they prioritize tolerance.
RAHMATAN LIL 'ALAMIN SEBAGAI LANDASAN KONSEPSI PEMBERDAYAAN MASYARAKAT: KONTEKSTUALISASI QS. AL-ANBIYA AYAT 107 DALAM PROGRAM PENGABDIAN KEPADA MASYARAKAT Kosasih, Ade; Sofianto, Kunto; Syabana, Muntazhar Nur
Midang Vol 4 No 2 (2026): Midang, Juni 2026
Publisher : Unpad Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/midang.v4i2.64087

Abstract

Pemberdayaan masyarakat merupakan salah satu bentuk implementasi tridarma perguruan tinggi yang bertujuan meningkatkan kapasitas individu maupun kelompok agar mampu menyelesaikan berbagai persoalan sosial secara mandiri dan berkelanjutan. Dalam perspektif Islam, pemberdayaan masyarakat tidak hanya berorientasi pada peningkatan kesejahteraan material, tetapi juga diarahkan pada pembentukan kehidupan yang berkeadilan, bermartabat, dan membawa kemaslahatan bagi seluruh makhluk. Artikel ini bertujuan mengkontekstualisasikan makna rahmatan lil 'alamin dalam QS. Al-Anbiya ayat 107 sebagai landasan konseptual pemberdayaan masyarakat pada kegiatan pengabdian kepada masyarakat. Metode yang digunakan adalah pendekatan deskriptif-kualitatif melalui studi kepustakaan yang dipadukan dengan pendekatan partisipasi dalam pelaksanaan program pengabdian. Analisis dilakukan terhadap ayat Al-Quran, kitab tafsir klasik dan kontemporer, serta literatur mengenai pemberdayaan masyarakat. Hasil kajian menunjukkan bahwa konsep rahmatan lil 'alamin mengandung nilai kasih sayang, keadilan, inklusivitas, penghormatan terhadap martabat manusia, serta keberlanjutan yang sangat relevan dijadikan paradigma dalam merancang, melaksanakan, dan mengevaluasi program pemberdayaan masyarakat. Nilai-nilai tersebut mendorong transformasi masyarakat secara holistik melalui peningkatan kapasitas, penguatan kelembagaan, partisipasi aktif, dan kemandirian sosial. Dengan demikian, QS. Al-Anbiya ayat 107 memiliki relevansi yang kuat sebagai dasar konseptual dalam membangun model pengabdian kepada masyarakat yang berorientasi pada kemaslahatan universal.
AESTHETICS AND POLITICAL PERSUASION IN CONTEMPORARY SAUDI ARABIAN POETRY ON NEOM: A SOCIOLOGICAL ANALYSIS OF LITERATURE Muhammad Firmansyah; Ade Kosasih; Ooh Hodijah; Abdul Barr Nashir
Afshaha: Jurnal Bahasa dan Sastra Arab Vol 5, No 1 (2026): Afshaha: Jurnal Bahasa dan Sastra Arab
Publisher : Faculty of Humanities UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18860/afshaha.v5i1.40455

Abstract

Literature has become an important tool for expressing and validating ideas about the future of the country as Saudi Arabia increases its cultural and symbolic commitment in the Neom megaproject. This article analyzes how award-winning poems from a Neom-themed poetry competition held by Nadi Tabuk Adabi function both as aesthetic representations of the Neom project and as instruments of ideological conditioning in contemporary Saudi Arabia. Employing a qualitative descriptive method, this study draws on Alan Swingewood’s sociology of literature to examine poetry as a social product shaped by institutional and political contexts. Hermeneutic textual analysis is applied to three winning poems, focusing on diction, metaphor, symbolism, and narrative structure, while situating these elements within their socio-political environment. The findings show that Neom is consistently represented as a utopian, transformative, and inevitable future through futuristic imagery. Beyond textual representation, the poetry competition itself operates as a cultural institution that conditions meaning production through prestige, recognition, and symbolic legitimacy rather than coercion.This research contributes to Arabic literary studies by demonstrating the continued political function of poetry in contemporary state-sponsored cultural practices and by framing modern Arabic poetry as a site of ideological negotiation rather than purely aesthetic expression.
KRITIK SOSIAL DALAM NOVEL IZRAIL KARYA YUSUF AS SIBA’I: KRITIK SOSIAL DALAM NOVEL IZRAIL KARYA YUSUF AS SIBA’I Ade Kosasih; Ooh Hodijah; Yuni Riyanti
Jurnal Kajian Budaya dan Humaniora Vol 6 No 1 (2024): Jurnal Kajian Budaya dan Humaniora (JKBH), Februari, 2024
Publisher : PT. RANESS MEDIA RANCAGE

