Claim Missing Document
Check
Articles

Found 35 Documents
Search

PREFERENSI PELAJAR TERHADAP MAKANAN TRADISIONAL KHAS KABUPATEN MEMPAWAH Febrianti, Auliadini; Maherawati, Maherawati; Lestari, Oke Anandika
Jurnal Sains Pertanian Equator Vol 15, No 2
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26418/jspe.v15i2.98933

Abstract

Indonesia memiliki keragaman pangan lokal yang melahirkan berbagai makanan tradisional sebagai bagian dari identitas budaya dan kearifan lokal, salah satunya di Kabupaten Mempawah, Kalimantan Barat. Kekayaan kuliner tradisional Mempawah tidak hanya mencerminkan potensi sumber daya alam, tetapi juga menjadi bagian dari tradisi masyarakat multietnis. Namun, perilaku konsumsi makanan bersifat subjektif dan dipengaruhi oleh faktor sosial, budaya, maupun psikologis, khususnya pada kelompok remaja yang masih rentan dalam pengambilan keputusan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui preferensi pelajar terhadap makanan tradisional khas Kabupaten Mempawah. Metode penelitian yang digunakan adalah deskriptif kuantitatif dengan instrumen kuesioner online yang disebarkan kepada 90 responden pelajar sekolah menengah atas. Hasil penelitian menunjukkan bahwa patlau merupakan makanan tradisional yang paling disukai (54 tanggapan), diikuti bontong (26 tanggapan) dan udang sambal serai (21 tanggapan). Alasan utama pelajar memilih makanan tradisional adalah karena rasa yang khas (52 responden), diikuti alasan keterkaitan dengan budaya (16 responden), kemudahan diperoleh (10 responden), dan sebagian kecil tanpa alasan khusus. Kesimpulannya, rasa khas menjadi faktor dominan dalam membentuk preferensi pelajar terhadap makanan tradisional Mempawah. Penelitian ini bertujuan mengetahui preferensi pelajar terhadap jenis-jenis makanan tradisional khas kabupaten Mempawah.
Study on the Physical Characteristics and Phenolic Antioxidants of Kelulut Honey from Central Java Village, Galang Village, and Parit Baru Village, West Kalimantan Aschida, Feliks Chu Junloi; Dewi, Yohana Sutiknyawati Kusuma; Maherawati, Maherawati
FoodTech: Jurnal Teknologi Pangan Vol 8, No 2 (2025): October
Publisher : Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26418/jft.v8i2.102651

Abstract

This study aims to evaluate the physicochemical characteristics and antioxidant activity of stingless bee honey (kelulut honey) from three different locations in West Kalimantan: Desa Jawa Tengah, Desa Galang, and Desa Parit Baru. The study analyzed key parameters, including color, viscosity, total dissolved solids, and phenolic antioxidant activity using spectrophotometric methods. The results showed that honey from Desa Galang exhibited the highest antioxidant activity and total dissolved solids, suggesting its superior biological potential. Conversely, honey from Desa Parit Baru demonstrated the lowest viscosity, indicating a thinner consistency. This research concludes that geographical differences influence honey quality, as demonstrated by the variations in antioxidant and physicochemical properties among the samples.
PENGARUH LAMA PENGUKUSAN TERHADAP KUALITAS FISIK, KIMIA, DAN SENSORI KERUPUK SAGU (Metroxylon sp.) Kapita, Puja; Maherawati, Maherawati; Hartanti, Lucky
Jurnal Sains Pertanian Equator Vol 15, No 2
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26418/jspe.v15i2.100638

