Claim Missing Document
Check
Articles

Found 34 Documents
Search

HUBUNGAN ASUPAN LEMAK DAN ZINK DENGAN KEBUGARAN JASMANI PADA REMAJA DI SMK WIDYA PRAJA UNGARAN Azimah, Uly; Mulyasari, Indri Mulyasari; Purbowati
JURNAL GIZI DAN KESEHATAN Vol 10 No 24 (2018): JURNAL GIZI DAN KESEHATAN
Publisher : UNIVERSITAS NGUDI WALUYO

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35473/jgk.v10i24.35

Abstract

Background :Physical fitnessis expected to have a dole scence making itable to work effectively and efficiently, easily absorba lesson,not susceptible to the disease and can perform optimally both in the field of education as well as in the field of sport. One of the nutrients that can affect the level of physical fitness that is fat in take and zink. Purpose :This research aims to know the correlation between of fat in take and physical fitness with zink in a dolescence. Methods: The design ofthis researchis a cross-sectional students witha method that is122. Fat intake and zink in size with the method of total sampling method of semiquantitativeFFQ consumptions urveys. Physical fitnessis measured by the method of Multistage Fitness Test(VO2max), analysis using the spearman rank correlation between test(α=0.05). Results: The mean fat in take on adole scence that is 72.2%±0,85%, zinc intake mean 7.64%, ±2,89% and physical fitness 26.59%± 6,31%.Bivariat analysis shows that there is no correlation between fat intake with physical fitness (p=0.493)where asatthe in take bivariate analysis using zink showed no correlation with physical fitness zini intake (p =0,033). Conclussion :There is no correlation between is no of fat intake with physical fitness in youth,and there is correlation between of physical fitness with zinc intake in adolescence Abstrak : Latar Belakang: Remaja diharapkan memiliki kebugaran jasmani sehingga mampu bekerja secara efektif dan efisien, mudah menyerap pelajaran, tidak mudah terserang penyakit dan dapat berprestasi secara optimal baik dibidang pendidikan maupun dibidang olahraga. Salah satu zat gizi yang dapat mempengaruhi tingkat kebugaran jasmani yaitu asupan lemak dan zink. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan asupan lemak dan zink dengan kebugaran jasmani pada remaja. Metode: Rancangan penelitian ini adalah cross-sectional dengan metode total sampling yaitu 122 siswa. Data asupan lemak dan zink di ukur dengan metode survei konsumsi FFQ semi kuantitatif. Kebugaran jasmani diukur dengan metode Multistage Fitnes Test yaitu VO2max. Analisis data menggunakan uji korelasi Spearman Rank (α = 0,05). Hasil: Rerata asupan lemak pada remaja yaitu 72,2%± 0,85%, rerata asupan zink yaitu 7,64% ± 2,89%dan rerata kebugaran jasmani 26,59% ± 6,31%. Tidak ada hubungan antara asupan lemak dengan kebugaran jasmani (p=0,493). Ada hubungan asupan zink dengan kebugaranjasmani (p=0,033). Simpulan:Tidak ada hubungan asupan lemak dengan kebugaran jasmani pada remaja, dan ada hubungan asupan zink dengan kebugaran jasmani pada remaja.
HUBUNGAN ANTARA ASUPAN ENERGI DAN ZAT GIZI MAKRO DENGAN KESEGARAN JASMANI PADA ATLET PPLOP PROVINSI JAWA TENGAH Adisoejatmien, Aulia Demalla; Pontang, Galeh Septiar; Purbowati
JURNAL GIZI DAN KESEHATAN Vol 10 No 23 (2018): JURNAL GIZI DAN KESEHATAN
Publisher : UNIVERSITAS NGUDI WALUYO

