Claim Missing Document
Check
Articles

Found 10 Documents
Search

GAMBARAN RESILIENSI PERAWAT RUMAH SAKIT UMUM DAERAH BALI MANDARA DI MASA PANDEMI COVID-19 Swandewi, Made Adi; Suarningsih, Ni Kadek Ayu; Kamayani, Made Oka Ari
Coping: Community of Publishing in Nursing Vol 11 No 4 (2023): Agustus 2023
Publisher : Program Studi Sarjana Ilmu Keperawatan dan Profesi Ners, Fakultas Kedokteran, Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/coping.2023.v11.i04.p09

Abstract

Resiliensi merupakan kemampuan seseorang dalam beradaptasi dengan baik saat menghadapi pengalaman yang sulit dan menantang. Resiliensi dapat dilihat baik secara positif maupun negatif. Tingkat ketahanan seseorang dapat bervariasi sangat dipengaruhi oleh keadaan individu dan tantangan yang dihadapi. Pandemi COVID-19 menyebabkan perawat mengalami situasi di bawah tekanan dan kekhawatiran permasalahan mental. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran resiliensi perawat Rumah Sakit Umum Daerah Bali Mandara di masa pandemi COVID-19. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif analitik dengan desain cross sectional. Sampel dalam penelitian ini berjumlah 78 responden yang diperoleh melalui teknik simple random sampling. Hasil penelitian diperoleh mayoritas responden berjenis kelamin perempuan (70,5%) dan sudah menikah (75,6%). Sejumlah 64,1% responden dengan pendidikan terakhir Ners, pengalaman bekerja >3 tahun (80,8%) serta sebagian besar bekerja di ruang isolasi COVID-19 (25,5%). Hanya 6,4% responden memiliki resiliensi dengan kategori rendah. Mayoritas responden memiliki resiliensi sedang adalah perawat pendidikan terakhir Ners (60,0%), sudah menikah (78,3%), lama bekerja >3 tahun (81,7%), dan bertugas di ruang rawat inap (23,3%). Sementara responden yang memiliki resiliensi kategori tinggi sebagian besar bertugas di ruang isolasi COVID-19 (69,2%) dan memiliki pengalaman bekerja >3 tahun (69,2%). Karakteristik responden diprediksi memiliki keterkaitan dengan level resiliensi yang dimiliki oleh perawat dalam penelitian ini.
FAKTOR-FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN KEJADIAN BALI BELLY PADA WISATAWAN MANCANEGARA DI KAWASAN WISATA PANTAI PANDAWA Antari, Ni Putu Ratna Desy; Suarningsih, Ni Kadek Ayu; Puspita, Luh Mira
Coping: Community of Publishing in Nursing Vol 11 No 6 (2023): Desember 2023
Publisher : Program Studi Sarjana Ilmu Keperawatan dan Profesi Ners, Fakultas Kedokteran, Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/coping.2023.v11.i06.p05

