Claim Missing Document
Check
Articles

Found 24 Documents
Search

Ruang-Emosi: Place Attachment Karyawan Kantor terhadap Ruang di dalam Bangunan Kantor Azwar; Bachtiar, Jasmine C. U.
Jurnal Lingkungan Binaan Indonesia Vol. 11 No. 1 (2022): JLBI
Publisher : Ikatan Peneliti Lingkungan Binaan Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (384.202 KB) | DOI: 10.32315/jlbi.v11i01.95

Abstract

Manusia dan ruang merupakan subjek dan objek yang akan selalu saling mengikat satu sama lain karena manusia butuh tempat berlindung. Ruang ‘space’ hanya akan disebut tempat ‘place’ ketika manusia memberi makna terhadap ruang. Konsepsi ruang yang dapat memenuhi kebutuhan pengguna masih terus dilakukan hingga saat ini. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi kategori ruang yang menyenangkan dan menakutkan bagi pengguna dan untuk melihat kecenderungan hubungan variabel jenis kelamin dengan penilaian pengguna terhadap ruang. Penelitian menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan grounded theory. Data dari responden (N=124) dikumpulkan dan diolah dengan open coding, axial coding, dan selective coding. Hasil penelitian menunjukkan empat kelompok persepsi berdasarkan jenis kelamin yaitu “persepsi laki-laki”, “persepsi perempuan”, “kesepahaman persepsi”, dan “perbedaan persepsi”. Laki-laki cenderung memersepsikan ruangan dengan menilai perilaku manusia yang berada di dalam ruang, sementara perempuan cenderung kepada utilitasnya. Terdapat beberapa kategori penilaian ruang, seperti: fungsi, lingkungan, perilaku, ruang dan utilitas. Kategori tersebut menjadi faktor yang berperan dalam menentukan persepsi ruang yang menyenangkan ataupun menyeramkan. Hasil penelitian ini diharapkan dapat diimplementasikan dalam desain ruang kantor sehingga penggunaan ruangan diharapkan menjadi lebih produktif. Humans and space, respectively, were subjects and objects that bind each other since humans need shelter. A space could only be identified as a place when humans gave meaning to it. Previous research related to space conceptions and users' needs was still being carried out. This study aims to identify categories of space that were fun and scary by analyzing the tendency of the relationship between gender and the user's assessment of space. The study used a qualitative method with a grounded theory. Data from respondents (N=124) were collected and analyzed by open, axial, and selective coding. The results show four office perceptions based on gender: men's perceptions, women's perceptions, approval perception, and different perceptions. Men tend to perceive the room by judging human behavior, while women's perception tends to assume from the utility. There are several spatial assessment categories: function, environment, behavior, space, and utility. These categories are the factors that determine whether the space is fun or scary. The findings of this study are likely to be used in a design, particularly for office space, to make that environment more productive at work.
Preferensi Tempat Bekerja dan Belajar Produktif Rhamadana, Vebryan; Bachtiar, Jasmine C. U.
Jurnal Lingkungan Binaan Indonesia Vol. 11 No. 1 (2022): JLBI
Publisher : Ikatan Peneliti Lingkungan Binaan Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (322.79 KB) | DOI: 10.32315/jlbi.v11i01.97

Abstract

Kegiatan produktif seperti bekerja dan belajar dewasa ini mengalami perubahan. Dalam dunia pendidikan, belajar mandiri memiliki peran penting sebagai inti dari proses belajar sehingga membutuhkan ruang-ruang lain di luar ruang formal. Perubahan kecenderungan juga terjadi dalam dunia kerja seperti bekerja yang dapat dilakukan tanpa terikat dengan tempat dan waktu. Kecenderungan tersebut memunculkan kebutuhan yang lebih besar terhadap tempat bekerja dan belajar. Penelitian ini merupakan studi awal untuk melihat preferensi tempat bekerja dan belajar. Preferensi tersebut penting untuk dilihat oleh arsitek sebagai dasar dalam menyediakan tempat bekerja dan belajar yang baik. Penelitian dilakukan secara kualitatif dengan metode grounded theory. Pengumpulan data dilakukan dengan menyebarkan kuesioner daring kepada responden (N=108). Selanjutnya, data diolah dengan open coding, axial coding, dan selective coding. Dari analisis yang dilakukan, ditemukan bahwa terdapat empat kelompok preferensi tempat bekerja dan belajar yakni kelompok formal, rekreatif, kondusif, dan personal. Arsitek dapat merancang ruang bekerja dan belajar dengan melihat karakteristik dari kelompok yang akan diwadahi berdasarkan keempat kelompok preferensi tersebut. Penelitian lanjutan sangat diperlukan untuk mengkonfirmasi temuan yang ada sehingga menguatkan teori yang muncul tentang empat kelompok preferensi tempat bekerja dan belajar. Working and learning are two productive activities that are evolving. Independent learning is an essential part of the educational process that necessitates alternative venues outside the official classroom. Trends shift in the workplace, where work can be done without location or time constraints. This disposition has a stronger desire to work and learn. This study offers a preliminary look at people's preferences for working and learning spaces. These preferences are fundamental for architects when designing a healthy work and study environment—choosing the grounded theory method to produce qualitative research. First, respondents (N = 108) received an online questionnaire to fill out. Then, the data processing process uses open, axial, and selective coding. According to the findings, there are four types of virtual working and learning settings: formal, recreational, conducive, and personal. Architects may create working and learning environments that consider the unique characteristics of the various groups that will be accommodated based on the four preferences groups. Further research is needed to validate the findings—study options—to improve the hypothesis surrounding the four categories of work and study options.
Pengalaman Sensori Berjalan Kaki di Area Jalur Pedestrian Sekitar Kampus (Studi Kasus: Kampus UIN Mataram, NTB) Bachtiar, Jasmine Chanifah Uzdah; Indriani, N.K.A. Intan Putri Mentari; Handayani, Teti; Hariyadi
Jurnal Lingkungan Binaan Indonesia Vol. 14 No. 4 (2025): JLBI
Publisher : Ikatan Peneliti Lingkungan Binaan Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32315/jlbi.v14i4.553