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61296/jkbh.v6i1.216

Abstract

Karya sastra erat kaitannya dengan realita sosial. Kehidupan sosial kerap kali mengilhami pengarang untuk melahirkan karya sastra. Karya sastra tersebut terkadang juga diciptakan sebagai kritik terhadap kehidupan sosial. Penelitian ini hendak membahas bagaimana novel Izrail karya Yusuf As-Siba’i hadir sebagai kritik terhadap manusia. Dalam penelitian ini metode yang digunakan adalah metode deskriptif kualitatif. Sedangkan untuk menemukan hubungan antara karya sastra dan realita sosial menggunakan pendekatan sosiologi sastra. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa novel Izrail berusaha untuk menyampaikan dua kritik sosial. Kritik pertama disampaikan kepada manusia pada umumnya yang diperlihatkan suka berbohong, hidup mementingkan hal-hal duniawai dan memberi makan hawa nafsunya, manusia seringkali manipulatif, dan sering bergunjing. Kritik sosial kedua ditujukan khusus kepada pemerintah, bagaimana pemerintah yang seharusnya mengayomi masyarakat seringkali malah mengadu domba dan menjadikannya boneka atas kepentingannya sendiri. Novel Izrail yang ditulis bertahun-tahun yang lalu ternyata masih relevan sampai saat ini.
STRUKTUR TEKS HIKAYAT SYEKH ABDUL QODIR JAILANI DALAM TRADISI KARYA SASTRA SUNDA: STRUKTUR TEKS HIKAYAT SYEKH ABDUL QODIR JAILANI DALAM TRADISI KARYA SASTRA SUNDA Ade Kosasih
KABUYUTAN Vol 2 No 3 (2023): Kabuyutan, Nopember 2023
Publisher : PT. RANESS MEDIA RANCAGE

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61296/kabuyutan.v2i3.202

Abstract

Salah satu ciri ajaran Islam adalah konsep spiritualnya yang mendalam. Penelitian ini mengungkap sisi spiritualitas pada Naskah Hikayat Syekh Abdul Qodir Jailani (NHSAQJA) melalui kajian strukturnya. NHSQJA merupakan karya sastra bernuansa Islam yang menceritakan seorang tokoh spiritual yang sangat terkenal di lingkungan kaum Muslimin dalam tradisi Kebudayaan Sunda. Tujuan penelitian ini adalah terungkap struktur Hikayat Syekh Abdul Qodir Jailani dalam Naskah Sunda. Struktur sangat penting sebagai dasar untuk dapat mengungkap makna yang terkandung di dalam teks. Adapun metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah mengungkapkan unsur-unsur intrinsik secara struktural NHSAQJA serta menghubungkan keterjalinan antar unsurnya. Sebagai karya sastra Sunda keagamaan, NHSAQJA merupakan puisi dengan sepuluh pupuh, yaitu dandanggula, asmarandana, sinom, kinanti, pangkur, lambang, durma, pucung, kumambang, dan mijil. Dalam NHSAQJA terdapat seratus cerita tentang sosok Syekh Abdul Qodir Jailani. Temanya kepemimpinan atas semua wali. Alurnya adalah alur maju. Tokoh utamanya Abdul Qodir. Sedangkan tokoh pembantunya, diantaranya, tersebut Abdul Razak, Abdul Jabar, Siti Aisyah, Syekh Abdul Wafa, Syekh Muzhaffar, dan Syekh Hasan. Seting atau latar yang terdapat dalam NHSAQJA meliputi latar waktu, yaitu kurun sejak kelahiran hingga wafatnya Syekh Abdul Qodir Jailani sekitar tahun 1077 hingga tahun 1166 dalam tahun Masehi. Latar tempatnya adalah wilayah Irak dan Iran seperti Bagdad, Jilan, Mosul, Tibriz, Nisabur, dan Asfahan. Selain itu terjadi juga peristiwa di Libanon, Siria, Mesir, Mekkah, dan Arafah.
KARAKTERISTIK NASKAH FUTŪḤUL ‘ĀRIFĪN: KAJIAN KODIKOLOGIS DAN ANALISIS PALEOGRAFI: KARAKTERISTIK NASKAH FUTŪḤUL ‘ĀRIFĪN: KAJIAN KODIKOLOGIS DAN ANALISIS PALEOGRAFI Mohammad Hazmi Fauzan; Ade Kosasih; Ikhwan Ikhwan
KABUYUTAN Vol 3 No 2 (2024): Kabuyutan, Juli 2024
Publisher : PT. RANESS MEDIA RANCAGE

