Supadmi, Tri
Unknown Affiliation

Published : 76 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

TARI PULAU PINANG PADA UPACARA ADAT PERNIKAHAN DI PESISIR BARAT KECAMATAN SINGKIL KABUPATEN ACEH SINGKIL Nanda Sari, Riska Safrida; Supadmi, Tri; Nurlaili, Nurlaili
Jurnal Ilmiah Mahasiswa Sendratasik Vol 2, No 4 (2017): NOVEMBER
Publisher : Program Studi Pendidkan Seni Drama, Tari dan Musik

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24815/sendratasik.v2i4.9605

Abstract

ABSTRAK Penelitian ini berjudul Tari Pulau Pinang pada Upacara Adat Pernikahan di Pesisir Barat Kecamatan Singkil Kabupaten Aceh Singkil. Penelitian ini mengangkat masalah bagaimana bentuk penyajian tari Pulau Pinang pada upacara adat pernikahan di Pesisir Barat Kecamatan Singkil Kabupaten Aceh Singkil Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan bentuk penyajian tari Pulau Pinang pada Upacara Adat Pernikahan di Pesisir Barat Kecamatan Singkil Kabupaten Aceh Singkil melalui sanggar Melati Lae Geuntuyung yang terletak di kampung kilangan kecamatan Singkil Kabupaten Aceh Singkil yang dipimpin oleh Anharuddin. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian deskriptif. Pengumpulan data digunakan dengan teknik wawancara dan dokumentasi. Teknik pengolahan dan analisis data dengan mereduksi data, display, serta verifikasi data. Hasil penelitian menunjukan bahwa Tari Pulau Pinang merupakan tarian yang sudah turun temurun sejak zaman dahulu hingga saat ini, tari Pulau Pinang ditarikan oleh 2 orang penari perempuan dan laki-laki (mempelai pria) berpasangan. Penari dilengkapi dengan properti selendang dan juga payung digunakan saat menari, mulai dari awal menari sampai didetik terakhir menari. Tarian ini memiliki 4 ragam gerak. Adapun macam-macam gerak nama dalam ragamnya yaitu: gerakan Ya Maulai (langkah tigo), gerakan amboy sayang ee (baputa), gerakan melantik (menangkis lawan), dan gerakan langkah baling. Setiap gerak diiringi dengan syair yang dilantunkan oleh syeh nya. Tarian ini juga memiliki tempo yang sedang, tidak terlalu cepat dan tidak terlalu lambat dan tari Pulau Pinang ini sangat cocok untuk sarana pendidikan.Kata kunci: bentuk penyajian, tari Pulau Pinang.
KAJIAN PERTUNJUKAN REPERTOAR GAJAH PUTIH KARYA NURUL HAYATI PADA ACARA WARISAN BUDAYA TAK BENDA KOTA BANDA ACEH Mutmainnah, Mutmainnah; Supadmi, Tri; Lindawati, Lindawati
Jurnal Ilmiah Mahasiswa Sendratasik Vol 2, No 4 (2017): NOVEMBER
Publisher : Program Studi Pendidkan Seni Drama, Tari dan Musik