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35473/jgk.v10i23.40

Abstract

Background :physical fitness is the ability to perform physical activity without causing a significant fatigue. For athletes, the availability of nutrient intake is very important in supporting the physical endurance so as not to get tired quickly. Objective: The purpose of this study was to determine the relationship between energy intake and macro nutrients with physical fitness at the athlete. Method :This research used descriptive correlation method and research approach used cross sectional with 46 samples of athletes. Nutritional intake was measured by semiquantitative FFQ consumption survey method, while physical fitness was tested Indonesian Physical Freshness Test (TKJI). Bivariate analysis using pearson product moment and spearman method. Results :Average energy intake of athletes 89.76%, carbohydrate intake 85.89%, 94.72% protein intake, and fat intake 91.72%. While the average physical fitness test is a score of 19.41. Bivariate analysis showed that there was correlation between energy intake and fat intake with physical fitness with p = 0,009 and p = 0,008 respectively and there was no correlation between carbohydrate intake and protein intake with physical fitness with each value p = 0,119 and p = 0.295. Conclusion :There is a relationship of energy intake and fat intake with physical fitness and no relationship between carbohydrate intake and protein intake with physical fitness Abstrak : Latar belakang: Kesegaran jasmani adalah kemampuan melakukan aktivitas fisik tanpa menimbulkan suatu kelelahan yang berarti Bagi atlet, ketersediaan asupan gizi sangat penting dalam menunjang daya tahan fisik agar tidak cepat lelah. Tujuan: Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan antara asupan energi dan zat gizi makro dengan kesegaran jasmani pada atlet. Metode: penelitian ini menggunakan metode deskriptif korelasi dan pendekatan penelitian yang digunakan cross sectional dengan 46 sampel atlet PPLOP. Asupan gizi diukur dengan metode survei konsumsi FFQ semi kuantitatif, sedangkan kesegaran jasmani diuji Test Kesegaran Jasmani Indonesia (TKJI). Analisis bivariat menggunakan metode pearson product moment dan spearman (α > 0,05). Hasil: Rata-rata asupan energi atlet 89,76%, asupan karbohidrat 85,89%, asupan protein 94,72%, dan asupan lemak 91,72%. sedangkan rata-rata test kesegaran jasmani adalah skor 19,41. Analisis bivariat menunjukkan bahwa ada hubungan asupan energi dan asupan lemak dengan kesegaran jasmani dengan masing-masing nilai p=0,009 dan p=0,008 dan tidak ada hubungan asupan karbohidrat dan asupan protein dengan kesegaran jasmani dengan masing-masing nilai (p=0,119) dan p=0,295. Kesimpulan: Terdapat hubungan asupan energi dan asupan lemak dengan kesegaran jasmani dan tidak ada hubungan asupan karbohidrat dan asupan protein dengan kesegaran jasmani.
PENGARUH PEMBERIAN JUS CAMPURAN TOMAT (Solanum lycopersicum) DAN PISANG AMBON (Musa Paradisiaca,Linn) TERHADAP PENURUNAN HIPERTENSI USIA 46-65 TAHUN DI DESA NYATNYONO KECAMATAN UNGARAN BARAT KABUPATEN SEMARANG Putri, Baiq Riski Amalina; Maryanto, Sugeng; Purbowati
JURNAL GIZI DAN KESEHATAN Vol 10 No 23 (2018): JURNAL GIZI DAN KESEHATAN
Publisher : UNIVERSITAS NGUDI WALUYO

