Claim Missing Document
Check
Articles

Found 35 Documents
Search

Kesuna : Pengobatan Tradisional Untuk Mengatasi Dangkangan Sang Ayu Made Yuliari
Widya Kesehatan Vol 4 No 1 (2022): Widya Kesehatan
Publisher : UNHI Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32795/widyakesehatan.v4i1.2800

Abstract

Pengobatan tradisional Bali yang dikenal dengan Usada banyak memberikan manfaat bagi kesehatan. Salah satu tanaman yang berkhasiat obat adalah Kesuna/bawang putih. Tujuan penulisan ini adalah untuk mengetahui kesuna dapat mengatasi dangkangan /mata ikan. Dengan metode pengumpulan data (observasi, wawancara, studi kepustakaan dan dokumentasi). Teori yang digunakan enomedisin. Dari metode dan teori tersebut diperoleh hasil : (1) Kesuna dapat mengatasi dangkangan/mata ikan karena kesuna sebagai salah satu tanaman yang berkhasiat obat mengandung organosulfur (S-alil-l- sistein). Kandungan sulfur yang terdapat pada kesuna yaitu sebagai agen eksfoliasi pada kulit dan mempunyai efek keratolitik, (2) Tata cara penggunaan kesuna untuk mengatasi dangkangan/mata ikan yaitu : ambil satu siung kesuna, dikupas kulitnya,dipotong atau diiris pangkalnya dan gosok-gosokkan pada telapak kaki yang sakit dua kali sehari yaitu pagi dan sore sampai sembuh.
PANGLUKATAN SAPTA GANGGA PERSPEKTIF USADA BALI Sang Ayu Made Yuliari
VIDYA WERTTA : Media Komunikasi Universitas Hindu Indonesia Vol 2 No 2 (2019): Vidya Werta, Media Komunikasi Universitas Hindu Indonesia
Publisher : FAKULTAS ILMU AGAMA DAN KEBUDAYAAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (506.48 KB) | DOI: 10.32795/vw.v2i2.398