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24815/sendratasik.v2i4.9602

Abstract

ABSTRAKPenelitian ini berjudul Kajian Pertunjukan Repertoar Gajah Putih Karya Nurul Hayati pada Acara Warisan Budaya Takbenda Kota Banda Aceh. Rumusan penelitian ini bagaimanakah kajian pertunjukan repertoar Gajah Putih karya Nurul Hayati pada acara warisan budaya Kota Banda Aceh. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pertunjukan repertoar Gajah Putih karya Nurul Hayati pada acara warisan budaya takbenda Kota Banda Aceh. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian deskriptif. Teknik Pengumpulan data yang digunakan adalah teknik wawancara, dan dokumentasi. Teknik analisis data dengan reduksi, display dan verifikasi. Berdasarkan hasil dari penelitian menunjukkan bahwa repertoar Gajah Putih merupakan drama yang diadaptasi dari legenda Gajah Putih asal Gayo. Dalam karya reportoar Gajah Putih tidak sepenuhnya menampilkan cerita aslinya, namun di cerita Gajah Putih diangkat sebagai cerita dasar dalam karya reportoar Gajah Putih karena cerita ini berhubungan dengan warisan budaya Aceh. Warisan budaya tersebut yaitu Seni tari, seperti tari Meuneuteukeun Inei, Guel, Likok Pulo. Tidak hanya Seni tari, warisan budaya lainnya juga ada yaitu seni rupa seperti Kasap, seni musik yaitu Canang Kayu, serta seni sastra yaitu Nandong, selain dari itu ada pula permainan rakyat yang sudah menjadi tradisi masyarakat setempat sehingga menjadi suatu budaya yaitu Pacu Kude serta Mak Meugang yaitu tradisi masyarakat Aceh pada saat menjelang bulan ramadahan. Panggung yang digunakan yaitu panggung prosenium, kemudian busana yang digunakan disesuaikan dengan peran pemain dan riasan tampan bagi pria dan riasan cantik bagi wanita. Alat musik yang digunakan dalam iringan musik yaitu alat musik Floor, Flute, Gitar Bass, Gitar Melodi, Tamborin, Rapai, Cymbal dan Serune Kalee, yang dimainkan secara live.Kata Kunci: pertunjukan, repertoar Gajah Putih
BENTUK PENYAJIAN TARI SAPU TANGAN DI SANGGAR MELATI LAE GENTUYUNG KABUPATEN ACEH SINGKIL Malahayati, Malahayati; Supadmi, Tri; Hartati, Tengku
Jurnal Ilmiah Mahasiswa Sendratasik Vol 2, No 3 (2017): AGUSTUS
Publisher : Program Studi Pendidkan Seni Drama, Tari dan Musik

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24815/sendratasik.v2i3.8913

Abstract

Penelitian ini berjudul Bentuk Penyajian Tari Sapu Tangan di Sanggar Melati Lae Gentuyung Kabupaten Aceh Singkil mengangkat masalah bagaimana bentuk penyajian tari Sapu Tangan di Sanggar Melati Lae Gentuyung Kabupaten Aceh Singkil. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan bentuk penyajian tari Sapu Tangan di Sanggar Melati Lae Gentuyung Kabupaten Aceh Singkil. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian deskriptif. Sumber data dalam penelitian ini adalah ketua pimpinan sanggar Melati Lae Gentuyung, pelatih sanggar Melati Lae Gentuyung, dan penari sanggar Melati Lae Gentuyung. Lokasi penelitian dilakukan di desa Kilangan Kecamatan Singkil. Teknik pengumpulan data digunakan dengan teknik observasi, wawancara, dan dokumentasi. Teknik analisis data dengan mereduksi data, display data, dan verifikasi data. Hasil penelitian menunjukkan bahwah tari Sapu Tangan diciptakan oleh Bundo Kandung yang berasal dari Sumatera Barat. Tari Sapu Tangan tergolong dalam tari kelompok. Tari Sapu Tangan ditarikan oleh empat penari lelaki yang menggunakan Sapu Tangan. Tari Sapu Tangan diiringi dengan alat musik tradisional seperti rapa-i. Tari Sapu Tangan mempunyai ciri khas tersendiri dimana tari ini ditarikan dengan menggunakan properti Sapu Tangan yang diletakkan di sela-sela jari penari. Bentuk Penyajian tari Sapu Tangan sangatlah sederhana. Tari ini menceritakan sekelompok dayang-dayang yang diperintahkan oleh seorang raja untuk mencari bunga yang dibalut dengan kain Sapu Tangan untuk diberikan kepada seorang putri yang cantik jelita.Kata kunci: bentuk penyajian, makna, tari Sapu Tangan
FUNGSI TARI DAN MAKNA GERAK TARI TRADISIONAL LANDOK SAMPOT DI DESA LAWE SAWAH KECAMATAN KLUET TIMUR KABUPATEN ACEH SELATAN Marlina, Leni; Supadmi, Tri; Lindawati, Lindawati
Jurnal Ilmiah Mahasiswa Sendratasik Vol 2, No 3 (2017): AGUSTUS
Publisher : Program Studi Pendidkan Seni Drama, Tari dan Musik

