Claim Missing Document
Check
Articles

Found 26 Documents
Search

UJI AKTIVITAS ANTIPIRETIK INFUSA BIJI RAMBUTAN (Nephelium lappaceum L.) TERHADAP MENCIT PUTIH JANTAN (Mus musculus) Nitya Nurul Fadilah; Ali Nofriyaldi; Suna Agustine
Jurnal Ilmiah Farmako Bahari Vol 13, No 2 (2022): Jurnal Ilmiah Farmako Bahari
Publisher : Fakultas MIPA Universitas Garut

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52434/jfb.v13i2.1157

Abstract

Tanaman Rambutan (Nephelium lappaceum L.) secara empiris berkhasiat untuk pengobatan demam (antipiretik). Tujuan dari penelitian ini yaitu untuk membuktikan aktivitas antipiretik infusa biji rambutan terhadap mencit putih jantan yang diinduksi vaksin DPT-HB-Hib. Penelitian ini menggunakan metode eksperimen yang terbagi menjadi 5 kelompok perlakuan yaitu, kontrol negatif Na CMC 1%, kontrol positif parasetamol 1,3 mg/20 g BB mencit, dan tiga kelompok dosis infusa biji rambutan 37,5 mg, 75 mg, dan 150 mg/20 g BB mencit. Pengukuran suhu dilakukan selama 180 menit dengan interval 30 menit. Data yang diperoleh dianalisis dengan uji ANOVA dan uji LSD. Hasil uji ANOVA selama 180 menit diperoleh nilai p<0.05 yang artinya terdapat perbedaan penurunan suhu yang bermakna pada kelima kelompok perlakuan, sedangkan hasil uji LSD selama 180 menit, dosis paling efektif adalah dosis III sebesar 150 mg/20 g BB mencit dibandingkan dengan dosis lainnya dan tidak memiliki perbedaan yang bermakna dengan kontrol positif (parasetamol) karena memberikan pengaruh yang sebanding dalam menurunkan suhu demam pada mencit (Mus musculus).
Efektivitas Daya Antibakteri Ekstrak Etanol Buah Kapulaga (Amomum compactum Sol. Ex Maton) Terhadap Pertumbuhan Propionibacterium acnes Ali Nofriyaldi; Srie Rezeki Nur Endah; Ai Parida Mutiara
Media Informasi Vol. 19 No. 1 (2023): Mei
Publisher : Poltekkes Kemenkes Tasikmalaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1019.312 KB) | DOI: 10.37160/bmi.v19i1.123

Abstract

Bakteri Propionibacterium acnes merupakan bakteri Gram positif yang dapat menyebabkan terjadinya acne vulgaris. Kapulaga (Amomum compactum Soland Ex Maton) merupakan salah satu tanaman berkhasiat yang memiliki kandungan senyawa antibakteri yaitu flavonoid, tanin, triterpenoid dan saponin. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektivitas daya hambat ekstrak etanol buah kapulaga dalam berbagai variasi konsentrasi yaitu 5%, 10%, 15%, 20%, 25%, dan 30% terhadap bakteri Propionibacterium acnes. Penelitian ini diawali dengan pembuatan simplisia, karakterisasi simplisia dengan pengujian susut pengeringan sebesar 8,88% dan kadar air sebesar 4,96%. Skrining fitokimia dilakukan terhadap simplisia dan ekstrak secara kualitatif. Ekstrak buah kapulaga diperoleh dari proses maserasi menggunakan pelarut etanol 70% menghasilkan rendemen sebesar 6,84%. Pengujian antibakteri dengan metode difusi sumuran menunjukkan bahwa ekstrak etanol buah kapulaga memiliki aktivitas antibakteri terhadap Propionibacterium acnes dengan rata-rata diameter zona hambat pada konsentrasi 10%, 15%, 20%, 25%, 30% yaitu 12,63 mm, 13,75 mm, 14,75 mm, 16,50 mm, dan 21,88 mm. Kontrol positif menggunakan klindamisin. Semakin besar konsentrasi ekstrak yang digunakan maka semakin besar zona bening yang terbentuk sehingga daya hambatnya semakin besar. Efektivitas paling tinggi terdapat pada konsentrasi ekstrak 30% yang menunjukan kategori daya hambat yang sangat kuat
Stability Test of Gel Hand Sanitizer Ethanol Extract of Nutmeg (Pala) Leaves (Myristica fragrans Houtt.) with Variation of the Concentration of HPMC (Hydroxy Propyl Methyl Cellulose) and Glycerine Srie Rezeki Nur Endah; C Shintia; A Nofriyaldi
Journal of Food and Pharmaceutical Sciences Vol 9, No 1 (2021): J.Food.Pharm.Sci
Publisher : Institute for Halal Industry and System (IHIS) Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jfps.1150

