Kreckhoff, Reni L.
Staf Pengajar Pada Program Studi Budidaya Perairan FPIK UNSRAT

Published : 36 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 5 Documents
Search
Journal : JURNAL ILMIAH PLATAX

The potential of catappa leave to prevent Aeromonas hydrophila infection in Nile Tilapia Oreochromis niloticus Selvyane Bukasiang; Henky Manoppo; Sartje Lantu; Nego E. Bataragoa; Cyska Lumenta; Reni L. Kreckhoff
Jurnal Ilmiah PLATAX Vol. 7 No. 2 (2019): ISSUE JULY - DECEMBER 2019
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/jip.7.2.2019.23722

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menetapkan dosis penambahan ekstrak daun ketapang dalam pakan untuk meningktkan. Ikan uji adah benih nila berukuran 5-8 cm dengan beratr ata-rata 2,93 g yang diperoleh dari Balai Perikanan Budidaya Air Tawar Tatelu. Bahan uji berupa Daun Ketapang  (Terminalia catappa) dengan dosis A= 0, B= 5 g/kg, C= 10 g/kg, D= 20 g/kg dan E= 40 g/kg  diberikan kepada ikan selama 21 hari. Ikan diberi pakan perlakuan dua kali sehari yakni pukul 09.00 am dan 16.00 pm dengan dosis pemberian 5%/berat tubuh/hari. Hasil penelitian didapatkan pertumbuhan terbaik dicapai pada kosentrasi ekstrak daun ketapang 5 g/kg.  Sebagai kesimpulan adalah ekstrak daun ketapang dapat digunakan dalam akuakultur untuk meningktkan pertumbuhan ikan.Kata kunci : Daun Ketapang, tanaman obat, ikan Nila,  A. hydrophila, budidaya ABSTRAKThe research aimed to  establish the accurate dose of catappa leave extract supplemented into feed to enhance fish growth.  The fish measuring 5-8 cm with an average weight of 2.93 g were obtained from Board of Freshwater Fisheries Aquaculture Tatelu. Catappa leave extract as much as A= 0, B= 5 g/kg, C= 10 g/kg, D= 20 g/kg dan E= 40 g/kg were added into feed and fed to fish for 21 days.  The fish wee fed twice  day at 09.00 am and 16.00 pm at 5% of body weigth a day.  Research result showed that application of 5 g of leave extract per kg of feed gave the best absolute and specific growth of fish.  Thus, supplementation of leave extract into fish feed was potential ti improve fish growth.Keywords: catappa leave, medicinal plant, Nile tilapia, aquaculture, A. hydrophila.
The Use Of Marine Sponge Crude Extract To Improve The Resistance Of Tilapia Fish (Oreochromis niloticus) To Streptococcus agalactiae Infections Shifa A. Schram; Reiny A. Tumbol; Reni L. Kreckhoff
Jurnal Ilmiah PLATAX Vol. 7 No. 2 (2019): ISSUE JULY - DECEMBER 2019
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/jip.7.2.2019.23723