Abstract

Industri pariwisata saat ini mengalami perkembangan yang cukup baik, dibuktikan dengan kemajuan di bidang kesehatan pariwisata salah satunya keperawatan pariwisata yang dapat memberikan kenyamanan kunjungan wisatawan mancanegara. Wisatawan mancanegara dapat mengalami penyakit terkait perjalanan akibat perilaku wisatawan mancanegara selama berwisata, seperti Traveler’s Diarrhea. Bali Belly adalah istilah umum untuk wisatawan mancanegara yang menderita diare selama berwisata di Bali, sehingga wisatawan mancanegara perlu mengetahui apa saja faktor risiko kejadian Bali Belly. Menganalisis faktor apa saja yang terkait dengan kejadian Bali Belly pada wisatawan mancanegara di Kawasan Wisata Pantai Pandawa adalah tujuan dari penelitian ini. Metode penelitian deskriptif korelatif dengan pendekatan cross sectional digunakan dalam penelitian ini. Sampel penelitian diperoleh dengan teknik accidental sampling berjumlah 90 orang. Pengumpulan data menggunakan kuesioner kejadian Bali Belly. Analisis bivariat menggunakan uji statistik Koefisien Kontingensi. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa usia, durasi tinggal, personal hygiene, dan lokasi mengonsumsi makanan mempunyai hubungan yang signifikan terhadap kejadian Bali Belly pada wisatawan mancanegara di Kawasan Wisata Pantai Pandawa (p<0,05), sedangkan jenis kelamin, asal negara, dan jenis makanan (p>0,05) secara statistik tidak memiliki hubungan yang signifikan terhadap kejadian Bali Belly.
GAMBARAN RISIKO PENYAKIT KARDIOVASKULAR PADA PEKERJA KANTORAN DALAM DUA DEKADE MENDATANG Astari, Ni Made Winda; Suarningsih, Ni Kadek Ayu; Prapti, Ni Ketut Guru; Nurhesti, Putu Oka Yuli
Coping: Community of Publishing in Nursing Vol 12 No 2 (2024): April 2024
Publisher : Program Studi Sarjana Ilmu Keperawatan dan Profesi Ners, Fakultas Kedokteran, Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/coping.2024.v12.i02.p15

Abstract

Penyakit kardiovaskular merupakan kontributor utama penurunan kualitas hidup dan kecacatan dengan angka kejadian yang terus meningkat setiap tahunnya. Penyakit kardiovaskular memiliki periode asimtomatik yang panjang sehingga upaya pencegahan dan pengendalian sangat penting dilakukan, salah satunya adalah melalui penilaian risiko penyakit. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi gambaran risiko penyakit kardiovaskular pada pekerja kantoran dalam dua dekade mendatang. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif deskriptif dengan pendekatan cross-sectional yang dilaksanakan di salah satu bank yang berlokasi di Kabupaten Gianyar. Sampel dari penelitian ini adalah 30 orang pegawai yang dipilih menggunakan teknik probability sampling jenis total sampling. Penelitian ini terdiri dari pengukuran antropometri dan penilaian risiko penyakit menggunakan kuesioner Healthy Heart Score yang berfokus terhadap penilaian sembilan gaya hidup yang diketahui paling efektif dalam menilai risiko penyakit kardiovaskular. Hasil penelitian menunjukan bahwa sebanyak 46,7% responden memiliki risiko penyakit kardiovaskular yang tinggi dalam dua dekade mendatang dan sebanyak 40% lainnya memiliki risiko sedang. Selain itu, hasil analisis pola hidup menunjukan bahwa mayoritas responden mengonsumsi buah dan sayur tidak sesuai rekomendasi (76,7%), sebagian besar mengonsumsi minuman manis (67,3%), sebagian tidak melakukan aktivitas fisik (50%) dan sebagian rutin mengonsumsi alkohol (50%) dalam satu tahun terakhir. Dapat disimpulkan bahwa sebagian besar responden memiliki risiko penyakit kardiovaskular yang tinggi dalam dua dekade mendatang yang dinilai berdasarkan gaya hidup.
STRATEGI ORANG TERINFEKSI HIV DALAM MEMANAJEMEN GEJALA EFEK TERAPI ANTIRETROVIRAL DI BALI Raya, Nyoman Agus Jagat; Suarningsih, Ni Kadek Ayu
Coping: Community of Publishing in Nursing Vol 11 No 4 (2023): Agustus 2023
Publisher : Program Studi Sarjana Ilmu Keperawatan dan Profesi Ners, Fakultas Kedokteran, Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/coping.2023.v11.i04.p01