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35473/jgk.v10i23.41

Abstract

Background :Hypertension is one of the main risk factors forstroke, heart attack, heart failure, arterial aneurysm and chronic heart failure.Anon-pharmacological management to lower blood pressure is by doing applying pattern containing high potassium and low sodium. star fruit Tomato and banana are the foods that are high inpotassiumandlowinsodium. Objective :To know how the granting of tomato juice (Solanum lycipersicum) mix of pisang ambon (Musa Paradisiaca, Linn) against a decrease in blood pressure in women aged 45-65 years old hypertension sufferersin the village of nyatnyono sub-district of ungaran west Regency semarang. Methods :The study was quasi experimental design using prepost test with control group design to 21 respondents, given mixed tomato and banana juice much as 296 ml that made from 200 grams of tomatoes 50 g banana, 50 ml of water, and given 2 x a day for 7 consecutive days Results: The mean of systolic and diastolic blood pressure before drinking mixed tomat and of banana juice was 154 ± 7.54 mmHg and 96 ± 4.97, after drinking tomato juice mixture of banana ambon decreased to 137.38 ± 5.509 mmHg and 86.57 mmHg. Bivariat analysis showed that there was a corelation between mixed tomato and banana juice to reduce blood pressure(p=0.0001). Conclusion :Giving of tomato juice (Solanum lycipersicum) mix of pisangambon (Musa Paradisiaca, Linn) to reduce blood pressure Abstrak : Latar Belakang : Hipertensi merupakan salah satu faktor resiko utama penyebab penyakit stroke, serangan jantung, gagal jantung, anerurisma arterial dan gagal jantung kronis. Penatalaksanaan non farmakologi untuk menurunkan tekanan darah, salah satunya merupaka pola makan tinggi kalium dan rendah natrium. Buah tomat dan pisang merupaka makanan yang tinggi kalium dan rendah natrium. Tujuan : Untuk mengetahui pengaruh pemberian jus tomat (Solanum lycipersicum) campuran pisang ambon (Musa Paradisiaca,Linn) terhadap penurunan tekanan darah pada perempuan usia 45-65 tahun penderita hipertensi di desa nyatnyono kecamatan ungaran barat kabupaten semarang. Metode : Penelitian ini menggunakan quasi eksperimental, pengambilan sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode consecutive sampling, yaitu semua subyek yang datang dan memenuhi kriteria pemilihan dimasukan dalam penelitian sampai jumlah subyek yang diperlukan terpenuhi Kemudian, pengelompokan kelompok kontrol dan perlakuan di lakukan dengan menggunakan simple random sampling.Jumlah responden 21 orang, diberikan jus tomat campuran pisang ambon sebanyak 296 ml yang berasal dari 200 gram tomat 50 gram buah pisang dan 50 ml air yang di berikan 2 x sehari selama 7 hari berturut – turut. p < α (α= 0,05). Hasil : Tekanan darah sistolik dan diastolik rerata sebelum pemberian jus tomat campuran pisang ambon yaitu 154 ± 7,54 mmHg dan 96 ± 4,97, sesudah pemberian jus tomat campuran pisang ambon mengalami penurunan menjadi 137,38 ± 5,509 mmHg dan 86,57 mmHg analisis bipariat menunjukkan bahwa ada pengaruh pemberian jus tomat campuran pisang ambon terhadap penurunan tekanan darah ( p = 0,0001 ). Kesimpulan: Pemberian jus tomat (Solanum lycipersicum) campuran pisang ambon (Musa Paradisiaca,Linn) berpengaruh terhadap penurunan tekanan darah.
DAYA TERIMA FORMULASI MINUMAN BERBAHAN KEDELAI DAN LABU KUNING Liestyaningsih, Chori’ah; Maryanto, Sugeng; Purbowati
JURNAL GIZI DAN KESEHATAN Vol 10 No 23 (2018): JURNAL GIZI DAN KESEHATAN
Publisher : UNIVERSITAS NGUDI WALUYO

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35473/jgk.v10i23.42

Abstract

Background: Functionalfood is food or drinks that contains ingredients that can improve health status and prevent certain diseases as well as acceptable in knowledge. Some functional foods high in antioxidants are soy and pumpkin. Objectives :The research aimed to describe the acceptability, nutritional value and antioxidant activity of soybean based and pumpkin. Methods: This research used experimental design of randomized complete design approach with one factor. The samplestested were formulations of 1 (25% soybeans + 75% pumpkin), formulation 2(50% soybeans + 50% pumpkin), and formulation 3 (75% soybeans + 25% pumpkin). Data analysis was a descriptive analysis of percentages and descriptive analysis statistic frequency. Results :Accaptability from the three formulations obtained the highest results formulation 1 : 78.59% the category is likes, then formulation 2 : 69.69% the category is likes, and the lowest formulation 3 : 51.75% category is neutral. Nutritional analysisiresults were known in the formulations 1 contains carbohydrates lavels were 9.35%, dieatary fiber was 3.50% and asl was 3.89% which was bigger while the formulation 3 had protein was 4.65%, fat 2.81%, and water 36.32% which was higher. While the total highest energy was on on formulation 2 was 69.71 kcal/100 grams. The highest antioxidant activity was in formulation 1: 22.408%, then the formulation 2 : 20.201%, and the lowest is formulation 3: 19.766%. Conclusion : Third formulation of drinks made from soy and pumpkin can be accepted. Nutrient content on the levels of carbohydrates, fiber, and highest asl is in formulation 1, levels of protein, fat, and water at the highest is in formulation 3, and the greatest total energy is in formulation 2, whereas the highest antioxidant activityis informulation1. Abstrak : Latar Belakang: Pangan fungsional merupakan makanan atau minuman yang mengandung bahan-bahan yang dapat meningkatkan status kesehatan dan mencegah penyakit tertentu serta dapat diterima secara sensori. Beberapa pangan fungsional tinggi antioksidan adalah kedelai dan labu kuning. Tujuan Penelitian: Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan daya terima, nilai gizi dan aktivitas antioksidan formulasi minuman berbahan kedelai dan labu kuning. Metode : Penelitian ini menggunakan desain eksperimental dengan pendekatan rancangan acak lengkap satu faktor. Sampel yang diuji coba adalah formulasi 1 (kedelai 25% + labu kuning 75%), formulasi 2 (kedelai 50% + labu kuning 50%), dan formulasi 3 (kedelai 75% + labu kuning 25%). Analisis data yang digunakan adalah analisis deskriptif persentase dan analisis deskriptif statistik frekuensi. Hasil : Daya terima dari tiga formulasi diperoleh hasil tertinggi formulasi 1 : 78,59% suka, lalu formulasi 2 : 69,69% suka, dan terendah formulasi 3 : 51,75% netral. Kandungan nilai gizi dari formulasi 1 memiliki kadar karbohidrat 9,35%, serat kasar 3,50% dan abu 3,89% lebih besar dan formulasi 3 memiliki kadar protein yaitu 4,65%, lemak 2,81%, dan air 36,32% lebih tinggi. Dengan total energi tertinggi pada formulasi 2 : 69,71 kkal/100 gram. Aktivitas antioksidan tertinggi formulasi 1 : 22,408%, lalu formulasi 2 : 20,201%, dan terendah formulasi 3 : 19,766%. Simpulan : Ketiga formulasi minuman berbahan kedelai dan labu kuning dapat diterima. Kandungan gizi pada kadar karbohidrat, serat kasar, dan abu tertinggi pada formulasi 1, kadar protein, lemak, dan air tertinggi pada formulasi 3, dan total energi terbesar pada formulasi 2, sedangkan akvitas antioksidan tertinggi pada formulasi 1.
HUBUNGAN ASUPAN ZAT GIZI MAKRO DENGAN OBESITAS SENTRAL PADA TENAGA KERJA LAKI-LAKI Purbowati; Afiatna, Puji
JURNAL GIZI DAN KESEHATAN Vol 10 No 23 (2018): JURNAL GIZI DAN KESEHATAN
Publisher : UNIVERSITAS NGUDI WALUYO