Abstract

Daun pala (Myristica fragrans Houtt.) memiliki senyawa metabolit sekunder seperti flavonoid, saponin dan tanin. Oleh karena itu, daun pala dikembangkan ke dalam bentuk sediaan gel hand sanitizer yang berpotensi sebagai antibakteri. Dalam formulasi gel, penggunaan gelling agent dan humektan merupakan faktor penting yang dapat menghasilkan sediaan gel yang stabil. Tujuan dari penelitian ini yaitu untuk mengetahui stabilitas sediaan gel hand sanitizer ekstrak etanol daun pala dengan variasi konsentrasi HPMC dan gliserin. Gel hand sanitizer ini dibuat 3 formulasi dengan variasi HPMC dan gliserin, yaitu formula 1 (HPMC 1% : gliserin 5%), formula 2 (HPMC 1.5% : gliserin 7.5%), formula 3 (HPMC 2%, gliserin 10%). Uji stabilitas yang dilakukan terhadap sediaan menggunakan metode cycling test sebanyak 6 siklus. Berdasarkan hasil analisis cycling test 6 siklus dihasilkan bahwa formula yang memiliki stabilitas paling baik adalah formula 1 dengan variasi konsentrasi HPMC 1% dan gliserin 5%.
Uji Aktivitas Analgetik Ekstrak Biji Rambutan (Nephelium lappaceum L.) terhadap Mencit Putih Jantan Fadilah, Nitya Nurul; Nofriyaldi, Ali; Fatwa, Elsa Nur
Health Information : Jurnal Penelitian Vol 13 No 2 (2021): Juli-Desember
Publisher : Poltekkes Kemenkes Kendari

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36990/hijp.v13i2.382

Abstract

Indonesia is rich in natural ingredients that have the potential as traditional medicinal plants, one of which is rambutan (Nephelium lappaceum L.) which is empirically efficacious as a pain treatment. The purpose of this study was to determine the analgesic activity of the ethanol extract of rambutan seeds and to determine the optimal dose of rambutan seed extract as an analgesic for white male mice. Rambutan seeds contain several main compounds such as flavonoids, tannins and saponins which are known to have analgesic activity. Rambutan extraction was carried out by maceration method using 70% ethanol, then phytochemical screening tests and extract drying shrinkage were carried out. Analgesic activity testing was carried out as many as 25 male white mice weighing 20-30 grams were divided into 5 groups. The treatment was carried out by administering the preparation between the negative control groups given 1% Na-CMC suspension. The positive control group or the comparison group were given paracetamol 1.3 mg/20 g BW of mice. The test dose group was given various doses of rambutan seed extract 37.5 mg, 75 mg, and 150 mg/20 g BW. Then observed stretching for 60 minutes, obtained the average stretch. The data obtained were analyzed by ANOVA test and LSD further test. The most effective dose is dose II 75 mg/20 g BW of mice. The results of this study are expected to prove that rambutan extract can empirically be useful as an alternative medicine for pain treatment.
Uji Aktivitas Gel Ekstrak Etanol Daun Teh Tehan (Acalypha siamensis) Terhadap Luka Sayat Pada Mencit Putih Jantan (Mus musculus) Fadilah, Nitya Nurul; Fadhilah, Siti Khoirul; Nofriyaldi, Ali
Jurnal Farmasi SYIFA Vol 2 No 2 (2024): Jurnal Farmasi SYIFA
Publisher : CV. Wadah Publikasi Cendekia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.63004/jfs.v2i2.451