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61296/kabuyutan.v3i2.248

Abstract

Penelitian ini berfokus pada kajian kodikologi dan pengidentifikasian aksara dalam naskah Futūḥul ‘Ārifīn. Futūḥul ‘Ārifīn adalah naskah yang menguraikan amaliah-amaliah tarekat Qadiriyah Naqsyabandiyah mengenai tata cara dzikir, talqin, bai’at dan tingkatan-tingkatan lathifah dalam tradisi tasawuf yang ditulis pada tahun 1287 Hijriah atau 1870 Masehi. Secara umum, kajian mengenai kodikologi dan identifikasi aksara terhadap naskah Futūḥul ‘Ārifīn belum pernah dilakukan. Penelitian ini menggunakan pendekatan filologi dan paleografi. Pendekatan filologi dilakukan untuk menguraikan fisik naskah mulai dari judul, bahasa, ukuran, tempat penyalinan, dan sebagainya, sedangkan paleografi digunakan untuk menentukan pola atau model aksara yang digunakan dalam naskah. Dalam penelitian ini digunakan metode kualitatif dan deskriptif analitik. Dari hasil penelitian penulis menemukan bahwa kondisi naskah Futūḥul ‘Ārifīn dalam kondisi baik, karena tidak terdapat korup, hanya saja ada beberapa halaman yang sobek, namun tidak sampai mengenai teks naskah. Dari segi aksara, naskah ini menggunakan jenis tulisan tsuluts, farisi dan diwani. Selain itu, terdapat beberapa kekhasan dalam penulisannya, yaitu seperti penulisan huruf /p/ tidak menggunakan titik tiga, dan huruf /g/ tidak terdapat titik di atasnya.
EPISTEMOSUFI: RAHASIA ILMU DALAM PANDANGAN SULTANUL-AULIYA AL-JAILANI: EPISTEMOSUFI: RAHASIA ILMU DALAM PANDANGAN SULTANUL-AULIYA AL-JAILANI Ade Kosasih
KABUYUTAN Vol 3 No 2 (2024): Kabuyutan, Juli 2024
Publisher : PT. RANESS MEDIA RANCAGE

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61296/kabuyutan.v3i2.258

Abstract

Ilmu merupakan suatu entitas abstrak pada manusia, tetapi dapat menyertai manusia untuk menopang kehidupan. Artikel ini mengungkapkan ilmu dalam paradigma sufistik Syekh Abdul Qodir Jailani yang tertuang dalam Kitab Sirr al-Asrâr. Penulisan artikel ini terinspirasi oleh sangat majunya ilmu pengetahuan dan teknologi yang ada sekarang, tetapi banyak orang belum mengetahui apa esensi ilmu yang sebenarnya dalam paradigma sufistik. Kaum sufistik dituduh menjauh dari ilmu, karena mereka lebih mengedepankan spiritualitas sebagai motivasi hidup untuk mendekati Tuhan sedekat mungkin. Ternyata Jailani mengungkap ilmu ini dengan pandangan sufistiknya yang sarat dengan nilai-nilai ketuhanan yang hakiki, tetapi mengedepankan solusi untuk kehidupan umat manusia. Allah, Tuhan Sang Pemilik Ilmu, mentransfer ilmu kepada manusia melalui wahyu, ilham, dan proses-proses transmisi lainnya. Pembahasan mendalam dan kritis merupakan cara menggali makna serta menafsirkan teks. Hasil analisis dengan kritis, ilmu itu terdokumentasikan dalam Al-Quran, baik tersurat maupun tersirat. Pembagiannya adalah ilmu syariah, ilmu tarikah, ilmu ma’rifah, dan ilmu hakikat.
KONTROVERSI HERMENEUTIKA DALAM PENAFSIRAN TEKS AL-QURAN: PERSPEKTIF FILOLOGI Ade Kosasih
KABUYUTAN Vol 4 No 3 (2025): Kabuyutan, Nopember 2025
Publisher : PT. RANESS MEDIA RANCAGE