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24815/sendratasik.v2i3.8912

Abstract

Penelitian ini berjudul Fungsi Tari dan Makna Gerak Tari Tradisional Landok Sampot di Desa Lawe Sawah Kecamatan Kluet Timur Kabupaten Aceh Selatan. Adapun yang menjadi masalah dalam penelitian ini adalah bagaimana fungsi tari tradisional Landok Sampot di Desa Lawe Sawah Kecamatan Kluet Timur, dan bagaimana makna gerak tari tradisional Landok Sampot di Desa Lawe Sawah Kecamatan Kluet Timur. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan fungsi tari tradisional Landok Sampot di Desa Lawe Sawah Kecamatan Kluet Timur, dan mendeskripsikan makna gerak tari tradisional Landok Sampot di Desa Lawe Sawah Kecamatan Kluet Timur. Pendekatan pada penelitian ini adalah pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian deskriptif. Data penelitian ini bersumber dari para tokoh masyarakat yang mengetahui tentang tarian Landok Sampot di Desa Lawe Sawah Kecamatan Kluet Timur Kabupaten Aceh Selatan. Teknik pengumpulan data yang digunakan dengan teknik observasi, wawancara dan dokumentasi. Teknik analisis data digunakan adalah reduksi data, penyajian data, dan verifikasi data. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa fungsi tari Landok Sampot pada masa sekarang ini sebagai sarana komunikasi, sarana hiburan dan sarana publikasi dimana dahulunya tarian ini hanya berfungsi sebagai hiburan semata dikalangan para bangsawan dan raja-raja. Gerakan dalam tari Landok Sampot ada empat gerakan dimana masing-masing memiliki makna tersendiri. 1) Gerak Landok Kedidi (Sembar) bermakna dimana gerak penari seperti burung elang yang mengintai musuhnya dan menyambar lawannya dan juga kegagahan dan keberanian. 2) Gerak Kedayung maknanya yaitu menggambarkan masyarakat Kluet yang dahulunya masih menggunakan sampan sebagai alat tranportasi dan juga sebagai mata pencaharian masyarakat Kluet. 3) Gerak Parang memiliki makna yaitu menikam habis lawannya dengan menggunakan pedang dan juga mengadukan kehebatan masing-masing dalam memainkan pedang dan juga pertahanan diri dalam peperangan. 4) Gerak Sampot maknanya yaitu memukul lawan atau menyerang lawan dengan menggunakan pedang dan diakhiri dengan gerakan berputar-putar yang bermakna kemenangan.Kata Kunci: tari, Landok Sampot, fungsi, makna
EKSISTENSI BUDAYA ALEE MEUNARI DI DESA ALUE BATEE KECAMATAN ARONGAN LAMBALEK MEULABOH KABUPATEN ACEH BARAT Ayuni, Ida; Supadmi, Tri; Hartati, Tengku
Jurnal Ilmiah Mahasiswa Sendratasik Vol 2, No 3 (2017): AGUSTUS
Publisher : Program Studi Pendidkan Seni Drama, Tari dan Musik

