Claim Missing Document
Check
Articles

Found 22 Documents
Search

G5P4A0 HAMIL 28 MINGGU DENGAN PARTUS PREMATURUS IMMINENS (PPI) Shariff, Fonda Octarianingsih; Irhamna, Teguh
Medula Vol 14 No 4 (2024): Medula
Publisher : CV. Jasa Sukses Abadi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53089/medula.v14i4.1020

Abstract

Prematurity Iminens is a threat to pregnancy where signs of labor appear at preterm gestational age (20 weeks – 37 weeks) and the baby's birth weight is less than 2500 grams. In a patient with G5P4A0 28 weeks pregnant with complaints of lower abdominal pain and cramps. Complaints accompanied by blood coming out of the birth canal at 14.00 WIB, BAK and defecation felt painful. Imminent premature parturition is a threat to pregnancy where signs of labor appear at preterm gestational age (20 weeks – 37 weeks) and the baby's birth weight is less than 2500 grams. Imminens premature labor is diagnosed with contractions that repeat at least once every 7-8 minutes, or 2-3 times within 10 minutes, pain in the lower back, spotting bleeding, feeling of pressure on the cervix. Pregnant women who are at risk of preterm labor and/or showing signs of preterm labor need intervention to improve neonatal outcomes. The conclusion has been established through a working diagnosis of G5P4A0 28 weeks pregnant with Partus Prematurus Imminens (PPI) based on clinical considerations, physical examination findings, and supporting examinations. Several types of drugs that can be given as tocolysis are calcium antagonists, for example Nifedipine 10 mg/oral repeated 2-3 times/hour, continued every 8 hours until contractions disappear and can be given again if contractions recur and the maintenance dose is 3 x 10 mg. Other alternative medications are other types of β-mimetics such as salbutamol, terbutaline, rithrodine and soxuprin or magnesic sulfate (MgSO4) and antiprostaglandins (indomethacin), but these are rarely used because of side effects on the mother or fetus. The aim of providing corticosteroid therapy is to mature fetal lung surfactant, reduce the incidence of RDS, prevent intraventricular bleeding, which ultimately can reduce the risk of neonatal death. Corticosteroids need to be given if the gestational age is <35 weeks. The drugs that can be given are dexamethasone (at a dose of 4 x 6 mg i.m with a 12 hour interval) or bexamethasone (at a dose of 2 x 12 mg i.m with a 24 hour administration interval).
Amenore Sekunder Shariff, Fonda Octarianingsih; Rizdanti, Fezagustia
Medula Vol 14 No 5 (2024): Medula
Publisher : CV. Jasa Sukses Abadi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53089/medula.v14i5.1022

Abstract

Primary amenorrhea is a condition where menstruation does not occur in women aged 16 years. This situation occurs in women of reproductive age 0.1-2.5%. Meanwhile, secondary amenorrhea is the absence of menstruation for three cycles or 6 cycles after previously having a normal menstrual cycle. The incidence rate is around 1 to 5% in women of reproductive age. Treatment or management of amenorrhea depends on the cause. If the cause is drastic weight loss or obesity, sufferers are advised to follow an appropriate diet. If the cause is excessive exercise, sufferers are advised to reduce it. If the cause is a tumor, then surgery is performed to remove the tumor. So basically treating amenorrhoea always requires the help of a doctor to help diagnose or find the cause. The patient came to the Pertamina Bintang Amin Husada Hospital polyclinic on February 6 2024 with complaints of no menstruation since 4 months accompanied by lower abdominal and back pain. The treatment obtained by the patient was observation of bleeding, checking vital signs regularly, norelut tab twice a day, 2 tablets for 5 days, the patient was advised to diet. The prognosis for this patient is dubia ad bonam. The working diagnosis in this case is secondary amenorrhea based on clinical considerations, physical examination findings, and supporting examinations.
Faktor – Faktor Yang Mempengaruhi Kejadian Ketuban Pecah Dini (KPD) Di Rumah Sakit Artha Bunda Kabupaten Lampung Tengah Ningtyas, Dewica Tiara; Budiarta, I Nengah; Hatta, Muhammad; Shariff, Fonda Octarianingsih
Jurnal Ilmu Kedokteran dan Kesehatan Vol 11, No 10 (2024): Volume 11 Nomor 10
Publisher : Prodi Kedokteran Fakultas Kedokteran Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/jikk.v11i10.15625

