Niken Kendarini
Department Of Agronomy, Faculty Of Agriculture, Universitas Brawijaya

Published : 50 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

ANALISIS SITOLOGIS JERUK SIAM MADU (Citrus nobilis L.) HASIL KULTUR ENDOSPERMA Purnama, Innez Candri Gilang; Martasari, Chaireni; Kendarini, Niken; Saptadi, Darmawan
Produksi Tanaman Vol. 5 No. 5 (2017)
Publisher : Jurusan Budidaya Pertanian Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Salah satu teknologi pemuliaan yang dapat diterapkan untuk mendapatkan tanaman jeruk Siam Madu tanpa biji (seedless) adalah pembentukan tanaman triploid melalui kultur endosperma. Tanaman triploid pada Jeruk Siam Madu memiliki jumlah kromosom 2n=3x=27. Perakitan tanaman triploid pada Jeruk Siam Madu telah dilakukan Balai Besar Biogen dan Balitjestro. Seleksi awal telah dilakukan, tetapi hanya pada karakter morfologi tanaman. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui jumlah kromosom 25 tanaman Jeruk Siam Madu terseleksi hasil kultur endosperma. Pengamatan kromosom dilakukan menggunakan metode squash. Hasil analisis sitologis pada 25 aksesi jeruk Siam Madu hasil kultur endosperma menunjukkan 13 aksesi memiliki ploidi triploid (2n=3x=27) yaitu SM 8, SM 10, SM 12, SM 17, SM 18, SM 36, SM 38, SM 39, SM 41, SM 47, SM 51, SM 56, dan SM 57. Satu aksesi yaitu SM 23 memiliki ploidi haploid (2n=x=9), sedangkan 11 aksesi memiliki ploidi diploid (2n=2x=18) yaitu SM 7, SM 9, SM 11, SM 35, SM 37, SM 43, SM 45, SM 49, SM 54, SM 58, SM 59.
IDENTIFIKASI WARNA KULIT BUAH 14 AKSESI F1 JERUK (Citrus sp) TERSELEKSI DENGAN MARKA MOLEKULER Wati, Devita Aprilia; Martasari, Chaireni; Kendarini, Niken; Saptadi, Darmawan
Produksi Tanaman Vol. 5 No. 6 (2017)
Publisher : Jurusan Budidaya Pertanian Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Jeruk siam banyak diminati oleh konsumen domestik karena rasanya yang manis, namun belum dapat diperuntukkan sebagai komoditas ekspor karena penampilan kulit buah kurang menarik. Balitjestro telah berhasil melakukan persilangan tanaman jeruk secara konvensional dan terseleksi secara morfologi sebanyak 6 aksesi warna kulit buah kuning. Warna kulit buah jeruk dipengaruhi enzim karotenoid. Seleksi berdasarkan morfologi masih dipengaruhi oleh faktor lingkungan sehingga diperlukan identifikasi karakter secara genetik. Salah satu teknologi pemuliaan yang dapat diterapkan adalah dengan seleksi marka molekuler. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi warna kulit buah orange pada 6 aksesi tanaman F1 jeruk berdasarkan marka molekuler. Penelitian dilaksanakan di Laboratorium Pemuliaan Balai Penelitian Tanaman Jeruk dan Buah Subtropika. Bahan yang digunakan adalah 6 aksesi Jeruk Siam  hasil persilangan (B1, B2, B3, D1, D2, E1) dan tetua yaitu Siam Madu, Keprok Satsuma, Siam Mamuju, Siam Pontianak dan Soe serta menggunakan 6 primer yaitu PSY2, PDS, LCYB Cit, LCYE Cit, CHYB Cit dan ZEP. Hasil identifikasi menunjukkan hanya aksesi E1 yang memiliki seluruh gen penyandi enzim karotenoid sedangkan 5 aksesi F1 (B1, B2, B3, D1, dan D2) hanya sebagian.
