Claim Missing Document
Check
Articles

Perancangan Perpustakaan Umum Kabupaten Bone Bolango dengan Pendekatan Metafora Sintaks Hasiru, Ferdiyanto; Imran, Mohammad; Bagulu, Achmad; T. Zees, Dewi Sartika
RADIAL : Jurnal Peradaban Sains, Rekayasa dan Teknologi Vol. 8 No. 1 (2020): RADIAL: JuRnal PerADaban SaIns RekAyasan dan TeknoLogi
Publisher : Universitas Bina Taruna Gorontalo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1169.468 KB) | DOI: 10.37971/radial.v8i1.195

Abstract

ABSTRAK Perpustakaan Umum sebagai sarana untuk menunjang minat baca masyarakat umum khususnya masyarakat yang ada di Kabupaten Bone Bolango. Oleh karena itu, untuk dapat menarik perhatian masyarakat berbagai cara yang dilakukan, seperti menyediakan taman pintar dan cafe pintar. Bentuk dasar dari bangunan perpustakaan ini mengadopsi falsafah buku yang terbuka dalam artian buku sebagai gudang ilmu pengetahuan. Desain Perpustakaan Umum Bone Bolango dapat memberikan kesan menarik dan nyaman dengan menggunakan pendekatan Metafora Sintaks. Bentuk bangunan mengadopsi falsafah dua buku yang terbuka yang melambangkan ilmu pengetahuan yang senantiasa berkembang dan buku sebagai gudang ilmu pengetahuan. Bentuk 23 tiang dan 4 buku yang berdiri tegak melambangkan 23 April yaitu Hari Membaca Sedunia. Perpustakaan Umum Kabupaten Bone Bolango dengan pendekatan Metafora Sintaks berlokasi di Desa Toto Selatan, Kec. Kabila, Kab. Bone Bolango yang direncanakan seluas 7.747,62 m2 yang terdiri dari 5 lantai. Kata Kunci :Perpustakaan Umum, Metafora Sintaks, Kabupaten Bone Bolango ABSTRACT Public Library as a means to support the reading interest of the general public, especially the community in Bone Bolango District. Therefore, to be able to attract the attention of the various ways people do, such as providing smart parks and smart cafe. The basic form of this library building adopts an open book philosophy in the sense of a book as a storehouse of knowledge. The design of the Bone Bolango Public Library can provide an interesting and comfortable impression by using the Syntax Metaphor approach. The shape of the building adopts the philosophy of two open books that symbolize the ever-expanding science and books as a storehouse of knowledge. The shape of the 23 pillars and 4 books that stands upright represents April 23, namely World Reading Day. Bone Bolango District Public Library with Syntax Metaphor approach is located in South Toto Village, Kec. Kabila, Kab. The planned Bone Bolango covers an area of ​​7,747.62 m2 consisting of 5 floors.Keywords: Library General, Metaphor Syntax, Bone Bolango District
PERANCANGAN ISLAMIC CENTER DI KABUPATEN BONE BOLANGO DENGAN PENDEKATAN ULIL ALBAB Lamusu, Rusliyanto; Imran, Mohammad; Demak, Nini A.K.; Ayuba, Sri Rahayu
RADIAL : Jurnal Peradaban Sains, Rekayasa dan Teknologi Vol. 8 No. 1 (2020): RADIAL: JuRnal PerADaban SaIns RekAyasan dan TeknoLogi
Publisher : Universitas Bina Taruna Gorontalo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (500.676 KB) | DOI: 10.37971/radial.v8i1.200

Abstract

Perancangan Islamic centre di Kabupaten Bone Bolango dengan pendekatan Ulil Albab adalah perancangan suatu wadah pusat kegiatan Islam yang mampu menampung kegiatan yang bernuansa Islam di Kabupaten Bone Bolango dengan pendekatan UlilAlbab sebagai manifesto akal pikiran dengan keimanan dan ketaqwaan seorang hamba kepada sang pencipta (Allah SWT). Perancangan Islamic Centre di Kabupaten Bone Bolango dengan pendekatan Ulil Albab berlokasi di jalan Prof. Ing. B. J. Habibie, Desa Ulantha , Kecamatan Suwawa, dengan luas lahan 19845 m2 yang terdiri dari 3 Massa bangunannya yaitu : 1) Masjid, 2) Perpustakan dan pengeloladan 3) Auditorium.Bentuk bangunan Islamic Centre di kabupaten Bone Bolango yakni, mengharmoniskan antara unsur desain pada bangunan dengan aspek religius agar dapat mengantarkan pemikiran manusia khususnya pengguna Islamic Centre kepada mengingat pencipta dan alam semesta yang diciptakannya
PERANCANGAN UNIVERSITAS GORONTALO UTARA DENGAN PENEKANAN ARSITEKTUR METAMORFOSIS Yusuf, Nurjanah H.; Imran, Mohammad; Demak, Nini A.K.
RADIAL : Jurnal Peradaban Sains, Rekayasa dan Teknologi Vol. 8 No. 1 (2020): RADIAL: JuRnal PerADaban SaIns RekAyasan dan TeknoLogi
Publisher : Universitas Bina Taruna Gorontalo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (576.66 KB) | DOI: 10.37971/radial.v8i1.203