Abstract

Tanaman Teh tehan (Acalypha siamensis) mengandung senyawa flavonoid yang mampu membantu proses penyembuhan luka. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui aktivitas penyembuhan luka sayat ekstrak etanol daun teh tehan dalam pemberian sediaan gel terhadap mencit putih jantan. Sampel terdiri dari 25 ekor mencit (5 kelompok), yang meliputi: kontrol negatif (basis gel), kelompok kontrol positif (ekstrak placetan 10% dan neomisin sulfat 0,5%), kelompok FI (5%), kelompok FII (10%), dan kelompok FIII (20%). Data yang didapatkan berupa nilai penyembuhan panjang luka sayat pada punggung mencit. Data hasil rata-rata penyembuhan luka sayat pada kontrol positif 6,8 hari, hasil kontrol negatif 12,8 hari, FI (5%) adalah 11 hari, FII (10%) 10 hari, dan FIII (20%) 7,2 hari. Berdasarkan lama penyembuhan luka, gel ekstrak etanol daun teh tehan pada kelompok FIII lebih baik dalam mempercepat proses penyembuhan luka sayat dibandingkan FI dan FII. Hasil analisis statistik dengan One way ANOVA (Analysis Of Variance) dikatakan signifikan (ρ<0,05).
UJI AKTIVITAS ANTIJAMUR SABUN PEMBERSIH KEWANITAAN EKSTRAK DAUN SALAM (Syzygium polyanthum (Wight) Walp.) TERHADAP Candida albicans ANTIFUNGAL ACTIVITY OF FEMININE HYGIENE BAY LEAF EXTRACT (Syzygium Polyanthum (Wight) Walp.) AGAINST Candida albicans Yanti, Dila; Agustien, Gina Septiani; Nofriyaldi, Ali
Farmasains : Jurnal Ilmiah Ilmu Kefarmasian Vol. 11 No. 1 (2024)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Prof. DR. HAMKA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22236/farmasains.v11i1.12694

Abstract

Daun salam (Syzygium polyanthum (Wight) Walp.) merupakan tanaman yang memiliki aktivitas antijamur terhadap C. albicans. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi sifat fisik formulasi sediaan sabun cair pembersih kewanitaan ekstrak daun salam dan aktivitasnya dalam menghambat pertumbuhan C. albicans. Sediaan dibuat 3 formula dengan konsentrasi ekstrak daun salam 6%, 9% dan 12%. Ekstrak daun salam dibuat dengan cara maserasi menggunakan pelarut etanol 96% dan diperoleh ekstrak kental sebanyak 22,74%. Uji aktivitas antijamur dilakukan dengan metode difusi sumuran menggunakan media Potato Dextrose Agar. Evaluasi fisik sediaan meliputi organoleptis, homogenitas, pH, tinggi busa, dan viskositas. Hasil pengujian menunjukkan sediaan sabun pembersih kewanitaan ekstrak daun salam telah memenuhi standar uji evaluasi fisik dan memiliki aktivitas antijamur. Diameter zona hambat sabun pada konsentrasi ekstrak 6% dan 9% secara berurutan adalah 6,84 mm dan 8,60 mm, yang termasuk klasifikasi respon daya hambat sedang. Sementara itu, konsentrasi 12% memiliki diameter zona hambat sebesar 11,92 mm dengan klasifikasi respon daya hambat kuat.
Karakterisasi Sediaan Gel Face Scrub Yang Mengandung Variasi Ampas Kelapa (Cocos nucifera L.) Sebagai Exfoliating Nofriyaldi, Ali; Endah, Srie Rezeki Nur; Aida, Yopi
Jurnal Farmasi Sains dan Terapan (Journal of Pharmacy Science and Practice) Vol 11, No 1 (2024): February
Publisher : Jurnal Farmasi Sains dan Terapan (Journal of Pharmacy Science and Practice)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33508/jfst.v11i1.4926