Abstract

Sagu merupakan salah satu pangan lokal yang berpotensi untuk diolah menjadi berbagai produk pangan, salah satunya adalah kerupuk yang sebagai cemilan atau makanan pelengkap menu utama sehari-hari dengan citarasa yang gurih dan renyah. Proses pengukusan dalam pembuatan kerupuk merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi kualitas kerupuk. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh lama pengukusan terhadap kualitas fisik, kimia, dan sensori kerupuk sagu dan untuk mengetahui lama pengukusan yang menghasilkan kerupuk sagu terbaik. Penelitian ini telah dilaksanakan selama 6 bulan di Kecamatan Pontianak Tenggara, Kota Pontianak. Rancangan yang digunakan adalah Rancangan Acak Kelompok (RAK) dengan satu faktor (p) yaitu lama pengukusan yang terdiri dari 4 taraf perlakuan dan 6 kali ulangan. Karakteristik kerupuk sagu terbaik diperoleh dengan lama pengukusan 85 menit dengan daya kembang 11,64%, kadar air sebesar 1,85%, kadar abu 1,30%, kadar lemak 5,82%, kadar protein 0,59% dan karbohidrat 90,44%. Karakteristik sensori terbaik meliputi warna yaitu sebesar 3,43 (cerah-lebih cerah), aroma 3,47 (khas sagu-lebih khas sagu), rasa 4,20 (lebih gurih-sangat gurih) dan kerenyahan 4,17 (lebih renyah-sangat renyah). Penelitian lama pengukusan kerupuk sagu dilaksanakan mengingat potensi pangan lokal sagu yang besar di Kalimantan Barat sehingga akan dihasilkan kerupuk sagu dengan kualitas terbaik.
SUHU ONSET GELATINISASI PATI SUKUN, BERAS MERAH, DAN UBI JALAR UNGU ASAL KALIMANTAN BARAT Zharfa, Afika Meisya; Maherawati, Maherawati; Hartanti, Lucky
Jurnal Sains Pertanian Equator Vol. 15 No. 3: In Press
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26418/jspe.v15i3.104346

Abstract

Indonesia memiliki keanekaragaman hayati yang tinggi dengan potensi sumber pati lokal yang belum dimanfaatkan secara optimal dalam industri pangan. Pati dari sumber botani yang berbeda memiliki karakteristik termal yang beragam dan berpengaruh terhadap aplikasi pengolahannya. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan suhu onset gelatinisasi pati sukun, beras merah, dan ubi jalar ungu asal Kalimantan Barat sebagai dasar pemanfaatan pati lokal. Penelitian ini dilakukan dengan pendekatan eksploratif komparatif yakni membandingkan suhu onset gelatinisasi dari tiga sumber jenis pati. Pati diekstraksi melalui metode basah yang dimodifikasi, kemudian diuji suhu onset gelatinisasinya menggunakan pemanasan suspensi pati dan pengamatan perubahan viskositas. Hasil penelitian menunjukkan bahwa suhu onset gelatinisasi pati sukun, beras merah, dan ubi jalar ungu masing-masing sebesar 70°C ± 1,73; 71°C ± 1,40; dan 72°C ± 2,65. Perbedaan suhu onset gelatinisasi tersebut menunjukkan adanya pengaruh sumber botani terhadap stabilitas termal pati. Pati ubi jalar ungu memiliki stabilitas termal paling tinggi, diikuti oleh pati beras merah dan pati sukun. Penelitian ini berkontribusi dalam menyediakan data karakteristik termal pati lokal yang dapat digunakan sebagai dasar pemilihan bahan baku untuk formulasi dan pengembangan produk pangan berbasis sumber daya lokal.
ANALISIS RENDEMEN PATI DARI BERBAGAI SUMBER TANAMAN LOKAL DI KALIMANTAN BARAT Azis, Debby Febyola; Maherawati, Maherawati; Hartanti, Lucky
Jurnal Sains Pertanian Equator Vol. 15 No. 3: In Press
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26418/jspe.v15i3.104489

Abstract

Starch is a major plant polysaccharide widely utilized as a raw material in the food industry, making the diversification of starch sources from local plants increasingly important. One key parameter in evaluating the potential of starch sources is starch yield, which reflects both starch content and extraction efficiency. This study aimed to analyze and compare the starch yield of three local plant sources from West Kalimantan, namely breadfruit (Artocarpus altilis), purple sweet potato (Ipomoea batatas), and red rice (Oryza sativa L.). The research was conducted using a randomized block design with one treatment factor, starch source, and three replications. Starch extraction was carried out through crushing, filtration, sedimentation, drying, and sieving processes, with several method modifications. Data were analyzed descriptively using quantitative approaches. The results showed that purple sweet potato produced the highest starch yield (9.14%), followed by red rice (8.28%), while breadfruit starch showed the lowest yield (2.23%). These differences were influenced by the biological and morphological characteristics of each raw material. This study provides preliminary scientific data on the starch yield of local plant resources from West Kalimantan, contributing to the development of alternative and sustainable starch sources for food and non-food applications.