Abstract

Era reformasi telah membawa perubahan besar pada sistem pemerintahan negara, salah satunya ditujukan dengan pemekaran daerah-daerah yang meliputi pemekaran Provinsi, Kabupaten/Kota, dan Kecamatan bahkan Desa. Provinsi Gorontalo merupakah hasil pemekaran dari Provinsi Sulawesi Utara. Provinsi Gorontalo memiliki 5 Kabupaten dan 1 Kota yang salah satu Kabupatennya yakni Kabupaten Gorontalo Utara. Universitas Gorontalo Utara dengan Konsep Arsitektur Metamorfosis berlokasi di Jalan Poros Gorontalo Utara-Manado atau tepatnya site pada kampus Bina Taruna Gorontalo Utara yang direncanakan di atas lahan seluas ± 1 Ha. Universitas Gorontalo Utara dengan Konsep Arsitektur Metamorfosis ini merupakan kampus dengan massa tunggal sebanyak 4 lantai, fakultas-fakultas yang terdiri dari fakultas Teknik, fakultas Hukum, fakultas Ekonomi, fakultas ilmu Sosial dan Politik, fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan. Penampilan bangunan secara umum menggunakan tema Arsitektur Metamorfosis. Hal ini tampak pada penempatan bangunan pada siteplan dan permainan ruang yang mengambil filosofi kupu-kupu. Selain itu kesan modern terlihat dari bentuk bangunan yang tegas dan simple sehingga memberi kesan elegan.
REDESAIN KAWASAN OBJEK WISATA LOMBONGO DENGAN PENEKANAN KLIMATIK ARSITEKTUR Djafar, Sri Muliyati; Imran, Mohammad; Demak, Nini A. Kiay
RADIAL : Jurnal Peradaban Sains, Rekayasa dan Teknologi Vol. 8 No. 1 (2020): RADIAL: JuRnal PerADaban SaIns RekAyasan dan TeknoLogi
Publisher : Universitas Bina Taruna Gorontalo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (483.306 KB) | DOI: 10.37971/radial.v8i1.204

