Claim Missing Document
Check
Articles

Found 34 Documents
Search

Pengaruh Crude Ekstrak Streptomyces GBSR1 Pada Susut Bobot Buah Tomat (Solanum lycopersicum L.) Pascapanen Terserang Colletotrichum acutatum Astuti, Riska Frida; Maherawati, Maherawati; Simamora, Cico Jhon Karunia
Jurnal Sains Pertanian Equator Vol 15, No 2
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26418/jspe.v15i2.98891

Abstract

Tomat (Solanum lycopersicum L.) adalah salah satu yang mudah terserang oleh penyakit pascapanen salah satunya oleh jamur patogen yaitu Colletotrichum acutatum. Serangan jamur patogen ini dapat menyebabkan berbagai kerusakan, termasuk kerusakan fisik (Ansiska et al., 2023). Kerusakan fisik yang terbentuk akibat serangan jamur patogen ini dapat berhubungan dengan susut bobot pada buah tomat yang akan berpengaruh seiring dengan lama penyimpanan dan pengaplikasian crude ekstrak Streptomyces. Tujuan penelitian ini adalah mendapatkan dan mengkaji konsentrasi crude ekstrak Streptomyces GBSR1 yang menghasilkan susut bobot terbaik pada buah tomat pascapanen terserang Colletotrichum acutatum. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 5 perlakuan konsentrasi yaitu 0 ppm (kontrol), 500 ppm, 1000 ppm, 1500 ppm dan 2000 ppm. Hasil penelitian menunjukkan crude ekstrak Streptomyces GBSR1 dapat memberikan pengaruh terhadap susut bobot buah tomat. Perlakuan terbaik terdapat pada konsentrasi 500 ppm dengan susut bobot dengan persamaan y= 0,5168x-0,4952 dan nilai R2 sebesar 0,9471. Kontribusi dari penelitian ini adalah menambah pengetahuan mengenai pemanfaatan mikroba antagonis untuk menggantikan bahan kimia berbahaya yang dapat menimbulkan residu.
PREFERENSI PELAJAR TERHADAP MAKANAN TRADISIONAL KHAS KABUPATEN MEMPAWAH Febrianti, Auliadini; Maherawati, Maherawati; Lestari, Oke Anandika
Jurnal Sains Pertanian Equator Vol 15, No 2
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26418/jspe.v15i2.98933

Abstract

Indonesia memiliki keragaman pangan lokal yang melahirkan berbagai makanan tradisional sebagai bagian dari identitas budaya dan kearifan lokal, salah satunya di Kabupaten Mempawah, Kalimantan Barat. Kekayaan kuliner tradisional Mempawah tidak hanya mencerminkan potensi sumber daya alam, tetapi juga menjadi bagian dari tradisi masyarakat multietnis. Namun, perilaku konsumsi makanan bersifat subjektif dan dipengaruhi oleh faktor sosial, budaya, maupun psikologis, khususnya pada kelompok remaja yang masih rentan dalam pengambilan keputusan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui preferensi pelajar terhadap makanan tradisional khas Kabupaten Mempawah. Metode penelitian yang digunakan adalah deskriptif kuantitatif dengan instrumen kuesioner online yang disebarkan kepada 90 responden pelajar sekolah menengah atas. Hasil penelitian menunjukkan bahwa patlau merupakan makanan tradisional yang paling disukai (54 tanggapan), diikuti bontong (26 tanggapan) dan udang sambal serai (21 tanggapan). Alasan utama pelajar memilih makanan tradisional adalah karena rasa yang khas (52 responden), diikuti alasan keterkaitan dengan budaya (16 responden), kemudahan diperoleh (10 responden), dan sebagian kecil tanpa alasan khusus. Kesimpulannya, rasa khas menjadi faktor dominan dalam membentuk preferensi pelajar terhadap makanan tradisional Mempawah. Penelitian ini bertujuan mengetahui preferensi pelajar terhadap jenis-jenis makanan tradisional khas kabupaten Mempawah.
Study on the Physical Characteristics and Phenolic Antioxidants of Kelulut Honey from Central Java Village, Galang Village, and Parit Baru Village, West Kalimantan Aschida, Feliks Chu Junloi; Dewi, Yohana Sutiknyawati Kusuma; Maherawati, Maherawati
FoodTech: Jurnal Teknologi Pangan Vol 8, No 2 (2025): October
Publisher : Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26418/jft.v8i2.102651

Abstract

This study aims to evaluate the physicochemical characteristics and antioxidant activity of stingless bee honey (kelulut honey) from three different locations in West Kalimantan: Desa Jawa Tengah, Desa Galang, and Desa Parit Baru. The study analyzed key parameters, including color, viscosity, total dissolved solids, and phenolic antioxidant activity using spectrophotometric methods. The results showed that honey from Desa Galang exhibited the highest antioxidant activity and total dissolved solids, suggesting its superior biological potential. Conversely, honey from Desa Parit Baru demonstrated the lowest viscosity, indicating a thinner consistency. This research concludes that geographical differences influence honey quality, as demonstrated by the variations in antioxidant and physicochemical properties among the samples.
PENGARUH LAMA PENGUKUSAN TERHADAP KUALITAS FISIK, KIMIA, DAN SENSORI KERUPUK SAGU (Metroxylon sp.) Kapita, Puja; Maherawati, Maherawati; Hartanti, Lucky
Jurnal Sains Pertanian Equator Vol 15, No 2
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26418/jspe.v15i2.100638

Abstract

Sagu merupakan salah satu pangan lokal yang berpotensi untuk diolah menjadi berbagai produk pangan, salah satunya adalah kerupuk yang sebagai cemilan atau makanan pelengkap menu utama sehari-hari dengan citarasa yang gurih dan renyah. Proses pengukusan dalam pembuatan kerupuk merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi kualitas kerupuk. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh lama pengukusan terhadap kualitas fisik, kimia, dan sensori kerupuk sagu dan untuk mengetahui lama pengukusan yang menghasilkan kerupuk sagu terbaik. Penelitian ini telah dilaksanakan selama 6 bulan di Kecamatan Pontianak Tenggara, Kota Pontianak. Rancangan yang digunakan adalah Rancangan Acak Kelompok (RAK) dengan satu faktor (p) yaitu lama pengukusan yang terdiri dari 4 taraf perlakuan dan 6 kali ulangan. Karakteristik kerupuk sagu terbaik diperoleh dengan lama pengukusan 85 menit dengan daya kembang 11,64%, kadar air sebesar 1,85%, kadar abu 1,30%, kadar lemak 5,82%, kadar protein 0,59% dan karbohidrat 90,44%. Karakteristik sensori terbaik meliputi warna yaitu sebesar 3,43 (cerah-lebih cerah), aroma 3,47 (khas sagu-lebih khas sagu), rasa 4,20 (lebih gurih-sangat gurih) dan kerenyahan 4,17 (lebih renyah-sangat renyah). Penelitian lama pengukusan kerupuk sagu dilaksanakan mengingat potensi pangan lokal sagu yang besar di Kalimantan Barat sehingga akan dihasilkan kerupuk sagu dengan kualitas terbaik.