Claim Missing Document
Check
Articles

Found 5 Documents
Search

The Correlation Between Family Support and Family Self-Efficacy with Relapse in Individuals with Schizophrenia Andari, Made Ayu; Karin, Putu Ayu Emmy Savitri; Suarningsih, Ni Kadek Ayu; Sulistiowati, Ni Made Dian; Wisnawa, I Nyoman Dharma
Babali Nursing Research Vol. 5 No. 4 (2024): October
Publisher : Babali Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37363/bnr.2024.54408

Abstract

Introduction: Schizophrenia is a common illness in mental hospitals, often leading to recurrent relapses. These relapses can be influenced by both internal and external factors, including family support and self-efficacy in caring for individuals with schizophrenia (IWS). Good family support benefits IWS, whereas poor support can worsen their condition. High self-efficacy in families is essential for providing optimal care. This study examines the correlation between family support and family self-efficacy with relapse in IWS in the Puskesmas (Community Health Centre) III North Denpasar area. Methods: A quantitative descriptive correlational study with a cross-sectional approach was conducted. The research instruments included a family support questionnaire and the General Self-Efficacy Scale (GSES). Data were collected through door-to-door surveys from May to June 2024, involving 68 respondents who were family members of IWS. Results: Many respondents were aged 46-55, had a high school education, and earned below the minimum wage. The Pearson correlation test showed a strong negative correlation between family support and relapse (p = 0.00, r = -0.62) and between family self-efficacy and relapse (p = 0.00, r = -0.61). Multivariate analysis using multiple linear regression indicated that family support (β = -0.37) had a slightly stronger influence on relapse occurrences in IWS compared to family self-efficacy (β = -0.36). Conclusion: Enhancing family support and self-efficacy is crucial in minimising relapse in IWS. Families should be encouraged to strengthen their role in providing support and improving their self-efficacy in caregiving.
Efektivitas edukasi melalui modul ha-man terhadap efikasi diri kelompok usia dewasa dalam mencegah penyakit jantung koroner: Effectiveness of education using ha-man module on self-efficacy of adults in preventing coronary heart disease Suarningsih, Ni Kadek Ayu; Saputra, I Kadek
Bali Medika Jurnal Vol 8 No 3 (2021): Special Issue Bali Medika Jurnal Vol 8 No 3 Oktober 2021
Publisher : Stikes Wira Medika Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36376/bmj.v8i3.178

Abstract

Every year, there is a significant increase in deaths caused by coronary heart disease (CHD). Many programs have been implemented to reduce the morbidity and mortality of CHD. Early detection and control of CHD risk factors is a challenge in educating adults about lifestyle changes. Also, it is recognized that self-efficacy is a vital factor in initiating and maintaining healthy behaviors. Health education is given as an effort to increase self-efficacy, but educational media that are innovative in promoting CHD health are limited. This study aimed to determine differences in the self-efficacy of adults in preventing coronary heart disease before and after given health education. This was a quasi-experimental study with a pretest-posttest control group design. The sample were 60 respondents which were grouped into 30 respondents in the intervention group and control group through purposive sampling. The HA-Man education intervention was given 3 times for a-week, self-efficacy was evaluated through a structured questionnaire interview. The results showed that there were differences in self-efficacy before and after intervention in the intervention group (p <0.05). This research is expected to provide information in the development of educational media in increasing awareness and self-efficacy of people who are at risk of CHD
PELAYANAN KESEHATAN “KOLOK” SEBAGAI UPAYA PREVENTIF PENYAKIT TIDAK MENULAR PADA MASYARAKAT DESA BENGKALA DI BULELENG Raya, Nyoman Agus Jagat; Sulistiowati, Ni Made Dian; Pramesemara, I Gusti Ngurah; Suarningsih, Ni Kadek Ayu; Kharan Deva, Komang Yoga; Hadi Nugraha, I Dewa Gede
Kumawula: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol 8, No 3 (2025): Kumawula: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/kumawula.v8i3.62924