Abstract

This study aims to examine the effect of the use of crude marine sponge extract on the resistance of streptococcus agalactiae infection in tilapia, Oreochromis niloticus, and to establish the effective dose of crude sponge extract in improving the immune system and the growth of the fish. The sponge used in the study was Cribrochalina sp. taken from Malalayang waters, Manado. The fish were taken from Freshwater Aquaculture Center, Tatelu. The fish were acclimatized for a week. After being acclimatized the fish were given feed added with sponge crude extract as a treatment with different concentrations of 20 g, 40 g and 60 g / Kg of feed for 14 days as much as 5% / body weight / day with the frequency of feeding twice a day at 10:00 am and at 5:00 p.m. After being treated, the fish was challenged with S. agalactiae. The data collected consisted of tilapia resistance, Total Leukocyte Count (TLC) as immune parameters and absolute growth. The results showed that the addition of crude extracts of Cribrochalina sp. into feed can increase TLC and growth of tilapia (p <0.05). The best results were achieved in fish fed with the addition of sponge crude extract of 40 g/kg feed. The survival rate of tilapia fed with treatment diet then challenged with pathogenic bacteria S. agalactiae showed the best results (100% survival rate) compared to controls (75%). In conclusion, feeding with a crude extract of Cribrochalina sp. has the potential to increase the immune system and growth of tilapia.Keywords: Crude Extract, Marine Sponges, Cribrochalina sp., Tilapia, Resistance, Streptococcus agalactiaeABSTRAKPenelitian ini bertujuan untuk mengkaji pengaruh penggunaan ekstrak kasar spons laut terhadap resistensi ikan nila dalam menghadapi serangan Streptococcus agalactiae, mengidentifikasi spons yang digunakan, serta mengukur pengaruh serta menetapkan dosis pemberian ekstrak kasar spons untuk meningkatkan sistem imun dan pengaruhnya terhadap pertumbuhan ikan nila. Spons yang digunakan dalam penelitian adalah spons Cribrochalina sp. yang diambil dari perairan Malalayang. Ikan uji diambil dari Balai Budidaya Air Tawar Tatelu, Provinsi Sulawesi Utara. Ikan diaklimatisasi selama seminggu. Setelah diaklimatisasi ikan diberi pakan yang ditambahkan dengan ekstrak kasar spons sebagai perlakuan dengan konsentrasi berbeda yaitu 0 g, 20 g, 40 g dan 60 g/kg pakan selama 14 hari sebanyak 5%/berat tubuh/hari dengan frekuensi pemberian pakan dua kali sehari yaitu jam 10.00 pagi dan jam 17.00 sore. Setelah diberi perlakuan, ikan diuji tantang dengan bakteri S. agalactiae. Data yang dikumpulkan terdiri dari kelangsunganhidup ikan nila. Total leukosit sebagai parameter imun dan pertumbuhan mutlak. Hasil penelitian mendapatkan bahwa penambahan ekstrak kasar spons Cribrochalina sp. ke dalam pakan mampu meningkatkan total leukosit dan pertumbuhan ikan nila (p<0.05). Dimana hasil terbaik dicapai pada ikan yang diberi pakan dengan penambahan ekstrak kasar spons sebanyak 40 g/kg pakan. Kelangsungan hidup ikan nila yang diberi pakan perlakuan yang diuji tantang dengan bakteri patogen menunjukkan hasil yang paling baik (tingkat kelangsungan hidup 100%) dibandingkan dengan kontrol (75%). Sebagai kesimpulan bahwa pemberian pakan dengan ekstrak kasar spons Cribrochalina sp. berpotensi untuk meningkatkan sistem kekebalan tubuh dan pertumbuhan pada ikan nila.Kata Kunci: Ekstrak kasar, Spons laut, Cribrochalina sp., Tilapia, Resistensi, Streptococcus agalactiae
Analysis Of Bacteria Community In The Plastic Waste Dhebby Purba; Veibe Warouw; Rizald Rompas; Deiske Sumilat; Reni Kreckhoff; Elvy Ginting
Jurnal Ilmiah PLATAX Vol. 8 No. 2 (2020): ISSUE JULY-DECEMBER 2020
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/jip.8.2.2020.29877

Abstract

Plastic waste is a general problem for the environment. Therefore, more ways of plastic waste management are required. One of the plastic waste management process is microbiological biodegradation using bacteria. This research aims to identify the bacterial community in Polyethylene Terephthalate type plastic waste by molecular analysis. In order to identify the community of bacteria, it is necessary to isolate the DNA of uncultured bacteria. In this research, the isolation of the DNA of uncultured bacteria from plastic waste was carried out by the Qiagen DNeasy® PowerSoil Pro Kit handbook. The DNA genome was subsequently examined using electrophoresis gel and UV-Vis spectrophotometer. The DNA genome was then amplified using Polymerase Chain Reaction and the bacteria were identified using Next Generation Sequencing (NGS) analysis. On the results of this study, the uncultured bacteria DNA from plastic waste was isolated with purification value of 1. The amplified DNA genome was detected by DNA bands through gel electrophoresis gel at ~1500 bp. The bacteria in the plastic waste were Proteobacteria, Cyanobacteria, Actinobacteria, Chlorobi, Bacteroidetes, Firmicutes, Chloroflexi, Thaumarchaeuta and Gemmattimonadetes with the highest relative abundance of Proteobacteria.Keywords : Bacteria, Deoxyribo Nucleic Acid ( DNA), Plastic Waste, UnculturedAbstrakSampah plastik merupakan masalah bagi lingkungan oleh sebab itu diperlukan pengelolaan yang baik. Salah satu pengelolaan sampah plastik yakni dengan cara biodegradasi secara mikrobiologi menggunakan bakteri. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui komunitas bakteri pada sampah plastik, khususnya jenis Polyethylene Terephthalate secara molekuler. Untuk analisis bakteri secara molekuker, diperlukan tahapan isolasi DNA bakteri. Pada penelitian ini isolasi DNA bakteri tanpa kultivasi dari sampah plastik dilakukan dengan mengikuti prosedur ekstraksi DNeasy® PowerSoil Pro Kit, Qiagen dengan menggunakan proses pengikisan pada kedua permukaan plastik sebagai tahapan preparasi sampel. Hasil ekstraksi DNA selanjutnya diuji menggunakan elektroforesis gel dan spektofotometer UV-Vis. Genom DNA kemudian diamplifikasi menggunakan Polymerase Chain Reaction dan bakteri diidentifikasi dengan Next Generation Sequencing analysis. Hasil penelitian menujukkan bahwa, DNA bakteri tanpa kultivasi dari sampah plastik berhasil diisolasi dan diamplifikasi yang ditunjukkan dengan terbentuknya pita DNA lewat hasil elektroforesis gel pada panjang 1500 bp. Bakteri yang terdapat pada plastik jenis PET adalah Proteobacteria, Cyanobacteria, Actinobacteria, Chlorobi, Bacteroidetes, Firmicutes, Chloroflexi, Thaumarchaeuta dan Gemmattimonadetes dengan kelimpahan relatif tertinggi adalah ProteobacteriaKata kunci: Bakteri, Deoxyribo Nucleic Acid ( DNA), Sampah Plastik, Tanpa Kultivasi
Management Strategies for Sea Cucumber (Holothuroidea) Fisheries Resources in West Likupang Sub-district Kudato, Vania; Sambali, Hariyani; Kreckhoff, Reni L.; Salindeho, Indra R. N.; Durand, Swenekhe S.; Tumembouw, Sipriana S.; Sumilat, Deiske A.
Jurnal Ilmiah Platax Vol. 13 No. 1 (2025): ISSUE JANUARY-JUNE 2025
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/jip.v13i1.59365