Abstract

Ampas Kelapa (Cocos  nucifera L.) merupakan sumber protein rendah lemak bebas gluten yang membantu menjaga kulit tetap terhidrasi. Tujuan penelitian ini yaitu untuk memformulasikan ampas kelapa kedalam bentuk sediaan gel face scrub dan mengetahui stabilitas sediaan gel face scrub ampas kelapa. Metode yang digunakkan dalam penelitian ini yaitu metode eksperimental dengan membuat sediaan gel face scrub dengan variasi konsentrasi dari ampas kelapa (Cocos  nucifera L.) sebagai exfoliating. Hasil pengujian sediaan gel face scrub ampas kelapa variasi konsentrasi 3%, 6% dan 9% pada pengujian organoleptis sediaan berbentuk gel, bau ampas kelapa dan berwarna putih, dan putih kecoklatan, sediaan homogen, nilai pH memenuhi syarat yang ditentukan 4,5-6,5, daya sebar berkisar antara 5-7 cm, daya lekat berkisar lebih dari 1 detik, dan untuk viskositas masuk kedalam rentang standar yaitu antara 2000-4000 Cp.
Formulasi dan Uji Aktivitas Sediaan Plester Hidrogel Ekstak Etanol Daun Randu (Ceiba pentandra (L.) Gaertn) sebagai Antipiretik: Formulation and Activity Test of Ethanol Extract Hydrogel Fever Patch Randu (Ceiba pentandra (L.) Gaertn) Leaf as Antipyretic Ratih Purwasih; Srie Rezeki Nur Endah; Ali Nofriyaldi
Jurnal Sains dan Kesehatan Vol. 5 No. 6 (2023): J. Sains Kes.
Publisher : Fakultas Farmasi, Universitas Mulawarman, Samarinda, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25026/jsk.v5i6.2030

Abstract

Antipyretics are drugs that work by suppressing body temperature in a state of fever. Randu leaf (Ceiba pentandra (L.) Gaertn) is one of the plants that has activity as an antipyretic and can be formulated in the form of fever-reducing hydrogel patch transdermal preparations. This study aims to determine the physical properties of hydrogel patch drug of ethanol extract of randu leaves and to determine the antipyretic activity of hydrogel plaster preparations of ethanol extract of randu leaves against male white rat test animals (Rattus norvegicus) induced with 5% peptone. The method used is experimental method. The extract was formulated into a hydrogel plaster preparation with a dose variation of 150 mg (FI), 300 mg (FII), and 600 mg (FIII). Evaluation tests were carried out on preparations such as organoleptic, pH, weight uniformity, folding resistance, preparation thickness, and moisture absorption. The results showed that the ethanol extract of randu leaf can be formulated into a hydrogel plaster dosage form that meets the physical evaluation requirements. The antipyretic activity test of randu leaf ethanol extract has a percent (%) of antipyretic activity in FI (150 mg) of 1.91%, in FII (300 mg) of 2.93% and FIII (600 mg) with a percent (%) of 3.25%. This study can be concluded that the preparation of hydrogel plaster ethanol extract of randu leaves has met the requirements of a good evaluation and has the best antipyretic activity in formula III (600mg) with a percent (%) antipyretic activity of 3.25%. Keywords:          Antipyretic, Randu leaf, Fever, Hydrogel patch, Transdermal drug   Abstrak Antipiretik merupakan obat yang bekerja dengan cara menekan suhu tubuh pada keadaan demam. Daun randu (Ceiba pentandra (L.) Gaertn) ialah salah satu tanaman yang memiliki aktivitas sebagai antipiretik dan berpotensi diformulasikan dalam bentuk sediaan transdermal plester hidrogel penurun demam. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui sifat fisik sediaan plester hidrogel ekstrak etanol daun randu dan mengetahui aktivitas antipiretik sediaan plester hidrogel ekstrak etanol daun randu terhadap hewan uji tikus putih jantan (Rattus norvegicus) yang diinduksi dengan pepton 5%. Metode yang digunakan yaitu metode eksperimental. Ekstrak diformulasikan menjadi sediaan plester hidrogel dengan variasi dosis 150 mg (FI), 300 mg (FII), dan 600 mg (FIII). Dilakukan pengujian evaluasi sediaan seperti organoleptik, pH, keseragaman bobot, ketahanan lipat, ketebalan sediaan, dan daya serap kelembaban. Hasil penelitian menunjukan ekstrak etanol daun randu dapat diformulasikan dalam bentuk sediaan plester hidrogel yang memenuhi persyaratan fisik evaluasi. Uji aktivitas antipiretik ekstrak etanol daun randu memiliki persen (%) aktivitas antipiretik pada FI (150 mg) sebesar 1,91%,  pada FII (300 mg) sebesar 2,93% dan FIII (600 mg) dengan persen (%) sebesar 3,25%. Penelitian ini dapat disimpulkan bahwa sediaan plester hidrogel ekstrak etanol daun randu telah memenuhi persyaratan evaluasi yang baik dan memiliki aktivitas antipiretik terbaik pada formula III (600mg) dengan persen (%) aktivitas antipiretik 3,25%. Kata Kunci:         Antipiretik, Daun randu, Demam, Plester hidrogel, Sediaan transdermal
A UJI AKTIVITAS ANTIOKSIDAN SEDIAAN LIP BALM EKSTRAK ETANOL DAUN KEJI BELING (Strobilanthes crispus Blume) MENGGUNAKAN METODE DPPH (2,2-difenil-1-pikrihidrazil) Sinta Nuraesa; Susanti Susanti; Ali Nofriyaldi
Berkala Ilmiah Kimia Farmasi Vol. 11 No. 2 (2024): December
Publisher : Universitas Airlangga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20473/bikfar.v11i2.62646

