Claim Missing Document
Check
Articles

Found 32 Documents
Search

Implementation of the projek penguatan profil pelajar pancasila (p5) integrated into fourth-grade natural and social sciences (ipas) learning in elementary schools within the raflesia school cluster Siwi Utaminingtyas; Windarni Lestari; Atika Dwi Evitasari
Jurnal Ilmiah Pendidikan Dasar Vol 13, No 2 (2026): Jurnal Ilmiah Pendidikan Dasar
Publisher : Prodi PGSD FKIP Universitas Islam Sultan Agung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30659/pendas.13.2.285-310

Abstract

Through the Merdeka Curriculum, the Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P5) is integrated into Natural and Social Sciences (IPAS) learning to support the development of students’ character and competencies. However, its implementation in elementary schools continues to face various challenges. This study aimed to analyse the implementation of P5 in IPAS learning, identify the challenges encountered, and describe the efforts made to overcome these challenges in public elementary schools within the Raflesia Cluster, Borobudur District. This study employed a descriptive qualitative approach involving principals and fourth-grade teachers from SD Negeri Tuksongo 1 and SD Negeri Tanjungsari as the research participants. The research utilised semi-structured interviews, non-participant observations, and document reviews as sources of data. Analysis was conducted systematically through the stages of qualitative data processing, including data reduction, presentation of findings, and verification of conclusions. The study findings indicated that the implementation of P5 within IPAS learning was conducted through six sequential phases, including understanding P5, preparing the school ecosystem, planning and implementing projects, documenting and reporting outcomes, and conducting evaluation processes and planning subsequent follow-up actions. The main challenges included limited learning facilities and infrastructure, insufficient instructional time, teachers' limited ability to integrate Pancasila Student Profile elements embedded in IPAS learning activities, difficulties in developing project modules and assessments, and differences in students' characteristics. To address these challenges, schools enhanced teachers' competencies through professional training, utilised the surrounding environment as a learning resource, improved learning facilities, strengthened coordination among school stakeholders, and provided continuous guidance to students during project implementation. These findings indicate that integrating P5 into IPAS learning has the potential to strengthen students' character while enhancing their competencies, provided that it is supported by competent teachers, adequate school readiness, and effective project-based learning management.
Kolaborasi Kampus dan Sekolah dalam Pengembangan Media Pembelajaran Inovatif untuk Siswa Sekolah Dasar Siwi Utaminingtyas; Atika Dwi Evitasari; Novy Trisnani; Ratri Shinta Wardhani
INTAN CENDEKIA: Jurnal Pengabdian Masyarakat Vol 7 No 1 (2026): INTAN CENDEKIA: Jurnal Pengabdian Masyarakat
Publisher : Yayasan Pendidikan Intan Cendekia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pengembangan media pembelajaran inovatif merupakan salah satu upaya untuk meningkatkan kualitas pembelajaran di sekolah dasar. Namun, berdasarkan hasil observasi dan identifikasi kebutuhan selama kegiatan Magang 1 dan Magang 2 di sekolah mitra, guru masih menghadapi kendala dalam mengembangkan media pembelajaran secara mandiri, seperti keterbatasan pengalaman, kreativitas, serta kesempatan mengikuti pelatihan dan pendampingan. Kegiatan pengabdian ini bertujuan meningkatkan kompetensi guru sekolah dasar dalam mengembangkan media pembelajaran inovatif melalui kolaborasi antara perguruan tinggi dan sekolah. Kegiatan dilaksanakan pada Januari–Februari 2026 di 8 SD di Kabupaten Kulon Progo dengan melibatkan dosen, mahasiswa, dan guru sebagai mitra.  Metode yang digunakan adalah pendekatan partisipatif melalui empat tahapan, yaitu identifikasi kebutuhan, perancangan media, pembuatan media, dan demonstrasi penggunaan media pembelajaran. Hasil kegiatan menunjukkan bahwa kolaborasi yang dilakukan mampu menghasilkan berbagai media pembelajaran inovatif, yaitu Smart Box, Big Book, Smart TV, Diorama, dan Culture Adventure Box yang disesuaikan dengan karakteristik materi dan kebutuhan peserta didik. Selain menghasilkan media pembelajaran yang siap digunakan, kegiatan ini juga meningkatkan pengetahuan, keterampilan, kreativitas, serta kepercayaan diri guru dalam merancang, membuat, dan mengimplementasikan media pembelajaran secara mandiri. Dengan demikian, kolaborasi antara perguruan tinggi dan sekolah menjadi strategi yang efektif dalam mendukung pengembangan media pembelajaran inovatif sekaligus memperkuat kemitraan yang berkelanjutan untuk meningkatkan kualitas pembelajaran di sekolah dasar.