Abstract

Indonesia is a tropical country with high marine biodiversity, including sea cucumber. The high demand for sea cucumber has led fishermen to catch sea cucumber regardless of the type or size suitable for harvesting. The lack of cultivation and regulations governing the protection of sea cucumbers has caused some species to be endangered. Sea cucumber species with high selling prices are increasingly difficult to find in West Likupang District. This study aims to identify strategies for managing sea cucumber fisheries sustainably and provide policy recommendations for their sustainable management in West Likupang District. This study used a survey method and then analyzed it with a SWOT analysis (strengths, weaknesses, opportunities, threats). The SWOT analysis reveals several strategies for achieving sustainable sea cucumber fisheries: legislation, conservation efforts, aquaculture development, regulated fishing, proper post-harvest handling, and educating fishermen on regulations. Keywords: Management, regulation, conservation, sea cucumber, SWOT Abstrak Indonesia merupakan negara tropis yang mempunyai keanekaragaman hayati laut yang tinggi, salah satunya ialah sumber daya trepang (Holothuridea). Permintaan pasar yang tinggi terhadap trepang, menyebabkan nelayan menangkap trepang tanpa mengindahkan jenis dan ukuran yang layak panen. Belum adanya budi daya dan regulasi yang mengatur perlindungan terhadap trepang menyebabkan beberapa spesies sudah terancam punah. Spesies trepang dengan harga jual yang tinggi makin sulit ditemukan terutama di Kecamatan Likupang Barat. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan strategi pengelolaan sumber daya perikanan trepang, untuk mencapai perikanan trepang yang berkelanjutan, dan membuat rujukan atau rekomendasi kebijakan untuk pengelolaan sumber daya perikanan trepang (Holothuroidea) yang berkelanjutan secara umum Di Provinsi Sulawesi Utara, khususnya di Likupang Kabupaten Minahasa Utara. Penelitian ini menggunakan metode survei kemudian dianalisis dengan analisis SWOT (kekuatan, kelemahan, peluang, dan ancaman). Berdasarkan hasil analisis, terdapat beberapa strategi yang dapat dikembangkan untuk mencapai perikanan trepang yang berkelanjutan, yakni: regulasi berupa peraturan perundangan, upaya konservasi, pengembangan usaha budidaya, penangkapan yang terukur, penanganan pasca panen/penangkapan dari alam, dan sosialisasi kepada nelayan terkait peraturan Kata kunci: Pengelolaan, regulasi, konservasi, trepang, SWOT
Induction Time And Sedative (Recovery) Time In Closed System Transportation Of Tawes Fish (Barbonymus gonionotus) Anesthetized With Clove Oil At Different Temperatures Saragih, Debby Dyanessa; Ngangi, Edwin L.A.; Pangkey, Henneke; Sumilat, Deiske Adeliene; Salindeho, Indra R.N.; Kreckhoff, Reni Lusia; Kusen, Diane Joula
Jurnal Ilmiah Platax Vol. 13 No. 1 (2025): ISSUE JANUARY-JUNE 2025
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/jip.v13i1.60961