Abstract

Ketuban pecah dini merupakan salah satu risiko yang dapat membahayakan ibu dan janin. Sampai saat ini kejadian ketuban pecah dini belum diketahui penyebab pastinya, tetapi ketuban pecah dini dapat terjadi pada kelompok tertentu yaitu ibu yang mempunyai predisposisi umur, paritas, anemia, infeksi, Riwayat KPD, dsb. Penelitian ini ditujukan untuk mengetahui faktor -faktor yang mempengaruhi kejadian ketuban pecah dini (KPD) di Rumah Sakit Artha Bunda Kabupaten Lampung Tengah Tahun 2022-2023. Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah analitik deskriptif dengan desain simple random sampling. Sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah seluruh ibu bersalin di rumah sakit artha bunda dengan ketentuan kriteria inklusi dan eksklusi sebanyak 105 orang. Analisa data menggunakan Uji Chi-Square. Ada hubungan yang signifikan antara usia (p-value = 0.001), paritas (p-value = 0.027), anemia (p-value = 0.022), infeksi (p-value = 0.024), kelainan letak janin (p-value = 0.006), riwayat KPD sebelumnya (p-value = 0.018) dengan kejadian ketuban pecah dini (KPD). Berdasarkan analisa dan pembahasan diatas, ada hubungan yang signifikan antara usia, paritas, anemia, infeksi, kelainan letak janin, dan riwayat KPD sebelumnya dengan kejadian ketuban pecah dini (KPD) di Rumah Sakit Artha Bunda Kabupaten Lampung Tengah.
Hubungan Antara Usia Ibu Dengan Kejadian Ketuban Pecah Dini Di Rumah Sakit Artha Bunda Kabupaten Lampung Tengah Arum, Arum; Budiarta, I Nengah; Shariff, Fonda Octarianingsih; Jhonet, Aswan
Jurnal Ilmu Kedokteran dan Kesehatan Vol 11, No 9 (2024): Volume 11 Nomor 9
Publisher : Prodi Kedokteran Fakultas Kedokteran Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/jikk.v11i9.15596

Abstract

Ketuban Pecah Dini (KPD) adalah selaput korioamnion mengalami pecah sebelum terjadinya persalinan. Biasanya, selaput ketuban pecah selama persalinan. Salah satu faktor risiko yang terkait dengan kejadian Ketuban Pecah Dini (KPD) yaitu faktor usia. Usia sangat mempengaruhi perkembangan reproduksi pada wanita. Di Indonesia, sesuai dengan anjuran dari kementerian kesehatan untuk hamil di usia 20-35 tahun. Studi ini bertujuan untuk menentukan apakah ada hubungan antara usia ibu dengan kejadian Ketuban Pecah Dini (KPD) di Rumah Sakit Artha Bunda kabupaten Lampung Tengah tahun 2023. Metode analitik deskriptif secara retrospektif dengan pendekatan cross-sectional digunakan dalam penelitiaan ini. Teknik pengambilan sampel dengan purposive sampling. Populasinya seluruh ibu bersalin sebanyak 143 orang dan jumlah sampel sebanyak 105 orang. Analisa menggunakan uji chi-square. Hasil menunjukkan adanya korelasi antara usia pada ibu dengan KPD didapatkan p-value=0,001 (p<0,05) dan odds ratio (OR) sebesar 6.205.
Hubungan Antara Anemia Terhadap Kejadian Ketuban Pecah Dini di Rumah Sakit Artha Bunda Kabupaten Lampung Tengah Salim, Carissa Najma; Budiarta, I Nengah; Shariff, Fonda Octarianingsih; Fitriani, Dita
Jurnal Ilmu Kedokteran dan Kesehatan Vol 11, No 10 (2024): Volume 11 Nomor 10
Publisher : Prodi Kedokteran Fakultas Kedokteran Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/jikk.v11i10.15595