Abstract

Kenyamanan berjalan kaki adalah salah satu faktor penentu dalam keinginan dan motivasi berjalan kaki, terutama di area kampus. Pembangunan infrastruktur jalan di zona pendidikan pada umumnya tidak dilengkapi dengan pembangunan jalur pedestrian yang menyenangkan karena area hijau yang ditebang sehingga membuat cuaca semakin panas. Penelitian ini dilakukan untuk mengeksplorasi faktor-faktor pengalaman sensori yang paling mempengaruhi kenyamanan berjalan kaki menuju kampus, terutama di jalur menuju UIN Mataram Kampus 1 yang terletak di Jalan Pendidikan Kota Mataram. Pengumpulan data dilakukan dalam dua tahap, yaitu observasi dan pemetaan langsung di lapangan dan pengumpulan data melalui kuesioner online. Data observasi akan diolah melalui pemetaan data sensori, sementara data kuesioner diolah dengan one-way ANOVA. Hasil studi menunjukkan kenyamanan visual berkaitan dengan elemen fisik dan kenyamanan termal berkaitan dengan perubahan waktu kunjungan menjadi penentu keinginan berjalan kaki. Studi ini menggarisbawahi pentingnya aspek manusia terutama dalam kenyamanan sensori dalam perencanaan kota agar pengembangan kota berkelanjutan. Implikasi hasil penelitian menjadi gagasan dan acuan dalam perancangan dan perencanaan infrastruktur jalur pedestrian kota khususnya di area zona pendidikan.
Peran Masyarakat Lokal dalam Melestarikan Bangunan Adat Desa Sade di Era Modern Fadilah, Muhammad Rizqi; Alfa, Nabila; Nurjannah, Zaetun Saofi; Zikri, Alif Zidan; Susana, Eli; Bachtiar, Jasmine Chanifah Uzdah; Wardi, Liza Hani Saroya
JAMBURA Journal of Architecture Vol 7, No 2 (2025): JJoA : Desember 2025
Publisher : Universitas Negeri Gorontalo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37905/jjoa.v7i2.26136

Abstract

Desa Sade merupakan salah satu dusun yang berlokasi di Rembitan, kec. Pujut, Kabupaten Lombok Tengah. Desa Sade merupakan salah satu desa tertua yang ada di Lombok Tengah yang masih mempertahankan budaya serta keaslian rumah adatnya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui upaya apa saja yang telah dilakukan oleh masyarakat Desa Sade dalam melestarikan dan menjaga keaslian serta keutuhan rumah adat di Desa Sade. Metode yang digunakan pada penelitian ini adalah metode kualitatif. Pengumpulan data dilakukan dengan observasi lapangan, wawancara langsung, dan dokumentasi. Hasil dari penelitian yang dilakukan adalah beberapa upaya yang dilakukan masyarakat Desa Sade dalam melestarikan dan menjaga keaslian rumah adatnya dengan aturan-aturan yang mengikat secara turun temurun oleh para leluhur. Aturan yang mengharuskan orientasi rumah adat sebaiknya mengarah ke barat ataupun  timur karena dianggap hal yang baik. Selain itu adanya tradisi yang mengharuskan keturunan laki-laki bungsu didalam  keluarga sebagai pewaris rumah adat untuk meneruskan dan melestarikan rumah adat di masa mendatang. Apabila anak laki-laki bungsu tersebut tidak mau mewarisi rumah adat maka akan dipindahkan kepada sepupu laki-lakinya, jika tidak ada yg mau mewariskan rumah adat maka akan dilakukan musyawarah untuk menentukan siapa yang akan mewariskan rumah adat. Adapun beberapa perubahan yang terlihat pada rumah adat yakni penggunaan material lantai semen yang terdapat pada beberapa rumah adat dan adanya perkembangan material lantai keramik pada bangunan masjid yang ada di Desa Sade. Kesuksesan dalam melestarikan rumah adat sangat dipengaruhi oleh pertisipasi serta konstribusi masyarakat dalam mengajarkan dan menyebarkan ilmu budaya kepada generasi selanjutnya. Kata Kunci: Desa Sade; Era Modern; Pelestarian; Rumah Adat