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61296/kabuyutan.v4i3.404

Abstract

Pendekatan hermeneutika dalam penafsiran Al-Quran dapat dianggap sebagai isu kontroversial di ranah studi Islam dewasa ini. Hermeneutika dipandang sebagai metodologi ilmiah yang mampu menjembatani jarak historis, linguistik, dan kultural antara teks suci dan realitas modern. Bahkan, pendekatan itu dikritik keras karena dianggap berakar dari tradisi filsafat Barat sekuler, berpotensi merelatifkan makna wahyu, serta menggeser otoritas tafsir dari teks ilahi kepada subjektivitas penafsir. Artikel ini bertujuan untuk mengkaji secara kritis kontroversi di kalangan para ahli terkait penafsiran hermeneutika Al-Quran dengan menelusuri basis epistemologis, metodologis, serta implikasi teologisnya. Penelitian ini memanfaatkan metode kualitatif dengan melakukan studi literatur untuk membahas, secara deskriptif-kritis, karya-karya tokoh yang berbeda dalam memandang penafsiran Al-Quran sekarang, baik dari para pemikir Muslim maupun sarjana Barat. Data dianalisis melalui pendekatan komparatif antara metodologi tafsir model hermeneutika filosofis Hans-Georg Gadamer dan hermeneutika kritis Paul Ricoeur. Hasil kajian menunjukkan bahwa kontroversi hermeneutika Al-Quran tidak semata-mata bersumber dari perbedaan metode, tetapi juga dari perbedaan paradigma epistemologi tentang hakikat wahyu, bahasa ilahi, dan otoritas penafsiran. Artikel ini menyimpulkan bahwa hermeneutika dapat berfungsi sebagai perangkat bantu metodologis sepanjang ditempatkan secara proporsional, tidak menggantikan prinsip dasar ulūm al-Qur’ān, serta tetap berlandaskan pada akidah Islam. Dengan demikian, dialog metodologis antara tafsir klasik dan hermeneutika modern perlu dikembangkan secara kritis dan selektif, bukan ditolak atau diterima secara absolut.
Arabic Language Learning Planning at the Elementary School/Madrasah Ibtidaiyah Level: Ibnu Jarir Qur’an and Arabic School Hana Yulia; Ade Kosasih; Muntazhar Nur Syabana
Tadris Al-'Arabiyyah: Jurnal Pendidikan Bahasa Arab dan Kebahasaaraban Vol. 4 No. 2 (2025): Tadris Al-'Arabiyyah: Jurnal Pendidikan Bahasa Arab dan Kebahasaaraban
Publisher : UIN Sunan Gunung Djati Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15575/ta.v4i2.49280

Abstract

Designing a plan for Arabic language learning is the first step toward achieving learning objectives. One measure of success in teaching is careful planning. The purpose of this study is to reveal the Arabic language learning plan at the Al-Qur'an and Arabic Language School Ibnu Jarir for elementary/MI levels. A qualitative method was applied in this study. Data were collected using observation, interviews, documentation, and literature review techniques. The results of the analysis of the planning stage in this study included an analysis of student conditions, learning objective design, document preparation, application of approaches, strategies, methods, and media, as well as an evaluation of learning planning. The findings indicate that the learning plan is systematically structured. It is based on an analysis of student conditions with classes divided according to learning styles and skill levels. Learning is dominated by interactive strategies using deep learning methods, but the details of the planning documents have not been fully compiled. Synergy in the planning process between educational institutions, parents, and students is essential to support active and effective Arabic language learning. This research contributes to teachers, researchers, and Arabic language educational institutions in developing optimal learning plans to meet student needs.
PEMBERDAYAAN SEBAGAI ALTERNATIF PENDEKATAN DALAM PELAKSANAAN PROGRAM PENGABDIAN KEPADA MASYARAKAT Kosasih, Ade; Sofianto, Kunto; Nugrahanto, Widyo; Septiani, Ayu
Midang Vol 3 No 1 (2025): Midang, Februari 2025
Publisher : Unpad Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/midang.v3i1.61446

Abstract

Pengabdian kepada masyarakat adalah tanggung jawab para akademisi. Dalam pelaksanaannya, pengabdian yang ideal adalah berupa  pemberdayaan (empowering), sehingga masyarakat akan memiliki kekuatan setelah tidak didampingi lagi oleh akademisi. Dalam pemberdayaan, upaya yang harus dibangkitkan adalah partisipasi, masyarakat menjadi pusat kegiatan, serta menciptakan kemandirian. Artikel ini bertujuan mengungkapkan pandangan konseptual tentang pemberdayaan dalam kegiatan pengabdian kepada masyarakat agar tidak terjadi pelaksanaan pengabdian yang tidak tepat konsep dan pelaksanaannya.  Pengungkapan  maksud tersebut dilakukan dengan cara memaparkan konsep dasar dalam pemberdayaan yang bercirikan tiga hal tersebut, yaitu partisipasi, berbasis masyarakat, dan mewujudkan kemandirian. Metode yang digunakan adalah analisis deskriptif dengan cara menggali secara cermat berbagai pandangan tentang pemberdayaan dalam berbagai publikasi ilmiah. Untuk mewujudkan masyarakat yang harmonis, pemberdayaanlah yang tepat karena masyarakat itu sendiri banyak terlibat dalam tahap perencanaan, pelaksanaan, serta monitoring dan evaluasi. Pelaksana pengabdian hanya berperan sebagai fasilitator yang menghindari kecenderungan melakukan intervensi. Partisipasi merupakan bentuk peran serta khalayak secara sukarela tanpa mobilisasi dan tekanan. Berbasis masyarakat berarti seluruh tindakan harus disesuaikan dengan kondisi dan situasi karena setiap masyarakat mempunyai potensi dan masalah yang berbeda-beda. Kemandirian merupakan wujud bahwa masyarakat memiliki kemampuan untuk melaksanakan harapan dan cita-citanya tanpa terus didampingi oleh fasilitator.