Abstract

ABSTRAK Kawasan Objek Wisata ini merupakan salah satu tempat wisata dapat dijadikan tempat untuk berrefreshing, menyegarkan fikiran karena kondisi alam sekitarnya yang masih Fresh dan lestari jauh dari polusi. Bangunan yang akan dirancang akan memanfaatkan matahari dan iklim sebagai sumber energy primer. Selain itu pengelolaan Fasilitas penunjangnya ini harus memiliki keselarasan dengan alam. Keselarasan ini dipadukan dengan memanfaatkan material alami dalam pemilihan bahan untuk bangunan fasilitas penunjangnya ini. sehingga diharapkan mampu menghadirkan bentuk bangunan yang memiliki nilai estetika didalamnya. Pendekatan konsep Dasar terhadap elemen-elemen arsitektur pada bangunan akan terwujud dalam bentuk-bentuk baik bersifat nyata(fisik), maupun sesuatu yang abstrak pada bangunan tersebut. Pada Perancangan Redesain Objek wisata lombongo ini menggunakan Penekanan Klimatik Arsitektur Tampilan pada bangunan merupakan sesuatu yang sangat diperlukan pada suatu rancangan bangunan. Karena dengan tampilan bangunan dapat diketahui tema dari suatu bangunan yang akan dirancang. Seperti halnya pada bangunan untuk objek wisata akan didesain dengan konsep penekanan Klimatik Arsitektur yaitu dengan memperhatikan kesesuaian iklim pada wilayah tersebut. Klimatik Arsitektur adalah suatu konsep yang mengacu pada kondisi iklim dari wilayah tersebut. Letak geografis Indonesia yang berada di garis khatulistiwa membuat Indonesia memiliki dua iklim, yakni kemarau dan penghujan. Karena objek wisata ini terletak di daerah pegunungan maka suhu udara yang dingin jika di musim penghujan dan suhu udara yang tidak terlalu panas jika bukan musimpenghujan maka objek wisata ini akan di desain kembali sesuai dengan kondisi iklim dari wilayah tersebut. Kata Kunci: Redesain, Objek Wisata, Klimatik Arsitektur ABSTRACT This tourist attraction area is one of the tourist attractions can Used as a place for refreshing, refreshing minds due to natural conditions The surrounding is still Fresh and sustainable away from pollution. The building will is designed to utilize the sun and climate as a primary energy source. In addition, the management of its supporting facilities must have Harmony with nature. This alignment is combined by utilizing Natural material in the selection of materials for the building of this supporting facility. Hopefully able to present the form of buildings that have value Aesthetic therein. Basic concept approach to architectural elements Buildings will materialize in forms either tangible (physical), or Something abstract on the building. On designing object redesigning This Lombongo tour uses the klimatic emphasis architecture The appearance of the building is indispensable to the A building design. Because with the look of buildings can be Theme of a building to be designed. As in the building For tourist attraction will be designed with the concept of pressing Klimatik architecture With regard to climate suitability in the region. The Klimatik architecture is a concept that refers to the conditions Climate from the region. Indonesia's geographical location in the line The equator makes Indonesia have two climate, namely drought and Rainy. Because this attraction is located in the mountainous area then the temperature Cold air if in rainy season and air temperature is not too hot if not rainy season then this attraction will bein the design back In accordance with the climatic conditions of the region. Keywords: Redesigns, Attractions, Klimatik Architecture
PERANCANGAN TERMINAL PELABUHAN FERRY “UEBONE” DI KABUPATEN TOJO UNA-UNA DENGAN PENDEKATAN WORKING WATERFRONT ARCHITECTURE Idris, Rahmad; Imran, Mohammad; Shamin, Novita
RADIAL : Jurnal Peradaban Sains, Rekayasa dan Teknologi Vol. 8 No. 1 (2020): RADIAL: JuRnal PerADaban SaIns RekAyasan dan TeknoLogi
Publisher : Universitas Bina Taruna Gorontalo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (620.847 KB) | DOI: 10.37971/radial.v8i1.206

Abstract

ABSTRAK Sebagai kabupaten yang memiliki sebagian pulau-pulau yang terpisah dari daratan Tojo Una-una, serta memilki potensi jalur jalan transportasi wisatawan menuju tempat wisata yang ada di daearah ini, maka distribusi barang, penumpang maupun kendaraan hanya dimungkinkan dengan menggunakan angkutan laut. Pelabuhan Uebone merupakan urat nadi penghubung dalam menunjang kelancaran komunikasi bagi perkembangan bidang ekonomi, sosial politik, budaya dan pertahanan keamanan dimana perkembangan dari tahun ke tahun dirasakan semakin meningkat, dari waktu ke waktu melahirkan suatu kebutuhan akan sarana terminal yang dapat menunjang dampak pertumbuhan transportasi tersebut. Perancangan Terminal Pelabuhan Ferry “Uebone” Di Kabupaten Tojo Una-Una Dengan Pendekatan Working Waterfront Architecture berlokasi di desa Uebone, kecamatan Ampana Tete, kabupaten Tojo Una-Una dengan luas lahan ± 2 Hektare yang terdiri dari 1 massa bangunan. Bentuk bangunan Terminal Pelabuhan Ferry “Uebone” Di Kabupaten Tojo Una-Una menngadopsi bentuk depan kapal ferry pada sisi kanan dan kiri bangunan sedangkan pada bagian tengah menggunakan bentuk gelombang laut, selain untuk mempertahankan faktor estetika juga lebih terkoneksi antara bentuk dan fungsi bangunan. Kata kunci : Terminal Pelabuhan Ferry, Working Waterfront Architecture, Tojo Una-Una Abstract As a regency that has a part of the islands separated from the land of Tojo Una-Una, and has a potential transportation road to the tourist sites in this area, then the distribution of goods, passengers and vehicles is only possible by using sea freight. Uebone Port is the connection to support the smooth communication of economic development, socio-political, cultural and defense security where development from year to year is felt increasing, from time to time giving birth to a necessity of terminal means that can support the impact of the transportation growth. Planning a Ferry Terminal "Uebone" in Tojo-Una district with the approach Working Waterfront Architecture is located in the village Uebone, district of Ampana Tete, District Tojo Una-Una with a land area of ± 2 hectares consisting of 1 mass of buildings. The building of the Terminal Ferry port "Uebone" in Tojo District of Una-Una adopted the front form of the ferry on the right and left side of the building while in the middle using the form of sea waves, in addition to maintaining the aesthetic factor is also more connected between the shape and function of the building. Keywords: Ferry Terminal, Working Waterfront Architecture, Tojo Una-Una
MAKNA FILOSOFIS RUMAH ADAT GORONTALO (DULOHUPA DAN BANTAYO POBO’IDE) Eka, Rahmawati; Imran, Mohammad
RADIAL : Jurnal Peradaban Sains, Rekayasa dan Teknologi Vol. 10 No. 1 (2022): RADIAL: JuRnal PerADaban SaIns RekAyasan dan TeknoLogi
Publisher : Universitas Bina Taruna Gorontalo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (679.724 KB) | DOI: 10.37971/radial.v10i1.273

