Abstrak: Aceh Tamiang memiliki potensi perikanan yang besar, namun sebagian masyarakat, termasuk Poklahsar “Rizki” masih menghadapi kemiskinan akibat rendahnya pendapatan, manajemen produksi yang kurang higienis, keterbatasan teknologi, strategi pemasaran yang belum efektif, ketiadaan legalitas produk, serta pencatatan keuangan yang tidak terdokumentasi. Tujuan pengabdian ini untuk meningkatkan pemahaman dan keterampilan tata kelola produksi melalui inovasi teknologi, optimalisasi pemasaran digital, dan pencatatan keuangan secara otentik agar pendapatan mitra meningkat. Mitra pengabdian Poklahsar “Rizki” berjumlah 13 orang berlokasi di Kampung Sungai Kuruk III Kecamatan Seruway Kabupaten Aceh Tamiang. Metode pelaksanaan menggunakan pendekatan partisipatif melalui sosialisasi, penyuluhan, pelatihan, workshop, dan pendampingan. Evaluasi dilakukan pada saat pelaksanaan dan pasca pengabdian melalui kuesioner, lalu dianalisis dengan menghitung persentase rataan tiap jawaban, dengan kriteria keberhasilan ≥70%. Hasilnya menunjukkan peningkatan, 97% mitra puas, 86% lebih sadar pentingnya higienitas, 87% meningkat keterampilan pemasaran, 80% meningkat kualitas produk, 72% peningkatan omzet, 75% laba usaha, serta keberhasilan memperoleh NIB, PIRT, dan sertifikat halal. Program ini berhasil memperkuat kapasitas mitra dan mendukung pengentasan kemiskinan berbasis perikanan berkelanjutan.Abstract: Aceh Tamiang has great fisheries potential, but some communities, including the "Rizki" Community Group (Poklahsar), still face poverty due to low income, unhygienic production management, limited technology, ineffective marketing strategies, lack of product legality, and undocumented financial records. The purpose of this community service is to improve understanding and skills in production governance through technological innovation, digital marketing optimization, and authentic financial records to increase partner income. The "Rizki" Community Group service partners number 13 people located in Sungai Kuruk III Village, Seruway District, Aceh Tamiang Regency. The implementation method uses a participatory approach through socialization, counseling, training, workshops, and mentoring. Evaluation is carried out during and after the service implementation through questionnaires, then analyzed by calculating the average percentage of each answer, with a success criterion of >70%. The results showed improvements: 97% of partners were satisfied, 86% were more aware of the importance of hygiene, 87% improved marketing skills, 80% improved product quality, 72% increased turnover, 75% increased operating profits, and successful acquisition of NIB, PIRT, and halal certification. This program successfully strengthened partner capacity and supported sustainable fisheries-based poverty alleviation.