Claim Missing Document
Check
Articles

Found 36 Documents
Search

Gambaran Tingkat Kemandirian Lansia dengan Rheumatoid Arthritis dalam Pemenuhan Activity Daily Living (ADL) Savitri, Nurmalita Ayu; Sukmaningtyas, Wilis; Wibowo, Tophan Heri
Cerdika: Jurnal Ilmiah Indonesia Vol. 2 No. 7 (2022): Cerdika: Jurnal Ilmiah Indonesia
Publisher : Publikasi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59141/cerdika.v2i7.426

Abstract

Elderly is someone who has entered the age of more than 60 years and over. Arthritis (arthritis) or rheumatism is the number two disease that attacks the elderly in Indonesia. Pain in rheumatoid arthritis patients appears and will cause discomfort and will also be hampered in carrying out various activities. The purpose of this study was to describe the level of independence of the elderly with rheumatoid arthritis in fulfilling daily living (ADL) activities. This research uses descriptive research method. The descriptive method in this study uses a literature review design (Library Study). The search strategy method to find journals used the keywords “Independence OR Independence AND Elderly OR Elderly AND Rheumatoid arthritis OR Rheumatic Disease AND Daily Activity OR Daily Activity OR Activity of Daily Living”. The results of the literature review are known from 7 journals, it can be concluded that 42,8% show that most of the elderly have a level of independence, in the category of moderate dependence, 7 journals show that most of the elderly are >60 years old, 71,4% of journals show that most of the gender of the elderly are women.
Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Tingkat Kecemasan Pada Pasien Sectio Caesarea (SC) Pra Spinal Anestesi Di Rumah Sakit Umum Daerah Kebumen Dealova, Apriyani; Wibowo, Tophan Heri; Handayani, Rahmayana Nova
Jurnal Ilmiah Wahana Pendidikan Vol 10 No 7 (2024): Jurnal Ilmiah Wahana Pendidikan
Publisher : Peneliti.net

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5281/zenodo.11059026

Abstract

Persalinan buatan yang disebut sectio caesarea (SC) memerlukan insisi pada dinding depan perut dan rahin untuk melahirkan janin. Janin harus masih utuh dan beratnya lebih dari 500 gram. Menurut data Riskesdas 2018, survei nasional tahun 2018 menemukan bahwa 13.856 dari 78.736 persalinan, atau sekitar 17,6% dari seluruh persalinan, dilakukan di Indonesia. Ini menunjukkan bahwa metode sectio caesarea (SC) menghasilkan jumlah persalinan yang lebih tinggi dibandingkan dengan metode lain. Kecemasan mungkin terjadi setelah operasi sectio caesrea. Perasaan takut dan khawatir yang berlebihan adalah tanda-tanda gangguan kecemasan. Usia, pendidikan, dukungan keluarga, dan pengalaman operasi adalah beberapa faktor yang dapat menyebabkan kecemasan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menemukan variabel yang memengaruhi tingkat kecemasan pasien yang menjalani sectio caesarea pra spinal anestesi. Penelitian ini dilakukan di RSUD Kebumen. Metode penelitian ini adalah desain deskriptif kuantitatif dengan pendekatan cross sectional. Pengambilan sampel yang dilakukan dengan teknik consecutive sampling sebanyak 33 responden. Instrumen penelitian ini menggunakan kuesioner. Hasil penelitian menunjukan bahwa responden dengan usia 20-35 tahun sebagian besar mengalami kecemasan sedang sebanyak 14 responden (42,4%), pada responden yang memiliki tingkat pendidikan rendah mengalami kecemasan sedang sebanyak 11 responden (33,3%). Semua responden memiliki dukungan keluarga baik dengan sebagian besar mengalami kecemasan sedang yaitu 17 responden (51,5%). Sebagian besar responden tidak mempunyai pengalaman SC sebelumnya dengan tingkat kecemasan sedang sebanyak 10 responden (30,3%), di RSUD Kebumen.
Pengaruh Blanket Warmer Terhadap Hipotermi Pada Pasien Pasca General Anestesi di Rumah Sakit Jatiwinangun Purwokerto Jarod, Muhammad; Wibowo, Tophan Heri; Handayani, Rahmaya Nova
Jurnal Ilmiah Wahana Pendidikan Vol 10 No 8 (2024): Jurnal Ilmiah Wahana Pendidikan
Publisher : Peneliti.net

