Claim Missing Document
Check
Articles

Found 21 Documents
Search

Abreviasi bahasa Indonesia pada kiriman akun X @KemenPU Salma, Kirana Atsiila Zulfa; Widyastuti, Chattri Sigit
Sintesis Vol 19, No 1 (2025)
Publisher : Universitas Sanata Dharma

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24071/sin.v19i1.11092

Abstract

Perkembangan abreviasi bahasa Indonesia yang semakin beragam, khususnya di media sosial perlu diperhatikan penggunaannya. Pengguna media sosial seperti X sering menggunakan abreviasi karena untuk mempersingkat komunikasi dan adanya batas jumlah karakter dalam kiriman akun X. Penelitian ini dilakukan dengan tujuan mendeskripsikan jenis-jenis abreviasi bahasa Indonesia yang terdapat dalam kiriman akun X @KemenPU. Jenis penelitian ini adalah penelitian kualitatif. Pengumpulan data menggunakan metode simak dan teknik catat. Kemudian, analisis data menggunakan metode agih dengan teknik dasar Bagi Unsur Langsung (BUL) yang dilanjutkan dengan teknik ubah ujud parafrasal. Hasil dari penelitian ditemukan penggunaan empat jenis abreviasi, yaitu singkatan, akronim, lambang huruf, dan penggalan. Jenis abreviasi yang paling dominan adalah singkatan yang mencakup sebagian besar dari abreviasi yang ditemukan.
Bahasa Indonesia Sebagai Produk Budaya dan Bagian Dari Bahasa Austronesia: Suatu Tinjauan Linguistik Historis Komparatif Lukman, Lukman; Widyastuti, Chattri Sigit
Kajian Linguistik dan Sastra Vol. 3 No. 1 (2024): Januari 2024
Publisher : Prodi Sastra Indonesia, FKIP Universitas Jambi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22437/kalistra.v3i1.30518

Abstract

This research explores a comparative historical linguistic analysis of the Indonesian language, focusing on the Austronesian language family in the Nusantara region. Employing historical linguistic methods, the study delineates significant changes from Old Malay to modern Indonesian, with a specific emphasis on the evolution of spelling, vocabulary, and writing style. The influence of Dutch colonialism and the impact of globalization are key focal points, shedding light on the language's adaptation to social and cultural dynamics. Research findings highlight the complexity of linguistic transformations, guiding an understanding of how language functions as a guardian of identity and a bearer of cultural heritage. These results make a crucial contribution to understanding the history and culture of the Nusantara region. The research conclusion asserts that comprehending the historical factors shaping the Indonesian language is imperative, with implications encompassing identity aspects and societal changes. Going beyond linguistic aspects, this study remains relevant in addressing the complexity of language dynamics amid global and local challenges. By integrating a historical linguistic perspective, the research not only deepens linguistic literature but also provides profound insights into language changes in an increasingly interconnected global and local context.  Abstrak Penelitian ini mengeksplorasi analisis linguistik historis komparatif terhadap Bahasa Indonesia, memfokuskan pada konteks rumpun bahasa Austronesia di wilayah Nusantara. Dengan melibatkan metode linguistik historis, penelitian ini memaparkan perubahan signifikan dari Bahasa Melayu Kuno hingga Bahasa Indonesia modern, dengan penekanan khusus pada evolusi ejaan, kosakata, dan gaya penulisan. Pengaruh kolonialisme Belanda dan dampak globalisasi menjadi titik fokus, membuka cakrawala terkait adaptasi bahasa terhadap dinamika sosial dan budaya. Temuan penelitian menyoroti kompleksitas transformasi linguistik, memandu pemahaman tentang bagaimana bahasa berperan sebagai penjaga identitas dan pembawa warisan budaya. Hasil ini memberikan kontribusi penting pada pemahaman sejarah dan budaya Nusantara. Kesimpulan penelitian menegaskan bahwa memahami faktor-faktor historis yang membentuk Bahasa Indonesia adalah suatu keharusan, dengan implikasi yang mencakup aspek identitas dan perubahan masyarakat. Penelitian ini, dengan melampaui aspek linguistik, menjadi relevan dalam menyikapi kompleksitas dinamika bahasa di tengah tantangan global dan lokal. Dengan mengintegrasikan perspektif linguistik historis, penelitian ini bukan hanya memperdalam literatur linguistik, tetapi juga memberikan wawasan mendalam terhadap perubahan bahasa dalam konteks global dan lokal yang semakin terkait erat.
Analisis Konteks Penggunaan Bahasa Tabu di Desa Gajahan Colomadu: Kajian Linguistik Historis Komparatif Irawan, Naommi; Widyastuti, Chattri Sigit
Kajian Linguistik dan Sastra Vol. 4 No. 2 (2025): Mei 2025
Publisher : Prodi Sastra Indonesia, FKIP Universitas Jambi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22437/kalistra.v4i2.43924

