Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search
Journal : JURNAL BIOMEDIK

Pengaruh Pemberian Alopurinol terhadap Tekanan Darah Pasien Gagal Jantung Wowor, Ribka; Wantania, Frans
Jurnal Biomedik : JBM Vol 10, No 1 (2018): JURNAL BIOMEDIK : JBM
Publisher : UNIVERSITAS SAM RATULANGI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/jbm.10.1.2018.18997

Abstract

Abstract: Hyperuricemia is an independent risk factor of hypertension. Most of heart failure patients with uncontrolled hypertension had hyperuricemia. This study was aimed to determine the effect of allopurinol to blood pressure in heart failure patients. This was a clinical trial study with a control-non randomized design, performed on heart failure patients (40-74 years old). Wilcoxon Sign Rank was used to test the means of blood pressure difference between after and before the allopurinol treatment. The results showed that there were no significant differences in mean blood pressure between before and after allopurinol treatment (SBP, P=0.650; DBP, P=0.356). Conclusion: There was a decrease of blood pressure in heart failure patients after allopurinol treatment; albeit, it was not statistically significan.Keywords: allopurinol, blood pressure, heart failureAbstrak: Hiperurisemia merupakan salah satu faktor risiko independen terhadap timbulnya hipertensi. Pasien gagal jantung dengan tekanan darah tidak terkontrol sering mengalami hiperurisemia. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian alopurinol terhadap tekanan darah pada pasien gagal jantung. Penelitian ini merupakan uji klinis terbuka tanpa randomisasi untuk meneliti pengaruh pemberian alopurinol pada terapi standar congestive heart failure (CHF). Beda rerata tekanan darah pre dan post diuji menggunakan Wilcoxon Sign Rank. Hasil penelitian menunjukkan pada kelompok alopurinol didapatkan penurunan tekanan darah sesudah pemberian alopurinol walaupun perbedaan rerata pre-post TDS (P=0,650) dan perbedaan rerata pre-post TDD tidak bermakna (P=0,356). Simpulan: Pasien CHF yang diberikan alopurinol mengalami penurunan tekanan darah walaupun secara statistik tidak bermaknaKata kunci: alopurinol, tekanan darah, gagal jantung
ASSOCIATION BETWEEN DIETARY HABITS AND PREHYPERTENSION AMONG INDONESIAN YOUNG ADULTS AT PROF. DR. R. D. KANDOU HOSPITAL MANADO Wowor, Ribka
JURNAL BIOMEDIK : JBM Vol 11, No 2 (2019): JURNAL BIOMEDIK : JBM
Publisher : UNIVERSITAS SAM RATULANGI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/jbm.11.2.2019.23318

Abstract

Abstract: Prehypertension is a warning sign, early in age which denotes the risk of hypertension later on in life. Clinical and academic challenges of medical students may have adverse effect on their lifestyle, predisposing vulnerable subjects to elevated blood pressure. This study was aimed to determine the association between dietary habits and prehypertension among Indonesian young adults in Manado. This was an analytical study with a cross-sectional study. Subjects were 111 medical students (undergraduate and postgraduate) aged between 20-30 years, of either sex. A pre-tested questionnaire was used to elicit the details on physical activity, family history of hypertension, tobacco use, and dietary habits. According to JNC-7 guidelines, a systolic blood pressure (SBP) of 120 to 139 mmHg and/or diastolic blood pressure (DBP) of 80 to 89 mmHg is considered as prehypertension. Of the 111 subjects, 22.5% showed blood pressure levels within the range of prehypertension. Chi-square analysis revealed that junk food consumption (OR=3,152; 95% CI=1,253-7,925; P=0,023), and soft drink consumption (OR=4,747; 95% CI=1,797-12,539; P=0,002) were the risk factors of prehypertension. Conclusion: Dietary habits were associated with the prehypertension among young adults in Manado.Keywords: dietary habits, prehypertension, young adultsAbstrak: Prehipertensi merupakan tanda peringatan dini akan resiko terjadinya hipertensi di kemudian hari. Mahasiswa kedokteran memiliki kesibukan studi terutama pada masa kepaniteraan klinik di Rumah Sakit. Tuntutan dalam pendidikan dan pelayanan sekaligus di RS berdampak terhadap pola aktivitas mereka sehari-hari sehingga dapat memengaruhi tekanan darah. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara diet (konsumsi makanan dan minuman) dengan kejadian prehipertensi pada mahasiswa kedokteran Univrsitas Sam Ratulangi. Jenis penelitian ialah analitik dengan desain potong lintang. Hasil penelitian mendapatkan 111 mahasiswa kedokteran peserta P3D dan PPDS (calon spesialis) berusia antara 20-30 tahun sebagai subyek penelitian. Dilakukan pemeriksaan tekanan darah dan berat badan. Penentuan kebiasaan makan ditetapkan berdasarkan hasil pengisian kuesioner. Definisi prehipertensi berdasarkan kriteria JNC 7 yaitu tekanan darah sistolik lebih dari 120 mmHg tapi kurang dari 140 mmHg, dan atau tekanan darah diastolik lebih dari 80 mmHg tapi kurang dari 90 mmHg. Uji Chi-square dilakukan untuk melihat hubungan antara konsumsi junk food dan soft drink dengan kejadian prehipertensi dan didapatkan adanya hubungan antara konsumsi junk food (OR=3,152; 95% CI=1,253-7,925; P=0,023), dan soft drink (OR=4,747; 95% CI=1,797-12,539; P=0,002) dengan kejadian prehipertensi pada subyek dewasa muda. Simpulan: Diet (konsumsi junk food dan soft drink) berhubungan dengan kejadian prehipertensi pada subyek dewasa muda di Manado.Kata kunci: diet, prehipertensi, dewasa muda
Hubungan antara Kebiasaan Merokok dan Hipertrofi Ventrikel Kiri pada Laki-laki Dewasa Muda dengan Obesitas Sentral Wowor, Ribka
Jurnal Biomedik : JBM Vol 10, No 3 (2018): JURNAL BIOMEDIK : JBM
Publisher : UNIVERSITAS SAM RATULANGI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/jbm.10.3.2018.21983