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5281/zenodo.11112343

Abstract

Hipotermi merupakan konsekuensi yang signifikan dengan angka kematian mendekati 50%, sering terjadi pada pasien setelah operasi yang dilakukan dengan anestesi umum. Mitigasi hipotermi pada tubuh manusia dapat dilakukan dengan intervensi nonfarmakologis yang menggunakan teknik penghangatan, seperti penggunaan alat blanket warmer. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menilai dampak pemberian blanker warmer terhadap terjadinya hipotermi pada individu setelah pemberian anestesi umum. Metodologi penelitian yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan desain pra-eksperimental termasuk desain one-group pretest-posttest. Teknik pengambilan sampel yang digunakan adalah metode nonprobability sampling, khususnya pendekatan konsekutif sampling. Penelitian ini menggunakan jumlah sampel sebanyak 38 partisipan. Tujuan khusus dari penelitian ini adalah untuk memastikan adanya hipotermi baik sebelum maupun sesudah pemberian blanket warmer, serta untuk mengevaluasi dampak penggunaan blanket warmer terhadap terjadinya hipotermi. Uji Wilcoxon menghasilkan nilai p sebesar 0,000, lebih kecil dari tingkat signifikansi yang telah ditentukan yaitu 0,05. Temuan penelitian ini menunjukkan adanya dampak penting penggunaan blanket warmer terhadap terjadinya hipotermi pada pasien yang menjalani anestesi umum di Instalasi Bedah Sentral RS Jatiwinangun Purwokerto.
GAMBARAN SUHU TUBUH PASIEN POST ANESTESI BERDASARKAN JENIS ANESTESI PASIEN DI RSUD dr. R. GOETENG TAROENADIBRATA PURBALINGGA Ramadani, Putri Ayu; Sebayang, Septian Mixrova; Wibowo, Tophan Heri; Suryani, Roro Lintang
Jurnal Ilmiah Wahana Pendidikan Vol 10 No 9 (2024): Jurnal Ilmiah Wahana Pendidikan
Publisher : Peneliti.net

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5281/zenodo.11180865

Abstract

Kasus yang sering terjadi setelah post anestesi di ruang recovery room salah satunya adalah penurunan suhu tubuh atau hipotermi. Salah satu penyebab terjadinya penurunan suhu tubuh post anestesi adalah jenis anestesi yang digunakan. Oleh karena itu faktor agen anestesi menjadi salah satu hal yang penting untuk diperhatikan agar dapat dikendalikan dalam penggunaannya sehingga dapat meminimalisir efek samping yang ditimbulkan terhadap pasien. Tujuan Mengetahui gambaran suhu tubuh pasien post anestesi berdasarkan jenis anestesi pasien di RSUD dr. R. Goeteng Taroenadibrata Purbalingga. Metode penelitian ini menggunakan metode kuantitatif retrospektif. Sampel pada penelitian ini meliputi 64 responden post anestesi. Hasil Penelitian ini menemukan sebagian besar mayoritas responden mengalami penurunan suhu tubuh atau hipotermi sebanyak 45 responden (70,3%), adapun karakteristik pasien meliputi usia sebanyak 33 responden (51,6%) usia dewasa awal, jenis kelamin laki-laki sebanyak 38 responden (59,4%), ASA I sebanyak 42 responden (65,7%), dan anestesi regional sebanyak 34 responden (53,1%). Kesimpulan Penelitian ini menunjukkan gambaran suhu tubuh post anestesi sebagian besar mengalami penurunan suhu tubuh atau hipotermi sebanyak (70.3%) responden. Saran untuk penelitian selanjutnya diharapkan penelitian lebih kompleks membahas tentang aspek aspek gambaran yang terjadi pada pasien post anestesi.
Edukasi Kesehatan Tentang Penanganan Pertama Kegawatdaruratan Kejang Demam Pada Anak bagi Orang Tua di Balai Desa Randegan Wangon Riyani, Khoirina Putri Dwi; Wibowo, Tophan Heri; Murniati
Jurnal Pengabdian Harapan Ibu (JPHI) Vol. 7 No. 3 (2025): Jurnal Pengabdian Harapan Ibu (JPHI)
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Harapan Ibu Jambi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30644/jphi.v7i3.1094