Abstract

This study aims to examine changes in the use of taboo language in the village community of Gajahan Colomadu, Karanganyar Regency, Central Java Province due to the influence of globalization and modernization. The area has many utterances that lead to language taboos. Through comparative analysis between past and present data, this study identifies the factors that cause these changes and their impact on the social and cultural values of the community. This study uses a descriptive qualitative method with advanced techniques of listening and recording. The results show a shift in the use of taboo language, where some words or expressions that were previously considered taboo are now more widely accepted and have explanations that can be easily accepted by the community. The results of eight data regarding taboo language or pamali are still used by residents. Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji perubahan penggunaan bahasa tabu dalam masyarakat desa Gajahan Colomadu Kabupaten Karanganyar Provinsi Jawa Tengah akibat pengaruh globalisasi dan modernisasi. Daerah tersebut banyak memiliki ujaran yang mengarah ke dalam tabu bahasa. Melalui nalisis komparatif antara data masa lalu dan sekarang, penelitian ini mengidentifikasi faktor-faktor yang menyebabkan perubahan tersebut serta dampaknya terhadap nilai-nilai sosial dan budaya masyarakat. Kajian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan teknik lanjutan simak dan catat. Hasil penelitian menunjukkan adanya pergeseran penggunaan bahasa tabu, di mana beberapa kata atau ungkapan yang sebelumnya dianggap tabu kini menjadi lebih diterima secara luas dan memiliki penjelasan yang dapat dengan mudah diterima masyarakat. Hasil dari ebanyak delapan data mengenai bahasa tabu atau pamali yang masih digunakan oleh penduduk sekitar.
Tabu Budaya dalam Masyarakat Batak Kampung Siriaon: Kajian Linguistik Historis Komparatif Puspitasari, Niken Dwi; Widyastuti, Chattri Sigit
Jurnal Adat dan Budaya Indonesia Vol. 7 No. 1 (2025)
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jabi.v7i1.89599

Abstract

Budaya adalah bagian terpenting bagi kehidupan manusia yang diwariskan oleh nenek moyang. Di dalam kehidupan masyarakat, terdapat berbagai norma yang harus dijaga dan dihormati. Apabila masyarakat melanggar norma ini maka disebut sebagai tabu. Penelitian-penelitian terdahulu yang terkait dengan tabu yang terdapat di dalam masyarakat Batak sudah pernah dilakukan. Penelitian kali ini akan mengungkap budaya tabu yang terdapat di dalam masyarakat Batak di Kampung Siriaon. Penelitian ini termasuk ke dalam jenis penelitian deskriptif kualitatif. Data yang ditemukan berwujud kata dan frasa yang digolongkan sebagai tabu di dalam masyarakat Batak Kampung Siriaon. Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara mendalam. Selanjutnya data diklasifikasi sesuai dengan jenis tabu menurut teori Sutarman, yakni tabu Bahasa dan tabu perbuatan. Penelitian ini menghasilkan temuan beberapa tabu Bahasa yang terdapat di dalam masyarakat Batak Kampung Siriaon, yakni (1) tabu tidak diperbolehkan mengucapkan kata-kata tertentu ketika berada pada suatu titik di Danau Toba, (2) larangan mengucapkan Sisingamangaraja di wilayah Balige, (3) seseorang dianggap sebagai Batak Dalle jika sudah melupakan adat Batak, (4) terdapat padan yang namanya marpadan yang tidak boleh dilanggar, serta ungkapan dukacita dengan meletakkan ulos di atas kepala janda atau duda.
Penggunaan Bahasa Tabu Masyarakat Ringinrejo Boyolali dalam Kehidupan Sehari-hari Putra, Vicky Fadly Ardana; Widyastuti, Chattri Sigit
Jurnal Adat dan Budaya Indonesia Vol. 7 No. 1 (2025)
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jabi.v7i1.89612