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35473/jgk.v10i23.46

Abstract

Background of the study : Central obesity is a factor causing degenerative diseases and can lower work productivity. Excessive energy intake from macro nutrients can cause the accumulation of fat below the skin in the stomach called as central obesity. Purpose :It aimed to analyzethe correlation between the intake of macro nutrients and central obesity in male workers. Method: This research used descriptive-correlative design using cross-sectional approach. The subjects of this research were male workers aged 19-45 years at CV. Karoseri Laksana Semarang as many as 85 people taken by using the method of consecutive sampling. Central obesity was measured based on the waist circumference. The data of the intake was taken from the interview using Semi Quantitative Food Frequency Questionnaire (SQFFQ). Bivariat analysis used the correlation test of Kendal tau (a = 0.05) Results: The workers suffering from central obesity were 26 people (30.1%). The workers having excessive carbohydrate intake were 51.8%, excessive fat intake were 45.%, and excessive protein intake were 53.4%. Conclusion: There is a significant correlation between fat and carbohydrate intake and central obesity, while there is no significant correlation between protein intake and central obesity Abstrak : Latar Belakang : Obesitas sentral merupakan faktor penyebab terjadinya penyakit degeneratif dan dapat menurunkan produktivitas kerja. Asupan energi berlebih dari zat gizi makro menyebabkan penumpukan lemak bawah kulit termasuk di bagian perut yang disebut obesitas sentral. Tujuan :Penelitian ini bertujuan untuk menganalisa hubungan asupan zat gizi makro dengan kejadian obesitas sentral pada tenaga kerja laki-laki. Metode : Penelitian ini menggunakan desain deskriptif korelasi dengan pendekatan cross-sectional. Subjek penelitian adalah tenaga kerja laki-laki berusia 19 - 45 tahun di CV. Karoseri Laksana Semarang sejumlah 85 orang yang diambil dengan metode consecutive sampling. Obesitas sentral ditentukan berdasarkan lingkar pinggang. Data asupan diambil dengan wawancara menggunakan Semi Quantitative Food Frequency Questionnair (SQFFQ). Analisis bivariat menggunakan uji korelasi Kendal tau (a = 0.05). Hasil: Tenaga kerja yang mengalami obesitas sentral sejumlah 26 orang (30.1%). Tenaga kerja yang mempunyai asupan karbohidrat kategori lebih yaitu 51,8%, asupan lemak kategori lebih 45.9% dan asupan protein kategori lebih yaitu 53,4%. Simpulan :Terdapat berhububungan bermakna antara asupan lemak dan karbohidrat dengan obesitas sentral , sedangkan tidak ada berhubungan bermakna antara asupan protein dengan obesitas sentral.
HUBUNGAN LINGKAR LENGAN ATAS DENGAN INDEKS MASSA TUBUH PADA DEWASA MUDA Prihandini, Kurnia Dwi; Purbowati; Mulyasari, Indri
JURNAL GIZI DAN KESEHATAN Vol 11 No 26 (2019): JURNAL GIZI DAN KESEHATAN
Publisher : UNIVERSITAS NGUDI WALUYO