Abstract

Antiretroviral (ARV) dibutuhkan oleh orang dengan HIV (ODHIV) untuk menekan laju perkembangan HIV, akan tetapi ARV memiliki efek samping pada beberapa ODHIV. Strategi dalam memanajemen gejala sangat diperlukan untuk mengurangi gejala yang tidak nyaman dan mengganggu aktivitas ODHIV. Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi pengalaman ODHIV dalam memanajemen gejala efek terapi ARV di Bali, Indonesia. Penelitian ini menggunakan rancangan studi kualitatif dengan pendekatan fenomenologi. Teknik pengumpulan partisipan melalui teknik purposive sampling dan snowball sampling berdasarkan kriteria: orang yang berstatus HIV berusia 18 tahun atau lebih dan sedang menjalani terapi ARV dengan domisili di Bali. Pertanyaan semi-struktur tentang strategi manajemen gejala digunakan untuk mendapatkan pengalaman partisipan. Analisis data menggunakan analisis tematik. Empat tema dan 10 kategori diperoleh dari 10 partisipan yang bersedia menandatangani informed consent dalam penelitian ini yaitu 1) strategi manajemen gejala meliputi pengobatan, mengontrol pikiran, menjalankan kegiatan spiritual, pengalihan aktivitas, dan adanya dukungan; 2) alasan manajemen gejala didasarkan kenyamanan dan gejala yang berkurang; 3) sumber informasi manajemen gejala dari internal dan eksternal; dan 4) keefektifan strategi manajemen gejala meliputi tingkat keefektifan dan kepuasan. Studi ini memberikan gambaran data terkait strategi yang efektif yang dilakukan secara personal oleh ODHIV untuk mengurangi gejala-gejala yang muncul efek samping ARV. Perawat HIV dan konselor dapat menyusun rencana intervensi pendidikan kesehatan atau konseling terkait strategi manajemen gejala efek samping ARV khususnya kepada ODHIV yang baru pertama mengonsumsi ARV.
HUBUNGAN TINGKAT STRES DENGAN MANAJEMEN DIRI DIABETES PADA PASIEN DIABETES MELITUS TIPE 2 Putri, Putu Laksmi Sri Ananda; Antari, Gusti Ayu Ary; Suarningsih, Ni Kadek Ayu
Coping: Community of Publishing in Nursing Vol 11 No 4 (2023): Agustus 2023
Publisher : Program Studi Sarjana Ilmu Keperawatan dan Profesi Ners, Fakultas Kedokteran, Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/coping.2023.v11.i04.p06

Abstract

Diabetes melitus merupakan penyakit kronis yang berisiko menimbulkan berbagai komplikasi. Manajemen diri diabetes memiliki peranan penting dalam mengendalikan dan mencegah terjadinya komplikasi lebih lanjut. Kejadian stres selama menjalani manajemen diri diabetes sering dialami oleh pasien diabetes melitus. Stres yang berkepanjangan secara langsung akan memberikan dampak pada kualitas hidup pasien diabetes melitus. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara tingkat stres dengan manajemen diri diabetes pada pasien diabetes melitus tipe 2. Penelitian ini merupakan jenis penelitian deskriptif korelasi dengan rancangan cross sectional pada 45 sampel yang diperoleh melalui teknik consecutive sampling. Pengumpulan data dilakukan menggunakan kuesioner Diabetes Distress Scale (DDS) dan Diabetes Self Management Questionaire (DSMQ). Hasil penelitian ini menunjukkan mayoritas pasien diabetes mengalami tingkat stres ringan (58%) dan telah memiliki manajemen diri diabetes baik (51%). Hasil uji statistik Spearman Rank menunjukkan terdapat hubungan sedang dan signifikan antara tingkat stres dengan manajemen diri diabetes pada pasien DM tipe 2 (r = -0,504; ?-value =0,000). Selain itu, terdapat hubungan terbalik antara tingkat stres dengan manajemen diri diabetes. Tingkat stres yang buruk akan menurunkan manajemen diri diabetes pada pasien DM tipe 2.
The Correlation Between Family Support and Family Self-Efficacy with Relapse in Individuals with Schizophrenia Andari, Made Ayu; Karin, Putu Ayu Emmy Savitri; Suarningsih, Ni Kadek Ayu; Sulistiowati, Ni Made Dian; Wisnawa, I Nyoman Dharma
Babali Nursing Research Vol. 5 No. 4 (2024): October
Publisher : Babali Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37363/bnr.2024.54408