Abstract

Penelitian ini membahas tentang fenomena tabu bahasa di dalam masyarakat Desa Ringinrejo, Kabupaten Boyolali, yang lebih dikenal dengan istilah wewaler. Penelitian ini mengangkat masalah tentang bagaimana ungkapan tabu dapat berfungsi dalam kehidupan sehari-hari masyarakat setempat. Tujuan penelitian ini untuk mendeskripsikan bagaimana bentuk-bentuk ungkapan atau kalimat tabu dalam konteks sosial serta budaya masyarakat Jawa. Jenis penelitian ini adalah kualitatif deskriptif, pengumpulan data dilakukan dengan observasi, wawancara, dan dilanjutkan dengan teknik simak dan catat. Penelitian ini menemukan 15 kalimat atau ungkapan tabu yang dikenal dengan wewaler yang berfungsi sebagai larangan dan perintah, yang masih dipercaya dapat menghindarkan masyarakat dari malapetaka sekaligus menjaga etika kesantunan. Penelitian ini menemukan beberapa kata tabu yang terdapat di dalam masyarakat desa Ringinrejo mengandung nilai-nilai, norma, dan budaya (berisi larangan, perintah) yang masih dijunjung tinggi oleh masyarakat setempat.
Pengaruh Media Sosial terhadap Penggunaan Bahasa Indonesia di Kalangan Kawula Muda Dewi, Rika Amalia Sahara; Widyastuti, Chattri Sigit
RIGGS: Journal of Artificial Intelligence and Digital Business Vol. 4 No. 2 (2025): Mei - Juli
Publisher : Prodi Bisnis Digital Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/riggs.v4i2.1585

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji pengaruh media sosial, khususnya platform X, terhadap penggunaan Bahasa Indonesia di kalangan kawula muda. Fenomena yang diamati meliputi bentuk-bentuk penyimpangan bahasa seperti penggunaan onomatope, tanda baca yang tidak sesuai, huruf kapital secara berlebihan, tagar tanpa konteks yang jelas, neologisme, dan akronim yang tidak sesuai kaidah bahasa baku. Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif dengan data yang dikumpulkan dari cuitan pengguna X selama periode Mei hingga Juni 2023. Hasil penelitian menunjukkan bahwa media sosial mendorong terjadinya penyimpangan bahasa akibat kebutuhan untuk berkomunikasi secara cepat, ekspresif, dan informal. Di sisi lain, media sosial juga memberi dampak positif seperti perluasan kosakata, peningkatan kesadaran berbahasa yang benar, dan keterlibatan dalam diskusi literasi digital. Meskipun begitu, penggunaan singkatan, bahasa gaul, dan pengaruh bahasa asing dapat mengancam kemurnian Bahasa Indonesia, terutama jika digunakan secara berlebihan dan tidak dikontrol. Oleh karena itu, penting bagi generasi muda untuk lebih bijak dalam menggunakan bahasa di media sosial, serta tetap mempertahankan penggunaan Bahasa Indonesia yang sesuai dengan kaidah yang berlaku.
Penerapan Kesantunan Berbahasa dalam Dakwah F X Sarwadi; Wiwik Yulianti; Henry Yustanto; Bakdal Ginanjar; Chattri Sigit Widyastuti
Solusi Bersama : Jurnal Pengabdian dan Kesejahteraan Masyarakat Vol. 2 No. 4 (2025): November:Solusi Bersama : Jurnal Pengabdian dan Kesejahteraan Masyarakat
Publisher : Lembaga Pengembangan Kinerja Dosen

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62951/solusibersama.v2i4.2406

Abstract

Language plays a crucial role not only as a means of communication but also as a reflection of the values and character of society. In the context of youth mosque da'wah, the use of polite language is crucial because it influences the effectiveness of conveying religious messages and shaping the morals of listeners. This study aims to examine the application of the principles of polite language in youth mosque da'wah in Karanganyar Regency and efforts to improve it through training activities. The method used was a qualitative approach with observation techniques, semi-structured interviews, and documentation. Data analysis was carried out in three stages: data reduction, data presentation, and drawing conclusions interactively. The results of the activity showed a significant increase in the participants' understanding and practice of polite language after attending the training. Based on the questionnaire results, participants' post-test scores increased compared to the pre-test, indicating the effectiveness of the training in strengthening their understanding of the concept of polite speech. Furthermore, observations of da'wah practices showed positive changes in the use of more polite, structured, and empathetic language. This activity not only improved participants' communication skills but also raised awareness of the importance of language ethics in da'wah. Thus, this language politeness training contributes to the character development of mosque youth, helping them become moral, communicative, and civilized young preachers. It is hoped that similar activities can be developed to a more advanced level in the future to strengthen the application of politeness in religious communication among youth.
Cuitan Tabu Generasi Y dan Z dalam Komunitas Ngeluh Safe Space di Sosial Media X Dyah Nur Fadillah; Chattri Sigit Widyastuti
Hasta Wiyata Vol. 8 No. 2 (2025): Jurnal Hasta Wiyata
Publisher : University of Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.hastawiyata.2025.008.02.03

