Claim Missing Document
Check
Articles

Found 32 Documents
Search

KARAKTERISTIK SENSORI TEH HITAM DENGAN BAHAN PENAMBAH CITA RASA Zukhruf, Syaqinah Az; Lestari, Oke Anandika; Maherawati, Maherawati
Jurnal Sains Pertanian Equator Vol 15, No 1
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26418/jspe.v15i1.95352

Abstract

Teh merupakan salah satu minuman yang sangat disukai oleh masyarakat hampir seluruh di Indonesia. Terdapat berbagai jenis teh, salah satu jenisnya yaitu teh hitam. Pada penelitian ini, menggunakan teh hitam komersial yaitu merk "Poci". Penyajian teh tidak hanya menggunakan penambahan sukrosa saja, akan tetapi dapat dilakukan penambahan dengan bahan penambah cita rasa berupa madu dan susu fermentasi. Tujuan dilakukan penelitian ini yaitu untuk mengetahui karakteristik sensori teh hitam dengan bahan penambah cita rasa berupa madu dan susu fermentasi. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) dengan satu faktor yaitu perbedaan bahan penambah cita rasa yang terdiri dari 4 taraf perlakuan dengan 6 kali ulangan, sehingga jumlah seluruhnya sebanyak 24 percobaan. Dilakukan uji organoleptik deskriptif kepada 30 panelis dengan parameter warna, rasa manis, rasa asam, aroma, tekstur, dan kesukaan keseluruhan. Data yang diperoleh dianalisis menggunakan uji ANOVA (α=5%) kemudian dilanjutkan dengan BNJ (α=5%). Data hasil uji oranoleptik dianlisis menggunakan metode Kruskal-Wallis (Analysis of variance on ranks) dan dilakukan uji menggunakan metode SPSS atau "Statistical Package for the Social Sciences". Apabila berpengaruh nyata, akan dilanjutkan dengan uji Bonferroni dengan taraf 5% (α = 0,05) untuk mengetahui perbedaan antar perlakuan. Hasil organoleptik menunjukkan bahwa setiap perlakuan ada yang berpengaruh nyata dan ada yang tidak berpengaruh nyata terhadap setiap parameter.
PENGARUH CRUDE EKSTRAK STREPTOMYCES GBSR1 TERHADAP SUSUT BOBOT BUAH CABAI (CAPSICUM ANNUM L.) PASCAPANEN TERSERANG COLLETOTRICHUM CAPSICI Amina, Amina; Maherawati, Maherawati; Simamora, Cico Jhon Karunia
Jurnal Sains Pertanian Equator Vol 15, No 2: In Press
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26418/jspe.v15i2.98892

Abstract

Cabai merah (Capsicum annuum L.) merupakan komoditas hortikultura penting yang rentan mengalami kerusakan pascapanen akibat infeksi Colletotrichum capsici sehingga dapat memicu peningkatan susut bobot dan kerugian hasil. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi efektivitas crude ekstrak Streptomyces GBSR1 dalam menekan laju susut bobot cabai selama penyimpanan. Rancangan penelitian menggunakan RAL dengan berbagai konsentrasi ekstrak (0, 500, 1000, 1500, dan 2000 ppm), kemudian disimpan pada suhu ruang selama 7 hari. Pengamatan dilakukan setiap hari dan dianalisis dengan regresi linear sederhana. Hasil penelitian menunjukkan bahwa semua perlakuan mengalami peningkatan susut bobot seiring lama penyimpanan, namun laju penurunan berbeda antar konsentrasi. Konsentrasi 1500 ppm terbukti paling optimal dengan laju susut bobot terendah sebesar 0,1046% per hari dan nilai R ² tertinggi (0,8298). Efektivitas ini diduga berasal dari metabolit sekunder Streptomyces yang bersifat antibakteri, antifungi, dan antioksidan. Sebaliknya, konsentrasi rendah maupun terlalu tinggi belum memberikan hasil maksimal karena aktivitas senyawa bioaktif kurang efektif atau bersifat antagonis. Kontribusi penelitian ini adalah memberikan dasar ilmiah penggunaan Streptomyces sebagai alternatif ramah lingkungan pengendalian pascapanen cabai.
KARAKTERISTIK ORGANOLEPTIK KOMBUCHA BUNGA TELANG (CLITORIA TERNATEA) DENGAN PERBEDAAN KONSENTRASI NIRA KELAPA Alvionita, Neni; Raharjo, Dwi; Maherawati, Maherawati
Jurnal Sains Pertanian Equator Vol 15, No 1
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26418/jspe.v15i1.96667