Abstract

Bali dengan penduduknya yang dominan Hindu menyebabkan Bali itu unik. Keunikan itu karena budaya yang diilhami oleh ajaran Hindu yang tampak lebih menonjol yaitu upacara upakara yadnya. Salah satu pelaksanaan upacara agama itu adalah manusa yadnya. Panglukatan merupakan bentuk penyucian diri dalam hal ini dilakukan di Pura Tamba Waras dengan Panglukatan Sapta Gangga. Panglukatan Sapta Gangga itu unik karena mendapat panugerahan Dalem Solo dengan tujuh pancoran.Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui panglukatan Sapta Gangga, untuk mengetahui tata caranya dan implikasi setelah melaksanakan panglukatan. Untuk mencapai tujuan itu digunakan teori fenomenologi dan pendekatan Ayurveda serta porposif sampling dengan kualitatif. Adapun hasil yang diperoleh (1) melakukan panglukatan karena mengalami keluhan seperti sakit kepala, nyeri, sakit maag/dyspepsia dan sakit bebai. (2) tata caranya yaitu syarat yang harus dibawa adalah bungkak nyuh gading, bungkak nyuh gadang dan banten pejati. (a) diawali dengan ngaturang bhakti atau berdoa terlebih dahulu, (b) melaksanakan panglukatan ketujuh pancoran yang ada di Pura Tamba waras. (c) panglukatan dengan bungkak nyuh gading oleh Pemangku, dilanjutkan dengan sembahyang di jeroan dan minum air bungkak nyuh gadang yang sebelumnya didoakan terlebih dahulu serta dicampur dengan minyak. (3) Implikasi dari panglukatan tersebut merasa lebih seger, sejuk/tis,tenang, keluhan yang diderita mulai berkurang.
Panglukatan untuk Mengatasi Gangguan Mental di Pura Panca Tirta, Desa Nongan, Karangasem Ni Wayan Meyna Sitra; Sang Ayu Made Yuliari; Ida Bagus Suatama
Widya Kesehatan Vol 5 No 1 (2023): Widya Kesehatan
Publisher : UNHI Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Gangguan mental yaitu dimana kondisi mental seseorang yang terpengaruh oleh beberapa faktor, banyak orang Bali mengalami gangguan jiwa yang disebabkan oleh faktor non-medis atau niskala. Penyakit niskala dapat diobati dengan melakukan suatu ritual pembersihan diri menggunakan air yang disebut dengan malukat. Air dikatakan memiliki kemampuan merekam dan menerima kata-kata yang disampaikan melalui doa, sehingga energi air diperlukan, utamanya dalam terapi kesehatan, baik dalam penyembuhan fisik maupun psikis. Penelitian ini dilakukan di Panglukatan Pura Panca Tirta yang terletak di Desa Nongan, Kecamatan Rendang, Kabupaten Karangasem. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui digunakannya unsur air sebagai sarana pengobatan, khususnya mengenai Panglukatan. Penelitian ini termasuk penelitian kualitatif dengan menggunakan teori fenomenologi dan fungsionalisme struktural. Metode pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah studi kepustakaan, observasi, wawancara dan dokumentasi. Teknik pengambilan sampel menggunakan teknik purposive sampling. Berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa Panglukatan Pura Panca Tirta ini terdapat lima pancoran yang dipercaya dan diyakini oleh masyarakat dapat mengobati penyakit medis (sekala) yaitu gangguan mental, hysteria dan stress sedangkan penyakit non-medis (niskala) yaitu black magic dan bebainan, selain itu suasana sejuk dan tenang yang membuat pengunjung nyaman pada saat ritual malukat. Tata cara Panglukatan di Pura Panca Tirta diawali dengan matur piuning kemudian malukat di salah satu pancoran, kemudian sembahyang. Serta implikasi dari Panglukatan di Pura Panca Tirta adalah dapat meredakan nyeri otot, pembersihan diri, gagap bicara, memohon keturunan, dan menyegarkan tubuh.
Penggunaan Tanah Merah di Panglukatan Beji Selati Putut Dewantha Jenar; Sang Ayu Made Yuliari; Ida Bagus Suatama
Widya Kesehatan Vol 5 No 2 (2023): Widya Kesehatan
Publisher : UNHI Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penyakit kulit umumnya disebabkan oleh virus, bakteri, jamur, atau berasal dari dalam tubuh. Manifestasi penyakit kulit seperti gatal-gatal, ruam, bintik, serta nyeri pada kulit. Penyakit kulit dapat ditangani dengan pengobatan tradisional, yakni menggunakan unsur prthivi (unsur dari Panca Maha Bhuta). Dalam sistem pengobatan Ayurweda penggunaan unsur prthivi disebut dengan Mitti Chikitsa dan pada beberapa negara dikenal dengan Mud Therapy. Penelitian dilakukan di Panglukatan Beji Selati, Desa Bunutin, Kecamatan Bangli, Kabupaten Bangli. Dimana pada Panglukatan Beji Selati ini terdapat prosesi menggunakan tanah merah dalam rangkaian ritual melukatnya. Masyarakat mempercayai dan meyakini bahwa tanah merah dapat mengurahi keluhan penyakit kulit maupun penyakit lainnya (sekala dan niskala). Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui penggunaan unsur prthivi dalam pengobatan, khususnya tanah merah. Jenis penelitian ini adalah kualitatif, menggunakan teori etnomedisin dan teori fungsionalisme struktural. Dalam penelitian ini, data dikumpulkan melalui observasi, wawancara, studi kepustakaan, dan dokumentasi. Metode pengambilan data dengan purposive sampling. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tanah merah di Panglukatan Beji Selati dapat digunakan untuk penyembuhan penyakit kulit karena adanya kepercayaan masyarakat serta kandungan mineral seperti seng (Zn), tembaga (Cu), besi (Fe), dan magnesium (Mg). Tata cara penggunaan tanah merah di Panglukatan Beji Selati terdapat pada rangkaian ritual melukat yang tidak dapat dipisahkan untuk mendapatkan suatu manfaat. Serta implikasi dari penggunaan tanah merah adalah dapat mengobati sakit gigi, meredakan nyeri otot, menjaga kesehatan kulit, mengatasi rematik dan nyeri pada daerah perut, dan menyegarkan tubuh, serta menunda tanda penuaan.
PEMANFAATAN POTENSI LIMBAH KULIT SALAK DAN KAYU SECANG MENJADI PRODUK TEH CANG-SALAK DI DESA SIBETAN KARANGASEM Putu Lakustini Cahyaningrum; Sang Ayu Made Yuliari; Ida Bagus Putra Suta; Ni Kadek Citra Lestari; Anak Agung Istri Adi Suwi Setyawat
Martabe : Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol 6, No 12 (2023): Martabe : Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat
Publisher : Universitas Muhammadiyah Tapanuli Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31604/jpm.v6i12.4562-4568