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35473/jgk.v11i26.53

Abstract

Background:Body Mass Index (BMI) is widely used as nutritional status indicator in adults. People who can not be measured their actual body weight and height are need other measurements as alternatives. Mid-Upper Arm Circumference (MUAC) is one of indicators that can be used to estimate BMI in adults. Objective :To analyze the correlation between MUAC and BMI in young adults. Method:This research was using correlation study with cross sectional approach.The population of this study was students of Health Sciences and Nursing Faculty of Ngudi Waluyo University aged 19-29 years. 303 samples were taken by disproportionate random sampling method. MUAC was measured using metlineon the supine position and BMI value obtained by body weight (kg) divided by body height (m)squared measured on the standing position. Analysis data was using spearman rho (α = 0,05). Results : The mean of respondents MUAC is 254,00 ± 38,2 mm, with lowest MUAC 186,00 mm and highest 412,00 mm. The mean of respondents BMI is 22,45 ± 4,6kg/m2, with lowest BMI 15,17 kg/m2 and highest 45,63 kg/m2. There is a correlation between MUAC and BMI in young adults (p=0,0001). Conclusion :There is a correlation between MUAC and BMI in young adults. Abstrak : Latar Belakang : Indikator penilaian status gizi pada dewasa dengan menggunakan Indeks Massa Tubuh (IMT). Namun, pada individu yang tidak dapat diukur tinggi badan dan ditimbang berat badan secara aktual diperlukan indikator lain. Salah satu indikator lain untuk memperkirakan IMT yaitu Lingkar Lengan Atas (LILA) Tujuan : Mengetahui hubungan LILA dengan IMT pada dewasa muda. Metode : Jenis penelitian ini merupakan studi kolerasi menggunakan pendekatan cross sectional. Populasi yang digunakan yaitu mahasiswa Fakultas Ilmu Kesehatan dan Fakultas Keperawatan Universitas Ngudi Waluyo yang berusia 19-29 tahun. Sampel sebanyak 303 responden diambil menggunakan metode disproportionate random sampling. LILA di ukur dengan menggunakan metline pada posisi berbaring dan nilai IMT diperoleh dengan berat badan (kg) dibagi tinggi badan (m) kuadrat yang diukur pada posisi berdiri. Analisis data dengan menggunakan uji kolerasi Spearman rho (α = 0,05). Hasil : Rata-rata LILA responden yaitu 254,00 ± 38,2 mm, LILA terendah 186,00 mm dan tertinggi 412,00 mm. Rata-rata IMT responden yaitu 22,45 ± 4,6 kg/m2 . IMT terendah 15,17 kg/m2 dan tertinggi 45,63 kg/m2 . Ada hubungan LILA dengan IMT pada dewasa muda (p=0,0001). Simpulan : Ada hubungan LILA dengan IMT pada dewasa muda
HUBUNGAN ANTARA KONSUMSI AIR PUTIH DENGAN DENYUT NADI PADA TENAGA KERJA PRIA DI CV LAKSANA KAROSERI SEMARANG Sancitawati, Ni Komang Agnes; Mulyasari, Indri; Purbowati
JURNAL GIZI DAN KESEHATAN Vol 11 No 26 (2019): JURNAL GIZI DAN KESEHATAN
Publisher : UNIVERSITAS NGUDI WALUYO