Abstract

Introduction: Schizophrenia is a common illness in mental hospitals, often leading to recurrent relapses. These relapses can be influenced by both internal and external factors, including family support and self-efficacy in caring for individuals with schizophrenia (IWS). Good family support benefits IWS, whereas poor support can worsen their condition. High self-efficacy in families is essential for providing optimal care. This study examines the correlation between family support and family self-efficacy with relapse in IWS in the Puskesmas (Community Health Centre) III North Denpasar area. Methods: A quantitative descriptive correlational study with a cross-sectional approach was conducted. The research instruments included a family support questionnaire and the General Self-Efficacy Scale (GSES). Data were collected through door-to-door surveys from May to June 2024, involving 68 respondents who were family members of IWS. Results: Many respondents were aged 46-55, had a high school education, and earned below the minimum wage. The Pearson correlation test showed a strong negative correlation between family support and relapse (p = 0.00, r = -0.62) and between family self-efficacy and relapse (p = 0.00, r = -0.61). Multivariate analysis using multiple linear regression indicated that family support (β = -0.37) had a slightly stronger influence on relapse occurrences in IWS compared to family self-efficacy (β = -0.36). Conclusion: Enhancing family support and self-efficacy is crucial in minimising relapse in IWS. Families should be encouraged to strengthen their role in providing support and improving their self-efficacy in caregiving.
Efektivitas edukasi melalui modul ha-man terhadap efikasi diri kelompok usia dewasa dalam mencegah penyakit jantung koroner: Effectiveness of education using ha-man module on self-efficacy of adults in preventing coronary heart disease Suarningsih, Ni Kadek Ayu; Saputra, I Kadek
Bali Medika Jurnal Vol 8 No 3 (2021): Special Issue Bali Medika Jurnal Vol 8 No 3 Oktober 2021
Publisher : Stikes Wira Medika Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36376/bmj.v8i3.178

Abstract

Every year, there is a significant increase in deaths caused by coronary heart disease (CHD). Many programs have been implemented to reduce the morbidity and mortality of CHD. Early detection and control of CHD risk factors is a challenge in educating adults about lifestyle changes. Also, it is recognized that self-efficacy is a vital factor in initiating and maintaining healthy behaviors. Health education is given as an effort to increase self-efficacy, but educational media that are innovative in promoting CHD health are limited. This study aimed to determine differences in the self-efficacy of adults in preventing coronary heart disease before and after given health education. This was a quasi-experimental study with a pretest-posttest control group design. The sample were 60 respondents which were grouped into 30 respondents in the intervention group and control group through purposive sampling. The HA-Man education intervention was given 3 times for a-week, self-efficacy was evaluated through a structured questionnaire interview. The results showed that there were differences in self-efficacy before and after intervention in the intervention group (p <0.05). This research is expected to provide information in the development of educational media in increasing awareness and self-efficacy of people who are at risk of CHD
PELAYANAN KESEHATAN “KOLOK” SEBAGAI UPAYA PREVENTIF PENYAKIT TIDAK MENULAR PADA MASYARAKAT DESA BENGKALA DI BULELENG Raya, Nyoman Agus Jagat; Sulistiowati, Ni Made Dian; Pramesemara, I Gusti Ngurah; Suarningsih, Ni Kadek Ayu; Kharan Deva, Komang Yoga; Hadi Nugraha, I Dewa Gede
Kumawula: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol 8, No 3 (2025): Kumawula: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/kumawula.v8i3.62924