Abstract

Pemanfaatan limbah kulit salak belum banyak diketahui oleh masyarakat. Padahal dari hasil riset menunjukkan kulit buah salak memiliki kandungan yang efektif untuk kesehatan terutama penyakit degeneratif. Masih minimnya informasi yang diketahui oleh masyarakat terutama ibu-ibu PKK di Desa Sibetan yang merupakan sentra penghasil buah salak terbesar di Bali. Oleh sebab itu, dilakukan program pengabdian masyarakat melalui pemanfaatan limbah kulit salak dan kayu secang menjadi produk inovasi teh cang-salak. Metode yang diterapkan menggunakan metode PRA (Participatory Rural Appraisal) yang dibagai menjadi 4 tahapan yaitu yaitu (1) Sosialisasi dan penyuluhan kegiatan, (2) Pelatihan dan pendampingan pembuatan produk teh cang-salak (3) Pengemasan produk teh cang- salak, dan (4) Evaluasi kegiatan. Kegiatan dilaksanakan pada tanggal 6 Juli 2023 yang dihadiri oleh 23 peserta dari ibu-ibu PKK. Tim pengabdian memberikan informasi dan sosialisasi serta pendampingan pembuatan teh cang-salak. Kegiatan berjalan dengan lancar dan antusias dari ibu-ibu PKK.  Hasil yang dicapai dalam kegiatan pengabdian pemanfaatan kulit salak dan kayu secang sebagai produk inovasi teh cang-salak dapat memberikan pengetahuan dan menambah keterampilan bagi ibu-ibu PKK di Desa Sibetan sehingga ide pembuata produk teh cang-salak dapat dijadikan rintisan awal untuk peluang usaha dalam menambah pendapatan keluarga serta dapat digunakan sebagai minuman fungsional untuk menjaga kesehatan.
Gitasanti Sebagai Terapi Yoga Di Pasantian Dharma Usada Desa Adat Ubud Yuliari, Sang Ayu Made; Seniwati, Desak Nyoman; Sari, Ida Ayu Putu
Jurnal Penelitian Agama Hindu Vol 7 No 2 (2023)
Publisher : Jayapangus Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (589.968 KB) | DOI: 10.37329/jpah.v7i2.2092