Abstract

Abstrak: Makna Filosofis Rumah Adat Gorontalo (Dulohupa dan Bantayo Pobo’ide). Tujuan penelitian mengidentifikasi makna filosofis Rumah Adat Gorontalo. Metodeenelitian paradigma rasionalistik dengan lokasi Kota Gorontalo dan Kabupaten Limboto. Survey lapangan dilakukan pada bulan Januari – Februari 2016, dimulai dengan pengambilan data awal dilanjutkan dengan wawancara semi-terstruktur, observasi lapangan kemudian strukturisasi data, serta konfirmasi data dengan kenyataan dilapangan dan pandangan tokoh adat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa makna filosofis keduanya sama pada bagian atap, bagian paling atas melambangkan kepercayaan masyarakat suku Gorontalo terhadap Allah.SWT dan bagian bawah ketaatan pada adat istiadat budayanya.Makna filosofis yang lebih mengacu pada falsafah adat gorontalo yaitu “adati hula-hula’a to sara’a, sara’a hula-hula’a to kuru’ani” karena menurut tinjauan historis Gorontalo, raja pertama masuk Islam sehingga semua adat istiadat budayanya menganut ajaran Islam. Abstract: Philosophical Meaning Of Gorontalo Traditional House (Dulohupa And Bantayoobo'ide). The research objective is to identify the philosophical meaning of the Gorontalo Traditional House. The research method is rationalistic paradigm with the location of Gorontalo City and Limboto Regency. The field survey was conducted in January – February 2016, starting with initial data collection followed by semi-structured interviews, field observations and then data structuring, as well as confirmation of data with realities in the field and the views of traditional leaders. The results show that the philosophical meaning of both is the same on the roof, the upper part symbolizes the belief of the Gorontalo tribal community towards Allah SWT and the lower part is obedience to their cultural customs. to sara'a, sara'a hula-hula'a to kuru'ani” because according to the historical review of Gorontalo, the first king converted to Islam so that all of his cultural customs adhered to Islamic teachings.
PARTISIPATIF DESAIN KAWASAN PERMUKIMAN PESISIR MASYARAKAT NELAYAN KELURAHAN LEATO SELATAN Imran, Mohammad; Moha, Devie Indriyani; Tiagas, Doly Herling
RADIAL : Jurnal Peradaban Sains, Rekayasa dan Teknologi Vol. 11 No. 1 (2023): RADIAL: JuRnal PerADaban SaIns RekAyasan dan TeknoLogi
Publisher : Universitas Bina Taruna Gorontalo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37971/radial.v11i1.332

Abstract

This research purpose are: (1) to identify the potential of the community in the participation or involvement in the design of fishing settlements on the coast; (2) exploring the potential of sustainable natural resources in existing settlements to apply the concept of a sustainable environment and a healthy environment. This research used a descriptive qualitative methods with the collaborative rationalistic community approach’s, with the location of a fishing settlement in RW 3, Leato Selatan Village. Field surveys were conducted in June – August 2022, starting with initial data collection followed by collaborative participatory methods with the community in the form of socialization, observation and design concepts from existing data. The results of this study show that the participation of the community along the coast of South Leato Sub-District is very large in involvement in data collection and design for their settlement area, their response is the potential possessed by the community, in addition to the potential of natural resources owned by the coast of South Leato which is in RW 3 also supports the implementation of design exploration with the concept of a healthy environment (sustainable environment). The conclusions of the research is that design participation in creating a sustainable environment and health environment requires cross-sectoral collaboration consisting of the community and academics (in this case researchers from Bina Taruna University, Gorontalo).
ANALISA TITIK LAMPU RUANG TAMU DAN RUANG KELUARGA RUMAH TYPE 90 M2 Ikhsan, Muhammad; Imran, Mohammad; Farid
RADIAL : Jurnal Peradaban Sains, Rekayasa dan Teknologi Vol. 12 No. 2 (2024): RADIAL: JuRnal PerADaban SaIns RekAyasan dan TeknoLogi
Publisher : Universitas Bina Taruna Gorontalo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37971/radial.v12i2.483

