Claim Missing Document
Check
Articles

Found 15 Documents
Search

EFEKTIVITAS PEMBERIAN JUS MENTIMUN UNTUK MENURUNKAN TEKANAN ARAH PADA PASIEN HIPERTENSI: LITERATURE REVIEW Fauziyah, Dona Barirotul; Priyono, Djoko
ProNers Vol 7, No 1 (2022): Juli
Publisher : Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26418/jpn.v7i1.59078

Abstract

Lataribelakang: Hipertensiimerupakan peningkatanitekanan darahidiatas 140/90immHg jika tidakditanggani dengan tepat dapat mengakibatkan kematian. Asupan nutrisi yang mengandung magnesiumdan kalium sangat dibutuhkan pada penderita hipertensi, dikarenakan dapatimenurunkan tekananidarahsecara signifikan. Salahisatu jenis nutrisi banyak mengandung magnesium dan kalium adalah jusmentimun. Tujuan: Menganalisis efektivitas pemberian jusimentimun untukimenurunkan tekananidarahpadaipasien hipertensi. Metode: Jenisipenelitian literatureireview menggunakan teknikianalisis datacontentianalyis, idatabase yang digunakan GoogleiScholar, iPubMED, neliti.com, Portal GarudaidanResearchiGate. Sedangkan untuk menganalisis hasil penelusuran menggunakanimetode prismai(PreferrediReporting ItemsiSystematic andiMeta-analyes) dengan tahapaniidentification, screening,elgibility dan included. Hasil: didapatkan 7 artikel menunjukan bahwa pemberian jus mentimun yang dibuatdari 200cc air dengan 100 gram mentimun atau setara dengan 1 gelas jus mentimun, kemudian diberikanselama seminggu sebanyakidua kaliidalam sehari yaituidi pagi danisore hari menunjukan bahwa terdapatpenurunan tekananidarah padaipenderita hipertensi. Hal ini dikarenakan kandunganimagnesium dankalium dalam mentimun. Kesimpulan: Pemberian jus mentimun sangat efektif untukimenurunkantekananiidarah pada penderitaibhipertensi. Selain murah dan terjangkau, mentimun juga sangat mudah kitajumpai. Dalam pemberian jus mentimun tidak menimbulkan efek samping
MEDIA EDUKASI KESEHATAN TENTANG MEROKOK YANG TEPAT UNTUK REMAJA : LITERATURE REVIEW Zakariyya, Muhammad; Fradianto, Ikbal; Priyono, Djoko
ProNers Vol 5, No 2 (2020): Desember
Publisher : Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (419.537 KB) | DOI: 10.26418/jpn.v5i2.46141

Abstract

Latar belakang : faktor yang mempengaruhi keinginan remaja untuk merokok adalah faktor orang tua, faktor teman dan faktor lingkungan. Apabila faktor tersebut diberikan edukasi dengan menggunakan media edukasi kesehatan yang tepat maka remaja akan mendapatkan pengetahuan yang baik untuk mencegah (preventif) prilaku yang tidak sehat dari merokok tersebut. Tujuan : mengetahui media edukasi kesehatan tentang merokok yang tepat untuk remaja. Metode : jenis penelitian ini adalah penelitian literature review yaitu menganalisi berbagai artikel-artikel yang valid dan relevan dengan topik yang akan di review dan di identifikasi dan diklasifikasi berdasarkan elemen-elemen dari beberapa artikel yang membahas topik yang hampir sama. Hasil : media edukasi kesehatan yang tepat untuk remaja dengan urutan diantaranya yaitu media booklet, media leaflet, media poster, media video, dan media facebook. Kesimpulan : media edukasi kesehatan tentang merokok yang tepat untuk remaja ialah media booklet Kata Kunci : media edukasi kesehatan, merokok, remaja ABSTRACT Background : The factors that affect adolescent's initiation to smoke are from parents, friends, and social around. If those factors are given an education using an appropriate media of health education, then the adolescents will get good knowledge to prevent unhealthy behaviors from smoking. Methods : The type of this research is literature review. It analyzes a variety of valid and relevant articles on the topics that will be reviewed, identified and disqualified based on the elements of some articles that discuss almost the same topics. Result : The media of health Education for teens in sequence are booklet,leaflet, poster, video and facebook. Conclusion : The appropriate media of health education about smoking for teens is booklet media. Key Word: Health Education, Smoking , Adolescents
Penggunaan Mobile Health Berbasis Smartphone untuk Meningkatkan Self Management pada Pasien Diabetes Melitus Tipe 2: Literature Review Viandarisa, Nabila; ., Suriadi; Priyono, Djoko
ProNers Vol 7, No 1 (2022): Juli
Publisher : Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26418/jpn.v7i1.53946