EKSPLORASI ANGGREK EPIFIT DI SEKITAR WATU ONDO KAWASAN TAMAN HUTAN R. SOERJO MOJOKERTO Nusantara, Adil Balada; Kendarini, Niken; Saptadi, Darmawan
Produksi Tanaman Vol. 5 No. 9 (2017)
Publisher : Jurusan Budidaya Pertanian Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Anggrek adalah tumbuhan yang dikenal sebagai tanaman yang mempunyai bunga indah, mempesona, dan menakjubkan. Watu Ondo kawasan Taman Hutan Raya Raden Soerjo (disingkat TAHURA R. Soerjo) merupakan kawasan pelestarian alam yang wilayahnya meliputi beberapa kawasan hutan yang berada di dalam kelompok Gunung Arjuno-Lalijiwo yaitu sebagian wilayah Kabupaten Mojokerto, Kabupaten Malang, Kabupaten Pasuruan dan Kota Batu (Jawa Timur). Tujuan penelitain ini adalah untuk mengetahui jenis-jenis dan keragaman tanaman anggrek. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Februari 2015 sampai dengan bulan Maret 2015. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif dengan teknik survey, yaitu dengan mendapatkan informasi mengenai jenis-jenis anggrek yang ada. Pengumpulan data mengenai karakter morfologi anggrek dan setiap anggrek epifit yang ditemukan diidentifikasi sampai tingkat marga, didokumentasikan dengan kamera, data  habitat anggrek. Hasil dari penelitian eksplorasi ini anggrek epifit berhasil di temukan sebanyak 258 individu yang termasuk dalam 36 spesies dalam 18 marga.
STUDI INKOMPATIBILITAS PADA BEBERAPA KOMBINASI PERSILANGAN UBIJALAR (Ipomoea batatas L.) Sari, Desi Kurnia; Kendarini, Niken; Damanhuri, Damanhuri
Produksi Tanaman Vol. 5 No. 9 (2017)
Publisher : Jurusan Budidaya Pertanian Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Ubijalar merupakan alternatif sumber karbohidrat. Salah satu upaya peningkatan mutu ubijalar dengan cara persilangan. Persilangan pada ubijalar merupakan cara termudah untuk mendapatkan benih inbred dan hybrid. Secara morfologis bunga ubijalar mudah disilangkan namun dalam persilangan tersebut sering menemui permasalahan. Permasalahan ubijalar dalam persilangan adalah adanya sifat inkompatibilitas dan sterilitas. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui adanya sifat inkompatibilitas pada kombinasi persilangan ubijalar dan kombinasi persilangan yang kompatibel. Hasil penelitian menunjukkan terdapat beberapa tingkat inkompatibilitas pada kombinasi persilangan ubijalar yaitu tujuh kombinasi persilangan kompatibel, dua belas kombinasi persilangan inkompatibel, dan dua kombinasi persilangan inkompatibel sebagian. Kombinasi persilangan yang inkompatibel yaitu MSU 10051-02 x Bogor Maja, MSU 10051-02 x W-86, Papua solossa x CIP 440287, RIS 10068-02 x CIP 440287, UJ 02 x CIP 440286, UJ 02 x W-86, dan UJ 19 x CIP 440287.
PENAMPILAN TUJUH GALUR BUNCIS (Phaseolus vulgaris L.) F5 BERPOLONG KUNING Hawa, Melawati Rizki; Soegianto, Andy; Kendarini, Niken
Produksi Tanaman Vol. 5 No. 10 (2017)
Publisher : Jurusan Budidaya Pertanian Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Buncis merupakan salah satu sayuran yang digemari oleh masyarakat dimana produktivitasnya meningkat dari 9,22 ton/ha di tahun 2010 menjadi 10,44 ton/ha pada tahun 2011, akan tetapi pada tahun 2012 produktivitas buncis mengalami penurunan hingga 10,38 ton/ha. Salah satu usaha untuk meningkatkan produktivitas buncis ialah dengan merakit varietas unggul baru yang memiliki daya hasil tinggi maupun kualitas kandungan gizi yang baik. Tujuan dari penelitian ini ialah untuk mengetahui penampilan dan daya hasil dari 7 galur buncis (Phaseolus vulgaris L.) F5 berpolong kuning. Hipotesis dari penelitian ini ialah terdapat keragaman yang rendah pada berbagai karakter, daya hasil tinggi (>300 g/tanaman), dan keseragaman warna polong kuning pada 7 galur buncis (Phaseolus vulgaris L.) F5. Penelitian ini disusun menggunakan metode single plant yang dilaksanakan pada bulan Maret - Juli 2015 di Desa Kajang Lor, Kecamatan Junrejo, Kota Batu. Setiap galur terdiri dari 50 tanaman dalam satu bedengan. Sehingga keseluruhan adalah 500 tanaman. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Karakter kualitatif yang telah memiliki keragaman rendah dalam galurnya ialah karakter warna bunga merah muda dan warna polong kuning. Karakter kuantitatif yang tergolong rendah keragamannya ialah umur berbunga, umur awal panen segar dan diameter polong. Galur-galur yang terseleksi dengan kriteria warna polong kuning dan daya hasil tinggi (>300 gram/tanaman) ialah CS x GI 63-0-4 sebesar 300,86 gram dan CS x GK 50-0-31 sebesar 394,31 gram. Sedangkan galur CSxGI 7-0-31 lolos seleksi untuk kriteria daya hasil tinggi sebesar 398,42 gram dan perlu dilakukan seleksi lagi pada F6 untuk kriteria warna polong kuning.