Abstract

This research aims to analyze the lighting needs for the living room and family room in a 90 m² house. Using a quantitative descriptive method, the findings showed that optimal lighting in the living room requires two 11-watt light points for a 7.05 m² area, while the family room needs four light points for an 11.4 m² area. Efficient lighting can be achieved through the use of LED lights, ensuring even light distribution based on the visual needs of the space. Recommendations should be validated to ensure compliance with SNI standards and visual comfort. The research provides useful guidance for the effective application of artificial lighting in 90 m² houses
ANALISA KEBUTUHAN PENGGUNAAN LISTRIK BERDASARKAN AKTIVITAS PENGHUNI RUMAH TYPE 90 M2 Imran, Mohammad; Gaib , Sri Janiansi; Detuage, Rahmat
RADIAL : Jurnal Peradaban Sains, Rekayasa dan Teknologi Vol. 12 No. 2 (2024): RADIAL: JuRnal PerADaban SaIns RekAyasan dan TeknoLogi
Publisher : Universitas Bina Taruna Gorontalo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37971/radial.v12i2.495

Abstract

This study aims to analyze the need for electricity use in type 90 houses based on the activities of the occupants of the house. This increasingly sophisticated and versatile era, makes the use of electricity in the household a necessity for every user, which means that electricity has an important function in everyday life, especially in households. The more electricity use, the more Watt meters are needed. This study uses a field observation research method. The results of this study found that the maximum electricity usage of 798 Watt occurred at 18.00 and the minimum electricity usage of 140 Watt occurred at 13.00-14.00, so it can be concluded that the power used was 900 Watt. The use of electricity in this home case study is casuistic (depending on the level of electricity use, unless there is a power outage).
Integrasi Nilai-Nilai Kearifan Lokal Dalam Desain Arsitektur Modern di Kota Gorontalo Imran, Mohammad; Rachmadyanti, Resza
Journal of Multi Technology Vol. 1 No. 2 (2025): Journal of Multi Technology (J-Multitechno)
Publisher : CV. Dalle' Deceng Abeeayla

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.69623/j-multitechno.v1i2.100

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi integrasi nilai-nilai kearifan lokal dalam desain arsitektur modern di Kota Gorontalo. Kota Gorontalo sebagai pusat budaya dan pemerintahan memiliki kekayaan budaya yang potensial untuk menjadi fondasi pengembangan arsitektur modern yang berciri khas lokal. Menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif, data dikumpulkan melalui wawancara mendalam, observasi lapangan, studi dokumentasi, dan studi pustaka, dengan melibatkan arsitek, budayawan, pemerintah daerah, dan masyarakat setempat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai-nilai kearifan lokal seperti keselarasan dengan alam, semangat gotong royong (huyula), simbolisme budaya, serta filosofi adat dan keagamaan, masih sangat relevan sebagai prinsip dasar dalam desain arsitektur modern. Namun, penerapan nilai-nilai tersebut sebagian besar masih bersifat simbolik melalui penggunaan ornamen visual pada fasad bangunan, sementara penerapan secara konseptual yang lebih substantif masih terbatas. Faktor penghambat integrasi antara lain keterbatasan regulasi, pemahaman arsitek eksternal yang kurang terhadap budaya lokal, dan pertimbangan biaya. Di sisi lain, munculnya kesadaran masyarakat, dukungan pengembangan pariwisata budaya, serta hadirnya generasi arsitek lokal menjadi faktor pendorong yang signifikan. Penelitian ini menegaskan pentingnya pengembangan arsitektur modern yang tidak sekadar menampilkan budaya lokal secara estetis, melainkan menjadikannya sebagai fondasi konseptual dalam perancangan ruang yang adaptif, berkelanjutan, serta memperkuat identitas budaya Gorontalo di tengah arus modernisasi.