Abstract

Latar Belakang: Kejadian diabetes mellitus tipe 2 semakin mengalami peningkatan akibat self management yang rendah sehingga dapat meningkatkan faktor risiko terjadi nya komplikasi dan mempengaruhi kualitas hidup. Dengan perkembangan teknologi saat ini, penggunaan mobile health cukup dipertimbangkan untuk intervensi jangka panjang. Tujuan: untuk mengidentifikasi karakteristik, cara penggunaan serta kelebihan dan kekurangan dari aplikasi mobile health untuk self management diabetes mellitus tipe 2. Metode: Jenis penelitian ini adalah literature review , metode yang digunakan adlaah penelusuran databse google schoolar, Pubmed, Science Direct, ResearchGate, dan DOAJ dengan rentang waktu publikasi tahun 2016-2021. Hasil: penggunaan mobile health mampu untuk meningkatkan self management dalam beberapa aspek. Kesimpulan: Pemberian intervensi menggunakan mobile health secara signifikan mampu untuk meningkatkan self management penedrita diabetes mellitus tipe 2.
HUBUNGAN EFIKASI DIRI DENGAN TINGKAT KECEMASAN MAHASISWA BIDIKMISI S1 KEPERAWATAN UNTAN DALAM MENJALANI PERKULIAHAN Wulandari, Purnita; Priyono, Djoko; Herman, Herman
ProNers Vol 6, No 2 (2021): Desember
Publisher : Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26418/jpn.v6i2.48006

Abstract

Latar Belakang: Bidikmisi merupakan program bantuan berupa biaya pendidikan dari pemerintah untuk mahasiswa di Perguruan Tinggi. Mahasiswa penerima diikat oleh beberapa syarat yang harus dipenuhi hingga pendidikan selesai. Sebagian mahasiswa dapat menjalani hal ini dengan baik, namun sebagian yang lain ada yang merasa cemas dengan tingkat kecemasan yang berbeda-beda. Efikasi diri berperan penting dalam menentukan seberapa besar keyakinan individu terhadap kemampuannya dalam melakukan sesuatu, termasuk mengendalikan rasa cemas yang dialami individu. Metode: Penelitian ini menggunakan pendekatan cross sectional dan bersifat korelasional. Sampel diambil dengan menggunakan teknik total sampling dengan jumlah responden 41 orang mahasiswa Bidikmisi S1 Keperawatan UNTAN yang terdiri dari angkatan 2017, 2018, 2019 dan 2020. Pengambilan data menggunakan kuesioner ZSAS dan GSE. Uji statistik menggunakan uji korelasi Spearman. Hasil: Hasil analisis univariat didapatkan 92,7% responden mengalami cemas ringan dan 7,3%   cemas sedang. Kemudian 97,6% responden memiliki efikasi diri tinggi dan 2,4% efikasi diri rendah. Hasil uji bivariat didapatkan nilai p=0,000 dan Correlation Coefficient (ρ) = -0,563. Kesimpulan: Dalam penelitian ini dapat disimpulkan bahwa terdapat hubungan kuat negatif antara efikasi diri dengan tingkat kecemasan mahasiswa Bidikmisi S1 Keperawatan UNTAN dalam menjalani perkuliahan. Semakin tinggi efikasi diri, maka semakin rendah tingkat kecemasan yang dialami.
PREVALENCE OF POOR SLEEP QUALITY AMONG PATIENTS WITH TYPE 2 DIABETES MELLITUS IN PONTIANAK: A CROSS-SECTIONAL STUDY Priyono, Djoko; Afrian Sulistyawati, Ririn; Sukarni; Agung Krisdianto, Muhammad
Jurnal Riset Keperawatan dan Kesehatan Vol. 2 No. 6 (2025): Jurnal Riset Keperawatan dan Kesehatan
Publisher : Literasi Intelektual

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.71203/jrkk.v2i6.87

Abstract

Background: Sleep disorders are a significant health concern among patients with type 2 diabetes. Understanding their prevalence and underlying factors is key to designing effective interventions. Methods: A descriptive cross-sectional study was conducted in 2023 involving 119 patients with type 2 diabetes aged 30–70 years at diabetic wound care and primary health clinics in Pontianak City. Data were collected using a demographic checklist and the Pittsburgh Sleep Quality Index (PSQI). Associations between sleep quality and various factors were analysed using chi-square tests and binary logistic regression. Poor sleep quality was defined as a PSQI score of 5 or higher. Results: 119 individuals (53.7 %) demonstrated poor sleep quality and had a moderate level of sleep disturbance (mean PSQI score 6.9±3.16.9±3.1), with sleep latency being the most affected domain (mean score 1.9±1.41.9±1.4). Comorbid chronic diseases (OR 2.80, p=0.001), smoking (OR 2.95, p=0.005), diabetes duration >10 years (OR 2.55, p=0.004), and obesity (BMI ≥ 30.0 kg/m²; OR 1.89, p=0.021) were significantly associated with poor sleep quality. Older age had a protective effect (OR 0.94, p=0.007). Conclusion: Sleep disorders, particularly difficulty initiating sleep, are highly prevalent among type 2 diabetes patients and associated with comorbidities, smoking, prolonged disease duration, and obesity. Interventions targeting these factors are essential to improve sleep quality and diabetes management.