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24815/sendratasik.v2i3.8911

Abstract

Penelitian ini berjudul Eksistensi Budaya Alee Meunari di Desa Alue Batee Kecamatan Arongan Lambalek Meulaboh Kabupaten Aceh Barat. Rumusan masalah penelitian ini adalah bagaimana eksistensi budaya Alee Meunari di Desa Alue Batee. Tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan eksistensi budaya Alee Meunari di Desa Alue Batee. Pendekatan yang digunakan kualitatif dan jenis penelitian adalah deskriptif. Teknik pengumpulan data yaitu melalui observasi, wawancara dan dokumentasi. Teknik analisis data yaitu mereduksi data, penyajian data dan verifikasi data. Hasil penelitian tentang budaya Alee Meunari di Desa Alue Batee ini menunjukkan bahwa budaya Alee Meunari telah ada sejak tahun 1840-an namun beberapa tahun setelahnya, budaya ini mulai pudar dan jauh dari eksistensinya. Kemudian tahun 2013, budaya Alee Meunari dibangkitkan kembali oleh H.T. Alaidinsyah mantan Bupati Aceh Barat. Sejak tahun 2013, budaya Alee Meunari terlihat eksistensinya dan berkembang hingga ke tingkat nasional sampai saat ini. Budaya Alee Meunari ditampilkan dalam acara adat, penyambutan tamu, acara pemerintahan, acara daerah, pesta perkawinan, dan acara lainnya. Budaya Alee Meunari dimainkan oleh 7 orang dengan memegang kayu Waru kering yang panjangnya beragam dari 3-5 meter. Penelitian mengenai budaya Alee Meunari membuktikan bahwa budaya Alee Meunari masih eksis dan berkembang di Aceh Barat dan faktor yang mempengaruhi eksistensinya yaitu kemauan masyarakat dalam melestarikan dan kebijakan kalangan masyarakat yang terus menempatkan Alee Meunari sebagai adat dalam berbagai kegiatan di Aceh Barat. Hal ini terlihat dari intensitas penampilan Alee Meunari dari tahun 2013 sampai 2017 semakin meningkat.Kata Kunci: eksistensi, budaya, Alee Meunari
ANALISIS STRUKTUR TARI SINING DI ACEH TENGAH Chairunnisa, Chairunnisa; Supadmi, Tri; Nurlaili, Nurlaili
Jurnal Ilmiah Mahasiswa Sendratasik Vol 2, No 3 (2017): AGUSTUS
Publisher : Program Studi Pendidkan Seni Drama, Tari dan Musik

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24815/sendratasik.v2i3.8907

Abstract

Penelitian ini berjudul analisis struktur tari Sining di Aceh Tengah, dengan rumusan masalah bagaimana tata hubungan gerak tari Sining, dan bagaimana elemen-elemen dasar gerak tari Sining. Tujuan penelitian adalah untuk mendeksripsikan bagaimana tata hubungan gerak tari Sining, dan untuk mendeskripsikan elemen-elemen dasar gerak tari sining. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian deskriptif. Teknik pengumpulan data berupa wawancara, observasi, dan dokumentasi. Teknik analisis data dilakukan secara kualitatif yaitu berupa reduksi data, penyajian data, dan verifikasi data. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tata hubungan yang terjadi di dalam tari Sining adalah hubungan paradigmatik pada syair yaitu hubungan yang saling mengaitkan antara komponen satu dengan komponen yang lainnya yang terdapat pada frase H kayu ari uten rime simrip wan arul pematang, Bur ijo tingir i sagi ni karang. Tuahmu bang si cacak bepilih kati kutebang, Mal kurasuk, kupantik kin reje tiang, Penupang ni supu, sesrnni rering, Sike ko kaso turun, bere bujur, ko ke bere lintang, Temetapmi ko ku lpen, Jarak rara ari opat sagi emus ni kuyu, Kiblat ni heme. Hasil analisis data yang diperoleh adalah tata hubungan tari Sining terdiri dari 3 gugus, 13 kalimat, 20 frase dan 102 motif. Elemen dasar tari adalah tubuh dibagi menjadi empat bagian yaitu kepala, badan, tangan, dan kaki, masing-masing bagian dibagi menjadi dua yaitu unsur sikap dan unsur gerak. Bagian kepala terdiri 9 unsur sikap dan 8 unsur gerak, bagian badan terdiri dari 6 unsur sikap dan 10 unsur gerak, bagian tangan terdiri dari 8 unsur sikap dan 8 unsur gerak, bagian kaki terdiri dari 9 unsur sikap dan 8 unsur gerak.Kata Kunci: analisis, struktur, tari Sining
BENTUK PENYAJIAN TARI PELEBAT DI SANGGAR LAC SUKU ALAS KABUPATEN ACEH TENGGARA Safitri, Mellya; Supadmi, Tri; Fitri, Aida
Jurnal Ilmiah Mahasiswa Sendratasik Vol 2, No 2 (2017): MEI
Publisher : Program Studi Pendidkan Seni Drama, Tari dan Musik