Abstract

Kejang demam merupakan kondisi gawat darurat yang paling sering terjadi pada anak usia 6 bulan hingga 5 tahun dan dapat menimbulkan kecemasan pada orang tua serta berisiko menyebabkan komplikasi serius bila tidak ditangani dengan tepat. Kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan orang tua mengenai penanganan pertama kejang demam pada anak. Edukasi kesehatan dilaksanakan di Balai Desa Randegan Wangon dengan melibatkan 30 orang tua balita. Metode kegiatan meliputi pretest, pemberian materi melalui ceramah dan media audiovisual, serta posttest. Hasil evaluasi menunjukkan peningkatan signifikan pengetahuan, dari kondisi mayoritas kategori kurang (46,7%) menjadi baik (76,7%) setelah intervensi. Temuan ini membuktikan bahwa edukasi kesehatan berkontribusi dalam meningkatkan kesiapan orang tua melakukan pertolongan pertama pada kejang demam anak. Kegiatan ini berkontribusi pada pengurangan kecemasan, peningkatan keterampilan penanganan awal, serta dapat dijadikan dasar pengembangan program edukasi serupa di masyarakat.
Hubungan Self Efficacy Dengan Tingkat Kecemasan Pasien Pre Operasi Spinal Anestesi Di Rumah Sakit Emanuel Banjarnegara Talakua, Yoan Tika; Wibowo, Tophan Heri; Sukmaningtyas, Wilis
Jurnal Ilmiah Wahana Pendidikan Vol 12 No 2.B (2026): Jurnal Ilmiah Wahana Pendidikan
Publisher : Peneliti.net

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tingginya tingkat kecemasan yang dialami pasien sebelum menjalani prosedur operasi, khususnya pada anestesi spinal. Kecemasan ini dapat mempengaruhi kondisi fisik dan psikologis pasien, serta berpotensi mengganggu proses anestesi dan pemulihan pasca operasi. Self efficacy, yang merupakan keyakinan individu terhadap kemampuannya untuk mengatasi situasi tertentu, diharapkan dapat berperan dalam mengurangi tingkat kecemasan tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan self efficacy dengan tingkat kecemasan pasien pre operasi spinal anestesi di Rumah Sakit Emanuel Banjarnegara. Jenis penelitian kuantitatif korelasional dengan pendekatan cross sectional didapatkan melalui penelitian langsung di lapangan dalam waktu 27 maret – 27 april 2025. Teknik sampling purposive sampling dengan jumlah sampel sebanyak 77 pasien pre operasi spinal anestesi. Instrumen penelitian menggunakan kuisioner General self efficacy scale (GSE) dan Hamiliton Rating Scale (HARS). Self efficacy pasien dengan kategori sedang (61%), tinggi (39%). Kecemasan pasien pre operasi dengan kategori tidak cemas (49,4%),ringan (20,8%), sedang (15,6%), berat (11,7%), sangat berat (2,6%). Hasil pengujian statistik menggunakan uji Spearman Rank menunjukkan nilai p-value 0,005 yang berarti terdapat hubungan yang signifikan antara self efficacy dengan tingkat kecemasan pasien pre operasi spinal anestesi di Rumah Sakit Emanuel Banjarnegara. Nilai koefisien korelasi adalah -0,315 dengan tingkat keeratan hubungan cukup kuat. Nilai negatif menandakan hubungan kedua variabel tersebut bersifat berlawanan arah, dengan demikian dapat diartikan bahwa semakin tinggi self efficacy pasien maka kecemasan yang dialami semakin rendah.