Claim Missing Document
Check
Articles

Found 36 Documents
Search

Study on the Physical Characteristics and Phenolic Antioxidants of Kelulut Honey from Central Java Village, Galang Village, and Parit Baru Village, West Kalimantan Aschida, Feliks Chu Junloi; Dewi, Yohana Sutiknyawati Kusuma; Maherawati, Maherawati
FoodTech: Jurnal Teknologi Pangan Vol 8, No 2 (2025): October
Publisher : Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26418/jft.v8i2.102651

Abstract

This study aims to evaluate the physicochemical characteristics and antioxidant activity of stingless bee honey (kelulut honey) from three different locations in West Kalimantan: Desa Jawa Tengah, Desa Galang, and Desa Parit Baru. The study analyzed key parameters, including color, viscosity, total dissolved solids, and phenolic antioxidant activity using spectrophotometric methods. The results showed that honey from Desa Galang exhibited the highest antioxidant activity and total dissolved solids, suggesting its superior biological potential. Conversely, honey from Desa Parit Baru demonstrated the lowest viscosity, indicating a thinner consistency. This research concludes that geographical differences influence honey quality, as demonstrated by the variations in antioxidant and physicochemical properties among the samples.
PENGARUH LAMA PENGUKUSAN TERHADAP KUALITAS FISIK, KIMIA, DAN SENSORI KERUPUK SAGU (Metroxylon sp.) Kapita, Puja; Maherawati, Maherawati; Hartanti, Lucky
Jurnal Sains Pertanian Equator Vol. 15 No. 2
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26418/jspe.v15i2.100638

Abstract

Sagu merupakan salah satu pangan lokal yang berpotensi untuk diolah menjadi berbagai produk pangan, salah satunya adalah kerupuk yang sebagai cemilan atau makanan pelengkap menu utama sehari-hari dengan citarasa yang gurih dan renyah. Proses pengukusan dalam pembuatan kerupuk merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi kualitas kerupuk. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh lama pengukusan terhadap kualitas fisik, kimia, dan sensori kerupuk sagu dan untuk mengetahui lama pengukusan yang menghasilkan kerupuk sagu terbaik. Penelitian ini telah dilaksanakan selama 6 bulan di Kecamatan Pontianak Tenggara, Kota Pontianak. Rancangan yang digunakan adalah Rancangan Acak Kelompok (RAK) dengan satu faktor (p) yaitu lama pengukusan yang terdiri dari 4 taraf perlakuan dan 6 kali ulangan. Karakteristik kerupuk sagu terbaik diperoleh dengan lama pengukusan 85 menit dengan daya kembang 11,64%, kadar air sebesar 1,85%, kadar abu 1,30%, kadar lemak 5,82%, kadar protein 0,59% dan karbohidrat 90,44%. Karakteristik sensori terbaik meliputi warna yaitu sebesar 3,43 (cerah-lebih cerah), aroma 3,47 (khas sagu-lebih khas sagu), rasa 4,20 (lebih gurih-sangat gurih) dan kerenyahan 4,17 (lebih renyah-sangat renyah). Penelitian lama pengukusan kerupuk sagu dilaksanakan mengingat potensi pangan lokal sagu yang besar di Kalimantan Barat sehingga akan dihasilkan kerupuk sagu dengan kualitas terbaik.
SUHU ONSET GELATINISASI PATI SUKUN, BERAS MERAH, DAN UBI JALAR UNGU ASAL KALIMANTAN BARAT Zharfa, Afika Meisya; Maherawati, Maherawati; Hartanti, Lucky
Jurnal Sains Pertanian Equator Vol. 15 No. 3
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26418/jspe.v15i3.104346

Abstract

Indonesia memiliki keanekaragaman hayati yang tinggi dengan potensi sumber pati lokal yang belum dimanfaatkan secara optimal dalam industri pangan. Pati dari sumber botani yang berbeda memiliki karakteristik termal yang beragam dan berpengaruh terhadap aplikasi pengolahannya. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan suhu onset gelatinisasi pati sukun, beras merah, dan ubi jalar ungu asal Kalimantan Barat sebagai dasar pemanfaatan pati lokal. Penelitian ini dilakukan dengan pendekatan eksploratif komparatif yakni membandingkan suhu onset gelatinisasi dari tiga sumber jenis pati. Pati diekstraksi melalui metode basah yang dimodifikasi, kemudian diuji suhu onset gelatinisasinya menggunakan pemanasan suspensi pati dan pengamatan perubahan viskositas. Hasil penelitian menunjukkan bahwa suhu onset gelatinisasi pati sukun, beras merah, dan ubi jalar ungu masing-masing sebesar 70°C ± 1,73; 71°C ± 1,40; dan 72°C ± 2,65. Perbedaan suhu onset gelatinisasi tersebut menunjukkan adanya pengaruh sumber botani terhadap stabilitas termal pati. Pati ubi jalar ungu memiliki stabilitas termal paling tinggi, diikuti oleh pati beras merah dan pati sukun. Penelitian ini berkontribusi dalam menyediakan data karakteristik termal pati lokal yang dapat digunakan sebagai dasar pemilihan bahan baku untuk formulasi dan pengembangan produk pangan berbasis sumber daya lokal.
ANALISIS RENDEMEN PATI DARI BERBAGAI SUMBER TANAMAN LOKAL DI KALIMANTAN BARAT Azis, Debby Febyola; Maherawati, Maherawati; Hartanti, Lucky
Jurnal Sains Pertanian Equator Vol. 15 No. 3
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26418/jspe.v15i3.104489