Abstract

Kombucha adalah minuman fermentasi yang terbuat dari teh (Camellia sinensis) sebagai substrat, dicampur dengan gula sebagai sumber karbon, dan difermentasi oleh scoby (Symbiotic Culture of Bacteria and Yeast), sehingga menghasilkan rasa asam yang khas. Penggunaan nira kelapa sebagai sumber karbon dapat memengaruhi kesukaan panelis terhadap kualitas sensori produk. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan konsentrasi nira kelapa dalam formulasi kombucha bunga telang yang menghasilkan atribut sensori terbaik. Uji sensori dilakukan terhadap atribut warna, aroma, rasa, sensasi soda, dan kesukaan keseluruhan menggunakan uji Kruskal-Wallis dan DMRT. Hasil menunjukkan bahwa nira kelapa berpengaruh nyata terhadap warna (p
PENGARUH CRUDE EKSTRAK STREPTOMYCES GBSR1 TERHADAP SUSUT BOBOT BUAH JERUK SIAM (CITRUS NOBILIS LOUR.) PASCAPANEN TERSERANG COLLETOTRICHUM GLOEOSPORIOIDES Syifa, Atania; Maherawati, Maherawati; Simamora, Cico Jhon Karunia
Jurnal Sains Pertanian Equator Vol 15, No 2: In Press
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26418/jspe.v15i2.98890

Abstract

Jeruk siam (Citrus nobilis Lour.) merupakan komoditas hortikultura bernilai ekonomi tinggi, namun rentan rusak pascapanen akibat serangan Colletotrichum gloeosporioides penyebab antraknosa. Infeksi ini mempercepat degradasi fisiologis termasuk meningkatnya susut bobot, sehingga mutu menurun. Pengendalian dengan fungisida sintetis efektif tetapi menimbulkan residu berbahaya sehingga diperlukan alternatif ramah lingkungan. Streptomyces GBSR1 menghasilkan metabolit sekunder antifungi yang berpotensi menghambat patogen. Penelitian ini bertujuan mengetahui efektivitas ekstrak Streptomyces GBSR1 dalam menekan susut bobot jeruk siam pascapanen. Penelitian menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan lima perlakuan, yaitu 0 ppm (kontrol), 500 ppm, 1000 ppm, 1500 ppm, dan 2000 ppm selama 10 hari. Hasil menunjukkan perlakuan 500 ppm terbaik dengan susut bobot terendah 1,17% pada kontrol 1,82%. Efektivitas ini terkait kemampuan ekstrak menekan pertumbuhan jamur dan menghambat enzim perusak dinding sel sehingga jaringan buah terjaga. Dengan demikian, ekstrak Streptomyces GBSR1 konsentrasi 500 ppm efektif memperlambat susut bobot jeruk dan menjadi alternatif biokontrol ramah lingkungan.
Karakteristik Infused Water Nanas, Mentimun, dan Jahe dengan Variasi Waktu Perendaman Maherawati, Maherawati; Sari, Bella Puspita; Hartanti, Lucky
Jurnal Ilmu Pangan dan Hasil Pertanian Vol 6, No 1 (2022)
Publisher : Program Studi Teknologi Pangan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26877/jiphp.v6i1.10631