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35473/jgk.v11i26.54

Abstract

Background:The workload differences among workers is depend on type and duration of work. Pulse rate is one of indicators of workload. The lack of water intake isone of that increase pulse rate. Objective :To analyze association between water intake and pulse rate, on male workers in CV Laksana Karoseri Semarang. Method:The population of this study was male workers in the production section. The sample 98 respondents taken by Random sampling technique.Data analysis used Spearman Rankcorrelation test(a=0.05).This research was descriptive correlational study with cross sectionalapproach,water intake was measured using recall-24 hours method pulse rate was measured using 10 pulse method. Results:Water intake was 60.2% (59 respondents) were a adequate level of water intake and 39.8% (39 respondents) were less intake.The workload of respondents categorized as non-fatigue is 66.3% (65 respondents), 26.5% (26 respondents), weight 6.1% (6respondents) and very heavy 1.0% (1 respondent).There is no correlation between water intake and pulse rate on male workers in CV Laksana Karoseri Semarang (p= 0,862). Conclusion :There is no correlation between water intake and pulse rate on male workers in CV Laksana Karoseri Semarang. Abstrak : Latar Belakang : Beban pekerjaan pada tenaga kerja berbeda tergantung pada jenis dan lama pekerjaan yang dilakukan, denyut nadi dipakai sebagai indikator untuk mengetahui berat atau ringannya beban kerja pada pekerja. Kurangnya konsumsi air putih menjadi salah satu faktorterjadinya peningkatan denyut nadi. Tujuan: Untuk mengetahui hubungan antara konsumsi air putih dengan denyut nadi pada tenaga kerja pria di CV Laksana Karoseri Semarang. Metode: Populasi dalam penelitian ini adalah tenaga kerja pria bagian produksi, Sampel 98 responden diambil dengan teknik Random sampling. Analisis data menggunakan uji korelasi Spearman Rank (a = 0,05). Jenis penelitian ini adalah deskriptif korelasional denganmenggunakan pendekatan cross sectional, instrumen penelitian ini adalah menggunakan formulir Recall konsumsi air putih diukur menggunakan metode recall-24 jam dan denyut nadi diukur menggunakan metode 10 denyutan. Hasil: Konsumsi air putih memiliki kategori yang termasuk cukup minum sebanyak 60,2% (59 responden) dan kategori kurang minum sebanyak 39,8% (39 responden). Beban kerja responden yang dikategorikan tidak terjadi kelelahan sebanyak 66,3% (65 responden), sedang 26,5% (26 responden), berat 6,1% (6 responden) dan sangat berat sekali 1,0% (1 responden). Tidak ada hubungan antara konsumsi air putih dengan denyut nadi pada tenaga kerja pria di CV Laksana Karoseri Semarang (p= 0,862). Simpulan :Tidak ada hubungan antara konsumsi air putih dengan denyut nadi pada tenaga kerja pria di CV Laksana Karoseri Semarang.
HUBUNGAN ASUPAN ZINK, ZAT BESI, DAN VITAMIN C DENGAN KEJADIAN GIZI KURANG PADA ANAK USIA 6–24 BULAN DI DESA LEYANGAN, KECAMATAN UNGARAN TIMUR KABUPATEN SEMARANG Sari, Anggun Novita; Maryanto, Sugeng; Purbowati
JURNAL GIZI DAN KESEHATAN Vol 12 No 27 (2020): JURNAL GIZI DAN KESEHATAN
Publisher : UNIVERSITAS NGUDI WALUYO