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24815/sendratasik.v2i2.5750

Abstract

ABSTRAK Penelitian yang berjudul Bentuk Penyajian Tari Pelebat di sanggar LAC Suku Alas Kabupaten Aceh Tenggara ini mengangkat masalah bagaimanakah bentuk penyajian tari Pelebat. Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan bentuk penyajian tari Pelebat. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah kualitatif dan jenis penelitian deskriptif. Subjek dalam penelitian ini adalah ketua sanggar, anggota penari dan majelis adat yang mengetahui sejarah tari Pelebat ini. Sedangkan objek dalam penelitian ini adalah bentuk penyajiantari Pelebat suku Alas di sanggar LAC Kabupaten Aceh Tenggara. Pengumpulan data yang digunakan dengan teknik observasi, wawancara dan dokumentasi. Teknik analisis data dalam penelitian ini yaitu reduksi data, penyajian data dan verifikasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa bentuk penyajian tari Pelebat di sanggar LAC Suku Alas Kabupaten Aceh Tenggara memiliki 5 ragam gerak tari yaitu: gerak penghormatan, gerak pengukuran pedang, gerak langkah 3 (mengiringi), gerak ningcingi (lompat-lompat), gerak pukulan. Pola lantai yang digunakan pola lantai melingkar dengan menggunakan gerak langkah tiga. Pengiring tari menggunakan alat musik yaitu canang yang terbuat dari kaleng ikan dencis dan kayu sebagai pemukul alat musik. Tarian ini tidak menggunakan tata rias tampil apa adanya karena penari dari kalangan lelaki dewasa. Tata busana menggunakan pakaian adat alas baju hitam dan celana hitam yang sudah dihiasi motif sikhat dalam bahasa alas, benang emas dalam bahasa sehari-hari songket dan penutup kepala bulang bulu. Tari ini menggunakan properti bambu dengan panjangnya 1 meter dan tarian ini menggunakan pentas arena yang dapat dilihat dari berbagai sisi.Kata kunci: bentuk penyajian, tari tradisional Pelebat
INTRANCE DALAM TARI KUDA KEPANG PADA SANGGAR SENI MEUKAR BUDAYA DI KECAMATAN TADU RAYA KABUPATEN NAGAN RAYA Marzakina, Cut; Supadmi, Tri; Nurlaili, Nurlaili
Jurnal Ilmiah Mahasiswa Sendratasik Vol 2, No 2 (2017): MEI
Publisher : Program Studi Pendidkan Seni Drama, Tari dan Musik

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24815/sendratasik.v2i2.5745

Abstract

ABSTRAK Penelitian yang berjudul Intrance dalam Tari Kuda Kepang pada Sanggar Seni Mekar Budaya di Kecamatan Tadu Raya Kabupaten Nagan Raya. Mengangkat tentang bagaimana intrance dalam tari Kuda Kepang di Kecamatan Tadu Raya Kabupaten Nagan Raya, tata cara pelaksanaan ritual pada tari Kuda Kepang, bentuk kesurupan yang terjadi pada tari Kuda Kepang di Kecamatan Tadu Raya Kabupaten Nagan Raya. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan bagaimana intrance dalam tari Kuda Kepang, bagaimana tata cara ritual dan bagaimana bentuk kesurupa yang terjadi. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian deskriptif. Teknik pengumpulan data yang digunakan yakni observasi, wawancara, dan dokumentasi. Subjek dalam penelitian ini adalah Tari Kuda Kepang pada Sanggar Seni Meukar Budaya Kecamatan Tadu Raya Kabupaten Nagan Raya, sedangkan yang menjadi objek dalam penelitian ini adalah Intrance Dalam Tari Kuda Kepang. Teknik pengolahan dan analisis data dengan mereduksi, penyajian data dan verifikasi. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa intrance dalam tari Kuda Kepang pada sanggar seni meukar budaya dilakukan dengan beberapa tahap yaitu proses sebelum terjadinya intrance, perilaku kesurupan yang terjadi pada tari Kuda Kepang, bentuk penyajian tari Kuda Kepang, dan perilaku penari intrance. Kata Kunci : Intrance, Tari, Kuda Kepang
MAKNA SIMBOLIK BUSANA BARONGSAI KLUB MACAN PUTIH DI VIHARA DHARMA BAKTI Chairunnisaak, Mariam; Supadmi, Tri; Lindawati, Lindawati
Jurnal Ilmiah Mahasiswa Sendratasik Vol 2, No 1 (2017): FEBRUARI
Publisher : Program Studi Pendidkan Seni Drama, Tari dan Musik