Abstract

Infused water adalah minuman dengan tambahan potongan buah, sayur, atau herbal yang direndam selama waktu tertentu sehingga memberikan cita rasa pada air sekaligus mempunyai manfaat untuk kesehatan. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui karakteristik infused water yang dibuat dari nanas, mentimun, dan jahe selama perendaman dan menentukan waktu perendaman terbaik infused water dari ketiga bahan tersebut. Parameter yang diamati adalah total padatan terlarut, pH, kadar vitamin C, dan aktivitas antioksidan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa infused water yang dibuat dari nanas, mentimun, dan jahe menunjukkan peningkatan total padatan terlarut, penurunan pH, perubahan kadar vitamin C dan aktivitas antioksidan. Kecenderungan perubahan karakteristik pada infused water sesuai dengan karakteristik bahan dasarnya. Kadar vitamin C dan aktivitas antioksidan tertinggi diperoleh pada waktu perendaman 9 jam pada semua bahan. Waktu perendaman yang menghasilkan karakteristik terbaik pada infused water nanas, mentimun, dan jahe adalah 9 jam. Karakteristik terbaik infused water nanas mempunyai pH 4,74, TPT 3,33°Brix, vitamin C 13,79 mg/100g, dan antioksidan 20,62%. Infused water mentimun mempunyai pH 6,63, TPT 0,97°Brix, vitamin C 7,63 mg/100g, dan antioksidan 25,11%. Infused water jahe mempunyai pH 6,68, TPT 1,23°Brix, vitamin C 7,29 mg/100g, dan antioksidan 28,65%.
Karakteristik Minuman Isotonik Berbahan Baku Air Kelapa (Cocos nucifera) dengan Penambahan Buah-Buahan Lokal Satria, Nur Imam; Maherawati, Maherawati; Fadly, Dzul
Jurnal Teknologi dan Industri Pertanian Indonesia Vol 16, No 1 (2024): Vol. (16) No. 1, April 2024
Publisher : Agriculture Faculty

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17969/jtipi.v16i1.28185

Abstract

Isotonic drinks are substitutes for lost body fluids, minerals to replace electrolytes lost with sweat, and sugar as an energy source. Naturally, coconut has the potential as an isotonic drink because of its mineral composition and sugars that resemble body fluids. Coconut water isotonic drinks can be added with fruit flavors to add flavor. The isotonic drink made in this study uses coconut water combined with various local fruits (soursop, red guava, orange, kweni, belimbing wuluh, and pineapple). This study aimed to determine the characteristics of isotonic drinks made from coconut water with variations of local fruit types and the characteristics of the best isotonic drinks made from coconut water and local fruits. The parameters observed were sodium content, potassium content, pH, total dissolved solids, total acid, and antioxidant activity. The data obtained were analyzed using the ANOVA test (=5%) and continued with Tukey (=5%). The results showed that the characteristics of isotonic drinks made from coconut water with variations in local fruits have different characteristics according to the characteristics of each essential ingredient. Local fruit isotonic drinks have better characteristics than commercial isotonic drinks in pH value, total dissolved solids, total acid, and antioxidant activity. The isotonic drink made from coconut water with the addition of orange juice is the best isotonic drink in this study with the characteristics of sodium content 936.00 mg/kg, potassium content 398.49 mg/kg, pH value 3.75, TPT value 6.40Brix, antioxidant activity was 88.50%, and the total acid value was 0.146%.
Karakteristik Ekstrak Saponin Pada Daun Kucai (Allium schoenoprasum) Asal Pontianak Widiawati, Helen; Maherawati, Maherawati; Hartanti, Lucky
FoodTech: Jurnal Teknologi Pangan Vol 6, No 2 (2023): October
Publisher : Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26418/jft.v6i2.74244

Abstract

Chives (allium schoenoprasum) is one of the tropical plants grown to harvest the leaves. Chives leaf extract has various health benefits because it contains several phytochemical compounds, namely flavonoids, tannins, triterpenoid, allicin and saponins. Saponin comes from the latin word "sapo" which means it contains stable foam when dissolved in water. The aim was to determine the characteristics of saponins found in chives from Pontianak. The extraction process was carried out using the maceration method with 96% methanol solvent. Analysis of saponin types using LB reagent (Lieberman burchard) and analysis of saponin levels was determined by gravimetric method. The results showed that the types of chives leaf extract saponins were triterpenoid saponins with a brown color and a distinctives odor, with an extract yield of 2,810% ± 0,116, and a stable foam measurement of 2,0 ± 0,2 and saponin levels with an average of 41,941% ± 2,374.
The Effect of Wheat Flour With Singapore Banana Flour (Musa Sp) Substitution on The Physicochemical and Organoleptic Characteristics of Cookies Walimah, Walimah; Priyono, Suko; Maherawati, Maherawati
FoodTech: Jurnal Teknologi Pangan Vol 7, No 1 (2024): May
Publisher : Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26418/jft.v7i1.79430