KERAGAMAN GENETIK HASIL APLIKASI KOLKHISIN PADA TANAMAN JERUK SIAM cv. PONTIANAK (Citrus nobilis) SECARA MORFOLOGI DAN MOLEKULER Yasin, Muhammad; Saptadi, Darmawan; Kendarini, Niken; Agisimanto, Dita
Produksi Tanaman Vol. 5 No. 11 (2017)
Publisher : Jurusan Budidaya Pertanian Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Jeruk ialah salah satu buah yang memiliki kandungan vitamin C yang tinggi dan memiliki adaptasi yang luas, sehingga jeruk banyak dibudidayakan dan digemari oleh masyarakat. Meskipun produksi tanaman jeruk meningkat dari 267.061 t (2010), 315.133 t (2011), 362.680 t (2012) dan 514.855 t (2013), dirasa masih belum mencukupi kebutuhan dalam negeri karena impor jeruk di Indonesia jumlahnya  masih besar yaitu 160.254 t (2010), 182.345 t (2011) dan 76.227 t (2013). Salah satu usaha untuk meningkatkan produksi buah jeruk yaitu dengan peningkatan keragaman genetik melalui aplikasian zat kolkhisin agar  tanaman  menjadi poliploid. Hasil mutasi tanaman oleh zat kolkhisin dapat diketahui dengan penanda morfologi dan molekuler. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui keragaman genetik tanaman hasil aplikasi kolkhisin berdasarkan marka morfologi dan marka molekuler pada tanaman jeruk Siam cv. Pontianak. Diduga  terdapat keragaman genetik tanaman hasil aplikasi kolkhisin morfologi dan molekuler. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan April - Juni 2015 di kebun dan di Laboratorium Pemuliaan Terpadu Balai Penelitian Tanaman Jeruk dan Buah Subtropika Tlekung, Batu, Jawa Timur. Tanaman yang diuji yaitu 18 tanaman jeruk Siam Pontiank yang berumur 8 tahun hasil perlakuan kolkhisin. Hasil dari penelitian ini menunjukkan terdapat perbedaan antara jeruk Siam cv. Pontianak dengan jeruk hasil aplikasi kolkhisin pada karakter bentuk daun. Nilai keragaman pada karakter kuantitatif dikatagorikan rendah. Pada analisa molekuler terdapat keragaman dengan jarak genetik 71%. Secara molekuler diperoleh 18, 5, 13 dan 8 pita polimorfism yang dihasilkan oleh 4 primer ISSR yang digunakan. Primer ISSR yang digunakan sangat informatif karena nilai dari PIC>50%.