Abstract

The lack of access to health services in several regions in Indonesia can have an impact on reducing knowledge and public health levels in the management of non-communicable diseases (NCDs). The community service programme through KOLOK (cholesterol, ear, throat, blood glucose) health services aims to provide health services to the people of Bengkala Village, which has a deaf community. The procedures carried out include checking weight and height to determine body mass index (BMI), blood pressure, blood glucose, and cholesterol levels, as well as ear and throat examinations. The subjects in this health service were Bengkala Village residents who were registered at the service location. Based on the evaluation results, the BMI showed obese (12.2%) and very obese (16.3%), hypertension (31.5%), high cholesterol (55.6%), and high blood glucose levels (54.5%). The number of people with ear and throat disorders was 35.9%, with the most common type of disorder being cerumen obturation. Overall, more than 50% of the community had normal BMI, blood pressure, and ear and throat conditions, but more than 50% of the community had high cholesterol and blood glucose levels. The community needs education to understand healthy lifestyle behaviours that impact nutritional, metabolic, and ear and throat health problems. Access to communication and the village’s distance from health facilities such as hospitals, health centres, and specialist services remain challenges. In addition, the development of a community health cadre programme and the integration of technology to improve effective communication to support the education process and the improvement of public health services are also needed by the village. Keterbatasan akses pelayanan kesehatan di beberapa wilayah di Indonesia dapat berdampak pada penurunan pengetahuan dan taraf kesehatan masyarakat dalam penanggulangan penyakit tidak menular (PTM). Program pengabdian masyarakat melalui pelayanan kesehatan KOLOK (kolesterol, telinga, tenggorokan, kadar glukosa darah) bertujuan untuk memberikan layanan kesehatan kepada masyarakat Desa Bengkala yang memiliki komunitas bisu-tuli. Prosedur yang dilakukan meliputi pemeriksaan berat badan, tinggi badan untuk menentukan indeks massa tubuh (IMT), tekanan darah, kadar glukosa darah, dan kolesterol, serta pemeriksaan telinga dan tenggorokan. Subjek dalam pelayanan kesehatan ini adalah masyarakat Desa Bengkala yang teregistrasi di lokasi pelayanan. Berdasarkan hasil evaluasi, menunjukkan IMT gemuk (12,2%) dan sangat gemuk (16,3%), hipertensi (31,5%), kolesterol tinggi (55,6%), dan kadar glukosa darah tinggi (54,5%). Masyarakat yang mengalami gangguan telinga dan tenggorokan sebanyak 35,9%, dengan jenis gangguan yang banyak ditemukan yaitu serumen obturan. Secara keseluruhan, lebih dari 50% masyarakat memiliki IMT, tekanan darah, dan teling-tenggorokan normal, namun lebih dari 50% masyarakat memiliki kadar kolesterol dan kadar glukosa darah yang tinggi. Masyarakat memerlukan edukasi untuk memahami perilaku gaya hidup sehat yang berdampak pada permasalahan kesehatan gizi, metabolisme, dan gangguan telinga dan tenggorokan. Akses komunikasi, lokasi desa yang jauh dari fasilitas kesehatan seperti rumah sakit, puskesmas, dan pelayanan dokter spesialis sangat diperlukan. Selain itu, pengembangan program kader kesehatan masyarakat dan integrasi teknologi dalam meningkatkan komunikasi yang efektif dalam mendukung proses edukasi dan peningkatan layanan kesehatan masyarakat juga sangat diperlukan oleh desa.
GAMBARAN SAFETY CULTURE DALAM KEJADIAN DAN PENANGANAN KECELAKAAN KERJA PADA DEPARTEMEN FOOD AND BEVERAGE DI HOTEL X Suryaningtyas, Ni Luh Putu Yasinta; Suarningsih, Ni Kadek Ayu; Manangkot, Meril Valentine; Prapti, Ni Ketut Guru
Community of Publishing in Nursing Vol. 13 No. 6 (2025): Desember 2025
Publisher : Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/coping.2025.v13.i06.p11