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35473/jgk.v12i27.56

Abstract

Background : Adequate intake of zinc, iron, and vitamin C affects the occurrence of infection. Infectious diseases can increase the risk of undernutrition. Objective : The Study aims to investigate the correlation between intake of zinc, iron, andvitamin C with incidences of undernutrition in children aged 6–24 months old at leyangan village east ungaran semarang regency. Method: The study was cross sectional approach. The population was children aged 6 –24 months old. The samples of study were taken by proportional random sampling with 78 respondents. The data collecting used questionnaires, SFFQ, and babyscaleor digital tread scale. The data analysis used kendall tau (α=0,05) Result: Percentage of zinc intake category in less is 47,4%, good is 37,2%, and over is 23,1%. Percentage of iron intake category less is 46,2%, good is 34,6%, and over is 19,2%. Percentage of vitamin C intake category less is 43,6%, good is 33,3%, and over is 23,1%. There is a significant correlation beetwen intake of zinc, iron, an vitamin C with incidences of undernutrition in children aged 6–24 months old at leyangan village east ungaran semarang regency.( p= 0,03; p= 0,002; p= 0,045). Conclution: Thereis a significant correlation beetwen intake of zinc, iron, an vitamin C with incidences of undernutrition in children aged 6–24 months old at leyangan village east ungaran semarang regency Abstrak : Latar Belakang: Kecukupan asupan zink, zat besi, dan vitamin C berpengaruh terhadap terjadinya infeksi. Penyakit infeksi dapat meningkatkan resiko terjadinya gizi kurang. Tujuan: Untuk mengetahui hubungan asupan zink, zat besi, dan vitamin C dengan kejadian gizi kurang pada anak usia 6-24 bulan di Desa Leyangan, Kecamatan Ungaran Timur, Kabupaten Semarang. Metode Penelitian: Penelitian ini menggunakan desain deskriptif korelasi dengan pendekatan cross sectional. Populasi yaitu anak usia 6-24 bulan. Sampel penelitian ini ditentukan dengan metode proportional random sampling sejumlah 78 responden. Pengumpulan data menggunakan kuesioner, FFSQ, dan babyscale atau timbangan injak digital. Analisis data menggunakan uji Kendall Tau (α = 0,05). Hasil: Persentase kategori asupan zink kategori kurang yaitu 47,4%, baik 37,2%, dan lebih 23,1%. Persentase kategori asupan zat besi dengan kategori kurang yaitu 46,2%, baik 34,6%, dan lebih 19,2%. Persentase kategori asupan vitamin C dengan kategori kurang yaitu 43,6%, baik 33,3%, dan lebih 23,1%. Ada hubungan yang bermakna antara asupan zink, zat besi, dan vitamin C dengan kejadian gizi kurang pada anak usia 6-24 bulan di Desa Leyangan, Kecamatan Ungaran Timur, Kabupaten Semarang ( p= 0,03; p= 0,002; p= 0,045). Simpulan: Ada hubungan yang bermakna antara asupan zink, zat besi, dan vitamin C dengan kejadian gizi kurang pada anak usia 6-24 bulan di Desa Leyangan, Kecamatan Ungaran Timur, Kabupaten Semarang
NILAI GIZI SNACK BAR TEPUNG CAMPURAN (TEPUNG MOCAF & TEPUNG KACANG MERAH) DAN SNACK BAR KOMERSIAL Asriasih, Dwifa Novita; Purbowati; Anugrah, Riva Mustika
JURNAL GIZI DAN KESEHATAN Vol 12 No 27 (2020): JURNAL GIZI DAN KESEHATAN
Publisher : UNIVERSITAS NGUDI WALUYO

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35473/jgk.v12i27.57

Abstract

Background: Snack bar is a snack in the form of a bar made from a mixture of various ingredients such as cereals, nuts. Mocaf flour and red bean flour are local food products that can be used as snack bar products. Objective: Find out an overview of the nutritional value of a mixed flour snack bar (mocaf &red bean flour) and a commercial snack bar.Research Method: Design of studyanalytic descriptive research. The research sample is a commercial snack bar. The types of commercial snack bars are obtained from supermarkets in Ungaran. Analysis of data using microsoft office excel and presented in table form. Results: Mixed flour snack bar (mocaf with red bean flour) contains 128 kcal of energy, 4.5 grams of protein, 3 grams of fat, 20.5 grams of carbohydrates, and 5.7 grams of fiber. The nutritional content of 11 commercial snack bar brands is 80-160 kcal energy, 1-6 gram protein, 2.5-10 gram fat, 10-19 gram carbohydrate, and 1-4 gram fiber. Conclusion: The nutritional content of the mixed flour snack bar (mocaf &red bean flour) contains higher fiber than the commercial snack bar. Abstrak : Latar Belakang :Snack bar merupakan makanan ringan yang berbentuk batangan berbahan dasar campuran dari berbagai bahan seperti sereal, kacang-kacangan. Tepung mocaf dan tepung kacang merah merupakan hasil pangan lokal yang dapat digunakan menjadi produk snack bar. Tujuan :Mengetahuigambaran nilai gizi snack bar tepung campuran (tepung mocaf & tepung kacang merah) dan snack bar komersial. Metode Penelitian :Desain penelitian deskriptif analitik. Sampel penelitian ini adalah snack bar komersial. Jenis-jenis snack bar komersial didapatkan dari swalayan yang ada di Ungaran. Analisis data menggunakan microsoft office excel dan disajikan dalam bentuk tabel. Hasil : Snack bar tepung campuran (tepung mocaf dengan tepung kacang merah) mengandung energi 128 kkal, protein 4,5 gram, lemak 3 gram, karbohidrat 20,5 gram, dan serat 5,7 gram. Kandungan gizi dari 11 merk snack bar komersial yaitu energi 80-160 kkal, protein 1-6 gram, lemak 2,5-10 gram, karbohidrat 10-19 gram, dan serat 1-4 gram. Simpulan :Kandungan gizi snack bar tepung campuran (tepung mocaf & tepung kacang merah) mengandung serat lebih tinggi daripada snack bar komersial.
PERBEDAAN KADAR GLUKOSA PADA NASI YANG DISIMPAN DI MAGIC COM DAN DI SUHU RUANG Ishmah, Nuswatul; Anugrah, Riva Mustika; Purbowati
JURNAL GIZI DAN KESEHATAN Vol 12 No 27 (2020): JURNAL GIZI DAN KESEHATAN
Publisher : UNIVERSITAS NGUDI WALUYO