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24815/sendratasik.v2i1.5602

Abstract

ABSTRAK Penelitian ini berjudul Makna Simbolik Busana Barongsai Klub Macan Putih di Vihara Dharma Bakti. Penelitian ini mengangkat masalah, bagaimanakah makna simbolik yang terkandung pada busana barongsai klub Macan putih di Vihara Dharma Bakti. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan makna simbolik yang terkandung pada bagian-bagian busana barongsai dan warna-warna yang digunakan dalam busana barongsai. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitatif dengan jenis pendekatan deskriptif. Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini terdiri dari observasi, wawancara, dan dokumentasi. Teknik pengolahan data dalam penelitiann ini adalah reduksi data, penyajian data, dan verivikasi data. Hasil penelitian menunjukan bahwa barongsai merupakan tarian tradisional Cina yang menggunakan sarung yang menyerupai singa. Setiap bagian-bagiannya busananya merupakan simbol dari hewan-hewan kepercayaan yang ada di alam imajinasi masyarakat Tiong Hoa. Citra barongsai yang meyerupai singa disimbolkan seperti binatang kepercayaan nenek moyang mereka. Binatang kepercayaan mereka merupakan binatang mistis seperti naga, kura-kura, phoenix, chi lin atau unicorn Cina dan ular. Singa sejak saat itu melambangkan keberanian, kekuatan, kepercayaan diri dan keberuntungan serta menjadi salah satu binatang yang dimuliakan. Busana barongsai tradisional memiliki lima warna yaitu kuning, merah, hijau, hitam da putih. Selain busana barongsai tradisional sekarang terdapat busana barongsai modern yang memiliki warna-warna yang bervariasi, seperti warna merah muda.Kata kunci: makna, simbol, busana, barongsai.
ORNAMEN BATEE RANUB DI MUSEUM ACEH Supadmi, Tri; Lindawati, Lindawati
Jurnal Ilmiah Mahasiswa Sendratasik Vol 2, No 1 (2017): FEBRUARI
Publisher : Program Studi Pendidkan Seni Drama, Tari dan Musik

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24815/sendratasik.v2i1.5596

Abstract

ABSTRAK Penelitian ini berjudul Ornamen Batee Ranub di Museum Aceh. Adapun yang menjadi masalah dalam penelitian ini adalah bagaimanakah ornamen hias yang terdapat pada Batee Ranub di Museum Aceh. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan ornamen hias yang ada pada Batee Ranub Aceh. Pendekatan yang digunakan pendekatan kualitatif dengan jenis pendekatan deskriptif. Lokasi penelitian di Museum Negeri Aceh, sumber data penelitian adalah kepala seksi koleksi, kolektor benda seni dan bersejarah, tokoh masyarakat dan para peneliti di Balai Pelestarian Sejarah dan Nilai Tradisional Banda Aceh. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah teknik observasi non-partisipan, wawancara, studi pustaka dan dokumentasi. Teknik analisis data dilakukan dengan mereduksi, menyajikan dan verifikasi. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa setiap Batee Ranub memiliki ornamen hias yang berbeda-beda. Terdapat tiga jenis Batee Ranub Aceh yaitu cerana, puan dan karaih. Motif yang terdapat pada Batee Ranub Cerana adalah Bungong kalimah, Sisik naga, Awan si tangke, Bungong meulu, Taloe ie, Suluran, Pucuk rebung, Puta taloe, Geometris dan Sisek meuria. Motif yang terdapat pada Batee Ranub puan adalah Emun, berangkat, Puta taloe, Taloe ie, Awan si tangke, Pucuk reubong, Bunga dan Geometris. Sedangkan Batee Ranub Karaih motif-motifnya adalah motif Bungong meulu, Puta taloe, Suluran,Oun muroung, bunga, Taloe ie, Bungong kupula, Pucuk reubong, Awan si tangke, Puta taloe dan Geometris.Kata Kunci: ornamen hias, Batee Ranub, museum Aceh