EKSPLORASI TANAMAN JAMBU METE (Annacardium occidentale L.) PADA BEBERAPA DAERAH SENTRA DI PULAU MADURA Susanto, Eko Bagus; Kendarini, Niken; Kuswanto, Kuswanto
Produksi Tanaman Vol. 6 No. 6 (2018)
Publisher : Jurusan Budidaya Pertanian Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Jambu mete merupakan salah satu produk unggulan perkebunan di pulau Madura. Jambu mete Madura sudah sering di ekspor keluar negri karena kualitasnya cukup bagus. Selama ini, produksi jambu mete di wilayah Pantai Utara (Pantura) Maduraadalah yang terbesar di Jawa timur dan cukup potensial dengan didukung lahan seluas 30.167 hektar yang tersebar di empat kabupaten.Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui keragaman dan karakter morfologi dari Jambu mete di Pulau Madura. Penelitian telah dilaksanakan pada tiga kabupaten yaitu Sampang, Pamekasan, dan Sumenep. Metode penelitian yang digunakan adalah analisis deskriptif dan analisis cluster menggunakan aplikasi Minitab 14 dengan mengamati karakter kualitatif dan kuantitatif berdasarkan descriptor IPGRI. Sampel tanaman dan asal usul jambu mete didapatkan melalui pengamatan langsung di lapangan dan wawancara dengan petani, masyarakat sekitar dan staf dinas kehutanan dan perkebunan pada setiap lokasi penelitian.Dari hasil eksplorasi didapatkan  62  nomer aksesi dengan beragam variasi yang mewakili 16 desa padaenam kecamatanyang tersebar pada tigakabupaten di pulau Madura. Hubungan kekerabatan  dari 62 nomor aksesi masih tergolong dekat dengan koefisien 66.91 hingga 98,37. Hubungan kerabat terdekat berdasarkan dendogram terdapat antara sampel aksesi 48 dan aksesi 61 pada koefisien 98,37. Hubungan kerabat terjauh berdasarkan dendogram terdapat antara sampel aksesi 1 dan aksesi 17 pada koefisien 66.91.
EFEKTIVITAS PEG-6000 SEBAGAI MEDIA OSMOCONDITIONING DALAM PENINGKATAN MUTU BENIH DAN PRODUKSI KEDELAI (Glycine max L. Merr.) Aisyah, Diah Nur; Kendarini, Niken; Ashari, Sumeru
Produksi Tanaman Vol. 6 No. 7 (2018)
Publisher : Jurusan Budidaya Pertanian Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penyimpanan benih kedelai pada suhu ruang untuk menunggu musim tanam berikutnya menyebabkan turunnya persentase perkecambahan. Salah satu teknik yang dapat dilakukan untuk meningkatkan perkecambahan ialah invigorasi osmoconditioning.  Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan perkecambahan benih kedelai yang mengalami kemunduran mutu dan pengaruhnya terhadap produksi. Penelitian dilaksanakan pada bulan April-Juli 2016. Terdiri dari dua tahap. Tahap pertama mencari konsentrasi PEG-6000 terbaik dan tahap kedua untuk mengetahui pengaruhnya terhadap produksi.  Uji viabilitas dan vigor dilaksanakan di Laboratorium Pemuliaan Tanaman dan Green House Universitas Brawijaya. Penanaman kedelai dilaksanakan di Lowokwaru, Malang dengan ketinggian ±650 mdpl, suhu 24-28oC  kelembaban 68,8%.  Uji viabilitas dan vigor dilakukan menggunakan rancangan acak lengkap faktorial dua faktor. Faktor pertama varietas kedelai, Argo Mulyo dan Detam-4. Faktor kedua konsentrasi larutan PEG-6000, yaitu 0%, 10%, 15% dan 20%. Tahap kedua menggunakan RAK pada benih baru dan benih lama dengan perlakuan osmoconditioning. Interaksi antara varietas kedelai dengan konsentrasi PEG-6000 berpengaruh sangat nyata pada indeks vigor, bobot kering kecambah normal dan panjang hipokotil, serta berpengaruh nyata pada panjang akar dan daya hantar listrik.  Interaksi varietas Argo Mulyo dengan PEG-6000 konsentrasi 20% secara efektif menghasilkan nilai indeks vigor tertinggi (50,75%) dan menurunkan daya hantar listrik (140,5 dS cm-1). Interaksi tidak berpengaruh nyata terhadap kecepatan tumbuh, daya tumbuh, laju perkecambahan, daya berkecambah dan keserempakan tumbuh. Kombinasi varietas kedelai dan osmoconditioning pada benih lama menunjukkan produksi yang lebih rendah 19,34% (Detam-4) dan 9,83% (Argo Mulyo) dibandingkan benih baru yang disimpan jangka pendek.