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35473/jgk.v12i27.62

Abstract

Background:Rice is processed from rice which is the staple food of the Indonesian people. Rice is a source of carbohydrates that can be broken down into small particles in the form of glucose.Factors that influence changes in rice glucose during storage are storage time and storage temperature. Objectives:Knowingthe difference glucose levels in rice that is stored at the magic com and at room temperature. Method: This study used a pre-experimental post only design. This study used 2 groups of rice namely rice stored at the magic com and at room temperature with 5 treatments using a time difference of 0 hours, 2 hours, 4 hours, 6 hours and 8 hours. The test material in this study is white rice IR 64 varieties as much as 100 grams in each sample used. Analysis of test data using kruskal-waillis with the continued the mann-whitney (α = 0.05). Result :The glucose level of rice stored at the magic com was highest, namely at a storage temperature of 95 ° C of 4.65%. While the glucose level of rice in glucose levels in rice was the lowest, namely at a storage temperature of 77.1 ° C of 1.73%. The glucoselevel of rice stored at the highest room temperature was at the temperature of rice storage at 95.6 ° C at 4.65%. While the lowest rice glucose level is at the temperature of rice storage 22.8 ° C at 1.73%. Based on the Kruskal-Waillis statistical test, the value of p = 0.310 means that there is no difference in glucose levels in the rice stored at the magic com and at room temperature. Conclusions :Based on the kruskal-waillis statistical test, the value of p = 0.310 means that there is no difference in glucose levels in the rice stored on the magic com and at room temperature. Abstrak : Latar Belakang : Nasi adalah olahan dari beras yang merupakan makanan pokok masyarakat Indonesia. Beras merupakan sumber karbohidrat yang dapat diurai menjadi partikel-partikel kecil dalam bentuk glukosa. Faktor-faktor yang mempengaruhi perubahan glukosa nasi selama penyimpanan yaitu waktu penyimpanan dan suhu penyimpanan. Tujuan : Mengetahui perbedaan kadar glukosa padanasi yang disimpan di magic com dan di suhu ruang. Metode : Penelitian ini menggunakan desain pra experimental postest only design. Penelitian ini menggunakan 2 kelompok nasi yaitu nasi yang disimpan di magic com dan di suhu ruang dengan 5 perlakuan menggunakan perbedaan waktu 0 jam, 2 jam, 4 jam , 6 jam dan 8 jam. Bahan uji pada penelitian ini yaitu beras putih varietas IR 64 sebanyak 100 gram pada setiap sampel yang digunakan. Analisis data menggunakan uji Kruskal-Waillis dengan uji lanjut ujimann-whitney(α = 0,05). Hasil : Kadar glukosa nasi yang disimpan di magic com tertinggi yaitu pada suhu penyimpanan 95°C sebesar 4,65%. Sedangkan kadar glukosa nasi kadar glukosa pada nasi terendah yaitu pada suhu penyimpanan 77,1°Csebesar 1,73%. Kadar glukosa nasi yang disimpan di suhu ruang tertinggi yaitu pada suhu penyimpanan nasi sebesar 95,6°C sebesar 4,65%. Sedangkan kadar glukosa nasi terendah yaitu pada suhu penyimpanan nasi 22,8°C sebesar 1,73%. Berdasarkan uji statistik Kruskal-Waillis menunjukkan nilai p=0,310 artinya tidak ada perbedaan kadar glukosa pada nasi yang disimpan di magic com dan di suhu ruang. Simpulan : Berdasarkan uji statistik Kruskal-Waillis menunjukkan nilai p=0,310 artinya tidakadaperbedaankadarglukosapadanasi yang disimpan di magic comdan di suhuruang