Abstract

Starch is a major plant polysaccharide widely utilized as a raw material in the food industry, making the diversification of starch sources from local plants increasingly important. One key parameter in evaluating the potential of starch sources is starch yield, which reflects both starch content and extraction efficiency. This study aimed to analyze and compare the starch yield of three local plant sources from West Kalimantan, namely breadfruit (Artocarpus altilis), purple sweet potato (Ipomoea batatas), and red rice (Oryza sativa L.). The research was conducted using a randomized block design with one treatment factor, starch source, and three replications. Starch extraction was carried out through crushing, filtration, sedimentation, drying, and sieving processes, with several method modifications. Data were analyzed descriptively using quantitative approaches. The results showed that purple sweet potato produced the highest starch yield (9.14%), followed by red rice (8.28%), while breadfruit starch showed the lowest yield (2.23%). These differences were influenced by the biological and morphological characteristics of each raw material. This study provides preliminary scientific data on the starch yield of local plant resources from West Kalimantan, contributing to the development of alternative and sustainable starch sources for food and non-food applications.
THE FORMULATION OF JACKFRUIT SEED FLOUR AND CASSAVA STARCH AS A FILLER IN SNAKEHEAD FISH (Channa striata) NUGGET Maulina, Selly; Maherawati, Maherawati; Purwayantie, Sulvi
Jurnal Sains Pertanian Equator Vol. 9 No. 1 (2020)
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26418/jspe.v9i1.36200

Abstract

THE FORMULATION OF JACKFRUIT SEED FLOUR AND CASSAVA STARCH AS A FILLER IN SNAKEHEAD FISH (Channa striata) NUGGET Selly Maulina1), Maherawati2) dan Sulvi Purwayantie2)1) Student of Food Science and Technology 2) Lecturer of Agriculture Faculty Tanjungpura University*e-mail: selly123maulina@gmail.com AbstractNugget one of the popular food in Indonesia. The mayor of ingredients were meat or chicken protein mixed with wheat flour which is still import. West Kalimantan was the protein source located of snakehead fish that is still less consumed while the jackfruits seed was the waste that is still not optimally processed too. The aim of this research was to determine the formulation of jackfruit seed flour and cassava starch which produced chemical, physical and sensory characteristic of snakehead fish nugget. The research using Randomized Block Design of one factor (formulation of jackfruit seed flour and cassava starch) with five level treatments (0:20, 5:15, 10:10, 15:5, 20:0, w/w) and five replications. Data were analyzed by using one way ANOVA (α=5%) and if there was significant different followed by BNJ test (α=5%). Result showed that the best formulation based on effective index of snakehead fish nugget was jackfruit seed flour:cassava starch (10:10) that has moisture content of 52.25%; protein of 12.66% while as a albumin of 3.64%; fat of 4.45%; ash of 1.95%; carbohydrate of 28.70% and water holding capacity 51.6%. Meanwhile the hedonic result has taste 3.70 (quite like), flavor 3.53 (quite like) and texture 3.77 (quite like).Key words: flour, jackfruit seed, cassava starch, nugget, snakehead fish
KARAKTERISTIK MINUMAN TRADISIONAL DI KABUPATEN MEMPAWAH SEBAGAI PANGAN FUNGSIONAL Ramadianti, Tasya Aulia; Maherawati, Maherawati; Hartanti, Lucky
Jurnal Sains Pertanian Equator Vol. 15 No. 3
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26418/jspp.v15i3.102384

Abstract

Indonesia adalah negara yang kaya dengan sumber daya alamnya dan aneka jenis minuman tradisional seperti air serbat dan sirup buah lakum dari Kabupaten Mempawah. Komposisi kedua minuman tradisional tersebut diketahui memiliki senyawa bioaktif bermanfaat untuk kesehatan tubuh. Namun, informasi tentang kandungan bioaktif pada kedua minuman ini masih terbatas. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kandungan bioaktif air serbat dan sirup lakum sebagai minuman fungsional. Metode penelitian meliputi wawancara, penentuan objek dengan purposive sampling, dan uji senyawa bioaktif seperti alkaloid, flavonoid, fenol, dan antioksidan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa air serbat dan sirup buah lakum memiliki kandungan bioaktif yang berbeda-beda. Kadar alkaloid air serbat adalah 11,37%, sedangkan sirup lakum memiliki kadar 9,86%. Kandungan fenol pada sirup buah lakum lebih tinggi (583,07 mgGAE/100ml) dibandingkan air serbat (254,62 mgGAE/100ml). Kandungan flavonoid pada sirup buah lakum lebih tinggi (90,45 mgQE/100ml) dibandingkan air serbat (49,51 mgQE/100ml) dan air serbat memiliki aktivitas antioksidan yang lebih tinggi (45,97%) dibandingkan sirup lakum (37,13%). Kedua minuman tradisional ini memiliki potensi sebagai pangan fungsional dan dapat berkontribusi pada pengembangan ilmu pengetahuan tentang manfaat kesehatan minuman tradisional.