Abstract

Dharmagita activities, which is better known in the community as meshanti, are one form of offerings through singing sacred songs. Sacred song is one type of the five types of songs in Hinduism which are known as pancagita. Meshanti is also a form of yoga and closely related to catur marga yoga which is performed through yajna ceremonies. The aim of the research is to identify the implementation, the procedure, and benefit of using gitashanti as a yoga therapy. The present study was conducted with qualitative method and the data were collected using observation, interview, literature study, and documentation. The present study found that 1) Gitashanti is performed as a yoga therapy in Pasantian Dharma Usada since in its implementation it uses the action of ngunda napas (breathing regulation) and ngandet angkihan (holding breath). In yoga, the action of regulating breath is called pranayama and the sitting pose is called asana. For the female, the sitting pose is kneeling (bajrasana) and the male sitting pose is sitting cross-legged (ardha padmasana). 2) The procedure starts with worshipping the Goddess Saraswati. 3) The benefits are a) health benefits, the participants enjoyed a significant blood pressure decrease with the average of 33.3mmHg after joining gitashanti, ngayah (charity service)/community social activities/ menyama braya (familial activities), c) preserving Balinese culture trough nyastra (literary activities).
ANTIDIABETIC ACTIVITY TEST USING AMLA FRUIT (PHYLLANTHUS EMBLICA L) EXTRACT IN ALLOXAN-INDUCED BALB/C MICE Cahyaningrum, Putu Lakustini; Made Yuliari, Sang Ayu; Suta, Ida Bagus Putra
Journal of Vocational Health Studies Vol. 3 No. 2 (2019): November 2019 | JOURNAL OF VOCATIONAL HEALTH STUDIES
Publisher : Faculty of Vocational Studies, Universitas Airlangga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (177.227 KB) | DOI: 10.20473/jvhs.V3.I2.2019.53-58

Abstract

Background: The content of secondary metabolites in amla (phyllanthus emblica L.) such as flavonoids and phenols have the potential as an antioxidant. One of the benefits of antioxidants is to prevent degenerative diseases, such as diabetes mellitus. Purpose: This research to determine activity of amla fruit extract in reducing blood glucose levels at balb/c mice induced with alloxan. Method: This research method uses a pre and posttest-controlled group design with 35 balb/c mice divided into five treatments groups. In the positive control group and the treatment group alloxan was injected for 14 days. Result: Amla (Phyllanthus emblica L.) fruit extract at a dose of 40 mg / 20 g BW was equivalent to positive control of glibenclamide dose 3 mg / 20 g BW compared to the treatment group at a dose of 10 mg / 20 g BW and 20 mg /20 g BW. Conclusion: From this research, it was obtained that the best dose of Amla fruit (phylanthus emblica L) extract applied to blood glucose was 40 mg/20mg BW with a decrease percentage of 56,93% with an effective dose value (ED50) 50% of 34.00 mg / 20 g BW.
Fisioterapi Dan Yoga Dalam Mengatasi Nyeri Pinggang Kronis Yuliari, Sang Ayu Made; Cahyaningrum, Putu Lakustini; Putra Suta, Ida Bagus
Jurnal Penelitian Agama Hindu Vol 9 No 2 (2025)
Publisher : Jayapangus Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37329/jpah.v9i2.3672

Abstract

Healthy is the dream of every person living on this earth. However, in the course of life, humans experience pain, such as low back pain experienced by people aged 50 years and over. To overcome this, the therapist uses two methods, namely physiotherapy and yoga exercise. Based on this, this research aims to find out more about physiotherapy and yoga in treating chronic low back pain, its procedures and implications. To achieve this goal, qualitative data is uses with purposive sampling tecniques, data collection through observation,in-depth interviews, documentation, literature studies and health theory and structural functionalism.Based on these methods and theories, the results obtained are, 1) Physiotherapy and Yoga can overcome low back pain more quickly because they complement each orther and have the function of improving blood circulation,treating pain, relaxing, increasing muscle elasticity and flexibility, managing emotions and  increasing lactic acid. 2) Physiotherapy procedures, namely, start by asking the patient about the complaint they are feeling, after that it is treated with modalities according to the complaint such as infrared, ultrasound and Tens as well as yoga procedures in the form of asanas such as Cobra /bhujanggasana, Cat/Marjariasana, flappingfish/Matsya kridasana and bridge/setubandha. 3) Based on data from 30 patients with 16 men and 14 women, ther are two types of treatment, namely physiotherapy and physical exercise in the form of asanas. The results of the treatment show two patterns, namely (a) Patients who undergo 3 therapy sessions and 2 physicl exercise sessions ten to recover, (b) Patients hwo underwent 8 therapy sessions and 1 physical exercise experienced a reduction in paint, but were not completely cured. The implication of this therapy was that the patient felt happy, relaxed, warm and grateful so that endhorphins increased.
FUNGSI MENGKUDU DALAM BANTEN PAMALI PADA UPACARA MECARU Yuliari, Sang Ayu Made
Widya Kesehatan Vol. 1 No. 1 (2019): Widya Kesehatan
Publisher : Universitas Hindu Indonesia (UNHI) Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32795/widyakesehatan.v1i1.281