Abstract

Abstract: Left ventricular hypertrophy (LVH) is an independent risk factor for mortality. This state should be prevented by controlling the underlying factor, such as smoking. This study was aimed to determine the association between smoking and left ventricular hypertrophy in young adult men with central obesity. This was a case control study, conducted at Cardiology Department of Prof. Dr. R. D. Kandou Hospital in Manado from January to March 2015. Subjects were young adult male students (18-30 years old) at Prof. Dr. R. D. Kandou Hospital with central obesity divided into two groups: case group and control group. The case group consisted of 31 subjects with LVH meanwhile the control group consisted of 21 subjects without LVH. The statistical analysis showed that smoking was a risk factor for LVH in young adult men with central obesity, but not statistically significant (OR=3.846; 95% CI: 0.494-14.901; P=0.432). Conclusion: Smoking is a risk factor of left ventricular hypertrophy in young adult men (<30 years old) with central obesity, but not statistically significant.Keywords: smoking, left ventricular hypertrophy, young adult men, central obesityAbstrak: Hipertrofi ventrikel kiri (HVK) merupakan salah satu prediktor kematian independen. Pembesaran jantung kiri sebenarnya merupakan keadaan yang dapat dicegah dengan pengendalian faktor risiko, salah satunya ialah merokok. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara kebiasaan merokok dan hipertrofi ventrikel kiri pada laki-laki dewasa muda dengan obesitas sentral. Jenis penelitian ialah penelitian kuantitatif metode analitik dengan menggunakan rancangan case-control. Penelitian dilaksanakan di Bagian Kardiologi RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou Manado selama 3 (tiga) bulan, yaitu dari bulan Januari 2015 s/d Maret 2015. Subyek penelitian ialah laki-laki dewasa muda (usia 18-30 tahun) dengan obesitas sentral dan sementara menjalani KKM di RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou Manado. Subyek yang mengalami HVK sebagai kelompok kasus dan yang tidak mengalami HVK sebagai kelompok kontrol. Hasil penelitian mendapatkan bahwa kebiasaan merokok merupakan faktor risiko terjadinya HVK pada laki-laki dewasa muda dengan obesitas sentral walaupun secara statistik tidak bermakna (OR=3,846; 95% CI: 0,494-14,901; P=0,432). Simpulan: Kebiasaan merokok merupakan faktor risiko terjadinya pembesaran jantung kiri pada laki-laki dewasa muda (<30 tahun), walaupun secara statistik tidak bermakna.Kata kunci: merokok, hipertrofi ventrikel kiri, dewasa muda, obesitas sentral
Masalah Kesehatan pada Lansia: Sindroma Frailty Wowor, Ribka; Wantania, Frans
Jurnal Biomedik : JBM Vol 12, No 2 (2020): JURNAL BIOMEDIK : JBM
Publisher : UNIVERSITAS SAM RATULANGI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/jbm.12.2.2020.29162

Abstract

Abstract: Frailty Syndrome is a geriatric syndrome with characteristics of reduced functional ability and adaptation functions that caused by the decline in various body systems and also increased susceptibility to various stress, which decreases a person’s functional performance. The prevalence of frailty syndrome ranges from 7% at the age above 65 years and 30% at ages above 80 years. Research on Caucasian races, women suffer more frailty than men (7:5), while in the African American group found twice that of Caucasians (14:7). Generally, to determine a frailty syndrome we used the Fried’s clinical criteria when there are three or more of the weaknesses such as, reduced road speed, complaints of fatigue, decreased activity, and weight loss. The clinical picture of frailty syndrome is based on weakness, reduced walking speed, fatigue, low physical activity, and weight loss. The diagnosis is based on clinical signs and symptoms and their comorbidities.Keywords: frailty syndrome, weakness Abstrak: Sindroma frailty adalah suatu sindroma geriatri dengan karakteristik berkurangnya kemampuan fungsional dan gangguan fungsi adaptasi yang diakibatkan oleh merosotnya berbagai sistem tubuh, serta meningkatnya kerentanan terhadap berbagai macam stressor, yang menurunkan performa fungsional seseorang. Prevalensi sindroma frailty berkisar 7% pada usia diatas 65 tahun dan 30% pada usia diatas 80 tahun. Penelitian terhadap ras Kaukasia, perempuan lebih banyak menderita frailty dibandingkan laki-laki (7:5), sedangkan pada kelompok Afrika-Amerika didapatkan dua kali lipat dibandingkan ras Kaukasia (14:7). Umumnya, untuk menentukan suatu sindroma frailty dipergunakan kriteria klinis dari Fried yaitu bila terdapat tiga atau lebih dari kelemahan, berkurangnya kecepatan jalan, keluhan cepat lelah, menurunnya aktivitas, dan berkurangnya berat badan. Gambaran klinis sindroma frailty berdasarkan adanya kelemahan, berkurangnya kecepatan jalan, rasa cepat lelah, aktivitas fisik yang rendah, dan hilangnya berat badan. Diagnosis didasarkan atas tanda dan gejala klinis serta penyakit komorbidnya.Kata kunci: sindrom frailty, kelemahan