Abstract

Ketuban pecah dini (KPD) terjadi ketika selaput amniokorionik pecah secara spontan sebelum persalinan dimulai pada kehamilan yang cukup bulan. KPD dapat mempengaruhi ibu dan anak. KPD dapat meningkatkan risiko infeksi intrauterin saat melahirkan, hipoksia akibat kompresi tali pusat. Anemia selama kehamilan dapat menyebabkan KPD. Risiko kelahiran prematur, gangguan pertumbuhan, KPD, dan dapat mengganggu angiogenesis selama kehamilan yang berdampak pada vaskularisasi plasenta juga dapat terjadi sebagai akibat dari anemia selama kehamilan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah terdapat hubungan antara anemia dengan ketuban pecah dini yang terjadi di RS Artha Bunda (RSAB) Kabupaten Lampung Tengah pada tahun 2023. Pada penelitian ini menggunakan deskriptif analitik secara retrospektif melalui pendekatan cross-sectional dan metode pengambilan sampel purposive sampling dengan menggunakan data sekunder dari rekam medis pasien. Populasi penelitian ini terdiri dari seluruh ibu bersalin di RSAB Kabupaten Lampung Tengah yang berjumlah 143, dengan 105 sampel diambil untuk analisis. Uji Chi-Square digunakan untuk analisis bivariat memperoleh p-value sebesar 0,022 (p <0,05) dan odds rasio (OR) CI 95% sebesar 2,826 yang menyatakan terdapat hubungan antara anemia dengan kejadian ketuban pecah dini di RSAB Kabupaten Lampung Tengah Tahun 2023.
Hubungan Paritas Dengan Kejadian Ketuban Pecah Dini Di Rumah Sakit Artha Bunda Kabupaten Lampung Tengah Amizora, Dayu; Budiarta, I Nengah; Shariff, Fonda Octarianingsih; Rimawati, Veronica Ela
Jurnal Ilmu Kedokteran dan Kesehatan Vol 11, No 11 (2024): Volume 11 Nomor 11
Publisher : Prodi Kedokteran Fakultas Kedokteran Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/jikk.v11i11.16106

Abstract

Pecahnya membran ketuban sebelum persalinan merupakan pengertian dari Ketuban Pecah Dini (KPD). KPD dibagi PROM dan PPROM. PROM merupakan pecahnya selaput ketuban pada usia 37 minggu atau lebih kehamilan, sedangkan PPROM pecahnya selaput ketuban sebelum minggu ke 37 pada kehamilan. KPD menyumbang mortalitas dan morbiditas yang signifikan secara global. Faktor risiko KPD meliputi, riwayat KPD, leher rahim pendek, pendarahan pervaginam trismester dua atau tiga, pembesaran rahim berlebih, kurangnya asupan nutrisi seperti asam askorbat dan juga tembaga, terganggunya jaringan ikat, body mass index (BMI) yang rendah, sosial dan ekonomi yang rendah, perokok, dan mengkonsumsi obat yang menyebabkan komplikasi kehamilan. Studi ini bertujuan menentukan apakah terdapat hubungan paritas  dengan kejadian KPD di Rumah Sakit Artha Bunda kabupaten Lampung Tengah tahun 2023. Metode yang digunakan yaitu analitik deskriptif secara retrospektif dengan cross-sectional. Teknik sampling menggunakan purposive sampling. Dengan populasi penelitian seluruh ibu bersalin sebanyak 143 orang dan jumlah sampel yang didapat sebanyak 105 orang. Analisa dengan uji chi-square. Hasilnya memberikan gambaran bahwa terdapat korelasi antara paritas dengan KPD, dengan didapatkan p-value=0,027 (p<0,05) dan dengan  odds ratio (OR) sebesar 2,933.
MULTIGRAVIDA HAMIL 28 MINGGU DENGAN HIPERTENSI KRONIS Shariff, Fonda Octarianingsih; Widya Astuti, Gusti Ayu Ema
Jurnal Kesehatan Tambusai Vol. 5 No. 4 (2024): DESEMBER 2024
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jkt.v5i4.35151