Abstract

Keji beling leaves contained compounds that have the potential to act as moisturizers, namely flavonoids with catechins that function as high antioxidants in preventing free radicals. Keji beling leaf extract can be used as a preparation to overcome dry lips, namely as a moisturizer in the form of lip balm preparations. The purpose of this study was to formulate a lip balm from ethanol extract of keji beling leaves, and to determine the antioxidant activity. This research method included 70% ethanol extract of keji beling leaves with the maceration method and antioxidant activity, namely the DPPH method (2,2-diphenyl-1-picrylhydrazyl) with Vitamin C as a positive control (comparator). The results showed that formula 3 lip balm preparations with 70% ethanol extract of keji beling leaves had antioxidant activity with an IC50 value of 3.12 ppm in the very strong category.   Keywords:  Antioxidant, Keji Beling Leaves (Strobilanthes crispus Blume), DPPH (2,2-diphenyl-1-picrylhydrazyl), Lip Balm
FORMULASI DAN UJI AKTIVITAS SEDIAAN TRANSDERMAL PATCH EKSTRAK BIJI RAMBUTAN (Nephelium lappaceum L) TERHADAP TIKUS PUTIH JANTAN (Rattus norvegicus strain wistar) SEBAGAI ANALGETIK Srie Rezeki Nur Endah; Ali Nofriyaldi; Elin
Jurnal Ilmiah Ibnu Sina (JIIS): Ilmu Farmasi dan Kesehatan Vol 9 No 2 (2024): JIIS
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan ISFI Banjarmasin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36387/jiis.v9i2.1582

Abstract

The rambutan plant has anti-pain characteristics based on empirical evidence.  Flavonoids, tannins, and saponins, which are known to have analgesic effect, are found in rambutan seeds. The purpose of this study was to assess the analgesic effectiveness of rambutan seed extract transdermal patch formulation and the most effective dose for male white rats. The maceration process with 70% ethanol is used to extract rambutan seeds for the research. Analgesic activity testing was performed on 25 male white mice divided into five groups, with group 1 serving as a negative control and receiving a 1% Na-CMC patch. Group II, as a positive control or comparison, was applied with Salonpas Pain Relief Patch 10%. Group III: As a test dose, I was attached to a patch of rambutan seed extract with a concentration of 1%. Group IV, as test dose II, had a patch of rambutan seed extract with a concentration of 2% applied to it. Group V, as test dose III, had a patch of rambutan seed extract with a concentration of 4% applied to it. The test preparation was administered transdermally, while 1% acetic acid was administered intraperitoneally 15 minutes after administration of the test preparation. Observe the stretching process every 5 minutes for 60 minutes. The research results on the analgesic activity of the test doses were 83.50%, 93.81%, and 42.26%, respectively. These results show that the most effective dose is dose II with a concentration of 2%.