Abstract

The lack of access to health services in several regions in Indonesia can have an impact on reducing knowledge and public health levels in the management of non-communicable diseases (NCDs). The community service programme through KOLOK (cholesterol, ear, throat, blood glucose) health services aims to provide health services to the people of Bengkala Village, which has a deaf community. The procedures carried out include checking weight and height to determine body mass index (BMI), blood pressure, blood glucose, and cholesterol levels, as well as ear and throat examinations. The subjects in this health service were Bengkala Village residents who were registered at the service location. Based on the evaluation results, the BMI showed obese (12.2%) and very obese (16.3%), hypertension (31.5%), high cholesterol (55.6%), and high blood glucose levels (54.5%). The number of people with ear and throat disorders was 35.9%, with the most common type of disorder being cerumen obturation. Overall, more than 50% of the community had normal BMI, blood pressure, and ear and throat conditions, but more than 50% of the community had high cholesterol and blood glucose levels. The community needs education to understand healthy lifestyle behaviours that impact nutritional, metabolic, and ear and throat health problems. Access to communication and the village’s distance from health facilities such as hospitals, health centres, and specialist services remain challenges. In addition, the development of a community health cadre programme and the integration of technology to improve effective communication to support the education process and the improvement of public health services are also needed by the village. Keterbatasan akses pelayanan kesehatan di beberapa wilayah di Indonesia dapat berdampak pada penurunan pengetahuan dan taraf kesehatan masyarakat dalam penanggulangan penyakit tidak menular (PTM). Program pengabdian masyarakat melalui pelayanan kesehatan KOLOK (kolesterol, telinga, tenggorokan, kadar glukosa darah) bertujuan untuk memberikan layanan kesehatan kepada masyarakat Desa Bengkala yang memiliki komunitas bisu-tuli. Prosedur yang dilakukan meliputi pemeriksaan berat badan, tinggi badan untuk menentukan indeks massa tubuh (IMT), tekanan darah, kadar glukosa darah, dan kolesterol, serta pemeriksaan telinga dan tenggorokan. Subjek dalam pelayanan kesehatan ini adalah masyarakat Desa Bengkala yang teregistrasi di lokasi pelayanan. Berdasarkan hasil evaluasi, menunjukkan IMT gemuk (12,2%) dan sangat gemuk (16,3%), hipertensi (31,5%), kolesterol tinggi (55,6%), dan kadar glukosa darah tinggi (54,5%). Masyarakat yang mengalami gangguan telinga dan tenggorokan sebanyak 35,9%, dengan jenis gangguan yang banyak ditemukan yaitu serumen obturan. Secara keseluruhan, lebih dari 50% masyarakat memiliki IMT, tekanan darah, dan teling-tenggorokan normal, namun lebih dari 50% masyarakat memiliki kadar kolesterol dan kadar glukosa darah yang tinggi. Masyarakat memerlukan edukasi untuk memahami perilaku gaya hidup sehat yang berdampak pada permasalahan kesehatan gizi, metabolisme, dan gangguan telinga dan tenggorokan. Akses komunikasi, lokasi desa yang jauh dari fasilitas kesehatan seperti rumah sakit, puskesmas, dan pelayanan dokter spesialis sangat diperlukan. Selain itu, pengembangan program kader kesehatan masyarakat dan integrasi teknologi dalam meningkatkan komunikasi yang efektif dalam mendukung proses edukasi dan peningkatan layanan kesehatan masyarakat juga sangat diperlukan oleh desa.
GAMBARAN SAFETY CULTURE DALAM KEJADIAN DAN PENANGANAN KECELAKAAN KERJA PADA DEPARTEMEN FOOD AND BEVERAGE DI HOTEL X Suryaningtyas, Ni Luh Putu Yasinta; Suarningsih, Ni Kadek Ayu; Manangkot, Meril Valentine; Prapti, Ni Ketut Guru
Community of Publishing in Nursing Vol. 13 No. 6 (2025): Desember 2025
Publisher : Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/coping.2025.v13.i06.p11