Abstract

Pasien datang ke Poliklinik Rumah Sakit Pertamina Bintang Amin G6P3A2 hamil 28 minggu dengan keluhan pusing hilang-timbul. Pandangan kabur, mual, nyeri perut, dan perut terasa kencang disangkal. Pasien mempunyai riwayat tekanan darah tinggi sejak 7 tahun yang lalu pada kehamilan ke-3. Kemudian pasien berobat jika ada keluhan saja. Pada pemeriksaan fisik didapatkan tanda-tanda vital diantaranya tekanan darah 195/120 mmHg, denyut nadi 98 x/menit, laju pernapasan 20 x/menit, suhu 36,5°C, saturasi oksigen 98%. Pada pemeriksaan penunjang hematologi, urinalisa, dan serologi dalam batas normal. Pada pemeriksaan penunjang USG didapatkan kesan tampak janin tunggal dengan usia kehamilan 28 minggu, plasenta letak posterior, perkiraan berat janin 1.109 gram, dan perkiraan persalinan pada tanggal 26 Oktober 2024. Diagnosis pada kasus ini yaitu G6P3A2 hamil 28 minggu dengan Hipertensi Kronis. Penatalaksanaan pada pasien ini adalah Nifedipin 10mg 3x1 tab dan Miniaspi 80mg 1x1 tab.
Kista Bartholin: Laporan Kasus Rahman, M. Rizki; Shariff, Fonda Octarianingsih
Medula Vol 14 No 7 (2024): Medula
Publisher : CV. Jasa Sukses Abadi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53089/medula.v14i7.1233

Abstract

Bartholin's cyst is a type of cystic tumor that is located in the vulva and is formed due to blockage of the Bartholin's gland duct. This blockage causes fluid buildup and cystic enlargement. A report noted that a 43 year old woman came to the Obstetrics and Gynecology Polyclinic at Pertamina Bintang Amin Hospital in Bandar Lampung, complaining of a lump in the genital area that had appeared since a year ago, the size of a quail egg, but the patient stated that she did not feel any pain. The treatment given includes antibiotics and analgesics, and it is recommended to undergo a surgical procedure using the marsupialization technique. Marsupialization is a procedure in which stabilization is carried out, that is, the cyst must be stabilized and gently retracted using finger pressure applied on both sides of the affected labium, below the cyst. Then an incision is made over the body of the cyst and within the hymeneal loop, usually at the 4-5 or 7-8 o'clock position from the introitus. The incision is generally made in a cross manner and extended up to 2-3 cm according to the size of the cyst.
Recurrent Bartholin's Cyst: Literature Review and Case Report Shariff, Fonda Octarianingsih; Septian, Diki; Fajarwati, Dinda Dwi; Siagian, Ellys Tahnia; Lasmawati, Eggy; Aprillya, Eva; Hanifa, Fidati; Lawren, Jeane
Muhammadiyah Medical Journal Vol 3, No 1 (2022): Muhammadiyah Medical Journal (MMJ)
Publisher : Faculty of Medicine and Health Universitas Muhammadiyah Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24853/mmj.3.1.19-26

Abstract

Bartholin's cyst is a form of cystic (fluid-filled) tumor on the vulva. Bartholin's cyst is a cyst that forms due to blockage of the Bartholin's gland duct, which causes retention and cystic dilatation. Reports indicate that a 45-year-old woman came to the Obstetrics and Gynecology Polyclinic at Pertamina Bintang Amin Hospital, Malahayati Bandar Lampung, experiencing a recurrence of a left Bartholini abscess for the third time after two external incisions. The treatment carried out in this patient was given antibiotics and analgesics and it was recommended to do surgery with an extirpation procedure. Recurrent Bartholin's gland abscesses in women of reproductive age are generally associated with a risk of contact with sexually transmitted infection polymicrobials. Needle aspiration and incision and drainage are the two simplest procedures, not recommended because of the relatively increased recurrence rate.
G3P2A0 Hamil 32 Minggu dengan Hipertensi Gestasional ardinda arlindova; Shariff, Fonda Octarianingsih
Medula Vol 15 No 3 (2025): Medula
Publisher : CV. Jasa Sukses Abadi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53089/medula.v15i3.1464

Abstract

Hypertension in pregnancy is defined as an increase in blood pressure ≥140/90 mmHg that appears after 20 weeks of gestation without a history of previous hypertension. This case report discusses the case of a 39-year-old woman (G3P2A0) with a gestational age of 32 weeks who was diagnosed with gestational hypertension. The patient was referred from a health center with a history of high blood pressure during ANC (Antenatal Care) and recurrent headaches since 20 weeks of gestation. Examination showed blood pressure of 157/91 mmHg without signs of severe preeclampsia, while proteinuria +1 was detected. Risk factors include age >35 years and a history of hypertension in previous pregnancies. The patient was given pharmacological therapy, namely nifedipine 10 mg 1x1 orally with regular blood pressure monitoring. This study emphasizes the importance of early detection and management of gestational hypertension to prevent complications for the mother and fetus.