Abstract

Banten merupakan sarana bhakti bagi umat Hindu di Bali. Banten identik dengan Bali karena banten mempunyai daya tarik yang berifat magis sehingga turis asing banyak yang datang ke Bali.Salah satu banten tersebut adalah banten pamali. Berdasarkan hal itu maka tujuan penelitian adalah untuk mengetahui mengkudu sebagai sarana dalam banten pamali pada upacara mecaru, untuk mengetahui tata cara menyusun banten pamali dan untuk mengetahui fungsi mengkudu dalam banten pamali pada upacara mecaru. Untuk mendapatkan data digunakan metode porposif sampling dengan jenis penelitian kualitatif,untuk membedahnya memakai teori simbol dan Fungsionalisme struktural. Teori ini digunakan karena banten masih fungsional di masyarakat. Adapun hasil yang diperoleh 1)mengkudu adalah tanaman yang memiliki khasiat obat 2) tata cara menyusun banten pamali yaitu sebuah baki/tempeh diisi dengan taledan nasi kacang saur jajan buah/raka-raka, sate,lindung, capung, katak mengkudu bungsil,clebingkah yang bertanda tapak dara, sorohan alit dan canang sari ,3) mengkudu dalam banten pamali dapat berfungsi religius dan fungsi kesehatan.
MEDITASI UNTUK MENGATASI KECEMASAN PADA IBU HAMIL Suristyawati, Putri; Made Yuliari, Sang Ayu; Putra Suta, Ida Bagus
Widya Kesehatan Vol. 1 No. 2 (2019): Widya Kesehatan
Publisher : Universitas Hindu Indonesia (UNHI) Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32795/widyakesehatan.v1i2.461

Abstract

Seorang ibu pada masa kehamilan akan mengalami perubahan-perubahan baik fisik maupun psikologi seperti kecemasan. Upaya tradisional komplementer yang dilakukan dalam mengatasi kecemasan pada ibu hamil yaitu dengan meditasi. Meditasi yaitu metode memusatkan pikiran yang dapa membantu ibu berpikir positif dan memberikan rasa tenang dan bahagia. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui meditasi, tata laksana meditasi dan implikasi meditasi kepada ibu hamil. Jenis penelitian ini kualitatif menggunakan metode snow ball sampling dengan sasaran ibu hamil yang dilakukan pada tempat pelatihan-pelatihan yoga di Kota Denpasar. Penelitian ini dilakukan berdasarkan pendekatan ayurweda menggunakan tiga teori yaitu teori yoga, teori fenomenologi dan teori fungsionalisme struktural. Berdasarkan hasil penelitian didapatkan bahwa meditasi dapat mengatasi kecemasan pada ibu hamil karena meditasi merupakan salah satu metode untuk memusatkan pikiran, tata laksana dalam meditasi yaitu : menyiapakan alat-alat, doa pembuka, melakukan yoga asanas, memulai meditasi dengan melakukan sikap tubuh meditasi, memfokuskan pada pernapasan pada saat meditasi, memberikan afirmasi positif selama 10-15 menit, megakhiri meditasi degan menarik napas panjang tiga kali kembali kekesadaran diri, gerakan jari tangan dan jari kaki, buka kedua mata perlahan lalu gosokan kedua tangan lalu usapkan dengan lembut pada wajah sampai seluruh tubuh, doa penutup. Implikasi yang ditimbulkan setelah melakukan meditasi ibu hamil yaitu: ibu hamil merasakan rasa tenang, nyaman dan mampu berpikir positif pada masa kehamilan