Abstract

Keperawatan pariwisata mengkaji berbagai aspek terkait dengan kesehatan wisatawan, kesehatan masyarakat setempat, dan penyedia layanan pariwisata, dengan sektor perhotelan sebagai layanan pariwisata terpopuler. Salah satu departemen yang krusial dalam industri perhotelan adalah Departemen Food and Beverage (F&B), yang bertanggung jawab menyediakan makanan dan minuman berkualitas. Akan tetapi, departemen ini juga menghadapi risiko tinggi terkait dengan keselamatan dan kesehatan kerja (K3). Untuk mengurangi risiko kecelakaan kerja, penting untuk meningkatkan safety culture di sektor perhotelan. Penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan safety culture dalam kejadian dan penanganan kecelakaan kerja pada Departemen F&B di Hotel X. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain penelitian deskriptif analitik. Data primer dikumpulkan melalui kuesioner SCART yang telah dimodifikasi kepada 121 pegawai Departemen F&B dengan teknik total sampling. Analisis data dilakukan dengan metode statistik deskriptif. Hasil penelitian ini menemukan, mayoritas pegawai adalah laki-laki (56,2%) dengan usia 26-35 tahun (33,1%). Mayoritas pegawai memiliki latar pendidikan SMA/SMK (38,0%) dan pengalaman kerja lebih dari 5 tahun (62,0%). Terdapat 14,0% pegawai tidak pernah mengikuti pelatihan kuliner/hospitality dan sebanyak 22,3% pegawai tidak pernah mengikuti pelatihan K3. Insiden paling sering terjadi akibat benda tajam yaitu sebesar 30,6%, dengan mayoritas kecelakaan dikategorikan sebagai ringan (51,2%). Evaluasi safety culture Departemen F&B mendapatkan skor 739,25 yang mendapatkan kategori B. Pelatihan K3 secara konsisten dan berkala perlu dilakukan sehingga penyedia layanan pariwisata dapat mengoptimalkan kualitasnya.
GAMBARAN KELUHAN MUSCULOSKELETAL DISORDERS DAN KELELAHAN PADA TOUR GUIDE DI NUSA PENIDA Kairupan, Shasya Thalia; Prapti, Ni Ketut Guru; Suarningsih, Ni Kadek Ayu; Antari, Gusti Ayu Ary
Community of Publishing in Nursing Vol. 13 No. 6 (2025): Desember 2025
Publisher : Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/coping.2025.v13.i06.p09

Abstract

Tour guide merupakan salah satu pekerja agen wisata yang memiliki risiko dalam mengalami kejadian keluhan Musculoskeletal Disorders (MSDs) dan kelelahan akibat tuntutan pekerjaan. Keterlibatan seluruh aktivitas tour guide bersama dengan wisatawan seringkali melibatkan aktivitas statis dan dinamis dalam waktu lama sehingga berpotensi meningkatkan penekanan pada otot serta tendon. Hal ini mampu berdampak pada sejumlah faktor keluhan yang bersifat sementara maupun tetap seperti keluhan MSDs dan kelelahan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui gambaran keluhan MSDs dan kelelahan pada tour guide di Nusa Penida. Penelitian ini adalah penelitian deskriptif eksploratif dengan pendekatan cross sectional. Jumlah sampel yang berpartisipasi dalam penelitian ini adalah 105 responden tour guide yang diperoleh melalui teknik accidental sampling. Pengumpulan data dilakukan menggunakan kuesioner Nordic Body Map (NBM) dan Subjective Self Rating Test (SSRT). Hasil analisis univariat dan crosstabulation didapatkan bahwa prevalensi keluhan MSDs tertinggi pada mayoritas tour guide di Nusa Penida terdapat di area pinggang (46,7%), punggung (28,6%), betis kanan (25,7%) dan paha kanan (22,9%). Sedangkan pada kelelahan, tour guide di Nusa Penida menunjukkan sebagian besar responden memiliki kelelahan tertinggi pada kategori pelemahan kegiatan yaitu seringkali mengantuk (44,8%) dan menguap (41,9%). Tour guide di Nusa Penida sering mengalami keluhan tingkat sedang terkait dengan keluhan MSDs dan kelelahan, dengan risiko MSDs sebesar 78,1% dan tingkat kelelahan sebesar 75,2%. Hasil penelitian ini diharapkan dapat digunakan sebagai tambahan ilmu pengetahuan mengenai perilaku menjaga kesehatan fisik untuk mencegah keluhan muskuloskeletal dan kelelahan serta pengembangan literasi kesehatan yang dimiliki.