Background: Stroke is the second leading cause of death worldwide after heart disease and is a serious neurological problem with a high prevalence, including in Indonesia. The majority of cases are ischemic strokes, which cause brain tissue damage and complications such as sleep disturbances due to post-lesion neurological deficits. These sleep disturbances are often accompanied by anxiety and insomnia, reducing the patient's quality of life. Non-pharmacological efforts such as aromatherapy with essential oils, particularly peppermint oil, are recommended because they are non-invasive, safe, and effective in reducing anxiety and improving sleep quality through their action on the brain's limbic system. Therefore, aromatherapy-based educational interventions are important to support the rehabilitation of stroke patients at the primary healthcare level, such as community health centers. Purpose:To provide knowledge and understanding regarding the administration of peppermint oil aromatherapy as a non-pharmacological effort to improve sleep quality in patients with a history of stroke. Method: This activity was conducted on December 16, 2025, at the Bajoe Community Health Center in Bone Regency, South Sulawesi, involving 20 stroke patients selected through purposive sampling. The material was delivered using lecture and practice methods, followed by evaluation using pre-test and post-test questionnaires to assess knowledge enhancement regarding the use of peppermint oil aromatherapy to reduce anxiety and improve sleep quality in stroke patients. Results: The majority of participants were aged 40–50 (12 people) (60%), followed by 5 (25%) aged 51–60, and 3 (15%) aged 61–70, with a predominance of women (17 people) (85%). Pre-test results showed that most participants experienced moderate to severe anxiety. However, after education and practice, significant changes occurred, with 50% of participants experiencing mild anxiety and only 20% remaining in the severe to very severe category. Conclusion: Education regarding the use of peppermint oil aromatherapy can increase stroke patients' knowledge and reduce anxiety levels, which impact sleep quality. The majority of participants who initially experienced moderate to severe anxiety experienced a reduction in their anxiety levels to mild after receiving the education. Therefore, it can be concluded that this non-pharmacological intervention is effective as a complementary therapy for stroke patients during recovery. Suggestion: Continued efforts are needed to implement complementary therapies such as peppermint oil aromatherapy in primary healthcare facilities, particularly community health centers (Puskesmas), as part of an education program for patients with a history of stroke. Keywords: Health therapy; Peppermint oil aromatherapy; Sleep quality; Stroke Pendahuluan: Stroke merupakan penyebab kematian kedua di dunia setelah penyakit jantung dan menjadi masalah neurologis serius dengan prevalensi tinggi, termasuk di Indonesia. Mayoritas kasus berupa stroke iskemik yang menimbulkan kerusakan jaringan otak dan komplikasi berupa gangguan tidur akibat defisit neurologis pasca-lesi. Gangguan tidur ini sering disertai kecemasan dan insomnia sehingga menurunkan kualitas hidup pasien. Upaya non-farmakologis seperti aromatherapy dengan minyak esensial, khususnya peppermint oil, direkomendasikan karena bersifat non-invasif, aman, dan efektif dalam menurunkan kecemasan serta meningkatkan kualitas tidur melalui mekanisme kerja pada sistem limbik otak. Oleh karena itu, intervensi edukasi berbasis aromatherapy menjadi penting untuk mendukung rehabilitasi pasien stroke di tingkat pelayanan kesehatan dasar seperti puskesmas. Tujuan: Memberikan pengetahuan dan pemahaman mengenai pemberian aromatherapy peppermint oil sebagai upaya non-farmakologis untuk meningkatkan kualitas tidur pada pasien dengan riwayat stroke. Metode: Kegiatan ini dilaksanakan pada 16 Desember 2025 di UPT Puskesmas Bajoe Kabupaten Bone, Sulawesi Selatan dengan melibatkan 20 pasien stroke yang dipilih melalui purposive sampling. Materi disampaikan menggunakan metode ceramah dan praktik, kemudian dilakukan evaluasi melalui kuesioner pre-test dan post-test untuk menilai peningkatan pengetahuan menggunakan aromatherapy peppermint oil dalam menurunkan tingkat kecemasan dan meningkatkan kualitas tidur pasien stroke. Hasil: Mayoritas peserta berusia 40–50 tahun sebanyak 12 orang (60%), diikuti usia 51–60 tahun sebanyak 5 orang (25%), dan usia 61–70 tahun sebanyak 3 orang (15%), dengan dominasi perempuan sebanyak 17 orang (85%). Hasil pre-test menunjukkan sebagian besar peserta mengalami kecemasan sedang hingga berat, namun setelah diberikan edukasi dan praktik mengenai terjadi perubahan signifikan, di mana 50% peserta mengalami kecemasan ringan dan hanya 20% yang masih berada pada kategori berat hingga sangat berat. Simpulan: Edukasi mengenai penggunaan aromatherapy peppermint oil mampu meningkatkan pengetahuan pasien stroke sekaligus menurunkan tingkat kecemasan yang berdampak pada kualitas tidur. Mayoritas peserta yang semula mengalami kecemasan sedang hingga berat mengalami penurunan tingkat kecemasan menjadi dalam kategori ringan setelah diberikan penyuluhan, sehingga dapat disimpulkan bahwa intervensi non-farmakologis ini efektif sebagai terapi komplementer pada pasien stroke di masa pemulihan. Saran: Diperlukan upaya berkelanjutan dalam penerapan terapi komplementer seperti aromatherapy peppermint oil di fasilitas kesehatan tingkat pertama, khususnya puskesmas, sebagai bagian dari program edukasi pasien dengan riwayat stroke.