RESPON PEMBERIAN KONSENTRASI GA3 TERHADAP PEMBUNGAAN DUA VARIETAS BAWANG MERAH (Allium ascalonicum L.) Pramukyana, Lutfi; Kendarini, Niken; Respatijarti, Respatijari
Produksi Tanaman Vol. 6 No. 7 (2018)
Publisher : Jurusan Budidaya Pertanian Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Bawang merah merupakan komoditas yang sudah dimanfaatkan banyak oleh masyarakat.Bahan tanam dari umbi rentan terhadap penyakit dan produksi juga menurun karena penanaman dari generasi ke generasi. Solusi untuk meningkatkan produksi dan kualitas bawang merah adalah dengan pengembangan bahan tanam bawang merah dari biji yang dikenal dengan nama TSS (True Shallot Seed). Kelebihan TSS yaitu volume kebutuhan TSS lebih sedikit yaitu sekitar ±3-6 kg.ha-1 dibandingkan dengan umbi bibit ±1-1,5 ton.ha-1. Upaya untuk meningkatkan produktivitas jumlah bunga dan biji tanaman bawang merah yaitu dengan pemberian temperatur rendah (vernalisasi) dengan temperatur (5˚ - 10˚C) atau menggunakan perlakuan zat pengatur tumbuh tanaman yaitu GA3. Kendala perbaikan varietas bawang merah salah satunya yaitu tingkat pembungaan bawang merah yang rendah. Hal ini dikarenakan lingkungan di Indonesia tidak mendukung proses inisiasi pembungaan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh pemberian zat pengatur tumbuh GA3 pada pembungaan bawang merah varietas Philipine dan Bali Karet. Penelitian dilaksanakan pada lahan kebun di Desa Punten Kota Batu dengan ketinggian 1050 m dpl. Penelitian dimulai pada bulan Desember 2015–April 2016. Penelitian menggunakan rancangan acak kelompok (RAK) faktorial yaitu varietas sebagai faktor utama dan konsentrasi GA3 sebagai faktor kedua dengan 3 kali ulangan. Data dianalisis menggunakan analisis ragam (ANOVA), apabila terdapat pengaruh yang nyata dilanjutkan menggunakan uji lanjut Beda Nyata Jujur (BNJ) pada taraf 5%. Hasil menunjukkan penggunaan konsentrasi ZPT GA3 tidak dapat meningkatkan pembungaan pada bawang merah varietas Philipine dan Bali karet sehingga belum didapatkan konsentrasi GA3 yang tepat untuk meningkatkan pembungaan bawang merah pada varietas Philipine dan Bali Karet.
Determining the Relationship Between Yield and Yield Components in Sunflower (Helianthus annuus L.) Kendarini, Niken; Herwati, Anik; Novansyah, Rifky Alfariz; Ardiarini, Noer Rahmi
Journal of Agriprecision & Social Impact Vol. 2 No. 1 (2025): March: JAPSI (Journal of Agriprecision & Social Impact)
Publisher : CV. Komunitas Dunia Peternakan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62793/japsi.v2i1.51

Abstract

Sunflower (Helianthus annuus L.) is an essential commodity with various benefits in food, health, and industry and has a high economic value. The national sunflower plants' productivity is low, so to fulfill the market demands, creating sunflower varieties with high yields has been challenge for plant breeders. This study analyzed the relationship between yield components and sunflower yield, identifying characteristics affecting productivity. Plant selection was carried out by understanding the relationship between yield components and seed yield using statistical methods: correlation, multiple regression, and path analysis. The research was conducted in Ampeldento Village, Karangploso District, Malang Regency, East Java, from March to August 2024, using 13 genotypes of F5 open pollinated generation sunflower. Plant traits observed were plant height, number, leaf length and width of leaves, stem diameter, flowering time, harvesting time, disc flower diameter, number of seeds per plant, 100 seed weight, and seed yield. The results showed that seven yield component characters closely related to seed yield, with positive and negative correlation patterns. The number of seeds per plant had the highest direct effect, while the highest indirect effect occurred in the number of seeds per plant, which was influenced by plant height, number of leaves, stem diameter, flowering time, harvest time, and 100 seed weight. These findings provided important insights for breeding strategies in selecting superior sunflower genotypes.