Abstract

The conservation of tawes fish (Barbonymus gonionotus) is carried out through aquaculture and restocking, where seed transportation is a crucial factor affecting survival rates. Mishandling during transport can increase stress, metabolism, and mortality risk. Reducing stress during transport can be achieved by using natural anesthetic agents such as clove oil (Eugenia aromatica) and low-temperature regulation. This study aims to analyze the effects of clove oil dosage and temperature on the induction time and recovery of tawes fish seeds. The experiment was designed using a completely randomized design (CRD) with two factors: clove oil dosage (0 ppm, 5 ppm, 10 ppm) and temperature (16–19°C and 24–27°C), with 18 experimental units (3 replications). Data were analyzed using ANOVA (JMP-SAS). The results showed that combining clove oil and temperature significantly affected induction and recovery times. The 10 ppm clove oil treatment at 16–19°C resulted in the fastest induction time, while the 0 ppm treatment at 24–27°C led to the fastest recovery. The interaction between these factors demonstrated that clove oil significantly influenced the fish's response to temperature changes. Keywords: tawes fish seed, transportation, temperature, clove oil, induction, sedative.   Abstrak   Pelestarian ikan tawes (Barbonymus gonionotus) dilakukan melalui budidaya dan restocking, di mana transportasi benih menjadi faktor krusial yang memengaruhi tingkat kelangsungan hidupnya. Kesalahan dalam penanganan dapat meningkatkan stres, metabolisme, dan risiko kematian benih. Upaya menekan stres selama transportasi dilakukan dengan penggunaan agen pembius alami, seperti minyak cengkih (Eugenia aromatica) dan pengaturan suhu rendah.Penelitian ini bertujuan menganalisis pengaruh dan dosis minyak cengkih serta suhu terhadap waktu induksi dan pemulihan (recovery) benih ikan tawes. Percobaan menggunakan rancangan acak lengkap (RAL) dengan dua faktor: dosis minyak cengkih (0 ppm, 5 ppm, 10 ppm) dan suhu (16–19°C dan 24–27°C), dengan 18 unit percobaan (3 ulangan). Data dianalisis menggunakan ANOVA (JMP-SAS).Hasil penelitian menunjukkan bahwa kombinasi minyak cengkih dan suhu berpengaruh signifikan terhadap waktu induksi dan pemulihan benih. Perlakuan 10 ppm minyak cengkih pada suhu 16–19°C menghasilkan waktu induksi tercepat, sedangkan tanpa minyak cengkih pada suhu 24–27°C mempercepat pemulihan. Interaksi kedua faktor ini menunjukkan bahwa minyak cengkih secara nyata mempengaruhi respons ikan terhadap perubahan suhu. Kata kunci: benih tawes, transportasi, suhu, minyak cengkih, induksi, sedatif.
Co-Authors Adellin Dwiny Conchita Adnan Wantasen Alex D. Kambey Ali Djamhuri Aylifia S. Somba Billy Theodorus Wagey Cyska Lumenta Cyska Lumenta Dahlia Malau Datangmanis, Adieng A. R. Deiske A Sumilat Deiske Adeliene Sumilat, Deiske Adeliene Deiske Sumilat Dhebby Purba Diane J. Kusen Durand, Swenekhe S. Edwin D Ngangi Elvy Ginting Fitje Losung Fransine B. Manginsela Ginting, Elvi L. Grevo S Gerung Henky Manoppo Henky Manoppo Henneke Pangkey Indra R. N. Salindeho Indra R.N. Salindeho James J.H. Paulus Jasansong, Kalfianus Jhonly Solang Joppy Mudeng Juliaan Ch. Watung Kudato, Vania Kurniawan, Putra M. Kusen, Diane J. Kusen, Diane Joula Lauluw, Dafid Mamesah, Jeivana F.T Mamonto, Reva E. Mamuko, Nelsi Mantiri, Desy M. H Massora Dudung Maweikere, Fabiola C. Mokoginta, Leyda H. Mokolensang, Jeffrie F. Monijung, Revol D. Monijung, Revol J. Mudeng, Cindy C. Natalie D.C. Rumampuk Nego E. Bataragoa Ngangi, Edwin. L. A. Novie P.L. Pangemanan Ockstan J. Kalesaran Pangalila, Novelia M.A. Pangemanan, Novie P. L. Pangemanan, Novie P.L. Pankie N.L Pangemanan Pratasik, Gerald A. Prislawati Paputungan Putra, Stevano F.P Razak, Atiek P. Reiny A. Tumbol Reiny A. Tumbol Reiny A. Tumbol Rizald Rompas Rompas, Rizald M. Sambali, Hariyani Sambali, Haryani Sammy N. J. Longdong Sammy N. J. Longdong Sammy N.J. Longdong Sanggaria, Ayu W. Saragih, Debby Dyanessa Sartje Lantu Sartje Lantu Selvyane Bukasiang Shifa A. Schram Sinaga, Chintya R. Sinubu, Wulan V. Sipriana S. Tumembouw Suria Darwisito, Suria Suzanne L Undap Suzanne L. Undap Tindage, Tantri W. Tununu, Riky R. Umasugi, Aisin Undi, Chintia S. Usoh, Yosua Veibe Warouw Veibe Warouw Veibe Warouw Wantah, Monika M. Winda Mercedes Mingkid Yuliana Macpal