Abstract

Keperawatan pariwisata mengkaji berbagai aspek terkait dengan kesehatan wisatawan, kesehatan masyarakat setempat, dan penyedia layanan pariwisata, dengan sektor perhotelan sebagai layanan pariwisata terpopuler. Salah satu departemen yang krusial dalam industri perhotelan adalah Departemen Food and Beverage (F&B), yang bertanggung jawab menyediakan makanan dan minuman berkualitas. Akan tetapi, departemen ini juga menghadapi risiko tinggi terkait dengan keselamatan dan kesehatan kerja (K3). Untuk mengurangi risiko kecelakaan kerja, penting untuk meningkatkan safety culture di sektor perhotelan. Penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan safety culture dalam kejadian dan penanganan kecelakaan kerja pada Departemen F&B di Hotel X. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain penelitian deskriptif analitik. Data primer dikumpulkan melalui kuesioner SCART yang telah dimodifikasi kepada 121 pegawai Departemen F&B dengan teknik total sampling. Analisis data dilakukan dengan metode statistik deskriptif. Hasil penelitian ini menemukan, mayoritas pegawai adalah laki-laki (56,2%) dengan usia 26-35 tahun (33,1%). Mayoritas pegawai memiliki latar pendidikan SMA/SMK (38,0%) dan pengalaman kerja lebih dari 5 tahun (62,0%). Terdapat 14,0% pegawai tidak pernah mengikuti pelatihan kuliner/hospitality dan sebanyak 22,3% pegawai tidak pernah mengikuti pelatihan K3. Insiden paling sering terjadi akibat benda tajam yaitu sebesar 30,6%, dengan mayoritas kecelakaan dikategorikan sebagai ringan (51,2%). Evaluasi safety culture Departemen F&B mendapatkan skor 739,25 yang mendapatkan kategori B. Pelatihan K3 secara konsisten dan berkala perlu dilakukan sehingga penyedia layanan pariwisata dapat mengoptimalkan kualitasnya.
GAMBARAN KELUHAN MUSCULOSKELETAL DISORDERS DAN KELELAHAN PADA TOUR GUIDE DI NUSA PENIDA Kairupan, Shasya Thalia; Prapti, Ni Ketut Guru; Suarningsih, Ni Kadek Ayu; Antari, Gusti Ayu Ary
Community of Publishing in Nursing Vol. 13 No. 6 (2025): Desember 2025
Publisher : Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/coping.2025.v13.i06.p09

Abstract

Tour guide merupakan salah satu pekerja agen wisata yang memiliki risiko dalam mengalami kejadian keluhan Musculoskeletal Disorders (MSDs) dan kelelahan akibat tuntutan pekerjaan. Keterlibatan seluruh aktivitas tour guide bersama dengan wisatawan seringkali melibatkan aktivitas statis dan dinamis dalam waktu lama sehingga berpotensi meningkatkan penekanan pada otot serta tendon. Hal ini mampu berdampak pada sejumlah faktor keluhan yang bersifat sementara maupun tetap seperti keluhan MSDs dan kelelahan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui gambaran keluhan MSDs dan kelelahan pada tour guide di Nusa Penida. Penelitian ini adalah penelitian deskriptif eksploratif dengan pendekatan cross sectional. Jumlah sampel yang berpartisipasi dalam penelitian ini adalah 105 responden tour guide yang diperoleh melalui teknik accidental sampling. Pengumpulan data dilakukan menggunakan kuesioner Nordic Body Map (NBM) dan Subjective Self Rating Test (SSRT). Hasil analisis univariat dan crosstabulation didapatkan bahwa prevalensi keluhan MSDs tertinggi pada mayoritas tour guide di Nusa Penida terdapat di area pinggang (46,7%), punggung (28,6%), betis kanan (25,7%) dan paha kanan (22,9%). Sedangkan pada kelelahan, tour guide di Nusa Penida menunjukkan sebagian besar responden memiliki kelelahan tertinggi pada kategori pelemahan kegiatan yaitu seringkali mengantuk (44,8%) dan menguap (41,9%). Tour guide di Nusa Penida sering mengalami keluhan tingkat sedang terkait dengan keluhan MSDs dan kelelahan, dengan risiko MSDs sebesar 78,1% dan tingkat kelelahan sebesar 75,2%. Hasil penelitian ini diharapkan dapat digunakan sebagai tambahan ilmu pengetahuan mengenai perilaku menjaga kesehatan fisik untuk mencegah keluhan muskuloskeletal dan kelelahan serta pengembangan literasi kesehatan yang dimiliki.