Abstract

Nowadays, the use of language is considered one of the best ways of communication to demonstrate a pattern of interaction among social media users. One of the most familiar sources of information among Generation Y and Z in Indonesia is tweets on the X social media application. The numerous tweets posted by X social media users have given rise to linguistic phenomena that can be studied, one of which is taboo language. This research will focus on verbal taboos or language taboos that use words or phrases in social interactions on X social media. The research method used is a descriptive qualitative method. The results of the research found the use of language taboos among Generation Y and Z in the Ngeluh Safe Space community on application X, including 9 types of language taboo categories, 3 functions of language taboos, and 4 causes for the use of language taboos.  
Ideology representation in the editorial of Koran Tempo and Kompas on COVID-19 handling in Indonesia Ginanjar, Bakdal; Widyastuti, Chattri Sigit; Sumarlam, Sumarlam
Bahasa dan Seni: Jurnal Bahasa, Sastra, Seni, dan Pengajarannya Vol. 50, No. 1
Publisher : citeus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

This article examines the editorials in Koran Tempo and Kompas in representing their ideology of COVID-19 handling in Indonesia. This linguistic research is conducted qualitative­ly. The data were in the form of Indonesian-language editorial discourse, which discussed the COVID-19 handling in Indonesia. The written research data were taken from national news­papers, namely Koran Tempo and Kompas, and were obtained through the use of listening and note-taking techniques. They were then analyzed using Van Dijk’s critical discourse analysis model. The results of the analysis show that there are differences in the representa­tion of ideology in Koran Tempo and Kompas on COVID-19 handling in Indonesia through their editorials that are systematically constructed in microstructure, superstruc­ture, and macrostructure. In the microstructure, ideology is realized through the lexicon, specifically the use of the dominant persona, use of syntactic structures in the form of active-passive sentences, affirmative sentences, and imperative sentences, as well as the use of repetition styles and metaphors. Koran Tempo uses ideological patterns as actions and ideology beliefs in its superstructure. Meanwhile, Kompas uses ideological patterns as systems of thought and systems of action. The difference between the microstructure and the superstructure results in a different macrostructure. Koran Tempo portrays government as the key stakeholder in handling COVID-19 in Indonesia. Meanwhile, Kompas’ editorial was directed at how the handling of COVID-19 was done through communal actions. The Koran Tempo ideology underlines who has a role in handling COVID-19, while the Kompas ideology focuses at what needs to be done in handling COVID-19.
Kombinasi Afiks {di-} dan {-kan} sebagai Afiks Derivasional dalam Bahasa Indonesia Hidayati, Mardliyyah; Widyastuti, Chattri Sigit
Deskripsi Bahasa Vol 9 No 1 (2026): 2026 - Issue 1
Publisher : Department of Languages and Literature, Faculty of Cultural Sciences, UGM

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/db.19400

Abstract

This research aims to describe the morphological process of adding the derivational combination affix {di-} and {-kan} in Indonesian. This qualitative type of research uses data in the form of sentences containing words with the combination affix {di-} and {-kan}. The data sources are the Tempo Magazine (26 August 2024 edition) entitled Jungkir Balik Balik Raja Jawa, Jurnal Ranah volume 12 number 1 in 2023, textbook Sejarah Kelas 12 SMA Kurikulum Merdeka in 2022, and essay collection Nggragas! by Triyanto Triwikromo in 2021. The method for providing data uses the observation method with note-taking techniques, then analyzed sequentially by using the distributional method, immediate constituent, deletion, and expansion techniques. The results of this research are that all the data shows that the combination affix {di-} and {-kan} changes the word class into a verb form. The changes that occur are not only changes in word classes and their meanings but some only experience changes in meaning. Changes in word class and meaning occur in changes from noun to verb (N → V), adjective to verb (Adj → V), adverb to verb (Adv → V), numerals to verb (Num → V), conjunction to verb (Conj → V). Changes in meaning occur when active verbs become intensive passive verb, and active verbs become causative passive verb.