Abstract

Singapore banana (Musa spp) is the local name for the 40-day banana. Other types of bananas that are similar to Singapore bananas are barlin and berlin bananas. Cookies are a bakery product that is popular in all circles and is widely consumed by the public because it has an attractive taste and shape. The aim of this research is to find out the right formulation to produce Singapore banana flour and wheat flour cookies. The characteristics observed include water content, ash, potassium, vitamin C, color value and organoleptic tests. This research design used the Randomized Block Design (RAK) method which consisted of 6 treatments with the formulation of wheat flour : Singapore banana flour, namely (100% : 0%), (80% : 20%), (60% : 40%), (40% : 60%), (20% : 80%) and (0% : 100%). Data on physicochemical characteristics were analyzed using the ANOVA test at 5% level, if it had an effect, it was continued with the Honestly Significant Difference (BNJ) test at 5% level, while the organoleptic test was analyzed using the Kruskal Wallis method and the effectiveness index test using the De Gharmo method. Based on the research results, it can be concluded that the use of Singapore banana flour as an ingredient for making cookies with a formulation of 60% added wheat flour with 40% Singapore banana flour is the best formulation. The resulting cookies contain water content 6,38%, ash content 2,50%, potassium 512,5 mg/100 g, vitamin C 0,574 mg/100 g, color L* worth 43,13, color a* worth 5,38, color b* is worth 16,2. The best organoleptic tests for cookies were color score 3,87 (somewhat like), aroma score 3,77 (somewhat like), texture score 4 (like) and taste score 4 (like).
Perubahan nutrisi ikan asam pedas dalam retort pouch dengan variasi waktu sterilisasi Mutma'innah, Mustika Nindiya; Maherawati, Maherawati; Rahayuni, Tri
Jurnal Agrotek Ummat Vol 9, No 2 (2022): April
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/jau.v9i2.8247

Abstract

Asam pedas is a soupy food with spices and the main ingredient is thick-fleshed river fish. This food has a low shelf-life, so it is necessary to apply sterilization technology. This research uses catfish as the main ingredient and retort pouch as packaging. This study aimed to determine the best sterilization time for catfish’s asam pedas using retort pouch packaging based on physicochemical and microbiological characteristics. The sterilization time used is 5, 10, 15, 20, and 25 minutes. Parameters observed were fat, protein, pH, thiobarbituric acid (TBA), texture, and Total Plate Count (TPC). The results showed that the sterilization time did not affect fat content, protein content, hardness level, TBA value, and the number of microbes, but the sterilization time significantly affected the pH value of catfish’s asam pedas packaged in retort pouches. Overall, the sterilization process carried out in this study did not change the physicochemical and microbyological characteristics of the catfish’s asam pedas. The best treatment in this study was a sterilization time of 25 minutes with a TPC value of 6.14 x 106 CFU/ml, the protein content of 11.89%, the hardness level of 178.81 gf, the pH value of 6.11, the fat content of 6.27%, and the TBA content of 0.19 mg malonaldehyde/kg.
SURVEI MAKANAN JAJANAN TRADISIONAL KHAS KABUPATEN MEMPAWAH Manalu, Fhebyta Solafide; Maherawati, Maherawati; Hartanti, Lucky
Jurnal Sains Pertanian Equator Vol 15, No 2: In Press
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26418/jspe.v15i2.98365

Abstract

Makanan tradisional merupakan jenis makanan yang diolah secara tradisional dan didapatkan dari bahan lokal di suatu daerah. Makanan tradisional di Indonesia cukup beragam. Setiap makanan tradisional Indonesia memiliki cerita dan filosofi tersendiri di balik bahan dan cara pembuatannya. Demikian pula makanan tradisional yang berasal dari Kabupaten Mempawah Provinsi Kalimantan Barat karena dipengaruhi oleh budaya masyarakat setempat yang berasal dari etnis Dayak, Melayu, Jawa, Tionghoa, dan Madura. Makanan tradisonal di Mempawah cukup beragam dari makanan berat, jajanan dan minuman. Berdasarkan hasil survei yang dilakukan pada instansi terkait dan Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) di Kabupaten Mempawah, didapatkan tiga jenis jajanan tradisonal berupa deram, cengkarok, dan kacamate yang ditentukan dengan metode purposive sampling. Ketiga jenis jajanan tradisional tersebut lebih mudah ditemukan dan masih ada diproduksi hingga saat ini. Penelitian ini bertujuan untuk megetahui bahan dan proses pembuatan dari ketiga jajanan tradisional tersebut yang didapatkan dari hasil wawancara dengan Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) yang ada di Kabupaten Mempawah.